Yoo Update lebih cepat.
.
.
-RT-
.
.
.
Jimin terpaku menatap dua garis yang terlihat dari testpack yang ia pegang. Jantungnya berdetak lebih kencang hingga ia kesulitan bernafas. Ia suda bertekad akan mempertahankan bayinya jika ia hamil. Maka sekarang ia harus menepati apa yang sudah jadi keputusannya. Ia belum memberi tahu sahabatnya mengenai ini dan Jimin tak boleh merahasiakan ini pada sahabatnya lebih lama lagi. Jimin keluar kamar dan kebetulan Taehyung sedang makan malam.
"MWOOOO? LAGIIIII?"
Jimin tau Taehyung akan bereaksi seperti apa, oleh karena itu Jimin bicara setelah menunggu Tae selesai makan karena Jimin tak ingin semua makanan yang ada dimulut tae mengotori meja dan itu akan sangat menjijikan. Taehyung merebut test pack jimin dan diam beberapa saat terlihat konsentrasi melihat dua garis merah itu.
"bisa saja alatnya rusak!" Taehyung melempar testpacknya ke meja.
"Aku akan ke rumah sakit untuk periksa. Kau mau ikut?"
Taehyung menggigit kukunya teringat dugaannya terhadap Jungkook yang menyukai Jimin ia tiba-tiba cemas. "Arghhh ini kacau! Lalu bagaimana dengan Jungkook?"
"Jungkook kenapa?" Jimin mengerutkan keningnya, ia bingung kenapa jadi jungkook yang Taehyung bahas bukan Yoongi.
"kau menyukainyakan?!"
Pertanyaan itu sontak membuat Jimin menatap Taehyung malas. Jimin mengerti sahabatnya itu terkadang bisa sangat bodoh dan sok tau. "Taehyung aku tau otakmu aneh tapi darimana kau bisa berfikir begitu?"
"Kau semenjak di jeju selalu berdua dengannya."
Jimin tersenyum melihat reaksi Taehyung, mereka berteman sangat lama dan Jimin bisa melihat kecemburuan dimata Tae ketika mengatakan itu. "Tae-ah! Jungkook itu suka padamu. Dia dekat denganku karena tak punya teman dan kau tak sadar bagaimana tatapannya padamu?!"
"Sungguh?!" Taehyung bertanya memastikan sekali lagi dan Jimin mengangguk. "Kalau begitu ayo ke rumah sakit".
Taehyung berjalan menuju pintu keluar lalu kebingungan dan ia masuk ke kamarnya untuk mengambil tas. Melihat reaksi salah tingkah Taehyung Jimin hanya menahan senyum. Sejenak Jimin lupa dengan masalahnya. Jimin dan Tae turun ke basement untuk mengambil mobil mereka namun mereka dikejutkan oleh seseorang yang Jimin tak ingin temui. Erik nam datang dengan membawa bunga.
.
.
-RT-
.
.
Taehyung tak hanya diam di dalam mobil. Ia mengawasi dua orang yang sedang bicara tak jauh dari tempatnya.
"Aigoo. Kau dan Jimin tak akan berjodoh. Tak usah terlalu berharap!" Taehyung menggerutu sambil mencibir. Mengingat kata jodoh ia jadi ingat kata-kata Jimin mengenai Jungkook yang menyukainya. Taehyung tersenyum. ',,,dia sangat dekat dengan takdir sahabatmu!... Dia pria yang sangat baik, cukup mapan, dan menyukai warna merah.' Kata-kata peramal Guk Joo terngiang dan otaknya menyatakan Jungkook 100 % Match.
"Jika Jungkook denganku maka seseorang yang Jimin fikirkan ?" Taehyung memikirkan satu nama yang sudah jelas "eeeyyyy! Itu tak mungkin" tampik Taehyung.
Yoongi selalu menjadi hal yang sahabatnya fikirkan dalam hal benci maupun masalah dan sekarang Jimin kemungkinan hamil anaknya. Meskipun 100 % benar tapi taehyung tak rela sahabatnya akan berjodoh dengan seorang monster. Taehyung menatap Jimin kasihan dengan takdirnya.
