Title : Something Curious
Author : dns
Chapter 3
Rate : T
Genre : Friendship, Angst, Hurt/Comfort
Warning : OOC, Typos
The Conversation
Summary :
"Hei, Sehun, kau tidak mungkin memakai baju perempuan, kan?"/"Sehun, Paman! Sehun! Lihat, Sehun menangis!"/"Ada sesuatu yang ia tutupi, tapi aku tidak tahu apa itu."/"Kau tidak tahu saja, Paman, cobaan apa saja yang aku alami saat membawa anakmu pulang."/ "Janji jangan berdekatan dengan Sehun lagi."
.
.
.
Previous Chapter
Sampai pintu ditutup kembali, Chanyeol masih berdiri di depan kediaman keluarga Song. Rasanya ia agak kurang nyaman melihat keadaan dalam kamar flat Sehun dan ayahnya yang agak gelap. Ya, tadi Chanyeol sempat mengintip sedikit. Bukan maksud apa-apa, tapi perasaannya seperti mendesak untuk memastikan Sehun memang baik-baik saja.
Chanyeol mencoba tak mengacuhkan perasaannya. Ia lanjut berjalan menuju kamar flatnya sendiri namun bunyi "brugh" mengagetkan membuat ia masuk kembali dalam mode freeze.
.
.
.
I just borrow the name of casts.
Something Curious plot and idea are totally mine.
.
.
.
Es-es yang membuatnya beku perlahan mencair. Seiring itu otaknya pun bekerja cepat menyuruhnya berbalik dan kembali ke kediaman keluarga Song.
"Paman Song... Paman Song..." Chanyeol kaget sendiri mendapati suaranya yang keluar agak bergetar. Kepalan tangannya yang masih mengetuk pintu mulai basah akibat keringat.
"Paman Song..."
"Ya... ya... sebentar," sahut suara di dalam yang langsung membuat degup jantung tak beraturan Chanyeol rileks kembali.
Eh, tunggu sebentar! Degup jantung tak beraturan? Sejak kapan itu? Chanyeol bahkan baru menyadarinya.
"Ada apa Chanyeol?" tanya Tuan Song sesaat setelah pintu terbuka. Terbuka setengah tentunya.
"Ehm... itu... aku mendengar seperti suara benda jatuh. Apa terjadi sesuatu, Paman?"
Gurat panik yang sempat bercampur dengan garis tegas wajah Tuang Song Hwan perlahan pudar. "Ah, suara itu ya…" gumam Tuan Song di sela hela napasnya "Begini, saat ingin memindahkan Sehun ke kasur, aku tak sengaja menyenggol kardus pindahan yang masih berisi baju-baju. Mungkin karena isinya berat dan jatuh dari atas meja jadi suara yang timbul agak keras."
"Oh, jadi kardus jatuh, ya?" Tuan Song mengangguk. Matanya menyorot meyakinkan.
"Kupikir terjadi sesuatu."
"Tidak ada apa-apa, Chanyeol." Senyum Tuan Song terukir di bibirnya yang gelap namun Chanyeol tak memerhatikan itu. Ia sibuk memahami dirinya sendiri yang mendadak aneh begini.
"Chanyeol, sebaiknya kaupulang dan beristirahat. Besok sekolah tidak libur, kan?"
"Ah, iya, benar…" Meski begitu, Chanyeol tidak juga menyeret langkahnya kembali ke kamar flatnya sendiri. Hal itu membuat Tuan Song memiringkan kepalanya dan melihat lebih jeli remaja di hadapannya.
"Chanyeol, apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
Chanyeol diam untuk berpikir. Berusaha cepat membuat keputusan. Apa ia akan mengutaran sesuatu yang tengah dipikirkannya atau tidak.
"Chanyeol?"
"..."
"Chanyeol, kau membuat aku khawatir."
"Ah, maaf, Paman," ujar Chanyeol sungkan, tapi syukurlah ia telah memutuskan.
"Paman Song, apa hari ini kau bekerja?"
Tuan Song terlihat bingung. "Ya, harusnya sebentar lagi aku berangkat, tapi aku akan izin datang telat untuk menunggu Sehun sadar."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang menjaga Sehun?"
"Eh?"
"Kenapa, Paman?" Chanyeol harap-harap cemas, apalagi melihat wajah Paman Song yang meragu. "Tidak boleh, ya?"
"Bukan... bukan begitu. Jangan salah sangka. Aku hanya berpikir apa tidak terlalu merepotkanmu?"
