.

.

.

-Red Thread-

.

.

.

Jungkook barusaja meminta tanda tangan kontrak perawat yang akan bekerja untuk Jimin besok. Setelah melewati tes kompetensi ibu hamil yang Jungkook ajukan pada menejemen keperawatan, akhirnya ia mendapatkan satu perawat paling kompetent bernama Park Jinhyung. Jungkook pergi ke kediaman Jimin, seperti yang bosnya perintahkan ia harus datang ke tempat Jimin setiap pulang kerja. Sesampainya disana ia disambut Taehyung yang menggunakan bathrobe dengan handuk dililit dirambutnya. Jungkook menelan salvianya, demi apapun yang ada didunia ini, pria mana yang tidak akan membayangkan hal macam-macam terhadap gadis manis didepannya ini. Jungkook membuang muka, mencoba menampik hal-hal kotor dalam fikirannya. Jungkook masuk dan langsung pergi ke dapur begitu melihat Jimin yang terlihat akan membuat susunya. Ia bisa meledak Jika lama-lama melihat Taehyung.

"Bagaimana dengan kehamilanmu?! Apa sudah tak muntah lagi?!" Jungkook yang merasa suaranya bergetar mengambil minum. Jungkook membuang nafas lega saat melihat Taehyung duduk disofa dekat Erik yang membelakangi dapur sehingga tubuhnya tak terlihat. Jungkook hanya bisa melihat kepala Taehyung yang masih diperban.

"Better!,,," Jimin menjawab pertanyaan Jungkook. Membangunkan jungkook dari fikirannya tentang Taehyung. ",,,,Susu formula yang kau bawa sangat bagus! rasanya juga enak."

Jimin mengambil kaleng susunya ia membukanya dan Jungkook merebutnya.

"Biar aku yang buatkan!"

"Yah! Kalau kau terus perhatian seperti ini aku bisa jatuh cinta padamu!"

"Itu bagus karena aku memang ingin kau jatuh hati padaku!"

Taehyung dan Erik masih bisa mendengar percakapan mereka meski mata mereka menatap layar televisi. Taehyung memajukan bibir bawahnya dan meremas popcorn yang dipegangnya.

"Kenapa Jungkook perhatian sekali pada Jimin?!"

Erik berusaha tak menoleh dari layar Tvnya. Kepalanya sedang terbakar sekarang. "Dia tak sedang mendekati Jiminkan?!"

Tae melirik Erik dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Tae hanya bisa berharap kalau itu tak akan terjadi karena ia menyukai Jungkook sekarang. melihat bagaimana Jungkook selalu memperhatikan Jimin, Ia merasa kalau Jungkook tak mungkin mencintainya. Ia tak percaya lagi pada Jimin dan Jin yang mengatakan bahwa Jungkook menyukainya.

Erik melirik popcorn ditangan Taehyung dan ia langsung menatapnja Taehyung jijik. Erik memperhatikan Taehyung dari kaki sampai ke rambut. Ia menggelengkan kepalanya, heran dengan mahluk disampinya. Taehyung yang menggunakan Bathrobe, rambut masih basah, dan popcorn yang ada dipipnya. Dilihat dari sisi manapun Taehyung terlihat sangat jelek dimata Erik. Tidak ada rapihnya samasekali.

"Yah! Tidak bisakah kau pakai pakaian dan keringkan rambutmu? Demi tuhan kau terlihat sangat jelek sekarang."

Kepala Taehyung perlahan menoleh pada Erik yang ada disampingnya, ia menatap Erik tak percaya. Ia baru saja merasa patah hati, dan sekarang Erik seolah menyiram air garam pada lukanya. Tanpa bicara apapun Taehyung berdiri dan melemparkan popcornya pada Erik lalu pergi masuk ke kamarnya. Jimin selesai meminum susunya dan duduk bersama Erik.

"oh god! Pantas dia tak laku! Aku yakin tak ada lelaki di dunia ini yang akan bernafsu melihatnya menggunakan bikini sekalipun. Jika ada pria yang terangsang hanya melihatnya menggunakan bathrobe seperti itu, aku yakin ada bagian yang rusak di syaraf otak lelaki itu."

