Hehehehe/?

Gue kambek dengan tampang tak bertanggungjawab, maaf uda nganggurin ff ini selama bertaun taun/? Sekarang saatnya melanjutkannya :'v

.

.

Happy reading!

=w=

.

.


=w=

.

.

Di halaman belakang, Taehyung sedang menidurkan dirinya dibawah pohon rindang sambil mendengarkan lagu. Ia meletakkan tangannya tepat diatas matanya. Menikmati hembusan angin dan musiknya.

I see you walking down the street
I see you coming back inside
I know you're wondering what all this means to you
I know you're breaking down tonight
but do you know how much it hurts
to see you closing back that door ––
((Oohyo – Grace))

Taehyung merasa seseorang duduk disebelahnya dan melepas earphone nya, itu Jungkook.

"Mari bicara" Jungkook berintonasi serius kali ini. Taehyung mendudukan badannya dan menatap lurus kedepan, tidak ingin sekalipun menatap Jungkook. "Aku minta maaf, aku—"

"Kumaafkan. Pergilah"

Jungkook menatap Taehyung, "Aku harus menjelaskannya, kau pasti akan mengerti" Taehyung tersenyum sambil beranjak berdiri. "Aku mengerti, sekarang pergilah."

"Taehyung-ah"

"Atau aku yang pergi?"

"Taehyung-ah kumohon mengertilah, pahami perasaanku" ucapan Jungkook kali ini membuat Taehyung sedikit emosi, "Pahami? Kau bahkan tidak memahami perasaanku! Bagaimana rasanya ditikung oleh teman sendiri? Kau bahkan tidak tau rasanya. Kau mengatakan bahwa Hoseok adalah seorang berandal yang tidak pantas disukai tapi akhirnya kau menerimanya juga, bukan? Kau lebih memilih menjilat ludahmu sendiri dibanding konsisten dan memikirkan temanmu, ah bahkan kita sudah bukan teman. Sudahlah, aku harus kembali kekelas. Ngomong-ngomong longlast, ya. Aku tidak akan mengganggu kalian. Tenang saja" Taehyung berjalan cepat menuju kelasnya setelah menumpahkan seluruh isi hatinya yang selama ini mengganjal. Lega, pikirnya.

.

.

.

Sudah dua hari Hoseok dan Jungkook menjalin hubungan, sudah dua hari juga pertemanan Jungkook dan Taehyung merenggang. Taehyung sudah tidak pernah pulang bersama Jungkook lagi karena Jungkook pasti akan diantar pulang oleh pangerannya —Jung Hoseok— bukan hanya mereka berdua yang mengalami kerenggangan hubungan, Jimin dan Hoseok juga. Hoseok jadi jarang berkumpul dengan teman gengnya, mungkin karena ada Jimin —Hoseok tidak mungkin tidak tau menau tentang perasaan Jimin terhadap pacarnya— sesekali Hoseok akan menyapa para temannya tanpa menoleh kearah Jimin. Seperti saat ini,

Jimin, Yoongi, Jin dan Namjoon sedang berada dikantin sambil membicarakan film yang akan mereka tonton sepulang sekolah nanti. "Aku dengar film itu terlalu menyeramkan, bukankah orang ini akan ketakutan dan memilih untuk menunggu kita menonton didepan bioskop?" sindir Yoongi sambil menunjuk Jimin, Jimin hanya menghela nafas "Yah, aku tidak se-cengeng yang kau kira"

Jin terkekeh sambil membaca jadwal film di ponselnya "Aku sudah terlanjur beli 5 tiket dan jangan sampai si crybaby ini mengacaukan segalanya" Jin pun ikut menyindir Jimin, Ia hendak menoleh kearah Jimin namun satu objek yang berada dibelakang Jimin menarik perhatiannya, "Jung Hoseok-ah!" Panggil Jin sambil melambaikan tangannya kearah Hoseok yang menatapnya bingung lalu mendekat. "Ada apa hyung?" tanya Hoseok dengan wajah bingung, sama sekali tak menatap Jimin.

