Free

.

.

.

.

[Sakura Haruno, Haruka Nanase] Rin Matsuoka

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Masashi Kishimoto, Kóji Óji

.

.

.

(JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DI BUAT AUTHOR ATAU ADEGAN DI DALAMNYA, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK!) DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! DLDR!

Selamat membaca!

oOo

Haru hanya terdiam ketika Sakura semakin erat memeluknya. Dia membiarkan gadis itu memeluknya, karena itu membuatnya nyaman.

"Apa kamu baik-baik saja? Aku mengkhawatirkanmu, tidak kami semua mengkhawatirkanmu, Haru-kyun!"

Haru hanya terdiam dan memandang emerald itu dalam-dalam. Dia bahkan tidak tahhu harus mengatakan apa. Lidahnya terasa kelu untuk digerakan, semua yang dikatakan Rin membuatnya shock dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

"Haru-kyun?"

"Sakura."

Kini, Sakura yang harus membulatkan matanya ketika Haru memeluknya. Bahkan pemuda itu menempelkan wajahnya pada lehernya.

"Biarkan.. biarkan seperti ini untuk sesaat."

.

.

Rin mendudukan diri di salah satu kursi dan menerawang jauh. Dia berubah bukan karena satu alasan. Semua ini karena tekanan yang dia dapatkan di Australia lalu kekalahan yang dia terima saat melawan Haru. Itu semua yang membuatnya menjadi berubah seperti ini.

Rin meninju tembok di belakangnya dengan geram. Tidak. Dia hanya merasa iri pada Haru, iri karena pemuda itu berhasil mendapatkan hati Sakura. Kenapa.. kenapa Sakura tidak bisa melihat perasannya yang tulus? Kenapa Sakura hanya memandang Haru yang bahkan terlihat cuek seperti itu.

Memegang dadanya, Rin merasakan sesuatu yang sesak di dalam dadanya. Kenapa rasanya sakit sekali? Rasanya, dia seperti tertusuk ribuan pisau tak kasat mata.

Ingatannya kemudian pergi menjauh hingga menemukan ingatannya ketika bertemu dengan teman-temannya tadi. Ryugazaki Rei, Tachibana Makoto dan Hazuki Nagisa. Ada kata-kata yang membuat perasaannya gusar.

Dia tidak sedih walaupun dia kalah. Pasti ada sesuatu yang salah.

Rin membuka matanya. Sial! Memangnya apa senangnya berenang tanpa memiliki ambisi dan tujuan. Sakura, kenapa kamu menyukai orang yang bahkan tidak peduli dengan rekor waktu dan kemenangan?!

.

.

.

Haru membiarkan Sakura memeluknya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sakura dan balas memeluk gadis itu. Dia merasa nyaman berada dalam pelukan gadis itu, ada sesuatu yang menenangkan yang dimiliki gadis itu.

Haru mengangkat kepalanya dan menerawang jauh.

Pada akhirnya.. Kalau Rin menang, apakah perasaanku akan berbeda dari yang sekarang? Rin berenang karena ingin bertanding di olimpiade. Jadi aku? Kenapa aku berenang?

"Haru-Kyun, aku akan ada disini, bersamamu."

Sakura hanya terdiam ketika merasakan Haru memeluknya semakin erat. Dia balas memeluk Haru. Dia ingin memberikan semangatnya pada Haru.

"Haru-chan! Kura-chan!" Nagisa menghampiri keduanya, membuat Sakura dan Haru melepaskan pelukan mereka. Refleks Sakura menjauh dan memandang Nagisa.

"Nagisa! Kau membuatku kaget!" Sakura mengelus dadanya.

"Tidak penting hal itu. Mako-chan akan segera bertanding, ayo kita melihatnya!"

"Aku tidak ikut."

"Jangan begitu, Haru-chan! Ayo Kura-chan!"

Nagisa menarik tangan Haru diikuti oleh Sakura. Ketika mereka sampai, Makoto sudah bertanding.

"Ayo, ayo, ayo, Makoto!"

"Berenang, berenang, berenang, Makoto!"

Haru terdiam di tempatnya berdiri. Sakura melirik Haru yang memandangi Makoto dengan pandangan yang sulit diartikan. Nagisa tersenyum dan bergabung dengan yang lainnya untuk menyemangati Makoto.

