.
.
.
-Red Thread-
.
.
.
"Hoek!"
Jimin kini sedang menundukan wajahnya menghadap westafel, memuntahkan seluruh makanan dalam perutnya. Jungkook disitu dengan senantiasa memegangi rambut Jimin agar tak jatuh ke dalam westafel tersebut. Taehyung juga disitu, memijat tengkuk Jimin, membuat Jimin semakin hebat memuntahkan semuanya. Tak ada rasa jijik bagi Taehyung dan Jungkook, mereka hanya merasa kasihan terhadap Jimin. Pasalnya sejak pagi tadi mereka tau Jimin selalu memuntahkan makanan yang ia makan. Mereka khawatir karena wajah Jimin sangat pucat sekarang. Jimin yang sangat lemas tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Tae dengan sigap memegangi pinggang Jimin yang hampir terjatuh. Sekarang Taehyung merasa frustasi melihat kondisi sahabatnya yang menghawatirkan.
"Arghhh! Apa tak ada obat yang bisa membuat Jimin tak muntah lagi!?" teriak Taehyung merengek frustasi pada Jungkook, ia hampir menangis melihat sahabatnya tak berdaya seperti itu.
Jungkook menggeleng, bagaimana ia bisa tau hal semacam itu. Jungkook adalah laki-laki single yang tak tau menau mengenai hal perempuan terlebih lagi perempuan hamil. Jungkook membantu Taehyung menaling Jimin ke tempat tidur agar Jimin bisa berbaring disana. Ia mengambil ponselnya dan menelfon kakaknya untuk menanyakan obat yang bisa membuat Jimin berhenti muntah. Walaupun Jin juga tak tau menau mengenai kehamilan setidaknya ia punya banyak kenal dokter dan bidan, jadi Jin bisa bertanya pada mereka. Begitu mendengar sebuah merek susu ibu hamil yang Jin sebutkan, Jungkook langsung ke pusat perbelanjaan terdekat untuk membelinya.
.
.
-RT-
.
.
Taehyung duduk disamping Jimin sambil mengelap keringat Jimin. Tae sangat khawatir dan juga marah, Jimin disini sedang dalam masa dimana Jimin sedang tak dalam kondisi yang baik, dan yang membuat Taehyung marah adalah bagaimana Yoongi bisa terus menerus meminta Jungkook memperhatikan Jimin. Tae tak terima melihat Jungkook yang seolah ialah yang bertanggung jawab atas kehamilan Jimin. Sudah seminggu ini Jungkook terus menemui Jimin hanya untuk mengecek keadaannya. Jungkook memang sudah sembuh total minggu kemarin, dan dengan kesembuhannya tersebut Taehyung tau bahwa bosnya pasti yang meminta Jungkook mengawasi Jimin. Ia memang bersyukur karena setidaknya ada yang membantunya mengurus sahabatnya selain Erik, tetapi rasanya tak adil jika Jungkooklah yang terlihat menanggung semua kesalahan bosnya.
Jungkook mengambil satu kaleng susu ibu hamil dari merek yang Jin sarankan. Ia hanya membeli satu agar Jimin bisa mencobanya dulu, dan jika Jimin tak muntah lagi, maka ia akan membelinya lebih banyak. Jungkook memang sedikit kewalahan, setelah ia memenuhi segala keinginan Yoongi saat kerja dan sekarang ia mengurus ibu hamil yang ternyata cukup membuatnya kewalahan. Jungkook tak pernah berfikir kalau ia benci merawat Jimin, ia akan senang hati membantu Taehyung merawat Jimin, hanya saja dalam hati Jungkook ia teriak ingin istirahat. Tapi mengingat dirinya adalah satu-satunya orang yang bisa bosnya andalkan, Jungkook berusaha melupakan rasa kantuknya. Toh itu tak akan lama. Yoongi dalam masa terapi dan belum bisa berjalan dengan baik karena cidera tulang punggungnya, dan Jungkook yakin setelah bosnya sembuh, bosnya akan menggantikannya mengurus wanita yang telah bosnya tiduri itu. Begitu selesai membeli, Jungkook segera kembali untuk memberikan susu formula tersebut pada Taehyung.
