The White Wolf

Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto & Highschool DxD © Ichie ShIbumi

Author : Namikaze Fansboy

Rated : T - M

Genre: Adventure/ Supernatural/ Other

Pair : [Naruto X Rias X Sakura] & [Yahiko X Sona]

Summary : Namikaze Naruto adalah siswa dari Kuoh Academy tapi ia bukan siswa ia biasa ia adalah Manusia atau lebih tepatnya Manusia Serigala, ia tahu bahwa disekolah banyak berkeliaran makhluk supranatural, tapi ia tak gentar karena itu sudah takdirnya sebagai The White Wolf. Inspired By GGS and Twilight Saga.

.

.

.

Chapter 3

Saat ini Occult Research Club sedang berkumpul tapi suasana berganti kala lingkaran sihir putih berlambang Gremory muncul.

" Selamat malam semuanya." Ucap wanita tadi, yang diketahui adalah Grayfia.

"Buchou, siapa dia?" Tanya Issei menunjuk sosok Maid wanita berambut putih.

"Saya adalah kepala pelayan dari keluarga Gremory, apakah mereka perlu saya beritahu?." Ucap Grayfia.

Rias menggeleng pelan. "Tidak, biar aku saja yang memberi tahu mereka."

"Minna, sebenarnya…" ucapan Rias terpotong karena tiba-tiba muncul lingkaran sihir merwarna merah dengan disertai kobaran api.

"Hah.. sebelumnya aku belum pernah ke dunia manusia. Aku datang untukmu Rias sayangku…" Terdengar ucapan bernada arogan dari pria berambut pirang yang keluar dari kobaran api itu.

"siapa orang ini?" tanya Issei.

"Dia adalah Raiser Phoenix-sama, keturunan murni dari iblis kelas atas. Dan anak ketiga dari keluarga Phoenix" ucap Grayfia memberitahu

"Dia juga tunangan dari pewaris keluarga Gremory, dengan kata lain dia adalah tunangan dari Rias-Ojousama." Sontak saja ucapan dari Grayfia membuat semuanya terkejut minus Rias dan Akeno.

"Tunangan?" Teriak Issei tak percaya.

"ya aku adalah tunangan dari sayangku Rias" Ucap Raiser sambil berjalan ke arah Rias dan membelai dagu serta rambut dari Rias dan kemudian menuju pahanya.

"Sudah hentikan itu Raiser. Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku menolak menikah denganmu." , ucap Rias.

Raiser tampak mendecih tak suka mendengar ucapan penolakan dari Rias. "Tapi Rias, sebagai pewaris keluarga Gremory, kau tidak boleh mengecewakan keluargamu dengan menolak pernikahan ini."

"Aku tidak mengecewakan keluargaku, aku akan mempunyai suami. Tapi aku hanya akan menikahi orang yang aku cintai." Ucap Rias bersikeras yang mendapat tatapan nyalang dari Raiser

"Tapi kau tentu harus tau, bahwa kau harus mempertahankan garis murni keluarga iblis. Karena setelah perang, iblis berdarah murni sangatlah langka"

"Mereka hanya terlalu gegabah dan aku pertegas tak akan menikah denganmu"

Raiser kali ini nampak marah hingga mengangjat dagu Rias dan menatapnya tajam. " Aku adalah pewaris keluarga Phoenix Rias, aku tidak akan membiarkanmu mengotori kehormatanku. Dan aku akan membawamu kembali ke neraka"

"Walaupun begitu aku tetap menolak" Rias tak mau kalah dengan menatap balik Raiser tajam.

Tubuh Raiser kini sudah mengeluarkan kobaran api pertanda ia sudah sangat marah.

"Aku akan tetap membawamu Rias, bahkan jika aku harus membakar seluruh pelayannyamu"

"Hoaaammm... apa kau tuli jika Rias sudah menolakmu dan untuk apa kau menunjukkan wajah pecundangmu itu"

Semua mata menoleh kearah sumber suara dan mendapati sosok pemuda bersurai pirang yang tengah menatap datar Raiser.

"Naruto-kun/ Naruto-senpai?"

Grayfia yang kini tahu siapa Naruto kemudian tersenyum tipis. 'Jadi dia yang ditugaskan oleh Sirzech-sama untuk menjaga Rias, Namikaze Naruto panglima Werewolf'

"Siapa kau dan beraninya kau menyelaku manusia rendahan"

Naruto hanya menyeringai tak tahu siapa seorang Namikaze Naruto.

