.

.

-Red Thread-

.

kematian tak akan memisahkan cinta mereka berdua.

.

.

.

PRAAANGGG!

Sebuah Vas kristal mewah yang berada di lorong ruang tamu itu kini menjadi serpihan yang berserakan dilantai. Gadis kecil berambut panjang itu menyatukan kedua tangannya, ia menunduk takut pada seseorang di depannya. Seorang yang gadis itu kenal sebagai kakeknya, kini menatapnya dengan tatapan membunuh. Gadis bernama Yoonji itu baru saja pulang dari sekolah dengan dijemput kakeknya. Hari ini adalah hari yang buruk bagi Mr. Min, siang tadi ia ditelfon pihak sekolah karena kenakalan cucunya telah memukuli teman kelasnya, dan sekarang darahnya dibuat naik lagi dengan kenakalan cucunya. Vas yang barusaja cucunya pecahkan adalah hadiah dari rekan bisnisnya di Dubai yang tak ternilai harganya.

"Maafkan aku kakek!"

Yoonji, cucunya itu merupakan sebuah kesalahan sejak dia lahir di dunia ini. Mr. Min sangat marah dengan keberadaan gadis kecil itu di depannya. Semua hal yang berhubungan dengan Park Jimin adalah kutukan untuknya dan keluarga Min. Mr. Min membuang muka, ia merasa muak jika harus memandang cucunya lebih lama.

"Memang tak ada hal lain yang bisa kalian lakukan selain membuatku mengalami kesulitan!" Mr. Min menggerutu keras. Ia tak peduli jika Yoonji bisa mendengarnya. "Bagaimana bisa ibu dan Anak sama-sama menyebalkan?!"

"Apa kakek marah padaku?! Maafkan aku!"

"Ne! Aku membencimu, sangat membencimu dan ibumu!" Mr. Min menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mentap Yoonji dengan wajah yang terlihat sangat mengerikan. "Aku membenci kalian sampai aku tak ingin melihat wajahmu!"

Nafas Yoonji naik turun, ia akan menangis sekarang.

"Jangan menangis! Suara tangisanmu akan semakin membuatku membencimu!"

Yoonji menahan nafas agar ia tak menangis. Ia tak boleh menangis karena kakeknya akan semakin membencinya. Yoonji mengambil serpihan vas itu ketika Mr. Min pergi meninggalkannya di rungan besar itu. Ia terus menahan suaranya meski air matanya menetes.

.

.

-RT-

.

.

Mata Jin menyalang, ia marah seperti ingin menghukum seseorang. Ia berada di toilet dengan sebuah benda berwarna pink di tangannya. Jin terlihat hilang akal. Jin keluar dari toilet dan melempar benda tersebut pada Namjoon yang sedang sibuk dengan tabnya di ranjang. Namjoon mengambil benda yang Jin lempar padanya dan sebuah senyuman kemenangan terukir di bibirnya.

"Kau tersenyum?! Beraninya kau!" Jin menekan setiap kata yang ia ucapkan. Berusaha menekan pria yang sudah menjadi suaminya itu. "Annyversary ke enam. Iyakan?!" Jin memukul Namjoon dengan bantal.

"Aku merasakannya! Kau tak mengaku!" Jin memukul semakin keras "Beraninya kau menipuku!"

"Apa masalahnya punya banyak anak!?"

"Masalah?! Kau bilang apa masalahnya?!" Jin memukul lagi. "Aku sudah tak muda lagi Kim Namjoon! Pekerjaanku bisa membuat bayinya rentan!"

"Kalau begitu jangan bekerja! Aku lebih senang jika kau mau menjadi ibu rumah tangga."

Jin terdiam menatap suaminya tak percaya. "Kau sudah gila rupannya."

"Kami selalu khawatir karena aku anak tunggal dan aku adalah satu-satunya penenerus marga Kim dalam keluarga besar ini. Akan lebih baik ada banyak penenerus yang membawa marga keluarga kita bukan?!"

"Namjoon kita sudah punya dua anak laki-laki! Jika ditambah lagi satu,,,"

Namjoon memotong perkataan isterinya. "Eoma akan sering berkunjung lagi mengurus mereka!"

"Sampai kapan kita akan terus merepotkan eoma untuk mengurus cucu-cucunya huh?!"

