.
.
.
-Red Thread-
.
.
.
Khasus kecelakaan mobil Jeep itu terjadi saat lampu hijau dimana semua kendaraan mulai melaju. kejadian tersebut membuat kecelakaan beruntun dan Beruntung tak ada korban yang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Di depan ruang ICU, para anggota keluarga korban menunggu. Beberapa orang dari keluarga korban tentu saja Yoongi bisa kenal, itu adalah keluarga Nam. keluarga Erik yang ia kenal dari pertemuan-pertemuan bisnis sebelumnya. Mereka terlihat khawatir tak kalah dengan keluarga korban lain yang khawatir disertai isak tangis. Yoongi memegang tangan ibunya yang memeluknya sambil terus berdoa. Yoongi merasa sedikit terharu dengan ibunya yang terlihat sangat khawatir dengan Jimin.
"Keluarga Nona Park Jimin?!"
"ya"/"Ya" Mrs. Nam, dan Mrs. Min menjawab bersamaan. Mereka saling tatap bingung, mata mereka seperti berkata 'apa hubunganmu dengan Jimin?'
Sang perawat terlihat bingung harus berbicara dengan siapa. Hingga Yoongi maju kedepan, mendekati perawat.
"Bagaimana keadaan Jimin dan kandungannya?! Apa mereka baik-baik saja?!"
Baik keluarga Nam maupun Mrs. Min membeku ditempat mendengar pengakuan secara tidak langsung Yoongi tentang kehamilan Jimin. keluarga Nam memang tau bahwa Jimin mengandung oleh pria lain dan itu juga yang membuat mereka tak menerima Jimin. Namun mendengar penjelasan puteranya bahwa Jimin adalah kornban yang dilecehkan bosnya, mereka menatap Yoongi seperti melihat seorang penjahat.
"Mrs. Park sempat mengalami pendarahan, namun dokter sudah berusaha sebaik mungkin. Mrs. Park dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Kami sedang memindahkan Mrs. Park ke ruang inap. Anda sudah bisa melihatnya."
Mrs. Min dan keluarga Nam bernafas lega. Mrs. Min segera membawa puteranya ke depan untuk mencari tahu dimana kamar Jimin dirawat.
.
.
-RT-
.
.
Jungkook diam disamping sang pelaku khasus kecelakaan yang menimpa Jimin dan Taehyung. Ia sedang menuntut serta mendengarkan pengakuan pelaku yang sangat ia butuhkan.
",,,Aku tak ada niat untuk menabrak mobil silver itu. Mobil silver bodoh itulah yang tiba-tiba muncul saat aku akan menabrak Park Jun. Aish ini merepotkan!" sang pelaku berteriak menjelaskan, ia terlihat sangat tak puas karena tak berhasil menjalankan misi bodohnya.
"Kau bisa dijatuhi hukuman percobaan pembunuhan, melanggar lalu lintas dan tuntutan pemalsuan identitas."
"Yack! Bagaimana bisa percobaan pembunuhan?! Si Jun itu tak mati bukan?! Aku tau itu. Biar aku bunuh dia dulu baru kau bisa penjara aku."
Sang pelaku terus mencoba protes mebela dirinya dan tak mau mengakui kesalahannya karena telah gagal membunuh korban. Sang petugas polisi menatap malas si pelaku, ia sudah bisa menebak bahwa penjahat didepannya memiliki gangguan psikis. Bisa dilihat dari bagaimana ia tak takut dengan apa yang dilakukannya dan bagaimana ia tak puas dengan aksi percobaan pembunuhannya, obsesi membunuh sangat jelas dimata kosong pelaku. Sedangkan Jungkook hanya bisa melihat kejadian tersebut dengan penuh sesal. Jungkook berfikir bahwa penjahat tadi adalah suruhan Mr. Min, tetapi jika difikir-fikir lagi Jungkook sadar bukan begitu gaya keluarga Min dalam menyelesaikan masalah. Ia secara tidak langsung menduga bahwa Mr. Min melakukan tindakan bodoh, dan nyatanya Mr. Min tetaplah orang pintar. Akan tetapi, Jungkook semakin khawatir karena ia kini membayangkan apa yang akan terjadi pada Jimin jika Mr. Min sedang berencana membunuh bayi dalam kandungan Jimin. Jungkook memang sudah punya dugaan terhadap Mr. Min karena ia tau bagaimana keluarga mereka dengan baik. Jungkook tau Jimin menentang Mr. Min untuk menggugurkan kandungannya, maka secara langsung Jimin telah menantang bendera perang bagi Mr. Min, dan itu tak akan pernah berakhir dengan baik.