Taehyung kini tengah membuat susu untuk Jimin dan memberikannya pada Jimin yang masih terduduk lemas. Tak lama setelah Jimin meminum susunya, ia terlihat mengantuk dan tertidur. Tae sedikit kagum dengan susu formula yang Jungkook bawa tadi. Taehyung membawa gelas kosong tersebut untuk ia cuci ke dapur, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Jungkook tertidur di sofa dengan mulut terbuka. Dilihat dari sisi manapun Jungkook terlihat sangat kelelahan. Taehyung melirik jam dinding dan terkejut ketika jarum jam menunjuk ke angka dua. Taehyung segera membawa gelas kotor itu ke dapur dan pergi ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut untuk Jungkook. Taehyung menaruh bantal di ujung sofa dan perlahan tangannya menyusup ke tengkuk Jungkook dan dengan hati-hati ia menjatuhkan kepala Jungkook ke bantal. Taehyung mengangkat kaki Jungkook yang masih dilantai ke atas sofa, ia dengan begitu teliti melepas sepatu Jungkook kemudian menyelimuti tubuh Jungkook dengan selimut. Ia menghela nafas merasa kasihan. berikutnya tangannya mengepak ke udara, lubang hidung Taehyung membesar, dan menatap nyalang ke udara. Taehyung benar-benar kesal sekarang. ketika sahabatnya dibuatnya hamil hingga seperti itu, sekarang ia melihat Jungkook tertidur kelelahan disofanya, dan itu semua karena pria yang sama, pria yang sekarang ingin sekali Taehyung pecahkan kepalanya. Taehyung mengeratkan giginya dan memaki Yoongi "Min Yoongi kau brengsek! Ini semua gara-gara kau!"
Pagi hari yang cerah, sangat baik untuk Yoongi mengerjakan semua pekerjaan yang tertunda selama ia sakit. SUGA mengalami penurunan, walaupun sedikit tetapi itu membuat Yoongi kecewa. Ia mencoba membaca proposal-proposal berbagai macam rancangan ide untuk menarik perhatian orang-orang untuk bermain di taman hiburannya. Yoongi terus membaca sampai sebuah panggilan membuatnya kehilangan mood untuk bekerja. Siapa lagi kalau bukan Jung Hoseok, gadis yang telah mempermainkan hatinya. Yoongi belum ingin bertemu dengan Hoseok sehingga ia menolak panggilan tersebut. Yoongi menghela nafas malas memandang ponselnya yang baru saja menampilkan nama gadis yang pernah ia sukai, melihat angka waktu dilayar ponselnya ia teringat Jungkook. Jungkook belum juga datang padahal ini sudah pukul 10:00 dan itu jadi keterlambatan Jungkook untuk yang pertama. Yoongi menelfon Jungkook, sekedar penasaran mengapa asistennya belum juga datang. Namun baru ia menelfon ia bisa melihat Jungkook datang padanya dengan berbagai berkas ditangannya. Yoongi bisa melihat lingkar hitam dimata Jungkook dan seketika ia merasa bersalah. Harusnya ia menyewa perawat untuk menjaga Jimin. bukan malah mengirim Jungkook yang jelas tak tau apapun.
"Jungkook-ah!"
"Ye, Sajangnim."
"Bagaimana keadaan Jimin?!"
Jungkook menghela nafas, ia merasa prihatin mengingat kembali wajah Jimin yang pucat. "Kondisinya masih sama ia sering sekali muntah, sudah berapa hari ini nona Park hanya bisa terbaring di kasurnya. Bahkan nona Kim sering mengambil cuti hanya untuk menjaga nona Park."
"Kalau tau kondisinya akan begitu harusnya di gugurkan saja!"
"Sajangnim!" nada suara Jungkook meninggi. Ia tak percaya dengan apa yang barusaja bosnya katakan. Seminggu belakangan ini Jungkook sudah bisa merasakan nalurinya untuk melihat bagaimana anak bosnya nanti. Ia sudah merawat Jimin dan tentunya akan sia-sia saja jika ia tak dapat melihat bagaimana bentuk wajah percampuran bosnya dan Jimin.
"Ara! Carikan saja dia perawat profesional yang bisa mengurusnya dengan baik."