"Sampai kapanpun dia akan sangat senang bermain dengan anak kita!"

Habis sudah kesabaran Jin, Berdebat dengan suaminya adalah hal sia-sia. Mereka sudah tujuh tahun menikah dan punya tiga orang anak. Dua anak laki-laki, Putera pertama bernama Jun Hyung baru masuk Junior school, putera kedua mereka Jung Seok baru berumur tiga tahun, dan Jika sekarang Jin hamil lagi, itu benar-benar membuatnya stress. Jarak usia anak-anak mereka terlalu dekat dan Jika mereka tumbuh bersama dengan jarak usia yang sedekat itu, ia tak bisa membayangkan akan seperti apa rumah mereka nanti. Merasa tak tahan lagi berada disamping Namjoon Jin pergi keluar kamar. Ia tak ingin melihat wajah Namjoon yang akan membuat emosinya naik.

"kemana?!"

"Bukan urusanmu!"

Jin menutup pintu kamar sangat keras. Namjoon menghela nafas melihat pintu dimana Jin menghilang.

"Dia benar-benar marah!"

Tujuh tahun hidup bersama tentu dengan Jin. Namjoon dan Jin sedah saling mengerti dan menghargai. Mereka telah merancang rumah tangga mereka dengan baik. Meskipun, itu tak akan selalu sesuai keinginan mereka. Namjoon dan Jin dulu sama-sama mengatakan hanya ingin memiliki dua anak tetapi, Namjoon merasa semakin hidup ketika ia memiliki anak sehingga ia merasa dua anak saja tak cukup. Jin yang bersikeras hanya ingin dua anak membuat Namjoon terpaksa harus merancang sebuah rencana agar Jin bisa hamil lagi. Bukan hanya mengganti pil kontrasepsi isterinya dengan vitamin, ia juga tak memakai pengaman saat mereka tidur bersama. Namjoon tak hanya mengeluarkannya saat Annyversary mereka yang ketujuh itu, tetapi sebelum-sebelumnya sudah melakukan rencananya itu. Namjoon ingin memiliki anak yang banyak, itu tujuannya.

"Appaa!" teriak Junhyung naik ke tubuh namjoon.

Anaknya menunjukan sebuah kertas berwarna kuning padanya. "Apa ini?!" Namjoon membuka isi kertas tersebut yang merupakan sebuah undangan.

"Yoonji akan ulang tahun lusa nanti! Ayo kita beli sebuah hadiah!"

Jungseok muncul dengan boneka beruang putih dipelukannya, ia ikut naik ke atas tubuh namjoon, membuatnya semakin sesak nafas.

"Baiklah! Kalian turun dulu!"

"Tidak mau!" Junhyung Memeluk namjoon dan Jungseok mengikutinya, Membuat namjoon merasakan cinta puteranya. Moment bersama anaknya adalah hal yang paling Namjoon sukai. Hidupnya mejadi lebih hidup dengan krhadiran mereka. Namjoon membalas pelukan kedua puternya dan membalik tubuh mereka agar menyingkir dari badannya lalu menggelitik perut kedua puteranya bergantian. Membuat kamar namjoon penuh dengan tawa anak kecil.


Sekumpulan wanita yang sedang berkumpul di pantry itu tertawa saling tatap. Mereka sedang membicarakan topik hangat mengenai GM mereka yang baru. Seorang pria yang sangat sempurna dimata semua wanita. Jeon Jungkook bukan hanya menjadi bos tampan tetapi juga bos yang baik bagi karyawannya.

"Kalau saja dia belum menikah aku akan menggodanya setiap hari"

"dan aku yakin kita disini tak akan saling jambak memperebutkan Mr. Jeon untuk berebut menjadi kekasihnya."

BANGGGG

"kalian pelacur! Beraninya!" Taehyung menendang pintu lalu melipat tangannya. ",,,Kalian ingin berebut suamiku?! Kalian berani padaku?!"

Semua diam. Tae melirik pakaian wanita-wanita yang itu, hampir semuanya berpakaian seksi.

"Apa kalian menganggap kantor ini tempatmu menjual tubuhmu dengan pakaian seperti itu?!"

Tak ada yang berani karena Tae adalah HR manager. Nayoung muncul dan dengan pelan berbisik pada Taehyung.

"Mrs. Jeon, Anda sedang hamil! Anda tak boleh mengucapkan kata-kata kotor!"

