Free
.
.
.
.
[Sakura Haruno, Haruka Nanase] Rin Matsuoka
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Masashi Kishimoto, Kóji Óji
.
.
.
(JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DI BUAT AUTHOR ATAU ADEGAN DI DALAMNYA, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK!) DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! DLDR!
Selamat membaca!
oOo
Pagi hari yang cerah, hawa di Iwatobi sangat dingin. Haru sudah bersiap dengan semua perlengkapannya. Memandang langit yang cerah, dia menarik napas panjang.
Hari ini adalah perlombaan keduanya. Lomba renang estafet. Entah mengapa, dia merasa sangat gelisah. Tidak, bukan karena apa-apa. Ini adalah pertama kalinya mereka berenang tanpa Rin. Tetapi, mereka mendapat pengganti Rin, meski tidak sebaik pemuda bergigi hiu tersebut.
"Oh, Ohayou, Haru."
Haru mengangkat kepalanya dan memandang Makoto yang tersenyum. Pemuda berambut hijau itu juga sudah siap dengan pakaiannya. Mereka akan berangkat dengan kereta pertama agar tidak terlambat sampai di lokasi pertandingan.
"Ohayou." Haru mengalihkan pandangannya.
Makoto tidak bisa menahan senyumnya dan berjalan menghampiri Haru. Dia memandang rumah di sebelah rumah milik Haru. Merasa ada yang aneh dengan rumah itu.
"Ada apa, Makoto?" tanya Haru.
"Tidak, hanya saja.. Sakura belum keluar, bukan?"
Haru ikut memandang Rumah milik Sakura.
"Iya."
.
Mereka berdiri di depan rumah keluarga Haruno. Dari dalam, dia bisa mendengar suara-suara yang aneh. Suara keributan, padahal setahu mereka Sakura tinggal sendiri.
Haru dan Makoto saling berpandangan. Jangan katakan.. Sakura sedang bertengkar dengan maling? Atau Sakura sedang ditahan oleh perampok?
Makoto mencoba membuka rumah Sakura. Tidak terkunci. Memandang Haru yang ada di belakangnya, pemuda bermata sewarna dengan air itu menganggukan kepalanya. Memberi isyarat pada Makoto agar masuk terlebih dahulu.
"Permisi." Makoto melongokan kepalanya.
"Aduh.. bagaimana ini?! Dimana kotak bekalnya?! Ah! Minumnya juga belum, handuknya juga! Mou! Sudah jam segini, bagaimana kalau terlambat."
Makoto tidak bisa menahan senyumannya. Dia bisa mendengar semua yang dikatakan Sakura karena suara gadis itu yang kencang sekali. Dia mengerti dari mana asal muasal suara keributan itu. Sepertinya gadis itu sedang kesulitan.
Melepas sepatunya, sepertinya dia harus membantu Sakura.
.
"Maaf membuat kalian kerepotan."
Sakura mendesah lelah. Dia bangun pagi-pagi buta dan memasakan masakan untuk semua anggota renang klub Iwatobi. Biar bagaimana pun, mereka akan bertanding hari ini dan membutuhkan energi yang banyak. Dia juga membawakan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Seperti kotak P3K, minuman ion, ataupun handuk.
Makoto dan Haru membawakan semua yang disiapkan Sakura. Makoto tidak bisa menahan senyumnya. Sakura adalah gadis yang baik hati dan perhatian. Pemuda yang berhasil berada disisi Sakura, pastilah menjadi pemuda yang beruntung.
"Jangan pikirkan hal itu, Sakura."
Mereka naik kereta pertama dan tidak terlalu ramai. Mendudukan dirinya di salah satu kursi di kereta, emerald milik Sakura meneliti Haru. Pemuda itu tampak tampan mau berapa kali Sakura memandangnya. Semakin tampan, semakin dia memandangnya. Jantungnya berdegub tidak karuan hanya memandang Haru.
Saat mereka sampai disana, Amakata sensei dan Gou sudah berada disana. Gou terlihat bersemangat sekali ketika mengetahui Haru akan mengikuti renang estafet hari ini.
Sakura tidak bisa menahan senyumnya ketika Gou memberi banyak pertanyaan pada Haru. Mereka baru berlima, masih kurang Nagisa dan juga Rei.
Mereka berdua datang tak lama kemudian. Nagisa terlihat terengah-engah ketika sampai, begitu pula dengan Rei. Sakura semakin tidak bisa menahan senyumannya.
Dia bangga dengan mereka semua. Sangat bangga.