"Kau mau ikut kita menonton sepulang sekolah? Kau bisa—"

"Maaf, aku sudah ada janji menemani Jungkook ke perpustakaan kota. Mungkin lain kali, nikmati waktu kalian" Hoseok tersenyum lalu menepuk pundak Jin dan pergi begitu saja. Yoongi dan Namjoon ikut tercengang melihatnya. "Hey, Ia lebih mementingkan pacarnya" ucap Jin tak percaya, sementara Yoongi yang mengetahui segalanya mengusap pundak Jimin, "Setauku, Park Jimin bukanlah orang yang lemah" ucap Yoongi sambil tersenyum pada sahabatnya ini. Mendengar ucapan Yoongi, Jimin tersenyum lalu mengangguk.

Berpura-pura kuat didepan semua orang, tidakkah rasanya menyakitkan, eh?

Namjoon yang tidak ingin mencampuri urusan Jimin—Jungkook—Hoseok memilih untuk memikirkan hal lain yang pantas dibicarakan. Kemudian Ia teringat sesuatu, "Ya! Bagaimana ini? Bukankah kau sudah memesan 5 tiket?" tanya Namjoon pada Jin, Jin pun membelalakan matanya "Astaga! Bagaimana ini? Jung Hoseok benar-benar kurangajar—"

"Aku akan mengajak satu orang lagi. Bagaimana? Jadi tiket itu tidak perlu hangus?" tanya Jimin pada ketiga temannya, Jin mengangguk mantap "Ah leganya. Siapa yang akan kau ajak?"

Kim Taehyung, mungkin?

.

.

.

.

"Jimin-ah, apakah mereka tidak terganggu jika aku ikut?" tanya Taehyung memastikan, Jimin terus berjalan sambil membenarkan jaketnya "Ayolah, mereka sangat terbuka. Satu-satunya yang menyebalkan diantara kami hanya Jung Hoseok" tuturnya. Taehyung menatap Jimin bingung, "B-bagaimana dengan Min Yoongi? Ketika Ia menatapku, seolah Ia sangat membenciku"

Jimin berhenti di lorong kelas 1 sambil tertawa, "Hahaha, Min Yoongi? Ia memang seperti itu. Tapi dibalik tatapannya yang menyeramkan, Ia adalah orang yang sangat baik" ucap Jimin berusaha meyakinkan Taehyung. Mereka berdua sedang berjalan menuju parkiran sekolah untuk pergi ke bioskop. Jimin akan membonceng Taehyung agar Taehyung tidak merasa sendiri. Akhir-akhir ini setelah insiden 'Hoseok's confession' terhadap Jungkook, Taehyung lebih sering menyendiri dan berbicara dengan gelang kayunya. Itu membuat Jimin yang sering mengamatinya sedikit khawatir.

.

.

.


.

.

.

Jin, Namjoon dan Yoongi sudah berada di cafe yang disediakan di area bioskop. Mereka bertiga sibuk bercerita tentang hal random, mulai dari perubahan sikap Hoseok, merenggangnya hubungan Jimin dan Hoseok yang dulunya paling akrab diantara mereka berlima, serta Jungkook. Ya, walaupun Jungkook tidak mengusik Yoongi, Jin ataupun Namjoon tapi Jungkook merupakan suatu masalah bagi Jimin juga Hoseok. "Bukankah ini terlalu mendramatisir? Mereka berebut Jungkook dan akhirnya hubungan mereka merenggang seperti ini." Keluh Jin sambil menatap foto yang ada didalam dompetnya, ya itu foto mereka berlima. Dirinya, Namjoon, Yoongi serta Hoseok dan Jimin yang bersebelahan, berpose merangkul satu sama lain dengan senyum bodoh mereka. Yoongi yang duduk dihadapan Jin hanya menyilangkan tangannya didepan dadanya, "Bukan hanya hubungan mereka yang merenggang. Hubungan Jungkook dan Taehyung juga" Yoongi menyuara.

Namjoon dan Jin menoleh kearah Yoongi. Namjoon tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut, tapi Jin.. "Kenapa? Ah karena mereka selalu pulang berdua, kan? Sekarang Jungkook lebih sering—"

"Kau ini tidak peka atau bagaimana, hyung?" Yoongi menatap Jin tak percaya. Jin selama ini yang paling sering menggosip tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara Jungkook dan Taehyung —wajar saja jika tidak tau karena mereka berlima tidak akrab dengan Taehyung maupun Jungkook dikelas— "Anggap saja Taehyung adalah Jimin" lanjutnya.

