Quets
Q: Apakah Hirakaez itu Obito thor?
A: kemungkinan sih , ikuti saja ceritanya ,nanti bakal terungkap Hirakaez itu siapa
Q: Author apakah Hinata-Naruto-Issei-Rias akan bekerja sama?
A: Kemungkinan. Soalnya masih banyak hal juga yang dipertimbangkan apa nantinya mereka akan bekerja sama atau malah sebaliknya
Teruslah beri saran dan kritik yang membangun karena Author juga manusia hehehehe
Narutoo disclaimer Masashi Kishimoto
High School Dxd Disclaimer Ichiei Ishibumi
True Legend of Naruto : Saviour of World Dxd
Fic tentang kisah Sasuke menyelamatkan dunia dxd dan membawa kedamaian
Char : Naruto , Hinata , Issei , Rias
Rated : M
Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan fic lain nya atau kesalahan penulisan karena fic ini fic ketiga saya .
Fic ini juga terinspirasi dari fic lain nya
RnR please .. hehehehehe
Chapter 7 : The Truth of Hinata part 1
Dream Hinata
Disebuah ruangan , Hinata kini berdiri disana , dia melihat banyak hiasan-hiasan kuil , artefak kuno disana,dekorasi tradisional . dia melihat beberapa prajurit berkumpul dalam ruangan itu.
"byakugan no hime" ucap sosok misterius itu. Suara nya terdengar dari pasukan itu
Hinata pun kaget mendengar sapaan sosok misterius itu. Dia pun memasang sikap waspada , karena bisa jadi yang dihadapan nya adalah musuh
"tenang Byakugan no Hime , aku tak akan menyakitimu" ucap sosok misterius itu
"Siapa dirimu sebenarnya dan kenapa aku bisa berada disini?" tanya Hinata, membalas ucapan yang datang dari pasukan yang ia lihat dihadapan nya.
Kemudian para pasukan itu membuka jalan ditengah pasukan, tampak sesosok pria berkulit putih pucat sedang berjalan , dia memiliki tanduk diatas kepalanya , dia memakai kimono putih khas klan Ootsustuki , Hinata dapat melihat sosok itu mempunyai gudoudama dibelakang tubuhnnya . seluruh pasukan duduk bersimpuh memberi hormat pada sosok itu, Hinata kemudian berasumsi jika sosok itu adalah orang paling dihormati oleh pasukan itu.
"aku datang kesini ,karena jiwaku tertarik oleh keberadaanmu, selain itu perkenalkan namaku adalah Ootsutsuki Hamura. " Ucap Hamura memperkenalkan Namanya.
"Ootsu-tsu-ki Ha-mu-ra" ucap Hinata tergagap melihat sosok dihadapan nya itu.
"aku adalah adik dari Hagaromo, atau bisa dibilang Rikkudou Sennin" tandas Hamura
"Ughh aku tidak mengerti sebenarnya anda siapa dan siapa itu Rikkudou Sennin?" tanya Hinata
"Aku adalah leluhurmu Hyuuga Hinata, dan Rikkudo Sennin adalah pendiri Nishu dan dunia ninja"
Hinata kaget mendengar penjelasan Hamura, setahu dirinya bahwa dunia ninja sudah lama punah,Hinata masih berpikir menerima semua ucapan Hamura itu, kemudian terlintas dalam benaknya saat dirinya dipanggil Hyuuga Hinata oleh sosok asing itu, Hinata berpikir Hyuuga Hinata itu adalah nama yang pernah dibilang oleh Naruto, saat ia pertama kali sadar dari pingsanya itu, akhirnya Hinata pun memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang menurutnya janggal itu.
"Ah, anoo maaf Hamura-sama, kenapa anda memanggilku dengan nama Hyuuga Hinata, sedangkan namaku adalah Hasegawa Hinata, pasti anda salah orang?" tanya Hinata
"Aku tidak salah orang, kamu memang Hyuuga Hinata, kekasih reinkarnasi Ashura pada waktu 10000 tahun lalu dan kamu adalah reinkarnasiku tentunya, kamu adalah salah satu orang yang terpilih sebagai pendamping Ashura dalam mewujudkan perdamaian" ucap Hamura
"kenapa anda bilang begitu Hamura-sama, aku sebenarnya bukan Hyuuga Hinata tapi aku adalah Hasegawa Hinata, lalu siapa itu reinkarnasi Ashura bahkan aku saja tidak mengenalnya" bantah Hinata
"soal reinkarnasi Ashura mungkin kamu sudah mengetahui siapa orangnya, dia adalah orang yang kamu tolong, namanya Uzumaki Naruto" jelas Hamura
Hinata terhenyak tak percaya, dirinya begitu kaget mendengar dirinya adalah pendamping reinkarnasi Ashura, dirinya betul-betul masih belum bisa menerima semua penjelasan tak masuk akal itu.
