Wey wey wey

Bwijei is back :v sesuai janji, setelah ngelanjutin BTS chapter 7, akhirnya gue memutuskan untuk ngelanjutin ini ff. Berhubung liburan jadi jarang ada kata 'sibuk' :'3

Trus kemaren di chapter sebelomnya ada yang berhasil nebak siapa Jei sebenarnya, hayo siapa? Apakah Hoseok? Jimin? Atau anak bangtan lainnya? Atau cast baru lagi? Hayo hayo tebak dong biar seru :'D Ini ntar cinta mereka bukan cinta segitiga, tapi makin ribet lagi :'v

Oke maaf bikin kalian nunggu, here we go!

Happy reading!

=w=

.

.


=w=

.

.

Minggu

10:10 AM KST

Taehyung berguling diatas ranjangnya dengan malas ketika ponselnya berdering tanda ada telepon masuk. Dengan lemas ia mengambil ponselnya lalu menatap layarnya dengan mata setengah terpejam, ini masih pagi kenapa ada saja orang yang menelponnya.

"Hm?" Taehyung berdehem, terlalu malas untuk menyapa orang yang ada diseberang sana. "Ah, Taehyung-ah!"

Taehyung membelalakkan matanya ketika mendengar suara yang tidak asing. "Jimin? Untuk apa kau menelpon sepagi ini?" tanya Taehyung sambil berguling untuk merebahkan badannya. "Ah. Kemarilah, ibuku memasak brownies! Ada Namjoon dan Jin juga"

"Kerumahmu maksudnya?" pertanyaan Taehyung dibalas dengan deheman oleh Jimin, "Aku sedang sibuk, lagipula aku harus menjaga rumah." Jawabnya, Jimin menghela nafas "Yah, padahal brownies buatan ibuku enak."

Taehyung terkekeh mendengar keluhan Jimin yang layaknya anak kecil, "Kkk~ mungkin lain waktu, Jimin-ah." Ucapnya, "Baiklah. Semoga harimu menyenangkan!"

Jimin pun memutus sambungan.

Taehyung menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan, jika Jei masih ada mungkin ia tidak akan bangun sesiang ini. Jei biasanya melempar batu kerikil ke jendela Taehyung untuk mengajaknya bermain jam 6 pagi.

"V-ah, ayo bermain. Jangan diam diatas benda itu terlalu lama. Kau akan terlihat seperti orang mati" Taehyung tersenyum kecil setelah menirukan nada bicara Jei yang ia ingat, kemudian senyum itu memudar, "Apakah kau nyata?" Ia menghela nafas kemudian melanjutkannya "Atau aku yang gila?"

Ting!

Ia menatap layar ponselnya, "Aku lupa kalau aku punya " ucapnya pelan lalu membuka aplikasi , banyak sekali pertanyaan dari anonymous maupun dari user tak dikenal.

anonymous: chukkae karena berhasil berpacaran dengan Jung Hoseok. Oops! Apakah aku salah kirim? Hahaha

Anonymous: makan itu bodoh!

Xxcherry: akhirnya Jungkook mendapatkan apa yang seharusnya Ia dapat.

wonbeanie: bagaimana rasanya melihat sahabatmu bahagia bersama orang yang kau sukai?

Taehyung merasa tertohok ketika membaca berbagai pertanyaan menyakitkan itu, sebanyak itukah hatersnya? Kemudian matanya tertuju pada satu pertanyaan,

Kkwonfire: Aku hanya berharap sahabatmu mendapat karma yang seharusnya :) Kim Taehyung himnae!

Taehyung tersenyum melihat pertanyaan dari salah satu user yang merupakan teman sekelasnya itu, "Tsk. Kau pembangkit mood ku, Kwon Soonyoung"

Baru saja hendak menutup aplikasi, tiba-tiba ada 1 pertanyaan baru. Ia pun membukanya dan terkejut membaca pertanyaan itu.

Anonymous: Apakabar V, apakah kau sedang bersedih? Aku siap menghiburmu! :D

Taehyung berusaha memahami pertanyaannya, tidak. Lebih tepatnya Ia berusaha mengingat siapa saja yang tau nickname 'V' nya selain Jei.

Jawabannya tidak ada.