Jin mengangguk tau, "Oh? Jadi Taehyung menyukai—"

"Annyeong!" Sapa Jimin membuat Jin menghentikan kalimatnya. Mereka bertiga menoleh kearah Jimin sambil melambaikan tangan, "Apakah aku telat?" tanya Jimin yang dibalas gelengan oleh Yoongi. "Filmnya dimulai 5 menit lagi"

"Taehyung-ah, wasseo?" Namjoon menyapa Taehyung hanya sekedar basa-basi karena merasa bahwa Taehyung sedikit gugup. Taehyung tersenyum sambil membalas sapaan Namjoon. "Hey, ini Taehyung. Kuharap kalian tidak menakutinya." Jimin memperkenalkan Taehyung kepada mereka.

Jin tersenyum, "Ah, aku ini sangat welcome. Senang melihatmu. Kita sekelas tapi kita tidak pernah berkomunikasi, ya?" Taehyung terkekeh sambil mengangguk, "Aku juga heran kenapa kita bisa tidak pernah berkomunikasi" jawab Taehyung.

Namjoon menatap mereka sambil memperlihatkan lesung pipitnya, "Aku saja tidak sekelas dengan Taehyung tapi pernah sesekali berbicara" ucapan Namjoon dibalas tatapan bingung oleh Taehyung, "Kapan?"

"Ingat ketika hari pertama menjadi anak SMA? Kau hendak mengambil buku sosiologi di perpustakaan tapi karena kau tidak sampai akhirnya kau memaksaku untuk mengambilnya. Kau bahkan hari itu memanggilku 'sunbae' karena tinggi badanku" jelas Namjoon yang dibalas pertanyaan beruntun dari Jin dan Jimin seperti 'benarkah?' 'apakah kau serius?'

Taehyung tampak berpikir, "sebenarnya hari itu aku memanggilmu sunbae karena wajahmu terlalu tua untuk anak kelas 1" dan jawaban Taehyung sukses membuat semua tertawa termasuk Yoongi yang mendapat predikat orang terkalem digrup.

.

.

.

Ketika sedang didalam bioskop, Jimin bersebelahan dengan Taehyung. Mereka sedang menonton film horror. Taehyung dan yang lainnya fokus dengan filmnya sambil memakan popcorn, sementara Jimin terus saja berkutat pada ponselnya, mencari kesibukan sendiri. Merasa terganggu dengan cahaya dari ponsel Jimin, Taehyung reflek merebut ponsel Jimin dan itu sukses membuat Jimin mendesah kecewa. "Ah, Tae—"

"Fokus lah pada filmnya." Ucap Taehyung, Jimin akhirnya menatap layar bioskop. Ketika hantu di film menampakkan diri, Jimin memekik terkejut dan itu cukup menyita perhatian Taehyung. dasar penakut, pikirnya. "Hey, mau pinjam tangan?" tawar Taehyung sambil mengulurkan tangannya untuk Jimin genggam. Jimin mengerjapkan matanya bingung, "Jungkook sering menggenggam tanganku jika Ia menonton film horror. Dan Ia sering meletakkan tanganku didadanya, katanya agar Ia menjadi lebih tenang dalam menonton film"

Deg.

Jimin dan Taehyung sama-sama tersadar. Jika itu kebiasaan Jungkook, bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila Hoseok dan Jungkook menonton film berdua. Apalagi Jimin sangat tau bahwa Hoseok adalah orang mesum.

Kemudian mereka berdua menghela nafas berat. Galau lagi?

Jimin menarik tangan Taehyung lalu menggenggamnya, Taehyung tidak menunjukan reaksi apa-apa —masih galau mungkin?—selama film itu berlangsung, Jimin menggenggam erat tangan Taehyung.

.

.

.


.

.

.

"Annyeong!" Taehyung masuk kedalam ruang bermain panti asuhan dengan senyum lebarnya seperti biasa. Anak-anak yang berada didalam panti asuhan bersorak gembira melihat Taehyung, disitu juga ada Hoseok namun Ia tak menunjukan reaksi apa-apa.