"Buatlah apa nama jika hanya bisa berkoar saja"

Raiser mendecih bersiap melemparkan bola api pada Naruto namun ditahan oleh Grayfia.

"Tolong hentikan itu Raiser Phoenix-sama", ucap Grayfia mencoba menghentikan tindakan yang akan dilakukan Raiser.

"Ojou-sama, Raiser-sama, Sirzech-sama telah memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi. Untuk itu ia membuat keputusan, Jika Rias-Ojousama masih bersikeras dengan penolakannya, maka akan diadakan rating game untuk menyelesaikan masalah ini." Ucap Grayfia. Raiser yang mendengar hal tersebutpun hanya tersenyum senang.

"aku telah memainkan game ini berulang kali dan menang berturut-turut. Sementara kau bahkan belum pernah memainkannya dan tidak punya pengalaman. Selain itu Rias, apa mereka semua adalah pelayannyamu, sepertinya selain Ratumu, mereka semua tampak lemah. "

Ctak!

Raiser menjentikkan jarinya dan seketika muncul kobaran api dengan didalamnya terdapat lima belas orang wanita. "Aku memiliki lima belas, dengan kata lain satu set lengkap."

Issei yang melihat itu langsung jatuh tertunduk Raiser yang melihat itu hanya tersenyum remeh tak menyangka Rias memiliki Peerage yang saangat ingin menjadi harem king.

"Yabbeluna kemarilah"

Setelah itu salah satu dari wanita tadi yang merupakan ratu dari raiser maju dan mendekat ke Raiser lalu Raiser menciumnya di depan Rias dan para pelayannyanya.

"Kau hanya memiliki sekumpulan wanita yang haus belaian yang tak mempunyai kemampuan"

Sontak ucapan dari Naruto melepas cengkrama antara Raiser dan Yabbeluna kemudian menatap sang pembicara dengan tatapan nyalang.

"Kau pikir kita setara hah?" Tunjuk Raiser.

Naruto hanya tersenyum. "Kenapa kau marah saat aku mengatakan kejujuran?"

Raiser tak bisa menahab amarahnya hingga membuat satu ruangan itu serasa terbakar namun Naruto hanya menatap santai kearah Raiser.

"Cukup Raiser Phoenix-sama tujuan kita kemari hanya ingin berkunjung bukan mencari masalah"

Raiser tampak mendesis masih menatap Naruto nyalang. "Baiklah, tunggu saja aku akan mengalahkan kalian semua saat Rating Game berlangsung"

Grayfia dan Raiser beserta Peeragenya pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Rias beserta Peeragenya tak lupa juga Naruto.

Rias mengalihkab pandangannya kearah Naruto sembari menatapnya lekat. "Sebenarnya siapa kau dan kenapa kau membelaku didepan Raiser?"

Naruto menoleh pada Rias. "Suatu saat kau akan tahu siapa aku sebenarnya tapi yang pasti aku disini membuatmu menjadi layak sebahai Heiress bagi Gremory"

Rias dan Peeragenya menatap Naruto tak mengerti.

"Apa maksudmu?" Rias bertanya.

Naruto menghela nafas lelah. "Kau memang cerewet sekali ya, daripada kau menanyakan hal yang tak perlu lebih baik kalian mempersiapkan diri untuk Rating Game dengan kemampuan kalian sekarang nihil untuk menang"

Mendengar nada remeh dari Naruto membuat Rias menggeram keras. "Baiklah akan kami tunjukkan kalau kami bisa mengalahkan Raiser"

"Buktikan jika kau mampu melakukan itu" Naruto tersenyum remeh kemudian melesat cepat meninggalkan Rias dan Peeragenya

~XXX~ The White Wolf ~XXX~

Cklek!

Kushina menatap pintu kediamannya yang terbuka lebar dengan senyum manis terpatri diwajahnya melihat sang putra bungsu sudah kembali.

"Bagaimana Naru?" Kushina bertanya dengan antusias.

Naruto tampak mendecih pelan. "Aku sudah melakukan seperti yang apa Kaasan bilang, sebenarnya untuk apa dia yang akan bertunangan kenapa aku yang harus repot?"

Kushina tersenyum melihat tingkah putranya. "Karena kau yang harus menyelamatkan Rias dan memberi pelajaran pada Raiser jika Rias daan kelompok Rias kalah dalam Rating Game"

Jika saja saat ini Naruto sedang makan sudah pasti ia akan melotot karena tersedak mendengar ucapan Ibunya.