Melihat raut wajah Hinata yang kebingungan Hamura pun memutuskan untuk menjelaskan semuanya kepada Hinata
"Aku memiliki alasan dan bukti bahwa kamu itu adalah Hyuuga Hinata, kamu sekarang mengalami Amnesia, akibat perpindahan ruang dan waktu yang pernah kamu lakukan dahulu." tandas Hamura
"Tunggu, aku tak mengerti ucapanmu Hamura-sama, aku sekarang mengalami amnesia, lalu aku pernah melakukan perjalanan ruang dan waktu, aku jadi tak mengerti dengan ucapanmu Hamura-sama?" tanya Hinata
"Baiklah, aku akan memperlihatkanmu apa yang sebenarnya terjadi sehingga kamu mengalami Amnesia." Ucap Hamura
"sebenarnya yang terjadi?" ucap Hinata
"yah, perhatikan baik-baik" ucap Hamura
Kemudian dia mengetuk tongkat miliknya kearah lantai kuil itu, setelah itu tampaklah genangan air yang memperlihatkan sesosok gadis berambut indigo dan pria berambut pirang itu
Hinata terkejut melihat apa yang dia lihat, dia merasa sosok gadis bermbut indigo itu adalah dirinya dan sosok pria berambut pirang berkulit tan dan memiliki tiga garis tanda lahir dipipinya itu adalah Naruto, sosok ia selamatkan 3 bulan lalu
Flashback
10000 tahun lalu
Konohagakure, Era Rokudaime Hokage
Pagi yang cerah mengawali rutinitas masyarakat di konohagakure, Konohagakure, sebuah desa shinobi yang berada diwilayah negara Hi, Konoha termasuk salah satu desa 5 negara besar, desa ini terkenal dengan tekad api nya yang dimiliki oleh para shinobinya, termasuk salah satu pahlawan Dunia ninja saat itu, Uzumaki Naruto, anak dari Konoha no kiroi senko dan Akai chisio no Habanero ini telah berhasil menghentikan Juubi yang mengamuk di medang perang dunia Shinobi ke 4. Lalu dia juga berhasil menghentikan aksi Kaguya yang ingin menguasai Dunia Shinobi, kini berkat jasa dirinya, Dunia Shinobi menikmati perdamaian dengan damai dan tenang.
2,5 tahun perang Dunia Shinobi ke 4 berakhir, Konoha kini dipimpin oleh Rokudaime Hokage, Hatake Kakashi. Kakashi merupakan guru bagi Team 7, dia juga salah satu ninja yang berjasa memimpin Team 7 dalam menghentikan perang Dunia Shinobi ke 4.
Kakashi kini sedang menimang keputusan untuk mengakhiri jabatanya sebagai Rokudaime Hokage, dia merasa sudah saat Naruto menduduki jabatan tersebut, mengingat dirinya juga sudah bosan berhadapan dengan dokumen dan kertas-kertas yang tak ada habisnya, Kakashi merasa dirinya lebih pantas untuk memimpin satu pleton pasukan ninja dan berperang melawan musuh dibandingkan dengan melawan musuh abadi para Hokage sebelumnya, yaitu tumpukan Dokumen dan kertas yang tidak ada habisnya.
'hah, sebaiknya aku mengundurkan diri saja, aku sudah bosan menghadapi rutinitas ini' ucap batin Kakashi sambil memandang tumpukan kertas yang ada dihadapan nya itu.
Tok-tok-tok
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengintrupsi kembali lamunan sang Rokudaime itu.
"ah, masuklah" ucap Kakashi
Sreeeetttt...
Pintu itu kemudian terbuka, disana tampaklah sosok pria berambut pirang pendek, dengan kulit tan dan 3 garis kucing yang menghiasi kedua pipinya, yah orang itu adalah Uzumaki Naruto.
"ano, Kakashi-sensei kenapa anda memanggilku?, apa ada misi baru?" tanya Naruto
"ah, tidak Naruto, aku disini tidak memanggilmu untuk misi, aku disini memanggilmu karena ada urusan yang penting denganmu." Jelas Kakashi sambil merapatkan kedua tangannya yang bersandar di meja Hokage itu.
"Urusan penting?" beo Naruto
"ah, begini Naruto, aku akan mengumumkan pemberhentianku sebagai Hokage dalam waktu dekat." Ucap Kakashi
"Oh, kakashi-sensei mengundurkan diri, kukira ada hal apa" ucap santai Naruto sambil memproses omongan Kakashi
Sesaat kemudian Naruto pun sangat terkejut dengan ucapan apa yang dilontarkan gurunya itu
"Nani!, Kakashi-sensei mengundurkan diri, lalu siapa yang jadi Hokage, gawat kalau konoha tak punya pimpinan lagi" teriak panik Naruto
"Hoei, Naruto jangan sembarangan berteriak, ini Kantor Hokage bukan kedai kopi" ucap Kakashi
"Ah, gomen Kakashi-sensei, aku hanya terkejut dengan ucapanmu barusan" ucap Naruto sambil mengeluarkan senyum kikuknya
"Ah, yare-yare, aku sudah menduga reaksimu akan begitu, yah sudahlah" ucap Kakashi
"ah, anoo Kakashi-sensei, aku ingin bertanya, kalau Kakashi-sensei mengundurkan diri sebagai Hokage, lalu siapa yang akan menggantikanmu?" tanya Naruto
"yah, siapa lagi selain dirimu" ucap singkat Kakashi
"Ah, ano sensei, aku tak mengerti maksudmu itu seperti apa?" tanya polos Naruto yang masih tak mengerti dengan ucapan Kakashi itu
"Hah, aku akan menjelaskan padamu, aku sudah mendapatkan persetujuan oleh para tetua dan daimyo negara Hi untuk menunjukmu sebagai penggantiku dan dalam 3 hari kedepan aku akan mengumumkan pengunduran diriku sekaligus melakukan pelantikanmu sebagai Hokage ke 7, jadi mulai sekarang persiapkan dirimu untuk pelantikan nanti" jelas Kakashi
