.
.
-Red Thraed-
.
Hadir dengan Chapter lebih panjang.
.
.
Mrs. Min membuka tutup stock pot untuk mengecek daging ayam yang sedang ia masak. Asap halus dengan aroma nikmat menyentuh indra penciumannya. Sebuah aroma gurih dari kaldu menyebar di dapurnya. Mr. Min sedang memasak sup ayam gingseng sekarang. Mr. Min mengambil kuah dengan sendok dan mencicipinya.
"Hm,,, ini sudah sempurna!" Mr. Min menutup tutup stock pot tersebut lalu mematikan kompor. ",,,masukan itu ke dalam kotak!" Perintahnya pada asisten rumah tangga yang tak kalah terampil membantunya di dapur.
Mr. Min memotong sayuran sepanjang batang korek api. Berikutnya ia akan membuat bibimbap. Ia selalu masak dengan jumlah banyak setiap akhir bulan untuk ia berikan pada ibu dan kakanya. Mrs. Min memang sering berkunjung ke rumah mereka, dan ia merasa tak akan lengkap jika ia berkunjung tanpa membawa makanan. Mr. Min melirik kotak-kotak tupperware berisi sepotong ayam yang sudah asisten rumah tangganya tata. Ia memasak tiga ekor ayam seperti biasanya tapi ia tiba-tiba merasa kurang. Ia teringat Jimin yang sedang hamil.
'Apapun yang terjadi jangan pernah memisahkan mereka! Jangan Pernah! Mengerti?!'
Mrs. Min menghela nafas mengingat kembali kata-kata peramalnya. "Bungkus dan tata ayam yang satunya."
"Baik nyonya! Apakah anda akan memberikannya pada seseorang?!"
"ya!,,," Mr. Min kembali memotong sayuran "Aku harus mengunjungi seseorang juga hari ini."
Mrs. Min ingin bertanya mengenai banyak hal pada Jimin. Fakta bahwa Jimiin hidup sebatang kara, dan beberapa kemungkinan Jimin hidup dengan baik atau tidak. Mrs. Min memikirkan apakah seorang gadis tanpa keluarga akan tumbuh menjadi gadis yang terhormat atau tidak. Mrs. Min harus memastika itu, Ia tak mungkin bisa menerima menantu yang memiliki kepribadian yang buruk bukan?!. Walaupun dilihat dari sisi manapun nama Jimin sudah buruk karena hamil diluar nikah tetapi, ia tetap harus bertemu dengan Jimin karena wanita itu adalah wanita yang memiliki takdir bersama puter tunggalnya.
.
.
-RT-.
.
.
Namjoon berada didalam mobil bersama asistenya sekarang. ia akan pergi ke bandara untuk kembali pulang ke korea. Setelah berminggu-minggu di Jepang membuatnya kewalahan dan merindukan kekasihnya, ia bisa mati jika ia harus tinggal lebih lama lagi. Namjoon mengambil ponsel di sakunya dan mengirim pesan pada Jin. Ia hanya ingin menanyakan keadaannya hari ini, ia tak berniat memberi tahunya bahwa ia kembali ke korea hari ini untuk memberinya kejutan.
'Aku ada jadwal check up pasyenku sora nanti, mungkin aku akan di rumah sakit sampai malam'
Itulah balasan kekasihnya mengenai jadwalnya hari ini. Namjoon mengunci layar ponselnya lalu memasukan kembali ke dalam saku jasnya. ia bersandar ke kursi untuk mengistirahatkan punggungnya. Ia sedang mencoba rilex dengan membayangkan senyum manis kekasihnya.
"Aku sekarat merindukannya."
