Two World, One Love

Disclamer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi, cerita ini milik saya~

Pair: akan ada banyaaakkk XD /RinMahGitu

Warning: aneh, ooc, bahasa non baku, tidak sesuai EYD, lebay, miss typo, sho ai, yaoi, Mpreg(coming soon) dll

Genre: Drama, Humor, Romance, Adventure, Fantasy, Spiritual.

A/N: Saya mau move on bentar dari Danna sama Aidoru, dua ff itu bikin saya kelam hiks padahal udah saya ketik semua tapi masih ada yang kurang :"

Ini cerita debut saya dengan genre adventure, fantasy, spiritiual saya. Jadi mohon maklum jika banyak kekurangan u.u

SELAMAT MEMBACA!

Tertarik? Silahkan review :D

Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'

Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD

Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX

Reader and Silent Reader, welcome :D

Enjoy Reading Minna :D

.

.

.

.

.

.

/Seicchi, bulan emas mendekati penuh. Segeralah kembali/

Ah iya bulan emas. Ia menghela nafas. Biner merahnya melirik keluar jendela. Bulan menggantung setengah bulat. Cahayanya berwarna kuning keemasan bukan pucat seperti biasanya. Tangan putih itu meremat kertas tua menjadi kusut. Dan segera menaruhnya di laci meja.

Seicchi a ka Akashi Seijuurou pemuda berambut merah dan bermata merah. Perawakan mungil untuk remaja berumur 18 tahun. Dia adalah mahasiswa tahun pertama di Universitas Touo. Jurusan yang dia ambil adalah Psikologi. Dia memiliki ketertarikan khusus dengan bidang itu. Dia tinggal satu kamar asrama dengan kakak tingkat yang bernama Aomine Daiki. Dengan ciri khusus bersurai biru, bermata biru dan berkulit tan. Sang kakak tingkat adalah mahasiswa Informatika. Memiliki hobi bermain basket dan membaca majalah 21+. Akashi harus berulang kali menolak tawaran sang kakak tingkat untuk menyuruhnya ikut membaca majalah itu.

"Masih rajin seperti biasa?" suara berat itu mengagetkannya. Tak perlu menengok pun dia sudah tahu suara siapa itu."Padahal besok akhir pekan."

"Tidak ada salahnya kan?" balasnya kalem seperti biasa.

Kriet

Ranjang berderit seseorang sedang merebahkan badan diatasnya."Sekali-kali bersosialisasilah. Oh besok aku akan bermain basket, mau ikut?" tawarnya bersemangat.

Si surai merah menggeleng."Tidak terima kasih. Sudah mendekati musim panas."

"Ya, ya kau tak mau kulitmu terbakar. Seperti gadis saja."

Akashi tertawa pelan sebelum mambalas cibiran senpai-nya."Ya, aku tak mau menjadi gelap sepertimu."

"Hei jangan rasis! Banyak orang yang menyukainya."

"Oh ya?"

"Tentu saja!" ujarnya dengan penuh keyakinan."Ngomong-ngomong Akashi. Tadi siapa yang menemuimu?"

Si merah menoleh. Wajahnya bingung."Siapa?"

"Pria berambut merah panjang, dan alisnya seperti bercabang."

Ooh

"Dia kakakku."

Pemuda yang masih merebahkan diri itu mengangguk paham."Kalian tak mirip." Cibirnya.

"Saudara jauh. Neneknya nenek buyut kami kakak beradik." Ujar Akashi dengan nada bergurau.

"Jauh sekali." Si biru tua berguling diatas ranjangnya."Kau menaruh wewangian di kamar ini?"

Snif snif

Deg

Apa sudah waktunya?

"T-tidak. Mu-mungkin aroma sabun mandi."

"Hmm. Aromanya manis seperti pisang dan segar seperti jeruk." Si biru tua masih sibuk mengendus-endus bau kamar mereka."Enak sekali~"

"Jangan dihirup Daiki!"

"Ha? Kenapa?"

