Update nih! :'v
Makasih yg uda review. Gue bilang juga apa, itu ff gajelas -_- tapi kan tujuan gue untuk menuh-menuhin list ff vhope yg tergolong dikiiiiit banget populasinya di ffn :( makanya gue bikin ff gajelas gitu. Nanti deh gue mau bikin ff soonseok! Kalo ini udah tamat dah.
Happy reading!
=w=
=w=
Kim Taehyung berjalan dengan sangat lemas menuju bangkunya, wajahnya tampak sedikit tidak sehat. Akibat kejadian semalam yang membuatnya terisak 4 jam penuh hingga akhirnya ketiduran.
Melihat itu, Jungkook memperhatikannya "Kau kenapa?" Tanya Jungkook pada Taehyung. Taehyung menggeleng sambil memegangi kepalanya. "Anni. Sepertinya aku sedikit sakit"
"Benarkah? Akan kuambilkan obat di UKS kalau begitu" Saat Jungkook hendak berdiri, Taehyung tak sengaja melihat Hoseok yg sedang memperhatikan kearahnya. Lebih tepatnya memperhatikan Jungkook.
"Ngg.. Aku rasa mengambilkan ku obat adalah ide yang buruk. Sebaiknya aku ke UKS sendiri. Kau dikelas saja" Jawab Taehyung dengan mimik cemas. Lalu Taehyung menoleh kearah Hoseok lagi. Hoseok menatap Taehyung tajam, tanpa basa basi Taehyung pun mengeluarkan coklat dari kantong jaketnya lalu melemparkan itu pada Jungkook dan berlari ke UKS. "Taehyung-ah ini apa?" Teriak Jungkook kepada Taehyung yang semakin berlari menjauh. Jungkook pun memperhatikan coklat yang ada didepannya, "Aku suka coklat" Jawabnya polos.
.
.
.
"Aku tidak menyangka kepindahan Hoseok kekelasku membawa sakit hati yang mendalam" Batin Taehyung sambil menekan dadanya yang serasa diinjak-injak itu. Ia berhenti sebentar dilorong yg sepi lalu menangis sebentar. "Aku benar-benar menyesal telah berharap banyak padanya" Gumam Taehyung sambil menghentikan isakannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya seorang lelaki berambut mint dari balik badan Taehyung. Itu adalah Yoongi. "Ya" Jawab Taehyung singkat sambil mengusap matanya kasar
"Matamu…. Sembap?" Yoongi berusaha menyentuh bawah mata Taehyung yang terlihat bengkak itu. "Sudahlah tidak usah ikut campur urusanku! Kau membuatku muak!" Taehyung pun menepis tangan Yoongi lalu meninggalkannya.
Yoongi masih mematung disitu dengan blank expression "Apakah aku salah?" Tanyanya dengan tatapan innocent.
#Taehyung POV
Oh ini benar-benar sakit. Apakah ini yang namanya sakit hati? Jika ini yang namanya sakit hati, Berarti aku sudah mengalaminya dua kali dalam hidupku.
Pertama, karena kepergian Jei, kedua, karena harapan palsu yang diberikan Hoseok padaku. Ah tidak, mungkin karena aku yang terlalu berharap padanya.
Aku harap ini adalah yang kedua dan terakhir aku merasakan sakit hati.
Aku berbaring di UKS untuk menenangkan pikiranku, tak lama kulihat Dr. Lay masuk kedalam UKS bersama Jimin. Mereka tampaknya terkejut saat melihatku tapi aku tak mempedulikannya. Yang kuinginkan kali ini hanyalah tenang tanpa melihat dua wajah yang membuatku sakit hati.
"Oh? Taehyung-ssi, Apa yg kau lakukan disini?" Tanya Dr. Lay, Jimin pun menyambung "Sepertinya dia habis menangis" Jimin memperhatikanku dengan jarak yang cukup dekat lalu dengan cepat aku mendorongnya.
"Aku tidak menangis!" Jawabku dengan keras. "Kau sakit apa?" Tanya Dr. Lay mendekatiku. "Aku merasakan sesuatu yang menekanku dibagian sini!" Jawabku sambil menunjuk dadaku. Tak sadar mataku sudah kembali berkaca-kaca, semakin aku menyentuh dadaku, semakin sering bayang-bayang wajah Hoseok menghantuiku, semakin sakit yang kurasakan.
"Sakit jantung?" Tanya Jimin sambil duduk disebelahku. Dr. Lay memukul kepala Jimin menggunakan penggaris. "Yaa! Kau kira Taehyung sudah tua?"
