.

.

.

-Red Thread-

.

Author nulis ini sambil dengar lagu Fools cover by Jungkook ft Rapmon, Far Away - Agust D ft Suran, dan its ok thats love Ost - Davichi .

Cobalah kalian juga membaca sambil mendengarkan lagu-lagu yang membuat hati kalian sakit.

.

.

Sedikit lemon dari Namjin.

.

.

.

Malam ini Jimin dan Yoongi hanya berdua di ruang tamu. Jinhyung sudah pulang lebih awal, dan Taehyung pergi check up diantar Jungkook. Ini pertama kalinya Yoongi menjadi tamu di rumahnya dan ini juga kali pertama mereka bertemu selama Jimin hamil. Jimin tentu saja merasa canggung.

"Aku ingin membicarakan mengenai kehamilanmu!" Yoongi memecah keheningan.

'To the point! Sangat Min Yoongi sekali.' Jimin melihat mata Yoongi yang menatapnya. Yoongi terlihat tampan dengan halis tebalnya, Jimin mengakui itu. Sejak awal Jimin memang menyukai paras pria itu, sebelum akhirnya perasaan sukanya berubah menjadi benci karena masalah yang menimpa mereka.

"Ya! Katakan saja!"

"Aku minta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat padamu dan aku tau aku pengecut. Aku mencoba menyembunyikan fakta ini karena Hoseok dan orang tuaku."

"Arra!" Jimin membuang muka. Jimin sudah mendengar alasan itu ratusan kali. Ia sangat mengerti dan muak.

"Tapi sekarang aku tak memiliki alasan lagi untuk tidak bertanggung jawab denganmu. Emmm,,," Yoongi berbicara terlalu santai seperti tak pernah ada masalah diantara mereka. ",,,Aku tau ini tiba-tiba tetapi aku harus mengatakannya sekarang karena usia kandunganmu yang sudah tua.,," Yoongi kembali memberi jeda membuat Jimin terus memperhatikan Yoongi ",,,Aku menginginkan bayi itu dan aku butuh kau, karena kau ibunya. Anak itu butuh status, sama halnya denganmu. Kau faham maksudku!"

Jimin tercekat, ia menahan nafas sebentar, Tidak Jimin tak bisa memahaminya. Batinya menolak otaknya untuk berfikir. Jimin menolak fakta mengenai pengakuan Yoongi. Jimin tak ingin salah sangka.

"Aku akan memberimu waktu untuk berfikir. Aku tau kau akan keberatan jika harus menikah denganku tapi, aku harap kau memilih keputusan yang baik bagi anakmu, maksudku anak kita."

Kepala Jimin tiba-tiba pusing, ia shock. Ia tak ingat bermimpi apa ia semalam hingga malam ini Yoongi tiba-tiba datang memintanya menikah. Jimin masih tak percaya dengan kenyataan, ia masih berfikir mungkin dia mimpi. Bahkan Yoongi dengan jelas mengatakan itu 'Anak kita'. Jimin tiba-tiba lemas.

Melihat wajah pucat Jimin Yoongi barulah merasa bahwa ia mungkin membuat Jimin shock. "Aku minta maaf atas tindakanku yang tiba-tiba." Yoongi khawatir lihat wajah pucat Jimin. "Gwenchana? Kau pucat sekali?! Apa kau sudah makan?!"

Jimin hanya menggeleng, ia yakin darahnya sedang turun karena terlalu shock dengan ungkpan Yoongi.

"Aku akan siapkan meja!"

Jimin hanya mengangguk, iya ia butuh sesuatu untuk mengisi energinya. Baru saja ia terkejut dengan kedatangan Mrs. Min, menangis dengan Tae dan sekarang ia kembali dikejutkan dengan ajakan Yoongi untuk membangun sebuah komitmen rumah tangga. Rasanya Jimin bisa gila. Semua fakta yang datang hari ini gila. Jimin sungguh pusing harus berhadapan dengan keluarga Min, masalahnya tak semudah apa yang ia inginkan. Semua menjadi berat sekarang.

.

.

-RT-

.

.

