sekali lagi! masalah nama aku terus2an salah. sorry, maklum ya he he he. katanya aku manggil marga Jungkook Kim lagi dan sebelumnya aku nulis Yoongi suga lagi. Aku memang orang yang gx teliti sih. he he berikut adalah nama pemainya kalau ada salah panggil, acuannya ini ya!
^.^ V
Cast:
Park Jimin, Min Yoongi, Kim Taehyung, Jeon Jungkook, Jeon Seokjin, Kim Namjoon.
Jung Hoseok, Erik Nam, Lee Guk Joo, Im Nayoung.
.
.
.
RT
.
.
.
"Yah! Min Yoongi! bagaimana bisa ada orang menyebalkan seperti dirimu huh?!"
Yoongi hilang kesabaran. Dia Juga sedikit mabuk, dan dia ingin sekali melempar wanita yang baru saja memaki dan menjambaknya ke laut. Jimin ia biarkan berbaring di depan lift sambil mengumpatinya. Beruntung Hotel sedang tak banyak pengunjung. Yoongi hanya memegang keningnya mencoba menyadarkan diri, ia juga sedikit mabuk sekarang. Harusnya tadi dia meminta bantuan Jungkook saja, tapi ia tak bisa terus membuat Jungkook bekerja padanya, ini waktu liburan Jungkook.
"Oppa ada apa denganmu?! kenapa kau melakukan ini padaku?,,, Kau pria terbaik yang pernah kumiliki oppa! Kenapa ini harus berakhir?! Ini gara-gara Min Yoongi brengsek!"
Yoongi menatap Jimin penuh rasa bersalah. Ia ingat ketika kekasihnya terkejut memandang Jimin yang mengingatkannya untuk melupakan kejadian itu. Ia bisa melihat bagaimana wajah pucat gadis itu dari spion mobilnya.
Ding!
Pintu lift terbuka, memperlihatkan seorang pria yang terkejut menatap Jimin tiduran di depan lift. Yoongi menarik Jimin kasar.
"Nona Park Bangun!" Yoongi berjogkok mencoba membangunkan gadis itu dan yah, bisa ditebak.
Kerah Yoongi ditarik dan bersama makian yang keluar dari mulut Jimin. Pria itu menatap ngeri dan segera keluar dari lift. Yoongi yang tak sabar langsung memeluk pinggang Jimin dan menyeretnya ke Lift, sekilas itu seperti adegan penculikan. Yoongi menekan angka dua pada deretan tombol dinding lift. Ia menghela nafas, merasa lega karena Jimin tak membenrontak atau melawannya lagi, Jimin hanya diam menyandarkan punggungnya pada dada bidang Yoongi. Hangat! Mereka berdua sama-sama merasakan itu. Yoongi memperhatikan wajah Jimin dalam pelukannya, mata terpejam Jimin, hidung Jimin, bibir merah ranum yang membuat Yoongi ingin menciumnya. Mata Yoongi terus menatap Jimin sampai aroma Lilian musk menyentuh indra penciumannya, mata Yoongi terpaku pada cengkuk leher Jimin yang terbuka. Yoongi menelan ludahnya tergoda dan setan dalam dirinya membuka mata.
Seperti kumbang yang tertarik begitu mencium bau sari bunga yang manis, Yoongi menempelkan hidungnya dibelakang telinga Jimin, berusaha menghirup aroma manis bunga dari leher gadis itu. Mata Yoongi melirik tombol lift saat pintu lift terbuka, dan setan telah menguasai tubuh Yoongi. ia menekan tombol dengan angka 21 yang lebih menarik perhatiannya, nomor lantai dimana kamarnya berada. Yoongi mencium leher Jimin yang membuat gadis itu melengguh merasakan sesuatu yang membangkitkan gairahnya. Jimin memegang tangan Yoongi yang ada dipinggangnya dan mengangkat wajahnya ke udara untuk memberikan akses lebih pada Yoongi. Tangan Jimin bergerak menuju rambut Yoongi, menariknya halus sebagai tanda bahwa Jimin menikmati apa yang sedang Yoongi lakukan.
Jimin menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah pria yang menciumi lehernya. Jimin memandangnya heran. bukankah pria itu adalah bos yang ia benci? Tapi entah sihir apa, Jimin merasa Yoongi sangat manly dan membuatnya penasaran bagaimana rasanya ada dibawah tubuh pria itu. Jimin merasakan sesuatu yang lembut bergerak dibibirnya, itu bibir Yoongi yang menciumnya. Jimin membalas ciuman itu, ciuman yang merangsangnya membuka mulut untuk mengundang sesuatu yang lebih lembut masuk dan bermain dengan lidahnya. Jimin berbalik untuk berhadapan dengan pria itu agar ia bisa leluasa melakukan ciuman panas dengan Yoongi. Jimin bisa merasakan satu tangan Yoongi Turun kebawah, menyentuh dan meremas pantatnya.
