Title : Something Curious

Author : dns

Chapter 5

Rate : T

Genre : Friendship, Angst, Hurt/Comfort

Warning : OOC, Typos

.

.

.

Trouble of Something Forgotten

.

.

.

Previous Chapter

"Aku benar-benar tinggal menunggu waktu Kai meninju pipi ini dan bahkan berhenti menganggapku sahabatnya."

"Chanyeol Sunbae, walaupun kau Sunbae sekaligus tetanggaku, dan sekalipun kau dekat dengan Appa-ku, tapi tidak denganku. Kau melanggar ruang pribadiku. Aku berhak memintamu berhenti melakukannya. Saat ini aku tidak hanya sedang meminta padamu, tapi aku juga sedang memohon padamu. Kuharap kau mengerti."

"Song Sehun, tolong kaudengar aku." …

"Tidak, tidak. Bukan begitu. Lagi pula aku tidak mau dekat-dekat dengan Chanyeol Sunbae. Ia terlalu dekat dengan Sehun. Kalau kemungkinan Sehun terkena penyakit mengerikan itu adalah kebenaran, Chanyeol Sunbae bisa saja tertular."

"Ah, itu mengerikan sekali. Mereka berdua bisa dikucilkan seperti teman Oppa-ku."

.

.

.

None of the casts are mine.

The plot and idea belong to me.

.

.

.

Chanyeol memang menikmati waktu saat melihat-lihat komik yang terpajang rapi di rak toko buku Namun, tidak sepenuhnya menikmati. Matanya memang berbinar terang saat melihat keluaran terbaru seri komik dambaannya dan Kai. Akan tetapi, ia diam saat perasaan ganjil itu menguasai hatinya. Seperti ada sesuatu yang ia lupakan.

Chanyeol sudah berusaha mengingat tentang apa yang ia lupakan. Namun, hasilnya nol besar. Bahkan, setelah ia berpisah dengan Kai pun Chanyeol masih belum dapat mengingatnya. Pemuda dengan tinggi super itu menggaruk pipinya—kebiasaan ketika ia dilanda kebingungan. Chanyeol mengakui daya ingatnya memang buruk, tapi tidak menyangka ternyata seburuk ini.

"Aku harus mandi dan makan ramyun dulu baru bisa mengingatnya," ujarnya sambil terus berjalan menaiki tangga flat. Ia berharap, semoga segarnya air dan nikmatnya semangkuk ramyun panas dapat mengiringi sebuah pencerahan.

"Chanyeol-a," sebuah suara ditangkap indra pendengaran Chanyeol. Langit gelap dan pencahayaan yang tak seberapa di bangunan flat membuat Chanyeol tidak menyadari keberadaan seseorang di ujung tangga. Ia akan terjungkal kalau saja gerak refleksnya untuk berpegangan pada besi tangga sama buruk dengan ingatannya.

"Kau tidak apa-apa? Maaf mengagetkanmu." Walau wajahnya masih menggambarkan keterkejutan, tapi Chanyeol memberi isyarat ia baik-baik saja. Jari-jarinya yang panjang tanpa segan menerima uluran tangan Nenek Kim—tetangga sekaligus orang yang memanggilnya—yang berusaha membantunya.

"Apa yang Nenek Kim lakukan malam-malam begini, di ujung tangga seperti ini?"

Nenek Kim bergeming, membuat Chanyeol mengulang pertanyaan dengan volume lebih keras karena pemuda itu baru ingat tetangganya ini memiliki masalah dengan pendengaran.

"Apa ada sesuatu di kamar Nenek? Kenapa malam-malam begini masih di luar?"

Kulit dahi Chanyeol mulai berkerut. Dipandangnya terus wanita tua yang hanya tinggal sendirian itu hingga akhirnya Chanyeol mendapat tanggapan.

"Bisa kita bicara sebentar?" Nenek Kim tampak ragu dan Chanyeol yang penasaran tidak mungkin menolak. Dengan tanda tanya yang menumpuk, ia segera menuntun Nenek Kim menuju kamarnya.

.

.

.

"Sebenarnya ada apa sampai Nenek Kim sengaja menungguku?" tanya Chanyeol setelah memberikan secangkir teh hangat kepada orang tua di hadapannya.

Sejenak, nenek bermarga Kim itu tampak ragu untuk membuka mulut. "Kau satu sekolah dengan Sehun, kan? Aku melihatmu dan Sehun memakai seragam yang sama."

Chanyeol kebingungan namun ia yakin pasti ada sesuatu yang penting. "Iya, kami satu sekolah. Sehun adalah hoobae-ku."

"Apa Sehun terjatuh saat di sekolah?" Chanyeol semakin dibuat bingung. Ia menggaruk pipinya agak keras seraya menatap dalam-dalam mata lelah Nenek Kim. Berharap menemukan sendiri kejelasan itu karena ia yakin orang yang tengah duduk di hadapannya ini masih akan menghujaninya dengan pertanyaan membingungkan.

