Chapter 1 :

Main Cast : Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun (girl)

Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort

Rated : T (dapat berubah sewaktu-waktu)

A Town Where You Live

.

.

.

Ini dia chapter pertama dari ff ini. Maaf ya, karena prolognya agak gak jelas. Maklum itu baru pertama kalinya membuat prolog. Saya harap kalian bakal puas dan suka sama chapter 1 ini. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.

.

.

Happy Reading ~

.

.

.

(Chanyeol POV)

Dia tiba-tiba datang ke hidupku dengan senyum polosnya. Aku tak pernah berbicara bahkan bertemu dengannya. Dia tiba-tiba mengatakan akan tinggal bersama keluargaku. Tapi dia berhasil masuk ke hidupku. Mengusik hidupku yang tenang dengan tawanya. Membuat emosiku naik turun dengan kebodohannya. Namun disaat kita baru memulai semuanya, dia pergi dan menghilang begitu saja.

(Normal POV)

Suasana kota Seoul sangat sibuk. Langit yang cukup cerah menambah suasan ceria siang itu. Terlihat seorang remaja dengan tinggi sekitar 185cm agak kesusahan membawa barangnya yang cukup banyak. Sebuah tas ransel besar dan kardus berukuran sedang ditangannya. Peluh membasahi wajahnya. Rambut dark brownnya menjadi basah oleh keringatnya namun membuatnya tampak lebih tampan. Mata bulatnya menyipit seolah sedang fokus mencari sesuatu disekelilingnya. Dia sedang berada didepan salah satu bangunan apartemen sederhana di Seoul. Dia terus menengok kiri kanan, mencoba menemukan orang yang sedari tadi dia tunggu. Hingga satu suara familiar memanggilnya.

"Chanyeol-ah!"

Mata bulatnya menangkap sosok wanita cantik yang berwajah sangat mirip dengannya tengah melambai kearahnya dengan senyum kekanakannya. Banyak yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang lebih tua, karena kakaknya itu kadang bisa bertingkah layaknya anak kecil dengan senyum lebarnya. Tidak jarang Chanyeol akan mengalah ketika mereka bertengkar karena hal kecil. Namun tetap saja dia sangat menghormati kakak satu-satunya itu.

"Yoora noona!" sambutnya tak kalah ceria.

Betapa dia sangat merindukan kakaknya itu. Mereka sudah terpisah sejak Chanyeol masih duduk di kelas 1 SMP dan hanya bertemu ketika ada acara keluarga saja. Park Yoora memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Busan untuk kuliah dan bekerja di Seoul seorang diri. Sekarang dia sudah bekerja sebagai pegawai kantoran disalah satu perusahaan tekstil di Gangnam. Awalnya orangtuanya menentang, selain Yoora masih sangat muda dia juga seorang wanita. Kedua orangtuanya sangat khawatir, tapi melihat kegigihan Yoora untuk mendapatkan beasiswa di Universitas Seoul, akhirnya mereka pun membiarkan Yoora hidup mandiri di Seoul.

Dan disinilah Chanyeol bersama tekadnya. Dia memutuskan untuk pindah ke Seoul dan tinggal bersama kakaknya. Chanyeol masih duduk dikelas 2 SMA semester 2. Mustahil memang pindah di semester 4, tapi berkat bantuan teman kakaknya yang merupakan salah satu staf di sekolah yang akan dimasuki Chanyeol dan juga kepintaran Chanyeol yang tak bisa diragukan sehingga membuat semuanya lancar-lancar saja.

"Seoul sangat berisik dan ramai. Aku agak sulit menemukan apartement Noona. Aku harus bertanya pada setiap orang lewat agar tidak tersesat" sungut Chanyeol sambil berjalan beriringan dengan noonanya menuju kamar apartment kakaknya yang berada dilantai 2.