"Tidak. Sama sekali tidak."
"Tapi aku merasa sangat tidak enak padamu. Kau menggendong Sehun selama perjalanan pulang saja sudah membuat aku bingung harus membalas kebaikanmu dengan apa."
"Tolong jangan berpikir seperti itu, Paman. Aku tidak minta dibalas." Kata-kata Chanyeol asli berasal dari lubuk hatinya. "Jadi boleh ya, Paman?"
Tuan Song belum bisa menyingkirkan mimik ragunya. Ia ingin menolak lagi, tapi melihat raut Chanyeol yang sudah seperti pudel memelas, membuat ia berpikir sebaliknya. "Kalau memang tidak merepotkanmu, ya tidak apa-apa. Jujur, aku jadi merasa sangat terbantu. Kau sangat baik, Chanyeol, tapi sebaiknya kaupulang dulu untuk membersihkan diri."
"Benar. Kalau begitu sekitar pukul setengah tujuh aku akan datang."
"Baiklah." Sesaat Tuan Song berkata, Chanyeol baru benar-benar mengajak kakinya berjalan memasuki kamar flatnya. Tak hanya itu, bahkan sorot mata Tuan Song—yang menurut Chanyeol penuh kehangatan—ikut mengiringi kepergiannya.
.
.
.
Lima belas menit lagi pukul setengah tujuh. Jam yang dijanjikan Chanyeol untuk datang ke kediaman keluarga Song. Ternyata untuk makan dan juga mandi ia cukup kilat melakukannya. Chanyeol pikir ia akan segera melesat ke tempat Sehun. Itu akan lebih baik, Tuan Song juga bisa langsung berangkat kerja. Namun sayangnya, satu nama yang sempat ia lupakan beberapa waktu tadi tiba-tiba datang menyelinap dan membuyarkan semua niatnya.
"Kai," gumamnya bersamaan dengan hatinya yang kembali gusar. Semakin gusar saat nama sahabatnya itu terus berputar di kepalanya seiring dengan rasa bersalah yang mengetuk-ngetuk hatinya.
Buru-buru Chanyeol melempar handuk yang tersampir di lehernya, beralih meraih ponsel dari atas meja belajar. Jari-jari berkulit putih kemerahan itu lantas dengan cepat mengetikkan pesan yang langsung dikirim untuk sahabatnya.
Semenit, dua menit, mata Chanyeol masih kuat menatap layar ponselnya. Namun, hingga menit-menit berikutnya, ia merasa semakin uring-uringan. Chanyeol sadar saat ini ia berubah menjadi orang tak sabaran. Ia tahu Kai kurang minat dengan salah satu temuan alat komunikasi tersebut, tapi yang Chanyeol butuhkan sekarang adalah Kai membaca pesannya, lalu mengirimkan balasan yang membuat hatinya tenang.
"Aish, Kai, kau membuatku seperti sedang bertengkar dengan kekasih," gerutu remaja itu untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan meninggalkan kamar menuju tempat tetangganya.
.
.
.
"Chanyeol, tolong dimaklumi ya, ruangan ini masih berantakan. Aku belum sempat membereskan semuanya."
"Aku paham kesulitan orang tua tunggal seperti Paman," ungkap Chanyeol dengan mata yang berkeliaran memerhatikan setiap sudut ruangan yang memang masih jauh dari kata rapi. Beberapa kali ia nyaris tersandung kardus-kardus yang berserakan di lantai. Namun, saat ia melewati sebuah meja makan kecil, Chanyeol tidak bisa lagi menghidar dengan selamat dari sebuah kardus besar.
"Chanyeol, kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Paman. Hanya tersandung." Chanyeol menerima bantuan Tuan Song untuk berdiri lebih tegak. Ia geli sendiri mengetahui dirinya hapir jatuh terjerembap ke depan. Sudah dua kali ia merasa memperburuk citranya sendiri di hadapan keluarga Song.
Bukannya lanjut melangkah setelah tegap sempurna ia berdiri, laki-laki menjulang itu justru memerhatikan apa yang membuat dirinya tesandung."Paman, apa kardus ini yang tadi tersenggol olehmu?" tanya Chanyeol saat menyadari kardus itu tergeletak persis di bawah meja makan dengan keadaan memutahkan beberapa potong pakaian.
"Iya, benar. Kardus yang itu."
"Pasti Paman belum sempat membereskannya karena buru-buru membukakan pintu untukku tadi. Biar aku bantu membereskannya, Paman."