"Mhhh!"
Sebuah lengguhan manis dari Jimin dan gairah Yoongi aktif. Yoongi melepas pangutannya dan mencium leher Jimin lagi. Yoongi menikmati leher harum tersebut dengan melumat dan menggigitnya sesekali membuat desahan Jimin kembali memanjakan telinganya. Yoongi menekan pantat Jimin lebih menempel padanya, menggesekan milik Yoongi yang sudah tegang. Yoongi menginginkan lebih. Yoongi menempelkan Keycard pada kunci pintu kamarnya tanpa berhenti berciuman dengan Jimin. Yoongi membuka pintu, membuat pangutannya mereka terlepas.
Jimin menatap Yoongi dari luar pintu, ia sekilas merasa ada sesuatu yang salah. Namun otaknya tak bisa berfungsi untuk berfikir lebih. Jimin merasa melayang sebelum pantat manisnya menyentuh sesuatu yang empuk dan nyaman. Jimin berbaring menikmati kelembutan dibawah tubuhnya, sebelum sebuah sentuhan didadanya membuat Jimin merasakan kenikmatan lain, yang mengalirkan sebuah aliran listrik menuju puntingnya. Jimin kembali merasakan Lehernya dilumat Yoongi yang perlahan turun ke bawah, menyesap titik kelemahan setiap wanita.
"Shhh,,,Ahhhhnnn!" Jimin melengguh lebih keras.
Yoongi bagaikan pesulap yang membuat Jimin tak sadar kapan pakaiannya menghilang dari tubuhnya. Keinginan gairah Jimin yang menginginkan Yoongi terkabul saat Jimin merasakan benda kenyal mencoba masuk ke dalam dirinya. Dadanya terasa diremas, memberikan kenikmatan lain pada tubuhnya. Benda kenyal itu masuk begitu dan menghentakan tubuhnya begitu intens, membuat Jimin kehilangan akalnya.
"Oh God!" Yoongi benar-benar membuat Jimin gila malam itu.
. . . . .
Knok knok knok
"Houskeeping!"
Jimin mendengar suara seorang wanita berteriak halus jauh entah dimana. Jimin membuka matanya. ia melihat cahaya sedang mencoba masuk dari balik gorden kamarnya. Jimin mengerutkan keningnya bingung. Bukan ini bukan kamarnya. Ia mendengar pintu dibuka, Jimin menoleh dan Jantung Jimin terasa berhenti menatap sumber suara tersebut.
"Tolong jangan ganggu dulu!" Yoongi terlihat bicara dengan seorang wanita yang mengenakan seragam dan memasang sebuah kertas di gagang pintu luar lalu menutupnya. Yoongi berbalik dan mata mereka bertemu. Seketika waktu berhenti.
.
.
-RT-
.
.
Yoongi duduk si kursi kamar, menghadap Jimin tapi tak menatapnya. Jimin menutupi dirinya dengan selimut, menatap Yoongi nyalang.
"Jangan katakan bahwa Sajangnim menyalahkan saya atas semua kejadian ini!"
Yoongi mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. "Mianhaeyo!" hanya itu yang bisa Yoongi katakan.
"Tak perlu minta maaf sekarang jika nanti kau akan memberiku sebuah amplop berisi uang lagi padaku."
Yoongi menatap Jimin yang terlihat menahan tangis, ia bisa melihat kemarahan dimata Jimin. Tetapi entah bagaimana, Jimin yang menatap Yoongi seperti itu, dengan tubuh telanjang dibalik selimut yang melingkar ditubuh Jimin, membuat Yoongi terangsang kembali. Yoongi menyibak rambutnya mencoba menghilangkan fikiran kotonya. Demi Tuhan Yoongi tak senista itu, tapi wanita didepannya membuatnya jadi orang hina sekarang.
Jimin memungut pakaiannya dengan tubuh yang masih dibalut selimut. Setelah memastikan semua pakaiannya ada ditangannya Jimin masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Yoongi yang merasakan kepalanya mulai pusing. Yoongi harus bertanggung jawab bukan?! Itulah yang harusnya seorang pria lakukan. Mendengar pintu kamar mandi terbuka Yoongi bangkit dari tempat duduknya.
"Nona Park deng,," Ucapan Yoongi terheti ketika melihat tangan kanan Jimin terangkat ke udara tanda bahwa Yoongi harus berhenti bicara, dan Yoongi tak bicara sekarang.
"Aku tak ingin merundingkan masalah apapun, dan aku tak akan mematuhi semua perintahmu sajangnim. Jadi tolong untuk melupakan semuanya dan jangan pernah menggangguku dengan masalah ini."