"Baiklah!" Nagisa berucap dengan semangat. "Ayo kita tunjukan hasil dari latihan keras kita!"
Bagaimana mungkin, dia tidak bangga dengan mereka semua.
.
.
Rin duduk sembari memegangi rambutnya. Dia terlihat seperti seseorang yang patah hati, tidak. Dia memang sedang patah hati.
Dia sudah mengalahkan Haru, berhasil mengalahkan pemuda itu. Tetapi, di dalam hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal dan dia tidak tahu apa itu. Sakura juga tidak menghubunginya semenjak saat itu. Apakah dia terlalu kasar saat itu?
Dia yakin, Sakura akan membencinya setelah ini.
"Matsuoka senpai!" terdengar suara Ai. "Ikutlah denganku sebentar."
"Ada apa?" Rin sedikit mengalihkan pandangannya yang sendu. "Ini bukan waktunya Samezuka untuk relay."
"Bukan itu!" ucap Ai. "Klub Nanase-san mengikuti relay."
"Hah?" Rin mengalihkan pandangannya sedikit kearah Ai. Namun, pandangannya berubah menjadi terkejut ketika mencerna perkataan Ai.
Rin langsung bangkit dari posisi duduknya dan berlari meninggalkan Ai. Sekarang, yang ada di pikirannya adalah segera sampai di luar dan dia bisa melihat apa yang dikatakan Ai. Tidak mungkin. Tidak mungkin jika mereka semua mengikuti relay.
"Matsuoka senpai! Tunggu aku!"
Rin sampai di pinggir kolam dan angin yang kencang segera menyambutnya. Dia bisa melihat, seluruh anggota klub renang Iwatobi sudah bersiap untuk memulai estafet mereka.
Mengalihkan pandangannya, dia bisa melihat Sakura di bangku penonton. Gadis itu terkejut, sama seperti dirinya.
Sakura tidak bisa menahan senyumannya ketika melihat Rin berdiri di pinggir kolam renang. Dia masih tidak mengerti, mengapa pemuda itu ada disana. Tetapi, melihat apa yang terjadi pada Rin kemarin. Dia menyimpulkan jika pemuda itu merasa lebih baik.
Dia memilih mengabaikan Rin dan fokus pada pertandingan di depannya. Biar saja. Dia yakin Rin akan baik-baik saja dan memikirkan semuanya.
.
.
.
Nagisa memandang sekelilingnya. Hari ini adalah upacara di hari senin dan kepala sekolah mengumumkan kepada para siswa jika mereka lolos ke babak regional. Semua anggota klub renang Iwatobi berada di depan bersama dengan kepala sekolah.
Sakura tidak bisa menahan senyumnya. Nagisa memandangnya sebelum membentuk jarinya menjadi huruf V. Pemuda itu masih saja kekanakan dan membuat senyumnya merekah. Nagisa adalah pemuda yang lucu dan ceria.
Bahkan, di sekolah mereka di pasang spanduk kemenangan.
Selamat kepada klub Renang yang telah melaju ke babak Regional!
"Mereka bahkan membuatkan kita itu," ucap Nagisa ketika mereka akan masuk ke dalam sekolah.
"Tapi, mereka menggunakan spanduk bekas." Makoto menimpali.
"Sudah, sudah." Sakura mencoba menghibur mereka. "Bagaimana jika setelah ini aku traktir di Kantin."
"Mau, mau!" Nagisa adalah orang yang merespon paling cepat.
"Nagisa." Makoto mendesah lelah. "Tidak perlu, Sakura. Kemarin kamu sudah membawakan kami banyak sekali bekal. Sekarang, tidak perlu mentraktir kami."
"Mou, Mako-chan." Nagisa menyundul lengan Makoto.
Sakura tidak bisa menahan tawanya. Nagisa kemudian berjalan bersama Gou dan juga Rei. Menyisakan dirinya, juga Haru dan Makoto.
"Apa benar, kita menang?"
Pertanyaan Haru membuat mereka menolehkan kepalanya. Sakura sudah siap untuk bertanya, tetapi Haru meninggalkan mereka begitu saja. Akhirnya, Sakura hanya bisa saling berpandangan dengan Makoto.
.
.
Haru keluar dari air dan memandang sekelilingnya. Dia tidak melihat Sakura dan itu membuatnya keheranan. Sakura biasanya ada disini, menemani mereka berlatih. Tetapi, kali ini dia tidak melihat Sakura dan itu membuatnya bertanya-tanya.