"Meski ia mengaku tak sengaja menabrak mobil milik Mr. Erik Nam tetap saja tuntutan anda diterima. Dia akan kami hukum berat mengingat berapa orang yang menjadi korban dalam kecelakaan yang dia buat. kami akan mengurus khasus ini dengan baik."
"Baik Sir! Terimakasih." Jungkook berterimakasih sebelum ia pergi dari kantor polisi. Jungkook masih harus melapor pada Yoongi mengenai laporan pelaku karena ia yakin bosnya pasti sedang berfikir sama seperti dia sebelumnya, tuduhan terhadap Mr. Min.
Mr. Min memegang kepalanya pusing. Ia memang baru saja memerintah orang untuk membuat Jimin keguguran. Tapi orang suruhan Mr. Min tak bodoh. Orangnya baru akan menyelakai Jimin dengan obat peluruh kandungan atau semacamnya yang akan ia tukar dengan obat Jimin ketika selesai dari apotik . Tetapi orang suruhannya membatalkan rencana karena ia melihat Jimin sudah mengalami kecelakaan sendiri. Mr. Min baru saja berfikir kalau rencananya barusaja berhasil dan mengatakan hal yang secara tidak langsung mengakui pada puteranya bahwa Jimin kecelakaan karena perintahnya. Mr. Min memang sanggup mencelakai orang tapi jika ia bertindak, ia akan selalu rapih dengan alibi kuat dan tentu saja menggunakan orang-orang profesional didalamnya. kecelakaan itu adalah hal paling amatir yang bahkan tak pernah Mr. Min fikirkan.
Mr. Min kembali memijat kepalanya yang sedang pusing. Ia sangat tak ingin keluarganya tak dipermalukan karena kehamilan Jimin. Jimin tak hanya yatim piatu namun juga tak memiliki latar belakang maupun sesuatu yang potensial untuk bisa dibandingkan dengan seisi keluarganya. Jika saja Puteranya tak bertindak bodoh menghamili Jimin, ia tak akan sekhawatir ini.
Namjoon mengikatkan tali Bath robenya, ia baru saja selesai mandi. Hari-harinya di Jepang sangat buruk mengingat tuntutan para pemegang saham untuk meningkatkan penjualan Hotel yang akan sangat sulit. Namjoon rasanya ingin memaki siapa yang membangun IBigHit Hotel di tempat yang tak begitu strategis, bukan hanya jauh dari bandara tetapi juga ia harus melewati perkampungan. Mengingat konsep pedesaan namun kurangnya promosi, dan jauhnya akses dari tempat wisata membuat Namjoon harus berfikir lebih kencang untuk memikirkan cara untuk memasarkan hotel tersebut. Namjoon duduk di ranjangnaya, membuka laptop yang ada diranjangnya dan menghela nafas begitu melihat grafik yang tak begitu membuatnya puas. Namjoon menutup laptopnya, meletakannya dimeja untuk beralih pada ponsel yang belum ia sentuh dari siang tadi. Namjoon sibuk dengan ponsel kantornya yang bisa dipegang asistenya, sehingga ia akan mengabaikan ponsel pribadinya. Ia memang suka membedakan urusan kantor dan urusan bahkan ponselnyapun ia beda-bedakan. Jika ia sangat sibuk seharian seperti sekarang, ia hanya akan membuka ponsel pribadinya sebelum ia tidur. Namjoon tersenyum mendapat satu pesan dari kekasih yang dirindukannya. Namjoon tersenyum, lalu melihat video pendek dari Jin.