"Aku? Kenapa harus aku?" Naruto menunjuk dirinya tak percaya.

"Karena kami percaya padamu" Naruto menoleh kearah sumber suara yang ternyata adalah ayahnya yang diikuti oleh Yahiko.

"Kenapa bukan Yahiko-nii saja?"

Yahiko mendeathglare Naruto. "Hey perjanjian awal aku yang mengurus Sitri dan kau yang mengurus Gremory, dasar baka Otouto"

Naruto menatap nyalang kearah Yahiko dengan mata berpijar jingga.

"Hah terserah saja lah dan jangan salahkan aku nanti jika burung brengsek itu tewas"

Ketiganya hanya menatap Naruto canggung berdoa agar Naruto tak membabat habis Raiser nanti.

"Tenang saja kau akan mendapat bayaran yang setimpal nanti"

Naruto nampak cuek dengan teriakan Minato. "Terserah" Gumamnya pelan.

~XXX~ The White Wolf ~XXX~

Netra pijar jingga milik Yahiko tak sengaja melihat sosok gadis surai hitan sepundak sedang merenung disebuah taman tak biasanya ia tak ditemani oleh sahabatnya.

"Yo Sona-Taichou apa yang kau lakukan disini? Tak biasanya kau jalan sendiri tanpa Tsubaki?" Tanya Yahiko yang kini sudah berdiri Sona.

Sona menoleh kearah Yahiko. "Tidak ada apa -apa hanya ingin sendiri saja"

Meski berucap seperti itu ia tahu bahwa Sona sedang memikirkan sesuatu hal dan mungkin ada hubungannya dengan Rias.

"Apa ini karena pertunangan Rias dan penerus dari keluarga Phoenix itu?" Mata Sona membulat karena Yahiko tahu apa yang direnungkannya.

"Bagaimana kau tahu?"

Yahiko menoleh kearah Sona dan menatapnya lembut. "Berita itu sudah menyebar dikalangan makhluk supranatural termasuk manusia berkemampuan khusus"

"Begitu" Yahiko mengerutkan dahinya mendapat balasan sendu dari Sona.

"Kenapa Taichou?"

Sona mendongak menatap lekat Yahiko. "Aku gelisah sedari kecil kita selalu bersama jadi aku tahu apa yang dirasakan oleh Rias, dan aku yakin Rias menolak pertunangan ini tapi apa mungkin ia dapat mengalahkan Raiser?"

Mendapat jawaban ragu dari Sona membuat dirinya menghadapkan tubuhnya kearah Sona kemudian mensejajarkan tubuhnya hingga kini Yahiko dan Sona berhadapan.

"Dengarkan aku Sona, kita tak akan tahu apa yang akan terjadi dimasa depan jadi kita tak baik menerka -nerka hal yang buruk jangan berpikir negatif tentang takdir"

Sona mendongak nampak netra matanya bergetar mendengar ucapan Yahiko entah mengappa sesuatu dalam dirinya bergetar tapi ia tak tahu apa.

Yahiko membalikkan tubuhnya lagi. "Yakinlah bahwa Rias tak akan bertunangan dengan Raiser"

'Karena ia tak akan menang melawan The Predator' Lanjut Yahiko dalam hati.

"Kenapa kau yakin seperti itu?"

Yahiko menghela nafas. "Sesuatu yang tak terduga bisa saja terjadi"

Mendengar ucapan Yahiko membuat Sona memiringkan kepalanya tak mengerti kalimat dari Yahiko.

Stap!

Kedua tubuh itu langsung berbalik kala sebuah dentuman kaki keras datang menghampiri mereka.

"Hohohoho... lihat ada Manusia dan Iblis yang sedang memadu kasih" Sona dan Yahiko bersiaga melihat sosok wanita anggun dengan warna merah menyala.

'Vampire' Pikir Yahiko.

Yahiko menoleh kearah Sona ia resah mana mungkin ia dapat membiarkan Sona terlibat dalam hal ini karena Sona tak akab mampu bertahan dalam pertarungan dengan klasifikasi kecepatan.

"Minggir Sona ini terlalu bahaya untukmu" Yahiko merentangkan tangan kanannya didepan Sona.

Sona nampak menunjukkan wajah penolakkan. "Tap-..."

"Dia Vampire bukan Iblis liar ia akan menyerang menggunnakan kecepatan"

"Kalian terlalu banyak bicara, lebih baik aku santap kalian"

Slap!