"Baik! Sajangnim!"
Jungkook merasakan pundaknya terasa ringan sekarang. Ia berfikir kenapa tak dari dulu saja bosnya berfikir untuk menyewa perawat.
"Apa kau gila berfikir untuk mempertahankan bayi itu?!"
Yoongi dan Jungkook menoleh mendengar suara dingin di dekat pintu.
"Owh! Kau beruntung dia belum menikah dengan Yoongi."
"Yah! Setidaknya begitu."
Mrs. Kim sedang berkunjung untuk menjenguk keponakannya, dan mereka sedang menuju ruang kerja Yoongi.
"Apa kau gila berfikir untuk mempertahankan bayi itu?!"
Seketika langkah kedua ibu tersebut terhenti, mereka saling tatap mendengar nada tinggi dari sang tuan rumah. Mrs. Min segera mendekati mereka, khawatir jika mereka akan bertengkar lagi. Walaupun dalam hati ia sangat butuh penjelasan mengenai kata bayi.
"Kadang aku heran mengapa orang-orang menganggapku kejam, dan sekarang aku tau mengapa,,," Yoongi menatap ayahnya malas ",,,ini urusan pribadiku appa!"
"Apa yang kalian maksud dengan bayi?!"
Kali ini Mr. Min dan Yoongi melupakan pertengkaran mereka dan tepaku melihat sosok wanita yang muncul dengan wajahnya yang penuh tanya. Mr. Min mendekati isterinya agar bisa ia tuntun keluar ruangan tetapi Mrs. Min menyingkirkan tangan suaminya dari pinggangnya. Mrs. Min mendekati puteranya, ia lebih memilih mendengarkan sebuah fakta dari puteranya daripada meminta jujur suaminya. Mrs. Min tau betul bagaimana suaminya tak begitu pandai menjelaskan masalah. Merasakan suasana yang lebih tegang, Mr. Min meminta maaf pada kakak iparnya dan membawanya turun ke bawah. Sekarang bukan hanya ayahnya yang tau kehamilan Jimin tapi juga keluarga besar mereka.
Yoongi menjelaskan pada ibunya. Mengenai kehamilan Jimin, dan keputusannya untuk membesarkan anaknya. Yoongi tau bahwa ibunya memiliki hati yang halus dan tentu saja yoongi tak akan berani berkata bahwa ia sempat meminta Jimin untuk aborsi. Mrs. Min terlihat berfikir dan Yoongi menanti reaksi ibunya selanjutnya. Ia penasaran apakah ibunya akan terima atau menolaknya seperti ayahnya. Mrs. Min bertanya mengenai latar belakang Jimin dan Yoongi tak memperhitungkan itu. Walau ibunya penyayang tapi Yoongi mengerti betul bagaimana pentingnya sebuah status sosial bagi ibunya. Sekarang Yoongi hanya bisa jujur dan jelas saja ibunya terlihat keberatan dan pergi meninggalkan Yoongi begitu saja tanpa penolakan maupun persetujuan. Namun Yoongi tau bahwa ibunya tak suka dengan fakta bahwa Jimin hanyalah seorang yatim piatu.
Jungkook yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa diam ditempat. Seketika rasa lelahnya hilang menjadi rasa khawatir. Barusaja adalah suasana paling dingin yang pernah Jungkook rasakan dikeluarga Min.
Jin menatap sebuah buket bunga mawar ungu yang dipadu dengan bunga-bunga kecil lainnya ada dimeja kerjanya, Jin membuka sebuah amplop yang berisis foto mawar ungu dengan tangan Namjoon menyentuhnya.
'Aku tetap merindukanmu meskipun aku masih beruntung bisa melihatmu hanya dari sebuah bunga. Jeon Seokjin kau selalu terlihat mempesona. – Namjoon - '
Jin menutupi senyumnya dengan secarik kertas tersebut. Namjoon sangat pintar merayu, dan itu berhasil. Jin merasa tersanjung sekarang, dan jika Namjoon ada di depannya seokjin yakin ia akan menciumnya saat itu juga. Namjoon pergi ke Jepang karena urusan bisnis, dan dua minggu bukanlah waktu yang sebentar. Jin bahkan tak bisa Skype karena perbedaan waktu, dan Namjoon terlihat sangat sibuk Jika Jin menelfonya. lalu sebuah ide muncul dikepalanya.
