Title : Something Curious

Author : dns

Chapter 2

Rate : T

Genre : Friendship, Angst, Hurt/Comfort

Warning : OOC, Typos

What The Day!

Summary :

"Kalian kan bisa memanggil seonsaeng."/ "Aku tidak yakin Sehun akan bilang terima kasih pada sunbae itu. Ia pasti hanya akan marah."/ "Aku bilang 'pulang bersamamu', bukan pulang bersamamu dan Sehun."/ "Aigoo, kakimu tak bertulang, ya?"/ "Ya Tuhan, ada apa dengan makhluk-Mu yang satu ini?"

.

.

.

Previous Chapter

"Permisi-permisi.. kami ingin lihat apa yang kalian lakukan." Beberapa siswa langsung menyingkir saat mengetahui yang tengah berbicara adalah sunbae mereka. Namun, beberapa ada yang tampak berpikir dulu baru kemudian memberi jalan dengan raut yang sulit diartikan.

...

"HUWA!" teriak Kai yang nyaris membuat seisi kelas itu terlonjak dan sisanya langsung menatapnya dengan roman muka kaget luar biasa.

.

.

.

I just borrow the name of casts.

Something Curious plot and idea are totally mine.

.

.

.

Chanyeol yang termasuk dalam orang-orang yang terlonjak itu refleks menegakkan kepala dan memutar bola matanya. Bukan pada Kai, bukan pada kumpulan juniornya, melainkan pada siapa yang tengah mereka kelilingi.

"SEHUN!" Kini semua mata tertuju pada Chanyeol.

Bersamaan dengan itu, bisik-bisik mulai terdengar samar, tapi Chanyeol tak acuh. Ia langsung melepaskan tangannya dari pegangan Kai dan segera berlutut di sisi Sehun yang entah sudah berapa lama tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

"Hei, apa yang kalian lakukan? Ia pingsan dan kalian hanya mendiamkannya? Sekolah ini punya ruang kesehatan untuk murid yang sakit. Apa kalian tidak tahu?!" Entah sadar, entah tidak, tapi suara Chanyeol keluar setingkat lebih tinggi dari biasanya. Mata pemuda itu memicing memandangi satu per satu juniornya, sampai seorang yang berbadan agak tambun menjawab pertanyaannya.

"Kami takut, Sunbae." Kontras dengan tubuhnya, suara anak itu terdengar pelan dan penuh keraguan. "Kami takut Sehun akan marah lagi kalau tahu kami membawanya ke ruang kesehatan. Dia tidak mau disentuh, Sunbae."

Chanyeol merendahkan intensitas ketajaman tatapannya. Begitu pula dengan intonasi suaranya. "Kalian kan bisa memanggil seonsaeng."

Tak ada yang menyahut. Teman-teman sekelas Sehun itu hanya terdiam dengan ekspresi sama. Ragu, takut, dan mungkin juga bercampur dilema. Secepat mungkin Chanyeol mengambil alih tubuh Sehun saking tak sabarnya menunggu reaksi orang-orang di sekitarnya.

"Ayo, Kai, kita bawa Sehun ke ruang kesehatan!" Kai yang sejak tadi hanya diam langsung terkesiap. Ia merasa agak sedikit linglung. Dalam waktu bersamaan pula ia merasa otaknya mendadak penuh. Tapi akhirnya, yang ia lakukan juga hanya satu. Ia mengikuti Chanyeol melakukan piggyback kepada Sehun.

"Kau kenal siapa sunbae itu?"

"Tidak, tapi sepertinya ia mengenal Sehun. Ia sangat peduli dengan si aneh itu."

...

"Kata Eomma-ku, orang seperti Sehun itu memang tidak usah didekati. Mungkin saja ia memiliki penyakit menular."

...

"Aku tidak yakin Sehun akan bilang terima kasih pada sunbae itu. Ia pasti hanya akan marah."

...

"Sunbae itu seharusnya lebih berhati-hati pada Sehun. Kita kan tidak tahu ada apa dengan si aneh itu."