Tae sadar dan menggigit lidahnya "Mianhae adeul!" Tae mengusap perutnya yang sudah membesar, lalu menunjuk nayoung dan gadis-gadis itu bergantian, kode bahwa nayong harus memberi mereka pelajaran. Nayoung mengangguk lalu masuk pantry dan menutupnya. Detik berikutnya suara teriakan terdengar dari dalam. Taehyung hanya mengelus perutnya dan pergi.

"Mengapa ayahmu popular sekali dikalangan wanita?! Itu membuat ibu sedikit kesal!"

Taehyung masuk ke dalam kantornya dan dikejutkan oleh Puterinya.

"Jimin bagaimana kau bisa disini?! Bukankah ini masih jam sekolah?" Taehyung langsung panik melihat memar diwajah puterinya. Taehyung mengangkat dagu puterinya untuk melihat wajahnya lebih dekat. ",,, Apa ini? Kenapa dengan wajahmu?"

"Appa menjemputku!. Tadi Yoonji eoni diejek anak-anak nakal saat kami membagikan kartu undangan ulang tahunnya!"

"Apa mereka memukulmu?!"

"ne! Mianhae eoma!"

"kau yang kena pukul kenapa malah minta maaf?!"

"Aku memukul mereka juga."

"Jangan katakan kau menendang mereka!?'

"Mereka mendorong eoni dan membuang kartu undangan eoni!"

Mendengar penjelasan puterinya ia hanya bisa menghela nafas. "Ayahmu pasti marah!" Puterinya mengangguk. "Kau pasti belum makan!" Jimin kembali mengqngguk. Taehyung kembali menghela nafas. Jungkook terkadang menjadi kejam ketika marah. Bahkan anaknya ia lupa beri makan.


Yoonji menangis dengan darah di tangannya. Ia baru saja kabur dari kediaman kakeknya. Gadis kecil itu lebih memilih naik taxi sendirian daripada harus terus menahan tangis. Yoonji tak bisa menagis di depan kakekknya karena tak ingin kakeknya lebih membencinya. Yoonji selalu mencoba menjadi anak yang baik, namun ia selalu gagal. Anak-anak lain selalu mengejek Yoonji yang tak memiliki ibu dan itu terus membuatnya mendapat masalah disekolah. Yoonji lelah dengan kemarahan kakeknya, ia sudah berusaha tapi kakeknya selalu membencinya. Hanya satu tempat yang Yoonji selalu fikirkan, sebuah taman dibelakang rumahnya. Sebuah taman rahasia dengan patung malaikat disetiap sudutnya, ia ingin menemui ibunya. Yoonji mencari dimana ibunya dan ia berlari begitu melihat ibunya yang sedang duduk di Gazeboo.

"EOMA!" Yoonji berteriak mendekati Jimin dengan air mata dipipinya.

Jimin memeluknya "kenapa kau menangis?!"

"Kakek mengatakan kalau kakek benci padaku! Kenapa kakek selalu jahat padaku eoma~?!"

Yoonji menangis lebih keras membuat Jimin semakin khawatir. "Kakek hanya sedang marah sayang! Kakek tak sungguh-sungguh mengatakan itu." Mata Jimin menangkap luka dijari manis puterinya. "Kau terluka sayang! Kau harus pergi menemui pelayan Ahn untuk diobati!"

"Aku ingin disini bersama eoma!"

Yoonjin masih tetap menangis. Membuat Jimin merasakan hatinya sakit. Seandainya ia masih hidup, ia ingin sekali mengobati luka puterinya. Air mata Jimin menetes. Hal yang paling tak pernah bisa membuatnya pergi dengan tenang adalah apa yang harus puterinya hadapi tanpanya. Ia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa melakukan apapun untuk puterinya. Ia merasa tak berdaya. Bahkan ia tak bisa membawa puterinya ke tempat tidur untuk ia obati. Jimin hanya bisa menangis melihat puterinya kini tertidur diapangkuannya dengan darah yang masih menetes dijari kecilnya.

"Yoonji-ah!"