"Oh, benarkah? Kau sangat baik. Aku semakin bingung membalas kebaikanmu. Kalau begitu aku akan buatkan bubur dulu untuk Sehun." Seakan sebuah kebiasaan sebelum meninggalkan Chanyeol, Tuan Song selalu mengulas senyumnya. Membuat Chanyeol lebih sering mengingat mendiang ayahnya yang juga dikenal ramah.
"Paman, aku akan membereskannya di kamar Sehun, boleh?"
"Silakan, Chanyeol. Kamar Sehun yang di samping dapur ini," intruksi Tuan Song dari dapur. Chanyeol sempat melongok sebentar ke arah dapur namun yang bisa ia lihat hanya punggung kokoh pria itu.
Dengan membawa kardus di depan dada, Chanyeol memasuki sebuah kamar yang ditunjukkan Tuan Song. Suara engsel pintu yang berkarat membuat Chanyeol agak ngilu saat sikunya mendorong pintu di hadapannya.
"Kamarmu benar-benar mencerminkan dirimu," gumam Chanyeol saat melihat betapa sepi kamar Sehun. Hanya ada lemari plastik kecil di samping meja belajar yang disandarkan di sisi dinding yang berseberangan dengan pintu. Selain itu, kasur lipat dan sebuah nakas berada di sisi yang sama dengan pintu kamar.
Puas mengamati, Chanyeol meletakkan kardus yang ternyata bekas TV tabung ukuran sedang. Baru kemudian duduk bersila di sebelah kasur lipat tempat Sehun berbaring dengan mata terpejamnya.
"Kukira kau sudah sadar." Chanyeol masih senang bicara sendiri namun tangannya tak lupa untuk bekerja. Dari dalam kardus ia mengangkat sepotong pakaian. Sebuah celana olahraga hitam dengan garis putih di setiap jahitan samping. "Ini pasti punya kau," ucap Chanyeol sambil melihat pada Sehun.
Menit-menit terlewati dengan senyap. Tiga laki-laki dalam kamar flat yang disewa Tuang Song itu fokus pada kegiatan masing-masing—meski entah pingsan itu termasuk suatu kegiatan atau bukan.
"Aigoo, pinggangmu seperti perempuan." Chanyeol terkekeh di sela kegiatannya. Setiap ia hendak melipat baju atau celana, Chanyeol iseng menebak milik siapa pakaian tersebut. Setiap ada celana dengan jahitan pinggang yang agak kecil selalu Chanyeol yakini milik Sehun. Tidak mungkin Tuan Song. Pria itu meski tidak berotot-otot amat, tapi tubuhnya benar-benar cermin lelaki sejati.
Hampir seluruh pakaian dalam kardus sudah dilipat rapi dan ditumpuk di sebelah kasur Sehun. Namun, semuanya terhenti begitu saja saat Chanyeol hendak melanjutkan, tetapi ia yakin pakaian yang baru diambilnya dari kardus bukan milik Sehun, apalagi Tuang Song.
"Eh, baju siapa ini?" Dilihatnya baik-baik pakaian di tangannya. Beberapa kali Chanyeol membolak-balik baju terusan dengan model sederhana tersebut. Dengan kerah bulat dan jahitan di bagian perut. Sebenarnya pakaian yang biasa disebut dress itu sudah tampak lusuh namun karena dipenuhi motif bunga-bunga kecil berwarna kuning, kesan manisnya masih dapat terlihat.
"Hei, Sehun, kau tidak mungkin memakai baju perempuan, kan?" tanyanya yang tentunya diabaikan Sehun. Tiba-tiba Chanyeol meringis memerhatikan wajah pucat namja di hadapannya. Chanyeol yakin, kalau saja tidak sedang pingsan, Sehun pasti sudah melancarkan laser dingin nan menyengat untuk dirinya yang masih berani menanyakan hal retoris seperti tadi.
"Kau tidak punya adik, kan? Aku lihat kau hanya tinggal berdua dengan Appa-mu."
"Paman Song," panggil Chanyeol setelah menyerah akan pertanyaannya sendiri. Kepalanya tampak menyembul dari pintu kamar.
"Ya?"
"Aku menemukan baju ini di kardus. Kalau boleh tahu ini milik siapa? Apa Sehun memilik saudara perempuan?"
Chanyeol bisa melihat air muka pria yang menyembulkan kepalanya dari pintu dapur itu agak berbeda. Tapi sayangnya, ia tidak bisa membaca ekspresi apa itu. Pada akhirnya Chanyeol hanya menunggu Tuan Song memerhatikan pakaian yang tengah dipegangnya itu.