Selentingan-selentingan itu seakan mengiringi langkah Kai menuju pintu kelas. Sebisa mungkin ia coba mengabaikan, tapi telinganya masih sangat normal. Bahkan, untuk mendengar suara yang amat rendah di sana. Ia telah tertinggal jauh dari Chanyeol yang sudah mencapai luar kelas. Jadi, ia yakin Chanyeol pasti tidak mendengar hal-hal yang menurutnya terdengar cukup menyakitkan itu.

.

.

.

Menurut dokter yang hari ini berjaga, Sehun hanya mengalami kelelahan dan maag yang kambuh. Sebelum pamit pergi entah untuk ke mana, dokter meminta Chanyeol untuk tidak terlalu khawatir. Cukup menyuruh Sehun meminum obat maag lalu mengisi perutnya. Bubur pun menjadi saran yang dianjurkan.

Sejak Chanyeol membawa Sehun ke sini pun ia juga jadi lupa segalanya. Ia bahkan tak ingat pada Kai yang saat ini hanya duduk diam di ranjang kosong sebelah ranjang Sehun. Chanyeol terlalu sibuk memerhatikan Sehun yang masih terpejam.

"Chan," panggil Kai yang seakan memecah hening di sekitar mereka.

Chanyeol langsung berpaling, menanti Kai melanjutkan. Namun, ia langsung sadar ada yang berbeda dengan sahabatnya, tapi Chanyeol pikir itu karena ia tanpa sadar melupakan Kai.

"Apa tidak sebaiknya kita pulang?"

"Tunggu sampai Sehun sadar, Kai."

Sejenak Kai menahan kalimatnya. "Ayolah, Chan, kita pulang sekarang. Sekolah sudah semakin sepi."

"Karena sekolah semakin sepi dan Sehun belum sadar jadi kita harus menunggunya, Kai."

"Sebaiknya kita pulang, Chan. Sekarang!" Sengaja Kai menekan kata terakhirnya, tapi yang terlihat Chanyeol tak mengikuti keinginannya.

"Ayo, Chan!"

"Astaga, Kai! Kau ini kenapa?" Untuk kedua kalinya di hari ini, nada suara Chanyeol meningkat. Ia sudah bangkit dari duduknya dan mengentak tangan kanannya yang pergelangannya digenggam oleh Kai.

"Kau yang kenapa, Chan!" Kai ikut berteriak. Meski tak setinggi nada-nada yang diambil Mariah Carey.

Chanyeol terdiam. Menyadari bahwa Kai berbeda bukan karena pemikirannya yang sebelumnya. Tetapi, karena Chanyeol begitu menyayangi Kai—yang entah kenapa bisa begitu—ia mencoba mengembalikan ketenangannya. Mencoba kembali bicara dengan lebih pelan.

"Kai-ya, kalau kau lelah dan ingin pulang, kau bisa pulang duluan."

"Aku ingin pulang bersamamu."

"Kalau begitu kau harus ikut aku menunggu Sehun sadar."

"Aku bilang 'pulang bersamamu', bukan pulang bersamamu dan Sehun."

Astaga! Bertahun-tahun bersahabat, baru kali ini Chanyeol merasa Kai serius menguji kesabarannya.

Chanyeol tidak menyerah. Sekali lagi, karena ia sangat menyayangi Kai, ia memaksa menaikkan tingkat kesabarannya. Sebelum bersuara, Chanyeol menarik napasnya dan membuangnya perlahan. Matanya tetap tertuju pada sahabatnya. Lebih tepatnya, menatap dalam.

"Perlu kautahu, Kai, Saat ini aku melihat Sehun bukan hanya sebagai hoobae-ku, tapi juga tetanggaku. Aku baru berkenalan dengan Appa-nya yang ramah, dan Appa-nya Sehun tahu aku satu sekolah dengan putranya. Kalau Sehun tidak juga sadar dan belum juga pulang ke rumah lalu Appa-nya khawatir dan bertanya padaku, kau pikir aku harus jawab apa, huh? Kujawab saja tidak tahu, begitu?" Setelah itu, Chanyeol benar-benar meyakinkan hatinya bahwa memang begitulah alasannya membantu Sehun.

Hening sebentar.

"Kai-ya, Sehun pingsan, dia sedang sakit. Teman-temannya tidak ada yang membantu."