"APA INI JEI!?" Taehyung teriak terkejut lalu cepat-cepat membalas pertanyaannya, "Darimana kau tau nicknameku?"

Sent.

1 menit kemudian,

Anonymous: Tentu saja aku tau. Aku Jei

Deg.

Taehyung mengerjapkan matanya berkali-kali sambil membaca jawaban yang dilontarkan anon tadi. Jadi semua ini bukan khayalan Taehyung. Jei benar-benar ada!

Kemudian Taehyung menjawabnya, "Berhenti usil padaku. Jika kau membenciku katakan saja. Ini tidak lucu" jawabnya.

Anonymous: Terserah kau saja, penakut.

Oke, satu lagi julukan yang hanya diketahui Jei saja. Penakut. Julukan yang Jei berikan kepada Taehyung saat masa kanak-kanak dikarenakan Taehyung memang sangat tidak suka bermain terlalu jauh dari rumah, sementara Jei memiliki jiwa petualang sehingga sering mengatai Taehyung penakut.

Kemudian Taehyung percaya bahwa itu Jei, ia tersenyum sambil menitikkan air mata karena terlalu senang, "Astaga kemana saja kau? Aku disini merindukanmu!"

Anonymous: Aku berada disuatu tempat yang sangat jauh. Kan sudah kukatakan kalau kau merindukanku pakailah gelangnya.

Melihat jawaban Jei, Taehyung menatap gelangnya lalu mengelusnya pelan "Kau kira itu cukup?" Taehyung cepat-cepat mengirim jawabannya.

Anonymous: Maafkan aku telah membuatmu merindukanku. Kau tau? Aku tak pernah melepaskan gelang itu kkk~

Taehyung terus menjawab pertanyaan Jei hingga ia lupa kalau ia baru bangun tidur dan belum membersihkan rumah sama sekali. Sementara waktu terus berjalan. Sudah dua jam Taehyung dan Jei saling membalas hingga tak sadar waktu, kemudian bel depan rumahnya berbunyi mengharuskan Taehyung untuk menghampirinya.

Sampai didepan gerbang Taehyung terkejut melihat Jimin membawa sekotak bekal, "Jimin-ah darimana kau tau rumahku?" tanya Taehyung sambil membukakan gerbang, Jimin mengerdikan bahunya "Aku hanya menebak"

Alasan yang cukup konyol.

"Dan apa ini?" tanya Taehyung lagi sambil membuka kotak bekal yang Jimin bawa, "Itu brownies ibuku. Aku membawakannya untukmu karena kau tak bisa kerumahku" Jawabnya santai. Taehyung mengangguk, "Baik terimakasih" ucap Taehyung sambil menutup kembali kotak bekal itu.

"Hey, PR matematikamu sudah?" Jimin bertanya, Taehyung menoleh kearah Jimin dengan ekspresi datarnya "Aku? Belum hehe"

"Tidak mau mengerjakannya sekarang? Aku sudah selesai, Namjoon membantuku tadi.. Ya walau ada beberapa yang belum" Jimin mencoba memberikan penawaran, Taehyung tentu saja senang. Ia mengangguk mantap lalu menyuruh Jimin masuk kerumahnya. Biasanya jika ada PR, Taehyung akan mengerjakannya disekolah. Ia jarang sekali mengerjakannya dirumah. Dan ini untuk kali pertamanya, atau mungkin momen terlangka baginya untuk mengerjakan PR dirumah.

Jimin mendudukkan dirinya diatas sofa ruang tengah Taehyung sambil mengeluarkan bukunya dari tasnya. "Kau sendirian?" tanya Jimin sambil memperhatikan seisi rumah Taehyung, Taehyung duduk disebelah Jimin "Ibu dan Ayahku pergi selama sebulan untuk merawat nenekku di Busan. Kurasa besok mereka pulang" ujarnya, Jimin menaikkan alisnya "Jadi selama ini kau sendirian?" Taehyung hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Wah, apa kau tidak merasa kesepian? Apalagi setelah.. kau sudah menjaga jarak dengan Jungkook" Jimin memelankan nada di akhir kalimat, Taehyung dapat mendengarnya dan hanya terkekeh "Ya mau bagaimana lagi kk~"

"Kalau kau kesepian, telepon aku. Aku siap menghiburmu."