"Makoto, kenapa aku tidak melihat Sakura?" tanya Haru.
Makoto yang ada di sebelah Haru menolehkan kepalanya. Sejak kapan Haru peduli pada sekitarnya? Tetapi, pada akhirnya Makoto tersenyum. Setidaknya, ini sebuah kemajuan.
"Entahlah, katanya dia ingin membeli Yukata."
"Yukata?" Haru memakai kacamatanya. Tidak peduli dengan perkataan Makoto dan menerjunkan dirinya ke air.
Makoto tersenyum. Yah, seperti inilah Haru.
oOo
"Festival?"
Haru memandang Nagisa dan Makoto yang tiba-tiba saja muncul di rumahnya. Nagisa memakai Yukata berwarna hijau dan Makoto mengenakan kaos biasa. Dia tidak peduli dengan festival atau apalah itu.
"Ya. Hari ini adalah festival musim panas Hachiman-sama!"
"Ayo ikutlah Haru-chan, disana pasti menyenangkan."
"Aku.." Haru terlihat ragu-ragu.
Makoto tersenyum. Menyadari apa yang ada di pikiran Haru.
"Pihak kuil, menyelenggarakan festival untuk dewa air."
Setelah membujuk Haru cukup lama. Pemuda itu akhirnya mau ikut mereka ke festival.
"Ah- ayo kita ajak Kura-chan juga!" Nagisa berjalan menuju rumah Sakura. "Kura-chan! Ayo kita ke festival!"
"Nagisa, kamu bisa membuat keributan." Makoto memperingati Nagisa.
Haru tidak peduli dengan festival ini. Dia hanya mengikuti ajakan teman-temannya, karena tidak tega mengabaikan mereka semua.
"Bagaimana dengan Yukataku?" Sakura muncul dari dalam rumahnya dengan Yukata berwarna pink. Rambutnya yang biasanya panjan terurai, kini digulung rapi dan diberi hiasan.
Penampilan Sakura malam ini, mampu membuat lelaki manapun tersipu. Termasuk Makoto. Pemuda berambut hijau itu tidak bisa menahan pipinya yang merona merah.
"Kau cantik sekali, Kura-chan!" Nagisa memutari Sakura. "Benar begitu, Mako-chan?"
Ditanya begitu, membuat Makoto gelagapan.
"I-iya."
"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Haru malas. Aku ingin segera pulang dan tidur.
"Baiklah, dasar Haru-chan tidak sabar!"
.
.
Rei sudah menunggu ketika mereka datang. pemuda berkacamata itu juga mengenakan Yukata. Banyak sekali yang memakai Yukata dan festival kali ini sangat ramai.
"Sudah lama, Rei-chan?" tanya Nagisa.
"Hanya setengah jam."
"Setengah jam itu lama, Rei-kun." Sakura menanggapi. Emeraldnya melirik Haru yang terlihat lesu dan kehilangan semangat. "Bagaimana, jika berkeliling?"
"Setuju!"
Mereka berkeliling. Nagisa tidak bisa menahan dirinya untuk berteriak, cumi-cumi. Karena memang, festival ini banyak sekali cumi-cumi. Mulai dari makanan hingga permainan. Semuanya diisi dengan cumi-cumi.
Festival musim panas untuk memuja dewa air. Itulah yang rutin diadakan di Iwatobi. Nagisa terlihat bersemangat, sampai-sampai bingung ingin mulai dari mana.
Sakura tidak bisa menahan tawanya. Dia berjalan kesulitan, apalagi keadaan yang cukup ramai. Dia hampir terjatuh, jika saja Makoto tidak membantunya.
"Terima kasih, Makoto-kun." Sakura tersenyum.
"Mau aku bantu?" Makoto membuat lengannya seperti seorang pangeran.
Sakura tersenyum malu-malu dan memegang lengan Makoto. Dia seperti tuan putri yang sedang bersama seorang pangeran.
"Mako-chan, kau seperti pangeran," ucap Nagisa.
"Romantis sekali." Rei menimpali.
Makoto tidak bisa meanahan pipinya yang merona merah. Sakura terkikik geli melihat wajah malu-malu milik Makoto.
"Kita mulai dari mana?" tanya Nagisa.
"Bagaimana jika menangkap cumi? Pertunjukan menangkap cumi?" Makoto balik bertanya.
"Um.. sepertinya menyenangkan." Sakura memandang Haru. "Bagaimana denganmu, Haru-kyun?"
"Terserah kalian saja."