"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Sehun?" Nenek Kim tak menjawab. Ia justru balik menatap pemuda berseragam sekolah di hadapannya.

Chanyeol yang mengerti arti tatapan itu pun akhirnya mengalah. "Aku tidak terlalu memerhatikan Sehun saat di sekolah. Lagi pula, dia baru dua hari masuk sekolah." Tapi Chanyeol berbohong. Ia perlu tahu terlebih dahulu alasan Nenek Kim tiba-tiba menanyakan Sehun. "Ada apa? Apa sesuatu terjadi padanya?"

"Tadi sore aku melihat kaki anak itu terluka. Dia hanya diam dan langsung pergi saat aku bertanya. Jujur saja, aku khawatir. Dia tidak bergaul dengan lingkungan di sini. Aku melihat Appa-nya juga sibuk bekerja. Aku takut ia melakukan hal yang tidak-tidak atau bergaul dengan orang yang tidak baik."

Chanyeol hanya diam mendengarkan, tetapi ia cukup terkejut mendengar berita itu.

"Setelah pingsan, sekarang kakimu yang terluka. Kau itu kenapa, sih?" Chanyeol bertanya-tanya sendiri dalam hati, sedangkan jemari Nenek Kim kian kuat melingkari dinding gelas. Ia tidak mau repot berpikir mengapa Nenek Kim bisa sekhawatir itu pada Sehun yang bahkan belum genap tujuh puluh dua jam menjadi tetangga mereka. Karena pada kenyataannya, Chanyeol sudah lebih dulu khawatir pada Sehun ketika bocah itu pingsan di kelas kemarin.

"Aku bertanya padamu karena aku pikir kau satu sekolah dengan Sehun. Jadi, mungkin kautahu banyak tentangnya."

"Kita sama saja, Nenek Kim." Chanyeol tersenyum simpul, tapi itu ironi.

"Chanyeol-a, maaf sudah mengagetkanmu di tangga tadi dan mengganggumu malam-malam. Tadi aku sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau belum datang. Jadi, aku menunggumu di tangga."

"Aku mengerti. Tidak perlu minta maaf. Tapi lain kali, Nenek tidak perlu menunggu di tangga. Di luar kan dingin. "

"Kalau tidak menunggumu di sana, aku tidak tahu kau sudah di rumah atau belum. Saat melihat Sehun tadi, aku langsung teringat cucuku. Aku jadi khawatir dan langsung berpikir untuk bertanya padamu." Chanyeol bangkit berdiri, mengikuti Nenek Kim yang sudah lebih dulu beranjak dari kursi.

Meski dekat, hanya terpisah ruang persegi yang ditempati Sehun dan ayahnya, Chanyeol tetap ingin mengantar Nenek Kim pulang.

"Selamat istirahat, Nenek Kim," ujar Chanyeol ketika nenek berbalut sweater hijau lusuh itu sudah memutar kunci.

Nenek Kim tersenyum sebelum ia menahan langkah untuk masuk ke kemar flatnya. "Kalau kau bertemu Sehun, bisa kautanyakan tentang luka di kakinya?"

"Tentu. Sekarang Nenek istirahat saja. Jangan mengkhawatirkan banyak hal. Aku akan bicara pada Sehun." Chanyeol membungkuk sopan dan hendak kembali ke kamarnya. Akan tetapi, suara Nenek Kim mencegah langkahnya.

"Ada lagi yang ingin Nenek katakan?" Senyum lembut terukir di bibir Chanyeol yang bebas rokok.

"Hmm... sebelumnya, aku sempat melihat Sehun bersama seorang gadis."

Mata Chanyeol membulat sempurna. Kabar barusan jauh lebih mengejutkan daripada kabar negara api menyerang.

Seorang gadis?

Bersama seorang gadis?

Yang benar saja! Chanyeol sangsi mendengar hal itu. Bagaimana bisa Sehun bersama seorang gadis kalau ia saja bersikap aneh dan menolak orang-orang di sekitarnya.

"Dan sekarang seorang gadis?! Selamat, Song Sehun! Kau berhasil membuatku sinting!"

"Nenek Kim yakin melihat Sehun dengan seorang gadis?"

"Aku melihatnya. Mereka bersama di taman."

"Wuh, di taman?" Sahabat Kai itu makin tak habis pikir. Namun, sejurus kemudian...

"Aigoo! Taman?!"

.

.

.

"Song Sehun, dengar aku! Percakapan kita belum selesai. Aku harus bicara denganmu dan kau harus mendengarkanku."

"Memang kau itu siapa, Sunbae? Kenapa kauterdengar memiliki kuasa penuh atas hidupku?" Chanyeol berdecak keras. Posisinya sedang terhimpit dan dirinya tidak tahan dengan keringat dingin yang kian membanjiri tubuhnya.