"Heeee, chotomatte Kakashi-sensei, apa ini tidak terlalu cepat, umurku masih 19 tahun untuk menjadi Hokage" ucap Naruto
"Naruto, menjadi kage itu tidak dilihat dari segi umur tetapi kage juga dilihat dari segi kepemimpinan dan kemampuannya dalam menghadapi persoalan para bawahannya, contohnya saja Gaara yang sudah menjadi Kazekage di umur 16 tahun, seharusnya kau berbangga karena nanti kau akan menjadi Hokage termuda dalam sejarah Konoha" jelas Kakashi
"hah bukan begitu Kakashi-sensei, hanya saja aku masih belum terlalu pandai dalam hal itu" ucap Naruto
"aku yakin, kau mempunyai kemampuan itu sebagai kage, lagi pula nantinya kau tidak akan sendiri untuk memimpin Konoha, ada Shikamaru dan para teman-temanmu yang siap membantumu untuk memimpin desa kebanggaan kita" jelas Kakashi
"Hmm, baiklah aku mengerti, kalau begitu aku akan mempersiapkan diriku dulu" ucap Naruto
"baguslah, kau sudah paham, selain itu aku sudah memberikanmu libur 2 hari untuk mempersiapkan dirimu dalam pelantikan nanti, sekarang kau boleh pergi Naruto" ucap Kakashi
"Haii, Hokage-sama" ucap Naruto
Setelah itu Naruto kemudian pergi meninggalkan Kantor Hokage
'Hah, akhirnya aku bisa juga beristirahat dan bersantai dalam waktu dekat' pikir Kakashi
Keesokan harinya
Kini sang tokoh utama kita Naruto, sedang menikmati liburnya dari rutinitas shinobi. Dirinya merasa bosan dengan namanya liburan, karena baginya liburan hanya digunakan untuk beristirahat saja, dirinya merasa semangat kalau ada misi atau pun latihan, akan tetapi Hokage menyuruhnya untuk beristirahat penuh agar badannya bugar guna menghadapi pelantikannya sebagai Hokage dalam beberapa hari kedepan
'Hah,masih jam 5 pagi, sebaiknya aku pergi ketempat Ichiraku saja, lumayan mengisi perut kosong hehehehehe' ucap batin Naruto
waktu, memang masih sangat pagi, tapi sepertinya sang pemuda sudah siap sedia menunggu ramen yang tengah disiapkan oleh Paman Teuchi di kedai miliknya, tunggu?, Naruto bangun pagi?, Apakah tidak aneh, biasanya sepagi-paginya Naruto bangun, ia akan bangun di jam 9, itupun jika ada misi untuknya.
"hoei, Naruto, tak biasanya kau datang sepagi ini" ucap Paman Teuchi yang masih sambil menyiapkan kuah ramen nya yang belum matang, sebenarnya sejak jam 5 pagi Naruto sudah menunggui kedai itu buka
" aku hampir kaget sesaat setelah ku buka puntu kedai, kau sudah ada didepan kedai" ucap Teuchi
"ya begitulah paman, tadi malam aku tidak bisa tidur sampai pagi, karena pagi ini aku sangat lapar, terpaksa aku datang kesini, tapi malah belum buka…huhh" ucap Naruto sambil menopang dagunya diatas meja kedai.
"apa yang kau pikirkan Naruto, bukankah dua hari lagi kau diangkat menjadi hokage" ucapan Paman Teuchi terhenti, terlihat ia kebingungan, ia menoleh kearah Naruto.
"iya paman" ucap Naruto menjatuhkan kepalanya keatas meja.
"sepertinya kau memiliki masalah yang cukup serius Naruto " ucap Ayame tiba-tiba dari dalam kedai.
"ohayou Ayame nee " Ucap Naruto menyapa dengan nada malas.
"ohayou Naruto" Ayame langsung menyodorkan semangkok ramen miso didepan Naruto
"ini, ramen spesial untuk si pahlawan hehe, dan juga ramen pertama untuk hari ini" ucap Ayame lalu meletakkan semangkuk besar ramen itu dihadapan Naruto.
Mata Naruto pun langsung melebar melihat semangkuk ramen yang masih mengepul dihadapannya.
"huhaaaa, Ittadaikamasu" ucapnya bersemangat lalu menyambar sepasang sumpit di samping manguk lalu menyantap ramennya dengan sekali hisap.
"huaahh, kenyangnya, trimakasih paman, Ayame nee " ucap Naruto memegangi perutnya yang membesar
"ini ramen paling nikmat yang pernah kumakan hehe" tambah Naruto kembali dengan cengingiran khasnya.
" jadi, kau bisa ceritakan apa masalahmu Naruto?" tanya Paman Teuchi yang masih saja terus mengaduk kuah ramen dihadapanya.
"maaf paman, kurasa aku tidak bisa menceritakan masalahku padamu" ucap Naruto dengan nada menyesal.
" hee, paling masalah 'cinta' , benarkan na-ru-to!" ucap Ayame dengan penekanan di bagian 'cinta'.
" e-eh" pekik Naruto kaget lantaran ucapan Ayame.
" jadi benar kan? Hem..hem" goda Ayame.
" kau ini apa-apan sih Ayame nee, tentu saja tidak" ucap Naruto sambil membuang mukanya ke arah lain.
" hee, benarkah, tapi sepertinya kau kaget saat aku menanyakan 'cinta' " ucap Ayame " kau mungkin bisa berbohong Naruto, tapi gerak-gerikmu tak akan menipuku hehehe" tambah Ayame.
" e-eh..t-tidak, b-bukan begitu" ucap Naruto gelagapan.
" haha, tuh kan benar, kau saja langsung gelagapan begitu" ucap Ayame
"sudahlah, jika kau tak mau membicarakanya, toh itu privasimu" tambah Ayame lalu berbalik dan pergi ke belakang untuk mencuci nagkuk bekas Naruto.
"huhh, menyebalkan sekali orang itu" ucap Naruto lalu berdiri
"paman, ramennya berapa?" ucap Naruto sambil mengambil dompet katak berwarna hijau di saku celananya.
" tidak usah Naruto, untuk mu, ramen itu gratis" ucap Paman Teuchi.