Jimin tetap diam, ia masih memikirkan ajakan Yoongi. Erik memintanya kembali dan sekarang Yoongi memintanya menikah. Itu bukanlah hal yang mudah untuk dikatakan. Ia bahkan tak bisa mendengar kata hatinya. Jimin hanya ingin membesarkan bayinya dengan sehat. Itu prioritas utamanya sekarang. Ia tak pernah berfikir untuk kembali dan menikah dengan Erik setelah apa yang menimpanya, apalagi Yoongi. Jimin tak pernah sekalipun berfikir untuk menikah dengan pria dihadapannya. Mereka tak mengenal satu sama lain. Jimin yakin meskipun Yoongi memiliki catatan pribadi sampai catatan kesehatanya, Yoongi tak mengenal Jimin lebih dari wanita yang dia hamili. Yoongi dulu mati-matian menolak dan sekarang, secara tiba-tiba Yoongi ingin menikahinya. Bukankah itu terlalu gila? Fikir Jimin.

"Apakah ibuku berkata kasar padamu?!"

"Tidak! Dia sangat perhatian dan penuh kasih. Kau beruntung memiliki ibu sepertinya"

"Benar! Tanpa dia mungkin aku dan ayahku akan saling membunuh."

Jimin menatap Yoongi terkejut dengan pengakuan Yoongi. 'Saling bunuh?! Hubungan Mr. Min dan Min Sajangnim seperti itu?'

"Aku dan ayahku tak pernah bisa akur. Kami sering berselisih sejak kecil. Ibukulah penengahnya, hanya dia yang bisa memadamkan api saat kami sedang perang.,,," Yoongi tak mengerti kenapa ia harus cerita masalahnya dengan ayahnya pada Jimin. Yoongi mengambil minum, ia merasa canggung karena tak sadar sudah mengatakan hal yang tak perlu pada Jimin. ",,,Maaf! Sepertinya aku terlalu banyak bicara!"

"Itu tak bisa dikategorikan banayak bicara!"

Jimin tersenyum, dan Yoongi membalas senyumannya sebelum akhirnya mereka kembali makan dengan tenang. Hangat, itulah yang Jimin rasakan begitu mendengar Yoongi berbicara sesantai itu dengannya. Ia teringat kata-kata Jungkook mengenai kebaikan tersembunyi dalam hati Yoongi, ia sekarang percaya itu. Setelah Jimin berfikir lagi, Yoongi memang baik. Hanya saja yoongi terkadang terlalu egois untuk mengambil keputusan. Jimin memperhatikan Yoongi yang sedang makan. Yoongi makan dengan baik dan rapi, ia terlihat seperti bangsawan. Membuat hatinya kembali bergetar.

'Tampan!'

Duk

"Argh!" Jimin memekik ketika merasakan bayinya menendang.

Mendengar Jimin memekik Yoongi langsung memperhatikan Jimin lagi "Kau baik-baik saja?!"

"Aku baik-baik saja. Bayinya hanya menendang!"

Yoongi tak faham mengapa bayi dalam kandungan bisa menendang. "Kenapa bayi bisa menendang?!"

Jimin menahan tawa. "Itu karena dia hidup Min Yoongi. Dia akan bergerak seperti menendang-nendang perutku.,,," Jimin memberi pengertian pada Yoongi yang masih terlihat tak mengerti. ",,,Jinhyung pernah bilang kalau bayi sudah bisa mendengar, aku tak yakin tapi bayinya akan bergerak ketika mendengar musik klasik yang Jinhyung bilang itu baik untuk merangsang bayinya."

"Apakah sakit?!"

"Tentu saja tidak! Ini hanya gerakan kecil. Kau bisa merasakannya dari luar."

"Bagaimana?!"

Jimin sempat ragu untuk melakukannya tapi ia merasa Yoongi harus tau. "kemarilah!" dengan penuh rasa penasaran Yoongi mendekat. Jimin duduk menyamping agar bisa memamerkan perutnya pada Yoongi. Jimin menuntun tangan Yoongi ke perutnya dan Jimin bisa melihat Yoongi terpaku. Yoongi tak bergerak dan tak berkata apapun, ia hanya sedang memperhatikan apa yang ia rasakan di tangannya. Sebuah gerakan kecil diperut Jimin, menyentuh tangannya. Entah bagaimana bisa gerakan kecil itu membuat Yoongi merasa hidupnya ditarik padanya. Bayi yang ada dalam perut Jimin adalah bagian dari dirinya. Bayi yang sanggup menghipnotisnya.

"Apa dia bisa tau aku ada disini?"

"Tentu saja! Dia bahkan bisa mendengarmu."

