Something Curious
by dns
.
Chapter 6
.
Come Over
.
Previous Chapter
"Hmm... sebelumnya, aku sempat melihat Sehun bersama seorang gadis."
Mata Chanyeol membulat sempurna. Kabar barusan jauh lebih mengejutkan daripada kabar negara api menyerang.
…
"Berapa lama kita bersama?"
Chanyeol tertegun.
"Berapa lama aku sudah mengenalmu? Berapa lama kau sudah mengenalku? Seminggu? Sebulan? Setahun?" Tak ada satu kata pun yang mampu menyelamatkan Chanyeol dari situasi ini. Kai terlanjur kecewa, tampak jelas dari tajamnya tatapan lelaki itu.
…
"Kau, Song Sehun, kumohon padamu, jauhi sahabatku." …
"Kau harus tahu, Sunbae. Melihatmu seperti ini, membuatku berpikir bahwa hidupmu dan Chanyeol Sunbae adalah yang terbaik. Hidup paling sempurna. Selain keluarga, kalian punya satu sama lain," …
.
.
.
None of the casts are mine.
The plot and idea belong to me.
.
.
.
Sumbernya adalah Sehun. Sehun. Si Song Sehun. Yah, begitulah cara Kai terus meyakini pangkal dari hari-hari terburuknya yang terjadi belakangan ini.
Remaja itu mengumpat sepanjang melewati lalu-lalang orang, pertokoan, kedai-kedai, dan objek apa pun itu. Umpatan apa saja, yang ia tahu dan yang diberi tahu oleh Chanyeol. Sebab, suasana hatinya sedang kacau, pikirannya kusut, hubungannya dengan Chanyeol jelas masih buruk, dan sekarang ia tidak tahu kenapa tadi sahabatnya itu absen sekolah. Ah! Ada lagi yang paling parah, fakta bahwa ia baru saja menangis di hadapan si Song Sehun itu. Sip! Lengkap!
Kai ingin mengumpat lagi namun buru-buru menahannya. Ia justru bersikap manis sekarang. Menunduk sopan dan mengucapkan maaf dengan cara formal. Beberapa saat kemudian, mulutnya mulai kotor lagi.
"Lihat! Bertambah lagi satu. Aku menabrak orang. Lagi-lagi karena kau, Sehun! Sial!" Kai mendesis ketika orang yang tak sengaja ia tabrak telah berlalu beberapa langkah darinya.
"Kau bahkan hanya orang asing yang aneh." Setelah itu, satu lagi umpatan lolos begitu saja dari bibir Kai. Lengkap dengan kandungan kesal dan marah yang dosisnya lebih tinggi dari sebelumnya. Bahkan, seorang wanita yang berpapasan dengannya saja sampai menatap kaget. Tapi, tentu saja sahabat Chanyeol itu tak peduli. Ia terus berjalan. Berjalan lebih cepat karena sekitar enam meter dari posisinya, lampu pejalan kaki baru saja berubah hijau.
Yah, tapi memang dirinya sedang kurang mujur, mungkin. Selain pandangannya yang menangkap lampu hijau untuk pejalan kaki, ia juga mendapati sosok tinggi yang kurus. Pucat dan lesu. Atau lebih mudah untuk dideskripsikan, sosok itu adalah sumber masalahnya.
Namun, sepertinya Tuhan masih punya sesuatu untuk Kai. Baru saja pemuda itu berniat ingin menjauhkan jarak pandangnya dari Sehun yang tengah menyeberang jalan, tumbukan itu terjadi. Tumbukan antara baja dan manusia. Manusia tinggi yang kurus. Pucat dan lesu. Atau lebih mudah untuk dideskripsikan, manusia itu adalah sumber masalahnya.
"SEHUN!"
.
.
.
"Ibu yakin semua keperluan sudah masuk ke dalam tas?"
"Sepertinya belum semua," jawab Nara yang langsung membuat tatapan Chanyeol beralih padanya. "Masih ada satu lagi."
"Apa lagi yang kurang?"
"Kau." Tawa renyah Nara menghambur ke setiap sudut ruangan, tapi putranya yang menjulang itu justru menatapnya aneh.