Asistennya hanya tersenyum menatap bosnya yang sejak kemarin terus mengeluh ingin menyelesaikan pekerjaanya di Jepang hanya untuk kekasihnya. wanita yang mereka lihat di lift, yang memaki adik sepupu bosnya itu, berhasil membuat bosnya jatuh cinta setengah mati seperti sekarang. ia tak pernah menyangka bosnya akan jatuh cinta pada pandangan pertama pada wanita itu. ia kembali tersenyum mengingat kegilaan bosnya untuk menghiasi setiap vas di hotel dengan bunga mawar ungu hanya karena ia merindukan kekasihnya. Baru kali ini ia melihat bosnya begitu tergila-gila terhadap seorang wanita.
Jimin sedang masak makan malam bersama Tae dan Jinhyung. Tae memasak panecake korea dengan dibantu Jinhyung, sedangkan Jimin membuat kimchi sendirian. Lidah Jimin terus saja mengeluarkan air setiap memandang kimchi yang ia buat sendiri. Jimin tanpa sadar memotong helaian daun sawi tersebut dan memasukannya ke dalam mulutnya. Jimin merasakan bagaimana kimchi itu begitu pedas dan memanjakan lidahnya. Jimin terus mengoles sawi putih tersebut dengan bumbu kimci dengan sesekali mencicipinya. Mencicipi terlalu banyak hingga tanganya di pegang seseorang. Jimin menoleh , itu Jinhyung yang memandangnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Anda sudah cukup banyak memakan makanan pedas hari ini nona! Itu tak akan baik bagi kesehatan kandungan anda!"
"Aku tak sadar terus memakannya. Entahlah! Apakah ini yang orang-orang hamil sebut mengidam?! Rasanya aku ingiiiinnn sekali memakannya."
Taehyung melirik Jimin dan perutnya bergantian sedangkan Jinhyung bingung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Jika memang mengidam mau bagaimana lagi. Tetapi jangan makan lebih dari seperempat potong ya!"
Jimin mengangguk dan kembali melahap kimchi yang sejak tadi didepannya. Mendengar bel pintu berbunyi Taehyung langsung mencuci tangannya dan melesat menuju pintu. Ia menunggu Jungkook sejak tadi dan ia yakin sekarang kekasihnya sudah datang. Tae melihat layar dan tercekat, ia menutup mulut dan memperhatikan wajah wanita paruh baya yang ada diluar pintu. Tae berlari kedapur.
"Jimin ada Mrs. Min datang. Mrs. Min ibu si brengsek Yoongi itu.,,," Tae menunjuk pintu dengan wajah pucatnya ",,,Bagaimana ini?! Aku tak mau membukanya."
Jimin berhenti makan dan diam, ia tak kalah kaget dengan Taehyung. Ia tak tau harus apa nanti. Ibu dari bosnya datang, untuk apa? Jimin mengerutkan kening lalu ia mendekati westafel untuk mencuci tangannya. Segera ia lari menuju pintu lalu menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum membukakan pintu. Mrs. Min terlihat tersenyum dan menyapa Jimin lebih dahulu. Taehyung yang merasakan takut terjadi sesuatu yang buruk seperti Mr. Min yang memerintah aborsi atau semacamnya, ia mengirim Jungkook pesan. Sebuah pesan yang berisi laporan kedatangan Mrs. Min.
Jungkook kerja penuh sekarang karena ada rapat pemegang saham siang tadi. Ia sekarang mengikuti bosnya dengan sebuah map berisi laporan tahunan IBigHit TnT ditangannya, ia akan menyerahkan dokumen itu pada Mr. Kim dan menjelaskan beberapa masalah dan solusi yang akan mereka bahas. Kemudian pesan singkat dari Taehyung membuatnya terkejut.
"em,,, Sajangnim!" Jungkook menunjukan isi pesan tersebut pada Yoongi.
Yoongi sudah bisa berjalan dengan tongkat dengan cepat membalikan badannya pada Jungkook, ia merampas dokumen ditangan Jungkook. "Aku akan menyusul. Kau cepat pergi kesana!"