Deg.

Kata-kata itu.. persis seperti apa yang dikatakan Jei di barusan, ketika Taehyung masih terpaku, Jimin dengan cuek mengeluarkan semua alat tulisnya dan mulai mengerjakan pr-nya. "Nah, perhatikan. Aku akan beritahu kau cara menghitungnya" perintah Jimin yang dapat membuyarkan lamunan Taehyung. Mereka pun belajar bersama.

Setelah Jimin selesai menerangkan, Ia menyuruh Taehyung untuk mengerjakan beberapa soal yang mudah dulu yang kemudian akan dicek kembali oleh Jimin.

Saat Jimin mengerjakan soal-soal yang belum Ia kerjakan, Taehyung yang duduk disebelahnya berkali-kali membuka , mengecek apakah ada notif dari Jei. Dan ternyata tidak ada sama sekali semenjak Jimin datang kerumahnya. "Mungkin Ia sibuk" gumamnya, Jimin menoleh "Siapa?"

Taehyung yang tidak menyangka kalau Jimin akan mendengarnya tersenyum canggung, "Ah.. itu.. Bukan siapa-siapa"

"Baiklah" Jimin cuek lalu kembali mengerjakan soalnya.

.

.


.

.

Taehyung dan Jimin berjalan menuju kelas mereka sambil sibuk membicarakan banyak hal. Mereka sudah tidak canggung seperti biasanya, Jimin bahkan berani merangkul pundak Taehyung.

Saat mereka sudah sampai didepan kelas, Yoongi menahan lengan Jimin. Jimin menoleh bingung, "Ada apa?" tanyanya sambil berusaha melepaskan tangan Yoongi. "Kita ada pengarahan dadakan dari coach. Sekarang." Jawab Yoongi, sekedar informasi kalau Yoongi dan Jimin adalah pemain inti basket sekolah, dan Yoongi menduduki posisi kapten dalam tim.

Taehyung yang tidak mengerti apa-apa ikut bingung, "Memang akan ada lomba ya?", Yoongi mengerdikkan bahunya "Harusnya tidak ada. Tapi entahlah mungkin ada hal penting yang harus dibicarakan." Jawaban Yoongi hanya dibalas anggukan Taehyung. "Kalau begitu kami pergi dulu" Jimin dan Yoongi pun segera meninggalkan Taehyung.

Taehyung pun sibuk dengan ponselnya sambil berjalan kearah bangkunya, baru sampai didepan meja guru, Jungkook tersenyum padanya "Pagi Taehyung-ah. Hari yang indah" sapanya sambil tersenyum,

"Bagimu." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kearah Jungkook.

Setelah duduk ditempatnya, Taehyung terkejut mendapat notif dari .

Anonymous: Pagi V-ah! Awali harimu dengan senyuman, aku akan bahagia jika kau tersenyum seharian.

Membacanya, Taehyung tersenyum lebar. Wajahnya memerah padam karena malu. "Astaga kkk~" Taehyung terkekeh lalu menampar pipinya yang menyebabkan satu kelas menoleh kearahnya termasuk Jungkook dan Hoseok, mereka menoleh karena suara tamparan yang keras dari arah bangku Taehyung.

"Baiklah, aku akan tersenyum sesuai perintamu kkk~"

Sent.

Kemudian Taehyung menghela nafas sambil memegang pipi bekas tamparannya tadi. "Jei-ah, kau ini sahabatku. Jangan sampai aku menyukaimu." Gumamnya sambil menoleh kearah Jungkook dan Hoseok yang tampaknya sedang bermain game didalam ponsel Hoseok.

"Karena menyukai seseorang yang sama sekali tidak menyukaiku itu sakit." Lanjutnya.

.

.

.

Istirahat, Jimin dan Yoongi balik kedalam kelas dengan keadaan kacau. Rambutnya berantakan, keringat membasahi tubuhnya, nafasnya memburu, dan saat Jimin duduk disebelah Taehyung tanpa permisi Ia mengambil botol minum Taehyung dan meneguknya sampai habis. Taehyung panik melihatnya "Yaa! Kau tak apa?" tanya Taehyung sambil memberi Jimin sapu tangan.

