Wasap yeorobun!

Bwijei kambek lagi. Ini mau nyelesein ff ini dulu karna banyak yg ngelabrak(?) Jei nyuruh dia nunjukin wujud aslinya :'v Karna kasian sama Jei yang dibash banyak orang(?) akhirnya bwijei akan fast update biar kalian bisa cepet-cepet ketemu Jei. #PrayForJei .nga

Happy reading!

=w=

.

.


=w=

.

.

Taehyung meletakkan kepalanya diatas meja perpustakaan, ia sudah berdiam di perpustakaan sekolahnya selama 1 jam tanpa mengeluarkan suara. Biasanya, Ia akan sedikit berisik menceritakan hal-hal yang tidak penting kepada siapapun. Namun yang kali ini, ia tampak lemas dan tak memiliki harapan hidup.

Namjoon yang sedari tadi duduk disebelah Taehyung tidak mempedulikannya dan malah sibuk dengan buku-buku yang Ia baca. Toh Namjoon memang pribadi yang tidak tertarik mengetahui hidup oranglain. Ia pernah tinggal di LA sebelumnya oleh karena itu budaya 'tidak peduli' nya masih melekat pada dirinya.

Taehyung memandang kosong kedepan, kata-kata Jimin dua hari lalu ketika mereka menginap dirumah Namjoon masih membuat hatinya bergemuruh.

FLASHBACK

Setelah puas bermain 007 bersama, Taehyung duduk di ayunan yang ada dihalaman rumah Namjoon sambil menunggu balasan milik Jei. Kemudian Ia teringat kado dari Jei, bukan karena Ia membelikan album Diamond yang terbaru, hanya saja.. mendapatkan tanda tangan Diamond.. membutuhkan banyak perjuangan. Dan dia rela melakukannya demi Taehyung.

Kemudian terlintas dikepala Taehyung, "Apakah Jei menyukaiku?" tanyanya sendiri.

"Mungkin."

Taehyung terkejut pada seseorang yang tiba-tiba menjawabnya, "Ah. Kau" ternyata orang itu adalah Jimin.

Jimin mendudukan dirinya tepat disebelah Taehyung lalu menoleh kearahnya, "Ada masalah? Atau ada sesuatu yang membuatmu sangat senang?" tanya Jimin. Taehyung menunduk sebentar lalu kembali menatap Jimin, "Kau—"

"—percaya tidak bahwa teman masa kecil kita bisa saja menjadi cinta terakhir kita?"

Mendengarnya, senyum tulus Jimin sedikit memudar, Ia perlahan menggerakkan ayunan yang didudukinya lalu kembali tersenyum. "Ehm, mungkin." Jawabnya singkat.

Taehyung menatapnya lalu membalas "Sepertinya aku menyukai sahabat masa kecilku. Apakah aku harus mengatakan padanya yang sejujurnya? Mungkin—"

"Jangan." Jimin menyela. "Tidak semua orang dapat memahami perasaan oranglain." Tambahnya.

"K—kau pasti memiliki trauma tersendiri ya?" Taehyung menanyakan itu dengan hati-hati, Jimin mengangguk. "Aku pernah menyukai sahabat masa kecilku. Ia sangat dekat denganku, sering menyemangatiku, dan Ia sangat polos." Ujarnya, Taehyung mengangguk berusaha memberi kode bahwa Ia mendengarkan curhatannya.

Jimin menghela nafasnya, "Kau kenal orangnya."

Taehyung menoleh bingung, "Siapa?"

"Jeon Jungkook."

Taehyung kemudian terdiam mendengar perkataan Jimin, kemudian Jimin terkekeh "Kau tak perlu memasang wajah seserius itu, Tae-ah." Lalu setelahnya wajah Jimin sedikit muram, "Ia yang telah menyemangatiku, lalu menjatuhkanku seperti ini. Ah tidak ini terlalu mendramatisir kkk~" Ia pun tertawa lalu meninggalkan Taehyung dan menghampiri Yoongi yang sedang membakar jagung.