"Kesalahan apa yang kau buat dimasa lalu Chim?"
Jimin mendekati mobil, meninggalkan Erik yang terlihat shock. Jimin masuk mobil dan meletakan bunga pemberian Erik di dashboard "Kaja Teahyung-ah!"
Dan sesuai perintah Jimin, Taehyung menyalakan mobilnya dan pergi menuju rumah sakit.
. . . . .
"Apa yang membuatmu begitu berani datang kemari? Apa kau benar-benar tak punya rasa malu?"
Pertanyaan Mrs. Min sangat dingin dan keras membuat Hoseok merasa ia tak pantas bahkan untuk meminta maaf. Hoseok sungguh menyesali apa yang ia lakukan, ia juga tak menampik kesalahannya. Semua memang kesalahan Hoseok dari awal.
Bintang bersinar di langit yang gelap. Sama halnya Hoseok yang ingin bersinar di balik dunia hiburan yang gelap. Debut adalah hal yang selalu diinginkan seorang idola dan berbagai cara mereka lakukan selain kerja keras yaitu melakukan hal kotor. Dalam dunia hiburan hal seperti ini adalah biasa. Hampir semua publik figur pasti pernah melakukannya dengan pihak tinggi yang bisa membuatnya bersinar, termasuk Hoseok. Ia tak pernah menginginkan itu. semuanya terjadi begitu saja dan sampai ia kenal Yoongi dan mendapat aliran dana sponsor yang tak sedikit, membuatnya berhenti melakukannya dengan sang produser. Namun Hoseok yang tak pandai mengubur bangkai akhirnya membuat semua orang bisa mencium bau busuk dari tindakannya. Video tersebut entah bagaimana bisa bocor ke media dan menghancurkan wajahnya.
Hoseok tau ia salah, ia yang paling tau dari yang lainnya. Ia hanya ingin meminta maaf mendengar Yoongi hingga dibawa ke Jerman. Hoseok terlalu egois dengan cintanya yang tak pantas untuk yoongi. Ia telah membuat orang yang ia cintai terbaring di ranjang rumah sakit. Hoseok bahkan sekarang merasa malu menyebut itu cinta. Ia meminta maaf lalu pergi, merasa ia tak harus membuat Mrs. Min lebih membencinya karena menampakan wajah yang kini tak ia sukai.
Begitu Hoseok pergi Mrs. Min menelfon suaminya untuk memutuskan kontrak yang dibuat Yoongi untuk Hoseok. Mrs. Min merasa sangat kecewa sekarang, ia sangat menyayangi Hoseok seperti puterinya sendiri, namun apa yang Hoseok lakukan telah membuatnya benar-benar kecewa. Mendengar perintah isterinya Mr. Min pergi ke apartement Yoongi untuk mengambil kontrak, namun fakta lain ia dapat ketika mencari kontrak tersebut. Ia menemukan tumpukan map dengan logo rumah sakit St. Mary Seoul. Mr. Min tau bahwa ia menuruni penyakitnya pada putera tunggalnya, dan ia hafal betul bagaimana mereka harus check-up berkala seumur hidup mereka. Mata Mr. Min menatap satu map dengan tulisan tangan oleh puteranya. Park Jimin adalah nama yang ditulis di map tersebut dan membuatnya penasaran. ia membukanya dan keningnya mengerut. Itu adalah berbagai hasil test medis seorang bernama Park Jimin dan yang membuatnya terkejut adalah satu lembar kertas yang memperlihatkan hasil negatif kehamilan. Merasakan ada hal tak wajar, ia meminta seseorang untuk menyelidiki siapa park Jimin.
Yoongi menarik nafas sebanyak-banyaknya dan membuka mata. Ia merasakan sesak di pernafasannya. Mr. Min terkejut melihat puteranya membuka mata, ia menangis karena bahagia melihat puteranya sadar. Mrs. Min memanggil perawat dan mereka segera memeriksa keadaan Yoongi. Yoongi masih setengah sadar, ia hanya menatap sekelilingnya, ia ingat ia kecelakaan. Yoongi bisa merasakan hatinya sakit, bukan sakit fisik, tapi batinnya. Entah mengapa hatinya merasa khawatir terhadap sesuatu yang Yoongi belum tau.