Yoongi mengerti Jimin marah dan mebiarkan Jimin pergi begitu saja keluar kamarnya.
...
Suara keras dari televisi membuat Jungkook sadar namun belum mampu membuka matanya. Jungkook merasa kepalanya sakit, bukan sakit seperti pusing sehabis mabuk tapi kepalanya terasa sakit seperti terbentur benda yang keras. Jungkook membuka matanya dan terkejut melihat kondisi sekelilingnya yang berantakan. Apa aku tertidur di gudang!? Jungkook bangun dan terlonjak melihat gadis yang semalam bermain Truth and Dare bersamanya, merangkak keluar dari kamar mandi dengan rambut acak-acakan. Im Nayoung seperti sedang beradegan Film Horror, dan Jungkook kembali terlonjak dan memegang jantungnya melihat Taehyung tak kalah mengerikan muncul dari balik selimut.
"Kalian baik-baik saja?!" Jungkook lagi-lagi terlonjak begitu kedua gadis itu menoleh padanya bersamaan.
"Jeon Jungkook-ssi!?" Taehyung Kini menatap Jungkook dengan wajah seperti orang idiot.
"Kenapa kalian ada di kamarku?!" tanya Nayoung yang sudah menyandarkan kepalanya di pinggiran kasur. Ia bisa tau itu kamarnya dari baju-bajunya yang berserakan dilantai.
"Kamarmu?!" Taehyung bertanya dan melihat sekeliling kamar, ia masih merasa linglung. Belum begitu sadar dari tidurnya.
Jungkook duduk dikasur membelakangi Taehyung sambil memijit kepalanya. "Kenapa kepalaku sakit sekali?!"
"Aku Juga!" Nayoung mengangkat tangannya.
Sedangkan Taehyung mengangguk "Aku Juga!"
Selintas bayangan Taehyung dan Nayoung bertarung heboh hingga saling lempar bantal, sprei, dan pakaian muncul. Permasalahan mereka berawal dari berebut botol beer kosong yang dipegang Nayoung, kemudian mereka saling jambak dan Jungkook yang setengah mabuk mencoba memisahkan mereka tetapi justru dua gadis itu mendorong Jungkook Hingga terjungkal dan kepalanya terbentur lantai. Dua gadis itu melempar tas, dan pakaian lalu saling lempar bantal, mengabaikan Jungkook yang meringis kesakitan. Nayoung terjatuh dan Taehyung menyeretnya ke toilet lalu mengikat Nayoung dengan tissue toilet. Nayoung yang mabuk berfikir kalau Taehyung mengikatnya dengan tali dan Nayoung teriak memaki Taehyung. Taehyung kesal menyumpal nayoung dengan tissue toilet dan mengumpat balik. Mendengar dua gadis saling mengumpat kepala Jungkook semakin sakit dan ia tak sadarkan diri. Taehyung tersenyum menang dan mengacungkan tembakan dengan dua jarinya pada Nayoung dan Nayoung terpejam seolah mati. Merasa mengalahkan musuh Taehyung masuk ke dalam selimut dan tertidur.
"Kita benar-benar seperti orang bodoh!" ucap Taehyung.
Mereka diam, mencoba mengumpulkan kesadaran masing-masing. Suara televisi begitu keras menampilkan pembawa acara breaking news yang menyebutkan nama Hoseok di dalamnya. Seketika mereka sadar dan menatap layar televisi. Terlihat Hoseok sedang dikerubungi banyak wartawan saat masuk ke mobilnya. Nama produser manajemen hoseok disebut-sebut dalam sekandal video dewasa. Jungkook segera pergi ke kamarnya dan menelfon Yoongi.
. . .
Hoseok kembali menjadi percakapan media. Setelah berita buruk mengenai pernikahannya, sekarang ia kembali meramaikan media dengan bocornya video skandal sexnya dengan produser musik di menejemenya sendiri.
Sedangkan Mrs. Min memegang punggung lehernya yang terasa kaku, ia terjatuh ke sofa. Membuat maid di rumahnya khawatir dan membawakannya minum. "Apa ini?! Argh!" Mrs. Min memegang kepalanya merasa pusing.
Namjoon memuntahkan kembali obatnya, dan melihat breaking news seksama. Bahkan perwatpun ikut mengamati sang pembawa berita bicara.
. . .
"Tidak bisakah kau lebih cepat lagi?!" pinta Yoongi gelisah.
Jungkook mencoba konsentrasi menampik rasa sakit yang kadang muncul dikepalanya, dan satu kedipan mata Jungkook membuatnya tak menyadari sebuah mobil di depannya mengerem. Jungkook terkejut dan banting stir ke kiri dan naas dibelakangnya adalah mobil truk dan mobil mereka terseret jauh sampai truk itu berhenti.
. . .