"Apa karena teman-temannya tidak ada yang membantu jadi itu berarti kita harus membantunya? Tidak juga, kan?"

Chanyeol melotot. "Tidak. Memang tidak berarti begitu. Tapi, itu berarti kita masih memiliki hati daripada mereka."

"Ini bukan masalah hati, Chanyeol-ah! Ini masalah Sehun. Teman-temannya terlalu takut membantunya. Mereka takut Sehun mengamuk lagi seperti kemarin. Itu karena Sehun sendiri yang menolak disentuh siapa pun." Kai jeda sejenak untuk mengatur napas. Lalu, "anak ini bermasalah, Chan. Sehun benar-benar bermasalah."

"Hei, Kai, siapa yang menarikku tadi? Siapa yang menyeretku ke situasi ini? Semua ini berawal dari kau, Kai."

Kai membatu. Chanyeol benar. Sangat benar. Memang ia yang serba mau tahu. Memang dirinya yang serba penasaran. Memang semua ini berawal darinya. Jadi, biarkan Kai juga yang mengakhirinya.

"Maka itu, kita pulang sekarang, kita tinggal Sehun, dan semua selesai, kan?"

Chanyeol tak pernah benar-benar ingin berteriak saat menghadapi Kai, tapi untuk kali ini, ia ragu. "Sungguh kau bukan Kai yang kukenal. Mau kau itu apa?!"

"Justru aku yang tak mengenalmu, Chan." Aura merah yang tadi terpancar kini berganti tatapan sendu Kai. "Aku sudah bilang tadi, aku ingin kita pulang sekarang. Kita berdua. Bukan kita berdua dengan Sehun."

"Baik. Kalau kaumau pulang sekarang. Kaupulang saja sendiri. Aku tidak mau pulang denganmu." Walau Chanyeol mengatakannya dengan pelan namun bagi Kai itu sama menusuknya dengan pedang Inuyasha.

Tatapan sendu itu semakin kuat diterima oleh Chanyeol. Ini pertama kalinya Chanyeol begini, dan Kai benar-benar sedih. Parahnya lagi, semua ini bersumber dari seseorang yang bahkan belum mereka kenal betul.

Eh, tapi, benarkah memang begitu?

"Aku pulang, Chan."

Terperangah. Satu kata itu yang paling tepat menggambarkan Chanyeol. Terus saja ia memandangi sahabatnya untuk memastikan Kai serius melakukan ucapannya. Lalu, seiring langkah Kai ke luar ruang kesehatan, Chanyeol merasa hatinya sakit. Semakin punggung tegap itu tak terlihat, semakin sakit pula hatinya.

.

.

.

Keadaan yang lebih sering terjadi adalah amarah dan kesal lebih dulu menguasai diri. Lalu, saat semuanya sudah lewat batas, kesadaran bersama penyesalan baru datang. Hal itu jugalah yang tak luput dari Chanyeol. Sudah tiga kali dalam lima menit ini ia mengusap kasar wajahnya. Ia baru sadar kata-katanya menyakiti Kai, dan ia menyesal. Ah, tidak. Ia sungguh sangat menyesal.

Chanyeol mencoba melupakan asal mula perdebatannnya dengan Kai tadi. Namja berambut gelap itu lebih suka menganggap ini hanya suatu salah paham. Ia juga lebih senang mengakui kalau perasaannya sedang sensitif dan Kai juga sedang lelah. Mereka sama-sama larut. Tidak bisa lebih bersabar hingga semua ini terjadi. Lalu, keberadaan Sehun, Chanyeol menganggap lebih tepat disebut semacam "trigger".

"Chanyeol-ssi." Kepala Chanyeol langsung tegak saat suara parau itu terdengar. Ia menjauhkan telapak tangannya dari wajahnya agar lebih jelas melihat seseorang yang telah memanggilnya.

"Eh, kau ingat namaku?" Seakan namanya adalah nama tersulit untuk diingat, Chanyeol bertanya dengan ekspresi kurang yakin, tapi di pembaringannya Sehun mengangguk pelan.