"Kau hanya tidak mau disentuh orang lain, kan? Bukan berarti kau tidak mau bicara dengan orang lain juga, kan?" Listrik, api, dan kilat lainnya tampak memancar baik dari mata maupun tubuh Chanyeol. Rasanya ia ingin sekali mencengkram pundak Sehun, meyakinkan anak itu bahwa mereka memang harus bicara.

Bergantian Chanyeol menatap Sehun dan melihat Kai yang masih berjalan pelan di ujung koridor sana. Ia harus cepat-cepat menjauhkan diri dari Sehun sebelum Kai melihat mereka sedang bersama.

"Sepulang sekolah nanti tunggu aku di taman dekat persimpangan jalan. Taman terdekat dari flat. Kalau kau tidak datang maka aku yang akan datang ke tempatmu." Sehun diam, tak bereaksi apa pun sehingga membuat Chanyeol nyaris putus asa.

"Kumohon," pinta Chanyeol dengan mengerahkan seluruh mimik melasnya. Masa bodoh, mau Sehun melihatnya seperti anak anjing yang disiram atau anak kucing yang dilempari panci, yang penting Song Sehun itu mau menemuinya di taman nanti. Intinya, mereka harus bicara.

Setelah itu, Chanyeol benar-benar pergi. Ia berlari tanpa melihat lagi pada Sehun yang sebenarnya masih terus memerhatikannya. Berlari menuju Kai beberapa meter di seberang sana—yang Chanyeol harap tidak mendapati dirinya berbicara dengan Sehun.

.

.

.

"Sehun! Kau di dalam, kan?" panggil Chanyeol sambil tetap menjaga volume suaranya. Ia tak akan buang tenaga untuk memanggil Tuan Song. Mengingat percakapannya dengan Tuan Song kemarin, Chanyeol yakin jam segini laki-laki itu pasti sedang bekerja.

"Sehun, ini aku, Chanyeol. Bisa kau membuka pintunya untukku?"

...

"Sehun! Sehun!" Sejujurnya, Chanyeol juga tak tahu apa Sehun ada di dalam atau tidak, tapi hatinya sejak tadi meyakinkan kalau anak itu ada di dalam.

...

"Song Sehun!"

...

Berbagai nada dan intonasi sudah Chanyeol gunakan, meski suaranya tetap ia jaga sepelan mungkin agar tak terlalu mengganggu tetangganya yang lain. Namun sayang, usahanya masih nihil.

"Tadi Im Seonsaengnim, sekarang Nenek Kim. Song Sehun, kau benar-benar sialan. Bisa-bisanya kau tidak bersyukur. Orang yang mengenalmu saja mengkhawatirkanmu, tapi kau justru menjaga jarak dari semua orang," gerutu Chanyeol sebatas di hati untuk sesaat. Ia lelah memanggil-manggil Sehun terus. Ingin sekali rasanya mengutuk makhluk satu itu karena meninggalkan kebingungan di kepalanya. Hanya saja, Chanyeol jauh lebih ingin mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa tak acuh saja pada urusan Sehun.

Chanyeol membuka lagi mulutnya. Siap memanggil dengan suara sedikit lebih kencang. "Oi, Sehun! Kau-"

"Chanyeol!"

Panggilan Chanyeol terputus dan ia tersentak mendapati suara familiar itu menyerukan namanya. Tanpa disadari, hati pemuda itu sudah berteriak "Jangan! Jangan dia! Jangan!".

Bersama dengan keberanian yang menciut, Chanyeol memutar seluruh tubuhnya, melihat seseorang yang berdiri di ujung lorong dengan tatapan paling tak mengenakan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Ka-Kai?" lirih Chanyeol yang tampaknya justru memperkeruh suasana malam.

Chanyeol menelan liurnya yang terasa seperti koral. Sorot matanya begitu tegang tatkala sosok yang ia yakini seribu persen adalah sahabatnya, kini hanya meninggalkan satu langkah di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan?" Pelan. Chanyeol tak meragukan betapa pelan Kai bertanya, tapi Chanyeol serasa baru saja ditusuk anak panah Katniss Everdeen.

"A-ak-ku.. Ak-ku.. hanya.. hmm… hanya ingin meminta nasi pada Sehun. Aku merasa lapar. Kautahu sendiri kan, kalau Eomma-ku sed-"

"Berapa lama kita bersama?"

Chanyeol tertegun.

"Berapa lama aku sudah mengenalmu? Berapa lama kau sudah mengenalku? Seminggu? Sebulan? Setahun?" Tak ada satu kata pun yang mampu menyelamatkan Chanyeol dari situasi ini. Kai terlanjur kecewa, tampak jelas dari tajamnya tatapan lelaki itu.