Jin merekam video dengan poselnya. Jin berkata ia merindukan Namjoon dan ia berterimakasih dengan bunga yang namjoon kirimkan. Hanya video pendek dengan ciuman manis diakhir video tersebut. Jin memastikan bahwa Jin terlihat manis di video tersebut sebelum Jin mengirimkannya pada Namjoon.
"Namjoonnie~ bogoshipo~!" ucap Jin menatap foto yang diberikan Namjoon.
Erik membuatkan susu dan Jimin menunggunya seperti anak kecil. Jimin tersenyum begitu susunya datang lalu meminumnya hingga habis.
"Apa itu enak?!"
"Sangat! Aku juga jarang muntah seperti kemarin-kemarin meski rasa mual terkadang masih ada."
Erik mengusap rambut Jimin penuh sayang. Ia kemari setiap jam makan siang hanya untuk memeriksa Jimin sudah makan atau belum, dan hari ini juga waktunya Jimin untuk USG. Ia sangat penasaran ingin melihat seseorang yang ada dalam perut Jimin.
"Aku meminta dokter memundurkan jam periksaku karena Taehyung merengek ingin melihat bayiku jadi nanti sore kita baru akan berangkat. Jika oppa sibuk oppa bisa datang lagi nanti."
"Tidak. aku akan menemanimu saja disini."
Mr. Min melempar map ditangannya ke meja. ia baru saja di sindir oleh ayah mertuanya perihal puteranya yang membuat masalah. Mr. Min tak akan bisa berdebat dengan puteranya yang pemberontak itu, maka jalan satu-satunya untuk menutupi aib keluarganya ia harus membunuh parasit yang menempeli keluarga mereka. Mr. Min menelfon seseorang.
"Bagaimanapun caranya. Aku ingin Park Jimin menggugurkan kandungannya."
"Tae-ah! cepat!" teriak Erik memanggil Tae yang sibuk dengan bedaknya.
Tae berlari kecil begitu selesai dengan riasannya. "Sorry!"
Begitu Taehyung duduk di kursi belakang, Erik menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Erik melaju dengan Konstan dan berkendara seaman mungkin agar membuat Jimin nyaman. Namun seseorang yang duduk dibelakang sepertinya seratus kali lebih nyaman sehingga merasa berada duduk di depan meja rias kamarnya. Erik menggelengkan kepalanya melihat Taehyung terus saja merapikan make-upnya. Jujur Erik merasa risih. Sampai Erik berhenti saat rambu-rambu lalu lintas bergani merah, Erik melirik Taehyung.
"Apa ada seseorang yang kau sukai di rumah sakit sampai kau mempertebal make-upmu?"
Taehyung dengan cepat menyanggah Erik "Ani!"
Jimin menoleh ke belakang dimana Taehyung duduk manis. "Taehyung akan bertemu calon kekasih dan kakak iparnya"
"Shut up!" umpat Taehyung masih dengan cerminnya.
Erik mengambil cermin Taehyung "Hey! Jimin sedang hamil. Kau tak boleh mengumpat didepannya!"
Taehyung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Haaa! Maafkan bibik keponakannku!" Ia baru menyadari apa yang barusan ia katakan. "Tadi itu bukan umpatan tapi,,, bibi hanya menguap. He he he!"
Jimin dan Erik hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Rambu lalu lintas berganti Hijau dan Erik melaju kembali namun entah bagaimana sebuah mobil Jeep dari arah samping kiri menerobos lampu merah dan menabrak mobil mereka. Mendorong mobil mereka menabrak mobil lain disampingnya dimana Jimin berada. Taehyung yang lupa memakai sabuk pengaman, membuat kepala dan pundaknya terbentur kaca mobil hingga retak. Erik merasakan tangan kirinya sangat sakit mencoba menyadarkan diri untuk melihat wanita yang ada disampingnya, ia ingin memastikan bahwa Jimin baik-baik saja meski nyatanya tidak. Jimin terlihat pucat dengan kedua tangan yang sedang memegangi perutnya.