"Jangan melihat Ibu dengan aneh begitu. Ibu tahu kau tidak pintar, tapi masa kau tidak mengerti maksud Ibu." Rangkaian tawa Nara kian terdengar nyaring, sedangkan Chanyeol berubah merengut. Ia mengerti, kok maksud ibunya. Yang tidak ia mengerti itu adalah selera humor ibunya. Ditambah lagi, ibunya dengan santai mengatakan dirinya tidak pintar. Ck, haruskah ia memastikan, anak siapa dirinya itu?
Akan tetapi, Chanyeol tidak dapat bohong bahwa hatinya terasa hangat mendengar bagaimana tawa ibunya memenuhi kamar flat sederhana mereka. Sudah berapa hari ia tidak mendengarnya? Sudah berapa hari ia melewatkan candaan ibunya yang kadang justru meledek dirinya?
"Ternyata lembur kerja hingga harus ke luar kota tidak membuat selera humor Ibu berubah."
"Ya, tentu tidak. Kan, tidak ada hubungannya." Kalau saja Chanyeol belum terlanjur mengangkat tas besar yang akan dibawa ibunya ke Daegu, tangannya pasti sudah refleks menepuk dahinya.
Menit berikutnya, Chanyeol termenung di depan kamar flat selagi menanti ibunya. Tak banyak yang ia pikirkan, hanya seputar gundah karena ibunya sebentar lagi akan kembali pergi. Namun, bayangan yang ditangkap sudut matanya ternyata melonjakkan satu keresahan yang sempat terlupakan. Kamar flat keluarga Song, mengingatkan ia pada Song Sehun. Tak putus sampai di situ, nama Kai muncul. Mendadak, semuanya jadi berdesak-desakan dalam kepala Chanyeol.
"Sebentar lagi Ibu akan merindukanmu." Ada nada mengeluh yang terdengar dari kalimat Nara. Namun, itulah yang mampu membangunkan Chanyeol dari kubangan masalahnya.
"Jangan membuat aku ingin bermanja-manja pada Ibu disaat Ibu ingin pergi." Segenap orkestra seolah tengah memainkan nada-nada melankokis untuknya. Membuat Chanyeol mendengus sedetik setelah kalimatnya usai.
"Kalau begitu, bermanja-manjalah pada sahabat seperjuanganmu,"
Huh! Chanyeol mendengus dua kali lebih keras daripada sebelumnya, tapi itu jauh di dalam benaknya.
"Jangan bawa-bawa Kai, Bu."
"Eh?" Ujung alis Nara langsung menyatu. Manik matanya yang ia turunkan pada Chanyeol mulai menyelidik. Radarnya berkedip-kedip cepat, menandakan ada sesuatu yang salah.
"Aku butuh suasana melankolis karena Ibu akan meninggalkanku lagi. Jadi, jangan cemari suasana dengan membawa-bawa Kai yang selalu heboh." Chanyeol buru-buru berbohong. Dan tentunya, ia menyesal harus keceplosan menyebut nama Kai tadi.
Chanyeol sudah mengikhlaskan dahinya saat melihat jari ibunya dalam posis siap menyentil. Tapi syukurnya, derit pintu yang disusul derap itu menjadi penolong. Seragam, ia dan ibunya pun menoleh ke arah kiri. Arah yang sama jika ingin melihat kamar flat keluarga Song.
"Paman Song!"
.
.
.
Kalau Sehun baru saja ditabrak mobil, Kai justru merasa dirinya ditabrak Titanic. Tak pernah pemuda itu bayangkan bahwa salah satu tanda eksistensinya di dunia adalah menjadi saksi sebuah kecelakaan. Parahnya, kecelakaan itu menimpa seseorang yang sedang berusaha ia benci. Anehnya, ia segera melesat secepat Flash untuk membantu. Dan sialnya, ia baru ingat akan rumor-rumor itu. Rumor yang menyebar di sekolahnya tentang Sehun—sesuatu yang menjadi alasan ia jadi tidak menyukai bocah itu.
Jadi sekarang, wajar kalau Kai hanya mematung di kursinya. Ia shock, itu yang pertama. Ia cemas, itu yang kedua. Ia bingung, itu yang terakhir. Namun, yang ia cemaskan saat ini bukan tentang Sehun yang langsung kolaps setelah dicium sedan hitam. Kai mencemaskan dirinya sendiri, keselamatan jiwanya. Terlebih, ia tidak bisa menghilangkan suara teman-teman sekelas Sehun yang kemarin berhasil ia curi dengar. Bagus sekali! Perasaannya jadi kian kalut.