Dengan kepala yang masih terasa pening, Sehun berusaha bangun untuk duduk. Semua itu lantas mengundang refleks Chanyeol untuk membantunya. Namun, sedikit lagi Chanyeol berhasil melingkarkan jarinya di lengan Sehun, bocah itu memberinya isyarat untuk jangan mendekat lagi.

"Aku bisa sendiri." Chanyeol diam. Duduk kembali. Kalimat Sehun tak mau disentuh siapa pun bermain di kepalanya. Menyadarkannya bahwa sosok yang sudah berhasil duduk itu bukan sosok sembarangan.

"Sehun, uisa bilang kau kelelahan dan terkena maag." Sehun mengangguk.

"Kau harus banyak istirahat dan menjaga pola makan. Sekarang lebih baik makan makanan bertekstur halus dulu."

"Hmm..."

"Kalau sakit perutmu masih terasa hingga besok, uisa meyarankan kau periksa ke rumah sakit."

"Tidak perlu."

"Uisa bilang sebaiknya kau izin tidak masuk sekolah dulu besok."

"Aku baik-baik saja."

Arrgghh! Chanyeol ingin teriak sekarang juga. Bicara dengan Sehun seperti bicara dengan robot. Bahkan, sepertinya robot lebih baik. Apa Sehun tidak mengenal nada dan intonasi sehingga kata-katanya yang keluar begitu datar dan terkesan dingin? Sungguh Chanyeol ingin tahu.

"Kau sudah kuat berjalan? Mau pulang sekarang?" tanya Chanyeol ketika melihat Sehun bergerak turun dari ranjang dan mengambil tas punggungnya dari atas nakas.

Sehun tak menyahut dengan suara, tapi ia mengangguk lantas berjalan keluar ruang kesehatan. Meninggalkan Chanyeol yang hanya sanggup melongo, tapi juga segera mengambil tasnya sendiri dan mengekori Sehun dengan langkah tak beraturan.

.

.

.

"Jadi, kau sunbae-ku?" Chanyeol membenarkan.

"Apa Appa-mu tidak cerita tentangku? Kemarin kita sempat mengobrol sebentar."

"Ya, dia cerita."

Sejak di bus tadi, Chanyeol bercerita mengapa ia bisa menunggu Sehun di ruang kesehatan. Tentu saja ceritanya minus pertengkarannya dengan Kai. Chanyeol mengira Sehun akan mengungkapkan rasa terima kasihnya namun hingga mereka turun dari bus dan berjalan menuju flat sederhana mereka, malah pertanyaan itu yang Sehun ajukan.

Sebenarnya Chanyeol bukan tipe orang yang pamrih. Sungguh ia jauh dari tipe itu. Hanya saja, ia merasa Sehun selalu memberi respon berbeda dari orang-orang biasanya. Sejauh ini di mata Chanyeol, namjaJeonju itu masih sulit dipahami.

"Ergh.."

"Eiy, Sehun, sampai rumah nanti kau harus langsung makan," peringat Chanyeol yang hanya disambut tatapan sekilas Sehun. Selama perjalanan ini, entah sudah berapa kali Chanyeol mendengar Sehun mengerang tertahan seperti itu.

"Ehmm.. sebenarnya aku sedikit kaget kau masih mengingat namaku." Yang sebenarnya Chanyeol ingin tanyakan adalah kenapa Sehun bisa sampai kelelahan dan telat makan. Padahal, Sehun sendiri pasti tahu kalau dirinya memiliki maag. Namun, karena ia merasa Sehun tak begitu suka membahas soal sakitnya—mungkin juga tidak suka membahas hal lainnya—Chanyeol memilih topik ringan seperti ini.

"Bukan nama yang sulit untuk diingat."

"Wah, Eomma-ku pintar sekali memilihkan nama." Chanyeol terkekeh, tapi tiba-tiba ia teringat pertemuan pertamanya dengan Sehun.

"Sehun, saat pertemuan pertama kita... ehm... itu... sungguh aku tak berniat menguntit."

"Memang siapa yang berpikir Sunbae menguntit?"

Mulut Chanyeol terbuka setengah. Ia sadar, banyak-banyak bicara dengan Sehun membuat dirinya lebih sering menampilkan ekspresi aneh menjurus memalukan. "Jadi, kau tidak berpikir aku ini penguntit?"