" benarkah?" tanya Naruto
" ya, itung-hitung itu sebagai hadiahku, karena sebentar lagi kau akan mendapatkan impianmu sejak dulu" ucap Teuchi
"hehe, arigatou paman" ucap Naruto lalu berjalan menjauh dari kedai.
Suasana masih belum begitu ramai, hanya para pedagang yang belalu lalang untuk menyiapkan dagangan mereka dipasar, diliatnya jam di tangan nya hadiah dari Bee beberapa hari lalu
" masih jam 6" gumamnya pada diri sendiri. Naruto terlihat bingung memilih pulang ke apartemen nya lalu tidur atau berjalan kesuatu tempat.
" aku malas pulang" gumam Naruto, tanpa ia sadari kakinya sudah membawanya kedalam keramaian pasar, ia berjalan diantara kerumunan dengan tangan yang ia masukkan kedalam sakunya, ia pandangi aktifitas pasar yang memang jarang ia lihat.
Sekalinya keluar pagi, itu pun saat misi setelah penyelamatan gaara dulu , huh, sepertinya pemandangan pasar menjadi barang langka untuk Naruto, bukannya tidak bisa, tapi memang malas dan tidak mau.
Kakinya berjalan terus sampai tengah pasar, ia lalu berhenti didepan sebuah ruko yang menjajakan berbagai macam ramen instan, ia tertarik dan melangkah mendekati ruko didepannya.
" paman, ada ramen miso jumbo?" tanya Naruto kepada sesosok lelaki bertubuh gemuk yang tengah menunggu dagangannya.
" ohh, Naruto….maaf, ramen itu sudah habis dari kemarin, aku belum sempat menyetok ulang" ucap pedagang tersebut.
" e-eh, paman tahu namaku?" yanga Naruto heran.
" tentu saja, siapa yang tak kenal kau, bahkan sampai pelosok Dunia pun mengenalmu" ucap pedagang ramen
"kalau kau mau, ini ada barang baru ramen rasa yakiniku atau rasa kare " ucap penjual ramen sambil menyodorkan bungkusan ramen instan berwarna coklat kehitaman dan kemerahan.
" wahhh, kelihatannya enak" ucap Naruto matanya berbinar.
" tentu saja, ini varian rasa baru" ucap pedagang membanggakan diri.
" aku ambil 10 paman" ucap Naruto lalu mengeluarkan dompet katak hijaunya
" jadi berapa harganya paman?" tanya Naruto
" ohh, tidak usah Naruto, ini semua untukmu saja" ucap pedagang ramen sambil menyodorkan seplastik besar ramen instan.
" hee, apa paman yakin, tapi ini sangat banyak" ucap Naruto sambil menunjukan ekspresi girangnya.
" tentu saja, setelah apa yang kau lakukan, ini belum lah cukup untuk membalaskan budimu" ucap pedagang ramen tersebut.
"a-arigatou paman" ucap Naruto terbata dan terharu.
" sama-sama" ucap pedagang ramen tersebut.
" baiklah, ini kubawa ya paman" ucap Naruto lalu melangkah pergi sambil membawa seplastik ramennya.
" yaa, hati-hati" ucap pedagang ramen itu
' Sepertinya bangun pagi banyak mendatangkan keuntungan, dari ramen jumbo gratis dari Paman Teuchi sampai sekantung besar ramen instan yang lagi-lagi gratis, hah, sepertinya mulai sekarang aku harus bangun lebih pagi lagi' gumam Naruto.
Baru beberapa meter berjalan, seketika itu badannya langsung kaku melihat sesosok gadis yang tengah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini, rambut indigo panjangnya melambai terkena terpaan angin pagi, ia berjalan menyusupi orang-orang di dalam keramaian pasar sambil menenteng sebuah tas belanja berisikan sayuran, terlihat ia sedang mampir si salah satu kios yang menyediakan daging.
"Hi-Hinata" gumam Naruto yang sudah lebih dari dua bulan tak melihatnya, bukan karena misi yang dibebankan padanya, tapi karena hampir tiga bulan Hinata pergi ke Suna untuk keperluan klan bersama ayahnya.
Naruto pun menguatkan tekadnya untuk mendekat kearah gadis yang telah mencuri hatinya sejak 2,5 tahun yang lalu, tepatnya saat Hinata mencoba menyelamatkannya saat serangan Pain, Naruto tak menyangka, gadis semanis Hinata bisa mencintai seorang monster seperti Naruto, padahal orang lain berlomba-lomba untuk membencinya.
Langkahnya mantap menembus keramaian pasar yang entah sejak kapan sudah penuh sesak dengan lautan orang-orang yang mencari bahan makanan untuk persediaan sehari kedepan, dlihatnya wajah cerah Hinata yang sepertinya sedang melakukan tawar menawar dengan pedagang daging.
Bibir Naruto pun langsung melengkung tipis melihat tingkah Hinata yang kadang seperti marah, kadang memelas untuk mendapatkan harga sesuai keinginannya, hah dasar Hinata, kelihatannya pemalu, tapi jika berurusan dengan tawar menawar barang sepertinya dia tak kalah dengan yang lainnya.
Tak terasa Naruto telah berdiri tepat dibelakang Hinata, jarak antara mereka hanya kurang lebih 1 meter, Naruto sudah bisa mendengar sayup-sayup suara lembut Hinata, walaupun sedikit terganggu dengan kebisingan pasar yang semakin lama semakin ramai.
Naruto memutuskan hanya memandangi punggung Hinata saja yang tertutupi oleh rambut indigo indahnya, sesekali helaian rambut itu bergoyang karena terpaan angin, dan lagi-lagi tak terlewatkan walau hanya sedikitpun oleh pandangan mata Naruto.
Kegiatan Naruto pun akhirnya terpaksa terhenti karena Hinata tiba-tiba berbalik dan mempergoki Naruto tengah berdiri dihadapannya.