FLASHBACK OFF

Bagaimana kalau nasibnya seperti Jimin dan Jungkook? Bagaimana kalau selama ini Jei memiliki kekasih?

"Eergh" erangan Taehyung membuat Namjoon terkejut lalu menoleh kearah Taehyung. "Apa kau sakit?" tanya Namjoon sambil memegang dahi Taehyung, Taehyung menggeleng "Aku bosan hidup." Keluhnya sambil mengangkat kepalanya. Akhirnya Ia bersuara.

Namjoon menaikkan alisnya, "Bosan hidup?" pertanyaannya dijawab anggukan lemas oleh Taehyung.

Namjoon tampak berpikir, lalu mengangguk. "Baiklah, sepulang sekolah ikutlah denganku."

"Kemana?"

"Ke Namsan tower. Aku akan menontonmu meloncat dari atas sana."

Plak!

"Aw!" Namjoon meringis sambil memegangi dahinya. "Sakit!"

"Itu pantas kau dapatkan." Jawab Taehyung tenang lalu menutup buku-buku yang ada didepannya.

"Apanya? Aku hanya berusaha membantumu."

"Terimakasih Namjoon-ssi, namun itu sama sekali tidak membantuku."

Taehyung pun berjalan keluar perpustakaan, baru saja selangkah dari depan pintu perpustakaan, Ia melihat Jimin berjalan mendekatinya.

"Kau sudah selesai?" tanya Taehyung pada Jimin yang sibuk dengan botol minumnya, ya, Jimin baru saja selesai dari latihan basketnya.

Jimin mengangguk, "Mau pulang bersama?"

"Baiklah."

"Tapi tunggulah disini dulu, aku akan ganti pakaian." Setelah itu Jimin melesat ke kamar mandi disebelah perpustakaan.

Ketika sedang duduk didepan kamar mandi, tiba-tiba saja seseorang keluar dari kamar mandi. "Oh, Taehyung-ah?" orang itu berusaha memanggil Taehyung yang sedang sibuk dengan ponselnya, Taehyung menoleh kearah suara dan memasang senyum paksa. "Hoseok? Sedang apa kau disini?"

Hoseok mengernyit bingung, "Umm—buang air." jawabnya kemudian Taehyung tersadar bahwa pertanyaannya adalah pertanyaan bodoh. Tentu saja harusnya ia tau apa yang dilakukan Hoseok dikamar mandi.

"Oh oke maafkan aku." Taehyung mengalihkan pandangannya dari Hoseok lalu fokus ke ponselnya. Hoseok masih mematung disitu memikirkan sesuatu. "Ah!"

Taehyung menoleh penasaran ketika Hoseok kembali membuka suara.

"Apakah kau sudah terima hadiahku?" tanya Hoseok dengan mata tanpa dosanya, walaupun tetap saja terlihat bad boy dimata semua orang. Taehyung menggeleng dengan cepat. "Kau tau hari ulangtahunku?"

"Y—ya, saat itu keadaan kelas sedang hening lalu kau dan Jimin berbicara sangat keras. Aku tak sengaja mendengarnya." Jawabnya sambil sedikit terkekeh.

"Aku belum menerima hadiahmu." Ketusnya, berusaha agar tidak terlihat berharap didepan Hoseok. Taehyung ini sedang dalam proses membenci Hoseok, ya walaupun kenyataannya Ia tetap menyukai Hoseok, hanya saja cara penyampaiannya berbeda.

"B—benarkah? Kalau begitu ini." Hoseok tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kalung berbentuk berlian.

Taehyung tercekat. Ia tak bisa berkata-kata, Hoseok yang menatapnya hanya terkekeh. "Ini lucu buatmu. Jadi aku beli saja."

Ketika hendak menerima kalung dari Hoseok, Ia teringat sesuatu. "hey, bukankah kau tanya padaku untuk memastikan apakah hadiahmu sudah sampai?"

Hoseok mengangguk.

"Lalu kenapa kalung itu ada ditanganmu?"

Hoseok mengalihkan pandangan dari Taehyung, "Aku—aku membeli dua."