Dengan lemas, Kai hanya dapat melirik jaketnya yang ia telantarkan di kursi. Atau lebih tepatnya, melirik sedikit noda merah kehitaman yang menempel di bagian ujung jaket serta zipper. Perlahan, embus napas beratnya mulai terdengar dan kemudian hawa negatif pun mengikuti.
"Permisi."
Satu sapaan akhirnya membuat Kai kembali pada suasana rumah sakit. Dua perawat cantik yang berjalan tergesa menuju lift adalah pemandangan pertama yang ia lihat sebelum akhirnya mendapati ada sorot mata yang menunggu ia balas. Ketika sadar siapa orang yang telah duduk di sampingnya, Kai memanfaatkan waktu seminimal mungkin untuk mengusap wajah dan menegakkan punggung.
"Kau baik-baik saja, Nak?"
Refleks Kai memindai tubuhnya sendiri. Fisiknya baik, tapi tentu saja, menjadi saksi kecelakaan membuat dirinya agak linglung sehingga ia pun hanya mampu merespon lambat. "I-iya, aku tidak apa-apa." Kan, bukan aku yang kau tabrak. Tapi konyolnya, Kai masih dapat mengimbuhi dalam hati.
"Aku minta maaf telah menabrak temanmu." Seorang pria yang menjadi lawan bicara Kai menunjukkan senyumya. Wajahnya dipenuhi rona kelegaan. Seolah uratnya-uratnya baru saja terlepas dari cengkraman penyihir maut.
"Aku lega temanmu baik-baik saja. Dokter bilang dia juga bisa pulang setelah sadar nanti. Semua biaya administrasi sudah aku lunasi. Ini buktinya." Sejujurnya, Kai merasa tak perlu untuk melihat bukti pembayaran yang terangsur di depan dadanya. Toh, sejak tadi ia duduk di kursi tunggu loket juga untuk menemani penabarak Sehun membayar tagihan rumah sakit.
Kai hendak buka mulut mengucapkan terima kasih, tetapi pria dengan tampilan eksekutif itu sudah mendahulianya. "Ini obat temanmu. Aku harap, ia akan segera pulih."
"Terima kasih, Paman."
"Kalau begitu, aku pamit duluan. Maaf tidak bisa menunggu hingga temanmu sadar. Aku harus segera ke bandara."
"Ah, iya. Sekali lagi, terima kasih, Paman."
"Tidak perlu terima kasih, aku yang bersalah."
Kai dan penabrak Sehun sama-sama berdiri. Dua-duanya menjunkkan tata krama yang baik. Pria itu mau bertanggung jawab. Bahkan, mengakui kelalaiannya yang berkendara terburu-buru. Serta Kai, juga berusaha tersenyum menyambut maaf pria itu meskipun hatinya sedang dilanda ombak tinggi.
Setelah menunggu hingga pria yang baru ia kenal berkat insiden kecelakaan itu pergi, Kai baru mau mengangkat tungkainya. Ia akan pergi ke ruang gawat darurat, tetapi tidak yakin apa akan menunggui Sehun yang tengah terbaring di sana atau tidak.
"Kai-ssi."
Lagi-lagi, suatu sapaanlah yang membuat Kai bangkit pada keadaan sebenarnya. Bahkan, ia baru menyadari langkah lemasnya sudah berhasil membawanya ke depan ruangan yang ingin ia tuju.
"Dokter yang ingin merawat teman Anda ingin bertemu."
Deg.
Dapat Kai rasakan jantungnya sempat diam sejenak. Namun anehnya, jantungnya langsung berdebar tak keruan setelahnya. Pikiran-pikiran buruk mulai melayang-layang di kepala. Kemungkinan-kemungkinan negatif entah sejak kapan menempeli otaknya. Kelopak mata Kai sampai tak berkedip beberapa saat hingga akhirnya perawat wanita yang tadi menyampaikan pesan dokter itu memandu Kai untuk bertemu dokter.
.
.
.