"Kai, aku-"

"Aku tahu kau berbohong dan kautahu aku tidak suka dibohongi, apalagi dikhianati, tapi kau malah melakukannya."

Chanyeol serba salah. Ah, tidak! Lebih tepatnya ia memang salah. Ia masih tak menemukan apa pun untuk dikatakan pada sahabatnya. Hatinya keburu sakit melihat Kai yang biasanya konyol kini terlihat amat terluka.

"Kai, dengarkan ak-"

"Aku ingin sekali meninju pipimu, tapi aku tak tega melakukannya." Chanyeol merasa atap flat sedang runtuh, lalu menindih tubuhnya. Sakit sekali. Terlebih saat ia melihat mata Kai sudah berkaca-kaca.

Sahabatnya itu... benar-benar menyayanginya.

"Silakan menemui Sehun. Aku tak akan memintamu berjanji lagi untuk menjauhi Sehun. Lagi pula, memintamu berjanji atau tidak, kau tetap tidak bisa menjauhinya, kan?" Senyum miris terulas di bibir Kai yang terlihat kering. Setelah itu, laki-laki itu berbalik dan berjalan meninggalkan Chanyeol. Sama sekali tidak menoleh kembali.

Chanyeol tetap membatu di tempat. Ia kaget karena semuanya terasa cepat. Tak ada teriakan, tak ada aksi pukul-pukulan, tapi tak ada satu pun kalimat Kai yang tidak menimbulkan luka di hatinya. Untunglah, Chanyeol cepat sadar. Ia melihat Kai yang sudah menuju undakan tangga, lantas langsung berlari mengejar sahabatnya itu.

Semua yang telah terjadi, memang hanya bisa disesali, tapi setidaknya, Chanyeol harus membuat Kai mendengar penjelasannya dulu.

"Kai, tunggu! Dengar aku dulu!" Chanyeol memacu langkah kakinya. Kai yang sadar Chanyeol tengah mengejarnya, tak mau kalah langkah. Pada akhirnya, Kai yang sedang dirundung kalutlah yang berhasil mempertahankan posisi terdepan. Namun, Chanyeol tak menyerah. Masa bodoh ini terlihat seperti adegan drama. Toh, kisah drama tak semurni persahabatannya.

"Kai, tunggu aku! Setidaknya jelaskan dulu padaku mengapa kau menyuruhku menjauhi Sehun." Chanyeol baru benar-benar berteriak setelah ia mengejar Kai hingga meninggalkan area bangunan tempat dirinya tinggal. Ia baru sadar, selama ini ia tak pernah menanyakan alasan Kai. Namun, di depan sana, Kai terlihat tak acuh.

"Kai, berhenti seben-"

Drrt... drrrttt...

Chanyeol terus berlari walau ia yakin getar di ponselnya menandakan panggilan masuk.

Drrt... drrrttt...

"Kai!"

Drrt… drrrttt...

Drrt… drrrttt...

Pada akhirnya, Chanyeol berhenti berlari. Ia langsung merogoh saku celana dan mengambil ponselnya ketika menyadari panggilan tersebut pasti dari sang ibu. Chanyeol baru ingat, ponselnya jarang mendapat panggilan masuk kecuali dari ibunya atau Kai. Tetapi, Kai tidak mungkin meneleponnya saat ini, kan?

"Eomma," sapa Chanyeol meski napasnya terdengar tak keruan. Dugaannya seratus persen tepat. Layar ponselnya tadi berkedap-kedip menampilkan kontak ibunya.

"Chanyeol?"

Bisa Chanyeol terima nada khawatir yang bercampur dengan suara lembut sang ibu. "Iya, Eomma. Ini aku, Chanyeol."

"Kau kenapa, sayang? Apa yang kau lakukan? Kenapa terdengar sangat lelah?"

Chanyeol berpikir sejenak alasan apa yang tepat agar ibunya tak khawatir. "Aku ketinggalan bus, Eomma. Aku mencoba mengejarnya, lalu Eomma meneleponku."

"Kau belum di rumah?" Refleks Chanyeol mengangguk. Ia lupa ibunya tak akan melihat itu.

"Belum, Eomma. Aku tadi dari rumah Kai. Ada tugas yang harus kami selesaikan bersama." Chanyeol tersenyum miris. Cih! Tugas bersama? Yang ada justru masalah bersama.

Sambil mendengar berbagai nasihat ibunya untuk dirinya yang pulang malam dan ketinggalan bus, Chanyeol lebih menepikan diri pada dinding rumah orang. Selain itu, matanya mencoba menyusuri jalan sempit dengan kontur naik-turun demi mendapati sosok Kai. Yah, tapi tentu saja itu percuma. Kai sudah tak terjangkau lagi oleh penglihatannya.

"Eomma akan pulang besok."

"Benarkah? Akhirnya, Eomma pulang juga." Untuk sejenak Chanyeol dapat melupakan masalahnya.