'Namjooni~! Aku juga merindukanmu, sangat, sangat merindukanmu! Terimakasih untuk bunganya, kau membuatku semakin jatuh cinta padamu. Jaga kesehatanmu, dan,,, Aku mencintaimu Kim Namjoon.' Cup. Jin mencium udara di depan kamera sambil memejamkan mata dengan sangat manis.
Namjoon tak habis fikir dengan wanita yang tak henti-hentinya membuat ia terpesona. Namjoon tak pernah berfikir ada yang bisa mengalahkan pesona
kekasihnya yang terlihat sangat manis tadi.
"Harusnya aku tak melihat video ini"
Video tersebut membuat Namjoon benar-benar merindukan Jin dan menginginkan Jin sekarang agar bisa ia cium. Mengingat ciuman ia kembali teringat bagaimana rasa manis bibir kekasihnya itu, dan ia bersumpah akan menlumat bibir Jin lagi jika ia sampai di korea nanti.
"Liahat kalian berdua! Ckckckck kecelakaan bersama, bahkan lukapun bentuknya sama. Orang-orang akan berfikir kalau kalian itu kembar."
Jimin tertawa mendengar ucapan Erik. Mereka berdua sama-sama memakai perban di kepala dan sebuh Gips ditangan kanan mereka. Ketika kecelakaan mereka sama-sama duduk di kursi kanan mobil, sehingga luka mereka bentuknya sama. Namun kepala Taehyung lebih parah karena mengalami keretakan. Jimin dan Taehyung sedang menjenguk Erik yang masih terbaring di ranjang dengan gips di kaki dan tangan kirinya. Erik memang yang paling parah dibanding Taehyung dan Jimin. Mereka masih beruntung setidaknya luka mereka tak begitu serius.
"Bagaimana dengan bayimu?!"
"Kami baik-baik saja!" Jimin memegang perutnya yang sudah terlihat lebih besar.
"Syukurlah!"
Seorang suster tiba-tiba masuk dengan wajah lega. ia suudah menemukan seseorang yang ia cari sejak tadi. "Nona Kim disini kau rupanya! Anda lupa ini jam periksamu?! Hah aku mencarimu kemana-mana."
"Ah! Mian! He he,,, Erik cepatlah sembuh!"
Taehyung keluar mengikuti perawatnya, meninggalkan Jimin dan Erik berdua. Jimin mendekat lalu duduk disamping Erik , seketika suasana diruangan itu berubah. Erik menggenggam tangan kiri Jimin dengan tangan kanannya.
"Jimin,,, Aku mencintaimu!"
Jimin menunduk, menatap pot bunga di meja Erik. Masih mencerna apa yang barusaja erik katakan. "Erik,,," Jimin menghela nafas, bingung harus bicara apa. Ia ingin kembali dengan Erik tetapi entah mengapa ada sesuatu dihatinya yang membuatnya ragu.
"Aku dan keluargaku mau menerima bayimu. Bisakah kau kembali lagi padaku? "
Jimin membeku ia tak tau harus bilang apa. Pernyataan Erik harusnya bisa membuat Jimin bahagia. Tapi Jimin masih merasa berat dengan kehamilannya. Jika Jimin menerima Erik, ia merasa khawatir terhadap sesuatu yang bahkan ia tak tau apa.
"Aku khawatir karena akau sepertinya melupakan beberapa kejadian yang hanya separuh ingatanku, aku merasakan harusnya aku melakukan sesuatu setelah melakukan kejadian-kejadian tertentu.,,," Taehyung menyentuh kepalanya merasa pusing "Sebuah Anting dengan gantungan bintang berwarna merah. Aku tak tau membelinya atau tidak. Aku juga tak bisa mengecek saldoku karena lupa pinnya."
"Itu hanya gejala sementara. Perlahan nanti memorimu akan kembali."