Slap!

Braaak!

Netra Sona tak menyadari bahwa keduanya sudah berpindah dari tempatnya dan kini sedang beradu pukulan.

Crash!

Vampire itu dapat menghindari cakaran Yahiko dengan bermanuver ke kanan.

Stap!

Tendangan dari Vampire itu dapat ditahan dengan mudah oleh Yahiko.

Wush!

Yahiko meloncat mundur dan mengambil nafas sejenak kemudian melihat keadaan sekitar.

Slaaap!

Sebuah bola cahay merah megarah pada dirinya dengan gerakan cepat ia menghindari kemudian menghantam tanah dan seketika letupan angin muncul hingga menutup pandang sang Vampire.

"Uhhh..."

Crash!

Vampire itu tak menyadari kini tubuhnya sudah terkena cabikan ganas dari Yahiko dan diakhiri pukulan energu alam membuat tubuh Vampire itu jatuh kemudian hancur menjadi kelelawar.

Memastikan tugasnya selesai ia membalikkan tubuhnya kearah Sona yang menatapnya lekat dengan wajah penuh keterkejutan.

"K -Kau seorang Werewolf?" Tanya Sona dengan terkejut.

Yahiko mengangguk. "Ya aku adalah Werewolf apa kau takut padaku Sona?"

Sona menggeleng kemudian berjalan mendekati Yahiko namun sesampainya ia hanya menunduk. "Terimakasih"

"Sama -sama tapi hati -hatilah karena Werewolf dan Vampire sudah memasuki Kuoh dikarenakan aktivitas supranatural yang ketara sekali disini" Sona mengangguk.

Yahiko tersenyum. "Aku harus pergi dulu Sona ada sesuatu yang harus kuperbuat, jaga dirimu baik -baik"

Wush!

Sona hanya menatap penuh arti hembusan angin yang tersisa dari lesatan Yahiko tanpa sadar ia tersenyum.

'Yahiko Namikaze, Werewolf yang menarik' Pikir Sona tesenyum.

~XXX~ The White Wolf ~XXX~

Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum kala netra saphirenya melihat sekumpulan Iblis yang sedang melatih diri dengan giat dan tekun.

'Kau sudah sedikit berubah daripada Rias yang dulu pernah aku jumpai pertama dulu' Pikir Naruto yang masih mengawasi pelatihan Rias dan Peeragenya.

Berhari -hari Naruto sudah mengawasi Rias walau sebenarnya karena ketidak sengajaan karena ia saat itu sedang berburu mangsa, dan ia yakin kemampuan Rias masihlah belum cukup tapi paling tidak ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tap!

Naruto memijakkan kakinya ditanah kala melihat Rias sedang termenung di teras dengan menatap sendu langit malam.

"Buang keraguanmu Rias"

Rias langsung menoleh kearah sumber suara dan betapa terkejutnya ia melihat Naruto bisa berada disini setahunya hanya Sona yang tahu keberadaannya.

"Na -Naruto apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa tahu aku disini?" Tanya Rias bertubi -tubi.

Naruto memilih duduk disamping Rias. "Sebenarnya karena ketidak sengajaan karena beberapa hari yang lalu aku sedang berburu dan aku putuskan untuk melihat perkembangan kelompok kalian"

"Berburu?"

Naruto menanggapinya dengan anggukan merasa tak apa memberi petunjuk pada Rias toh dia juga yang harus menggagalkan pertunangan Rias jika mereka kalah di Rating Game.

"Kau aneh" Naruto menengok menatap Rias tak mengerti.

"Aneh bagaimana maksudmu?"

Rias nampak menghel nafas. "Menurutmu berburu apa sampai harus kepinggiran Kuoh?"

Dalam hati Naruto mengerutuki Rias yang sama sekali tidak peka siapa dirinya sebenarnya namun salahnya sendiri juga memperkenalkan diri sebagai manusia yang memiliki kemampuan lebih.

"Tentu saja berburu hewan, mana mungkin aku hidup kalau berburu"

Mata Rias seketika membola tangannya bergerak patah -patah menunjuk Naruto.

"Kau Vampire ataukah Werewolf?" Tanya Rias.

Naruto lagi -lagi menghela. "Kalai aku Vampire mana mungkin aku keluar saat siang hari"

"Jadi kau Werewolf?"

Naruto menanggapinya dengan sebuah anggukan.