"Yah, memang seperti itulah suasana kota besar, Yeol. Kalau sepi itu bukan kota, tapi hutan. Lama kelamaan kau juga pasti akan terbiasa dan dengan cepat menghafal jalan sekitar sini dengan otak jeniusmu itu" sahut Yoora sambil menoyor kepala adiknya.

Chanyeol hanya diam dan meneruskan langkahnya.

"Apa kau akan langsung menemuinya?" Tanya Yoora pelan.

"Tidak." jawab Chanyeol datar namun sarat akan emosi terpendam didalamnya. Pintu lift terbuka dan dia terus berjalan hingga tiba didepan apartment. Dengan susah payah dia memasukkan password yang sudah diberitahu kakaknya dari jauh-jauh hari. Dia mendorong pintu apartment kakaknya lalu menatap heran kakaknya yang masih setia berdiri didalam lift dengan seringaian liciknya. (jarak apartment Yoora dari lift hanya 2 pintu). Chanyeol mulai merasakan firasat aneh.

"Baiklah! Karena sebelum itu ada hal yang harus kau lakukan dulu. Noona harus mengambil pakaian di binatu. Sampai jumpa adikku sayang!"

Chanyeol melirik ruang apartment kakaknya. BERANTAKAN. Sampah dimana-mana, kaleng bir berserakan, dan barang barang yang letaknya tidak pada tempatnya. Nafasnya tercekat. Chanyeol buru-buru menolehkan kepalanya ke lift yang hampir tertutup. Disana ada kakaknya yang sedang melambai kearahnya dengan senyum cantiknya.

"Yak! Park Yoora!"

TING. Pintu lift tertutup dengan sempurna.

Chanyeol menghela nafasnya dan mulai memasuki apartment kakaknya. Tak ada gunanya mengeluh, kakaknya pasti sangat sibuk dan kelelahan hidup seorang diri. Setelah meletakkan barangnya dilantai, dia mulai membersihkan semuanya. Stocking sobek di sofa, kaus kaki di atas TV, dan masih banyak hal mengerikan lainnya yang membuat Chanyeol harus menahan nafasnya. Sebagai anak lelaki, Chanyeol termasuk anak yang rajin dan bisa melakukan banyak pekerjaan rumah. Tinggal tanpa kakak perempuan disampingnya membuatnya harus mengerjakan pekerjaan perempuan dirumahnya termasuk memasak dan bersih-bersih untuk membantu orangtuanya.

Semuanya pekerjaan sudah beres dan sekarang Chanyeol sedang menikmati pemandangan kota Seoul dari balkon apartement. Dia mulai memikirkan kembali bagaimana perjuangannya hingga bisa sampai disini. Dia membuat masalah disekolahnya agar bisa dikeluarkan. Dia juga mendapat tentangan besar dari orangtua dan teman-temannya. Namun, sekarang disinilah dia, di Seoul. Mulai sekarang dia akan tinggal disini, di kota yang sama dengan 'dia'.

Suasananya cukup tenang sampai suara pintu terbuka mengusiknya. Dia tersenyum dan berbalik.

"Noona? Kau sudah pulang? Aku sudah selesai membersihkan apartmentmu. Apa tidak ada hadiah untukku?" namun tidak ada sahutan, melainkan suara langkah kaki yang terkesan terburu-buru. Chanyeol mengernyitkan alisnya, apa noonanya tinggal bersama orang lain?

Alangkah terkejutnya Chanyeol ketika tiba-tiba ada orang asing berseragam sekolah yang memakai helm full face berlari kearahnya dengan memegang sebuah tongkat baseball. Orang itu terlihat hendak mengayunkan tongkat itu kearah Chanyeol.

"A-apa dia pencuri?" batin Chanyeol.

"Dasar perampok!" jerit orang asing tadi.

Beruntung Chanyeol memiliki reflek yang cukup bagus, dia segera membanting dirinya kearah kanan, sehingga tongkat itu tidak mengenai kepalanya. Tidak bisa dia bayangkan betapa sakitnya apabila tongkat itu mendarat dikepalanya. Mungkin dia akan pingsan seketika.