"Jimin-ah! kau baik-baik saja?" Tanya Erik masih menahan rasa sakit
"Oppa perutku!" Jimin merintih kesakitan memegangi perutnya.
.
.
-RT-
.
.
Jungkook membukakan pintu dan membantu Yoongi duduk di kursi rodanya. Jungkook ke rumah sakit untuk menemani bosnya check-up dan sekalian melihat Jimin yang memiliki jadwal cek kehamilan yang kebetulan bersamaan. Mrs. Min yang juga ikut mendorong kursi roda puteranya masuk ke dalam gedung. Para perawat berlarian dengan mendorong ranjang menuju luar dimana mobil ambulance berdatangan. Jungkook melirik orang-orang yang dibawa diranjang tersebut dan matanya melotot melihat seseorang yang ia kenal terbaring dengan darah membanjiri kepalanya, itu Taehyung.
"Sajangnim!"
Jungkook memanggil Yoongi kemudian berlari mendekat ke pintu masuk dan Yoongi yang mengikuti arah kemana Jungkook berlari ikut terkejut melihat Jimin yang ada diatas ranjang turun dari ambulance sambil memegangi perutnya.
"Eoma ikuti mereka!"
"mereka siapa?!"
"Jimin dia!"
Tunjuk Yoongi pada Jimin. Tanpa fikir panjang Mrs. Min mendorong kursi roda Yoongi dengan cepat mengikuti kemana arah orang-orang tersebut dibawa. Seorang perawat menghentikan Jungkook yang mencoba masuk. Yoongi melihat Jungkook membuka poselnya lalu menunjukan sesuatu pada Yoongi. Sebuah artikel update mengenai sebuah kecelakaan berencana yang dilakukan seorang pria yang belum diketahui identitasnya.
"Aku akan ke kantor polisi untuk menemui pelakunya."
"Ya! Hati-hatilah dan cepat kabari aku!"
"baik sajangnim!"
Yoongi menatap kepergian Jungkook gelisah. Sebuah kecelakaan yang direncanakan?! Yoongi memijat kepalanya, ia merasa pusing memikirkan satu nama yang memungkinkan semuanya terjadi. Yoongi tanpa fikir panjang menelfon ayahnya.
"Apa ini cara yang ayah lakukan untuk menyingkirkan Jimin?!"
Mata Mrs. Min melirik anaknya penuh curiga.
'Aku tak ingin membuat keluarga kita malu dengan kebodohan yang kau buat.'
PRAKKK!
Mrs. Min terlonjak begitu melihat bagaimana puteranya tiba-tiba melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berserakan dilantai. Ia memegang dadanya, masih belum bisa menerima apa yang terjadi. Ia tiba-tiba teringat perkataan peramalnya yang meramalkan nasib puteranya. Tadi ia dengar nama suaminya disebut-sebut dalam hal menyingkirkan wanita yang puteranya hamili. Jika ramalan Gukjoo benar, maka keputusan suaminya yang membuat pueranya akan melajang seumur hidup adalah gadis yang barusaja memasuki ICU.
"Andwe! Dia akan baik-baik saja Yoongi-ah!" Mrs. Min memeluk Yoongi dari belakang sambil menatap ruang ICU.
.
.
Tbc
.
.
.
Aku deg-degan pas nulis chapter ini bayangin adegan kecelakaan mereka, dimana Taehyung kelempar hingga kepalanya terbentur kaca mobil sampai kacanya pecah. Pas aku baca lagi kok aku ngerasa jahat banget nulis ceritanya begini.
.
Untuk catatan author kemarin di Chapter sepuluh, Author minta maaf kalau kata-kata Yoo menyinggung. Teman-teman Yoo memang sering bilang kalau Yoo kalau bicara sering terdengar sarkastik padahal yoo gx ada niat menyinggung. Yoo kemarin cuman heran aja dan Yoo gx patah semangat atau semacamnya. Yoo kemarin cuman minta pendapat kaian tentang RT dari Chapt 1-10 itu jalan ceritanya seru atau gx, ngeboseninkah?! Alurnya gx jelaskah?! Dlsb. Yoo juga gx nuntut reader kok cuman minta penjelasan reader aja.
.