"Ah Syukurlah!"
Yoongi mendatangi kantor ayahnya. Ia melihat ayahnya sedang membaca sebuah dokumen dengan ballpoint di tanganannya.
"Aku minta maaf karena salah menuduhmu." Yoongi kini sudah ada tepat didepan meja ayahnya.
Mr. Min tak menoleh sedikitpun. Ia masih serius membaca. "Itu tak penting karena aku masih tak ingin kau mempermalukan keluarga kita nantinya."
Yoongi menghela nafas. Ayahnya ternyata belum menyerah tentang menyingkirkan bayi Jimin. Sungguh Yoongi kini merasa ada dipihak Jimin merasa ayahnya terlalu keras kepala.
"Appa aku menginginkan bayi itu."
Yoongi hanya mengatakannya meski ia yakin bahwa ayahnya tak akan menyetujuinya. Tapi ia harus. Bagaimanapun bayi yang ada dalam perut Jimin adalah anaknya walaupun ia sendiri dulu berfikiran sama dengan ayahnya namun dulu ia berfikir demikian karena Hoseok. Tapi sekarang ia tak punya alasan lagi, maka hal yang harus ia lakukan adalah tanggung jawab meski ia masih ragu untuk menikahi gadis itu atau tidak.
Craackk
Ballpoint yang Mr. Min pegang sudah hancur terbelah menjadi dua, memuntahkan tinta diatas kertas tersebut. Ia setengah panik membersihkannya dengan tissue walau itu akan sia-sia.
"Sial!,,,," ia mengumpat pelan tapi itu masih bisa Yoongi dengar. ",,,Aku akan membuatnya mengugurkan bayi itu. Kau harus terima mau tak mau!" Mr. Min kini menatap anaknya tak mau tau.
"Aku akan membesarkan bayi itu dengan tanganku sendiri dan ayah harus menerimanya mau tak mau.,,,," Kini mereka sedang perang ego dengan tatapan mereka. ",,,,Aku bersumpah!."
Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Yoongi dan tatapan Mr. Min terputus. Ia memejamkan mata mencoba menenagkan diri untuk tak melemparkan kursi yang sekarang ia duduki pada puterannya. Ia marah sekarang. ia merasa sangat sial mempunyai anak pembangkang seperti Yoongi. Yoongi keluar dari ruang kerja ayahnya, meninggalkan ayahnya yang masih menahan marah. ia sangat tau apa yang ia hadapi sekarang. Detik itu Yoongi dan ayahnya baru saja menyatakan perang mereka berdua. Yoongi merasa sedikit khawatir, ia harus mengumpulkan keberanian lebih untuk itu.
Lonceng diruangan peramal itu berbunyi tiba-tiba membuat Gukjoo terkesiap kaget. Gukjoo dengan tatapan intens menatap patung dewa.
"Takdir apa yang sudah kau tulis untuk mereka dewa?"
"Aku khawatir appaku akan melakukan sesuatu pada Jimin. Bisakah kau jaga dia untuk mewakiliku?! Kau aku beri jadwal setengah hari kerja denganku dan sisanya kau bersama Jimin, dengan begitu kau tak akan kesulitan bukan?"
Jungkook masih terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja bosnya katakan. Jungkook tau bosnya dari ruang kerja Mr. Min, dan perintah bosnya membuatnya takut. "Apakah sajangnim bertengkar dengan ayah anda?!"
"sepertinya kami akan perang dingin."
Jungkook merasa takut sekarang. ia pernah mengalami ini sebelumnya, dimana Yoongi perang dingin dengan ayahnya hanya karena masalah karir bosnya untuk mendirikan SUGA. Mr. Min sangat berambisi tinggi untuk menempatkan puteranya berada dijajaran direksi di IBigHit. Yoongi bahkan sempat diusir dari keluarga hanya karena ia memilih kariernya sendiri, satu tahun penuh mereka akan saling diam dan menebar aura dingin kemana-mana. Meski bosnya terlihat keras kepala namun melihat tangisan ibunya, ia akhirnya mengalah dan mati-matian menempati posisi direktur namun tetap membangun SUGA. Beruntung ada Mrs. Min yang berhasil menenagan mereka. Bosnya kembali berbaikan dengan ayahnya, meski Mr. Min masih keras terhadap puteranya. Itu hanya pertengkaran biasa antara ayah dan puteranya, namun rasanya seperti ada perang negara bagi Jungkook. "lalu bagaimana dengan pekerjaan anda?!"