Jimin menoleh menatap pria yang ia cintai. Min Yoongi, ayah dari puterinya mendekat dengan wajah khawatir. Ia berjongkok untuk melihat wajah puterinya yang tertidur pulas. Yoongi baru saja tiba di seoul dan langsung ke sekolah begitu mendengar puterinya mendapat masalah lagi. Sayangnya ibunya sedang pergi sehinggat tak bisa menggantikan Yoongi. Yoongi langsung pulang begitu mendapat pesan dari main dirumah appanya bahwa Yoonji lari dengan menggunakan taxi. Yoongi tau puterinya akan kesini. Tempat dimana puterinya selalu datangi setiap hari. Tempat yang puterinya katakan adalah tempat dimana ia bisa melihat ibunya. Terdengar gila tetapi ia yakin puterinya memang bisa melihat Jimin. Yoongi menatap puterinya yang tertidur sangat pulas dengan hidung yang merah karena baru menangis. Yoongi mengelus rambut puterinya penuh sesal dan matanya menangkap jari Yoonji yang terluka. Yoongi segera mengangkat puterinya yang sedang tidur itu kedalam untuk mengobati lukanya. Sedangkan Jimin hanya bisa menatap Yoongi bersama puterinya pergi.


"Demi tuhan, dia cucumu yeobo! Dia adalah penerus keluarga ini, dan dia hanyalah anak kecil. Bagaimana bisa kau berlaku sekejam itu padanya?!"

"Masih untung aku mau masih menjadi walinya. Kau fikir aku bisa bersikap baik padanya."

Mrs. Min menatap suaminya tak percaya.

"Anak itu membawa musibah bagi keluarga ini! Jika tak ada dia Yoongi bisa menikah dan memiliki keturunan laki-laki dari wanita yang aku pilihkan."

Mrs. Min terdiam. Ia tak lagi marah tapi merasakan ironi terhadap puteranya. "Jangan pernah mengatakan sebuah pernikahan bagi Yoongi!"

Hati Mrs. Min sesak. Semenjak Jimin meninggal keadaan menjadi semakin kacau. Kala itu adalah titik berat dalam keluarga Min. Yoongi baru saja membuka hatinya untuk mengajak Jimin menikah, dan karena suaminya Jimin harus pergi meninggalkan putera dan cucunya. Kepergian Jimin membuat Yoongi mengalami depresi karena rasa bersalahnya. Depresi Yoongi sangatlah buruk dimana jantungya jadi semakin sering kambuh. Karena merasa kasihan melihat puteranya, Mrs. Min bahkan hendak menceraikan suaminya. Sayangya, itu mendapat tentangan dari keluarganya karena mereka masih berfikir bahwa itu adalah tugasnya sebagai isteri untuk merubah suaminya. Akan tetapi rasanya sia-sia, Suaminya tak berubah. Dia bahkan membenci Putera dan cucunya sendiri. Sudah delapan tahun meninggalnya Jimin, namun puteranya masih terpuruk. Yoongi tak ingin menikah karena rasa bersalahnya pada Jimin, ia seolah menghukum dirinya sendiri untuk selalu setia pada Jimin. Bukan hanya membangun sebuah taman besar di belakang ruman Yoongi, tetapi Yoongi juga selalu menganggap bahwa Jimin selalu berada di rumahnya. Psikiater bahkan tak mampu lagi menangani sifat keras kepala Yoongi.


Pesta Ulang tahun Min Yoonji ke 7

Semua bernyanyi lagu untuk Yoonji meniup lilinnya. Jeon Jimin yang paling bersemangat bertepuk tangan.

"Buat keinginan! Buat keinginan!" teriak Jungseok mengepalkan kedua tangannya yang sedang bersemangat.

Semua orang diam ketika Yoonji menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata. "Tuhan! Eoma mengatakan ia akan bahagia jika semua orang bahagia meskipun eoma tak ada. Maka aku ingin Tuhan membuat semua orang bahagia agar eoma bisa bahagia! Amin!"

Taehyung adalah satu-satunya orang yang tak bisa menahan emosinya. Ia segera pergi dari kerumunan untuk mencari tempat untuk menangis. Jungkook menyusul dan langsung memeluk isterinya yang sedang menangis sambil berjongkok.

"Aku sangat merindukan Jimin!"

"Aku tau! Kita semua merindukannya." Jungkook menarik Taehyung untuk berdiri "Kau sedang hamil sayang. Kau tak boleh kalut. Demi anak kita!"