"Tapi," jeda sang ibu, membuat senyum sumringah Chanyeol perlahan redup.

"Tapi apa, Eomma?"

"Eomma akan pergi lagi pada sore hari."

"Hah?" Chanyeol tak bisa menahan keterkejutannya. Hatinya yang sedih karena masalahnya dengan Kai, harus ditambah lagi dengan ibunya yang tengah sibuk-sibuknya.

"Masalah di kantor sama sekali belum selesai."

"Apa atasan Eomma tidak ingat karyawannya punya keluarga?"

Wanita cantik bernama Nara yang kini tengah berada di Busan itu merasa sedih mendengar pertanyaan buah hatinya yang sarat akan kekecewaan. Ia tahu Chanyeol-nya sudah dewasa. Jadi, ia ingin anaknya itu mengerti. "Lalu, apa kau lupa kalau atasan Eomma juga punya keluarga?"

Sekarang, saluran telepon itu terasa sepi. Mungkin, hanya embus napas berat Chanyeol yang terdengar.

"Kau harus ingat, tak hanya Eomma yang sudah berkeluarga. Semua teman-teman dan atasan Eomma juga sama. Kami semua merindukan keluarga, tapi kami di sini juga sedang berjuang demi keluarga. Kalau kantor tempat Eomma bekerja ini bangkrut, apa tidak menimbulkan lebih banyak kesulitan? Kau mengerti maksud Eomma, kan?"

Chanyeol diam seribu kata. Tak ada yang salah dari ucapan ibunya dan ia bisa mengerti semuanya. Hanya saja, rasa rindunya sulit untuk memahami. Lagi pula, ia sedang butuh seseorang untuk menemaninya.

"Aku mengerti, Eomma," balas Chanyeol pada akhirnya. "Kalau begitu, aku akan absen sekolah besok. Setidaknya, biarkan aku memeluk Eomma-ku yang cantik sepanjang hari esok."

"Baik, Eomma tak akan melarangmu bolos kali ini."

"Ya sudah, Eomma istirahatlah. Aku akan berjalan kaki pelan-pelan menuju rumah."

"Hati-hati. Kabari Eomma jika sudah sampai rumah."

"Aku menyayangimu, Eomma."

"Eomma lebih menyayangimu."

Klik

Sambungan diputus. Segera Chanyeol menyimpan ponsel pintarnya ke dalam saku. Setelah itu, semua yang bisa ia lakukan hanya bernapas dengan berat, mengusap wajahnya dengan kasar, dan berteriak seandainya saja ia tak punya hati untuk mengganggu istirahat para tetangganya.

.

.

.

Kai masih marah, kesal, dan kecewa. Hatinya belum dingin sejak semalam dan semua itu karena Chanyeol. Orang yang selalu ia ingin lindungi seperti keluarganya, tapi sialnya justru mengkhianati dirinya. Namun, bohong jadinya kalau Kai tidak ingin tahu kenapa hari ini Chanyeol tidak masuk. Ia mengira-ngira apa laki-laki yang selalu mengatainya konyol itu sengaja bolos untuk menghindarinya?

Kai menghela napas panjang untuk mengatasi kegusaran hatinya. Ia tak berselera ke kantin, tapi juga tak ingin hanya berdiam di kelas. Jadi, ia hanya berjalan tanpa arah menyusuri koridor yang penuh oleh siswa lain. Baru selangkah ia melewati ruang kesehatan, matanya menangkap sosok kurus beberapa meter di depannya. Sosok yang bisa dibilang sebagai penyabab hubungannya dan Chanyeol menjadi renggang begini.

Kai diam memerhatikan Sehun dengan pandangan penuh rasa tak sukanya. Tidak hanya itu, Kai juga dapat melihat Sehun yang berjalan dengan iringan berpasang-pasang mata siswa yang menyorot remeh. Bahkan, tak sedikit siswa yang langsung menepi.

"Apa omongan gadis-gadis teman sekelasmu itu sudah menyebar?" Kai bertanya-tanya sendiri, tetapi melihat sikap siswa lain yang langsung antipati ketika Sehun melintas, membuat ia yakin jawabannya adalah sudah.

"Bagaimana bisa kau berjalan dengan setenang itu, sementara orang lain melihatmu seperti virus paling memantikan di dunia?" desis Kai. Ia melanjutkan lagi langkahnya. Hanya saja, kali ini ia memiliki tujuan. Ia akan mengikuti Sehun. Ia akan bicara mungkin juga memaki dengan anak itu. Memintanya agar jangan menghiraukan Chanyeol karena sungguh, Kai masih ingin berusaha melindungi sahabat satu-satunya.

.

.

.

"Aku masih berharap Eomma tidak jadi pergi ke Daegu sore nanti," ungkap Chanyeol sambil berjalan membawakan tas berisi pakaian milik ibunya.