. . . . .
Taehyung memeluk Jimin di lobi rumah sakit ketika mereka menunggu panggilan untuk pembayaran.
"Aku akan membantu segalanya yang aku bisa Jimin-ah! Aku dengan senang hati akan mengurus keponakanku. Jangan khawatir!"
"Terima kasih tae-ah. Kau memang sahabat baikku."
Jin yang hendak pulang kerja melihat dua orang yang ia lihat fotonya di akun Jungkook, mereka juga dua gadis yang sama yang ia temui saat salah satu dari mereka mabuk dulu. Merasa penasaran dengan apa yang mereka lakukan di rumah sakit membuat Jin mendekati mereka. Jungkook sangat sibuk menjadi asisten Yoongi selama ini, sehingga jarang ia bisa melihat Jungkook bersosialisasi. Maka foto-foto yang Jungkook kirim sebelum kecelakaan membuatnya senang karena akhirnya Jungkook bisa punya teman. Jin tersenyum menatap gadis berambut orange yang mungil. Seseorang yang Jungkook pernah katakan bahwa, Jungkook menyukai gadis itu.
"Taehyung dan Jimin bukan?!"
Merasa nama mereka dipanggil Jimin dan Taehyung menoleh. Mereka heran mengapa ada dokter dengan id spesialis tulang mendekati mereka.
"Aku Jeon Seokjin. Kakak Jungkook."
Mereka berkenalan dan mata Jin melirik Taehyung berkali-kali. Jin terkesan dengan gadis yang adiknya sukai. Merasa belum melihat Jungkook, Taehyung dan Jimin menjenguknya dengan diantar Jin. Sesampainya mereka di ruangan dimana Jungkook terbaring memejamkan mata dengan gips di kakinya, Taehyung rasanya sesak.
"Jungkook belum juga sadar setelah kecelakaan itu."
Penjelasan Jin membuat Jimin dan Tae maju lebih dekat ke ranjang Jungkook. Taehyung duduk di kursi dan mencoba tersenyum.
"Jungkook-ssi! Ini kami. Tae dan Jimin."
Melihat Taehyung menyapa Jungkook Jimin mengerutkan kening, ia heran dengan kebodohan taehyung lagi. "Tae-ah! Jungkook belum sadar. Kenapa kau mengajaknya bicara?!"
"Aku dengar kalau orang yang sedang koma masih bisa mendengar kita. Benarkan eonie?"
Jin terkejut mendengar panggilan akrab Taehyung kepadanya, ia baru berkenalan tadi tapi Tae sudah memanggilnya kakak. Jin tersenyum melihat Taehyung yang menurutnya memiliki sifat terbuka. "kemungkinan besar mereka memang masih bisa mendengar."
"Apa ku bilang!.. Jungkook-ssi kau dengar akukan?!" tanya Taehyung dengan suara satu level lebih keras dari biasanya.
Sepulang dari rumah sakit Tae di kejutkan dengan Erik yang menunggu Jimin di koridor tempat tinggal mereka. Tae heran kenapa Erik masih di tempatnya. Tae masuk setelah mendengar Jimin memintanya untuk masuk lebih dulu. Jimin ingin bicara dengan Erik atau sebaliknya. Mereka kini ada di taman dan Jimin menunjukan hasil testnya. Erik membacanya dengan seksama. Jimin berjanji akan menunjukan hasil testnya begitu mereka kembali. Sebelum mereka berangkat Erik meminta maaf dan menjelaskan mengenai perasaanya pada Jimin, Erik hanya bosan dan dalam sebuah hubungan pasti seseorang pernah merasa bosan, Jimin mengerti itu. Oleh karena itu Jimin memaafkannya namun tentu dengan status yang tidak seperti dulu lagi. Jimin melihat kemarahan dimata Erik saat membaca hasil tes Jimin.
"Kalau dia sadar bolehkah aku memukulnya?"