"P-pokoknya jangan. Ti-tidak baik untuk paru-paru." Kilahnya saat biner biru itu menatapnya dalam.

"Ok." Sahut si biru."Oh sebelum aku masuk ke kamar aku melihat banyak orang yang berdiri di depan kamar. Apa kau berbuat sesuatu?"

Ha?

"Mereka aneh. Mereka seperti orang mabuk. Wajah mereka memerah."

Akashi Seijuurou beringsut dari duduknya, bergeliat tak nyaman. Bulan bahkan baru setengah. Ini terlalu cepat, bahkan Ryouta baru memperingatinya lewat surat yang dibawa Taiga.

"Akashi? Kau kenapa, wajahmu pucat."

Dia menarik wajahnya mundur saat wajah rupawan itu tepat dihadapannya."Ja-jangan mengagetkanku Daiki."

"Aku sudah memanggilmu lebih dari empat kali. Dan kau hanya diam." Aomine rekan satu kamarnya itu duduk diatas meja belajar. Memandang heran si pemuda mungil yang kembali asyik pada dunianya.

Puk

Sekali lagi Akashi tersentak. Telapak tangan lebar mendarat diatas kepalanya.

"Kau melamun lagi. Ada masalah?"

Pemuda itu menggeleng."Aku baik-baik saja. Kau tidak tidur Daiki?" dengan lembut dia meraih tangan diatas kepalanya dan menyingkirkannya.

Aomine melirik pada jam yang tertempel didinding."Sudah hampir tengah malam ternyata. Kau juga tidurlah, wajahmu pucat."

Akashi mengangguk. Mereka berdua beranjak ke ranjang masing-masing.

.

.

.

-.-.-.-.-

.

.

.

Bola mata merah muda itu memandang heran. Sekumpulan pemuda terlihat seperti sedang sakau di sepanjang koridor yang mereka lewat. Sore ini benar-benar aneh. Padahal tadi pagi sepertinya masih berjalan normal. Para anak laki-laki seperti terkena hipnotis, setidaknya itulah yang Momoi Satsuki pikirkan.

"Ada apa dengan para laki-laki itu."

"Eum...mereka sejak tadi aneh. Dai-chan kenapa tak seperti mereka?"

Ya. Kenapa sahabatnya tidak seperti mereka. Pemuda biru gelap itu nampak yang paling normal dan tak bertingkah seperti orang sakau.

"Ha? Apa maksudmu Satsuki?"

Gadis bersurai pink yang berjalan beriringan dengan Aomine menghentikan langkahnya. Dia meletakkan telunjuk dan ibu jarinya dibawah dagu."Sepanjang aku melihat yang bertingkah aneh hanyalah anak laki-laki. Sedangkan para anak perempuan tidak mengalami apa-apa. Ini aneh sekali Dai-chan. Dan kau yang terlihat paling normal."

"Mungkin mereka keracunan saat makan di kafetari_"

\BBRUUK/

"Akashi-kun!" gadis itu berlari meninggalkan Aomine yang terpaku di ujung koridor. Dia lantas menyusul teman baiknya itu.

"Oi! Apa yang terjadi!"

"Dai-chan, Akashi-kun panas sekali." Momoi nampak sangat khawatir. Seseorang yang berada didekapannya berwajah merah-demam dan nafasnya tersenggal.

"Sudah kuduga dia sedang tidak sehat. Satsuki tolong ambilkan obat di ruang kesehatan. Aku akan membawanya kembali ke kamar." Setelah memberi anggukan satu sama lain mereka berdua berpisah untuk melakukan tugas masing-masing.

.

'Sial dia panas sekali.' Dalam perjalanan menuju kamar tatapan mencurigakan dari para mahasiswa laki-laki membuatnya risih.'Ada apa dengan mereka.'

Tiga orang menghadangnya didepan. Membuat Aomine menghentikan larinya.

"Berikan dia pada kami."

Aomine mengernyit heran. Demi apa ini seperti film yang ditontonnya dengan Akashi beberapa minggu lalu. Tiga orang didepannya bagai zombie yang akan memakan otak manusia. Ah bukan saatnya membayangkan hal itu. Dia harus segera merawat Akashi.