"Setelah kita bicara di telepon kemarin, Eomma pikir kau sudah mengerti."

"Iya, iya... aku mengerti Eomma. Aku hanya bicara saja." Nara tersenyum dan mengusap kepala putranya. Ia senang hari ini bisa pulang—walaupun hanya untuk kembali berkemas—, apalagi dengan jemputan Chanyeol di depan gang. Meski sore nanti ia akan pergi lagi, tapi setidaknya dirinya punya sedikit waktu untuk memeluk dan mencium anak satu-satunya itu.

"Apa saja yang Eomma lewatkan selama pergi?"

Chanyeol belum menyahut. Pertanyaan tiba-tiba dari sang ibu membuat ia teringat kembali akan Sehun. Membuat dirinya kembali dalam posisi khawatir dan bingung. Bahkan, dilema juga. "Hmm... tidak banyak. Kita hanya punya tetangga baru sekarang."

"Tetangga baru? Apa ia menempati kamar di sebelah kita?" Anggukan Chanyeol cukup mewakili jawaban, lantas Nara memerhatikan perubahan raut putranya yang menjadi agak lesu.

"Selain itu?" Nara coba menyelidik. Ia seorang ibu dari remaja yang sedang berjalan di sampingnya. Perubahan sekecil apa pun walau coba ditutupi, Nara akan tahu. Ia tahu fokus Chanyeol tengah terbagi. Namun, Nara tak ingin memaksa. Ia lebih suka Chanyeol terbuka dengan sendirinya.

"Tidak ada."

"Lalu, apa kau sudah menyapa tetangga barumu?"

"Sudah. Bahkan, aku cukup dekat dengan kepala keluarganya. Yah, kecuali dengan anaknya."

Dahi berkulit mulus milik Nara langsung berkerut. "Itu bagus sekaligus tidak. Ada apa denganmu dan anak itu?"

"Namanya Sehun, Eomma. Kebetulan ia hoobae-ku di sekolah. Hanya saja, perilakunya agak aneh. Dia seperti anti sosial dan menolak disentuh siapa pun."

Mendengar cerita Chanyeol membuat Nara tak bisa menyembunyikan bulatan matanya yang membesar. "Ada apa dengannya?"

"Appa-nya saja bingung, Eomma, apalagi aku." Bisa wanita cantik itu rasakan ada sesuatu antara Chanyeol dan seseorang bernama Sehun. Ia bisa melihat putranya dalam keadaan tidak baik ketika bercerita tadi. Chanyeol tidak biasa seperti ini. Ia melihat putranya begini hanya ketika sedang bermasalah dengan Kai. Yah, itu juga benar sih, tapi masalahnya, Nara kan tidak tahu Chanyeol juga sedang bermasalah dengan sahabatnya.

"Eomma yakin kau ingat ini, kalau Eomma selalu ingin mendengar ceritamu." Chanyeol langsung bergeming. Kakinya yang ternyata sudah siap menaiki tangga flat seketika berhenti. Ia memandang wajah cantik wanita terbaiknya yang selalu tersenyum tulus. Dalam hati Chanyeol mengucap maaf berulang kali untuk sang ibu lantaran belum bisa berbagi saat ini.

"Aku tahu dan selalu ingat. Eomma kan yang paling nomor satu." Senyum Nara langsung menular pada Chanyeol. Sekarang, tak ada alasan lagi untuk berjalan dengan tanpa wajah muram.

"Akan aku kenalkan pada Paman Song kalau kita bertemu nanti. Dia sama sepertimu, Eomma, orangtua tunggal juga. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Tapi, Eomma jangan sampai menyukainya ya!" Kekehan Chanyeol langsung terdengar. Nara yang tak percaya putranya akan mengatakan hal seperti itu malah bingung harus bereaksi apa.

"Appa-mu tak tergantikan, sayang."

"Eomma memang yang terbaik!" Girang Chanyeol karena merasa satu pemikiran.

.

.

.

Kai tidak tahu apa tujuan Sehun memasuki ruang perlengkapan olahraga secara diam-diam. Tetapi, karena hal ini ia jadi semakin yakin memang ada hal besar yang ditutupi oleh juniornya itu.

"Dasar aneh! Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" Kai bertanya sendiri dengan suara mendesis. Ia masih memerhatikan gerak-gerik Sehun yang tengah meletakkan botol air mineral di atas container plastik. Sesekali ia juga mengawasi keadaan sekitar. Namun, Kai cukup bersyukur lantaran ruang perlengkapan olahraga ini terletak di ujung koridor sehingga jarang terjamah orang, kecuali memang ingin ke ruangan ini.