Chanyeol berdiri di antara ibunya dan Tuan Song. Bocah sekolah menengah atas itu baru saja memperkenalkan ibunya dengan pria yang berstatus ayah dari Song Sehun. Tapi setelah itu, ia bingung harus mengatakan apalagi. Sebab, setelah ibunya mengatakan, "Senang bertemu dengan Anda" ke arah Tuan Song, pria itu hanya membalasnya dengan kalimat yang sama dan senyum yang kaku.
Chanyeol yang hari itu memakai sweater abu-abu sempat bertemu pandang dengan ibunya. Pasangan ibu-anak itu sama-sama merasa ada yang ganjil dari pria di depan mereka. Meski Tuan Song melakukannya dengan sesamar mungkin—itu menurut Chanyeol—, tetapi ia tetap dapat menangkap sorot mata Tuan Song yang berusaha menyisir setiap sudut.
"Ayah Sehun, Anda baik-baik saja?"
"Paman kehilangan sesuatu?" Refleks Chanyeol membuntuti pertanyaan ibunya.
"Ah, tidak, tidak. Aku tidak kehilangan apa pun." Tangan kekar Tuan Song berkibas di udara. Pria berperawakan tinggi itu sekali lagi mengembangkan senyum yang—lagi-lagi menurut Chanyeol—sangat dipaksakan.
Tak ada keheningan yang sempat terjadi. Chanyeol akan bertanya tentang Sehun, sedangkan ibunya entah ingin bicara apa namun mulutnya juga sudah mulai terbuka. Tapi, Tuan Song-lah juaranya karena suara berat pria itu lebih dulu mengudara.
"Sebenarnya aku ada janji dengan seseorang, tapi aku terlambat cukup lama. Jadi, aku sedikit panik."
Bersamaan, mimik Chanyeol dan ibunya berubah lapang.
"Ah, jadi Ayah Sehun sedang buru-buru. Maaf, aku dan Chanyeol tidak tahu."
"Maaf aku mengganggu waktumu, Paman."
"Tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf. Lagi pula, aku senang bertemu Ibu Chanyeol."
Mendengar empat kata terakhir Tuan Song membuat Chanyeol agak sensitif. Apa itu tadi? "Senang bertemu Ibu Chanyeol"? Itu maksudnya apa? Hanya basa-basi, kan? Bukan sesuatu yang melibatkan hati?
Tahu-tahu, Chanyeol sudah merengut. Tapi sepertinya, baik ibunya maupun Tuan Song tak melihat perubahan air mukanya. Itu karena suara Tuan Song yang kembali menyatu dengan udara sore.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang. Maaf tidak bisa mengobrol lebih lama. Tapi, aku harap kita bisa mengobrol banyak lain waktu." Tuan Song sedikit menundukkan kepalanya. Setelah sekali lagi melihat sekilas wajah-wajah tetangganya, ia langsung ambil langkah menuju tangga. Pria itu memang seratus persen sedang buru-buru. Bahkan, langkah cepatnya yang bergesekan dengan lantai flat sampai meninggalkan dentum.
"Ibu pikir, dibanding telat janjian, dia lebih terlihat ingin mencari anaknya yang hilang."
"Memangnya aku pernah hilang? Memangnya Ibu pernah merasakan mencari aku yang hilang? Kenapa Ibu bisa bilang begitu?"
"Kau tahu Ibumu ini menonton Wanted."
Ya ampun, Bu! Chanyeol teriak dalam hati. Kenapa ibunya dapat dengan enteng menjawab seperti itu?
"Jangan berlebihan, Bu. Lagi pula, Sehun itu besarnya sebelas-dua belas denganku. Sifatnya juga dingin. Selain kamar flatnya, semua tempat menolak menyembunyikan dia," oceh Chanyeol sambil mengangkat tas besar berisi pakaian milik ibunya. Ia mendahului untuk berjalan setelah menyadari langit sore sebentar lagi akan kehilangan semburat cantiknya. Takut ibunya akan terlambat seperti Tuan Song.
Selisih satu langkah, Nara baru mengikuti jejak putranya. Akan tetapi, di otaknya mulai berfantasi tentang sosok Sehun yang selalu disebut-sebut dingin oleh Chanyeol. "Memangnya sedingin apa Sehun itu?"