"Enyahlah kalian berdua." See, dia sudah seperti gentlemen di film action. Seringai kecil terbit disudut bibir Aomine.

"Serahkan dia." Datang suara dari arah belakang. Aomine melirik dengan ekor matanya. Banyak sekali orang yang ada dibelakangnya. Hell! Apa yang sedang terjadi. Apa mereka sedang bermain drama?

"Hei! Kalian kenapa? Akashi sedang sakit. Aku ingin segera menidurkannya di kamar."

Badan mungil digendongannya menggeliat kecil. Aomine menunduk untuk melihatnya. Bibir mungil itu terbuka kecil."La-lari Da-aiki." Nafas pemuda merah itu kembali tersenggal. Si tan dapat merasakan badan teman sekamarnya semakin panas. Dia harus segera mengobati Akashi.

"Minggir kalian." Aomine berlari menerobos orang-orang yang ada didepannya."Aku tak tanggung jawab jika kalian jatuh!" dia berlari semakin cepat, dibelakangnya orang-orang mulai mengerjarnya.

Sebenarnya apa yang terjadi!

Aomine berlari kencang menaiki tangga. Dia hanya berdoa agar tidak terjatuh dan malah memperparah keadaan.

Sial! Kenapa kamarnya ada di lantai tiga. Perjalanan menuju kamar merekapun tak mudah. Diujung tangga sudah berdiri banyak orang dengan tatapan 'lapar'.

"Hei jangan menghalangi jalanku sialan!"

.

Setelah melewati banyak cobaan dan rintangahn akhirnya Aomine dapat merebahkan Akashi tanpa kurang sedikitpun. Dia lelah sekali berlari sembari membopong pemuda ini. Dia heran sangat heran. Apa yang terjadi pada seluruh penghuni astrama ini.

Ddrrtt ddrttt

Ponsel dalam sakunya bergetar. Dia segera berdiri dan mengangkat panggilan itu.

"Mo_"

\Dai-chan! Apa yang terjadi dengan para penghuni asrama laki-laki!\

"Mana ku tau. Segeralah kesini. Aku perlu obatnya."

\Aku tidak bisa masuk Dai-chan. Mereka semua berkumpul didepan kamarmu\ terdengar nada panik dan bingung dari seberang sana.

"Ck, sial. Kembalilah ke asramamu Satsuki, aku akan merawat Akashi dengan obat seadanya."

\Um, semoga Akashi-kun segera sembuh. Aku akan menyelidiki keganjilan ini dengan Riko-chan\

Aomine mengangguk reflek."Baiklah terima kasih Satsuki."

Tut tut tut

Kini dia memandang lekat Akashi yang terbaring. Nafasnya tak teratur, keringat dingin mengucur deras. Aomine bingung harus bertindak bagaimana. Ah dia harus segera mengompres pemuda ini. Setidaknya buat panasnya menurun.

.

Aomine menunggu Akashi dalam diam. Sesekali menguap kecil dan mengganti kompresnya. Dia mengantuk tapi dia harus berjaga. Setiap kali dia memejamkan mata dia akan terbangun karena erangan tak enak badan dari Kouhai-nya. Panasnya belum juga turun padahal ini sudah berjam-jam yang lalu. Dia perlu dokter tapi dia tak bisa keluar. Lagipula ini sudah pukul satu dini hari. Dokter mana yang mau repot-repot memeriksa pemuda demam?

Aomine mengacak surai birunya frustasi. Kami-sama sebenarnya apa yang terjadi. Dia menarik nafas panjang dan sedikit merenggangkan otot-ototnya. Mencoba merileks-kan badannya. Dia lelah, dua cangkir kopi sepertinya masih kurang.

Snif-snif

Wangi ini lagi. Aomine menghirup nafas panjang-panjang. Aroma manis pisang dan segarnya jeruk. Ini aroma yang kata Akashi adalah bau sabun mandi. Dia sudah mandi tapi aroma sabunnya tidak seperti ini. Darimana datangnya aroma ini. Apa dari Akashi?