Taehyung meletakkan tasnya dikursi panjang yang sedang diduduki Hoseok, Hoseok memperhatikannya, "Kenapa masih mengenakan seragam?" tanya Hoseok mencoba membuka pembicaraan agar tidak canggung. Taehyung tanpa menatap Hoseok menjawab "Baru saja selesai menonton bersama gengmu" jawab Taehyung lalu pergi bermain dengan anak-anak panti. Sedikit menyindir, eh?

Selama kegiatan di panti asuhan, Taehyung terlihat jelas sekali sedang menjaga jarak dengan Hoseok. Hoseok terus mencoba berbicara dengan Taehyung namun Taehyung hanya menjawab seadanya. Lelah juga menghadapi orang seperti itu, pikir Hoseok.

Ketika anak-anak sedang makan malam, Hoseok sadar bahwa Taehyung sudah tidak diruangan. Hoseok pun hendak mencari udara segar di taman, namun Taehyung terlihat sedang duduk di ayunan yang berada di taman sambil mengusap gelangnya.

"Jei-ah, aku bisa gila karenamu. Kau tau? Jimin sering mengataiku gila karena sering mengajak gelang ini berbicara" Taehyung terkekeh, "Jika kau bukan khayalanku, tampakkanlah dirimu. Aku tidak ingin—"

"Sedang apa?" Hoseok menyela omongan Taehyung membuat Taehyung sedikit terkejut "Oh, tidak." Taehyung cepat-cepat mengenakan gelangnya lagi. Hoseok yang memperhatikannya menggumam, "Mm, kenapa kau sering sekali mengajak benda itu berbicara. Apakah itu benda yang sangat berharga?"

Taehyung menghela nafas, "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu bahwa benda ini sangatlah berharga?" Taehyung meninggikan nada bicaranya lalu beranjak dari tempatnya dan hendak meninggalkan Hoseok.

Srett

Dengan cepat Hoseok menahan lengan Taehyung agar Ia tidak pergi meninggalkan Hoseok. Taehyung menatap Hoseok kesal, "Apa yang kau lakukan?" tanya Taehyung sambil mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman Hoseok. "Kau ini kenapa sebenarnya? Anak-anak mengkhawatirkanmu. Sikapmu benar-benar membuatku frustasi karena anak-anak terus bertanya kepadaku"

Mendengar ucapan Hoseok, Taehyung semakin emosi. Kenapa katanya? "Kalau begitu hiraukan saja mereka jika kau tidak suka kalau ada yang bertanya—"

"Astaga jangan salah paham. Aku hanya ingin tau sebenarnya kau kenapa. Ceritakan padaku, aku mungkin bisa mengerti—"

"Jung Hoseok kau tidak mengerti! Kau sama saja dengan Jungkook. Pura-pura paham apa yang kurasakan, pura-pura bersikap menyemangatiku tapi kalian sendiri semakin menyakitiku. Kau ini memakai berapa topeng, sih!?" bentakan Taehyung bukan membuat Hoseok sedih atau frustasi, justru membuatnya semakin bingung. "Kau ini bicara apa?"

"Jungkook mengatakan bahwa kau adalah berandal yang tak pantas disukai tapi dia malah menerimamu. Dan kau! Jika kau menyukai Jungkook, langsung dekati dia saja! Bersikaplah gentle! Jangan menjadikan temannya sebagai korban bualan manismu! Kau tidak tau bagaimana sakitnya menahan rasa suka, padahal orang itu menyukai oranglain. Kau tidak tau rasanya jadi menjauhlah dariku!" Bentaknya, lega lagi yang Ia rasa. Sebelum,

Hoseok mengerjapkan matanya berkali-kali, "Kau—"

.

.

.

"—menyukaiku?"

Skakmat.

Jantung Taehyung rasanya seperti berhenti berdetak, Ia bingung harus bereaksi apa melihat Hoseok yang menatapnya bingung, berpikir Tae, berpikir! Kau ini anak sastra, bisakah kau sedikit mengarang agar Ia berhenti berpikir kalau kau menyukainya? —hanya debat antara pikiran dan hati nurani seorang Kim Taehyung—

Taehyung terkekeh dengan paksa, "Eheh bukan bodoh. Kau tau kalau Jimin menyukai Jungkook kan? Jimin itu sahabatmu kan? Kenapa kau tega menikungnya seperti ini? Kau tidak tau rasanya sakit hati?" Improvisasi yang bagus.