"Apa aku harus berpikir begitu?" Sehun terlihat sangat tak peduli, membuat hati Chanyeol benar-benar mencelos. Ia sudah sangat konyol menghawatirkan citranya yang sama sekali tak dihiraukan juniornya itu.

Sehabis itu mereka kembali terjebak dalam hening. Chanyeol yakin Sehun suka dengan suasana seperti ini, tapi dirinya tentu tidak. Ia terbiasa bersama Kai, seorang yang ramai, lebih sering terlihat konyol dan mengundang kekesalan, tapi sangat Chanyeol sayangi. Aish, ia teringat sahabatnya lagi. Penyesalannya naik lagi ke permukaan.

Saat pikiran Chanyeol kembali melayang pada Kai, suara aneh membuatnya terdiam dan menoleh ke belakang.

"Hoek..."

"Aigoo, Sehun!" Chanyeol berlari menuju Sehun yang tertinggal beberapa langkah darinya. Namja yang kata Chanyeol aneh, tapi menurut Kai ajaib itu tampak kepayahan sehingga harus berpegangan pada tiang listrik.

"Hoek..." Sehun terus mencoba mengeluarkan isi perutnya —makanan yang sebelumnya ia makan—namun Chanyeol pikir bocah itu sama sekali belum makan sesuatu. Hanya cairan bening yang berhasil dimuntahkan Sehun.

"Sepertinya asam lambungmu juga naik. Eh, tapi kau kan belum makan apa pun," tebak Chanyeol sambil menjauhkan tangannya yang hendak mengurut tengkuk Sehun. Ia urung melakukannya karena mengingat kenyataan orang di hadapannya ini tidak mau disentuh si-a-pa pun.

Merasa tak ada lagi yang bisa dimuntahkan, Sehun menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Ternyata setelah ini, ia tidak merasa lebih baik. Dadanya terasa nyeri dan panas, begitu pula tenggorokkannya. Perutnya masih mual, tapi Sehun merasa tak sanggup lagi untuk muntah. Kepalanya pening, tapi ia memaksa berjalan walau matanya perih.

Selangkah dua langkah Sehun berhasil berjalan. Fokusnya tertuju penuh pada jalan yang dipijakinya, sampai tak menyadari di belakangnya Chanyeol berjalan dengan langkah waswas.

"Aigoo, Sehun!" pekik Chanyeol untuk kedua kalinya di waktu yang berdekatan ini. Kalau saja geraknya tak cepat, ia tak akan bisa menahan tubuh Sehun yang limbung ke depan.

"Oi, Sehun! Bangun!" Chanyeol kalap. Ia hampir tak sanggup lagi menyangga tubuh Sehun yang hampir sepenuhnya bertumpu padanya. Mata gelapnya berkeliaran, memandangi kawasan padat penduduk yang rumah-rumahnya bisa dipastikan milik kalangan menengah ke bawah.

"Oi, Sehun! Kau jangan pingsan di sini!" teriak Chanyeol yang sangat percuma. Bahkan, untuk mengundang perhatian orang lain pun tak bisa, apalagi orang yang kesadarannya nyaris hilang.

Suasana petang itu tetap sepi. Chanyeol mengumpat kenapa orang-orang di lingkungan itu tak ada yang berada di luar. Apa mereka tuli, tidak bisa mendengar suaranya yang panik seperti ini? Atau mereka semua takut dimintai tolong?

"Oi, Sehun, bang-"

Pluk

Sebuah tangan mendarat di mulut Chanyeol, mematah kalimat yang belum sempurna itu.

"Ja...ngan beri... sik!"

"Eh, Sehun, kausadar?"

"Aku... tidak... ping... san."

Embusan napas lega tak bisa Chanyeol tahan lagi. Segera ia membantu Sehun berdiri, seakan melupakan label tak mau disentuh si-a-pa pun yang melekat pada anak itu.

"Naik ke punggungku!" Sehun mengerjapkan matanya yang perih, menatap tak percaya punggung lebar seniornya yang terpampang di depannya.

