Free
.
.
.
.
[Sakura Haruno, Haruka Nanase] Rin Matsuoka
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Masashi Kishimoto, Kóji Óji
.
.
.
(JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DI BUAT AUTHOR ATAU ADEGAN DI DALAMNYA, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK!) DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! DLDR!
Selamat membaca!
oOo
"Haru, apa hubunganmu dan Rin baik-baik saja?"
Satu pertanyaan yang bahkan tidak akan Haru kira akan keluar dari mulut mungil Sakura. Buru-buru dia mengambil air mineral yang ada di meja dan meneguknya dalam sekali tegukan. Pertanyaan yang dilontarkan Sakura membuatnya tidak bisa mengatakan apapun. Dia tidak menyangka Sakura akan menanyakan hal itu.
"Haru?"
Haru terdiam. Tidak berniat menjawab pertanyaan Sakura. Dia tahu, jika Sakura sudah memanggil namanya tanpa suffix apapun, tandanya gadis itu sedang serius sekarang.
Apa dia harus mengatakannya pada Sakura?
.
.
.
Rin keluar dari kamar mandi dan mengusap rambutnya yang basah. Bayangan wajah Haru yang memandangi mereka dengan pandangan terkejut masih terlintas di benaknya.
Ai sepertinya sudah tertidur. Karena pemuda itu terlihat memeluk gulingnya. Sedangkan Rin duduk di kasurnya dan mengambil ponselnya. Satu senyuman tipis terbentuk di wajah tampan itu tatkala matanya memandang foto gadis yang selama ini muncul dalam mimpi-mimpi indahnya.
Foto Sakura yang tersenyum manis. Foto yang dikirimkan gadis itu ketika masih berada di New York. Sekarang, gadis itu ada di Tokyo. Membuat dadanya berdegub dengan kencang.
Tangannya menyentuh tombol di ponselnya dan satu pesan terkirim untuk gadisnya. Untuk cinta pertamanya.
Sakura, terima kasih untuk makanannya. Sangat lezat sekali. Kamu sudah tumbuh menjadi calon istri idaman di masa depan.
Rin merebahkan dirinya dan menerawang jauh.
Calon istri idaman... ya.
.
.
.
.
"Aku pernah membuat Rin kecewa."
Sakura memandang Haru dengan seksama. Mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Haru.
"Membuat Rin kecewa?"
Haru terdiam, menandakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Sakura menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia akan bertanya pada Makoto besok.
"Terima kasih atas makanannya, aku sudah selesai." Haru meletakan sumpitnya dan bangkit dari duduknya.
"Sama-sama, Haru-kyun." Sakura tersenyum ceria dan mengantarkan Haru hingga depan rumahnya.
Haru menganggukan kepalanya dan berjalan menuju rumahnya sendiri. Sakura merasakan ponselnya bergetar dan merogoh saku roknya. Matanya berbinar ketika membaca pesan yang dikirimkan sahabatnya. Jari jemari lentik itu membalas pesan yang masuk.
.
Rin yang sedang memejamkan matanya merasakan ponselnya bergetar. Dengan mata yang setengah terpejam, Rin membuka pesan yang masuk. Dan seketika, rasa kantuknya hilang.
Dia mendudukan dirinya dan ingin rasanya dia berteriak dengan kencang. Melampiaskan rasa bahagianya.
Rin! Sejak kapan kamu bisa menggombal seperti ini? Kalau begitu, jadilah calon suami idaman juga :p
Jatuh cinta memang berjuta rasanya.
.
.
.
.
.
.
.
"Makoto senpai."
Makoto yang sedang berdiri di pinggir kolam renang menolehkan kepalanya. Gou sedang memandanginya dan dari raut wajahnya seperti ada yang sedang ingin ditanyakan.
"Ada apa, Kou-chan?" tanyanya.
"Ano.. itu.."
"Ada apa ini, Gou-chan?" Nagisa yang baru muncul dari ruang ganti bersama Rei langsung penasaran. Tidak biasanya Gou dan Makoto terlibat percakapan pribadi seperti ini.