Sakura tidak bisa berdiam diri begitu saja. Dia menarik napas dengan dalam dan mulai berteriak.

"Makoto-kun!"

Makoto yang mendengar teriakan itu semakin mengayuh lengan dan kakinya dengan cepat. Dia menyentuh dinding dan langsung melihat waktu rekornya. Haru hanya terdiam di tempatnya memandangi itu semua.

2. Tachibana Makoto 01:01:58

"Yah, sedikit lagi." Nagisa mendesah lelah. "Waktunya sudah mendekati waktu kualifikasi nanti."

"Hampir saja," ucap Gou.

"Yosh! Sekarang giliranku!" Nagisa berucap dengan semangat.

Makoto naik keatas dan memandang Haru. Haru yang mengerti sedang dipandangi, mengalihkan pandangannya. Sakura tersenyum memandang Haru.

"Haru-kyun, aku akan bergabung untuk menyemangati Nagisa!" Sakura segera berlari menuju Gou dan yang lainnya.

Sakura menggulum senyumnya. Dia berharap Haru akan cepat bangkit dari keterpurukannya.

.

.

.

.

.

Hari sudah mulai sore dan senja sudah mulai tenggelam di peraduannya.

"Aku belum cukup bagus." Rei menundukan kepalanya. "Maafkan aku."

"Kau ini bicara apa, Rei?" pelatih Sasabe menatap Rei. "Sudah, tidak usah di pikirkan."

"Jangan berkecil hati, kita akan berlatih untuk turnamen tahun depan," ucap Makoto.

"Makoto-kun." Sakura memanggil Makoto. "Dimana, Haru-kyun?"

"Ah iya, dimana Nanase-kun?" tanya Amakata sensei.

"Mungkin dia pulang duluan," ucap Makoto.

"Pokoknya kalian jangan berkecil hati." Pelatih Sasabe tersenyum. "Kalau begitu aku harus pulang."

"Aku juga." Amakata sensei tersenyum dan masuk ke dalam mobilnya.

Sakura menarik napas panjang dan memandang kepergian pelatih Sasabe dan Amakata sensei. Gou menarik napas panjang dan berdiri di depan mereka semua.

"Maafkan aku! Maafkan aku!" Gou mengatupkan kedua tangannya.

"Kenapa, Kou-chan?" tanya Makoto.

"Aku mendaftarkan kalian dalam renang estafet. Aku dan Ama-chan sensei."

"Apa?" Rei memandang Gou dengan pandangan tidak percaya.

"Aku sudah membicarakannya dengan Amakata sensei, dan dia setuju."

"Jadi, kalau kita memainkan relay-"

"Kalian bisa berenang di tingkat daerah!" ucap Gou penuh semangat.

"Ini gila, ini terlalu mendadak." Makoto memandang Gou.

"Apa salahnya dicoba?" semua mata memandang Sakura. Satu senyuman muncul di wajah Sakura. "Aku akan mencari Haru-kyun dan mengatakan kita punya pertandingan besok."

"Eh? Kura-chan!" Nagisa mencoba mengejar Sakura tetapi gadis itu sudah berlalu pergi.

.

.

.

Haru memandang langit malam Iwatobi yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Satu bulan purnama berada di tengah-tengah bintang dan membuatnya merasa nyaman.

Haru membalikan badannya dan masuk ke dalam sekolahnya.

.

"Kalau begitu, kita tunggu sampai dia pulang saja," ucap Rei.

"Ide yang bagus, Rei-chan!"

Pintu rumah Haru dibuka dan Sakura muncul dengan wajah penuh keringat. Napas gadis itu juga terengah-engah dan Sakura membungkukan badannya.

"Kura-chan, bagaimana? Apakah kamu menemukan Haru-chan?!" tanya Nagisa.

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku tidak bisa menemukan dia dimanapun."

Nagisa memandang foto yang dipegangnya dan mendesah panjang.

"Apa Haru-chan akan ikut relay besok?"

.

Haru membiarkan dirinya mengapung di tengah kolam renang yang besar. Entah apa yang dia pikirkan sekarang, tetapi yang pasti dia merasa nyaman. Berada di kolam besar ini seorang diri.