"Tapi dari itu semua lupakan saja dan apakah kau sudah siap besok?" Tanya Naruto.

Sedangkan Rias sendiri menatap Naruto gusar. "Entah kurasa aku tak yakin dapat mengalahkan Raiser"

"Kenapa kau pesimis?" Tanya Naruto dengan menautkan alisnya.

Rias berdiri kemudian bersandar disalah satu pilar penyangga. "Karena aku memang seperti apa yang kau katakan dulu gadis manja yang sukanya hanya memerintah"

Naruto ikut berdiri namun tidak disampingnya malah menatap punggung Rias dari belakang seraya tersenyum tulus yang amat jarang dikeluarkan oleh predator perang ini.

"Tapi aku senang karena sedikit demi sedikit kau mulai menunjukkan sifat kedewasaanmu itu" Rias menoleh menatap Naruto dengan tatapan sulit dimengerti.

"Kenapa kau ingin aku menjadi lebih baik, sebenarnya apa maumu?" Rias bertanya dengan nada bingung.

Naruto kemudian mengambil posisi berdiri disamping Rias. "Kau adalah satu -satunya penerusa keluarga Gremory dan juga mau tak mau kau harus memenuhi takdirmu sebagai Ruin Princess maka dari itu aku ingin merubah dirimu terlebih dari tugad dari kakakmu"

Mendengar penjelasan Naruto membuat Rias semakin membuat terkejut dengan penuturan Naruto.

"Apa yang membuatmu tertarik membantuku sebenarnyya Naruto?"

Naruto mendongak menatap langit malam. "Karena kau adalah Rias walau aku pernah bilang kau gadis manja yang suka memerintah tapi kau adalah Iblis yang memiliki hati yang murni"

"Apa hanya karena hal ini saja?" Rias nampak belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Naruto.

"Belum saatnya Rias, suasatu saat kau akan tahu alasan kenapa aku berbuat seperti ini padamu"

'Karena memang ini sudah takdirku'

"Tidurlah ini sudah malam kau harus istirahat untuk mempersiapkan diri untuk Rating Game besok"

Setelah berucap Naruto melesat meninggalkan Rias yang masih terpaku dengan ucapan Naruto mencoba mencerna apa maksud ucapannya.

~XXX~ The White Wolf ~XXX~

Tap!

Lesatan Naruto terhenti kala tiga sosok bertudung menghadang jalannya, tak mengerti keadaan dan apa salahnya Naruto berniat bertanya dahulu.

"Anoo... kenapa kalian menghadang jalanku?" Naruto menajamkan penciuamannya.

'Vampire' Pikirnya waspada.

Pluk!

Ketiga sosok itu membuka tudung mereka menampakkan sosok gadis bersurai soft pink dan dua pemuda bersurai coklat tak lupa kulit pucat mereka karena mereka adalah Vampire.

"Aku Sakura dan mereka berdua adalah rekanku, kami datang untuk membawamu kepada Madara-sama"

Naruto tahu siapa itu Madara yang merupakan salah satu pimpinan bangsa Vampire beberapa kali ia sudah bertemu dengannya dan yang ia tahu Madara adalah pemimpin gelap bangsa Vampire.

"Bagaimana jika aku menolak nona?" Tanya Naruto sambil menyeringai.

"Kalian serang dan seret dia" Ucap Sakura pada kedua rekannya.

Slap!

Keduanya melesat kearah Naruto tapi dengan mudag dapat dihindari oleh Naruto.

Crash!

Craah!

Dengan gerakan cepat Naruto bermanuver dan mengoyak perut kedua Vampire itu dan satu hal yang mereka ingat tentang Namikaze Naruto yang tak suka memberi waktu bahkan untuk menghirup udara.

"Kau akan mendapat balasannya' Sakura berlari cepat kearah Naruto namun Naruto hanya tersenyum mendengarnya.

Tap!

Pukulan Sakura dapat dengan mudah ditahan oleh Naruto dalam hati ia kesal pada Madara karena sama saja dengan menghinanya dengan mengirim bawahan yang levelnya jauh dibawah dirinya.

"Cukup Nona aku tidak ingin melukaimu lebih dari ini" Naruto berucap sambil melemparkan Sakura beberapa meter.

Naruto yang hendak meninggalkan tempat itu tersiap karena lagi -lagi Sakura menghadangnya yang langsung melesat keaearahnya.

Crash!

Sama seperti tadi Naruto bermanuver memukul perut Sakuea sedikit keras kemudian mencakar paha Sakura hingga sang empu jatuh berlutut.