"Oi, Sehun! Kau ini masih setengah sadar ya? Cepat naik ke punggungku! Memang kau tidak mau cepat-cepat sampai rumah dan mengisi perutmu yang kosong itu?" Sehun masih bergeming, membuat Chanyeol semakin gemas.

Tanpa kompromi lagi, Chanyeol segera mengulurkan tangannya ke belakang. Diraihnya dua lengan Sehun dan ditariknya hingga bagian depan tubuh itu menyatu dengan punggung Chanyeol.

"Kau kelamaan. Terlalu banyak berpikir," desis Chanyeol sebelum akhirnya berdiri dan mulai melanjutkan perjalanan pulang yang masih terbilang lumayan. Lumayan dalam arti ia harus berjalan kaki karena tak ada angkutan umum yang melewati gang menuju flatnya, ditambah beban tubuh Sehun dalam gendongannya.

"Aigoo, berat badanmu dihitungnya dengan ons, ya? Ringan sekali."

"Sunbae, turunkan aku…"

"Tidak bilang sekalian agar aku meninggalkanmu?" sindir Chanyeol masih tetap membawa Sehun di punggungnya.

Sehun meronta, tapi tenaganya tak sekuat keinginannya. "Kalau perlu, Sunbae, kau tidak usah menolongku sejak di kelas tadi."

"Tutuplah mulutmu, Sehun! Bahkan kau lebih terdengar sedang berbisik."

"Aku serius, Sunbae. Turunkan aku!" Chanyeol masa bodoh. Masa bodoh Sehun terus meronta, masa bodoh kakinya sakit jadi sasaran tendang Sehun. Toh, tenaga bocah itu tidak kuat-kuat amat—lebih tepatnya sedang tidak kuat-kuat amat.

"Turunkan aku, Sunbae! Aku tidak senang disentuh orang lain! Sunbae, turunkan!"

"Hei, kau Sehun cerewet seperti wanita, tolong diam! Kupingku sakit, tahu! Lagi pula kaupikir sekarang aku peduli tentang kau yang tak mau disentuh siapa pun? Dan kaupikir semua itu keren? Itu justru norak, tahu!" Chanyeol kesal. Sangat kesal. Ia paling tidak suka melihat seseorang menolak bantuan orang lain. Padahal, dia sangat butuh akan itu. Sok tangguh! Apalagi mendengar alasannya yang sangat konyol itu. Chanyeol makin geram.

"Terserah kaubilang apa, Sunbae! Hanya karena kau sudah membawaku ke ruang kesehatan maka sekarang kau juga bisa menyentuh dan seenaknya menggendongku? Kaupikir kau itu siapa, Sunbae?" Percik api seakan ikut keluar dari balik tubuh Sehun. Chanyeol langsung menahan kaki-kakinya untuk berjalan. Deru napasnya saling memburu dengan cepat. Dua wajah berkulit putih itu telah dirambati rona merah. Marah, kesal, dan ditambah menahan rasa sakit—yang satu itu khusus tambahan bagi Sehun.

Sejurus kemudian Chanyeol langsung melepas kaitan tangannya yang langsung dimanfaatkan Sehun untuk turun. "Baik. Sana kaujalan sendiri kalau memang sanggup!"

Kilatan di mata Sehun bertambah tajam, tapi berhubung Chanyeol sudah dikuasai oleh kesal, ia tak gentar lagi melihat ekspresi dingin bin tajam itu. Sehun sendiri sudah mulai meninggalkan Chanyeol. Walau jalannya masih tertatih dan tangannya tak bisa berhenti meremas bagian perut yang nyeri, Sehun bertekad kuat tetap berjalan sendiri.

"Cih, anak bayi yang baru belajar jalan pun masih lebih baik darimu."

"Aigoo, kakimu tak bertulang, ya?"

"Hah, aku geli melihat caramu berjalan."

Chanyeol terus meremehkan Sehun meski matanya tak bisa lepas mengawasi namja yang lebih muda setahun darinya itu. Namun, yang sebenar-benarnya terjadi adalah Chanyeol khawatir, tapi sengaja ia sampingkan karena terlalu kesal melihat sikap Sehun yang menurutnya sangat sok kuat itu.