Dia terjatuh dengan tidak elitnya ke lantai. Namun sepertinya si 'pencuri' juga bertindak dengan sigap. Si 'pencuri' berhelm langsung melompat ke arah Chanyeol yang masih dalam posisi berbaring dan langsung mendudukan dirinya di perut Chanyeol. Dia bersiap menumbukkan ujung tongkat itu ke arah wajah Chanyeol, namun Chanyeol dengan paniknya berhasil menghindari hantaman tongkat yang bisa saja merusak wajah tampannya itu dengan cara memalingkan wajahnya kekiri dan kekanan.

"Tu-tunggu sebentar tuan pencuri!" teriak Chanyeol.

Si 'pencuri' terdiam dan kemudian bergerak melepaskan helmnya.

"Apa maksudmu pencuri? Kaulah yang pencuri disini! Apa yang orang lain lakukan didalam apartment Yoora eonnie disaat dia tidak berada dirumah?!" jawabnya ketus.

Setelah helmnya terlepas, terlihatlah wajah si 'pencuri' itu. Yang ternyata dalah seorang gadis cantik dan manis bermata rusa. Rambut hitamnya yang berwarna madu pada bagian ujungnya dipotong pendek sebahu membuatnya terkesan liar dan tomboy. Namun itu tidak bisa membuat Chanyeol terpesona. Dia masih tidak terima disebut pencuri dirumah kakaknya sendiri.

"Apa kau bilang? Aku ini adalah adik pemilik apartment ini! Aku adalah adik dari Park Yoora eonniemu itu!" bentak Chanyeol tak kalah ketus.

"Kau pikir aku percaya? Cih"

Gadis itu kembali mengambil tongkat baseball tadi dan mulai menumbukkan ujungnya kearah wajah Chanyeol lagi. Chanyeol sebisa mungkin –walau agak kesusahan karena gadis itu masih menduduki perutnya- menghindar. Hingga suara lembut menghentikan kerusuhan yang terjadi.

"Hey anak-anak…"

"Ah! Eonnie! Cepat telfon polisi aku sudah menangkap pencuri ini" ucap si gadis itu kepada Yoora.

"Umm.. Apa yang terjadi sebenarnya ini?"

Chanyeol hanya bisa menatap kakaknya dengan wajah meminta pertolongan.

.

.

"Hahahaha. Jadi kau mengira adikku ini pencuri dn langsung berniat memukulnya? Astaga hahaha. Kau lucu sekali sayang" Yoora tertawa terahak-bahak menatap dua orang yang lebih muda darinya itu yang kini sedang duduk berhadapan. Keduanya tampak malu, terutama si gadis yang sedari tadi terus menunduk menatap lutunya sendiri.

"Dia siapa noona?"

"Oh. Dia tetanggaku, karena kami tinggal sendiri kita biasa makan malam bersama. Namanya Xi Luhan. Yah, dia keturunan China-Korea. Cantik bukan?"

"Oh, Hallo. Aku Park Chanyeol, adik lelaki Yoora noona" sapa Chanyeol mulai ramah.

"Harusnya kau bilang dari tadi agar aku tidak salah paham denganmu!" jawab si gadis angkuh. Sebenarnya dia hanya berusaha menutupi rasa malunya.

"Yak! Bagaimana aku bisa memperkenalkan diri kalau kau tiba-tiba datang dan langsung menerjangku?!"

Beberapa menit berlalu dan yang terdengar hanyalah perseteruan dua orang itu. Yoora yang mulai kesal langsung menengahi mereka.

"Kalian bisa tidak akur sedikit? Lagipula mulai besok kalian akan berada disekolah yang sama"

"Apa?!" sahut Chanyeol dan Luhan bersamaan.

"Aku sekelas dengan gadis ini?"