Dia lalu menyelam dan membiarkan dirinya hingga dasar kolam.

Sebenarnya.. apa yang ingin aku lakukan?

Kenangannya bersama Rin kembali berputar di dalam otaknya.

Aku.. melakukan itu semua untuk apa?

.

Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam tapi Haru belum juga muncul. Semua yang berkumpul di rumah Haru sudah merasa tidak tenang.

"Dia belum pulang juga," ucap Gou.

Sakura yang melihat kepanikan yang terjadi mendudukan dirinya di sebelah Makoto. Pemuda berambut hijau itu memandang langit malam yang bersinar karena bulan purnama yang begitu indah.

"Apa Haru-kyun akan baik-baik saja?" tanya Sakura dengan suara yang pelan.

"Tenang saja. Dia pasti baik-baik saja." Makoto berkata tanpa memandang Sakura.

"Kemana sebenarnya dia pergi?" Nagisa memandang pintu rumah Haru. Berharap pintu itu terbuka dan orang yang ditunggu muncul.

"Jangan-jangan.." Rei menundukan kepalanya.

"Rei-chan! Jangan bicara seperti itu!"

"Tapi kan, aku belum mengatakan apapun." Rei memandang Nagisa.

"Jangan khawatir." Makoto sedikit menolehkan kepalanya. "Haru pasti akan baik-baik saja."

"Yosh! Bagaimana kalau kita telepon Haru-chan saja!" Nagisa mengeluarkan ponselnya.

"Haruka senpai punya ponsel?" tanya Gou dengan pandangan tidak percaya. "Aku tidak pernah melihat Haruka senpai menggunakan ponselnya."

"Sudah, sebaiknya kita segera telepon dia!" Nagisa menekan nomor ponsel Haru.

Nagisa meletakan ponselnya ditelinganya.

Anda memasuki pesan suara, silahkan tinggalkan pesan..

"Cepat tinggalkan pesan!" ucap Rei.

"Haru-chan, sekarang kau ada dimana?" tanya Nagisa.

Ponsel berpindah tangan kepada Rei.

"Tolong.. cepatlah pulang... kami semua khawatir.."

Gou merebut ponsel dari tangan Rei dan menempelkannya di telinganya.

"Haruka senpai, maafkan aku. Aku mendaftarkan kalian semua dalam relay medley."

Nagisa kembali mengambil alih ponsel.

"Itu benar.. oleh sebab itu, ayo kita berenang di relay bersama-sama besok."

"Aku akan baik-baik saja." Rei memegang tangan Nagisa dan mendekatkan mulutnya di ponsel. "Aku sudah mempelajari teori pengingat untuk besok."

"Itu tidak akan berhasil, Rei-chan!"

"Aku juga sudah mempelajari teori agar tidak kalah!"

Pesanmu sudah tersimpan.

Mereka bertiga memandang ponsel Nagisa. Gou menarik napas panjang dan angkat bicara.

"Apa Haruka senpai akan pulang setelah mendengar pesan yang kacau itu?" tanya Gou.

"Tidak apa-apa." Nagisa memandang ponselnya. "Pesan kita yang kacau itu.. akan langsung masuk ke dalam hati Haru-chan!"

"Tunggu." Nagisa kembali melanjutkan. "Haru-chan meninggalkan ponselnya disini!"

"Heeee!"

"Sudah, sebaiknya kalian pulang saja," ucap Makoto.

Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan bangkit. Dia menepuk bahu Nagisa dan tersenyum.

"Kalian akan ketinggalan kereta jika tidak cepat pulang. Tenang saja, aku dan Makoto-kun akan mengurus semuanya."

"Tapi, Kura-chan-" Nagisa memandang Sakura. Tidak rela jika harus pulang.

"Haru-kyun akan baik-baik saja, kita akan ikut relay besok. Percaya padaku." Sakura menepuk bahu Nagisa sekali lagi. "Jadi sebaiknya, kalian pulang."

.

.

Haru berjalan pulang dan melihat lampu rumahnya dalam keadaan menyala. Meski tidak diberitahu siapapun, dia tahu apa yang terjadi di dalam rumahnya. Dengan pelan, dia membuka pintu rumahnya dan melihat Makoto tertidur sembari memegang ponselnya.