"Benarkah?! Kalu begitu,,," Yoongi tak yakin namun gerakan kecil itu muncul lagi, membuatnya benar-benar yakin kalau anaknya mungkin bisa mendengar. Yoongi berjongkok, berhadapan tepat dengan perut Jimin. "Pertama aku akan minta maaf karena ayah pernah berniat jahat padamu, dan ayah ingin kau memaafkan ayah."

Hangat! Jimin merasa hatinya kembali hangat. Ia terharu mendengar Yoongi menyebut dirinya sendiri ayah, itu sama halnya Yoongi menerima penuh kehadiran bayinya. Perasaan hangat yang diberikan Yoongi membuatnya sadar bahwa selama ini Jimin kesepian. Ia tak memiliki siapapun kecuali Taehyung dan sekarang, seperti sebuah pelengkap hidup Jimin, bayinya membawa seseorang yang bisa membuatnya merasakan sebuah kasih yang belum pernah Jimin rasakan sebelumnya.

"Kedua ayah ingin mengatakan bahwa ayah akan melindungimu karena ayah ingin kau menjadi anakku yang baik!" Ok sekarang Yoongi terdengar dingin seperti Mr. Min ",,,Jadilah anak yang kuat, sehat dan pintar. Aku menyayangimu!"

Sayang, kata-kata itu seperti sinar mentari hangat yang mencairkan es dimatanya. Jimin mengluarkan air mata dan menghapusnya. Yoongi yang melihat Jimin yang mencoba menahan tangisan hanya merasa canggung. Jimin mencoba mengalihkan perhatiannya pada makanan buatan Mrs. Min di meja. Jimin jelas terharu, Yoongi mungkin tak sengaja menyentuh hati ibunya, ia sadar itu dan ia tak ingin peduli dengan itu.

"Mrs. Min sangat hebat dalam hal memasak. Ini sangat enak."

Yoongi kembali duduk di kursinya dan ikut makan "Ibuku memang pitar masak!,,," Yoongi masih melihat kegugupan Jimin. Ia teringat sup gingseng yang ia makan mungkin saja adalah jatah rumah. karena jika ayahnya tau ayamnya ada disini dimakan Jimin, ayahnya pasti akan semakin kesal pada Jimin. ",,,Kau tak usah khawatir dengan ayahku! Aku akan tetap menikahimu meski ia tak setuju."

Jimin melotot tekejut lagi. Jimin belum menjawab ia menerima Yoongi dan dengan percaya diri Yoongi mengatakan kata yang seolah Jimin adalah sebuah subjek yang bisa diklaim. Yoongi seperti Percampuaran air panas dan dingin. Terkadang Yoongi bisa sangat menyebalkan dan bisa sangat baik bersamaan. Jimin masih belum mengerti bagaimana menyesuaikan diri untuk menghadapi keluarga Min yang tak pernah bisa ditebak.

"Dia bisa menyakiti siapapun kecuali anggota keluarganya yang sah. Dia akan malu jika orang mendengar dia melakukan hal buruk pada menantunya. Ini satu-satunya cara terbaik yang ada, agar aku bisa melindungimu dan bayimu dalam pengawasanku langsung."

"Terimakasih!"

Jimin sangat tersentuh mendengar Yoongi begitu peduli pada dirinya dan bayinya. Ia menahan tangis dan kepalanya merasa pusing memikirkan masalahnya. Jimin ragu untuk menikah dengan Yoongi. Ia hanya ingin membesarkan bayinya tapi perkataan Yoongi benar, dia dan Bayinya butuh status. Nama Yoongi pasti akan ada dalam akta kelahiran bayinya nanti. Jimin tak bisa menyangkalnya.


"Ini sandwichnya dokter!"

"Ya terimakasih!" Jin langsung membuka segel dan melahapnya rakus ",,Argh aku sangat lapar." Jin belum makan dari siang karena jadwalnya yang padat hari ini. Pasyen terus berdatangan dan itu membuatnya lelah. Ponselnya berbunyi itu dari namjoom. Jin mengangkatnya dengan mulut yang masih penuh makanan, ia bahkan kesulitan hanay untuk mengucapkan halo.

'kau dimana?!'

Jin menutup panggilan dan mengirim pesan pada Namjoon. Jin menjelaskan bahwa ia sedang makan sehingga ia tak bisa bicara. Pintu ruangannya diketuk dan Jin meminta seseorang itu masuk , hari ini adalah jam ckeck up Tae. Jadi Jin fikir itu Taehyung. Tetapi ketika pintunya terbuka, setangkai bunga muncul dari pintu yang belum sepenuhnya terbuka. Jin tersenyum dan melupakan makanannya.

