Two World, One Love

Disclamer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi, cerita ini milik saya~

Pair: akan ada banyaaakkk XD /RinMahGitu

Warning: aneh, ooc, bahasa non baku, tidak sesuai EYD, lebay, miss typo, sho ai, yaoi, Mpreg(coming soon) dll

Genre: Drama, Humor, Romance, Adventure, Fantasy, Spiritual.

SELAMAT MEMBACA!

Tertarik? Silahkan review :D

Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'

Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD

Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX

Reader and Silent Reader, welcome :D

Enjoy Reading Minna :D

.

.

.

.

.

.

"BENDA APA ITU!"

Pagi itu sukses menjadi pagi terbising yang pernah Akashi jalani. Pagi-pagi, suara berat menggelegar diseluruh kamar asrama nomor 504. Dan pelakunya si senpai dim. Apa hal yang menyebabkan lengkingan suara berisik itu.

"Akashi bangun!"

"Selesaikan masalahmu sendiri, Daiki." Gumam si kouhai masih dengan mata terpejam erat. Tak mau tahu dengan apa yang sedang dihadapi teman sekamarnya.

"AKASHI SEJAK KAPAN EKOR ITU ADA DISANA!"

Apa!

Dan itu sukses membuat mata merah terang milik sang Akashi terbelalak lebar. Benar saja, benda berbulu terlihat menyembul di dekat kakinya yang tak tertutup selimut.

"Jangan bergerak Akashi. Aku akan menangkap binatang apapun itu yang ada di balik selimutmu." Aomine dengan kuda-kudanya siap menerjang kapan saja, meski kedua betisnya bergetar hebat. Hei, dia pemuda normal yang mempunyai rasa takut. Jangan bawa embel-embel tubuh atletis dan muka garangnya.

Aomine berjalan pelan, terkesan mengendap-endap menuju sisi lain ranjang sang adik tingkat. Sebentar lagi dia akan menangkap mahkluk itu, ya sebentar lagi...

Tapi tunggu, ini janggal.

"Kenapa bisa ada ekor disana? Dan kau tampak tak panik jika itu binatang." Aomine menghentikan langkahnya, dia menatap lurus pada si merah, alisnya terangkat naik.

Ok Akashi sudah terpojok, lebih baik jujur. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya."Berjanjilah padaku kau tak akan berteriak."

"..." Aomine memasang muka pongo.

Sret

Selimut tebal Akashi tersibak.

Satu

Dua

Tiga

"KENAPA BISA!"

"Sudah kubilang jangan berteriak, baka." Gerutu Akashi. Dia bangkit dari tempat tidur, dan menghampiri sang kakak tingkat dan si biru malah berjalan mundur. Si merah menyeringai, dia mendapat ide menarik!

"Kau tau Daiki, aku adalah Kitsune. Kau pasti tahu 'kan?" seringaian Akashi mengembang manis. Aomine merinding dibuatnya, dia semakin mundur hingga terjuangkal tempat tidurnya sendiri.

Bruk

"Urgh. Ma-mau apa kau!"

Glup

Aomine meneguk ludah susah payah saat Akashi merangkak keatasnya.

"Kitsune adalah mahkluk penggoda ingat."

Jemari lentiknya ia sapukan pada pipi tirus kakak tingkatnya. Gerakannya gemulai dan menggoda.

"TOLO_mph!"

"Kau tidak bisa diajak bercanda senpai." Akashi menutup mulut Aomine yang kalau tidak ditutup pasti akan berteriak lagi.

Aomine melotot, menepis tangan Akashi."Itu tidak lucu, aku normal tahu."

Akashi tertawa kecil.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Akashi."

"Ha'i-ha'i." Sang adik tingkat duduk dipinggir tempat tidur, sementara Aomine masih nyaman dengan posisi rebahannya.

"Jadi, kau kitsune?" dibalas anggukan kecil.