"Teruslah kau berjalan Sehun, aku mau tertawa dulu melihat caramu berjalan haha..."

"Cih, sudah berapa kali kau hampir jatuh?"

Di depan sana, kuat-kuat Sehun menahan emosinya. Baru kali ini ia bertemu orang semacam Chanyeol. Masa bodoh itu seniornya. Kalau mulutnya besar dan seenaknya menyentuhnya, tetap saja mengesalkan.

"Kau memalukan Song Sehun."

Sehun terdiam sebentar mendengar Chanyeol menyebut marganya. Ah, ini pasti karenaa ayahnya. Sehun hendak berjalan lagi, tapi sakit lambungnya benar-benar sialan. Ringisan tertahan itu keluar begitu saja. Jari-jemari jenjang Sehun berusaha lebih kuat meremas bagian yang sakit, sedangkan matanya terpejam kuat untuk menahan semuanya.

"Oi, Sehun, kau sudah tidak sanggup jalan lagi ya? Jadi, kau diam? Haha..."

"Tutup mulutmu, Sunbae," pekiknya dalam hati. Sehun berhasil mengabaikan Chanyeol, tapi ia sama sekali tidak bisa mengabaikan mual dan nyeri di perutnya. Ketika matanya sudah terbuka lagi, jalan menanjak di hadapannya terlihat samar. Ah, tidak. Itu terlihat bergelombang. Sehun mengucek matanya yang sudah berair dengan tangan kiri yang tak meremas perutnya. Namun, jalan menanjak dengan aspal tak terlalu mulus itu seolah semakin meremehkannya.

Tak butuh waktu lama agar tekad bulat Sehun terbentuk lagi. Ia akan sampai di flatnya dengan kedua kakinya sendiri.

Akan tetapi, itu kan maunya dia, bukan maunya Tuhan.

Entah Tuhan memang berpihak pada sakit itu atau memang ini cara-Nya menunjukkan kasih pada Sehun dengan mengambil alih kesadaran remaja itu agar tak ada lagi mual dan nyeri yang dirasa. Ia membiarkan tubuh lemas Sehun perlahan merosot sehingga kini sempurna sudah tubuh itu tiduran di aspal. Membuat seseorang yang sejak tadi sibuk berkoar-koar melesat secapat kilat menerjang tubuh itu.

"Ya Tuhan, ada apa dengan makhluk-Mu yang satu ini?"

"Yak, Sehun! Bangun kau!" Setelah berhasil menahan kepala Sehun dengan lengan kanannya, Chanyeol baru berani menepuk-nepuk pipi tirus itu. Di waktu bersamaan, Chanyeol bisa merasakan kalau hawa dingin tak hanya berasal dari bagaimana cara Sehun bersikap, tapi dari tubuhnya juga.

Awalnya Chanyeol ingin menyeka peluh yang hendak turun dari kening Sehun ke tulang hidung, tapi matanya langsung terbelalak mendapati ada darah yang mengalir di sisi kanan pelipis laki-laki itu. "Ya ampun, berdarah!"

Chanyeol berusaha berpikir kilat sebaiknya melakukan apa. Melihat Sehun yang benar-benar sudah kepayahan dan hilang kesadaran sepenuhnya, akhirnya untuk kedua kalinya ia memutuskan akan membawa pulang Sehun dalam gendongannya.

"Nah, Sehun, kau tak bisa apa-apa lagi sekarang! Kau tak bisa sok kuat lagi!" ujar Chanyeol selagi bersusah payah memindahkan Sehun ke punggungnya. Persetanlah dengan keadaan yang sepi, yang Chanyeol perlukan adalah menyiapkan tenaga dan mental untuk membawa Sehun pulang. Tenaga untuk melewati jalan menanjak dan mental kalau besok juniornya itu menyemburnya karena sudah seenak udel melupakan peringatan tak ingin disentuh si-a-pa pun.

.

.

.

Warna langit petang sedang indah-indahnya, seakan menjadi penyambut terbaik bagi Chanyeol yang baru saja tiba di undakan tangga terakhir bangunan flat tempat ia tinggal. Aish, lagi-lagi ia terjebak dalam sepi. Seolah saat ia bersama Sehun dunia tak mau tahu apa yang mereka alami.