"Sehun tidak punya saudara perempuan, dia anak tunggalku, dan sebenarnya baju itu milik mendiang istriku." Sekarang Chanyeol tahu, ekspresi tadi pasti bentuk kesedihan.
"Aku masih membawa beberapa barang istriku, termasuk baju itu." Chanyeol mengangguk-angguk tanda paham, membuat simpulan kalau Tuan Song sangat mencintai istrinya. Hanya saja, mungkinkah seorang wanita yang pernah mengandung dan melahirkan masih memiliki tubuh yang muat dengan dress bunga-bunga kuning ini? Chanyeol kira dress lusuh berbahan kaos tersebut dibuat untuk ukuran remaja perempuan seumurannya.
"Istri Paman pasti orang yang cantik, apalagi saat memakai baju ini."
"Dia memang sangat cantik, tapi hatinya lebih cantik. Baju itu sebenarnya baju kesayangannya. Ia memakainya saat pertama kali aku mengajaknya pergi ke bioskop."
"Sehun pasti sangat bangga dengan Eomma-nya." Sebenarnya dengan kalimat itu Chanyeol ingin mengakhiri obrolannya dengan Tuan Song. Ia agak kurang nyaman melihat pandangan Tuan Song yang terus menerawang. Ia mengerti perasaan pria itu karena Chanyeol pun selalu merasakan hal yang sama tiap kali mengingat sang ayah.
Setelah itu keinginan Chanyeol benar-benar terkabul. Tuan Song tak mengatakan apa pun. Seperti biasa, pria itu meninggalkan seulas senyum, lalu kembali sibuk di dapur. Chanyeol pun bisa lanjut melipat pakaian. Bagi Chanyeol—yang sudah tahu dress tersebut merupakan barang berarti— ia pun melipatnya lebih telaten sambil membayangkan yang dilipatnya saat ini adalah kemeja kerja ayahnya.
"Chanyeol, apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan membuatkannya. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kau sudah banyak membantu."
"Tidak perlu, Paman. Kebetulan aku sudah makan."
"Oh, begitu ya? Sayang sekali, aku gagal membalas kebaikanmu." Di dalam kamar Sehun, Chanyeol terhenyak mendengar kalimat sarat kekecewaan milik Tuan Song. Penilain Chanyeol terhadap ayah Sehun itu sedikit berubah. Pria itu tak hanya hangat dan ramah, tapi juga sangat baik.
"Jangan memikirkan hal seperti itu, Paman Song. Eomma-ku mengajarkan kalau membantu ya membantu saja. Jangan pamrih."
"Tak hanya Eomma-mu, Chanyeol, semua orangtua pasti mengajarkan hal seperti itu."
Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu terkekeh sendiri. "Ah, iya benar. Sepertinya aku terlalu membanggakan Eomma-ku, hehe..."
"Itu wajar, Chanyeol. Setiap anak pasti membanggakan orangtuanya. Begitu juga seb—"
"Ya ampun!" pekik Chanyeol yang langsung membuat Tuan Song memutus kalimatnya. Lebih dari itu, laki-laki dengan tinggi badan bersaing ketat dengan Chanyeol langsung melesat ke kamar putranya.
"Ada apa?"
"Sehun, Paman! Sehun! Lihat! Sehun menangis!"
Dua pasang bola mata beda warna itu mengarah pada titik yang sama. Ke arah mata terpejam Sehun yang entah kenapa mengeluarkan air mata.
"Sehun kenapa, Paman? Kenapa dia menangis?" tanya Chanyeol kental dengan keheranan.
Tuan Song tak menjawab satu kata pun, tapi tubuhnya yang beberapa senti lebih tinggi dari senior anaknya ini langsung duduk di samping Sehun. "Sehun-ah, kau kenapa? Apa kau mimpi buruk?" Tangan kuat Tuan Song tak henti mengelus lembut pipi mulus putranya. Namun, sesekali juga mengelus bagian kelopak mata yang tampak paling pucat dari bagian yang lain.
Di dekat pasangan ayah dan anak itu, Chanyeol tertegun. Bisa ia lihat Tuan Song yang penuh kasih menyentuh setiap lekuk wajah anak satu-satunya itu.
"Sehun-ah, apa kau bermimpi buruk hingga menangis begini? Atau kau merasa sangat sakit?"
...