"Lalu kenapa kau tidak mengatakan dulu-dulu."

Ekor berbulu lebat itu mengayun pelan."Hmm, Apa kau akan percaya jika aku mengenalkan diri, seperti ini. Hai senpai, aku kouhaimu, seorang kitsune. Begitu?" gurau Akashi.

Blush

Akashi manis sekali saat tertawa kecil seperti itu. A-apa yang aku pikirkan! Aomine menggelengkan kepalanya.

"Untuk apa kau kemari?" Aomine mengambil duduk di samping Akashi, dia berusaha untuk tidak melihat wajah adik tingkatnya.

"Aku tertarik dengan dunia manusia. Aku pikir manusia itu lebih berwarna." Lagi, Akashi tertawa kecil, kali ini dengan sangat anggun.

Ternyata mitos itu benar. Kitsune memiliki aura tersendiri untuk menarik perhatian manusia. Buru-buru Aomine memalingkan wajahnya. Tidak, tidak lagi.

"Ada yang ingin kau tanyakan lagi Daiki?"

"Lalu perkataanmu semalam tentang pendewasaan diri itu bukan karena kau baru masa pubertas?"

Akashi menggeleng."Masa pendewasaan diri, bagi kami adalah masa untuk berkembangbiak."

"Hah?"

"Jika manusia memiliki wanita maka kami memiliki submisif. Dan jika masa pendewasaan datang para submisif akan menguarkan feromon untuk menarik dominan mere_

"Tunggu dulu!" Akashi memandang kesal. Dia tak suka perkataannya dipotong."Kau bilang feromon. Seperti yang kau katakan semalam?"

Akashi mengangguk singkat.

"Berarti kau...seorang SUBMISIF!"

"Bisakah kau tidak berteriak Daiki? Akan ada yang terbangun karena ulahmu." Ujar si merah galak. Sudah berapa kali kakak tingkatnya berteriak pagi ini.

"Ma-maaf. Kalau kau submisif berarti peranmu sebagai wanita?" Aomine bertanya hati-hati, dia takut kalau saja Akashi marah dan menjadi kyuubi seperti serial fandom sebelah.

"Aku tidak suka disamakan dengan wanita." Pemuda mungil itu bersidekap dan memalingkan wajahnya."Aku lebih suka disebut spesial."

Pemuda tan itu tertawa canggung."Hahaha baiklah. Jika itu maumu."

Hening

Akashi tak membalas perkataan Aomine selanjutnya. Dia nampak tengah berpikir.

"Ne, Daiki."

"Hm?"

"Mau kah kau melindungiku semasa pendewasaanku? Bukan berarti aku tak bisa melindungi diriku sendiri."

Aomine terdiam. Akashi yang ada didepannya terlihat sangat menggemaskan. Tu-tunggu apa yang dia pikirkan! Aaa! Dia masih normal, masih normal.

"Daiki?"

"Y-ya?"

"Kau mau?"

"Sampai kapan?"

"Sampai bulan penuh, kurang lebih satu minggu. Setelah itu aku akan kembali dan mungkin tak akan kesini lagi."

"Kenapa?"

"Tentu saja aku akan berkeluarga Daiki."

Akashi berkeluarga? Dia akan eem hamil? Aomine memandang sang kouhai dari atas ke bawah.

"Daiki?"

"Ba-baiklah! Aku akan melindungimu, percayalah padaku Akashi!" Aomine menyengir lebar. Akashi tertegun beberapa detik dengan sengiran itu. Urgh entah kenapa kakak tingkatnya ini terlihat sangat mempesona.

"Terima kasih Daiki."

.

"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan 'fans' dadakanmu di luar sana? Tidak mungkin kan kita berada di dalam sini tanpa persediaan makanan?"

Akashi menelengkan kepalanya."Aku belum memikirkan itu. Tapi selama feromonku tidak menguar kurasa keadaan bisa kembali normal. Kau tidak menciumnya kan?"