"e-eh..n-Naruto-kun kenapa disini?" ucap Hinata gelagapan, tak lupa wajahnya yang sudah semerah tomat favorit Uchiha Sasuke itu.
" hehe, aku Cuma beli ini" ucap Naruto memperlihatkan seplastik ramen instan miliknya.
" m-maksutku, kenapa n-Naruto-kun berdiri disini?" tanya Hinata kepada Naruto yang masih tetap berdiri dilokasi yang sama.
" memangnya kenapa? Tidak boleh ya?" ucap Naruto sedikit menggoda Hinata yang sepertinya keadaannya kurang baik karena jantungnya terus menerus berdegup kencang.
" b-bukan begitu hanya saja…" , " Hinata, nanti siang kau ada acara?" ucapan Hinata pun tiba-tiba dipotong oleh Naruto.
"e-eeh, me-memangnya kenapa?" tanya Hinata heran.
" emmm, aku Cuma mau mengajakmu ke kedai paman teuchi" ucap Naruto dengan wajah inocentnya
" kau mau kan?" pinta Naruto
"e-ehh, eto….ummm" wajah Hinata langsung merona lebih merah lagi lantaran mendengar permintaan Naruto 'N-Naruto-kun mengajakku?' batin Hinata girang, tapi pemikirannya itu pun langsung ditepisnya
'Ah tidak, mungkin Naruto-kun Cuma membutuhkan bantuanku' batin Hinata.
Naruto yang melihat Hinata hanya mematung sambil menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya pun hanya memiringkan kepalanya tanda tak mengerti "
eto..hinata?..kau tidak mau ya?" ucap Naruto sedikit menyesal.
Hinata yang masih bersitegang dengan pikirannya pun langsung tersadar atas pertanyaan Naruto.
" b-bukan begitu Naruto-kun" bantah Hinata gelagapan " hanya saja…".
" jadi?" tanya Naruto
"emm..etoo…b-baiklah" Naruto langsung mengembangkan senyumnya lantaran mendengar jawaban Hinata ,
" yosh!" teriak Naruto yang tentu saja menyita perhatian berapa orang yang tengah lewat didekat Naruto dan Hinata
" kalau begitu nanti jam 10 aku jemput yaa" lanjut Naruto.
" e-eehh, apa tidak merepotkan?" ucap Hinata dengan wajah semakin merah
" tidak kok, aku malah senang hehe" ucap Naruto menunjukkan senyuman rubahnya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
" umm, b-baiklah" ucap Hinata mengangguk
" Hinata, setelah ini kau mau kemana lagi?" tanya Naruto
" a-aku sudah selesai, setelah ini mau pulang" jelas Hinata
" aku juga, yasudah aku duluan ya Hinata,…jaa-nee" ucap Naruto lalu berjalan pergi meninnggalkan Hinata.
Hinata masih saja mematung setelah kepergian Naruto, ia tak percaya kejadian barusan, tak disangkanya ia dapat bertemu Naruto ditempat seperti ini, semburat merah diwajahnya kian memerah tatkala memikirkan Naruto yang mengajaknya ke kedai ramen nanti siang.
Tak berapa lama, lamunan Hinata pun terhenti saat kou tiba-tiba memanggil Hinata
"Hinata-sama, anda dipanggil hiashi-sama sekarang!" ucap kou.
" baiklah" ucap Hinata lalu melangkah pergi meninggalkan keramaian pasar
SKIP TIME
Tepat pukul 9 pagi di kediaman Hyuuga, tepatnya didalam kamar gadis bersurai indigo tengah terjadi keributan kecil antara kakak dengan adiknya, yang sepertinya sang kakak sedang menuduh adiknya menyembunyikan barang sang kakak.
"aku kan sudah bilang, aku tak mengetahuinya nee-chan!" ucap Hanabi
"ayolah Hanabi-Chan, lalu dimana barang itu!" ucap Hinata yang masih berusaha mencari sebuah barang, dan sekarang Hinata terlihat berjongkok dan melihat kearah kolong tempat tidur, sedangkan sang adik hanya berdiri bersender di tembok dekat pintu
" setidaknya bantu nee-chan mencari barang itu" ucap Hinata yang masih berusaha mencari.
" ahh, itu kan barang nee-chan, kenapa aku juga harus mencarinya?" ucap Hanabi yang sepertinya keberatan membantu kakaknya.
" ayolah Hanabi-Chan, bantu nee-chan mencarinya, waktu nee-chan tinggal 1 jam lagi" ucap Hinata.
" hahh, baiklah-baiklah" ucap Hanabi lalu membantu Hinata mencarinya.
30 menit berlalu tak ada tanda barang yang sedang Hinata dan Hanabi cari, Hanabi sudah putus asa dan memutuskan untuk berbaring di tempat tidur kakaknya, sedangkan Hinata masih terus mencari didalam keranjang baju kotornya, mungkin saja terjatuh disana.
" sudahlah nee-chan, pakai jepit rambut punyaku saja, toh bentuknya sama" gumam Hanabi sambil memeluk guling Hinata
" tapi kan warnanya berbeda Hanabi-Chan, nee-chan tidak suka warna hijau" ucap Hinata.
Saat Hanabi membenarkan bantal yang ia kenakan untuk tidur, tak sengaja tangannya menyenggol sebuah benda kecil, hanabi pun langsung mengangkat bantalnya dan, ternyata
" nee-chan!, ini ketemu, dibawah bantal" ucap Hanabi sambil menyodorkan sebuah jepit rambut berwarna lavender kepada kakaknya.
" ahhh, yokatta" ucap Hinata lalu merebut jepit rambutnya lalu memasangkannya dirambut indigonya.