"Sehun-ah, kalau kau mimpi buruk, kau harus cerita pada Appa. Kalau kau merasa sangat sakit, kau harus bangun dan makan. Appa sudah membuatkanmu bubur."
"Paman Song, sebaiknya kita biarkan Sehun istirahat," saran Chanyeol ketika tak tahan mendengar nada getir dari setiap untaian kata tadi.
Gerak tangan Tuan Song yang sedang mengelus luka di pelipis Sehun langsung terhenti. Agak lama ia memandangi wajah putranya yang berhias band aid di pelipis kanannya itu. "Ya, kau benar, Chanyeol, Sehun butuh istirahat."
Dua lelaki berbeda generasi itu akhirnya terlihat kompak melangkah menuju meja makan. Namun, belum ada semenit mereka duduk berhadapan, Tuan Song sudah bangkit lagi untuk membuatkan Chanyeol secangkir teh. Terlalu fokus pada putranya, membuat Tuan Song lupa menjamu tamunya dengan baik.
"Ayo, silakan diminum, Chanyeol," ujar Tuan Song setelah duduk lagi dan mengangsurkan secangkir teh dengan asap mengepul.
"Terima kasih, Paman Song. Kau bilang aku sangat baik, tapi kau juga sangat baik padaku."
"Yang ini tidak termasuk kebaikan, Chanyeol. Ini kewajibanku menjamu tamu." Chanyeol mengangguk, tak berniat membantah. Ia sudah sangat tergoda dengan teh yang aromanya sangat nikmat itu.
"Oh ya, Chanyeol, sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan sejak tadi."
"Tanya saja, Paman. Selama itu bukan soal ujian, apalagi soal matematika, maka akan senang hati aku jawab," respon Chanyeol sukses membuat Tuan Song tertawa renyah.
"Apa kautinggal sendiri di sini? Aku tidak pernah melihat orangtuamu."
"Oh, tentang itu. Eomma-ku sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Lalu, Appa-ku," Chanyeol diam sejenak untuk menyesap tehnya. "Ah, sayang sekali, Paman, kau tidak akan bisa melihat Appa-ku."
"Eh, maksudnya?"
"Eomma-ku senasib dengan Paman. Ditinggal lebih dulu oleh pasangan."
"Appa-mu sudah meninggal, Chanyeol?" Sejujurnya, Chanyeol berharap Tuan Song tidak bertanya seperti itu karena ia sudah susah payah menyusun kata lain untuk menghindari kata meninggal. Bukan Chanyeol mengelak takdir Tuhan, hanya saja di saat-saat kurang baik seperti ini, Chanyeol merasa tidak perlu memperjelas mengenai ayahnya.
Chanyeol medapati raut Tuan Song berubah sedih lagi, tapi mulutnya juga hendak terbuka. Tebakannya adalah Tuan Song akan bertanya sebab ayahnya meninggal. Dan karena Chanyeol sedang tidak mau membahasnya, buru-buru ia melontarkan pertanyaan lain. "Paman, bukankah kau ingin berangkat kerja? Sekarang hampir jam setengah delapan, sebaiknya kau cepat berangkat. Aku akan menjaga Sehun dan memastikan ia memakan buburnya."
"Aku absen saja hari ini. Aku tidak mungkin meninggalkan Sehun dalam keadaan seperti ini." Dalam hati Chanyeol membenarkan sikap Tuan Song. Memang sebaiknya dan seharusnya seperti itu.
Sesaat setelah merasa Tuan Song benar-benar dilanda perasaan cemas, mendadak pula Chanyeol teringat sosok Sehun yang tak ingin disentuh siapa pun. Apa Tuan Song mengetahui Sehun yang seperti itu? Chanyeol jadi semakin iba. Pria itu sudah kehilang istri tercintanya, lalu keadaan putranya seperti ini. Tuan Song pasti melewati banyak hari-hari sulit.
"Paman, aku ingin bertanya, tapi aku tidak tahu apa ini terlalu pribadi atau tidak."
"Tanya saja. Kalau aku merasa pertanyaanmu terlalu pribadi, akan aku jawab, 'Maaf, Chanyeol, itu rahasi keluarga'." Chanyeol tersenyum singkat, merasa cukup terhibur dengan model jawaban seperti itu.
"Ini tentang Sehun." Jeda sebentar karena ragu lebih besar menyapa Chanyeol. Namun, melihat sinar mata Tuan Song yang sepertinya begitu menunggu, membuat Chanyeol yakin melancarkan tanyanya. "Apa Paman tahu kalau Sehun bersikap menolak tidak mau disentuh siapa pun?"