Kematian Jimin adalah pukulan berat bagi Taehyung. Ia kehilangan sahabat terbaiknya, dimana ia selalu bersama saat susah maupun bahagia. Sahabat yang paling mengerti Taehyung telah pergi. Meskipun ada Jungkook dan Puterinya yang ia beri nama Jimin itu telah mengisi kehidupannya yang bahagia, tetapi posisi Jimin sebagai sahabat baiknya tetap saja kosong. Saat-saat dimana ia memiliki suatu kebiasaan yang dilakukan bersama sahabatnya, kini ia melakukannya sendiri. Kepergian Jimin membuat hidup Taehyung menjadi kurang. Hamil pertamanya sangatlah berat bagi Taehyung karena ia selalu mengingat saat-saat dimana Jimin hamil, dan ia selalu merasa menyalahkan Yoongi dulu. Taehyung sempat kalut dengan perasaannya sampai hampir keguguran karena stress berat. Orang berkata bahwa kehadiran seorang anak akan membuat seorang ibu membuka fiirannya, dan itu benar. Semenjak puteri pertamanya lahir ia merasa kebahagiannya bertambah. Taehyung langsung menamai puterinya Jimin, nama yang sama seperti sahabatnya. Ia berharap dengan memberi nama puterinya Jimin, ia akan merasa bahwa sahabatnya selalu ada di dekatnya.


"Eoma aku membuat syal untukmu! Selamat ulang tahun eoma!"

Yoongi tak bisa menahan senyumnya melihat kepolosan Yoonji. Puteri kecinya langsung meminta Yoongi ke makam ibunya untuk memberi Jimin hadiah. Ini memang bukan ulang tahun Jimin, melainkan hari ulang tahun puterinya. Tetapi Yoonji selalu memberi kado dan mengucapkan selamat pada Jimin di hari ulang tahun Yoonji. 'Ulang tahun Yoonji adalah ulang tahun eoma juga' itulah yang sering puterinya katakan ketika Yoongi bertanya, mengapa Yoonji selalu memberi hadiah dan ucapan selamat ulang tahun pada Jimin ketika puterinya itu ulang tahun.

'Maafkan aku untuk segalanya min' batin Yoongi menatap nisan Jimin.

"Appa~! Eoma bilang berhentilah meminta maaf karena appa tak salah apapun."

Deg

Yoongi terjatuh karena terkejut mendengar perkataan puterinya. Ia tak pernah terbiasa dengan perkataan puterinya yang seolah menyampaikan pesan dari Jimin.

"Appa gwenchana?!"

"Gwenchana!"

Yoongi memegangi dadanya dan mencoba mengontrol nafas. Ia berharap bisa melihat Jimin seperti puterinya. Tetapi hatinya selalu mengatakan bahwa ia tak pantas. Yoongi hanya pantas menerima semua karma yang ia rasakan. Sebuah cinta yang tumbuh semakin besar setelah Jimin pergi dan sebuah penyesalan adalah hukuman paling pantas yang Yoongi rasakan.


Mrs. Min sedang murung duduk di depan Gukjoo.

"Kutukan macam apa ini. Yoongi benar-benar akan sendiri selamanya bukan?! Aku menderita melihat hidup puteraku."

"Aku sudah bilang Jika suamimu melakukan keputusan yang salah maka puteramu akan mati dalam kegelapan memenuhi hatinya. Takdir sudah tertulis.,,," Gukjoo menangis menatap udara, seolah ia sedang menerawang sesuatu. ",,,Aku membacanya puluhan kali tetapi aku tak pernah bisa menahan air mataku. Ini adalah benang merah paling menyedihkan yang pernah aku lihat."

Mrs. Min mengerti betapa perih hati Yoongi saat Jimin pergi. Keterpurukan Yoongi, rasa bersalah Yoongi, dan cinta Yoongi adalah hal yang tak bisa Mrs. Min elak. Ia hanya bisa menerima melihat semua rasa sakit Yoongi dan sebagai seorang ibu itu membuat hatinya ikut terluka. Mrs. Min menangis, melepaskan semua keluh kesahnya.

"Bagaimana ini?! Bagaimana puteraku bisa semalang ini?!"