"Aku kira sakit jantung. Karena tidak mungkin dia sakit hati. Hati kan berada dibawah" Jawab Jimin. Oke jawaban yang masuk akal.
"Hmm.. Apakah kau habis ada masalah?" Tanya Dr. Lay. "Masalah seperti apa?" Tanyaku bingung dan tak sadar aku bernapas dengan sesegukan.
"Masalah apa saja. Yang membuatmu begitu sedih"
Aku mulai berpikir, apakah aku harus memberitahukan Dr. Lay soal masalahku dengan Hoseok dan kebencianku dengan Jungkook? Itu tidak mungkin! Aku pun memilih menggeleng "Tidak ada"
"Benarkah? Aneh sekali. Yasudah sebaiknya kau istirahat saja disini. Biar Jimin yang menemanimu" Jawab Dr. Lay lalu meninggalkan kami berdua. "Ok!" Jawab Jimin
Sementara Dr. Lay keluar dari UKS, Jimin mengamati wajahku yang lesu. "Yaa! Memangnya kau sakit apa?" Tanya Jimin yang mulai penasaran padaku. Aku menggeleng "Ini privasi! Kau tak boleh tau!" Jawabku. Lalu aku juga mulai penasaran padanya "Lalu kau? Memangnya kau sakit apa?"
"Aku cidera. Padahal ini belum masuk kan? Kkk~ pagi-pagi sudah cidera. Orang bodoh macam apa yang sudah cidera dipagi hari?" Jawabnya. Ia bahkan bisa menyindir dirinya sendiri?
"Pfft" Jawabku meremehkan lalu berusaha melupakan Hoseok dan Jungkook. Jei-ah.. Ternyata ada juga mahluk menyebalkan sepertimu. Bahkan, aku menyukai mahluk menyebalkan itu. Kkk~ Orang macam apa aku ini?
#Taehyung POV END
#Author POV
.
.
.
Saat hampir pulang, Taehyung pun kembali kekelas bersama Jimin. Betapa terkejutnya Taehyung saat melihat Hoseok duduk berdua dengan Jungkook. Bahkan mereka sedang bercanda gurau. Saat Jungkook menyadari kehadiran Taehyung, Jungkook pun berubah menjadi dingin pada Hoseok. Taehyung menatap Jungkook seolah mengatakan 'apa maksudnya ini?!'
"Eung.. Seonsaengnim menyuruh kami duduk berdua karena bangku mu dan bangku Jimin kosong. Per murid tidak boleh duduk sendirian" Jawab Jungkook dengan wajah panik. Hoseok menatap Taehyung dengan tatapan heran, seolah Hoseok baru mengenal Taehyung hari ini. Taehyung pun mencoba tersenyum "Baik, aku akan duduk dengan Jimin saja. Semoga kalian cepat akrab" Jawab Taehyung lalu membuang muka dan berjalan kearah bangku Jimin. Disana sudah ada tas Taehyung.
"Taehyung-ssi.. Gwechana?" Tanya Jimin padanya. Taehyung mengangguk kaku lalu duduk disebelah Jimin . Ia langsung duduk dibangku paling pojok dinding, padahal itu adalah tempat Jimin.
"Ngg.. kenapa kau duduk disitu?" Tanya Jimin. Taehyung tak menoleh kearah Jimin. Tapi ia menjawabnya "Agar aku tak dapat melihat mereka berdua. Aku berharap kau menutupi pemandangan menyeramkan itu" Taehyung pun menarik Jimin duduk disebelahnya. Setelah Jimin duduk, ternyata memang benar, Taehyung tak dapat melihat Jungkook dan Hoseok dengan jelas disitu.
"Sepertinya aku tau apa masalahmu" Gumam Jimin sambil memperhatikan Taehyung, Hoseok dan Jungkook secara berkala.
"Jangan sok tau" Jawab Taehyung kesal. "Sekalipun aku tau, aku akan tutup mulut" Gumam Jimin (lagi) Kali ini jawaban Jimin membuat Taehyung menghela nafas, semakin lesu dibuatnya.
Sudah berhari-hari Taehyung memutuskan untuk duduk bersama Jimin. Ia mulai betah duduk dengan Jimin karena Jimin pintar, juga tidak menyebalkan seperti Jungkook. Tapi tetap saja, Pemandangan 'itu' membuat Taehyung tidak nyaman.
"Bisakah kau ceritakan padaku apa masalahmu?" Tanya Jimin yang mulai penasaran karena sering sekali melihat mood Taehyung rusak secara tiba-tiba, Jimin juga takut membuat Taehyung tiba-tiba semakin kesal secara tiba-tiba, jadi Ia putuskan untuk menanyakannya dan kali ini harus dijawab olehnya.