Si biru menggeleng."Aku baru sadar kalau tidak ada bau seperti kemarin."

"Entahlah aku juga tidak mengerti. Kata Ryouta, masa pendewasaan tidak dapat diprediksi. Kadang sebelum waktunya tiba para submisif sudah menguarkan feromon dan akan bertambah jika bulan purnama. Maka dari itu sebelum purnama aku harus kembali." Jelas Akashi panjang lebar.

Aomine menganggukkan kepalanya."Siapa Ryouta itu?"

"Dia ketua klan."

"Ho...apa dia juga memiliki ekor sepertimu?"

"Tentu saja, Daiki."

"Apa jumlahnya sembilan?" tanya Aomine lagi, sepertinya dia mulai tertarik dengan dunia kitsune.

Akashi mengangkat sebelah alisnya. "Ryouta memiliki dua belas ekor."

"Kenapa tidak sembilan ekor?!" protesnya tanpa sadar.

Akashi melirik malas."Karena Ryouta itu ketua, jumlah ekor mewakili kewibawaan, kebijaksanaan, kedudukan dan kekuatan."

"Wow sepertinya orang bernama Ryouta itu hebat ya!" seru Aomine semangat.

"Dia berisik." Sahut Akashi.

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku? Aku memiliki tiga ekor."

"Haaa~ sedikit sekali, kau lema_"

BUK

Kepalan tangan Akashi sukses mendarat di kepala Aomine.

"Bukan seperti itu! Submisif hanya memiliki paling banyak tujuh ekor, tidak seperti para dominan. Ini benar-benar tidak adil." Gerutu Akashi pelan.

"Hmm, mungkin karena dominan memiliki kewajiban melindungi submisif dan klan mereka, menurutku sih begitu."

Akashi masih memasang wajah kesal.

"Sudah, sudah, kau kekanakan sekali. Bukannya lebih enak dilindungi daripada melindungi. Melindungi itu kan merepotkan. Yah meskipun terlihat keren hahaha." Aomine tergelak, telapak tangannya menepuk-nepuk rambut merah Akashi.

"Lebih baik kita ke kantin. Bagaimana?" tawar Daiki, sepertinya efek lapar membuat Akashi moody hahaha.

"Um, baiklah." Sang kouhai mengangguk.

.

.

"Dai-chan!"

Aomine menoleh saat suara familiar memanggilnya."Yo, Satsuki, Riko."

"Pagi Akashi-kun."

"Selamat pagi Akashi-kun, bagaimana keadaanmu?"

"Selamat pagi senpai. Aku baik-baik saja Momoi-senpai." Akashi tersenyum tipis.

"Hei kenapa Satsuki dan Riko kau panggil senpai sedang aku tidak?" protes Aomine tak terima.

"Entahlah." Akashi membalasnya dengan kedikan bahu.

"Apa kalian ada ujian hari ini?" tanya Aomine pada para gadis di depannya.

"Ah tidak. Kami masih dalam misi penyelidikan."

"Misi penyelidikan?" tanya Akashi.

"Kau tidak tahu apa yang kemarin terjadi pada anak laki-laki, ya Akashi-kun? Mereka seperti orang yang entahlah."

"Hum! Junpei dan Teppei juga mengalaminya. Tapi anehnya Daiki tak mengalami. Itu masih menjadi misteri."

Akashi melirik Aomine. Aomine juga meliriknya. Mereka saling melempar pandangan.

'Bagaimana?'

'Ceritakan saja pada mereka, kau bisa percaya pada mereka.'

'Baiklah.'

"Sepertinya ada yang harus kami ah tidak lebih tepatnya Akashi ingin ceritakan pada kalian berdua."

"Eh?"

.

"APA!"

Si adik tingkat menutup kedua telinganya. Kenapa setiap orang harus berteriak sih.

"Dasar para gadis. Jangan berteriak sekencang itu. Kau membuatku tuli mendadak." Gerutu si biru kesal.