"Ada apa ini?" Rei menaikan kacamatanya.
"Ini urusanku dan Makoto senpai!" ucap Gou. Mencoba mengusir kedua orang yang sedang ingin tahu itu.
"Tapi aku ingin tahu juga." Nagisa merengek.
"Sudah, sudah, ada apa Kou?" tanya Makoto lagi.
"Ano.." Gou mengusap tangannya. "Apakah Makoto senpai tahu, jika Sakura senpai merupakan cinta pertama antara Haru senpai dan kakakku?"
Nagisa dan Rei membuka mulutnya tidak percaya. Nagisa lalu memandang Makoto dan meminta penjelasan dari sahabatnya itu.
"Benarkah itu, Mako-chan?" tanya Nagisa.
"Yah, seperti itulah." Makoto tersenyum. "Aku mengetahuinya karena Haru dan Rin kadang bertengkar soal Sakura. Tetapi, Sakura hanya mencintai Haru seorang."
.
Haru yang baru selesai berenang naik ke permukaan. Sakura sudah menyambutnya dengan senyumannya.
"Kerja bagus, Haru-kyun." Sakura menyerahkan handuk yang diterima Haru dan langsung diletakan di kepala pemuda itu.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Haru ketika melihat keempat temannya sedang berkerumun. Seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
"Entahlah." Sakura mengangkat bahunya. "Mereka sudah dari tadi seperti itu."
Haru mengangkat satu alisnya dan berjalan mendekati kerumunan itu.
.
"Apa jangan-jangan, Makoto senpai juga?"
Pertanyaan yang dilontarkan Rei langsung membuat pipi Makoto merona merah. Mereka bertiga memandang Makoto yang sedang menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal.
"Sebenarnya.. iya."
"Apa?! Mako-chan! Aku tidak menyangka!" Nagisa memandang Makoto dengan pandangan tidak percaya.
"Aku sudah lama menyukai Sakura, tapi karena Rin dan Haru juga menyukai Sakura, aku mundur secara perlahan." Makoto tersenyum. "Sakura membawa kebahagiaan bukan hanya pada Haru dan Rin, mungkin padaku juga."
"Ada apa ini?"
Suara milik Haru mengagetkan mereka berempat. Gou mencoba tersenyum manis, tetapi bagi Haru itu adalah senyum aneh.
"Anoo.. kita mau ke kuil sehabis ini, benar kan, Nagisa?" Gou menginjak kaki Nagisa membuat pemuda berambut pirang itu mengaduh sebelum tersenyum.
"Iya, aku ingin meminta kepada Kami-sama untuk lomba kita besok. Benar kan, Rei-chan?" Nagisa menginjak kaki Rei. Membuat pemuda dengan kacamata itu tetap terlihat cool meski kakinya sakit bukan main.
"I-iya. Begitulah. Iya kan, Makoto senpai?" Rei menginjak kaki Makoto namun gagal karena Makoto sudah menghindar demi menyelamatkan kakinya.
"Benar, Haru. Apakah kamu mau ikut?" tanya Makoto dengan senyumannya.
Haru memandang mereka semua. Dia masih curiga jika ada sesuatu yang disembunyikan mereka semua. Tetapi biar saja, apapun itu asal tidak menghambat lomba mereka besok.
"Sakura, bagaimana denganmu?"
Sakura yang ditanya begitu oleh Haru menjadi gelagapan. Dia tersenyum ceria dan menganggukan kepalanya.
"Um.. tentu saja!"
Gou sekarang mengerti, mengapa Sakura menjadi kebahagiaan bagi kakaknya dan juga senpainya.
.
.
.
Rin berdiri di balik pohon yang berada di depan sekolah menengah atas Iwatobi. Dengan topi hitam di kepalanya, dia bisa melihat Sakura keluar dari sekolah bersama Haru dan yang lainnya. Tangannya mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu.
Sakura menghentikan langkahnya ketika merasakan ponselnya bergetar. Mengambil ponselnya, Sakura memandang teman-temannya yang memandanginya dengan pandangan keheranan.