Yoongi menatap kosong udara."Aku bisa meminta sekertarisku!"
Jungkook bisa melihat kekhawatiran bosnya. Jungkook bisa melihat bagaimana ia akan menjadi gila kerja lagi.
Tangan kiri Taehyung bergerak kaku memegang sendok yang ia coba gunakan untuk mengambil sayur. Taehyung terlihat kesulitan, keningnya mengerut dan ia merasa kesal sekarang. Satu percobaan lagi sebelum akhirnya ia menyerah dan menggebrak mejanya. Mereka sedang makan di kantin rumah sakit karena bosan dikamar.
"Arghhh! Seumur hidup aku tak pernah makan dengan tangan kiri,,," Taehyung memegang kepalanya karena merasakan sakit ",,,dan sekarang aku kesulitan! Cih!" Matanya menatap sebal makanan dimejanya lalu melirik Jimin yang menatapnya dengan tangan kiri yang memegang makanannya dengan sumpit. "Jimin-ah! Bagaimana bisa kau dengan mudah memegang sumpit begitu?!"
Kali ini Jimin yang mengerutkan keningnya. Ia heran dengan sahabatnya. Bukankah Taehyung tau bahwa Jimin itu kidal dari dulu. "Aku kidal Taehyung-ah. Kau lupa?!."
"Ah,,, seandainya aku juga kidal!" Taehyung merengek frustasi.
Menyaksikan calon adiknya yang merengek seperti itu, Jin beranjak dari kursinya dan duduk disamping Taehyung. "Biar eoni bantu!" Jin mengambil makanan dengan sendok. "A!" Taehyung membuka mulutnya seperti apa yang Jin contohkan. Jimin hanya menggeleng melihat adegan tersebut, ia seperti melihat seorang ibu yang sedang memberi makan anaknya.
"Aigooo!" Jin mengusap pipi Taehyung gemas. "Mulai sekarang makanlah dikantin hm! aku bisa menyuapi terus"
Taehyung tersenyum hingga matanya tertutup. Jin sekarang bertindak seperti malaikat bagi Tae. Malaikat yang memberinya makan setiap hari. "Eoni gumawoyo! Aku akan sangat bahagia jika aku punya eoni sepertimu!"
"Aku juga ingin punya adik perempuan yang lucu sepertimu." Jim mengusap pipi Tae lagi. Sebuah ide tiba-tiba muncul. "Ah! kita bisa menjadi adik kakak dengan mudah! Kau menikah saja dengan Jungkook!"
Detik itu Taehyung tersedak makanannya sendiri. Jin yang panik memberinya air segera. Ia tak sangka bahwa reaksi Taehyung akan seperti itu padahal ia berharap sungguh-sungguh. Jungkook menyukai Taehyung dan akan bagus jika mereka menikah. Sehingga ia bisa memiliki adik. Tetapi melihat reaksi Taehyung, Jin merasa Taehyung tak memiliki perasaan yang sama dengan adiknya. Jungkook muncul dengan bunga, ia duduk di dekat Jin. Tae kira itu untuknya tapi ternyata itu bunga untuk Jimin dari Yoongi. Tae hanya bisa menghela nafas ketika Jungkook mulai perhatian lagi pada Jimin. Melihat kecemburuan dimata Taehyung, Jin tersenyum. Jin berbisik mengatakan kalau adiknya itu mencintai Taehyung tapi Tae tak percaya karena Jungkook lebih terlihat memperhatikan Jimin daripada dirinya.