Hinata berlenggok-lenggok didepan cermin memeriksa penambilannya sudah pas atau belum, sekarang Hinata menggunakan baju berwarna putih dengan lengan pendek dibalut dengan dress selutut berwarna lavender tanpa legan
"bagaimana penampilanku Hanabi-chan?"
" nee-chan pakai baju apapun tetap terlihat cantik kok" komentar Hanabi sambil tertidur.
" lihat nee-chan dulu hanabi-Chan!" ucap Hinata yang geram saat melihat Hanabi mengomentarinya tanpa melihat kearahnya.
" tanpa melihatpun aku tahu nee-chan" ucap Hanabi.
" huhh dasar!" gumam Hinata lalu melihat kearah cermin lagi, dibenarkannya jepit rambut miliknya agar pas
" yap" gumamnya memastikan penambilannya sudah siap, Hinata lalu menengok kearah jam dinding,
'masih 5 menit lagi' ucapnya dalam hati.
Tapi sepertinya Hinata kurang suka menunggu, ia pun memutuskan untuk menunggu Naruto di gerbang kompleks, Hinata langsung menyambar tas kecil miliknya diatas meja lalu berjalan keluar, namun sebelum menutup pintu kamarnya, Hinata pamit kepada adiknya
" Hanabi-Chan, nee-chan pergi dulu yaa" ucap Hinata lalu menutup pintu.
" ya.., salam buat Naruto nii-chan ya" ucapan Hanabi
Degggg
Ucapan hanabi dari balik pintu pun sukses membuat Hinata terhenti, wajahnya langsung merona merah
'k-kenapa hanabi-Chan bisa tahu' gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, seorang penjaga kompleks memanggil Hinata
" Hinata-sama, Naruto-sama mencari anda?" uacp si penjaga sedikit berteriak.
' ahh, dia sudah datang' ucap Hinata didalam hati
" iya, aku datang" ucap Hinata sedikit keras lalu berjalan sedikit berlari kearah gerbang.
Naruto POV
Naruto masih menunggu Hinata di balik gerbang kompleks perumahan Hyuuga, sepertinya ia telah menunggu lebih dari setengah jam yang lalu, tunggu? Setengah jam?, haha, ternyata Naruto pun sudah tak tahan untuk bertemu dengan Hinata eh.
"ahh, Hinata lama sekali" gumam Naruto sambil menyenderkan punggungnya di sebuah pohon besar.
Tak berapa lama kemudian sesosok gadis berambut indigo muncul dari arah pintu gerbang, mata Naruto langsung terbelalak melihat betapa anggunnya gadis dihadapannya, Hinata mulai berjalan kearah Naruto yang masih terbengong-bengong.
"na-Naruto-kun, gomenne aku membuatmu menunggu lama" ucap Hinata sambil menunduk menyembunyikan semburat merah khas Hinata.
'ya ampun, dia manis sekali!' batin Naruto dalam hati girang, betapa tidak, Hinata terlihat begitu feminim sekali hari ini dan tambah cantik menggunakan pakaian seperti itu.
" Naruto-kun?" ucap Hinata yang bingung melihat Naruto memandanginya denga cara yang aneh.
" ehh…ano..eto…." ucap Naruto gelagapan
" k-kau sudah siap Hinata?" lanjut Naruto bertanya sambil mengaruk-garuk kepala bagian belakangnya.
" umm, kita mau berangkat kapan" ucap Hinata sedikit memiringkan kepalanya yang malah menambah manis wajahnya.
' KAWAIIII' teriak Naruto didalam hati, detak jantung Naruto pun tiba-tiba bertambah 2 kali lipat, dadanya panas, rasanya ingin pingsan saja, halah, dulu Hinata yang pingsan saat ketemu dengan mu Naruto, sekarang malah kau sendiri yang pingsan.
" ehh,,ya..sekarang, ayo Hinata" uca Naruto lalu mengandeng tangan Hinata yang tentu saja membuat sang empu sedikit terkejut
"i-iya" ucap Hinata gagap saat tangannya mulai ditarik naruto.
Naruto POV END
Normal Pov
Hahh, siang yang tak begitu panas di konoha, memang waktu belum memasuki tengah hari, tapi biasanya jam-jam segini udara sudah mulai panas, ditambah saat ini merupakan pertengahan musim panas, huhh, tapi sepertinya keadaan sedikit berbeda di depan kedai ramen milik paman teuchi.
Dua orang muda-mudi terlihat gugup sembari menunggu pesanan ramen mereka siap, si pria hanya bisa melirik-lirik gadis disamingnya dari ekor matanya, sedangkan si gadis hanya diam dan memainkan jari jemarinya, oh iya tak lupa semburat merah khas miliknya.
Tapi sepertinya dua pasang mata sedang memperhatikan tingkah laku Naruto dan Hinata sambil menyiapkan dua mangkuk ramen, sepertinya mereka sudah tahu apa masalah yang menimpa Naruto pagi tadi.
Naruto sangat tak menyukai kedaaan seperti ini, ia harus keluar dari situasi seperti ini, Naruto mencoba mencari topik pembicaraan yang menarik untuk Hinata.
" ne Hinata, tadi pagi kau belanja banyak sekali, memangnya pelayan dirumahmu tidak ada ya?" tanya Naruto
" ahh, tidak juga, aku lebih suka melakukannya sendiri" ucap Hinata sambil menahan semburat merah di wajahnya yang kian lama kian tebal.
' sepertinya Hinata sangat mandiri' batin Naruto sambil memperhatikan Hinata.
" eto..n-Naruto-kun kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Hinata merasa risih saat Naruto memandanginya dengan cara yang aneh.
"ehh..b-bukan begitu..hanya saja aku kagum padamu" ucap Naruto gelagapan.