"Ano.. aku harus mengambil sesuatu di kelas, kalian duluan saja. Nanti aku akan menyusul ke kuil." Sakura tersenyum.
"Mau aku tunggu?" tanya Makoto.
"Tidak usah. Aku akan menyusul," ucap Sakura.
"Baiklah." Haru berjalan diikuti yang lainnya.
Sakura menarik napas panjang dan senyumannya langsung timbul ketika melihat Rin muncul.
"Rin!" Sakura menghampiri sahabatnya. "Ada apa? Tumben sekali kamu ada disini."
"Apa kamu akan datang ke turnamen besok?" tanya Rin.
"Um.." Sakura menganggukan kepalanya. "Aku mendengar dari Gou jika kamu akan bertanding di gaya bebas."
"Yah.. seperti itulah." Rin menerawang jauh.
"Tenang saja, aku akan mendukung kalian!" Sakura menggenggam tangan Rin dengan erat. "Berjuanglah, Rin!"
Rin tidak bisa menahan senyumnya. Dia merasakan sesuatu yang hangat di dalam dadanya.
"Ya."
.
.
.
Makoto duduk di salah satu tangga di kuil bersama dengan Nagisa dan Rei. Mereka sedang berbincang sedangkan Haru dan Gou entah pergi kemana. Langit sore mulai tenggelam di peraduannya.
"Kalian semua!" Sakura berlari menuju ketiganya. "Maaf aku terlambat."
"Tidak apa, Sakura." Makoto tersenyum.
"Kalian sudah berdoa? Huaahh.. aku akan berdoa dulu," ucap Sakura.
"Hah? Apa ini, Haruka senpai?"
"Ada apa ini?"
Mereka semua berlari menuju Haru yang sedang membaca kertas keberuntungan. Disana tertulis setengah beruntung.
"Setengah beruntung? Aku belum pernah mendengar ini sebelumnya," ucap Makoto.
"Apa itu artinya, keberuntunganmu hanya setengah?" tanya Rei.
"Lalu, setengahnya lagi apa?" Gou kali ini menimpali.
"Bagus!" Nagisa menjawab.
Sakura memandang Haru yang memandangi kertas itu dengan seksama. Dia merasakan firasat buruk akan terjadi.
.
.
.
"Baiklah! Besok kalian sudah mulai bertanding, kalian harus segera beristirahat." Sakura tersenyum memandang Makoto dan Haru.
"Aa. Sampai jumpa besok Haru, Sakura." Makoto tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya.
Haru dan Sakura meneruskan langkahnya menuju rumah masing-masing. Haru melirik Sakura yang sedikit pendiam dari pada biasanya, sepertinya ada yang mengganggunya. Tetapi dia tidak mau ambil pusing.
"Sakura, aku duluan," ucap Haru.
"Ah, ya! Sampai jumpa besok, Haru-kun!"
Sakura memandang Haru yang masuk ke dalam rumahnya sebelum menarik napas panjang. Dia mengambil ponselnya dan mengirimi pesan untuk Makoto.
Aku ingin bicara denganmu, Makoto-kun.
.
.
.
Makoto berlari dengan tergesa-gesa menuju pantai ketika mendapatkan pesan dari Sakura. Dia bahkan lupa untuk berganti pakaiannya dan langsung berlari menuju pantai.
Disana, Sakura duduk di salah satu anak tangga dan memandang laut yang jernih. Matahari bahkan sudah bersembunyi dan digantikan oleh Bulan yang bersinar dengan indah.
"Sakura, ada apa?" tanya Makoto mendudukan diri di sebelah Sakura.
"Makoto-kun, ada yang ingin aku tanyakan," ucap Sakura. "Aku merasa jika sikap Haru-kyun dan Rin menjadi aneh. Mereka seperti bermusuhan. Apa kamu tahu sesuatu?"