"Namjoonie~?"

Kepala namjoon mengintip sebelum ia masuk dan memeluk Jin yang sudah berdiri menyambutnya. Mereka berpelukan sampai Jin duduk dipangkuan Namjoon.

"Aku sangat merindukanmu!" Jin berbisik ditelinga Namjoon dan menggesekan hidungnya di pipi dan cengkuk leher pria itu. Jin ingin menghirup aroma namjoon yang selalu maskulin. Aroma tubuh Namjoon seperti alkohol bagi Jin, sangat memabukan. Namjoon yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menikmati hembusan nafas Jin yang menggelitik dan membuat gairahnya bangkit.

"Jika kau menggodaku seperti ini, aku bisa melakukan hal kotor disini."

Jin masih memainkan hidungnya pada leher Namjoon "Aku suka hal-hal kotor!" bisiknya ditelinga Namjoon lalu mengecupnya ringan.

"Kau yang minta nona Jeon!"

Jin langsung di angkat Namjoon ke ranjang pasyen dan menciumnya sangat intens. "Ahnn..." desahan Jin keluar disela French kiss mereka ketika tangan nakal namjoon meremas dadanya. Tangan Jin sudah melingkar dileher Namjoon, ia membiarkan tangan namjoon yang lainnya menyusup ke dalam roknya, menyentuh sesuatu yang sangat sensitif di dalamnya.

"Argh! Jangan disini!,,," Jin melepas pangutannya ",,,Kita bisa teruskan di rumahku!"

Seolah tak peduli Namjoon kembali mencium Jin dan terus melakukan aksinya. Namjoon naik ke ranjang dan duduk di depan selangkangan Jin. Namjoon rasa ia tak akan bisa menahannya. Jin terlentang dengan dada naik turun dan mata sayunya, merangsang gairah namjoon untuk melakukan lebih. Mereka masih berpakaian dan namjoon tak peduli. Namjoon bisa melihat kain pink itu terlihat basah, membuatnya ingin memasuki sesuatu yang basah dibalik kain tipis berwarna pink milik Jin detik itu juga.

"U wets"

Jin tersenyum dan bangkit untuk mencium kekasihnya. Suasana semakin panas, Jin memeluk leher Namjoon lagi untuk memperdalam ciuman mereka, sedangkan tangan kanan namjoon sudah masuk ke dalam kain pink tersebut, ia memasukan Jari panjangnya ke dalam lubang lembut yang membuat fikirannya semakin kotor.

"Ahnnn,,, So goood!" rintih Jin sangat menikmati sentuhan namjoon. Jin mendongak unuk memberi akses mudah bagi Namjoon menciumi lehernya.

BRAK

Jin langsung menoleh ke pintu yang tertutup. Ia yakin ia melihat pintu itu terbuka dan tertutup kembali. Jin mendorong Namjoon halus. Namjoon juga sepertinya sudah sadar bahwa kemungkinan ada yang melihat mereka.

"Arghh aku lupa tak mengunci pintu! Aku bisa mati!" Jin memegang keningnya sementara Namjoon merapikan pakaian Jin yang sudah ia acak-acak tadi. Jin turun dari ranjang dan mrngintip, ia mendesah lega ketika ternyata tadi Jungkook dan Taehyung. Jika salah satu pegawai rumah sakit atau pasyennya yang melihat kejadian barusan, lisensinya bisa dicabut saat itu juga.

"Aku fikir kau tak akan datang." Ucap Jin pada Tae yang masih menutup mulutnya ",,, maaf membuat kalian terkejut."

"Noona bagaimana kau bisa melakukannya disini?! Dan itu dengan,,," Jungkook terlalu shock sampai tak bisa melengkapi kalimatnya.

"Aku fikir aku sudah mengunci pintu. Kami lama tak bertemu,,," Jin tersenyum, kupingnya memerah karena malu. ",,,masuklah!"

Taehyung menggerakan tangannya tanda penolakan. "Ani! Lanjutkan saja eoni! Aku bisa check up besok."

Namjoon muncul dari belakang Jin "Cancel saja besok! Sekarang ayo kita makan." Ajak Namjoon, menginterupsi. Membuat Jungkook dan Taehyung hanya bisa menunduk hormat memberi Namjoon salam. Namjoon penguasa IBigHit yang harus mereka hormati bukan?.