Aomine menggeleng. Tidak mungkin. Akashi belum membersihkan diri karena dia masih tidur dan Aomine tak tega membangunkannya. Tidurnya saja terlihat tidak nyaman apalagi jika harus dia bangunkan hanya untuk mandi.

Snif-snif

Aroma itu semakin menguar. Aroma yang membuat ketagihan ingin menghirupnya terus. Ini seperti candu dadakan untuknya. Aah wangi ini enak. Darimana asalnya?

Sambil memejamkan mata Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menelusuri darimana gerangan asal wewangian ini. Dia ingin tahu sumbernya.

Snif-snif

Aaah aromanya menguar kuat dari sini. Biner biru itu terbuka, dengan kabut tipis melingkupi cerahnya. Leher putih tepat didepan matanya.

'Dari sini ternyata. Aromanya saja manis, jangan-jangan leher ini juga manis.' Batinnya dalam hati. Dia mengeluarkan lidahnya lalu menyapukan pada permukaan putih mulus tanpa cela itu.

Slurp

'Ini enak.'

Slurp

'Seperti apel karamel.'

Slurp

'Manis.'

Slurp

"Ngh~"

Aomine tersentak saat mendengar suara itu.

'A-apa yang aku lakukan?' dia menatap horor jejak basah dileher Akashi. Buru-buru dia menjauhkan wajahnya.

Iris merah yang ternyata sudah terbuka itu memandang sayu kearahnya. Aomine semakin horor, jangan bilang Akashi melihatnya saat ia sedang ehem melahap lehernya.

"La-lakukan lagi." Nadanya seperti sebuah permohonan.

"A-akashi kau sudah sadar?!" sekedar mengalihkan topik dia segera meraih gelas berisi air putih dan menyodorkannya pada Akashi. Pemuda merah itu masih terlihat linglung."Ma-mau minum?"

"..." si merah masih terdiam, mau tak mau membuat Aomine semakin panik.

Dengan gerakan perlahan Akashi mengubah posisi tidurnya menjadi setengah bersandar. Tangan putihnya terulur pada gelas yang dipegang Aomine.

"Si-silahkan."

Akashi meneguknya hingga habis, tenggorokannya kering sekali. Setelah itu dia memberikan gelasnya pada Aomine. Pandangan pemuda merah itu masih datar seperti tak ada nyawa. Dia menggerakkan tangan kanannya kearah leher, dan mengusapnya perlahan.

"Kau tidak memberiku tanda kan?" tanyanya pelan.

Aomine reflek menggelengkan kepalanya kencang. Terdengar helaan nafas lega dari sang adik tingkat."Syukurlah."

Eh! Akashi tak marah padanya? Dia tidak menonjoknya karena telah melakukan ehem sesuatu pada lehernya.

"K-kau tak marah padaku?"

Kepala merah itu menggeleng."Kau terperngaruhi wangi feromonku. Jadi aku tak menyalahkanmu."

"Fero-apa?"

"Feromon. Wewangian yang kau cium dan yang membuat para laki-laki menjadi seperti tadi."

"Siapa kau? Dan Apa yang kau lakukan pada Akashi adik tingkatku." Aomine menuding tepat didepan muka Akashi."Jangan-jangan karena demam otakmu jadi eror."

"Mana ada manusia yang menebar feromon seperti tadi." Aomine menyangkalnya mentah-mentah."Kau seperti serangga." Dia bersidekap seperti mempertahankan pendapatnya.

Pemuda didepannya tersenyum. Mungkin sedikit berbagi cerita pada teman sekamarnya tak ada salahnya. Dia cukup percaya dengan pemuda ini."Aku masih Akashi Seijuurou adik tingkatmu senpai. Hanya saja aku sedang mengalami masa pendewasaan."

Aomine menatap dungu pada pemuda merah itu."Kau baru mengalami masa pubertas? Diusia delapan belas tahun?"