Makoto terdiam. Mencoba mengatur napas dan detak jantungnya yang tak beraturan. Napasnya terengah-engah karena lelah dan detak jantungnya tidak karuan karena pertanyaan yang dilontarkan Sakura. Apakah dia harus jujur?
"Aku mendengar ini dari pelatih Sasabe." Makoto menerawang jauh. "Rin pulang ke Jepang saat mereka kelas satu SMP. Mereka tidak sengaja bertemu dan saat itu Haru sudah merasa ada yang aneh dengan Rin. Mereka lalu bertanding dan Haru menang. Itu membuat Rin terpukul dan Haru menjadi merasa bersalah. Sejak saat itu, Haru berhenti berenang."
"Benarkah itu?" tanya Sakura. "Kenapa Rin maupun Haru-kyun tidak mengatakannya padaku? Aku dan Rin selalu bertukar email dan saling bercerita. Dia mengatakan hubungannya dengan kalian baik-baik saja."
"Mereka bertanding baru-baru saja." Sakura menolehkan kepalanya ketika Makoto bicara. "Rin yang menang."
"Lalu?"
"Haru kelihatan sangat lega. Dan aku baru mengetahui kisah yang sebenarnya."
Sakura tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana ini bisa terjadi? Sahabatnya dan orang yang dia cintai bertengkar? Ini tidak mungkin.
"Rin yang sekarang berubah." Makoto tersenyum. "Meski begitu, aku masih mengganggapnya temanku."
Sakura menerawang jauh. Dia menarik napas panjang dan menekuk lututnya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
.
.
.
.
.
.
.
0 Hari menuju pertandingan.
Haru berdiri menatap langit di depannya. Sebentar lagi pertandingan yang sesungguhnya akan menantinya dan dia sudah tidak sabar.
"Maaf membuatmu menunggu, Haru." Makoto keluar dari rumahnya. "Inilah hari yang di tunggu-tunggu."
"Ya."
"Dimana Sakura?" tanya Makoto. "Apa dia belum bangun?"
"Maaf membuat kalian menunggu!" Sakura keluar dari rumahnya. Rambutnya diikat keatas membuatnya terlihat lebih segar. "Ayo kita berangkat!"
.
Angin berhembus dengan kencang membuat tanaman yang ada disekitarnya bergerak bagaikan menari bersama. Sebuah nisan bertuliskan keluarga Matsuoka terbentang. Rin berdiri di depan nisan tersebut dan membiarkan angin mengibarkan rambutnya.
"Ayah, lihat aku."
Tangannya terjulur menyentuh makam milik ayahnya. Hari ini adalah harinya.
"Aku pasti menang."
.
"Pagi hari ini, dimulai denganpertandingan renang gaya bebas." Gou memberikan pengarahan untuk timnya. "Haruka senpai ada di baris kelima."
"Hiee! Rin-chan dan Haru-chan bersebelahan!" ucap Nagisa.
"Ini disusun berdasarkan waktu kualifikasikan?" tanya Makoto disertai anggukan dari Gou.
"Berarti mereka seimbang." Nagisa menimpali.
Sakura sudah tidak mendengarkan apa yang dibicarakan. Dia memandang Haru yang menerawang jauh dan mengusap tangannya. Rin dan Haru berada di sisi yang bersebelahan membuatnya sulit untuk memilih. Mendukung Haru ataukah Rin? Mereka sama-sama berharga baginya.
Rin adalah sahabatnya dan Haru adalah orang yang dicintainya. Siapa yang harus di dukungnya?
"Baiklah. Selamat berjuang di pertandingan masing-masing."
"Yosh!"
.
.
.
.
Haru berjalan menuju ruang ganti. Pikirannya berkecamuk. Haruskah dia melawan sahabatnya sendiri? Apa yang harus dia lakukan?
Langkahnya terhenti ketika melihat Rin duduk di salah satu kursi. Pemuda berambut merah itu bangkit untuk menyapa sahabatnya.
"Aku disini, sesuai janji," ucap Haru.
"Tentu saja." Rin membalas ucapan Haru. "Aku sengaja memperlambat waktu kualifikasiku agar bisa bersebelahan denganmu."