"DUA?"

Hoseok mengangguk.

Plak!

"Tolong Jung Hoseok, jangan tersinggung jika aku sudah berkali-kali ingatkan padamu untuk menjauhiku dan karena sekarang kau kembali dan membuat perasaan itu muncul lagi, aku memilih untuk menamparmu seperti ini." Jelas Taehyung panjang lebar, Hoseok menatapnya bingung. "Jadi kau benar-benar menyukaiku?"

"Ya. Dan berhentilah memainkan perasaan orang. Tak ada satupun orang yang suka dipermainkan."

Jimin yang baru saja keluar toilet terkejut melihat Taehyung sudah berjalan cepat pergi dari tempat, kemudian Ia memaklumi setelah melihat Hoseok berada tak jauh dari tempat Taehyung duduk tadi. Kali ini tanpa Jungkook.

"Eh? Kau tak bersama Jungkook?" tanya Jimin sambil membetulkan kerah seragamnya. Hoseok menggeleng sambil menghela nafas lesu, "Ia pulang duluan. Katanya asam lambungnya kambuh."

"Oh."

Jawaban Jimin membuat Hoseok sedikit merasa— aneh? "Kau tidak mengkhawatirkannya?"

"Memang bagaimana perasaanmu jika orang yang menyukai pacarmu mengkhawatirkan kondisi pacarmu?"

Hoseok terdiam.

"Aku tak ingin mencari masalah denganmu. Jadi minggirlah, aku mau pulang." Jimin pun pergi setelah mengatakan itu pada Hoseok.

.

.

.

.

Taehyung turun dari motor Jimin dengan lemas, "Hey. Perhatikan langkahmu. Kau bisa jatuh" ucapnya mengingatkan. Taehyung menoleh kearah Jimin, "Kau tak mau mampir?"

"Apakah boleh?"

"Tentu."

"Baiklah." Jimin pun memasukan motornya dan memarkirkannya di halaman rumah Taehyung. "Masuklah."

Saat berjalan masuk kedalam rumah, Taehyung melihat ibu dan ayahnya yang sedang sibuk memasukan barang-barangnya ke koper. "Kalian mau kemana?" tanya Taehyung bingung, Ibu Taehyung menoleh "Taehyung-ah, apa itu temanmu?"

Taehyung mengangguk polos.

"Aigoo~ syukurlah. Ibu dan Ayah akan mengantar baju bekasmu ke panti asuhan milik Boa. Sebaiknya kau jaga rumah. Ibu dan Ayah pulang malam."

Ibu Taehyung mencium dahi Taehyung yang dihadiahi kekehan oleh Jimin, "Kami pergi dulu." Ayah Taehyung memberi senyuman pada Jimin lalu membawa semua kopernya keluar rumah.

Kini dirumah hanya ada mereka berdua.

"Ah lelahnya." Taehyung merebahkan diri disofa empuknya, disusul oleh Jimin yang ikut merebahkan dirinya disebelah Taehyung.

"Kau—" Jimin menggantungkan kata-katanya. Apa yang kau bicarakan dengan Hoseok tadi? "Lupakan kkk~"

"Jimin-ah, kau mau makan apa?" Taehyung meninggalkan Jimin lalu berjalan kearah dapur. "Apa saja yang ada."

"Ibuku tidak pernah memasak. Jadi katakan saja akan kubuatkan." Balas Taehyung, Jimin pun beranjak dari sofa, "Hah memangnya kau bisa memasak?" Jimin berjalan menuju kulkas lalu mengecek isinya. Taehyung melirik kearah Jimin, "Kau meremehkanku?"

"Kim Taehyung dengan nilai tata boga F? Tentu saja kau pantas diremehkan." Ucapan Jimin membuat Taehyung mengerucutkan bibirnya, mengetahui itu Jimin melanjutkan "Untung saja disaat seperti ini kau bersama Park Jimin."

Sekedar informasi bahwa Jimin adalah siswa dengan nilai tata boga A. Dia memang pintar memasak, hanya saja cita-citanya menjadi arsitek, bukan chef.