Sebuah pesta megah disebuat taman. Pesta pernikahan puterinya dengan pria berdarah Korea Amerika, Ken Jun. Pria yang selalu berdebat alot dengan Yoongi. Hati puterinya sudah milik pria itu, dan saat ia menyadarinya Yoongi hanya bisa pasrah menyerahkan puterinya.

"Aku berjanji akan selalu membuat Yoonji bahagia." Ken menunduk, memberi hormat pada ayah mertuanya.

"Tentu saja kau harus membuatnya bahagia. Kau fikir aku memberikan puteriku padamu untuk kau sakiti?!" Kata-kata sarkasme Yoongi membuat Ken hanya bisa menunduk.

Dengan tatapan masih sebal pada ken, Yoongi merasakan sebuah pelukan hangat. "Terimakasih untuk segalanya appa. Aku sekarang bahagia."

Yoongi tersenyum dan menghapus air mata harunya. Puterinya telah menemukan pasangan yang tepat yang bisa membuat puterinya selalu tersenyum. Fakta itu membuat benteng perlindungan Yoongi telah Digantikan oleh Ken, dan Yoongi hanya bisa pasrah menerima itu. Puterinya bukan lagi miliknya. Just Married, itu adalah tulisan yang Yoongi baca ketika menatap kepergian mobil audi silver yang dihiasi bunga. Hatinya terasa hampa sekarang. Yoongi pergi mendatangi taman yang biasa puterinya datangi. Yoongi merasa itu adalah titik paling hampa yang pernah Yoongi rasakan. Yoonji adalah alasan mengapa Yoongi bertahan hidup dan alasan hidupnya kini telah bahagia bersama pelindung barunya. Yoongi duduk di kursi gazebo, dan terpejam.

'Puteri kita sudah menempuh hidup baru yang bahagia. Aku merasa sangat kesepian. aku benar-benar ingin melihatmu Jimin-ah!'

Yoongi menangis. Meratapi kekosongan hatinya.

"Aku tak akan pernah berhenti untuk meminta maaf padamu! Untuk segalanya aku meminta maaf!" Yoongi memegang dada kirinya yang terasa sakit. "Jika reinkarnasi atau kehidupan berikutnya itu ada, aku ingin memiliki kesempatan untuk menebus segala kesalahanku dan membuatmu bahagia. Jika aku diizinkan, Aku ingin dikehidupan berikutnya kita akan bertemu lagi dan hidup bahagia bersama. Kau, Aku , dan puteri kita yang cantik... Saranghae!"

Segenap hati Yoongi, ia mengucapkan kata cinta yang sangat tulus dari dalam hatinya. Yoongi tertunduk masih menangis, dan ia bisa melihat seseorang denagan pakain putih didepannya, ia mendongak untuk melihat siapa orang itu. Yoongi tercekat, jantungnya kembali merasa sakit karena terkejut.

"Yoongi-ah!"

Yoongi bisa merasakan pelukan Jimin yang menahannya jatuh. Yoongi menatap Wajah wanita didepannya. Itu Jimin, Yoongi masih terus memperhatikan untuk memstikan kalau ia benar-benar melihat Jimin.

"Jimin-ah?"

"ya! Ini aku!"

"Aku mencintaimu! Sangat!"

Itu adalah kata yang selalu ingin Yoongi katakan Jika ia memiliki kesempatan bisa melihat Jimin lagi dan impian itu menjadi nyata. Yoongi menagis hingga tersedu-sedu. Ia sangat merindukan Jimin.

"Aku tau! Aku Juga mencintaimu!"

"Apa yang harus aku lakukan sekarang Jimin-ah! Aku sekarat. berhentilah menghukumku! Tolong aku!"

"Aku tak pernah ingin menghukum atau membuatmu seperti ini Yoongi-ah. Aku juga mencintaimu dan aku juga ingin kita hidup bahagia bersama."

"Aku sangat membutuhkanmu! Aku tak sanggup lagi hidup di dalam kegelapan seperti ini. Ini terlalu menyiksaku!"

Jimin memeluk Yoongi, berharap Jika ia bisa memberi kehangatan pada hatinya yang dingin.


"Syal merakku! Aku lupa membawanya." Yoonji memukul keningnya. Syal merah yang Yoonji beri pada ibunya itu adalah jimat keberuntungan untuk Yoonji.

"Tolong putar balik!" Perintah Ken pada supirnya.

"Baik tuan!"