"Woah, kau anak pindahan? Tapi apa boleh pindah diawal masuk semester 4 begini? Nama kita kan sudah terdaftar untuk mengikuti ujian disekolah masing-masing" Tanya Luhan heran.

Dia melupakan semua pertengkarannya dengan Chanyeol tadi. Yang ada sekarang tatapan polos miliknya dan itu berhasil membuat Chanyeol berfikir betapa anehnya gadis ini.

"Tentu saja! Eonniemu ini bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa kau duga sayang"

Ting Tong

Sebelum Yoora melanjutkan kalimatnya, bel pintunya berbunyi terlebih dahulu. Dia segera beranjak membukakan pintu dan kembali keruang tengah dengan seorang lelaki tinggi di belakangnya. Dia tidak terlihat seperti orang Korea, alisnya tebal menukik dengan rambut pirangnya menutupi sebagian dahinya. Sekilas terlihat orang itu bahkan lebih tinggi beberapa senti dari Chanyeol.

"Hey Chan, sebelum itu aku sarankan kau segeralah merubah dialek busanmu! Belajarlah dari kakakmu. Kalau kau terus berbicara dengan logatmu itu kau akan dianggap remeh disini." Celetuk Luhan.

Baru saja Chanyeol hendak membalas perkataan Luhan, suara berat lain telah memotong pembicaraan mereka.

"Luhan-ah, cukup. Kau ini suka sekali menggoda orang lain. Apa-apaan itu kau memakai helmku seenakmu" katanya santai dan langsung merangkul bahu Chanyeol.

"Hai Bro, aku Kris. Aku adalah teman gadis cerewet itu. Kau cukup tampan, bagaimana kalau lain kali kuajak kau menggoda gadis-gadis disini. Gadis Seoul sangat cantik, lho" dia membisikkan kalimat terakhir ditelinga Chanyeol.

"Oi Kris, jangan tularkan sikap genitmu padanya. Lagipula dia harus belajar berbicara dialek Seoul terlebih dahulu kalau mau menggoda gadis-gadis disini." Ledek Luhan

"Sudah-sudah, bagaimana kalau kalian pergilah berbelanja ke supermarket dan mintalah Chanyeol untuk memasak untuk kita. Sebagai perkenalan. Kalian harus mencoba masakan adikku. Dia sangat pandai memasak."

"Benarkah? Baiklah. Ayo Lu kita berbelanja." Ucap Kris sambil menarik tangan Luhan. Awalnya Luhan sempat berontak dengan alasan berbelanja merupakan perkerjaan yang terlalu feminim, namun Kris terus menarik Luhan hingga akhirnya dia menyerah dan ikut keluar bersama Kris.

"Mereka sangat mirip dengan teman masa kecilmu ya? Minseok dan Jongdae" ucap Yoora sambil menatap wajah adiknya.

"Noona yakin kau akan dengan mudah akrab dengan mereka" tambahnya.

.

.

Akhirnya Kris, Luhan, dan Chanyeol pergi belanja bersama. Diperjalanan pulang mereka terus saja bercakap-cakap. Kris ternyata adalah seorang anak orang kaya berdarah China-Kanada. Dia juga sangat suka mengendarai motor, meskipun dilarang oleh pihak sekolah. Jadi, Kris biasa memarkirkan motornya agak jauh dari lingkungan sekolah.

Luhan dan Chanyeol selalu saja berdebat soal dialek, gadis, bahkan pacar. Hingga tanpa sengaja Luhan mengeluarkan dialek Jejunya yang sangat kental. Alhasil, Chanyeol tertawa terbahak-bahak.

"Luhan tinggal di Jeju hingga SMP, dan dialeknya akan keluar dengan sendirinya kerika dia merasa sangat bersemangat." Terang Kris kalem.

"Dia bahkan tidak berbicara ketika duduk dikelas 1 SMA, dia tidak pernah berbicara sampai dia berhasil mengubah dialeknya" lanjutnya lagi.