Karena Taehyung sudah mulai percaya pada Jimin, Taehyung pun memutuskan untuk bercerita daripada harus memendamnya sendiri. Berbagi penderitaan mungkin dapat meringankan masalahnya, kan?
"Jadi begini.. Aku menyukai Hoseok. Mungkin karena kami berdua sering bertemu. Sebenarnya, aku juga bersahabat dengan Jungkook. Tapi Hoseok menyukai Jungkook. Ya.. Kau harus tau rasanya—" Taehyung tampak tak mau melanjutkannya.
"Aku sangat mengerti." Jawab Jimin lirih sambil memaksa untuk tersenyum.
"Bagaimana bisa?" Tanya Taehyung bingung. "Aku pernah merasakannya, merasa sangat mencintai seseorang kemudian orang itu menyukai orang lain." Jimin memperhatikan kedua sejoli yang membuat Taehyung terusir dan akhirnya duduk dengan Jimin di baris paling belakang kelas. "Menyakitkan, bukan?" jawaban Jimin dibalas anggukan pelan oleh Taehyung. "Apalagi Jungkook adalah sahabatmu."
Hening.
Jimin mengalihkan pandangannya kearah Taehyung lalu merangkul bahunya, "Oh ayolah jangan sedih seperti itu. Positif saja, jika Jungkook adalah sahabatmu, tidak mungkin Jungkook akan membalas perasaan si playboy itu. Jungkook pasti akan memikirkan perasaanmu."
Omongan Jimin dibalas senyuman kecil oleh Taehyung, ya. Jimin benar, Jungkook adalah sahabat Taehyung semenjak sekolah menengah pertama, dan harusnya Jungkook lebih memikirkan Taehyung, kan? Jadi Taehyung tak perlu khawatir.
-besoknya-
Pelajaran seperti biasa, tidak ada yang spesial hari ini. Jungkook dan Taehyung tetap bersenda gurau bersama, namun atmosfer akan mendadak canggung apabila Hoseok datang dan ikut bergurau dengan mereka. Jungkook sudah mencoba mengusir Hoseok namun Hoseok terus berlaku manja pada Jungkook, Taehyung sedikit muak melihatnya tetapi dengan fake smilenya, tidak ada yang tau apa yang Taehyung rasakan saat itu.
Setelah Hoseok pergi, Jungkook dan Taehyung duduk didepan kelas sambil memakan cemilan bersama. Kemudian terpikirkan oleh Taehyung untuk menanyakan sesuatu, "Jungkook-ah. Apa kau menyukai Hoseok? Kalian tampak akrab" ucap Taehyung lirih, Taehyung berusaha tidak membuat Jungkook terkejut atau semacamnya.
Jungkook malah tertawa mendengar pertanyaan Taehyung, "Jung Hoseok? Ayolah, kau kira aku ini kanibal? Aku tidak akan memakan temanku sendiri. Tenang saja, lagipula apa menariknya dia"
Jawaban yang bagus. Taehyung kini dapat tersenyum lega karena Jimin benar, Jungkook tidak akan merebut Hoseok darinya. "Baguslah, kau tau aku sangat percaya padamu, kan?" ujar Taehyung sambil tersenyum.
Sepulang sekolah, Taehyung meminta Jimin untuk mengantarkannya ke ruang kepala sekolah untuk mengambil bukunya yang tertinggal disana. Ketika Ia kembali kekelas, banyak siswa dari kelas lain mengerumuni kelasnya membuatnya bingung setengah mati.
Seolah tau apa yang mereka tonton, Jimin menyuruh Taehyung untuk duduk didepan kelas. "T-Taehyung-ah, duduklah disini. Akan kuambilkan tas-mu lalu mengantarmu pulang" ucap Jimin gugup sambil memaksa Taehyung duduk didepan kelas.
"Eh? Kau kenapa? Kalau kau mengantarku pulang, Jungkook bagaimana?" tanya Taehyung bingung sambil memperhatikan Jimin yang menerobos masuk kelas untuk mengambil barang-barangnya.
.
.
.
Ketika Jimin berada didepan papan tulis, Jimin melihat pemandangan yang cukup membuat speechless. Jung Hoseok berlutut didepan Jungkook.
"apa yang Hoseok lakukan disana?" Tanya salah satu murid dikelas. "Mungkin menyatakan perasaannya? Wah dia gentleman" Komentar salah seorang murid lainnya.