"Tidak perlu melakukan itu." jeda sejenak. "Kita akan bertemu di final."
"Aku tidak mau menunggu selama itu." Rin tersenyum mengejek. "Lagi pula tidak ada jaminan." Memakai kacamata renangnya. "Kau bisa masuk final."
Raut wajah Haru berubah.
"Masalah ini." Rin berjalan menuju Haru. "Hanya kau dan aku."
Rin tepat berada di sebelah Haru.
"Aku sudah tidak sabar menantikannya."
.
Haru mengambil kacamata renang dari dalam lokernya dan memandang dirinya di cermin. Raut wajahnya berubah menjadi serius sekarang.
"Hari ini, aku akan menjadi orang yang lebih 'bebas'"
Loker pun di tutup.
.
.
.
"Rin!"
Rin yang sedang melakukan pemanasan menolehkan kepalanya. Dia bisa melihat Sakura berlari kearahnya. Napas gadis itu terengah-engah.
"Sakura? Aku pikir kamu tidak datang," ucap Rin.
"Aku sudah mendengarnya. Tentang masalahmu dan Haru." Sakura tanpa basa-basi mengatakan semuanya. Rin memandang Sakura dengan pandangan bertanya.
"Aku tidak tahu siapa yang memberitahumu." Rin mendenguskan wajahnya. "Masalah ini antara aku dan Haru."
"Tapi, Rin-"
"Jika kamu memintaku untuk mengalah." Rin memandang emerald itu dalam-dalam. "Aku tidak bisa. Hari ini aku yang menang."
.
.
.
.
"Rin-chan dan Haru-chan selanjutnya!" Nagisa menunjuk barisan yang akan bertanding selanjutnya.
"Sakura." Makoto memandang Sakura yang baru saja datang. "Mereka hampir mulai."
"Benarkah?" Sakura memandang Rin dan Haru yang sudah bersiap untuk bertanding. Dalam benaknya, dia tidak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi.
"Bersiap!"
Sakura meremas tangannya sendiri. Makoto bahkan tidak berkedip ketika melihatnya.
"Mulai!"
Mereka semua langsung terjun ke dalam air, teriakan semangat langsung menggema begitu saja. Haru bahkan tertinggal jauh di babak pertama, membuat Sakura semakin kencang meremas tangannya sendiri. Hatinya berkecamuk kacau. Dia memejamkan matanya.
Kami-sama, siapa yang harus aku dukung? Haru-kyun atau Rin?
"Haru mengejarnya!"
Sakura membuka matanya dan memandang Haru yang berusaha mengejar Rin. Matanya memandang lekat-lekat pemuda yang dia cintai. Mereka hampir sampai dan Rin menyentuh dinding pertama kali.
Sakura tidak berkedip melihatnya. Haru-kyun kalah? Makoto bahkan tidak menyangka Haru bisa kalah di babak penyisihan. Padahal, Haru adalah salah satu perenang tercepat.
"Yosh!"
Rin mencipratkan air di sekitarnya. Akhirnya! Akhirnya dia mengalahkan Haru! Akhirnya dia bisa membalaskan apa yang menjadi penyebab rasa sesak di dadanya selama ini.
"Aku menang." Rin memandang Haru dengan pandangan angkuhnya. "Itu artinya, aku tidak akan berenang lagi denganmu."
Haru memandang Rin. Mata biru itu menuntut sebuah penjelasan.
"Tidak akan pernah."
Haru merasa dunianya hancur seketika.
.
.
.
.
.
"Aku akan menemui Haru-kyun!" Sakura segera berlari meninggalkan teman-temannya.
"Sakura!" Makoto mencoba mencegah Sakura namun gadis itu sudah berlari menjauh.
Sakura menghiraukan keramaian yang ada disekitarnya. Dia harus menemui Haru. Pemuda itu pasti merasa terpukul dengan semua yang terjadi. Rin, kenapa pemuda itu tega sekali pada Haru.
"Rin!"