"Ma-maaf. Tapi apa itu benar Akashi-kun?"

Akashi mengangguk pelan menjawab pertanyaan Momoi.

"A-aku kira mereka hanya mitos." Sahut Aida masih tak percaya dengan penjelasan yang barusan ia dengar.

"Cerita mitos itu untuk melindungi klan kami, Aida-senpai."

Aida menganggukkan kepalanya.

"Eum, Akashi-kun. Berarti kau akan eum menikah?" tanya Momoi ragu, yah inikah pertanyaan cukup privasi.

Akashi terdiam."Lebih tepatnya mating. Tak ada acara pernikahan seperti manusia. Kami hanya saling menandai. Satu kali seumur hidup."

"Lalu bagaimana cara menentukan pasangan?" si gadis berambut coklat pendek nampak sangat antusias dengan cerita Akashi.

"Para dominanlah yang memilih. Dan kebetulan aku cukup beruntung mendapatkan ketua klan yuki-kitsune untuk menjadi pasanganku." Akashi terkekeh kecil. Kedua gadis itu memekik senang.

"Bagaimana rupa pasanganmu Akashi-kun?" Momoi tak kalah antusias dengan Aida.

"Hmmm, dia pendiam, tampan-blablabla

Urgh Aomine rasanya tak ingin medengar kelanjutan cerita Akashi. Telinganya panas entah kenapa, hanya karena mendengar segala pujian Akashi pada calon pasangannya itu.

"Dai-chan kenapa memasang tampang bete seperti itu sih." Cibir si gadis merah muda.

"Diamlah aku sedang badmood."

Aida dan Momoi terkikik kecil."Ara-ara Daiki, kau cemburu ya?"

"Aku kira Dai-chan normal~"

"Aku memang normal Satsuki!" protes Aomine tak terima.

Kedua gadis itu terkikik melihat Daiki yang salah tingkah.

"Ah, sayang sekali Dai-chan, Akashi-kun sudah memiliki pasangan~"

"Ya, Daiki, kau kalah cepat. Seharusnya tembak dia saat pertama kali dia masuk kamar dulu~"

"Ah tidak juga Riko-chan, Akashi-kun 'kan paling sudah dijodohkan sejak lama. Iya kan Akashi-kun?"

Akashi mengangguk sekenanya. Dia masih tak percaya dengan perkataan senpaitachi-nya.

"Kalian berisik! Huh! Aku ingin ke perpustakaan."

Kedua gadis itu semakin tergelak. Akashi menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah Daiki.

"Kau harus tahu Akashi-kun. Sebenarnya Daiki benar menyukaimu, pada pandangan pertama dulu."

"Riko-chan, aku tak percaya kau membocorkannya fufufu."

Daiki menyukainya? Yang benar saja.

.

.

.

.

Akashi sudah melirik kearah jam dinding sebanyak entahlah dia sampai lupa dihitungan berapa. Kenapa Daiki belum kembali, apa perpustakaan belum tutup? Lagipula masa ujian sudah selesai jadi perpustakaan tutup seperti biasa. Tapi ini sudah pukul sembilan malam, siapapun itu pasti sudah diusir dari tempat baca itu.

Ceklek

Akashi bangkit dari duduknya.

"Daiki." Pemuda itu tak menoleh. Akashi begidik saat merasakan atmosfer aneh disekelilingnya..

.

.

.

To be Continue

.

.

.

Akhirny saya updateee, saya mencoba mengupdate sedikit demi sedikit ff saya yg terlantar x"D

Masih menggunakan motto "Lebih baik di Update dengan word sedikit daripada terlantar" setidaknya agar cerita masih runtut Xd

Selamat menikmati semoga pertanyaan direview sudah sedikit terjawab, maaf blm bisa bales review :(

Semoga masih ada yg mau berkunjung :D

Salam rindu,

Narin