Jungkook mengerti. ia membungkuk pada Yoongi lalu segera pergi. Sama halnya Yoongi, Jungkook juga merasa sedikit khawatir. meskipun ia tau Mrs. Min adalah satu-satunya orang baik di keluarga Min, tetapi kedatangannya yang mendadak ke kediaman Jimin membuatnya khawatir. Ia takut sesuatu akan terjadi.
Taehyung menaruh gelas berisi orange jus di depan Mrs. Min kemudian duduk disebelah Jimin. Jantungnya berdetak kencang, ia menatap Mrs. Min yang belum bicara namun selalu tersenyum, dan itu membuat Taehyung sedikit takut. Mrs. Min memiliki Aura yang lembut dari sisi manapun, namun wibawa yang dimilikinya sangatlah kuat, membuat Taehyung yang tak pekapun merasa harus menundukan kepalanya.
"Bagaimana keadaan bayimu?!"
Sebuah pertanyaan dari Mrs. Min membuat Jimin, Taehyung dan Jinhyung langsung menatap Mrs. Min.
"Baik!,,,Sangat sehat!"
Meskipun Jimin mencoba menyembunyikannya Mrs. Min bisa mendengar kegugupan dari nada bicara Jimin. Mrs. Min kembali tersenyum.
"Aku kemari ingin meminta maaf mengenai tindakan kasar suamiku. Ia tak seharusnya mencampurkan urusan pribadi dengan kantor. Suamiku,, dia hidup dengan persaingan keras sejak kecil, jadi sampai sekarang ia masih sering bertindak terlalu kejam terhadap sesuatu. Aku berharap kau bisa mengerti nona Park!"
"Saya mengerti." Demi apapun, Jimin lebih merasa terintimidasi daripada berhadapan dengan Mr. Min. Jimin sempat merasa terintimidasi dengan Yoongi dulu dan ia kini tau darimana wibawa yang kuat itu berasal. Rasanya dingin meskipun Yoongi dan Mrs. Min memiliki wajah yang ramah.
"Kau pasti belum makan malam bukan?! Aku membawakanmu sup ayam gingseng. Itu sangat baik untuk daya tahan tubuhmu. Apalagi cuaca belakangan ini sedang buruk.,,," Mrs. Min melihat Jimin yang masih menunduk tak menatapnya. Ia sadar mengenai bawaan dirinya yang orang katakan sangat mengintimidasi, padahal Mrs. Min selalu berfikir positif tetapi ia terkadang sebal dengan pembawaan dirinya yang selalu membuat orang-orang yang pertama kali ia temui menunduk seperti tiga orang didepannya sekarang. Mrs. Min melirik wanita dengan seragam perawat yang ia yakini itu adalah perawat yang dibayar puteranya. Fikiran mengenai latar belakang Jimin kembali muncul. ",,, Mengenai kehamilanmu,,, aku mendengar kau akan membesarkannya sendiri. Kenapa?!"
"Saya dulu juga berfikiran untuk menggugurkannya demi kebaikan semuanya,,," Jimin memberanikan diri menatap Mrs. Min. Jimin yakin yang dimaksud Mrs. Min adalah alasan kenapa ia tak mau menggugurkannya, ia sadar itu desakan halus namun entah mengapa ia tak bisa langsung marah seperti pada Min Yoongi ataupun Mr. Min. ",,,tapi aku tak tega. Jika aku mengugurkannya itu sama saja aku membunuh bayiku sendiri. Aku janji tak akan melibatkan keluarga Min tentang ini."
"Jangan dulu berjanji seperti itu! Bukankah Yoongi memberimu tunjangan dan perawat itu,,," Tunjuk Mrs. Min pada Jinhyung dengan lirikan matanya. ",,,Dia dibayar oleh Yoongi untuk merawatmu bukan?!"