Taehyung hanya mendehem, "Kalau begitu buatlah sesuatu, mr. A" Taehyung menyindirnya. Jimin terkekeh, "Baiklah."

.

.

.

"Ah aku kenyang!"

Taehyung dan Jimin sama-sama meletakkan alat makannya diatas meja setelah menghabiskan nasi goreng buatan Jimin.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Jimin penasaran, Taehyung mengacungkan jempolnya. "Tidak heran kau mendapat A, kukira kau menyogok kk~" ucapan Taehyung dibalas jitakan kecil oleh Jimin.

"Nah, karena kau sudah memasak, giliran aku yang mencuci piring. Jangan hiraukan aku dan bersantailah." Taehyung membawa piring kotornya kearah wastafel.

Namun Jimin malah memilih untuk menonton Taehyung yang sedang mencuci piring. Mereka membicarakan sesuatu yang membuat mereka tertawa, kadang Jimin akan melakukan hal konyol untuk membuat Taehyung tertawa.

"Jadi dulu kau sering dianggap uke karena dekat dengan Hoseok?" pertanyaan Taehyung dibalas anggukan oleh Jimin, "Aku sedih sekali, mungkin karena itu Jungkook ilfeel padaku." Kemudian Taehyung melanjutkan tawanya.

"Tapi setelah melihatmu, kau memang pantas menjadi uke dengan postur tubuhmu yang kurang tinggi dan wajah imutmu." Taehyung memperhatikan Jimin sambil menunjuk wajahnya.

"Aish kurang tinggi? Aku hanya berbeda 3cm darimu, Taehyung-ah." Protes Jimin yang dibalas kekehan Taehyung. "Ayolah akui saja kalau kau pendek." Taehyung menggodanya.

Jimin menggeleng, "Kita sama-sama 1.7 meter"

"Tidak, aku hampir menjangkau 1.8" Ejek Taehyung lagi, Jimin menghela nafas lalu mencubit pinggang Taehyung.

"Kau benar-benar menyebalkan kkk~" Jimin kemudian mencubit pipi Taehyung dan menariknya layaknya plastisin. "Tapi disisi lain aku sangat suka melihatmu tertawa seperti ini."

"Ung?" Taehyung menatap Jimin bingung, "Setelah kabar Hoseok dan Jungkook berpacaran menyebar, banyak sekali yang mengejekmu dan menginjakmu seakan kau adalah orang paling menyedihkan didunia."

Taehyung terus menatap Jimin karena pipinya masih dicubit.

"Semenjak saat itu, melihatmu tertawa—adalah hal yang paling langka."

Taehyung menundukkan kepalanya, lalu menatap Jimin "Maahkan akhu—" Taehyung berusaha berbicara padanya ketika pipinya masih dicubit oleh Jimin, melihatnya Jimin terkekeh lalu melepaskannya. "Ah maafkan aku karena telah mencubitmu, sakit?" tanya Jimin yang dibalas gelengan oleh Taehyung. Jimin mengelus tengkuknya sendiri, "Jadi kau tadi mengatakan apa?" tanyanya.

"Maafkan aku."

"Ya?"

"Maafkan aku. Itu yang kukatakan tadi."

Jimin tersenyum lebar lalu mecubit pipi Taehyung (lagi) "Kau tidak perlu meminta maaf. Membuatmu tersenyum apalagi tertawa sudah kuanggap misi terselubung seorang Park Jimin."

Taehyung pun terkekeh membuat Jimin gemas, "Nah begitu baru mirip dengan Taehyung yang kukenal." Jimin pun mengusap rambut Taehyung.

"Baiklah, ayo kembali ke ruang tengah." Ketika hendak berbalik, Taehyung terpeleset dan reflek menarik lengan Jimin.

Brakk!

"Ugh"

Kini mereka terjatuh dengan posisi yang—awkward dengan Jimin yang berada diatas Taehyung, ya seperti posisi awal ketika orang akan melakukan—ehm, semacam—ya itu.