"Itu—"

"Tidak perlu kau jelaskan. Lagipula kau tidak akan tau rasanya" Taehyung meletakkan telapak tangannya didepan mulut Hoseok agar Ia berhenti berbicara. "Ini sudah malam, aku harus pulang"

"Lalu apa maksudmu untuk menjauhimu?" Hoseok bertanya, Taehyung merasa tersudutkan lagi. "Ya itu hanya agar hidupku lebih tentram saja. Aku hanya risih jika berteman dengan orang yang memiliki pacar" Improvisasi yang—sedikit konyol?

Hoseok tersenyum bingung, "Apa maksudnya sih?" tanyanya makin bingung. "Bisakah kau berhenti bertanya. Sudah aku mau pulang" Taehyung berjalan menuju gerbang panti asuhan. Hoseok mendongakkan kepalanya menatap langit malam, "Kemana bintang-bintang yang sering kulihat?" ucap Hoseok bermonolog.

"Ya! Kau naik apa?" tanya Hoseok sedikit lantang agar Taehyung mendengarnya, "Jalan kaki." Jawabnya cuek, Hoseok menggendong tasnya, "Kau yakin? Kurasa sebentar lagi akan—"

Jdar!

Genius Hoseok. Setelah bunyi petir menyela ucapan Hoseok, hujan deras buru-buru mengguyur kota. Taehyung kembali ke halaman panti asuhan dengan basah kuyup. Hoseok menatapnya kasihan, "Sudah kukata—" "Diam." Tegur Taehyung membuat Hoseok bungkam.

"Taehyung-ah, apakah kau tidak mau ganti dulu?" Boa ahjumma menawarkan, namun Taehyung menggeleng sopan. "Tidak usah, aku akan langsung pulang saja. Jika ahjumma tidak keberatan—" Taehyung sengaja menggantungkan kalimat lanjutannya karena Ia sangat malu untuk meminta antar Boa ahjumma.

"Aku sangat ingin mengantar salah satu dari anakku ini, hanya saja Jiyong —adik kandung Boa—belum pulang kuliah. Kau tau kan mobilku selalu dibawa olehnya?" Boa mengusap pipi Taehyung dengan handuk lalu mulai mengeringkan rambutnya. "Hoseok-ah, kau kesini dengan apa?"

"Mobil, ahjumma" Hoseok tersenyum sopan pada Boa dan dibalas senyum cerah Boa, namun Taehyung cepat-cepat menyela "Ah, T—tidak usah repot-repot Hoseok-ssi, aku bisa—"

Srasshh

Hujan tampak semakin deras, Taehyung merutuki dirinya yang dilanda sial. Kenapa alam sedang tidak berpihak padanya?

"Kau mau besok membolos disaat ada ulangan sejarah?" Hoseok mengingatkan membuat Taehyung dengan cepat menarik tangan Hoseok keluar dari halaman, "Ahjumma aku pulang dulu"

"Baiklah hati-hati." Boa melambaikan tangan kepada keduanya, "Ah mereka sangat manis jika bersama"

.

.

.

Didalam mobil, Taehyung melepas jaketnya yang basah akibat hujan dadakan tadi. Seluruh tubuhnya basah kuyup, Hoseok yang baru saja memposisikan dirinya melihat Taehyung, "Kau tidak kedinginan?" tanyanya sambil memberi Taehyung tissue untuk mengelap wajahnya yang lagi-lagi kehujanan akibat menyebrang. "Ah, seingatku aku memiliki mantel" Hoseok membalik tubuhnya untuk melihat apakah ada mantel yang Ia bicarakan di jok belakang, dan ternyata ada. "Ah ini" Hoseok memberikan mantel itu kepada Taehyung.

Taehyung menerimanya dengan sukarela bukan karena Ia sudah tidak marah pada Hoseok, hanya saja Ia memang mulai kedinginan. "Terimakasih" Taehyung berkata lirih hingga hampir tak bersuara.