Dari balik kaca jendela Kai bisa melihat dengan samar bagaimana Sehun yang tiba-tiba tersenyum karena suatu hal. Membuat Kai kembali mengatainya aneh. Kalau saja Kai ingat, dulu Chanyeol yang meralat kalimatnya bahwa Sehun itu aneh, bukan ajaib. Tetapi sekarang, justru ia yang bolak-balik menyebut Sehun aneh.

Tak sedetik pun Kai melepas fokusnya dari Sehun yang ia lihat berdiri menyamping. Ia penasaran dengan sesuatu yang ada dalam genggaman bocah itu. Ia hanya tahu itu sebuah bungkusan dengan warna biru dan ada sesuatu yang lain berwarna kuning. Dalam hati Kai merutuk mengapa kaca jendela di depannya ini harus dilapisi stiker buram. Namun, sekita matanya yang tak seberapa besar itu membulat tatkala samar-samar ia melihat Sehun memasukkan sesuatu yang berasal dari bungkusan ke dalam mulutnya. Setelah itu, Sehun baru terlihat menenggak isi botolnya.

Kai membatu di tempat. Pikirannya meyakinkan bahwa bungkusan itu pasti bungkusan obat. Hanya saja, obat apa? Kai tidak tahu, tapi ia merasa harus tahu. Namun tiba-tiba, satu hal melintas dalam pikirannya. Mungkinkah obat itu...

"Apa yang kauminum itu?"

Kai tak tahan lagi untuk berhenti megintip dan langsung menghadapi Sehun terang-terangan. Sementara itu, Sehun yang telah memutar tubuh masih bertahan dengan raut kagetnya melihat kehadiran seniornya yang tiba-tiba.

"Kai Sunbae?"

Kai berdecih meremehkan. "Kautahu namaku? Cih, dari mana kau mengetahuinya?"

Sehun tak menyahut karena ia tahu itu hanya retoris untuk meremehkannya. Ia lebih memilih buka suara untuk bertanya hal lain yang lebih penting. "Apa yang kaulakukan di sini, Sunbae? Kau mengikutiku?"

"Iya, aku mngikutimu. Mengikutimu untuk tahu apa yang sebenarnya kausembunyikan."

"Kau pasti tahu itu bukan hal yang sopan, Sunbae," ujar Sehun. Kali ini ia mulai mengeluarkan nada dinginnya yang sayangnya tak membuat Kai gentar.

"Kau lebih tidak sopan. Kaudengar aku bertanya, tapi tidak kaujawab." Senyum miring terulas di bibir Kai yang sama bebas rokok seperti Chanyeol. Ia merasa telah berhasil menyerang balik Sehun.

"Jawab aku! Apa yang kauminum itu? Obat apa itu?"

Dalam hitungan detik Sehun menguatkan kepalan tangan kirinya. Menyembunyikan bungkusan kecil yang sejak tadi ditanyai Kai.

"Kau tidak bisa menjawab?" Kai kian sinis.

Seketika Sehun merasa tubuhnya keluar keringat dingin, tapi ia mencoba tetap tenang. Ia tahu dirinya sedang terjepit, tapi apa pun itu Sehun akan berusaha untuk mempertahankan posisinya.

"Apa pun yang kuminum, itu sama sekali bukan urusanmu."

"Sialan! Apa yang sebenarnya kau idap, hah?" tanya Kai langsung. Ia tidak mau mengulur waktu.

"Apa maksudmu, Sunbae?" tanya Sehun tak percaya, tetapi sebenarnya ia paham pertanyaan Kai merujuk pada berita tentang dirinya yang baru saja menyebar. Tentang dirinya yang mengidap penyakit yang sering dianggap momok mengerikan.

"Jangan pura-pura tidak paham dan hilangkan wajah tak berdosamu itu!" Kai hampir kalap. Suaranya sudah sedikit meninggi. Untunglah, ia langsung menutup pintu ruang perlengkapan olahraga ketika memutuskan untuk masuk tadi. Semoga suaranya masih bisa teredam dinding ruangan juga.

"Kau tak tahu apa pun, Sunbae."

"Aku tahu! Kau saja yang berbohong." Kai tak mau kalah. Ia masih kuat pada kepercayaannya, sedangkan Sehun mulai merasa gerah dengan sikap Kai. Jelas ia perlu cara lain untuk menghadapi kemarahan seniornya itu.

"Lalu, kalau aku mengaku, kalau memang begitu keadaannya, kalau memang berita tentang diriku itu benar, kau mau apa, Sunbae? Apa itu sangat penting untukmu?" tanya Sehun penuh nada menantang. Kilat matanya bukan main tajamnya. Kai yang lebih benci dirinya saja tak sampai menatap setajam itu.

"Itu sangat penting untukku! Kau pun tidak akan bisa membayangkan seberapa pentingnya itu untukku!" Kai nyaris meledak. Seandainya saja ia tengah berhadapan dengan Sehun di lapangan luas tanpa seorang pun yang akan peduli, Kai bersumpah akan menghajar Sehun habis-habisan.