'Demi apapun Mrs. Min lebih menakutkan dari apapun di dunia ini'. Jimin merasa ingin terjun ke Jurang saat itu juga. Ia merasa bodoh berbicara seperti itu padahal Yoongi selalu memberinya bantuan. Jimin menunduk lagi. Ia sadar betul mengenai perlindungan Yoongi secara tak langsung itu. Dari uang kesehatan Jimin, Bantuan Jungkook, Perhatian Jinhyung, semuanya bersal dari orang yang sama yaitu Min Yoongi. Bahkan susu yang biasa ia minumpun itu dari uang Yoongi. bagaimana bisa ia begitu yakin ingin membesarkan anaknya tanpa melibatkan keluarga Min.
"Maaf! Saya akan menganti semua yang Min Sajangnim berikan besok.,,," Jimin menatap Mrs. Min yang masih mengawasinya. ",,,Saya tak bisa menggugurkan bayi ini. Saya hanya tak mampu melakukannya." Air mata itu lolos dari mata Jimin. Jimin merasa menjadi sampah bagi keluarga Min sekarang, ia sadar betapa ia merepotkan keluarga Min mengenai kehamilannya. Ia menerima uang dari Yoongi dan itu membuatnya seperti parasit.
"kenapa kau menangis?!,,," Mrs. Min mengambil saputangan di tasnya untuk ia berikan pada Jimin. ",,,Aku hanya bertanya. Aku tak ada niat untuk menyuruhmu menggugurkan bayimu! Apa aku terdengar begitu menekanmu?! Maaf!,,," Mrs. Min merasa panik dan merasa bersalah sekarng, ia hanya ingin memastikan bahwa Jimin tak sedang mengambil keuntugan dari kehamilannya. Tapi mata Jimin menjelaskan semuanya. Mrs. Memeluk Jimin agar berhenti menangis. ",,,Aigoo,,, berhentilah menangis. Bayimu bisa merasakan kalau kau sedang sedih atau stress."
Tae menaruh sebuah kotak yang dibungkus kain pink itu ke dapur. Itu adalah masakan yang dibuat Mrs. Min. Taehyung membukannya dan terkesima.
'Daebak! Apakah ini masakan kerajaan?!' ucap Taehyung dalam hati. Ia tak ingin menimbulkan kebisingan hingga membuat Mrs. Min menoleh padanya.
Taehyung segera memindahkannya pada tupperware miliknya. Ia harus mencuci tupperware milik Mrs. Min saat itu juga agar bisa ia kembalikan pada pemiliknya.
"Bagaimana kau mngurus kehamilanmu sendiri?! Apakah semua baik-baik saja?! Pasti sulit membesarkan bayi itu tanpa bantuan orang tua bukan?!."
Jimin tersenyum "Ne! Ini memang sulit pada awalnya tetapi saya sudah mulai terbiasa. Meskipun saya sudah tak memiliki orang tua tetapi saya memiliki sahabat yang sangat baik seperti Taehyung. Dia terlalu banyak membantu saya sampai terkadang saya lupa kalau saya sudah tak memiliki orang tua. " Jimin menunduk tersenyum, ia memejamkan mata untuk bersyukur pada Tuhan.
Merasa namanya disebut Taehyung, ia melirik Jimin. ia masih bisa mendengar percakapan mereka dan pengakuan Jimin entah mengapa membuatnya sedih. Ia mengenal Jimin cukup lama, dan mereka sudah tau seluruh kisah hidup berat yang dialami sahabatnya. Orang tua Jimin meninggal karena kecelakaan mobil saat Jimin sedang Ujian. Itu bukanlah hal yang mudah ketika Jimin tak memiliki siapapun kecuali ayah dan ibunya. Taehyung tak akan bisa melewati hidupnya dengan baik jika ia ada di posisi Jimin. Hal yang paling membuat Taehyung kagum dengan sahabatnya adalah bagaimana dia berjuang melewati hidupnya yang keras sendirian. Tabungan orang tua Jimin digunakan untuk kuliah dan Jimin bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya. Taehyung masih ingat bagaimana ia berkenalan dengan Jimin. Seorang Hero yang menolongnya hendak bunuh diri hanya karena kekasih dan pertengkaran orang tua. Jimin menceritakan hidupnya saat itu, dan itu membuat Taehyung merasa jadi orang paling bodoh. Semakin Taehyung mengenal Jimin, semakin ia bisa mensyukuri arti hidup, dan karena itulah Taehyung tak pernah bisa melepaskan Jimin menjadi sahabatnya. Taehyung sangat menyadari betapa pentingnya Jimin baginya dan Jimin adalah sahabat yag paling berharga yang ia miliki. Tanpa Taehyung sadari, airmatanya mengalir. Ia menghapus air matanya.