Jimin berusaha menstabilkan deru nafasnya, "Kukira Choi ssaem sudah gila. Ia menghukum kami semua karena kemarin beberapa anak dari tim basket terlibat tawuran dengan sekolah seberang. Padahal kemarin aku seharian dirumahmu" jelas Jimin sambil mengusap dahinya yang penuh dengan peluh. Namun Taehyung malah tertawa, "Bodoh hahaha"

Seketika Jimin menjitaknya, kemudian Ia teringat sesuatu. "Ah! Taehyung-ah, sebentar lagi kan tahun baru, tanggal 30 ayo kita BBQ party dirumah Namjoon." Ajak Jimin, Taehyung mengangguk mantap, "Ayo. Sekalian kutraktir beberapa soda, jadi agar Namjoon tidak perlu membeli minum—"

"Tunggu dulu, kenapa kau jadi ingin menraktir kami?"

"Tanggal 30 Desember adalah hari ulangtahunku" Jawab Taehyung sambil tersenyum, Jimin melotot "ULANGTAHUNMU?!" Teriak Jimin membuat seisi kelas memperhatikannya. Taehyung menutup wajahnya karena malu akibat kelakuan Jimin.

"Baik, katakan apa yang kau sukai. Aku akan memberimu itu." Jimin pun mulai bicara dengan nada normal. Taehyung tampak berpikir sejenak, "Umm.. Aku ingin album terbaru Diamond!" (ps. Diamond= Seventeen versi ff gue bhak)

Jimin mengangguk, "Oh kau penggemar Diamond rupanya." Ucapan Jimin dibalas anggukan mantap oleh Taehyung, "Maka dari itu.. jika kau membelikan itu akan kuingat hadiahmu sebagai hadiah terbaik!", Jimin hanya mendehem "Hm, aku akan pertimbangkan itu."

Taehyung mengerutkan dahinya, "Yaa! Kenapa dipertimbangkan?"

Jimin mengerdikkan bahunya, "Kau tau? Sangat memalukan bagiku untuk berjalan disekitar rak berisikan cd boyband." Ucapnya santai, Taehyung merengut "Memang seburuk itu boyband dimatamu?"

Jimin menggelengkan kepala panik, "T—tidak bukan seperti itu, hanya saja.. boyband bukanlah style-ku."

.

.

.


.

.

2 hari kemudian,

30 Desember

7:00 PM

Taehyung bersiap untuk pergi menginap dirumah Namjoon sesuai rencana, Ia akan menginap sampai tanggal 1 Januari. Bukan hanya dia dan Jimin yang menginap disana, namun semua teman-teman dekat Jimin.. yang pernah dekat dengan Hoseok juga tentunya. Siapa lagi kalau bukan Jin dan Yoongi.

Ketika sedang merapikan tas yang akan dibawanya menginap, Ibu Taehyung memanggilnya dari lantai bawah. "Taehyungie ada yang datang."

Taehyung pun berlari kearah gerbang, namun langkahnya perlahan memelan karena Ia tak dapat melihat siapapun didepan gerbang rumahnya. "Siapa orang iseng yang datang malam-malam seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, Ia mengedarkan pandangannya kesekitar namun tak dapat menemukan apa-apa,

Kecuali kotak box misterius yang tergeletak didepan gerbangnya.

"Apa ini?" Taehyung mengangkat kotak yang ringan itu masuk kedalam rumahnya. Ia duduk di kursi yang ada di teras rumahnya lalu membuka kotak itu dengan hati-hati, siapa tau saja isinya berbahaya (mengingat banyaknya haters yang dimiliki Taehyung.)

Ketika melihat isinya, Taehyung tertegun.

"Album Diamond yang baru bonus tanda tangan setiap membernya?! Oaaa!" Taehyung teriak bahagia sambil melompat kegirangan, baru saja Ia teriak bahagia, Jimin sudah ada didepan rumahnya dengan motornya. "Kau ini kenapa?" tanya Jimin dari depan gerbang, Taehyung yang merasakan keberadaan Jimin lalu mendatanginya dan membukakan gerbang untuknya.