Tak perlu Jimin tanya siapa yang Erik maksud, itu adalah Yoongi, orang ketiga yang sedang mereka bicarakan.
"Itu tak perlu!" Jimin menghela nafas "Aku malas berurusan dengannya lagi!"
"Jimin-ah!"
"Ne?"
"Aku minta maaf,," Erik memandang Jimin begitu dalam ",,,Untuk segala yang kau alami. Seharusnya aku ada disampingmu bukan meninggalkanmu seperti pengecut bodoh."
"Kau memang pengecut dan bodoh!" Jimin berkata dengan gurauan membuat mereka sama-sama tersenyum menampilkan gigi mereka.
. . . . .
Namjoon berjalan tergesa-gesa keluar dari kantor IbigHit, hari ini dia ada pertemuan di Hotel dan ia sedikit terlambat karena ketiduran setelah meminum obatnya yang memberikan efek kantuk. Namjoon menguap, matanya terpejam dan ia lupa kalau di depan Kantor ada tangga kecil yang menyebabkan ia jatuh tersungkur. Serentak semua orang mendekatinya. Dibantu asistennya, Namjoon berdiri memegang jarinya yang terasa sangat sakit, tanpa basa-basi asistennya membawa Namjoon ke rumah sakit.
"Baru saja kau dinyatakan sembuh total sekarang kau melukai dirimu sendiri lagi." Jin membungkus Jari kelingking Namjoon yang geser. Jin dan Namjoon sudah cukup dekat untuk bisa menggunakan Banmal (Bahasa korea nonFormal).
"Resep dokter membuatku mengantuk sehingga akau jatuh!"
"Jadi sekarang kau menyalahkan obatku?!"
"Ania! Hanya saja berikan aku obat tanpa efek mengantuk dan berikan juga obat penghilang rasa sakit agar aku bisa berjalan lebih cepat."
"Apa kau barusaja memintaku memberikanmu obat yang bisa membuatmu bertingkah semaumu dan kembali cidera? Apa kau begitu menyukai rumah sakit ini?!"
"Aku benci rumah sakit!" Namjoon sangat benci rumah sakit tapi ia menyukainya belakangan ini, Jelas itu karena gadis yang ada didepannya itu.
"Kalau begitu patuhi perintahku! Bagaimana bisa ada Ceo yang bandel sepertimu?!"
Namjoon hanya tersenyum menatap Jin yang begitu serius membungkus tangannya sambil mengomel. Ia sekarang merasa sedang menjadi suami yang dimarahi isterinya.
"Aku akan menurut Jika kau bisa mengabulkan satu permintaanku!"
"Apa itu?!"
"Makan malamlah denganku!"
PRAANGGG
Suara besi jatuh terdengar memenuhi seisi ruangan yang menjadi beku saat itu. Suara itu berasal dari perawat yang terkejut hingga menjatuhkan besi berbahan stenless tempat menaruh bekas suntikan dan alat lain keperluan Namjoon yang sudah tak dipakai lagi. Namjoon melirik perawat itu tak peduli, ia hanya ingin menatap wajah Jin yang menatapnya penuh tanya.
"Aku tak terima penolakan dan kapan kau punya waktu dokter Jeon?!"
Jin menyelesaikan perban Namjoon, lalu berjalan menuju mejanya. Jin membuka buku catatanya dan memandang Namjoon yang menatapnya penuh harap. "Lusa bagaimana?!"
Namjoon tak dapat menahan senyumnya membuat Jin terkesan dengan lesung pipi yang membuat namjoon terlihat manis.
. . . . .
Jimin masuh ke sebuah restoran, ia dipandu waitress yang memawanya ke meja dimana seorang pria dengan wajah tegas dan aura dingin sedang duduk menunggunya. Jimin duduk tepat dihadapan Mr. Min. Jimin memberi salam hormat pada ayah bossnya yang merupakan pemegang saham no.2 setelah Mr. Kim, ayah Kim Namjoon.
"Nona Park Jimin benar?!"
"ne!" Aura dingin itu membuat Jimin merasa sangat kecil dihadapan pria tua di depannya.