"Biarkan Yoongi bertanggung jawab, biarkan dia melakukan apa yang harusnya ia lakukan... Jagalah kesehatanmu dan bayimu!" Mrs. Min mengusap kepala Jimin penuh kasih "Jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja padaku. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuanku!"
Melihat perhatian , Tae tersentuh dan menangis. Ia terharu, Hidup Jimin sudah cukup sulit dan ia bersyukur masih ada orang yang baik terhadapnya. Taehyung segera menghapus air matanya dan mengemas Tupperware milik Mrs. Min untuk ia kembalikan pada pemiliknya. Setelah Mrs Min pergi, Taehyung langsung memeluk Jimin sambil menangis.
"Aku menyayangimu Jimin! Kau adalah sahabat baikku selamanya!"
Menyadari Taehyung menangis, Jimin memeluk dan mengusap Punggung Taehyung dengan lembut. "Kenapa kau menangis?!"
Taehyung menggeleng dan memeluk sahabatnya lebih erat. "Hanya merasa bersyukur karena Tuhan memberiku sahabat sepertimu!"
Jungkook baru saja memarkirkan mobilnya dan masuk lift. Ia terkejut begitu pintu terbuka di lantai pertama.
"Sajangnim?!,,," Jungkook terpaku sampai Yoongi masuk ke dalam lift ",,,Bukankah anda diminta Mr. Kim un-"
Yoongi memotong perkataan Jungkook. "Dia mengijinkanku untuk menemuinya besok."
Yoongi sangat khawatir sekarang. Ia takut ibunya akan berkata yang tidak-tidak pada Jimin. Ibunya memang tak setega ayahnya, tetapi ibunya cukup mengerikan jika menekan seseorang. Bahkan Mr. Kim bisa tertunduk patuh pada ibunya jika pamannya itu melakukan keputusan yang sama gilanya seperti ayahnya. Yoongi takut Jika ibunya akan membuat Jimin tertekan.
"Stress tak akan berpengaruh pada kesehatan kandungan bukan?"
Jungkook mengerti maksud perkataan bosnya, memiringkan kepalanya yang terasa berat untuk mengatakan kebenarannya. "Jinhyung pernah menjelaskan bahwa stress bisa membuat seorang ibu hamil keguguran."
Ding
Pintu lift terbuka dan menampilkan seorang wanita yang kebetulan sedang ia khawatirkan. Jungkook membeku bahkan menahan nafasnya sejenak. Jungkook menundukan kepalanya dan mencoba tersenyum mendengar Mrs. Min yang menyapa mereka.
Taman gedung hunian milik Jimin dan Taehyung memang selalu sepi Jika malam tiba. Yoongi dan ibunya duduk di kursi taman. Yoongi ingin menanyakan apa yang ibunya lakukan di tempat Jimin tapi ia sedang menyusun kata-kata agar tak terdengar menyinggungnya.
"Weo?! Kau khawatir ibu akan berbuat jahat pada Jimin?!"
Ibunya sudah lebih dulu bicara sebelum Yoongi selesai merangkai kata untuk bertanya. Yoongi tersenyum kecut. Ia seperti ditelanjangi sekarang. Ibunya menebak fikiran Yoongi begitu tepat. Yah, memang orang yang mengerti apa yang Yoongi fikirkan selain Jungkook, itu adalah ibunya. Bahkan ibunya lebih tau Yoongi daripada dirinya sendiri.