"Yaa!" Taehyung membentak Jimin dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya, Jimin yang kebingungan hanya menatapnya tanpa berkata-kata. "Aku menyayangimu!" Lanjut Taehyung.

Jimin membelalakan matanya, "Tunggu? Apaa—euakk" Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Jimin sudah dihadiahi pelukan oleh Taehyung. Setelahnya, Ia melepas pelukannya dari Jimin.

"Kukira kau benar-benar membenci boyband." Ucap Taehyung, Jimin tersenyum bingung "Aku? Aku memang membencinya. Kenapa?"

"Lalu kenapa kau menghadiahi aku ini?" Taehyung menunjukkan album yang Ia pegang tadi. Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "A—ku?" Jimin memastikan, Taehyung mengangguk. "Aku tidak memberimu itu"

Jawaban Jimin membuat Taehyung mengerutkan dahinya, "Hah?"

Jimin terkekeh canggung, "Ini yang kubawa untukmu. Sweater tebal karena cuaca akhir-akhir ini sangat dingin." Jimin menunjukkan satu paper bag bawaannya. "Pakailah."

Taehyung pun menyerahkan album yang Ia pegang kepada Jimin lalu mengambil paper bag itu dan memakai sweaternya. Ketika Taehyung sedang sibuk mengenakan sweater, Jimin memperhatikan album itu. Kemudian matanya mengerjap.

"Oh? Ada surat didalamnya." Ucap Jimin antusias, "Mungkin itu surat dari para member." Balas Taehyung sambil melanjutkan kegiatannya.

"Aku rasa—tidak"

Taehyung yang merasa penasaran pun mengambil lagi album itu lalu mengamati isinya, "Eh? Surat?" Taehyung pun cepat-cepat membukanya lalu membacanya.

Happy birthday, penakut~

Kudengar kau suka Diamond? Terimalah hadiahku, V.

Mendapatkan tanda tangan mereka sangatlah sulit. Aku mendapatkannya dari ikut serta fansign hari ini di Gangnam. Oh ya, coba cek halaman album paling akhir. Ada ucapan selamat ulangtahun dari semua member Diamond untukmu.

-Jei-

.

.

.

.

.

-TBC-


.

.

.

.

Bwijei here! Chapter4 akhirnya apdet juga wkwk.

Oke, saatnya curhat;

Pertama, Happy Birthday buat master of spoiler kita, Mas Hoshi! Yaaa walopun gue telat sehari :'v gapapa deh abis gue apdetnya sekarang jadi baru bisa ngucapin sekarang wk.

Kedua, kemaren ada yang PM "thor, nonton Shining Diamond tour di Jakarta ngga?" trus seketika pertanyaan itu bikin gua poteq :"3 Dari awal nggabisa liat itu emang sakit, tapi lebih sakit lagi ketika lo uda punya duit, trus mau beli tiket CAT1 Hall Right telat 5 menit ludes :"""" Ya gitulah nasib bwijei hikseu. Oke bwijei gamau bahas lagi :'3

Ketiga, SUMPAH GUE MAU MENGUMPAT KE PLEDIS. GADA ANGIN GADA APA TIBA-TIBA M/V LOVE LETTER RILIS. Lama-lama Pledis udah kea Bighit sama tahu bulat aja sukanya dadakan.

Terakhir, di MV Love Letter kenapa DK, Mingyu, Minghao, Jeonghan sama Woozi mempesona yalord. Jeonghan tuh kalo dimata banyak orang pasti 'astaga cantik bet, yatuhan dia emak-able' dan semacamnya. Kalo dimata gue entah kenapa member termanly dan yang cocok dijadiin pacar tuh malah dia. Karna cowo dengan rambut panjang punya karisma tersendiri dimata gue eak. Soal Woozi, Woozi minta dikantongin trus dijadiin takjil astaga. Woozi tuh tipe-tipe orang yang cocok dijadiin anak goals. Oke abaikan.

Ini THE LAST, yang paling TERAKHIR. Hoseok makin kesini makin minta dihalalin ya. :) Trus ga kerasa udah 2 taun gue mencintai seorang Jung Hoseok :"3 Yeay sama aja udah 2th enip sama Hoseok aw .GAK

Sekian curhatan bwijei, damai!