Akashi menepuk jidatnya. Dia lupa dengan tingkat pemahaman dari pemuda biru ini."Aku jelaskanpun kau tak akan percaya. Bisa dibilang aku sedang masa puber."

"Itu salahmu karena kau tidak pernah mau membaca majalah Mai-chan-ku. Makanya kau telat."

Si pemuda merah memandang jengah kearahnya."Aku ingin tidur."

"Bagaimana dengan demammu?" punggung tangan tan itu menempel pada kening Akashi."Ini aneh, kenapa suhu tubuhmu sudah normal?"

Akashi mengedikkan bahunya. Dia malas memberi penjelasan pada Aomine."Kau juga tidurlah. Kau tampak lelah."

"Ya, sepertinya aku memerlukan itu."

"Terima kasih sudah merawatku." Gumam pemuda itu sebelum menutup matanya.

"Tak masalah." Jawab sang senpai.

.

.

.

-.-.-.-.-

.

.

.

Angin berhembus lembut. Daun-daun saling bergesekan. Seseorang duduk termangu menatap indahnya bulan setengah bulat. Dia menyukai suasana sepi tapi disatu sisi dia merasa tak tenang. Dia memikirkan keluarganya yang berada di dunia lain.

"Kagamicchi." Dia berkata pelan. Detik berikutnya kepakan sayap terdengar. Si pemanggil tersenyum kecil."Apa Seicchi sudah menerima suratku?"

"Sudah." Sosok yang tak terangi cahaya rembulan berujar tegas.

"Bagaimana?" bulu-bulu lembut bergoyang karena tiupan angin. Kesan mempesona terlihat jelas. Senyum menawannya belum pudar.

"Dia tak bisa kembali. Ada urusan di dunianya yang sekarang."

Perkataan itu sukses membuat si pemilik bulu-bulu lembut tadi mengernyit tak suka."Apa dia tahu resikonya jika melanggar?"

"Dia pintar. Kurasa dia tahu."

Menghela nafas berat."Dia keras kepala. Aku akan menjemputnya."

"Manusia akan kaget dengan wujud manusia berekor sembilan sepertimu." Gurau sosok yang mangkir diatas pohon."Oh jangan lupakan telinga berbulu tebal itu." Tambahnya setengah tergelak.

"Tentu aku akan mengubah wujudku seperti apa yang kau lakukan saat mengirim surat pada Seicchi." Dengus lawan bicaranya.

"Hoo, aku kira kau akan tebar pesona dengan wujud menawanmu sebagai salah satu pemimpin klan Kitsune."

"Tidak. Aku tidak akan pamer, aku tak ingin menggaet manusia. Karena seekor rubah salju telah membuatku terpikat."

"Heh, terserah kau. Aku pergi."

Wosh

Angin besar menyapu dedaunan kering untuk meninggalkan dahannya. Keadaan menjadi hening kembali. Sosok itu kembali termangu menatap bulan.

.

.

.

-.-.-.-.-

.

.

.

"BENDA APA ITU!"

Pagi yang cerah dipenghujung musim semi diawali dengan teriakan bariton dari salah satu kamar asrama.

Sang teman asrama yang terusik hanya mengerang kecil dan kembali melanjutkan tidurnya.

"AKASHI SEJAK KAPAN EKOR ITU ADA DISANA!"

Dan detik berikutnya mata merah itu terbuka sempurna.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

Huuweee jangan bunuh saya! Saya hanya ingin melepaskan ide yang meronta-ronta di draft. Tangan saya gatel pengen bikin cerita yang ada unsur gini-gininya(?).

Ini baru prolog rencananya cma sampe 4 atau 5 chapter XD

Huhuhu padahal hutang MC saya banyak tapi nggak tahan banget pengen bikin MC lagi :' /garuk tanah.

Mengesampingkan itu, apakah ini menarik? Kalo menarik saya lanjut XD /plak

Kalo enggak ya saya hapus, Rin mah gitu orangnya /plak

Ok tak banyak cakap. Mind to review? /kedip-kedip.

With Love,

Narin