"Hei, kau Song Sehun, aku sudah menggendongmu pulang dengan berjalan kaki. Aku akan merobek mulutmu kalau nanti atau besok atau kapan itu kau berani mengatakan tak suka disentuh orang lain," gerutu sekaligus ancam Chanyeol sampai ia tiba di depan pintu kamar flat kelurga Song.

Chanyeol mengetuk pintu di hadapannya namun belum ada sahutan apa pun dari dalam. Sambil menunggu, Chanyeol menoleh pada Sehun yang masih memejamkan matanya. Kepala remaja belasan tahun itu terkulai di pundak Chanyeol, sementara badan terutama telapak tangannya itu terasa dingin namun napasnya yang menyapu leher Chanyeol terasa panas.

Pintu diketuk sekali lagi, beberapa saat kemudian baru terdengar suara bass khas laki-laki sejati dari dalam mengatakan untuk tunggu sebentar.

Klek

Hendel pintu bergerak turun. Pelan-pelan pintu yang terlihat sedikit usang itu bergerak terbuka.

"Permisi, Paman Song..." Chanyeol segera membungkuk saat pintu yang tak terbuka sempurna itu menampilkan sosok yang ia kenal.

"A-apa yang terjadi dengan Sehun? Ya Tuhan, anakku!" Tuan Song tampak panik. Ia sampai tak sempat menanggapi Chanyeol. Telapak tangannya yang besar dan terlihat sangat kuat itu membingkai wajah pucat Sehun.

"Paman Song, Sehun sedang sakit. Kata uisa sekolah, ia mengalami kelelahan dan maag. Tapi, menurutku asam lambungnya juga naik. Di jalan tadi ia sempat muntah kering lalu pingsan." Tuan Song tampak kian cemas mendengar penjelasan Chanyeol. Ia menemukan darah yang hampir mengering di pelipis Sehun, tapi tidak bertanya apa-apa. Tuan Song langsung mengambil alih tubuh tak berdaya putra semata wayangnya ke dalam gendongannya. Alih-alih melakukan piggyback seperti Chanyeol, Tuan Song justru membawa tubuh tinggi Sehun dengan menahannya tepat di tengkuk dan bagian belakang lutut.

"Terima kasih banyak. Kita baru saja bertetangga, tapi kau sudah sebaik ini pada putraku."

"Ah, tidak usah seperti itu, Paman Song."

"Menurut uisa, kalau besok Sehun masih merasa sakit perut, maka harus dibawa ke rumah sakit agar diperiksa lebih detail. Uisa juga menyarankan sebaiknya Sehun istirahat di rumah saja besok."

"Baiklah. Aku mengerti. Sekali lagi terima kasih banyak." Tuan Song tersenyum penuh arti. Kemudian melanjutkan. "Kalau begitu, aku bawa Sehun masuk ke dalam dulu. Ia butuh istirahat banyak, bukan?"

"Ah, iya benar. Semoga Sehun cepat sembuh."

"Terima kasih." Setelah itu Tuan Song benar-benar masuk ke kamar flatnya. Chanyeol hendak membantu membukakan pintu agar lebih lebar terbuka dan Tuan Song yang membawa Sehun bisa masuk lebih mudah, tapi pria yang masih terlihat gagah itu memberi isyarat agar Chanyeol tak perlu repot-repot melakukannya.

Sampai pintu ditutup kembali, Chanyeol masih berdiri di depan kediaman keluarga Song. Rasanya ia agak kurang nyaman melihat keadaan dalam kamar flat Sehun danayahnya yang agak gelap. Ya, tadi Chanyeol sempat mengintip sedikit. Bukan maksud apa-apa, tapi perasaannya seperti mendesak untuk memastikan Sehun memang baik-baik saja.

Chanyeol mencoba tak mengacuhkan perasaannya. Ia lanjut berjalan menuju kamar flatnya sendiri. Namun, bunyi "brugh" mengagetkan membuat ia masuk kembali dalam mode freeze.

.

.

.

To Be Continued

Makasih banyak untuk yang udah baca, review, favorite, dan follow. Semoga di chapter 2 ini ada progres ^^