Tuan Song tampak lebih dalam lagi menghempas punggungnya ke sandaran kursi. Ada roman di wajah Tuan Song yang tak bisa Chanyeol baca. "Aku tahu tentang itu, tapi sayangnya, aku tidak tahu apa alasannya."
"Jadi, Paman sudah tahu?"
"Aku Appa-nya. Aku tahu sifat dan sikap putraku. Aku yang selalu menghadap pihak sekolah, memberi tahu masalah Sehun yang satu ini setiap dia masuk ke sekolah baru."
"Sejak kapan Sehun seperti ini?"
"Sejak Eomma-nya meninggal, enam tahun yang lalu."
"Mungkin Sehun sangat terpukul dengan kepergian Eomma-nya."
"Apa bedanya denganku, Chanyeol? Aku juga terpukul. Sangat terpukul." Kabut hitam semakin menutupi pandangan Tuan Song.
"Mungkin karena saat itu Sehun masih terlalu kecil."
"Kapan Appa-mu meninggal, Chanyeol?"
Chanyeol mengatup rapat mulutnya. Hatinya bergetar mendengar tanya Tuan Song. Ingin ia menghindar namun pandangan lekat lelaki itu tak bisa Chanyeol hindari. "Waktu aku masuk sekolah dasar."
"Kau bahkan lebih kecil dari Sehun ketika satu orangtuamu meninggal, tapi kau tak berubah, Chanyeol. Kau bergaul dengan baik. Bahkan, kita bisa duduk bersama dan bicara banyak hal, lalu kenapa putraku tidak?" Bagi Chanyeol, pertanyaan terakhir itu adalah pertanyaan yang paling ingin Tuan Song dengar jawabannya.
"Ada sesuatu yang ia tutupi, tapi aku tidak tahu apa itu." Chanyeol tidak tahu seberapa sedihnya Tuan Song, tapi ia tahu laki-laki itu sedang terluka parah.
Sesuatu yang Sehun tutupi. Ya, setidaknya itu pulalah yang menjadi kesadaran Chanyeol setiap bertemu anak itu. Bola mata Sehun yang berwana kelam seolah sukses menutupi apa yang memang ingin ia tutupi. Namun sayangnya, sinar mata yang terpancar keluar tak bisa merahasiakan kalau keadaannya tidak baik-baik saja.
"Sebenarnya aku agak kaget saat kau menggendong Sehun pulang. Dipegang saja tidak mau, tapi kau malah menggendongnya. Kalau saja Sehun tidak pingsan, dia pasti sudah memarahimu."
"Kau tidak tahu saja, Paman, cobaan apa saja yang aku alami saat membawa anakmu pulang." Chanyeol merutuk dalam hati. Mengingat seperti apa pergulatan emosinya saat menghadapi laki-laki yang sampai saat ini pun belum sadarkan diri.
Hingga jarum jam sempurna menunjuk pukul delapan, dua laki-laki itu terus berbagi cerita. Sayangnya, tanpa mereka tahu ada orang-orang yang menangis, dan air mata yang sudah mengalir itu malah makin deras alirannya.
.
.
.
Sengaja Chanyeol datang lebih pagi demi menanti Kai. Ia sadar kata-katanya kemarin pasti menyakitkan. Sebuah maaf sudah terbungkus rapi di bibirnya, siap Chanyeol ucapkan untuk seorang Kim Kai. Namun, ketika orang yang ditunggunya itu terlihat berjalan memasuki kelas, Chanyeol malah merasa ia lupa cara bicara.
Mereka bersahabat lama, sering mengumpat satu sama lain, tapi tidak pernah bertengkar. Jadi, wajar kalau Chanyeol merasa tak pernah sekaku ini dengan Kai. Akan tetapi, karena ia sadar tak bisa bertahan lama diam-diaman dengan Kai, Chanyeol akhirnya melangkahkan kaki ke meja di sebelahnya.
"Kai-ya.." panggil Chanyeol setelah melihat Kai meletakkan tasnya dan hanya duduk terdiam.
"Maafkan aku ya?" Kai tak menoleh.
"Kai, aku sadar kata-kataku kemarin sangat keterlaluan." Kai coba menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya.
"Ayolah, Kai, maafkan aku. Kau tahu mulutku ini suka seenaknya." Kai masih masa bodoh.