"Ibu baru sedikit menekannya dia sudah menangis."
"Eoma!" Yoongi merengek dan itu membuat Mrs. Min tertawa.
Mrs. Min melihat jari kelingking puteranya 'Ini berarti takdir! Dilihat dari sisi manapun benang merah yang terikat dijari kelingking mereka berdua terlalu nyata,,, Bahkan kematianpun tak bisa memisahkan cinta mereka.' Kata-kata Gukjoo entah mengapa membuatnya begitu percaya. Ia sudah melihat mata Jimin dan sekarang ia melihat mata puteranya. Keyakinan kuat dimata merekalah yang membuatnya percaya ramalan itu.
"Jika kau memang ingin bertanggung jawab, makan lakukanlah dengan benar. Bebannya akan bertambah jika anaknya besar tanpa ayah yang sah dimata hukum. Aku tau kau baru patah hati karena Hoseok, tetapi matamu tak pernah bohong anakku! Kau memiliki perasaan padanya bukan?! Perasaan melebihi rasa kasih dan tanggung jawab,,," Mrs. Min menggenggam tangan puteranya, memberikan kehangatan pada hati puteranya. Ia berharap hati beku puteranya bisa mencair. ",,,Jujur pada hatimu dan bijaksanalah!"Yoongi masih menunduk, dia terlihat melamun. Mrs. Min tau bahwa puteranya sedang memikirkan kata-katanya.
"Ibu harus pulang sekarang."
"Biar supirku yang mengantar."
"ok!"
Jungkook melihat mata Jimin ,Taehyung, dan Jinhyung yang sembab. Mereka habis menangis dan itu membuat Jungkook memikirkan hal buruk apa yang ibu bosnya lakukan.
"Gwenchana?!" Jungkook melihat Jimin dan Taehyung mengangguk bersama. "Apa yang Mrs. Min katakan?! Apakah dia,,," Jungkook menggantungkan kata-katanya. Ia tak bisa mengatakan fikiran buruknya.
"Mrs. Min mungkin satu-satunya orang normal di keluarga Min. Benarkan?!" Taehyung bertanya meminta konfirnmasi dari Jungkook.
"Iya!,,, Tapi kenapa kalian terlihat habis menangis?!"
"Nyonya Min baru saja kemari untuk meminta maaf atas tindakan Tuan Min. Dia juga khawatir dengan Jimin yang hidup sendirian dan Jimin menjawab bahwa Taehyung adalah orang sahabat yang membantunya banyak. Mereka berdua!" Tunjuk Jinhyung pada Taehyung dan Jimin bergantian. "Mereka benar-benar sahabat sejati! Itu membuatku ikut terharu mendengar kisah mereka!"
Jungkook yang tak mengerti hanya mengaruk kepalanya yang tak gatal. Ia memnag tak mengerti apa yang terjadi tapi setidaknya ia mengerti bahwa Mrs. Min kemari tidak untuk meminta Jimin aborsi atau semacamnya bukan?!
Ding Dong
Jimin memberikan orange jus pada Yoongi dan Jungkook. Ini pertama kalinya Yoongi datang ke kediamannya. Jimin duduk di sofa yang berhadapan dengan Yoongi. Yoongi memang selalu terlihat tenang dimata Jimin.
"Hari ini kau check-up bukan?!" bisik Jungkook pada Taehyung.
"Ah! Benar! Aku lupa." Taehyung melihat jam yang ada di dinding dan membuka mulut "Sial aku bisa telat!" Taehyung langsung berjalan dan lari ke kamarnya.
"Tenaglah! Jangan ceroboh kau masih sakit!" teriak Jungkook yang mencuri perhatian dari Jimin dan Yoongi.