"Aku tau nona Park memiliki suatu hubungan dengan puteraku Min Yoongi, dan aku mendapatkan informasi bahwa anda tengah mengandung."
Deg
Jantung Jimin terasa copot, ia baru semalam periksa dan bagaimana Mr. Min bisa tau ia hamil. Jimin hanya bisa diam. Ia ketakutan sekarang.
"Anda faham bahwa anda tak bisa bermain-main dengan bos anda bukan?"
Tunggu!Bermain-main?Jimin mengerutkan keningnya bingung dan sedikit tersinggung. Jimin tak pernah bermain-main, itu kesalahan Yoongi bukan?
"Kehamilan anda bisa sangat buruk bagi pihak kami dan saya harap nona Park bisa mengerti"
Mr. Min mengeluarkan sebuah amplop dan Jimin bisa menebak itu apa. Cara yang sama yang Yoongi lakukan. Jimin kini tau dari mana Yoongi belajar. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya.
"Anda bisa menulis angkanya seberapapun anda inginkan tetapi tolong sembunyikan fakta ini sebelum semuanya menjadi kacau atau saya meminta surat pengunduran diri anda."
Jimin meledak, ia meminum air putih dihadapannya dan bersiap mengambil tasnya. "Saya akan mengundurkan diri sesuai dengan prosedur pengunduran diri di perusahaan. " Jimin memberi hormat dan pergi meninggalkan Mr. Min yang kesal dengan jawaban angkuh Jimin yang berarti tanda pemberontakan. Nama keluarganya bisa lebih tercoreng jika orang-orang tau mengenai kehamilan Jimin.
"Gadis itu berfikir kalau dirinya pintar berharap bisa memanfaatkan kehamilannya. Tapi salah besar nona! Kau baru sanya mengancam kami dan itu akan berakhir tak baik."
.
.
RT
.
.
Taehyung menaruh tiga tangkai bunga tulip merah dimeja samping tempat tidur Jungkook lalu ia duduk di kursi dekat ranjang Jungkook. Ia mengawasi Jungkook yang masih tertidur.
"Jungkook-ssi Anyeong!... sore ini langit sangat cerah, cahaya matahari tenggelam di langit terlihat sangat Indah." Taehyung menjelaskan pada Jungkook bagaimana langit yang ia pandang sekarang. Taehyung menatap Jungkook lagi ",, Kapan kau akan bangun?!".
Ponsel taehyung berdering. Melihat Jimin yang menelfon, Taehyung mengangkatnya dan pergi ke pojok ruangan. Tak igin menciptakan kebisingan walaupun itu sia-sia karena ia tetap berteriak.
"MWO?! Bagaimana bisa Mr. Min tau kau hamil?!"
'Aku rasa dia mnyelidiku kemarin, dia memberiku dua pilihan untuk menerima uangnya atau keluar dari perusahaan. Aku ingin kau urus penggantiku secepatnya.' Jimin menjelaskannya pada Taehyung, ia masih dijalan sekarang.
"Kau tak perlu mengundurkan diri. Ini bukan salahmu Jimin. Bagaimana ayah dan anak sangat identik menyebalkan?"
'kita bicara lagi di rumah ya. Aku dalam perjalanan. Bye!'
Taehyung menutup panggilan dan terlonjak melihat Jungkook yang menatapnya seperti zombi. "Jungkook-ssi?!" Tehyung bertanya untuk memastikan bahwa Jungkook memang sadar.
"Nona Park Hamil?"
Omg! Dia mendengar semuanya? mati aku. menyadari Jungkook sadar ia mencari alasan untuk memanggil perawat. "Itu,,, em,,,Aku akan panggil perawat"
.
.
.
tbc
.
.
Setelah kalian baca Chapter ini apa kalian tidak keberatan untuk view and Like MV Agust D di akun Youtubenya IBigHit?!
Kalian akan jadi orang terkutuk kalau baca ffn ini tapi gx liat MVnya suga di Ibighit. he he he JK (Just Keeding).
Aku hanya akan memohon pada reader buat dukung uri Suga. AKU MOHOOOONNNNN!
Dont forget to follow/Favorite RT and view and like Agust D too.
.
.
.