"Makoto?"

Haru mengedip-ngedipkan matanya dan mengambil ponselnya. Dia mendekatkan ponselnya ke telinganya dan pesan suara langsung terdengar. Entah mengapa, bayangan teman-temannya yang berjuang mati-matian di turnamen hari ini membuat sesuatu dalam dadanya berdegub kencang.

Setelah pesan suara itu berakhir, dia berjongkok dan membangunkan Makoto. Dia tidak akan membuat perjuangan teman-temannya akan berakhir disini.

"Makoto, Makoto bangun." Haru mengguncang bahu Makoto dengan pelan.

"Haru?" Makoto membuka matanya dan mengucek matanya.

"Kita punya pertandingan relay, kan?" tanya Haru.

Makoto yang baru saja terbangun tidak bisa menahan keterkejutannya. Jadi, sahabatnya akan mengikuti lomba estafet bersama besok?

"Haru, kamu yakin?" Makoto bertanya dengan pandangan tidak percaya.

"Aku yakin, Makoto." Haru menganggukan kepalanya. "Jadi, sebaiknya kamu segera pulang dan istirahat, Makoto."

"Tapi sebelum itu," ucap Makoto. "Sakura tidur di kamarmu."

"Sakura?"

"Dia tidak mau pulang. Jadi, aku menyuruhnya tidur di kamarmu." Makoto bangkit dari duduknya. "Sebaiknya kamu temui dia, dia yang paling khawatir diantara kami semua."

Haru membiarkan Makoto keluar dari rumahnya dan melepas sepatunya. Dengan pelan, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan melihat Sakura tidur dengan selimut yang membalut tubuhnya. Ketika mata biru itu menatap wajah mungil Sakura, dimatanya Sakura begitu cantik. Wajah itu terlihat menggemaskan saat tidur.

"Sakura, bangunlah."

Sakura membuka matanya perlahan dan mendudukan dirinya. Emeraldnya kemudian menangkap sosok Haru dan membuatnya langsung memeluk pemuda itu begitu saja.

"Haru-kyun, kamu kemana saja? Kamu membuat kami semua cemas," ucap Sakura memeluk Haru dengan erat.

Haru tidak tahu harus berbuat apa. Tangannya bergerak sendiri dan memeluk Sakura.

"Maaf, karena membuat kalian khawatir." Haru menyembunyikan kepalanya di perpotongan leher Sakura.

"Tidak apa-apa, Haru-kyun. Kamu baik-baik saja sudah membuat kami semua lega."

Haru melepas pelukannya dan memandang emerald itu dalam-dalam.

"Kalau begitu, dukung aku saat estafet besok."

Sakura mengedip-ngedipkan matanya sebelum membuka mulutnya karena terkejut.

"Apa?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Balasan Review :

Guest : wkkwkkwkk.. iya.. makasih buat semangatnya ;3

Daisaki20 : kamu melebih-lebihkan, pake kata penyelamat segala.. ntar kalo kepalaku besar gabisa pake helm lho.. *eh* :3

Kuuhaku : Aku juga bingung sebenernya :3 tapi aku tulis apa yang ada di filmnya aja.. orang itu anime aslinya aku masukin Sakura ke dalemnya, jadi ancur dah :3 hehe.. makasih yaa..

Bang Kise Ganteng : mau nulis tentang Kuga Ryokusuke :3 Cuma kok yang keketik malah Oreki Hotarou :( Yosh.. aku tunggu fictmu tentang Tatsuya yaaa.. dia mah termasuk dalam kategori seksi menurutku :3

Rosachi-hime : makasih.. :3

Asahina Haru : aku baru up Les Cinta.. yang main Oreki Hotarou dari Hyouka sama Sakura dari Naruto *promosi* *ditendang*

Saskey saki : pedalaman? Emangnya kamu tinggal dimana? Jangan bilang kalo di luar negeri :( hehe.. ini sudah di up kok.. :)

Intinya fict ini akhirnya bisa up! Yeay! Fict penghilang stres ceritanya.. :3

Dan terima kasih buat yang udah ngedukung dan yang ngereview! Sampai ketemu di chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-