Jimin menopang tubuhnya dengan sikunya, mereka sama-sama tidak ada niatan untuk bergerak sama sekali. Masih saling tatap satu sama lain.

Kemudian pandangan Jimin tertuju pada bibir ranum milik Taehyung, dengan perlahan Ia mendekatkan dirinya ke bibir kissable itu, Taehyung yang sudah mulai merasakan hembusan nafas Jimin kemudian memejamkan matanya secara reflek.

Bibir mereka bertemu. Jimin menempelkan bibirnya tepat di bibir Taehyung, keduanya dapat merasakan detak jantung masing-masing.

Setengah menit tak ada pergerakan, Jimin memutuskan untuk melumat kecil bibir Taehyung. Entah dapat dorongan darimana, Taehyung pun membuka mulutnya dan mulai membalas ciuman Jimin.

Mereka terhanyut kedalam ciuman, mereka lupa status mereka masing-masing, tidak ada akal sehat disini. Yang ada hanya naluri, ya, mereka mengikuti naluri mereka.

Tangan Taehyung yang semula ada disamping tubuhnya kini sudah berpindah memeluk leher Jimin. Ketika lumatan itu menjadi semakin liar, ponsel Jimin berdering.

Ting!

Keduanya sama-sama menghentikan aktifitas mereka setelah mendengar deringan itu, kemudian akal sehat mereka akhirnya kembali.

Jimin yang merasa grogi menatap Taehyung cepat-cepat bangkit dari posisinya. "W—wahaha apa itu tadi?" tanyanya canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Taehyung yang ikut berdiri pun hanya memalingkan wajahnya, tak berani menatap wajah Jimin. "M—mari lupakan." Ujarnya, Jimin pun mengiyakan. Sedetik kemudian Ia menoleh kearah jam yang ada didapur Taehyung. "Sudah malam, aku harus pulang."

.

.


.

.

Ny. Kim baru saja keluar dari mobilnya membawa koper-koper kosong. Sesekali Ia berhenti lalu mengusap dahinya sebentar, "Setua inikah aku sampai-sampai koper kosong ini terasa berat?" Tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelah itu Ia membuka pintu rumah, dan menyadari gelapnya ruang tengah. "Taehyung-ah, apa kau didalam?" Ny. Kim meletakkan koper-koper itu tepat dibawah sofa lalu berjalan kekamar Taehyung. Ketika membuka kamar Taehyung, Ia melihat putranya sedang tertidur pulas lalu tersenyum, "Ah tidur yang nyenyak sayang." Ia pun menutup kembali pintunya.

Ketika Ny. Kim sudah menutup pintu kamar, Taehyung pun menyalakan ponselnya kembali lalu membuka , ada satu notifikasi.

Anonymous: Jangan tidur terlalu malam, nanti kau bisa sakit.

Ia tau bahwa itu dari Jei. Kemudian Ia membalas, "Jei-ah, kau tau? Ciuman pertamaku sudah direbut oleh temanku sendiri. Bagaimana ini?"

Sent.

Satu menit kemudian,

Anonymous: Hah? Siapa yang berani-beraninya mengambil ciuman pertamamu?

"Kau tidak kenal orangnya, tapi namanya Park Jimin."

Sent.

.

.

.

Jimin merebahkan dirinya dikasur empuknya, baru saja sampai rumah setelah bertamu dirumah Taehyung. Mengingat Taehyung, Ia tak bisa melupakan ciuman itu begitu saja. Maksudnya, ciuman itu begitu tiba-tiba, bahkan awalnya Jimin tak menyangka bahwa dirinya bisa diluar kendali seperti itu. Ya untung saja Taehyung tidak langsung memukulnya atau marah padanya.

Ketika selesai mengeringkan rambut setelah mandi, Jimin mengecek ponselnya. Notifikasi grup chatnya sangatlah ramai. Ia tersenyum lebar, "Mereka sedang membicarakan apasih kk~" Kemudian Ia membuka grup chatnya.

PinkJean: Apakah tadi Ia benar-benar mengatakan itu padamu?