"Apa yang dilakukan si bodoh itu?" Tanya Jimin berusaha melewati Hoseok dengan mudahnya tanpa mau mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
"JEON JUNGKOOK..IF I'M A PETER PAN, WOULD YOU BE MY WENDY?" Hoseok pun menyatakan perasaannya didepan kelas dengan keras sambil memberikan bunga pada Jungkook. Jungkook pun tersenyum lebar seolah ia tak memikirkan perasaan Taehyung yg berada didepan kelas.
Jimin berhenti didepan bangkunya sambil mengamati keduanya, kemudian menyeringai meremehkan "Bodoh, Jungkook tak mungkin akan—"
"YEAH! I WOULD!" Jawab Jungkook sambil memeluk Hoseok.
"—menerimanya."
Para kerumunan murid yang melihatnya menyoraki mereka berdua. Jimin sangat shock dengan apa yang Ia dengar juga Ia lihat. Bagaimana bisa? Bagaimana dengan hubungan Taehyung dan Jungkook? Bagaimana Jungkook bisa menerimanya? Apa-apaan ini?
Jimin pun pura-pura tidak melihat mereka berdua lalu berjalan keluar dari kelasnya, jantungnya hampir saja copot ketika melihat Taehyung berdiri tepat didepan pintu kelas mengejutkannya.
"K-Kau tidak dengar kan?" Tanya Jimin dengan hati-hati . Taehyung menggeleng dengan lemas, walaupun ia menggeleng pertanda ia tak mendengarnya.. Tetapi Ia sebenarnya mendengar jawaban Jungkook tadi.
"Mm.. Mau makan ice cream?"
.
.
.
.
Saat didepan sekolah, Taehyung dan Jimin duduk di kedai eskrim dan makan eskrim bersama. Taehyung mematung dan hanya mengaduk-aduk eskrimnya hingga mencair, sedangkan Jimin malah memakan eskrimnya dengan terburu-buru lalu mencaci Hoseok.
Brak!
Jimin menggebrak meja membuat para pengunjung kedai menatapnya bingung, "Lelaki macam apa itu? Ia mengantarmu pulang? Lalu memberikanmu coklat dan menyuruhmu untuk memberikannya pada Jungkook? Apa dia tidak punya perasaan?"
Taehyung menghela nafasnya lesu, "Hentika—"
"Lalu Ia berani membuat Jungkook bahkan menyukainya? Aku yakin Jungkook awalnya tidak menyukainya. Bagaimana bisa Jungkook menyukai si bodoh itu?" Jimin tampak semakin emosi, Ia menyendokan eskrimnya lalu memakannya dengan emosi.
"Jimin-ah hentika—"
Satu sendok terakhir, "Jung Hoseok benar-benar sudah keterlaluan" Jimin pun akhirnya selesai dengan acara memakan eskrimnya.
"Jimin-ah, bisakah aku mengatakan sesuatu?" tanya Taehyung pelan, Jimin menatap Taehyung iba lalu mengangguk. "Katakan saja"
"Apakah.. kau menyukai Jungkook?"
On point.
Jimin menatap Taehyung sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ayolah tak perlu berbohong kepadaku" senyum lesu Taehyung Ia tunjukkan didepan Jimin membuat Jimin semakin iba melihat keadaan teman akrab barunya ini.
Jimin mengangguk, "Oke oke aku mengaku menyukainya dan.. keadaan kita saat ini sama. Tapi tidak separah kau. Aku ini kuat walaupun tersakiti, memangnya kau yang tampak seperti orang tidak makan 10 hari?" goda Jimin membuat Taehyung terkekeh. "Sejak kapan kau menyukainya?"
"Sejak SMP"
Taehyung membelalakan matanya, "Kau sudah gila? Itu lama sekali!" Jimin tampak menghitung dengan jarinya, "Eum, ya, mungkin sekitar 5 tahun" jawaban itu membuat Taehyung bertepuk tangan, "Kau benar-benar kuat ya. Tunggu, kukira Namjoon menyukainya? Karena yang sering menghabiskan waktu bersama Jungkook kan Namjoon bukan kau"
Jimin tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos dari Taehyung. "Namjoon? Kau tidak tau apa yang Namjoon dan Jungkook lakukan jika di perpustakaan?"
-Flashback-
Jimin duduk di salah satu bangku kosong didalam perpustakaan. Jauh dari Jungkook dan Namjoon yang sedang duduk bersebelahan. Jimin mengamati gerak-gerik mereka berdua dengan tatapan sengit, "Awas saja kau Kim Namjoon jika berani merebut kue kesayanganku" Gerutu Jimin sambil terus mengamati mereka berdua.