Erik membersihkan serpihan-serpihan popcorn ditubuhnya. Jimin tersenyum dan ikut membersihkan popcorn yang taehyung lempar pada Erik. Lain halnya Jimin yang melihat itu lucu. Jungkook yang baru akan duduk langsung menatap Erik dengan tatapan membunuhnya. Secara tidak langsung, Erik baru saja mengatakan otak syaraf Jungkook rusak, dan itu sangat menyinggung perasaannya. Jungkook duduk lalu menundukan kepalanya mencoba menahan emosi, dalam hati ia sangat ingin melempar gelas berisi air minum itu pada Erik.

.

.

-RT-

.

.

Jimin tertidur, Erik sudah puang dan Jungkook barusaja membeli sekardus susu formula untuk Jimin. Seperti niatnya sebelumnya, ia akan membeli lebih banyak susu formula yang kakaknya sarankan itu jika Jimin berhenti muntah, dan susu formula itu sangat ampuh. Sangat sebanding dengan harganya yang tiga kali lebih mahal dari susu formula untuk ibu hamil pada umumnya. Jungkook menaruh kardus itu ke dapur, masih ada Taehyung yang belum tidur dan ia bersyukur bisa melihat gadis itu sebelum pulang nanti.

"Jimin bahkan tak mengeluh muntah lagi dan itu bagus jadi aku membelinya banyak."

Taehyung hanya cemberut melihat wajah Jungkook yang begitu cerah, ia mengambil minum. Ia kembali menatap Jungkook meh "Apa kau begitu menyukai Jimin?"

"Tentu saja!"

Perkataan itu sontak membuat Tae memuntahkan air minumnya, ia tersedak dan batuk "Kau serius?!"

Melihat bagaimana reaksi Taehyung, Jungkook mengerti ada kesalah pahaman dengan maksud perkataanya. Ia akan celaka Jika Taehyung sampai salah faham. "Bukan suka sebagai pria! Aku hanya menyukai Jimin sebagai sahabat. Sungguh!"

"Benarkah?! Lalu apakah ada seseornag yang kau sukai sebagai wanita?!"

"Tentu saja. Aku,,,," ingin sekali Jungkook mengatakan cinta pada Taehyung, tapi melihat lokasi mereka Jungkook berfikir lagi dua kali untuk menyatakan perasaaanya. Jungkook mencoba mengalihkan pembicaraan "lalu Kau sendiri, apakah ada pria yang sedang kau sukai?"

"Ne! Itu kau bodoh! Tidakah kau bisa lihat?!" Tae sedikit mengomel sebelum ia akhirnya diam melihat ekspresi Jungkook yang terkejut menatapnya. Taehyung tak bisa lagi menahan perasaannya pada Jungkook. maka ia jujur sekarang. "Jin eoni dan Jimin mengatakan bahwa kau menyukaiku. Tapi perhatianmu pada Jimin membuatku curiga bahwa sebenarnya,,, kau suka pada Jiminkan?!"

"Tidak tidak, sungguh aku tidak memiliki perasaan seperti itu pada Jimin. Aku hanya menyukaimu Tae-ah, Sungguh!." Jungkook dengan panik tak sengaja menyatakan cintanya barusan, dan ia menyesali kebodohannya. Jungkook ingin menyatakan perasaannya ditempat yang romantis tapi sekarang,,,

"Menyukaiku sebagai seorang wanita?!" Taehyung memincingkan matanya masih mencari kebenaran dimata Jungkook.

"Ya! Aku mencintaimu Taehyung. Aku tak tau sejak kapan, tapi yang jelas kau selalu ada dalam fikiranku setiap saat." Jungkook bisa melihat senyum diwajah Taehyung. Ia ingin sekali menciumnya tapi, melihat sekelilingnya Jungkook merasa aneh.",,,tapi, menyatakan cinta di dapur, bukankah itu tidak romantis?. Aku harusnya mengajakmu kencan lebih dulu!"

"Kau lamban seperti bosmu! Siapa yang bisa tahan menunggumu memutuskan kapan akan mengajakku makan?! Aku bisa memilikimu, itulah yang terpenting sekarang." mata Tae melihat sekeliling dapur, dan setan nakal dalam diri Taehyung keluar. Tangan nakal Tae bergerak seduktif menarik dasi yang dikenakan Jungkook agar lebih mendekat padanya."Lagipula,,, dapur bukan tempat yang buruk." Tae mengerlingkan matanya. dengan tinggi mereka yang tak berbeda jauh, bibir Tae dengan mudah bisa menggapai bibir Jungkook agar bisa ia cium. Tangan Jungkook meraih pinggang taehyung agar mereka bisa semakin dalam berciuman.