Jungkook dan Jimin sekarang berada di taman rumah sakit. Ingin membahas perihal kehamilan Jimin. Jungkook menatap Jimin yang sudah memperhatikannya dari tadi.
"emm,,, Jimin-ah! Kau taukan bahwa Mr. Min tak suka dengan keputusanmu untuk mempertahankan bayi itu?!"
Jimin menatap Jungkook nyalang "Kenapa? Dia menyuruhmu untuk memintaku menggugurkan bayiku lagi?!"
Jungkook langsung menggerakan tangannya menampik tuduhan Jimin "Tidak Jimin-ah!,,, Aku hanya ingin mengatakan kalu kau harus hati-hati karena Mr. Min mungkin bisa mencelakaimu. Dia adalah tipe yang bergerak diam-diam, dan kemarin Min sajang baru saja bertengkar dingin dengan ayahnya. Untuk berjaga-jaga, Min sajang memintaku untuk menjagamu."
Jimin tercekat. Ia meliah Jungkook dengan lekat. Tak percaya dengan kalimat terakhir yang dikatakan Jungkook. "Dia membelaku di depan ayahnya dan menyuruhmu menjagaku?!" Tanya Jimin mencoba memastikan bahwa ia tak salah dengar, memastikan bahwa Jungkook tak sedang bercanda.
"Ne! Tentu dibantu perawat."
"Perawat?!"
"Ne! Aku tak tau apapun mengenai kehamilan jadi jika ada perawat yang menjagamu akan lebih baik karena ia pasti tau apa yang harus dilakukan terhadap ibu hamil sepertimu."
"Yoongi memerintahkan itu?!" Kali ini mata Jimin melotot.
"Ya seperti itulah! Aku sudah sering bilang bahwa Min sajang sebenarnya adalah orang yang sangat baik bukan?! Aku harap kau percaya bahwa ucapanku itu tak bohong. Dia berusaha bertanggung jawab meskipun harusnya dia menikahimu!"
Plak
Jungkook memegang lengannya, ia kesakitan dengan pukulan Jimin yang tak terhitung pela.
"Apa kau gila?! Siapa yang akan menikah dengan pria semacam Min Yoongi huh?!"
"Akukan hanya mengatakannya, kenapa pukulanmu keras sekali?!"
Jimin bukannnya meminta maaf atau menyesal karena membuat Jungkook sakit, ia malah menunjuk wajah Jungkook dengan penuh ancaman "Jaga bicaramu dan jangan pernah mengatakan hal mengerikan seperti menikah dengannya!"
"Ne!" Jungkook hanya bisa menunduk pasrah. Ia terkejut melihat sisi kejam seorang Park Jimin. Jungkook hanya mengatakan hal yang seharusnya dan ia juga berharap mereka akan menikah meskipun mustahil mengingat betapa keras kepalanya dua orang yang sekarang Jungkook fikirkan.
.
.
-RT-
.
.
Mrs. Min sedang minum teh sambil melamun memikirkan Jimin. ia bingung mengenai ramalan Gukjoo yang mengarah pada Jimin namun ia merasa tak bisa karena Jimin yatim piatu. Mrs. Min masih ingat dimana suaminya menyimpan data pribadi Jimin dan ia pergi untuk membacanya. Mrs. Min mengigit kukunya.
"Dia cukup berpendidikan tapi,,,, dia sebatang kara,,,," Mrs. Min menatap udara memikirkan bagaimana anggapan orang mengenai masalah ini. ",,,,dia kasihan tapi bagaimna anggapan teman2ku jika mereka tau. Bahkan isi akunnyapun tak seberapa. Belum lagi dia tak memiliki pekerjaan."
Mrs. Min menghela nafas dan tiba-tiba ia teringat perkataan suaminya mengenai Jimin yang bisa memanfaatkan Anaknya muncul, ia tiba-tiba merasa resah.
"Kenapa aku jadi paranoid?!,, Jimin bukan tipe wanita seperti Hoseokkan?!"
.
.
.
Tbc
.
.
.