Luhan menunduk malu dan Chanyeol memperhatikan gadis itu. Entah kenapa selera tertawa menguap entah kemana. Dia tidak suka suasana tenang begini, jadi Chanyeol kembali meledek Luhan dan akhirnya keadaan menjadi riuh kembali. Bedanya sekarang Luhan tidak segan mengeluarkan dialek aslinya.

Makan malam berlangsung dengan tenang. Masakan Chanyeol memang sangat enak, bahkan Luhan pun mengakuinya. Dia bahkan makan paling banyak. Luhan bertugas membersihkan meja sementara Kris dan Yoora dapat bagian bagian mencuci piring.

Setelah semuanya selesai, mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan di balkon. Namun Chanyeol lebih banyak memandang ke arah kota Seoul. Luhan menyadarinya, dia berpikir pastilah Chanyeol sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.

.

.

Chanyeol memulai sekolahnya dengan cukup lancar, hanya perkenalan dan semuanya berjalan seperti biasa. Memang awalnya dia cukup merasa canggung, namun berkat celotehan Kris suasana kelas pun menjadi lebih hangat dan nyaman. Ya, Chanyeol, Luhan dan Kris berada di kelas yang sama.

Sore itu agak mendung, Chanyeol bersandar di dinding depan kelasnya. Kelasnya sudah selesai beberapa saat yang lalu. Dia terus melihat layar Iphonenya. Dia sedang berusaha menelpon seseorang. Seseorang yang sangat penting. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Dia hanya bisa memandang Iphonenya dengan senyum pahit.

.

.

Disisi lain kota Seoul, di stasiun kereta bawah tanah …

Seorang gadis bertubuh mungil tengah memandang kosong layar Iphonenya. Sedari tadi benda itu terus saja bergetar dan menampilkan pemanggil yang sama.

Chanyeollie is calling …

Dia memasukan Iphonenya ke dalam tas sekolahnya dan menghela nafas panjang.

.

.

Dia beranjak dari depan kelasnya ketika melihat Kris berjalan kearahnya. Kris terus saja membuntutinya sejak awal pelajaran dan sekarang dia memaksa Chanyeol untuk pulang bersama karena Luhan sedang ada aktifitas klub softball. Entah bagaimana Chanyeol akhirnya berhasil lolos dan pulang sendiri.

Diperjalanan pulang dia terus saja melihat bayangan gadis mungil yang mirip dengan gadisnya. Entah itu nyata atau hanya halusinasinya saja. Dia sangat merindukan gadisnya.

.

.

Sejak awal pertemuan, Chanyeol selalu saja menolak ajakan teman-temannya yang ingin membuat pesta penyambutan untuknya. Dia menolaknya secara halus dan mengatakan pada temannya untuk tidak mempedulikannya.

Semua itu tidak luput dari perhatian Luhan. Chanyeol seperti kehilangan gairah hidupnya. Tidak ada sedikitpun gurat kebahagiaan di wajah Chanyeol. Entah kenapa dia merasa turut sedih dan ingin berusaha membuat Chanyeol sedikit berbahagia. Dia baru menyadari bahwa dia tak pernah melihat Chanyeol tertawa.

.

.

(Luhan POV)

Aku terus saja memikirkan Chanyeol. Wajah sedihnya, entah kenapa sangat mengganggu pikiranku. Aku memandang kelangit senja dari tempat tidurku.

Sepertinya aku harus menemui laki-laki itu.

"Huft .. Kenapa aku merasa canggung begini. Tinggal pencet belnya dan berbicara dengannya Luhan. Fighting!" akhirnya aku memencet bel apartment Yoora eonnie.

Pintu terbuka.

"Eoh? Luhan? Apa kau mencari Yoora noona? Sepertinya dia akan pulat larut."

"Mm.. Aku hanya ingin berbicara sesuatu denganmu .."

"Denganku? Baiklah. Ayo masuk. Kebetulan sekali aku baru saja selesai memasak ayo makan bersama."