"Kai..." Chanyeol terus memohon, tidak peduli dengan mata teman-temannya yang memandangnya lucu. Terserah mereka ingin melihat dirinya seperti apa, yang penting Kai yang sekarang masih mengabaikannya dan hanya berpura-pura sibuk dengan poselnya mau menoleh, memaafkannya, dan menjalani hari-hari konyol mereka seperti biasa.
"Hei, Kai, kenapa kaujadi tuli begini?"
Kai menggeram dalam hati. Bagaimana bisa Chanyeol meminta maaf, tapi sudah mengatainya lagi. Namun, itu tak berarti apa pun, karena yang sebenarnya sedang Kai tahan sejak awal adalah ledakan tawanya. Sejujurnya, ia sama saja dengan Chanyeol. Dirinya juga tidak bisa tahan lama-lama jika harus diam-diaman dengan orang yang sudah bersamanya bertahun-tahun. Kai juga ingin minta maaf kemarin. Sadar dirinya juga salah. Hanya saja, Chanyeol lebih dulu mengiriminya pesan maaf.
"Kau benar-benar tuli, Kai?"
Tak tahan lagi, Kai akhirnya menyimpan ponselnya. "Ck, kau ini benar-benar memalukan, Chan."
Chanyeol melongo. "APA?"
"Kalau mau minta maaf, carilah tempat yang lebih bagus. Bangunlah dulu suasana yang lebih nyaman."
"Eh?"
Kai berdecak lagi, tapi syukurlah ia sudah mau melihat Chanyeol walau dengan tampang sengitnya. "Bawalah dulu aku ke kantin, traktir jus kotak atau soda kaleng, baru kau mohon-mohon maaf padaku."
Kata-kata itu seolah mendobrak kesadaran Chanyeol, apalagi melihat wajah Kai yang sengit, tapi juga bercampur konyol, membuat Chanyeol sadar orang di depannya ini sudah mempermainkannya.
"Sial kau, Kai! Penipu! Kalau kau seperti ini, setidaknya balas pesanku kemarin."
"Kau pikir aku bisa apa setelah membaca pesanmu yang menggelikan itu? 'Hei, Kai, kau sedang apa? Kalau aku sedang ingin minta maaf padamu. Maafkan aku ya? Aku sadar sudah keterlaluan'." Chanyeol tak bisa lagi menahan mulutnya untuk tak terbuka lebih lebar. Kupingnya panas mendengar tawa Kai yang bersatu dengan tawa teman-temannya yang lain.
"Yak! Kaubilang itu menggelikan, tapi kau justru hafal."
"Ingatanku sempurna, Chan," bangga Kai yang sama sekali tidak membuat Chanyeol terkesan. "Kaupikir dengan pesan seperti itu aku bisa balas apa? Yang bisa kulakukan hanya tertawa!" imbuh Kai dan menambah volume tawanya.
"Kalau kau masih tertawa, tanpa rasa berdosa akan kudorong kau dari Gunung Halla," ancam Chanyeol yang berhasil sedikit demi sedikit meredakan tawa yang ada.
"Hei, bubar kalian! Chanyeol hampir mendidih," perintah Kai pada teman sekelasnya dengan sisa-sisa tawanya. Bagai anak ayam penurut, sekelompok siswa yang ikut terhibur akan adegan Chanyeol dan Kai itu pun membubarkan diri. Meski samar-samar Chanyeol masih mendengar mereka terkikik.
Dengan keadaan setengah kesal, Chanyeol beranjak untuk duduk di kursi yang tepat ada di depan meja Kai. Memutar kursi tersebut agar lebih nyaman bicara dengan Kai. Padahal, itu tempat duduk ketua kelas, tapi ketua kelas macam apa sudah hampir jam masuk belum datang juga.
"Kau tega sekali padaku, Kai."
"Kau juga tega sekali padaku kemarin."
"Tapi aku sampai ditertawakan."
"Aku malah kauusir. Aku merasa kau mengkhianatiku, Chan." Chanyeol terpaku, tak menyangka bahkan Kai merasa hingga seperti itu.
Chanyeol menimbang-nimbang tentang pemikirannya kemarin. Kemarin ia kira Kai marah karena ia sempat melupakannya dan terlalu fokus membawa Sehun ke ruang kesehatan. Lalu, kemarin Chanyeol tak sempat mengira-ngira lagi kenapa Kai tiba-tiba bersikap berbeda. Tapi sekarang, melihat Kai yang menunduk dan bertingkah seperti bocah begini membuat Chanyeol berpikir mungkinkah Kai… cemburu?
"Hei, Kai!"