Menyadari ia baru saja teriak ia menatap Yoongi dan menunduk "Maaf!" Jungkook menatap Yoongi lagi dan ia melihat sebuah kode dari Yoongi. Sebuah gerakan sangat ringan dari kepala dan mata bosnya yang berarti sebuah isyarat bahwa ia harus pergi. Tak perlu dijelaskan bahwa bosnya ingin berbicara berdua dengan Jimin. Jungkook mendekati Jinhyung ke dapur dan berkata bahwa pekerjaannya sudah selesai hari ini. Jinhyung melirik ke arah ruang tamu dan mengangguk faham. Jinhyung merapikan barang-barangnya dan pamit. Taehyung keluar kamarnaya dengan sebuah tas.
"Aku pergi dulu! Bye!,,," Taehyung mencium pipi Jimin ",,,Saranghae!" ucapan sayang Jimin sukses membuat Yoongi mengerutkan kening heran.
"Aku akan mengentarmu!" ucap Jungkook dari dapur.
Taehyung terpaku, Jika Jungkook mengantarnya maka ia akan mebiarkan Jimin dengan Monster yang bisa saja memakannya saat itu juga. Taehyung merinding.
"Check-upnya bisa ditunda besokkan?!" Tae membelakangi Jimin dan Yoongi lalu mengucapkan sebuah kalimat tanpa suara. 'Aku tak bisa meninggalkan mereka'.
Bahasa mulut Taehyung sangat jelas bisa dibaca Jungkook. Jungkook menganguk dan menarik pinggang Taehyung untuk mengikutinya keluar "Ayo!"
.
.
-RT-
.
.
Taehyung cemberut sampai di rumah sakit, ia kesal dengan Jungkook yang lebih membela bosnya daripada Taehyung. Begitu marahnya sampai Taehyung menampik tangan Jungkook yang memegang pinggangnya.
"Jangan sentuh aku!"
" Min sajang tak akan melakukan hal buruk pada Jimin percayalah!"
Taehyung yang berjalan didepan Jungkook berhenti mendadak, membuat Jungkook ikut berhenti. Taehyung berbalik menatap Jungkook tak percaya.
"Orang itu adalah orang yang meniduri Jimin dua kali dan meminta Jimin menggugurkan kandungannya dua kali! Kau bilang dia tak akan melakukan hal buruk?! Aku sempat percaya padamu untuk percaya bahwa Min sajang adalah orang baik tetapi semua yang ia lakukan masih terlihat sama dimataku. Apakah dengan uangnya ia fikir itu adalah tanggung jawab?! Apa kau berfikir itu sebuah tanggung Jawab huh?! Jika aku juga hamil apa kau akan membayarku?! seperti bosmu?!"
"Apa kau fikir aku sekejam itu?!"
Taehyung bisa melihat rasa marah dan kecewa diwajah Jungkook. Ia menyinggung perasaan kekasihnya, ia tau itu. "Kalau begitu berhentilah membelanya! Akuilah kalau bosmu itu monster!"
Taehyung berbalik dan kembali berjalan menuju ruangan Jin. Jungkook masih mengikutinya dengan raut wajah yang tak kalah kesal seperti Taehyung. Jungkook masih memikirkan sopan santun meskipun ia marah pada kekasihnya. Jungkook mendahului Taehyung untuk membukakannya pintu karena tangan kanan Taehyung yang masih terluka.
"Omo!" Taehyung menutup mulutnya terkejut. Jungkook yang melihat ekspresi terkejut Taehyung langsung mengikuti kemana kekasihnya menatap. Jungkook melotot kaget.
"Noona!?" Jungkook kembali menutup pintu dan mencoba menyadarkan diri dengan apa yang dilihatnya barusan, ia melirik Taehyung yang menatapnya juga.
Taehyung tersenyum masih tak percaya kemudian Jungkook melihat telinga Taehyung yang memerah sambil memejamkan mata dan tersenyum geli.
"Omo!,,, tadi Mr. Kim Namjoon bukan?! Omo, omo,,, wkwkwk"
.
.
.
Tbc
.
.
Dua Chapter lagi! Yea!