Apartmentku dan Yoora eonnie tidaklah besar, hanya ada dapur, kamar mandi, dan ruang tengah yang juga dijadikan kamar. Jadi sambil menunggu Chanyeol menyiapkan makanan, aku duduk diatas tempat tidur, menekuk kakiku dan menaruh daguku diatas lututku. Tak lama kemudian Chanyeol duduk di depan meja dan menghadap ke arahku. Posisinya lebih rendah dari pada tempat tidur, karena mejanya merupakan meja pendek yang biasa digunakan orang jepang. Chanyeol menatapku.

"Luhan, aku bisa melihat celana dalammu"

Butuh beberapa detik sampai aku sadar dan langsung melemparinya dengan bantal. Aku baru saja hendak mengumpat padanya namun semuanya kutelan kembali. Chanyeol tertawa. Dia tertawa karenaku. Rasanya dadaku menghangat. Setelahnya kita saling meledek dan bercanda sampai Chanyeol menyuruhku untuk duduk dan makan.

Hening.

Hanya ada suara sumpit dan suara kunyahan yang mengisi ruangan itu. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Setiap pulang sekolah kau selalu saja langsung pulang kerumah. Apa saja memangnya yang kau lakukan?" tanyaku. Kulihat dia sedikit terkejut dan bingung.

"Tidak juga. Aku hanya ingin pulang sa-.."

"Kau selalu menolak berkumpul bersama teman dikelas. Kau juga menolak ajakan pesta mereka padahal mereka sudah bekerja keras mengundangmu, kau bersikap seolah itu semua mengganggumu.." aku berusaha terdengar santai, namun yang kudapati adalah suaraku yang terdengar sedih dan kecewa. Kulihat Chanyeol menegang disana.

"H-hey itu tidak benar. Aku tidak merasa terganggu sama sekali" jawabnya, tampaknya dia mulai merasa bersalah. Tapi aku tidak mau mundur, dia harus tahu dan paham dengan orang disekelilingnya.

"Semua orang berpikir kau terganggu.." aku menelan makananku dan meminum air mineral didepanku.

"Aku paham kalau kau pasti memiliki alasan sendiri, tapi jika kau terus seperti ini kau tidak akan memiliki teman.." tambahku.

Kulihat dia tersenyum.

"Maaf …" kata yang keluar dari bibirnya itu berhasil menyadarkanku bahwa aku melangkah terlalu jauh. Aku terlalu mencampuri hidupnya.

"C-Chan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. E-eh mari kita bicarakan yang lain saja." Elakku.

Aku menunduk dan mulai berbicara lagi.

(Normal POV)

Chanyeol hanya terdiam menantikan gadis didepannya berbicara. Entah kenapa hatinya sedikit menghangat melihat bagaimana gerak-gerik Luhan yang tomboy, cerewet, tapi juga polos disaat yang sama.

"Aku paham kalau kau pasti malu bergabung bersama teman-teman. Aku juga pernah merasakannya. Dialek Busan memang sedikit berbeda, tapi menurutku itu cukup unik. Jadi, jadi, lebih baik kau percaya diri saja. Lagipula teman-teman kelas sepertinya tidak terlalu peduli dengan dialekmu." Kata Luhan sambil menunduk. Wajahnya sudah mulai memerah karena merasa di tatap dengan intens oleh Chanyeol.

Chanyeol menutupi mulutnya yang sedang tersenyum.

"Kau sangat baik dan manis juga ternyata, Luhan.." batin Chanyeol.

Namun senyum itu diartikan lain oleh Luhan, dia pikir Chanyeol sedang berusaha menahan tawanya karena mendengarkan dialeknya. Seketika dia menjadi kesal.

"Kau mentertawakanku ya?!"

"Tidak. Kau salah paham Luhan.. Aku tidak mentertawakanmu. Lagipula, yang harusnya percaya diri dengan dialeknya itu kau. Kau tidak harus menjadi orang lain untuk membuat orang lain menyukaimu." Jawab Chanyeol sambil tersenyum hangat.