"Apa?" ketus Kai, padahal hatinya merasa akan hal tidak enak saat melihat senyum jahil Chanyeol.
"Kenapa kau senyum-senyum, Chan? Mendadak gila?" Chanyeol mendengus, tapi mencoba melupakan.
"Yang kemarin itu, kau cemburu dengan Sehun, ya?"
Mata Kai membulat sempurna. Ia tak menyangka Chanyeol berpikir begitu. Kai ingin membantah karena itu bukan sebenarnya. Namun, melihat Chanyeol yang terus tergelak, justru menyihir Kai tetap diam.
"Kau lebih menggelikan daripada aku, Kai." Chanyeol berkelakar. Tak melihat kalau Kai justru memasang tampang sedih.
"Ya ampun, sekarang aku yang geli karenamu." Kelakar Chanyeol kian hebat, tapi terserah. Terserah Chanyeol mengatakan apa. Kai pilih tutup kuping dan membiarkan Chanyeol puas menertawainya. Ada hal yang Chanyeol tidak tahu terlebih mengerti.
"Hei, Kai, jangan kau berpikiran yang macam-macam. Sehun hanya tetanggaku dan Appa-nya cukup dekat denganku, tapi kau tetap sahabatku."
Sayang sekali, Chanyeol terlalu tenggelam dalam kelucuannya sendiri, sampai ia tak melihat ada seulas senyum di bibir sekaligus kekhawatiran dalam diri Kai.
"Ingat, Kai, kau itu tetap sahabatku. Jangan merasa aku mengkhianatimu karena aku tidak akan bisa melakukannya."
"Benar begitu?"
"Tinju pipi kesayanganku kalau aku melakukannya."
"Ayo berjanji, Chan!" Kai berubah bersemangat. Seolah baru saja melihat harapan terbit di antara dua gunung.
"Boleh. Kau mau aku berjanji apa?" Sebenarnya Chanyeol belum terlalu fokus. Entah kenapa mengetahui Kai cemburu karena dirinya terlalu dekat dengan Sehun membuat Chanyeol begitu terhibur.
"Janji jangan berdekatan dengan Sehun lagi."
Deg
Jantung Chanyeol serasa ditahan sejenak. Kini ia sudah sepenuhnya fokus dan sadar. Janji macam apa itu?!
Kalimat penolakkan sudah siap meluncur namun Chanyeol terlihat tak bisa membuka mulutnya. Setan merah mengatakan agar Chanyeol berjanji saja namun nalurinya terus meneriakkan nama Sehun. Mengingatkannya pula akan percakapannya dengan Tuan Song kemarin.
"Janji padaku, Chan." Seumur-umur mengenal Kai, Chanyeol tak pernah mendengar Kai merajuk begini. Chanyeol pikir selama ini ia sudah sangat menyayangi Kai, tapi ternyata Kai lebih menyayanginya.
"Chan?"
"Iya, Kai. Aku janji." Dan, kumpulan setan merah itu pun berpesta. Berhasil lagi menenggelamkan anak manusia dalam lembah mereka. Berhasil pula menerbitkan senyum Kai.
Di sela pesta meriah itu, Chanyeol sadar mulutnya baru saja berdusta dari hatinya. Ternyata, sebelum ia berkhianat pada sahabatnya, Chanyeol harus lebih dulu berkhianat pada hatinya sendiri. Chanyeol sadar ia bodoh. Tapi, sudah terlanjur. Ia juga bingung kalau harus menyanggah Kai tadi. Jadi, biar mulai saat ini ia berusaha menutupi pengkhianatannya saja.
"Maaf, Kai, maaf.Tapi, kau tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun. Aku siap kalau suatu hari kau lebih dari sekadar meninju pipiku."Itu kata hati Chanyeol.
"Kau tidak tahu apa yang kudengar. Tidak ada yang tahu ada apa sebenarnya dengan Sehun."Dan yang barusan adalah kata hati Kai.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Ini klise, tapi memang harus selalu aku ucapin.
Makasih makasih makasih buat yang udah baca, apalagi yang sempetin kasih review, favorite, dan follow di chapter sebelumnya. Kolom review sangat terbuka untuk kritik dan saran.
Oiya, ada yang tanya apa cerita ini ada romance-nya atau nggak. Kalau kamu mengharapkan ada, sayang sekali karena aku bikin cerita ini sebatas friendship. Tapi semoga masih tetep suka ya.
Dan yang mengharapkan clue, kalau kamu baca chapter ini hati-hati pasti banyak clue yang bisa kamu dapet. ^^