" ehh, k-kenapa?" tanya Hinata
" ya, aku kagum, kau seorang penerus klan hyuuga, tapi kau sangatlah mandiri dan mau melakukan semuanya sendiri, sepertinya kau tipe orang yang tak mau merepotkan orang lain" ucap Naruto panjang lebar.
" umm, b-benarkah, aku kan Cuma berbelanja sendiri saja" ucap Hinata sambil memainkan jarinya.
" tentu saja benar" jawab Naruto.
Tak berapa lama kemudian sepertinya ramen pesanan mereka telah siap.
" ini dia. Dua mangkuk ramen untuk Naruto dan yang satunya lagi untuk 'pacarnya'" ucap Ayame sambil meletakkan dua mangkuk ramen dihadapan Naruto dan Hinata.
Hinata yang mendengar perkataan ayame nii di bagian 'pacar' langsung terlonjak kaget
" e-eh..p-pacar?" gumam Hinata kaget
Naruto pun juga tak kalah kaget mendengar ucapan anak Teuchi itu.
" apa maksudmu ayame-nee, kita belum pacaran kok" ucap Naruto gugup.
" tuh kan benar..hihihi, jadi permasalahanmu tadi pagi itu gadis manis ini toh" ucap ayame yang tentu saja langsung membuat wajah Naruto memerah.
" m-maksudnya?" tanya Hinata heran mendengar ayame.
" ahh, yasudahlah kalian lanjutkan acara 'pacaran' kalian, aku tak ingin menganggu hehe" ucap ayame lalu pergi.
Hinata yang mendengarnya pun langsung blushing berat sambil menundukkan wajahnya karena malu, sampai akhirnya Naruto menyadarkan Hinata
" sudahlah Hinata, jangan pikirkan perkataan ayame nii, ayo kita makan" ucap Naruto lalu mengambil sepasang sumpit.
" i-iya Naruto-kun" ucap Hinata lalu meraih sumpit di depannya.
Waktu terasa berjalan cukup cepat tatkala Naruto dan Hinata tak terasa sudah menghabiskan ramen milik mereka, bahkan Naruto sudah menghabiskan 4 mangkuk besar ramen, tapi sepertinya acara berduaan mereka terganggu oleh seorang berambut musim semi yang secara tiba-tiba memanggil Naruto.
" Naruto!" teriaknya sambil berlari kearah Naruto.
" Sakura-Chan?, ada apa?" ucap Naruto bertanya kearah Sakura yang sekarang tenag berdiri di antara Naruto dan Hinata.
" hoo, ternyata ada Hinata juga disini" ucap Sakura " ne..ne. apa kalian sedang kencan?" tanya Sakura menggoda.
" b-bukan begitu Sakura-san" ucap Hinata gelagapan.
" iya benar, kita tidak sedang melakukan itu! Ucap Naruto " sebenarnya kau kemari ada apa sih?" tanya Naruto.
" ohh, iya, nanti jam 1 kau disuruh Kakashi-sensei untuk menemuinya" ucap Sakura.
" ahh, apa lagi sekarang" gumam Naruto.
" aku tidak tahu" ucap Sakura
" yasudah kalau begitu, aku mau pergi dulu takut menganggu acara kalan,,jaa ne Hinata…Naruto" ucap Sakura lalu berlari menjauh.
" huhh, orang itu" gumam Naruto.
" ada apa Naruto-kun?" tanya Hinata sepertinya resah melihat Naruto bergumam sendiri.
" ah tidak Hinata, hanya saja…."
" hanya saja apa Naruto-kun?" tanya Hinata
" sepertinya hari ini aku akan berhadapan dengan tetua" ucap Naruto lalu mendongak kan kepalanya " aku harus bersikap bagaimana?" tambah Naruto.
" jadi itu…umm" terlihat Hinata sedang berpikir
" Naruto-kun bersikap saja seperti biasa" ucap Hinata.
" kenapa harus begitu?" ucap Naruto menolehkan wajahnya memandang Hinata.
" umm, karena mungkin dengan menunjukkan diri Naruto-kun yang asli mereka akan lebih percaya pada Naruto-kun" ucap hnata " Naruto-kun yang selalu bersemangat, pantang menyerah dan selalu melindungi yang dicintainya" tambah Hinata.
Naruto yang mendengar penuturan Hinata pun hanya bisa melongo, pikirannya kini sudah lebih baikan saat mendengar penjelasan Hinata
" arigatou Hinata, dari dulu hanya kau yang bisa meyakinkan perasaan ku" ucap Naruto sambil menunjukkan cengingiran rubahnya.
" umm, sama-sama Naruto-kun" ucap Hinata tersenyum manis.
Setelah makan bersama di kedai, Naruto pun memutuskan mengajak Hinata untuk menuju danau yang terletak tak jauh dari tempat latihan tim-7, mereka sekarang terlihat sedang bergandengan tangan menyusuri jalan ditengah desa, tak dipungkiri lagi berpuluh-puluh pasang mata sedang memperhatikan mereka, yang tentu saja membuat Hinata malu.
" N-Naruto-kun sebenarnya kita mau kemana?" ucap Hinata yang masih ditarik oleh Naruto.
" itu rahasia, hehe" ucap Naruto menengok kearah Hinata dibelakang.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai didanau, di tepi danau terlihat Hinata tengah duduk disamping Naruto yang tengah berbaring diatas rumput menikmati kesejukan udara.
" Naruto-kun, tempat ini indah" ucap Hinata.
" ya, saat aku sedang sedih aku selalu kesini" ucap Naruto lalu bangkit dari tidurnya.
"…" Hinata hanya diam menikmati terpaan angin di wajah putihnya, tanpa sadar Naruto mengamatinya dengan deru jantung yang kian tak menentu.