Jungkook membaca buku astronomi yang membuat dirinya tertarik hingga berkali-kali menampakan wajah kagumnya. Sementara Namjoon terus membaca novel berbahasa inggris yang Ia temukan di perpustakaan tanpa menghiraukan kelakuan Jungkook. Jika Taehyung mengklaim bahwa Jungkook adalah murid yang genius, maka Namjoon adalah murid yang 2x lipat lebih genius dari Jungkook.
Jungkook mengamati Namjoon bingung lalu mendekat "Hyung, apakah kau tidak penasaran dengan apa yang ada didalam black hole?" tanya Jungkook dengan matanya yang berbinar. Namjoon menoleh cuek kepada Jungkook lalu menggeleng, "Jeon Jungkook harusnya kau penasaran terhadap masa depanmu bukannya tentang black hole." jawab Namjoon, ia mulai menceramahi. Membuat Jungkook mencibir lalu cuek membaca lagi.
Dari kejauhan, Jimin terkekeh "Kau sahabat yang baik, Namjoon-ah. Di waktu yang bersamaan kau juga kejam. Bagaimana bisa kau memperlakukan Jungkook dengan sesadis itu? Dia hanyalah seorang bocah yang penasaran. Dasar genius menyebalkan" Jimin menggerutu (lagi).
-Flashback END-
"Mereka lucu. Dan, Jungkook terkesan sangat polos. Berbeda dengan sekarang" Taehyung yang awalnya terkekeh mendengar cerita Jimin kini kembali muram karena mengingat bahwa Jungkook bukan milik Namjoon atau Jimin. Melainkan Jung Hoseok.
Melihat mood yang kembali rusak, Jimin berkemas "Baiklah saatnya pulang" Jimin pun menarik Taehyung pergi.
.
.
.
.
"Annyeong!" Seru Hoseok pada anak-anak panti. Menyadari keberadaan Hoseok, mereka berlari mendekati Hoseok sambil berseru senang membuat hati Hoseok menghangat, Hoseok memang sangat menyukai anak-anak. Hoseok tersenyum senang sebelum salah seorang anak bertanya "Kemana Taehyung oppa?"
"Sebentar lagi dia akan datang" Jawab Hoseok sambil tersenyum kepada mereka walaupun sebenarnya Hoseok tidak yakin apakah Taehyung akan datang atau tidak.
"Tidak seru jika tidak ada Taehyung hyung. Pasti Hoseok hyung kesepian" Gumam salah satu anak disitu. Mereka pada berbisik, berhubung umur mereka kurang dari 10 tahun, mereka sangat polos sehingga jika berbisik sangatlah keras dan Hoseok dapat mendengarnya. Hoseok hanya menghela nafas dan mengatakan "Aku dan Taehyung tidak ada hubungan apa-apa. Kalian benar-benar salah sangka ya.. Kkk~"
2jam kemudian
"Baiklah, saatnya aku pulang. Annyeong" Seru Hoseok sambil melambai pada anak-anak panti asuhan. "Ne annyeong" Jawab anak-anak serempak walau tidak seramai saat ada Taehyung.
Saat Hoseok membereskan barang-barangnya, Boa ahjumma datang kepada Hoseok dan mengajak Hoseok duduk ditaman untuk minum teh.
.
.
.
"Kenapa Taehyung tidak datang?" Tanya Boa sambil meneguk segelas teh. Hoseok tersenyum masam "Mana ku tau. Kami tidak ada hubungan apa-apa." Jawabnya sedikit cuek sambil meminum tehnya.
"Apakah kau ada masalah dengan Taehyung?" Tanya Boa pada Hoseok. Hoseok menggeleng "Tentu saja tidak" Jawabnya singkat.
"Kalau begitu coba hubungi dia. Aku benar-benar khawatir terhadapnya. Kalian berdua sudah kuanggap sebagai anak sendiri" Ujar Boa. Mendengar kata-kata Boa, Hoseok merasa bersalah telah membentak Boa tadi. Hoseok pun membuka ponselnya, dan mencari kontak Taehyung, tapi Ia tak yakin untuk menghubunginya entah kenapa.
"Besok kan aku bertemu dia di sekolah" Kata Hoseok sambil memasukkan ponselnya ke saku nya kembali. "Apa kau merasa bersalah padanya terhadap suatu hal?" Tanya Boa. Hoseok terdiam sejenak. Ia memang merasa bersalah pada Taehyung terhadap suatu hal. Tapi ia tak tau apa yang janggal dari nya dan Taehyung.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
.
.
Eheheh sorry apdetnya lama, thanks ya yg uda review :'3 walopun dikit banget gapapa deh yang penting ada yg review :v nah sekarang review lagi deh buat lanjut chapter selanjutnya.