Mrs. Min baru saja pulang langsung mendapat teguran dari suaminya. Mereka berdebat mengenai Jimin, dan Mrs. Min membentak Mr. Min untuk menuruti kemauannya. Bentakan itu sukses membuat Mr. Min diam. Sekaras apapun Mr. Min ia tetap akan kalah dengan isterinya. Seperti sekarang.

",,,Kau mau Yoongi akan hidup sendiri selamanya?! Jika aku tak menikah denganmu kau fikir kau akan mendapatkan wanita baik-baik?!"

Mr. Min diam. Isterinya membawa masa lalu yang membuatnya kikuk. "Maafkan aku!"

Ia sadar betul bagaimana ia selalu memilih wanita yang selalu berujung dengan uangnya. Beruntung ia bertemu isterinya yang tegas dan membuatnya membuka mata tentang wanita. Mr. Min lalu mengakui kesalahannya bahwa ia memasukan obat kedalam sup milik isterinya.

",,,Aku meminta asiten rumah tangga kita memasukan Amlodipine ke dalam ayammu. Maaf! Aku hanya tak ingin bayi Jimin lahir."

Mrs. Min memegang tengkuknya. Dunia terasa berputar, kepalanya sakit mendengar pengakuan kejam suaminya. Ia lalu menelfon Yoongi.


"Kau yakin tak perlu ke rumah sakit?! Wajahmu semakin pucat."

Jimin memegang pipinya. "Tak biasanya aku lemas seperti ini." Jimin memegang perutnya yang terasa sakit.

Melihat gerak-gerik Jimin. Yoongi langsung mendekati Jimin. Yoongi semakin panik ketika Jimin menunduk lemas tiduran dimeja sambil memegang perutnya.

"Sakit!"

Yoongi yang menyadari ada yang tak beres langsung menelfon ambulan. Beruntung rumah sakit tak terlalu jauh dari tempat Jimin hingga Jimin langsung dibawa ke rumah sakit. Di dalam ambulan Yoongi terus memegang tangan Jimin "Bertahanlah! Kau akan segera sampai!"

Ponsel Yoongi berdering, melihat panggilan dari ibunya ia langsung mengangkatnya.

'kau masih ditempat Jimin bukan?! Katakan padaku bahwa Jimin tak memakan ayamnya!'

"Apa maksud ibu?!" Tanya Yoongi dingin. Mendengar kepanikan ibunya, Yoongi menjadi was-was. Ia melihat semuanya dan mendapatkan sebuah kesimpulan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Apa ini semua?!"

Mrs. Min mendengar suara sirine dengan jelas dan itumenjelaskan semuanya. 'Yoongi-ah! Mianhae!'

"BISAKAH KALIAN LEBIH CEPAT?!" teriak Yoongi pada supir ambulan. Ayam itu, Jimin pucat setelah makan itu, bagaimana bisa Yoongi tak sadar. Yoongi ingin sekali memaki semua keluarganya. Ia kewalahan sekarang.


PLAK!

Suara tamparan keras itu berasal dari tangan Mrs. Min pada pipi Mr. Min.

"Aku sudah sering menasehatimu untuk menggunakan perasaanmu! Kau baru saja melakukan perencanaan pembunuhan kau tau?!"

"Aku hanya menyuruh Min Ah untuk memasukan obatku untuk mengugurkan bayinya, dia akan baik-baik saja!"

"Obatmu bisa membuat Jimin hipotensi! Jimin pernah pendarahan dan kau bisa membunuhnya. Apa kau sebodoh itu?!"

Mrs. Min pergi meninggalkan suaminya dan segera ke rumah sakit. Ia menelfon presiden seoul untuk memberikan dokter terbaik mereka untuk Jimin.


Jimin melihat cahaya lampu operasi, ia pernah mengalami ini. Ia berbaring dengan suara para team medis yang terdengar ribut. Bedanya kali ini ia bisa melihat Yoongi disampinya. Yoongi terus berkata bahwa ia akan baik-baik saja, tetapi ia lemas, pandanganya kabur saat sesuatu mencoba keluar dari perutnya. Itu bayinya, Jimin bisa merasakan bayinya ingin keluar. Jimin sudah sangat lemas, ia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dokter katakan, ia sangat ingin memejamkan mata, namun tangan yoongi terus menepuk pipinya. Sedikit keras hingga membuat Jimin kembali sadar.