"Fiuh,,, disini ternyata sangat panas!" Taehyung melepas lumatan mereka dan mengibaskan tangannya kepanasan.

"Aku sangat suka sesuatu yang panas!" Alis Jungkook bergerak-gerak naik turun.

Tae tersenyum penuh maksud dan mencolek dada Jungkook dan kembali memainkan dasi Jungkook dengan jari-jari manisnya. Jungkook masih mengawasi Taehyung yang terlihat sangat menggoda malam ini. Dengan bibir semerah cherry dan tangan nakal Tae yang memaikan dasinya seolah menggodanya, Jungkook langsung melumat bibir Taehyung lebih dalam daripada ciuman yang diberikan Tae sebelumnya.


05:10 JPT

Sinar mentari pagi yang begitu cerah menyentuh setetes embun yang masih enggan untuk melepaskan dirinya dari daun yang berada di taman indah milik IBigHit Hotel. Suasana pagi yang sangat indah dimana kau bisa mendengar burung-burng berkicauan menyambut para karyawan hotel yang sudah mulai sibuk bekerja. Sebuah mobil bak berisi bunga mawar ungu parkir di depan hotel. Sang florist dengan cepat membawa bunga-bunga itu ke dalam dan menyihir IBigHit Hotel menjadi taman bunga mawar ungu yang indah. Dengan tangan seni mereka, bunga-bunga tersebut dirangkai dan di pajang disetiap pot bunga yang ada di hotel.

Namjoon membuka matanya, ia tersenyum begitu melihat bunga mawar ungu yang ada dimejanya kamarnya itu adalah hal yang pertama kali ia lihat saat mebuka matanya. Mawar itu adalah bunga yang selalu mengingatkannya pada Seokjin. Kekasihnya.

"Good mornning Jin!" Namjoon mengucapkan selamat pagi pada bunga tersebut dengan mata yang masih enggan untuk ia buka penuh. "Hari ini kau cantik seperti biasa."

Namjoon berjalan menuju resoran untuk pergi sarapan. Sepanjang jalan menuju restoran ia tersenyum. Karyawannya mendengarkan perintahnya dengan baik. Ia kemarin memerintahkan hotelier untuk menghias seluruh IbigHit dengan bunga Mawar ungu dan sekarng hatinya berbunga-bunga melihat bagaimana florisnya menata seluruh vas bunga yang ada di hotel dengan rangkaian yang indah. Namjoon berfikir untuk membawa beberapa floris disini untuk ia kerjakan di IBigHit korea. Semua rangkaian itu sangat indah, sangat menyimbolkan Jin sekali. Namjoon tersenyum menertawakan kebodohannya. Ia tak pernah berlaku sebodoh ini selama hidupnya dan ia mengakuinya karena cinta. Yah, memang tak ada yang lebih gila ketika lelaki sedang jatuh cinta.

"Kerja bagus!" ucap sang supervisor pada bawahannya saat melihat bos besarnya tersenyum penuh cinta menatap ragkaian bunga mawar ungu dimeja makannya.


Baru saja Yoongi mulai terapi dan Mrs. Min sudah bisa melihat puteranya bermandikan keringat. Yoongi terlihat kesakitan mencoba melakukan instruksi yang diperintahkan terapis.

"Putera anda terlihat memiliki semangat sembuh yang tinggi, dia merespon arahan kami dengan baik. Jika ia terus seperti itu, ia bisa sembuh lebih cepat."

Mr. Min menyatukan tangannya dan berterimakasih pada tuhan. "Oh teimakasih Tuhan! Terimakasih dokter!"

Mrs. Min mendekati Yoongi di kursi roda dan mengelap keringat puteranya dengan handuk. "Tidak usah bekerja dulu hari ini ya!? Istirahatlah dirumah."

"Itu tak mungkin eoma!"

Setelah memastikan puteranya tidur siang. Mrs. Min pergi untuk menemui lee Guk Joo. Sepertinya ia sangat ketagihan dengan peramal itu. ia menceritakan perihal keraguannya pada Jimin. Gukjoo menunjukan dua kertas kuning berisi goresan-goresannya terhadap peruntungan Jimin dan Yoongi.