Nam94: Serius hahaha dia benar-benar lucu :v

Sgard_93: Tapi, apakah Ia benar-benar pergi ke Namsan tower setelah itu?

Nam94: Entahlah aku harap iya lol

Hobi18: Kalian sedang membicarakan apa?

PinkJean: HOBIII! AKU MERINDUKAN MUUU /kisseu/

Hobi18: Hentikan itu menjijikan -_-

Sgard_93: Senang melihatmu lagi di grup ini.

.

Jimin yang melihat username Hoseok tiba-tiba muncul di grup chat langsung mengernyitkan dahi, "Heol yang benar saja"

.

ParkJimin: kukira kau sudah keluar dengan sendirinya.

Nam94: Ayolah Jim, siapa yang mau mengeluarkannya? Kita masih berteman, kan?

Hobi18: Jim maafkan aku T_T

ParkJimin: hahaha kumaafkan, lagipula aku sudah tidak menyukai pacarmu lagi.

PinkJean: Atmoster yang sedikit sensitif disini o_O

Hobi18: Benarkah? Aku minta maaf T_T

ParkJimin: Kkk~ Hentikan itu :)

ParkJimin: Ngomong-ngomong, apa yang sedang kalian bicarakan kenapa ramai sekali?

Sgard_93: Kau daritadi kemana saja baru muncul sekarang?

ParkJimin: Aku dari rumah Taehyung :3

Nam94: Kita baru saja membicarakannya :v

PinkJean: APA YANG KALIAN LAKUKAN?! APAKAH KALIAN MELAKUKAN... ehm.. ITU! :'D

Sgard_93: Kim Seokjin matikan capslock nya-_-

ParkJimin: Berhenti membicarakannya -_-

Hobi18: Kenapa?

Nam94: Wow kenapa kau jadi membelanya? Jangan jangan...

ParkJimin: Aku menyukainya, aish bagaimana aku bisa mengatakan ini pada kalian -_-

PinkJean: JADI SELAMA INI KAU?! :o

Sgard_93: KIM SEOKJIN!

PinkJean: maaf :(

Hobi18: Kau menyukai Taehyung? Menyayanginya? Atau hanya menyukainya?

ParkJimin: Aku memiliki hasrat untuk melindunginya, ya semacam itulah :v

Nam94: Park Jimin sudah move on! /claps/

Hobi18: Wow menarik :)

.

.

.

.

.

.

-TBC-


.

.

.

.

.

Bwijei here!

Akhirnya chapter 5 selesai, kalo boleh menerawang sih, ini bakal selesai di chapter 7. Tapi gatau lagi sih mungkin bisa lebih. Kan cuma ngira-ngira :v

Oke, sesi curhat. Gue bahagia akhirnya Wonwoo apdet twitter lagi :'3

Trus yang kedua, ini gue kok seneng campur prihatin ya liat Hoseok mainin seruling pake idung? :'v yeokshi my UB!

Ketiga, kemaren gue mimpi aneh bin nyata .G

Yakali gue mimpi kalo gue ada didalem gedung, bukan gereja, tapi cuma gedung biasa. Tapi gedungnya tuh dibuat acara nikahan. Jadi gue duduk dibangku paling depan, pake gaun, bawa bunga. Bukan gue yang kawinan tapi, gue cuma nonton. Trus didepan tuh uda ada Hoseok, sedih juga sih disini bukan gue yg jadi pengantin cewenya :"""" trus pintu belakang kebuka, gue noleh kan, pengantinnya jalan masuk coy! Tapi bukan pengantin cewe. cowo! Tapi di mimpi bukan Taehyung, tau siapa? WOOZI COY! GUE KAGET ANJIR. Tapi dimimpi gue biasa aja, malah nepukin mereka soalnya soswit. ANJIR SUMPAH PAS BANGUN GUE KAGET KENAPA MIMPI KALO HOSEOK SAMA WOOZI KAWIN ASTAGA GUE KENAPA SIH ABIS MIKIRIN APA COBA GANGERTI LAGI.