Yoonji mengacak-ngacak lemari untuk mencari syalnya. Ia mengingat-ingat kembali dimana ia meletakan syalnya, tapi ia menyerah. Yoonji lupa. "bibik Ahn! Dimana syal merahku?!"

"Tuan membawanya ke taman nona."

Yoonji langsung pergi ke taman dan melihat appanya sedang duduk di gazebo. Syal merah itu ada digenggaman Appanya yang tertidur. Yoonji mencoba menarinya pelan agar ayahnya tak bangun, namun ternyata cengkraman ayahnya sangat kencang, membuat Yoonji berfikir kalau ayahnya sedang mengerjainya.

"Appa!" Yoonji mencium pipi appanya "Aku membutuhkan syal ini!"

Merasa ayahnya tak bergerak dari tidurnya Yoonji memegang pipi ayahnya "Ayah!"

Ayahnya tak bergerak maupun meresponnya. Ketakutan kini melanda Yoonji. Ia tak melihat gerakan dada ayahnya. Dengan tangan gemetar Yoonji menaruh jarinya di dekat hidung ayahnya memastikan bahwa ayahnya masih bernafas. Namun yoonji tak merasakan apapun.

"Appa!"

Yoonji mencoba memanggil ayahnya. Yoonji mulai panik hingga air matanya menetes. Yoonji mendekatkan telinganya pada dada ayahnya dan ia tak mendengar detak jantung ayahnya. "Appa! Andwe!" dengan sigap Yoonji langsung membaringkan Yoongi ke lantai dan memompa dada ayahnya. "Aku mohon ayah!"

Merasa tak ada perkembangan Yoonji berteriak keras. Ia tak bisa menerima kepergian ayahnya yang tiba-tiba. Ken yang mendengar teriakan, bersama para maid lari ke arah dimana suara tersebut bersal. Ken melihat Yoonji menyembunyikna wajahnya diatas dada ayahnya yang tertidur dilantai. Tubuh Yoonji bergetar, Ken bisa mendengar rintihan tangisan Yoonji. Tak perlu penjelasan lagi, Ken meminta bibik Ahn untuk menelfon semua keluarga untuk melakukan acara pemakaman. Ken mendekati Yoonji untuk memeluknya. Ia juga tak menyangka ayah mertuanya akan pergi secepat ini.

.

.

-RT-

.

.

"Sebuah benang merah yang tidak terlihat menghubungkan mereka yang ditakdirkan untuk bertemu, terlepas dari waktu, tempat, atau keadaan. Benang itu dapat regang atau kusut, tetapi tidak akan pernah putus."

Mrs Min memeluk cucunya yang tak berhenti menangis sepanjang upacara pemakaman Yoongi. Yoonji menatap neneknya tak mengerti.

"Peramal itu pernah mengatakan bahwa maut tak akan memisahkan cinta ayah dan ibumu. Nenek fikir bahwa itu berarti ayah dan ibumu akan hidup bahagia bersama kita tetapi, sepertinya nenek salah pengertian.,,," Yoonji berhenti menitikan air mata untuk mendengar cerita neneknya.",,,Sepertinya maksud dari peramal itu adalah meskipun mereka hidup atau mati, mereka akan selalu bersama."

Yoonji menahan nafas lalu ia memeluk neneknya untuk kembali menangis. "Aku ingin eoma dan appa bahagia!"

"Mereka sudah bertemu sekarang! nenek yakin mereka akan bahagia disana"

Yoonji masih menangis meskipun hatinya sedikit merasa lega mendengar kemungkinan orang tua mereka akan bertemu. Meskipun dengan cara lain.

.

.

The End

.

.

"Jika reinkarnasi atau kehidupan berikutnya itu ada, aku ingin memiliki kesempatan untuk menebus segala kesalahanku dan membuatmu bahagia. Jika aku diizinkan, Aku ingin dikehidupan berikutnya kita akan bertemu lagi dan hidup bahagia bersama. Kau, Aku , dan puteri kita yang cantik... Saranghae!" – Min Yoongi.

.

Setiap putus asa selalu ada harapan

.

.

Terima Kasih kepada reader yang selalu setia membaca Red Thread.

Jangan lupa tinggalkan jejak dan Yoo masih berharap reader menyukai RT meskipun endingnya mungkin tak membuat reader bahagia.

Luv U Guys.

.

.

.