Chanyeol lebih dulu berdecak. Sebenarnya agak malas untuk menjelaskan. Yah, tapi dia sendiri kan yang membuat ibunya jadi bertanya. "Ibu tau film Narnia, kan? Nah, Sehun itu adalah Jadis versi laki-laki."
"Oh! Dan kau Tumnus-nya."
Dalam waktu sepersekian detik wajah Chanyeol berubah jelek. Ibunya memang baik sekali. "Wah, terima kasih, Bu. Tapi omong-omong, aku masih anakmu."
Sontak langkah Nara diiringi oleh tawanya sendiri. Entah kenapa ia sangat suka meledek putranya sendiri. Baginya, Chanyeol sangat imut saat sedang kesal dan cemberut. Ia suka itu, mengingatkan ia pada masa ketika anaknya itu masih kecil.
"Coba menunduk sedikit."
Eh? Chanyeol menahan langkahnya tepat sebelum menginjak undakan tangga. Ia bingung kenapa tiba-tiba ibunya menyuruh dirinya menunduk.
"Ada apa, Bu?"
"Ibu ingin mencium rambut Tumnus."
Akh!
Sekarang, pedang Wang So serasa menghujam jantungnya. Tapi biarpun begitu, Chanyeol tetap menurut. Ini waktu berharga menjelang saat yang dibenci. Setelah ini-atau lebih tepatnya setelah ia mengantar ibunya ke halte-hanya akan ada hubungan via telepon. Jadi, ia harus menikmati detik seperti ini.
.
.
.
Kapal kecil, karang es, dan ombak besar.
Kapal kecil awalnya berlayar dengan baik-baik saja.
Tapi ternyata, ada karang es di depan sana.
Karena karang es itu, kapal kecil jadi tidak bisa berlayar seperti sebelumnya.
Lalu sialnya, ombak besar tahu-tahu menerjang.
Kapal kecil jadi terombang-ambing.
Kapal kecil nyaris hilang arah.
Namun, ia selalu ingat ada daratan.
Daratan yang selalu ia rindukan.
Dan, selalu menjadi tempat untuk dia kembali.
Kapal kecil itu adalah dirinya.
Karang es itu adalah Sehun
Ombak besar itu adalah semua yang ia alami hari ini, termasuk apa yang dikatakan dokter.
Dan tentu saja, daratan adalah sahabatnya.
Begitulah cerita singkat yang berhasil Kai rangkai selagi di bus tadi. Dan seperti itulah pengibaratan yang ia buat.
Sesungguhnya, laki-laki itu sedang kesulitan menggambarkan keadaannya, perasaannya. Sekuat tenaga ia berusaha menolak kenyataan, menyakini yang saat ini sedang ia jalani bukanlah hidupnya. Tapi syukurnya, sejalan kemudian otaknya yang tak seberapa pintar itu menyadari seperti apa kedudukannya. Ia hanya kapal kecil. Siswa tingkat akhir sekolah menengah atas. Tidak populer. Tiga kali ditolak gadis yang ia suka. Terakhir, peringkatnya nyaris terlempar dari urutan bottom five. Jadi, punya kekuatan apa dirinya untuk menolak kenyataan?
Sejenak, Kai melihat bola lampu yang berpijar tepat di atas kepalanya. Ia mencoba untuk lebih tenang. Akan tetapi, hawa dingin menggodanya untuk gelisah. Kai kembali berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas dalam, menahannya sesaat, lalu mengembuskannya sepelan mungkin sampai-sampai matanya dapat melihat jelas kepulan uap yang keluar dari mulutnya.
"Kai?"
Dan, benar saja! Tak perlu menunggu sedetik kemudian, suara familiar yang ia rindukan sejak kemarin itu terdengar. Bahkan, memanggil namanya dengan pelan namun jelas.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Senenggggg banget akhirnya the real chapter 6 ini selesai. Sejauh ini, chapter 6 yang paling banyak kendala buat selesai. Jadi, aku berharap banget hasilnya bisa dinikmati dengan baik.
Double super big thanks untuk semuanya. Yang kasih review, favorite, follow, yang hanya baca sekilas cerita ini, atau yang cuma klik aja judulnya x)
terima kasih yaaa (^/\^)
And as always, kolom review terbuka lebar untuk kritik, saran, dan apa pun yang mau kamu bilang tentang Something Curiouschapter6 ini ^^