"Jimin sadarlah!" itu Yoongi yang ada di depannya.

"Dokter tekanan darahnya terus menurun!" ia mendengar seseorang berteriak lagi.

Jimin masih menatap mata Yoongi yang terlihat penuh cinta dibalik wajah khawatirnya. Jimin ingin menampik bahwa mungkin ia hanya berhayal, tapi mata itu terlihat nyata. Jimin merasakan sesuatu ingin keluar. Jimin menahan nafas dan dengan satu dorongan kuat ia mendengar tangis bayi sebelum kegelapan menariknya entah kemana. Lalu sebuah cahaya datang membawanya dan kesebuah taman. Jimin duduk di kursi sebuah gazebo bergaya romawi. Itu sangat indah, Ada tumbuhan mawar mengelilingi gazebo yang ia tempati. Taman disekelilingnya juga sangat hijau dengan patung-patung manusia bersayap yang ia yakini terbuat dari marmer.

"Eomaaa!" Gadis itu berteriak mendekati Jimin dengan air mata dipipinya.

Jimin memeluknya "kenapa kau menangis?!"

"Kakek mengatakan kalau kakek benci padaku! Kenapa kakek selalu jahat padaku eoma~?!"

Yoonji yang Jimin yakini nama puterinya itu menangis lebih keras

/

"Eoma aku membuat syal untukmu! Selamat ulang tahun eoma!"

/

"Eoma lihat! Aku membawa kucing. Eoma boleh ya, aku memeliharanya!." Yoonji membujuk dengan sangat manis.

Jimin terus saja melihat puteri cantiknya dari tersenyum, menangis, merengek dan semua tingkah maisnya. Jimin tersenyum entah dimanapun dia. Jimin kembali ditarik ke dalam kegelapan yang tak berujung. Jimin hanya sendirian disana, bingung harus bagaimana. Jimin disana cukup lama, sebuah tempat yang hanya ada Jimin dan kegelapan.

"Saranghae!"

Sebuah suara mencuri perhatian. Jimin mencari suara tersebut. Ia yakin itu suara Yoongi. Suara yang terdengar sangat tulus.


Semua orang berkumpul di depan ruang ICU menunggu seseorang selain perawat yang bolak-balik membawa sebuah kantong berisi cairan warna merah. Mrs. Min menggigit kukunya, Taehyung sedang menangis dipelukan Jin, Jungkook dan namjoon masih duduk memandang pintu kaca tersebut.

"ini tidak adil. Kenapa tuhan selalu jahat pada Jimin?! Kenapa?!"

"Dia akan baik-baik saja. Tenanglah. Jimin adalah wanita yang kuat." Jin mengelus punggung Taehyung, mencoba menenangkannya. Jin juga khawatir sekarang, tak hanya pada Jimin tapi juga pada Taehyung yang tak berhenti menangis.

.

.

-RT-

.

.

Bayi yang dipenuhi darah itu dibawa seorang wanita ke dalam bak berisi air. Suasana kemudian menjadi ricuh dan Yoongi diminta keluar dari ruangan tersebut. Ia menolak namun suster itu sangat kuat menarik Yoongi keluar, membuat semua orang yang menunggu menatap Yoongi.

"Brengsek! Beraninya kau menyeretku keluar!" Yoongi membentak, memukul pintu kaca itu keras.

Jantungnya tak beres, sejak tadi itu berdetak kencang dan sekarang sakit. Penyakitnya kambuh, namun sebelum ia mengambil obat disakunya ia terjatuh lebih dulu. Jungkook dengan cepat mengambil obat jantung Yoongi dari dalam jas Yoongi. Jungkook berlari meminta air di konter lalu meminumkan Yoongi obat.

"Aku akan menuntut rumah sakit ini jika sesuatu yang buruk terjadi." Yoongi menatap ibunya penuh kecewa.

"Dan aku akan membunuhmu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Jimin." Tae menatap Nyalang pada Yoongi, ia ingin menampar pria itu. Hidup Jimin normal dan baik-baik saat mereka bekerja dan semua menjadi rumit kembali saat Yoongi datang. Taehyung akan sangat menyalahkan Yoongi yang memberikan Jimin kembali menjalani hidup yang berat.

.

.

.

Tbc

.

.

Tinggal satu Chapter lagi! Mind to Review?!