"Ini berarti takdir! Dilihat dari sisi manapun benang merah yang terikat dijari kelingking mereka berdua terlalu nyata." Mrs. Min tersentak kaget. Gukjoo menunjuk dua huruf hasil coretannya. "Bahkan kematianpun tak bisa memisahkan mereka."

Gukjoo kini mengambil tissue di tasnya dan menangis. Membuat Mrs. Min khawatir dan ikut bersedih karena takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada ramalan Gukjoo.

"Oh! Bagaimana ada kisah cinta seperti ini?!" Gukjoo masih menangis, ia mengelap ingusnya dan kembali bicara "Apapun yang terjadi jangan pernah memisahkan mereka! Jangan Pernah! Mengerti?!"

"Baik Lee Hakseng!" Mrs. Min hanya bisa mengangguk mematuhi perintah Gukjoo. Ia memberikan amplop seperti biasa dan tangisnya berhenti begitu menatap amplop tersebut.

"eeeeyyyyy! Aku meramalkan keluargamu dengan baik selama ini. Bagaimana bisa isinya masih sama?!" Jangan tanya bagaimana Gukjoo bisa tau berapa jumlah isi uang yang ada di amplop itu. Bukan hanya memiliki intuisi yang sangat tajam terhadap kehidupan asmara seseorang tetapi Gukjoo juga sangat peka terhadap Uang.

"Aku mendengar ada banyak barang limited edition sore nanti." Mrs. Min tersenyum dan mengeluarkan black cardnya. "Ingin belanja bersama?!"

Gukjoo menepuk kedua tangannya dan loncat memeluk Mrs. Min "Oh! Kau seorang ibu yang penuh kasih Mrs. Min! Saranghae!"


Taehyung kembali cemberut. Ia menatap nyalang ke arah dapur dimana Jungkook sedang berbicara dengan Park Jinhyung, perawat cantik yang bertugas menjaga Jimin, dan dia sedang membicarakan sesuatu bersama kekasihnya dengan jarak yang terlalu dekat. Melihat ekspresi wajah Taehyung, Jimin melihat kemana arah mata Taehyung memandang. Jimin melihat Jungkook dan Jinhyung lalu menatap sahabatnya menahan tertawa.

"Aku tak tau kalau kau tipe wanita pencemburu Kim Taehyung!"

"Apa kau tak berfikir perawatmu itu sedang mencoba menarik perhatian Jungkook?!"

Jimin menggelengkan kepalanya "Aigoo!" Jimin menggelitik bawah dagu Jimin seperti kucing. "Lihat siapa yang sedang mencoba sok tau lagi!"

Ding Dong

Pintu mereka berbunyi dan Taehyung beranjak dari kursi untuk membukakan pintu. Itu Erik.

"Tada! Aku membawakan Sup kesukaan Jimin dan Kepiring kecap kesukaanmu!"

Taehyung dengan sekejap kehilangan mood buruknya. "Oppa Saranghae! Kau yang terbaik!" Taehyung teriak merebut sup dari tangan Erik dan memeluk makanannya. disaat ia harus tersiksa menyaksikan Jungkook bersama Jinhyung, akhirnya ada juga keajaiban untuknya hari ini.

Jungkook yang mendengar teriakan Taehyung langsung mengalihkan wajahnya pada Taehyung "Apa dia bilang?!"

Jinhyung menatap kemana arah mata Jungkook dan tersenyum menatap kemarahan Jungkook yang lucu dimatanya. Jinhyung bisa langsung tau Jungkook dan Taehyung pacaran saat pertamakali ia melihat mereka. Jinhyung mengambilkan segelas air ketika Jungkook memijit tengkuknya.

"Oh terimakasih!" Jungkook meminum segelas air penuh itu sampai habis. "arghhh! Bagaimana bisa dia teriak mengatakan itu didepanku?!"

Jinhyung kembali menahan senyumnya "Itu respon yang wajar ketika seseorang merasa sangat berterimakasih!"

Tae dan Erik berjalan ke arah dapur. Jinhyung mendekati Jimin untuk memeriksanya. Jungkook yang kesal melihat Taehyung, ia lebih memilih untuk mengikuti Jinhyung daripada membantu Taehyung menyiapkan makan. Jinhyung memeriksa perut Jimin dengan stetoskop. "kau tau?! Aku bisa mendengar detak Jantung bayimu dengan ini."