Setelah mobil yang Hoseok kendarai melaju, Taehyung sudah memakai mantel pemberian Hoseok. Rasanya.. hangat. Taehyung suka, tentu saja Ia menyukainya karena Taehyung masih menyukai Hoseok. Hanya saja semenjak Hoseok menjadi milik sahabatnya, Taehyung berusaha untuk membenci Hoseok.

Perjalanan berlangsung hening tanpa adanya percakapan, sebelum mata jeli Taehyung menangkap sosok Jimin yang sedang duduk memeluk lututnya dihalte dekat sekolahnya. "Oh! Bukankah itu Jimin?" pekikan Taehyung membuat Hoseok memelankan laju mobilnya, "Turunkan aku disini"

"Tunggu, kenapa?"

"Aku ingin naik bus saja. Lagipula aku tidak ingin merepotkanmu. Cepat berhenti" Tegas Taehyung memaksa, "Kau akan kehujanan lagi" "Aku tidak peduli. Ayolah cepat turunkan"

Ciit.

Mobil yang Hoseok kendarai berhenti tepat didepan Jimin, Jimin tidak menatapnya karena Ia menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Suara hujan juga membuat Hoseok yang berhenti didepannya tidak ketahuan, ketika Taehyung hendak melepas mantelnya, Hoseok mencegahnya. "Tidak usah dilepas. Bawa saja, agar kau tidak kedinginan" kata Hoseok sambil mengamati pergerakan Taehyung.

"Baik, jika kau tidak keberatan. Terimakasih" Taehyung keluar mobil dengan cuek lalu duduk tepat disebelah Jimin.

Hoseok masih berdiam didalam mobilnya, jari-jarinya mengetuk setir mobilnya, Ia terus menoleh kearah Taehyung tiap detiknya. Kemudian dengan nekat Ia keluar mobil, dan menghampiri Taehyung "Aku berubah pikiran. Cepat masuk mobil"

Taehyung yang terkejut lalu mendorong Hoseok "Kau ini apa-apaan?"

Hoseok menatap Taehyung kesal dan—khawatir? "Bagaimana jika ada orang jahat yang lewat?"

"Satu-satunya orang jahat disini adalah kau. Pergilah" Taehyung terus mendorong lengan Hoseok, namun Hoseok mencengkram tangan Taehyung dengan erat membuat Taehyung mengerang frustasi, "Argh lepaskan!"

"Suara ribut apa ini?" Jimin mengangkat kepalanya berusaha melihat sumber suara yang membuat tidurnya terganggu. "Taehyung? H-Hoseok?" Ia bingung melihat kedua temannya disampingnya.

.

.

.

.

"Sekarang pulanglah. Jangan khawatirkan kami, khawatirkan saja Jungkook-mu." Ucap Jimin sarkastik. Hoseok menghela nafas, "Baiklah. Jaga diri kalian"

Hoseok pun akhirnya pergi. Kini di halte tinggal Jimin dan Taehyung. Jimin menatap Taehyung, meminta penjelasan mengapa Ia dan Hoseok bisa berada disampingnya dan berdebat? Taehyung pun menceritakannya dan Jimin percaya. "Wah, mantel milik Hoseok" Jimin menyentuh mantel yang Taehyung kenakan. Taehyung memutar bola matanya malas "Ia menyuruhku mengenakan ini agar aku tidak kedinginan" jawaban Taehyung dibalas tawa yang tertahan oleh Jimin, "Pfft, se-playboy itukah dia?"

Ucapan terakhir Jimin tidak dibalas oleh Taehyung, Taehyung menundukkan kepalanya, "Jimin-ah"

"Hm?" Jimin menoleh kearah Taehyung sambil memperhatikan raut wajahnya. "A—aku tidak bisa membencinya"

.

.

.

.

.

-TBC-


.

.

.

Hehehe/?

Selesai sudah chapter 3 :'v

Minggu depan gue bakal berusaha lanjutin ff BTS! Jadi tunggu ye, btw Seventeen mau kambek aaaaa :'v pas ultah gue lagi kan bahagia bege :'v

Review manteman!