"Lebih baik kita sudahi, tak akan ada gunanya aku mengampunimu karena kau perempuan terlebih aku tidak merasakan niat jahat dalam dirimu"

Grep!

Sakura lagi -lagi berdiri kemudian menatap tajam Naruto. "Aku tahu siapa yang aku hadapi Panglima Werewolf sang predator Namikaze Naruto, aku sadar akan perbedaan kekuatan diantara kita tapi mati ditanganmu ataupun kembali tak ada bedanya"

"Kenapa kau keras kepala sekali sebagai Vampire?"

Sakura menatap Naruto dengah raut sulit dimengerti. "Karena hanya dengan ini saja aku dapat bertahan didunia yang kejam"

Naruto menatap Sakura tajam. "Lalu apa maumu?"

"Bunuh aku atau kau ikut bersamaku menemui Madara-sama" Jawab Sakura namun Naruto dapat melihat itu bukanlah perintah seperti tadi justru terdengar seperti permohonan.

'Dia gadis Vampire yang polos alangkah menyedihkan jika ia menjalani kehidupan seperti ini?"

"Maaf tapi aku tidak bisa ikut denganmu" Mendengar jawaban darinya ia tahu Sakura nampak pasrah mengira sampai disinilah akhir hidupnya.

"Kalau begitu cepat bunuh aku, aku lebih baik mati ditanganmu daripada mati disiksa oleh Madara-sama" Sakura kali ini hanya pasrah menerima apa yang akan terjadi sambil menunduk.

"Namamu Sakurakan? Ikutlah denganku"

Sakura mendongak menatap Naruto yang kini mengulurkan tangannya kearahnya dengan pandangan sulit dimengerti.

"Namaku Haruno Sakura! Kenapa kau mau menolong Vampire rendah sepertiku?"

Naruto tersenyum betapa polosnya Sakura. "Karena aku hanya ingin menolong saja aku tidak ingin gadis baik sepertimu berakhir ditangan Madara"

"Apa kau bersungguh -sungguh?" Kali ini bolehkah Sakura berharap dapat berjalan dijalan yang terang tanpa bayang -bayang ketakutan.

Naruto mengangguk seraya tersenyum. "Tentu dan soal Madara jangan takut aku yang akan mengurusnya tapi dengah syarat kau harus menjaga apa yang aku percayakan padamu"

Sakura mengangguk semangat karena mulai sekarang ia akan menjalani kehidupan baru tanpa bayang -bayang ketakutan.

Cklek!

Mata Sakura langsung terkesiap kala netranya melihat pemandangan didepannya yang tak pernah ia temui.

"Wahhh... Aku tak menyangka kau memiliki ruang yang indah seperti ini?" Sakura masih terkesiap.

Naruto menghela nafas. "Biasa saja Sakura ini masih Apartemen biasa apalagi kalau kau masuk kedalan apartemen mewah aku yakin kau pasti akan pingsan"

Mendengar ejekan dari Naruto membuat Sakura memayunkan bibirnya. "Mou... Akukan selama ini hanya tinggal ditempat yang gelap jadi jangan salahkan sikapku"

"Yayaya terserah dan mulai besok kau akan masuk sekolah Kuoh"

Sakura menatap Naruto heran walau ia pernah sekolah tapi tetap rasanya beda dan jangan lupakan ia adalah Vampire.

"Apa kau lupa siapa aku Naruto?"

Naruto memutar bola matanya bosan. "Aku tahu kau adalah Vampire dan jangan lupa bahwa aku adalah Namikaze Naruto dengan kemampuan Senjutsu yang aku milikki kau dapat beraktvitas tanpa ada kendala"

Seketika raut muka Sakura menjadi cerah. "Arigatou Naruto"

Naruto tak sempat menyeimbangkan tubuh kala Sakura langsung memeluknya dengan erat melampiaskan rasa bahagia yang sulit diekspresikan.

'Mungkin hariku akan berbeda mulai hari ini, dan aku berjanji akan menjaga Sakura sebagaimana aku menjaga Rias' Pikir Naruto sambil mengelus surai pink Sakura.

~XXX~ Tobe Continued ~XXX~


Akhirnya setelah sekian lama Update juga... yah maaf kalau jalan cerita berubah banyak karena kemaren yang update kakak jadi kuharap kalian puas hehe. ..

Untuk Review yg merasa perlu dijawab udah balas lewat PM