"Kau dekat-dekat dengan sahabatku dan kau punya penyakit menular yang mengerikan. Bagaimana bisa aku membiarkan sahabatku dekat denganmu, hah?" Dua kalimat Kai barusan sukses membuat hati Sehun sakit sekaligus sedih. Hatinya bertanya lirih, benarkah seperti itu yang Kai rasakan?

Sementara Sehun masih sibuk mengartikan sakit dan sedih yang ia rasakan, sinar mata Kai yang sempat terbakar emosi justru berangsur redup.

"Kau, Song Sehun, kumohon padamu, jauhi sahabatku." Kini Kai terlihat kontras. Suaranya berubah lirih. Sosoknya yang tadi mengebu-gebu, kini terlihat rapuh.

Sehun bingung sendiri melihat perubahan Kai. Apalagi ketika ia mendengar rangkaian kata seniornya itu. Bahkan, Sehun jadi sulit mengedipkan mata. Ia kaget, benar-benar kaget. Ia tak pernah membayangkan Kai akan seperti ini. Kepala tertunduk, mata berkaca-kaca, dan memohonan dengan sangat tulus.

"Dia sahabatku. Tidak bisa kutemukan lagi di mana pun. Kumohon jangan membuatnya sakit. Aku tak mau melihatnya menderita sepertimu." Lagi-lagi Sehun terhenyak. Rasanya tiap untai kata yang ia dengar mengandung sihir yang mampu membuat kaku sekujur tubuhnya. Dalam hatinya ia terus memuji Chanyeol. Orang itu pasti sangat beruntung memiliki Kai dalam hidupnya.

"Kumohon, Sehun. Aku sangat takut. Aku tak mau Chanyeol ikut sakit sepertimu."

Sehun menghela napas dan memejamkan matanya cukup lama. Ia baru melancarkan beberapa kata setelah kembali membuka mata dan menatap Kai tepat di manik gelap lelaki itu. "Sahabatmu yang mendekatiku, Sunbae. Bukan aku yang mendekatinya." Kali ini, tak hanya dingin yang bisa terasa dalam nada suara Sehun, tetapi juga marah.

Kai menegakkan kepalanya kembali. Dipandangnya Sehun yang sedang melihatnya dengan ekspresi datar. "Kalau begitu, jangan menghiraukannya. Tinggalkan Chanyeol jika dia mengajakmu bicara. Abaikan saja dirinya, Sehun."

Sehun hanya bisa memandang sinis orang di depannya. Sungguh ia tak pernah membayangkan Tuhan menyisipkan adegan seperti ini dalam hidupnya. Jujur, ini mengharukan bagi Sehun ketika mendengar seseorang memohon-mohon dengan tulus sampai menangis demi keselamatan orang lain yang padahal juga bukan keluarga kandung orang itu. Hanya saja, ini juga menyakitkan ketika orang itu mengatakan bahwa hidupnya menderita.

Akan tetapi, itu fakta. Sehun tak bisa mengelak.

"Kau harus tahu, Sunbae. Melihatmu seperti ini, membuatku berpikir bahwa hidupmu dan Chanyeol Sunbae adalah yang terbaik. Hidup paling sempurna. Selain keluarga, kalian punya satu sama lain," ungkap Sehun yang berasal dari dasar hatinya. "Sungguh tak ada gunanya kau memohon-mohon seperti ini padaku," imbuh Sehun. Kemudian, ia mulai membawa tangannya yang menggenggam bungkusan kecil ke dalam saku celananya. Sejurus kemudian ia berjalan mendekati pintu. Tak lupa botol air mineral kemasannya dibawa juga. Sesaat sebelum dirinya benar-benar keluar dari ruangan yang terasa pengap itu, ia berbalik. Berbalik dan sekali lagi menatap lurus pada Kai.

"Satu hal lagi, Sunbae. Kau sungguh tak tahu apa pun tentang diriku," ucap Sehun tanpa intonasi. Terlampau datar dan pelan sehingga Kai merasa baru saja dihujani mantra kaku Petrificus Totalus dalam kisah Harry Potter.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Seneng rasanya bisa ngelanjutin cerita ini, walaupun enggak tau masih ada yang nunggu atau enggak. Tapi, aku makasih banget untuk yang udah baca chapter sebelumnya sekaligus baca "konfirmasi"-ku, untuk semua review-nya, dan kiriman PM yang nanyain cerita ini kapan lanjut.

Chapter kali ini kayaknya lebih banyak narasinya. Semoga enggak bosen ya.

Kolom review terbuka lebar untuk kritik, saran, dan apa pun yang mau kamu bilang tentang Something Curiouschapter 5 ini.

Makasih buat yang udah klik judul cerita ini atau pun hanya sekadar baca. Apalagi kasih review, favorite, dan follow. Makasih yaaa. ^^