" Naruto-kun..kau tahu aku tak pernah sekalipun kepikiran kita bedua menghabiskan waktu berduaan seperti ini" gumam Hinata.
" kenapa ?"
" karena.. aku tahu itu tak kan mungkin" gumam Hinata lagi.
" kenapa kau berpikir begitu hime?" ucap Naruto.
" e-eh?...n-Naruto-kun tadi memanggil aku apa?" ucap Hinata kaget.
" hime? Kenapa kau berfikir begitu?" jelas Naruto yang tentu saja membuat wajah Hinata merona tatkala mengetahui dirinya dipanggil 'hime' oleh Naruto.
" k-karena aku tahu Naruto-kun tak akan mau mengakuiku, karena Naruto-kun mencintai Sakura-san" ucap Hinata menunduk.
" apa benar?, buktinya sekarang aku mengajakmu" ucap Naruto lembut " Hinata aku mencintaimu" ucap Naruto yang langsung membuat Hinata terlonjak.
"e-eh,..n-na-Naruto-kun tadi.." , " aku mencintaimu Hinata" ulang Naruto memotong perkataan Hinata.
" t-tapi bukankah Naruto-kun mencintai Sakura-san" ucap Hinata gelagapan dengan wajah semerah tomat.
" itu dulu saat aku kecil dan belum mengerti cinta" ucap Naruto lalu meraih tangan Hinata dan mengengamnya " dan sekarang aku telah menemukan arti cinta yang sesungguhnya, yaitu kau hime" tambah Naruto yang sukses membelalaukan mata hinata.
Hinata langsung meneteskan air mata bahagia nya mendengar penuturan Naruto, dia begitu bahagia perasaannya telah tersampaikan, ia sempat pesimis Naruto mau mengakuinya, tapi sepertinya hari ini, detik ini mengubah segala suatu tentang presepsinya.
" Hinata?, kenapa kau menangis?, apa aku menyakitimu" tanya Naruto membelai pipi lembut Hinata dengan jarinya untuk menghapus air mata Hinata.
" aku bahagia Naruto-kun, aku senang, ini air mata bahagia" ucap Hinata tersipu.
" benarkah?, jadi apa kau mau menjadi kekasihku?" ucap Naruto menatap lekat iris lavender Hinata.
"um, aku mau" ucap Hinata mengangguk semangat.
GREBB!
Dan tiba-tiba Naruto langsung memeluk tubuh Hinata.
"Arigatou Hinata..." gumam Naruto didekat telinga Hinata
Skip Time
Sementara itu disebuah tempat misterius
Malam itu, Di tempat yang tampaknya cukup jauh dari desa, Beberapa klan Hyuuga termasuk pimpinan mereka, Hyuuga Hiashi berkumpul, Menemui seorang lelaki misterius yang tampaknya memiliki niat jahat.
''Aku ingin bertanya padamu untuk terakhir kalinya. Hyuga Hiashi, berilah jawabanmu. Jawaban yang akan menentukan masa depan nasib Klan mu.'' Kata lelaki misterius itu lagi
"Inilah.. jawaban Klan Hyuuga!" Hiashi justru melompat dan menyerang lelaki itu.
"Bodoh sekali.." Ucap lelaki itu, Yang menghilang bagaikan hantu tepat ketika serangan Hiashi mendarat di tubuhnya.
Setelahnya, puluhan pasukan shinobi misterius muncul. Ninja-ninja dengan tubuh yang dibalut menggunakan perban. Entah dari mana mereka muncul dan menyerang orang-orang Hyuuga.
Klan Hyuuga tak hanya diam, mereka bertarung sekuat tenaga untuk menghabisi mereka. Namun meski kekuatan pasukan itu tak seberapa, jumlah mereka terlalu banyak. Seorang klan Hyuuga bahkan direbut oleh puluhan pasukan musuh.
Meski Hyuuga memiliki jutsu pukulan tangguh yang mampu mementalkan sekian banyak dari mereka, musuh seolah tak ada habisnya. Terlebih, mereka memiliki kemampuan untuk menembakan bola-bola peledak yang sangat mengganggu.
Hiashi mencoba untuk menghindar dan masuk ke dalam gua, namun musuh menembakan serangan itu lagi dan meruntuhkan gua itu, akibatnya Hiashi tewas terbunuh. kemudian para Anak buah sosok misterius itu menemukan jasad Hiashi terbujur kaku direntuhan Goa itu, dengan sigap para anak buah sesosok misterius itu mengambil byakugan milik Hiashi itu.
"Toneri-sama kami sudah mendapatkan mata Byakugannya" ucap salah satu anak buahnya itu sambil mengasih toples kaca berisi Mata Byakugan milik Hiashi itu
"bagus, lalu persiapkan Invasi besar-besaran kedepannya, kita akan menghancurkan dunia ini dalam 2 hari kedepan " perintah Toneri
"Haii, Toneri-sama" ucap mereka
Kemudian para anak buah Toneri itu meninggalkan Toneri
'bagus dengan begini, aku bisa membangkitkan Tenseigan dan mengendalikan Kurobi, sebentar lagi aku akan hancurkan Dunia milik Rikkudou Sennin ini' ucap batin Toneri sambil menyeringai jahat.
To be Continued...
Hai minna-san, kali ini dalam 2 chapter kedepan Author akan membahas masa lalu Hasegawa Hinata, seperti yang dijanjikan oleh Author, Author akan menceritakan siapa sebenarnya Hasegawa Hinata, dan masa lalunya secara spesifik tentunya.
Jadi ikuti terus cerita ini Oke
Silahkan RnR, maaf cerita agak Typo, bad Summary, atau ada kata-kata yang kurang dipahami