"Apa-apaan kau ini.." celetuk Luhan salah tingkah.

"Lagipula, menurutku kau sangat manis ketika berbicara dengan dialectmu itu" tambah Chanyeol dan diakhiri dengan kekehan halus.

Luhan buru-buru menunduk dan memilih menatap piring kosong didepannya untuk menutupi rona merah di pipinya.

"Yah.. Bagaimanapun juga sejak kau datang kesini aku mulai percaya diri dengan dialekku.." cicit Luhan sambil menahan senyumnya.

Chanyeol langsung terdiam dan membatin.

"Ya, itu benar. Sekarang aku sudah disini. Besok aku harus pergi menemuinya" batinnya.

.

.

Sudah pukul lima sore, Chanyeol sedang membasuh wajahnya dikeran air taman dekat salah satu kompleks perumahan elit di Seoul. Sedikit berharap dia bisa menemui gadisnya.

"Chanyeol oppa?"

"Eoh? Krystal .."

"Baju seragam kami. Hey jangan bilang oppa pindah kesini. Hmm.." gadis yang dipanggil Krystal itu memutari tubuh tinggi chanyeol yang sedang berdiri tegak itu sambil meneliti penampilannya.

"Apa oppa sangat putus asa ditinggal oleh eonniku? Hingga oppa berubah menjadi orang yang mengejar-ngejar eonniku seperti seorang stalker?" tambahnya.

"Aku hanya ingin mengkonfirmasi. Aku harus mendengar langsung semuanya dari bibirnya. Tolong beritahukan padanya" jawab Chanyeol tegas.

"Kau kesini untuk itu? Tidak heran eonniku menghindarimu." Sahut Krystal seraya mulai berjalan meninggalkan Chanyeol.

"Ya. Kau benar. Aku memang kesini untuk itu" jawab Chanyeol datar.

"Kau menakutiku oppa. Jangan marah begitu." Krystal sedikit kaget melihat ekpresi kosong Chanyeol. Dia melihat Chanyeol yang sudah berada sekitar 7 langkah dari tempatnya berdiri melihat kearahnya dengan tatapan terluka.

Chanyeol mengangkat wajahnya, menatap kedepan …

(Chanyeol POV)

Dia jatuh bersamaan dengan bunga sakura. Berat dan hangat tubuhnya saat dia bersandar padaku masih terasa dipunggungku.

"Baek …" panggilku dalam hati.

TBC

Hallo semuanya. Ada yang berminat membaca lanjutan ini? Ato udah bosen duluan pas baca prolognya? Saya harap ada yaa.

Dan inilah Chapter 1, woah 3k words wkwkwk. Semoga kaliah tidak mabuk bacanya. Tokoh baru sudah bermunculan meskipun belum semua ambil andil dalam cerita. Semoga kalian bisa tertarik membaca ff ini. Saya masih belum tahu bagaimana cara membuat tulisan saya menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Saya masih sangat awam dalam menulis. Jujur ini tulisan pertama saya, meskipun bukan murni buatan saya karena plotnya mengambil dari beberapa anime.

Maka dari itu, apabila ada saran dan kritik tolong disampaikan ke saya lewat kotak review dibawah. Sedikit saran kalian bisa membantu saya menjadi lebih baik lagi.

Sudah ada reader yang minta konfliknya jangan terlalu berat ini. Tenang saja, ini hanya internal konflik kok. Tidak ada selingkuh-selingkuhan, tonjok-tonjokkan, atau sejenis kekerasan lainnya (tapi bisa saja berubah sewaktu-waktu jika ada hal mendesak khusus). Hihi.

Last, jangan lupa ninggalin jejak dikotak review ya. Saya sudah menulis sampai jam 3 pagi loh. Jadi setidaknya terima review kalian bisa membuat saya bersemangat.

Ditunggu ya! Bye Bye.

Mrs. Bunny