Jin berlari ke ruang Icu, begitu mendengar adiknya terlibat dalam sebuah kecelakaan. Jin ingin masuk namun perawat mencegahnya. "Dokter Jeon kau tak boleh masuk. Dokter Uhm yang diberi tanggung jawab untuk operasi kali ini. Mianhae!"
"kalian Gila?!" Bentak Jin membuat sang perawat terlonjak takut.
Keluarga besar Yoongi yang berkumpul disitu termasuk namjoon ikut terkejut dengan bentakan Jin. Dokter Uhm pagi tadi selesai operasinya dan sekarang mereka memintanya mengoperasi adiknya. padahal jadwal Jin kosong. Jin tak percaya dengan itu dan menjambak rambutnya frustasi. Ia hanya bisa berharap yang terbaik sekarang. Jin berbalik dan bertanya pada siapapun yang bisa menjelaskan semuanya.
Mrs. Kim datang memeluk Jin yang terlihat menahan tangis. "Gwenchana!" Mrs. Kim menyukai Jin sejak pertama kali ia melihatnya. Bagi Mrs. Kim, Seokjin adalah sosok wanita yang sangat baik dan ia kagum dengannya, namun melihat Jin terlihat rapuh Mrs. Kim merasa harus memeluknya. Sama halnya Namjoon yang merasa hatinya ikut sakit melihat Malaikatnya menangis.
"Mereka kecelakaan saat pulang dari Jeju. Polisi mengatakan jika mereka mengemudi," penjelasan Namjoon terhenti ketika melihat siapa yang datang. Itu Hoseok, yang tak kalah khawatir.
Slap!
Mrs. Min langung menampar hoseok yang baru saja tiba. Seketika semua orang terpaku menatap kejadian tersebut.
"Kau masih berani datang kemari?!" tanya Mrs. Min tak percaya. "Jika kau tak membuat masalah Yoongi tak akan pulang hari ini dan," Mrs. Min tak mampu melanjutkan kata-katanya, Ia menangis.
Mr. Min menarik isterinya ke dalam pelukannya, mencoba menenangkannya. Hoseok hanya bisa tertunduk malu, dan merasa bersalah. Kata-kata Mrs. Min benar. Yoongi kembali ke seoul pasti karena mendengar berita Hoseok, dan Yoongi tak akan kecelakaan jika saja mereka tak kemari, dan Hoseok sadar itu pasti kesalahannya.
...
Taehyung mengumumkan berita duka tersebut pada seluruh karyawan yang sedang berlibur dan meminta karyawan bersiap-siap untuk kembali ke seoul besok pagi. Musibah ini membuat semua orang IbigHit khawatir. Belum Ceonya sembuh kali ini Direkturnya kecelakaan.
Taehyung menatap sahabatnya yang sedang berkemas sambil melamun. Tae berfikir jika Jimin pasti sedih karena Jungkook kecelakaan. "Kita akan menjenguk Jungkook begitu sampai ke seoul! Jangan khawatir Min. Semua akan baik-baik saja!" Jimin hanya diam, tak mengerti dengan ucapan Taehyung.
.
.
-RT-
.
.
Jin memeriksa keadaan Namjoon. hari ini adalah waktunya Namjoon melepas Gipsnya. Jin melakukan prosedur dengan baik, ia mencoba ramah, mengatakan kalau laser cutting itu taka akan melukai kulit Namjoon, dan setelah gipsnya dibuka, Jin dengan terampil membersihkan kulit namjoon. Jin tak memperhatikan wajah namjoon yang sejak tadi menatapnya sedih. Namjoon meghela nafas begitu Jin selesai memberikan terapinya untuk mengndurkan otot-otot Namjoon yang kaku. Sang perawat pergi mengambilkan tingkat yang Jin lupa membawanya.
"Dr. Jeon!"
"Ne! Kim namjoon-ssi!?" Jin menatap Namjoon yang melihatnya dengan tatapan yang dalam.
"Jika kau memang ingin menangis maka menangislah!"
Air mata itu, tanpa seizin pemiliknya menetes begitu saja. Namjoon menarik Jin mendekat agar ia bisa memeluknya. Jin menangis begitu saja dipelukan namjoon. Perawat yang melihat dokternya menangis dipelukan pasyennya keluar lagi dan menutup pintu dengan hati-hati. Jin sangat sedih karena sudah duabelas hari Jungkook belum Juga sadar dari komanya.
Kecelakaan itu melukai syaraf dan tulang punggung Jungkook yang membuatnya koma, sama halnya dengan Yoongi yang sudah dibawa ke Jerman untuk perawatan lebih. Kecelakaan itu hampir merenggut nyawa Yoongi. dimana Yoongilah yang paling parah karena ia duduk di belakang dimana truk tepat menabraknya dari belakang.
.
.
.
tbc
.
.