Sakura mengejar Rin yang berjalan di depannya. Pemuda bergigi hiu itu menolehkan kepalanya dan memandang Sakura.
"Sudah aku katakan, aku menang." Rin memandang Sakura dan tersenyum sombong.
"Kenapa! Kenapa kamu lakukan itu pada Haru-kyun? Apa yang membuatmu menjadi seperti ini, Rin?!"
Rin terdiam. Kata-kata Sakura seperti menohoknya. Sepersekian detik, dia hanya bisa memandangi gadis itu. Wajah putih yang biasanya ceria itu mendadak memerah.
"Rin?!"
"Sudah aku katakan! Ini urusanku dengan Haru!" Rin bahkan tidak menyadari, jika nada suaranya meninggi.
"Rin." Sakura bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Apa yang dikatakan Makoto benar. Rin berubah.
"Padahal aku mengira, jika kita akan bisa menjadi sahabat terus. Bersamamu, Haru, Makoto-kun dan juga Nagisa." Sakura membalikan badannya. "Sepertinya aku salah. Kau berubah, Rin."
Mata yang tajam itu memandang Sakura yang berjalan menjauhinya.
Kenapa.. kenapa dadanya terasa sakit sekali?
Apakah kamu akan membenciku setelah ini, Sakura? Kenapa.. kenapa kamu tidak bisa melihatku?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haru duduk di salah satu kursi dengan rambut yang masih basah. Matanya menerawang jauh, pikirannya kosong.
Pada akhirnya, kalau Rin menang. Apakah perasaanku akan berbeda dari yang sekarang? Rin berenang karena ingin bertanding di olimpiade. Lalu aku? Kenapa aku berenang?
"Haru-kyun!"
Belum sempat Haru menolehkan kepalanya, sebuah pelukan mendarat di tubuhnya. Aroma cherry blossoms menguar dari tubuh orang yang memeluknya.
"Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Oh hallo.. adakah yang menunggu fict ini? wahahaha.. aku mencoba untuk bikin sesuai sama cerita aslinya tapi dengan nambahin Sakura.. aneh ya rasanya? Bikinnya susah, karena harus bolak-balik buka filmnya dan bikin scene yang pas buat masukin Sakura :3
Wahahaa.. tapi akhirnya bisa selesai :3
Nanti, konfliknya bakal di tambahin kok.. tapi gak janji *nyengir* bocorannya, Rin itu ada dendam pribadi juga sama Haru, selain masalah renang itu XD
Balasan review :
Yukumpme : Heaven?
Ichachan21 : teehe.. Tsuyosakunya masih dalam proses kak.. XD pengen up tapi belom selesai XD ditunggu aja yaaa..
Daisaki20 : iyaaa.. makasih :3 tapi jangan panggil aku Author-san.. panggil saja Aomine-chan atau Saku XD
Sch-arra : teehe :3
Kuuhaku : sudah dilanjut..
Haruka Ryokusuke : katanya Makoto salam balik. Mau nitip lagi gak? Nih orangnya ada di sebelahku XD *ditabok* oh iya.. Haru juga titip salam tuh, besok mau kencan sama aku *lu siapa* *dilempar* hidupnya Saku emang mulya.. secara gue gitu XD *apaan sih* udah ah.. nanti jadi panjang dan nyambung kemana-mana bahaya XD
Bang Kise Ganteng : Whoaah.. aku ditunggu nih.. iya dek.. kakak akan setia buat kamu.. jadi kamu gak perlu nunggu kakak XD aku ada niatan bikin Xover Sakura sama pemain Prince of stride, tapi masih ide.. belom tau mau di bikin kapan XD tebak.. siapakah dia? XD
Saskey Saki : antri ya.. hehe.. ada banyak ide di kepalaku, aku gatau mau lanjut yang mana.. jadi kita awali dari bawah yaa.. :3
Lala Yoichi : aku suka semuanya TTvTT gak Haru, gak Rin, gak Makoto TTvTT tapi yang keluar idenya begitu.. gimana dong? u.u
Asahanina Haru : sudaaahh..
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