"Benarkah?!" Jimin tersenyum begitu cerah dan Jinhyung memasangkan Stetoskop itu pada Jimin. Jimin tersenyum, ia terharu bahagia bisa mendengar detak jantung bayinya.

Jungkook yang penasaran mendekatkan telinganya pada telinga Jimin "Aku Juga mau dengar!" Jungkook yang tak bisa mendengar apapun semakin mendekat pada Jimin.

"Kau tak bisa mendengarnya. Itu harus dimasukan ke telingamu!"

Jinhyung menjelaskan dengan tersenyum melihat Jungkook dan Jimin yang terlihat imut. Lain halnya Jinhyung, Erik Justu kesal melihat Jungkook sedekat itu dengan Jimin. Erik memukul udara mengarahkan pukulannya pada Jungkook. Berharap ia bisa memukul pria itu.

"Singkirkan wakjahmu dari Jimin!" Erik mur-mur.


Jinhyung merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang dengan tasnya. "Kau lihat Jungkook?!" Tanya Taehyung bingung. Taehyung dari tadi sibuk dengan kepitingnya dan melupakan semua orang.

"Erik tadi bilang ingin berbicara berdua dengan Jungkook untuk membicarakan sesuatu. em,,, Jimin sudah tidur. Aku pamit pulang!"

"Terimakasih untuk bantuanmu hari ini! Hati-hati!"

"ne!"

"kenapa mereka bicara berdua?!" merasa ada sesuatu yang tak enak Tae melepaskan tangan kepiting dari mulutnya dan mencuci tangan. Tae keluar mencari Jungkook dan Erik. Samapi ia melihat Jinhyung yang sempat menghentikan langkahnya menatap ke arah taman sebelum kembali berjalan. Tae melihat Jungkook dan erik ditaman lalu Taehyung mendekati mereka berdua. Taehyung melihat Jungkook mulai mencengkram kerah baju Erik.

"Stop!" Taehyung menyelipkan badannya diantara mereka berdua dan mendorong Jungkook perlahan untuk memisahkan kedua pria yang saling menatap dengan tatapan membunuh mereka.

"Katakan pada bosmu untuk tidak mendekati Jimin lagi dan kau juga!"

"kau fikir siapa dirimu?!" Jungkook menatap Erik meremehkan. "kau bahkan bukan kekasihnya lagi. Kau lupa?!"

Erik hendak memukul Jungkook tapi didorong Taehyung. "Oppa Hentikan!,,," kepala Taehyung terasa sakit sekarang. Melihat Taehyung memegang kepalanya, Jungkook menarik Taehyung mendekat padanya.

"Gwenchana?! Apa sakit lagi!?"

"Cih! Kau memang punya penyakit untuk mendekati setiap wanita yang kau lihat."

Taehyung mengelus dada Jungkook berharap meredam amarah Jungkook yang terpancing perkataan Erik.

"Erik Oppa! Jungkook hanya melaksanakan tugasnya. Aku tau kau benci dengan Min sajang dan Aku juga sama bencinya tapi Jungkook itu miliku jadi Jangan coba-coba memukulnya!"

Erik tercekat, ia shock dam menutup mulutnya. "Kalian pacaran?!" Erik menatap anggukan Taehyung tak percaya "aku tak percaya ada pria yang mau denganmu!"

Taehyung memegang tengkuknya shock sebelum ia melangkah maju dan menendang tulang kaki Erik hingga jatuh. Ia sangat marah sekarang. "Arghhh! Jika kau tak berhenti menghinaku aku akan melemparmu keluar angkasa, Erik nam!"

Jungkook hanya bisa menahat tawa melihat Erik yang kesakitan dihajar kekasihnya. Ia sangat bangga melihat kekasihnya yang pintar menjaga diri.

.

.

-RT-

.

.

Mr. Min sedang menatap rintikan hujan dari jendela ruang kerjanya dengan sebuah posel menempel ditelinganya. "Anakku mungkin sedang hati-hati sekarang." ia menghentikan kalimatnya untuk menengguk tehnya. ",,,Lakukan itu dengan sangat rapih saat mereka sedang lengah!"

'Baik Tuan!' seseorang dibalik telfon berkata begitu patuh sebelum Mr. Min menutup panggilannya.

.

.

.

tbc

.

.