"Pertunjukan aneh macam apa, itu?" tanya Rei.
Nagisa dan Makoto kompak memandang Rei. Di pandangi seperti itu, membuat Rei gelagapan.
"Ke-kenapa kalian memandangiku seperti itu?"
"Kau harus ikut, Rei-chan!"
Haru menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya ketika memandang teman-temannya. Sakura yang tadinya tertawa memandang Haru. Sepertinya mereka harus ekstra keras untuk menghibur Haru.
oOo
Rin berjalan tak tentu arah bersama dengan Nitori. Tidak. Dia membiarkan Nitori berbicara tetapi pikirannya tidak ada di ferstival. Dia memikirkan sesuatu yang lain.
Musim semi dan bunga Sakura. Haru dan Sakura.
Terkadang, Rin bingung dengan dirinya sendiri. Dia ingin mengalahkan Haru, dia tidak terima ketika Haru berhasil mengalahkannya saat mereka berdua duduk di kelas satu SMP. Sekuat apapun dia mencoba, dia tetap tidak akan bisa melampaui Haru.
Di Australia pun, dia juga selalu kalah. Itu membuatnya kesal. Sangat kesal.
Rin berfikir, apakah Sakura ada di festival ini juga. Dia ingin sekali bertemu dengan Sakura. Dia menyukai gadis itu dan dia ingin memiliki gadis itu.
Rin tahu, jika hati Sakura hanyalah milik Haru.
Di sisi lain, Rei menyikut lengan Nagisa. Membuat pemuda berambut kuning itu menolehkan kepalanya.
"Ada apa, Rei-chan?" tanya Nagisa.
Nagisa mengikuti arah pandang Rei. Dia bisa melihat Rin berjalan dengan Nitori. Tidak. Ini buruk jika Rin dan Haru bertemu. Mereka berencana membuat Haru melupakan masalahnya, jadi jika mereka bertemu sama saja bohong.
"Ne, Kura-chan." Nagisa memanggil Sakura. "Kemarilah."
Sakura memandang Nagisa dengan pandangan keheranan. Dia melepaskan tangannya dari lengan Makoto dan berjalan mendekati Nagisa juga Rei.
"Ada apa?"
"Rin-chan ada disini," bisik Nagisa.
"Eh? Benarkah?" Sakura menolehkan kepalanya, memandang Haru.
"Ini buruk bukan?" tanya Rei.
"Benar Sekali." Nagisa menimpali.
"Lalu, kita harus bagaimana?" Sakura memandang keduanya.
"Rei-chan akan mengikuti kemana Rin-chan pergi. Aku dan Kura-chan akan mengalihkan perhatian Haru-chan. Jadi, mereka tidak akan bertemu. Bagaimana?" usul Nagisa.
"Setuju!"
"Hei, kalian jangan mengambil keputusan sendirian," protes Rei.
"Ada apa?" tanya Makoto.
"Tidak ada apa-apa." Sakura menjadi panik. Dia melirik Rei, mencoba memberi kode pada pemuda berkacamata itu agar pergi dengan segera.
Mengerti kode yang diberikan oleh Sakura. Rei segera mencari alasan untuk bisa pergi.
"Perutku mulas, aku harus ke toilet."
Makoto memandang Rei dengan pandangan bingung. Sakura segera mengambil alih suasana.
"Bagaimana jika kita makan?" tanya Sakura.
"Iya Kura-chan, aku ingin cumi-cumi goreng!"
"Tapi aku belum lapar."
"Aku lapar sekali, Makoto-kun. Ayo kita makan." Sakura mengapit lengan Makoto dan menariknya untuk berkeliling festival.
Nagisa harus mengacungi jempolnya untuk alasan yang diberikan Sakura. Gadis berambut merah muda itu berjalan di depannya bersama Makoto dan dirinya bersama dengan Haru.
Nagisa mengirimi pesan pada Rei.
Tetap awasi Rin-chan, Rei-chan!
.
.
"Sakura, apa yang kamu sembunyikan?"
"Eh?" wajah Sakura menjadi pucat. Wajah khas miliknya ketika terkejut. Sakura menggigit bibirnya, Makoto tahu gadis itu sedang mencoba mencari alasan untuk berbohong.
"Jangan berbohong, Sakura. Katakan yang sejujurnya."
"Rin.. dia ada disini." Sakura berkata dengan pelan, agar Haru tidak mendengar perbincangan mereka.
"Rin?" tanya Makoto. "Disini?"
Sakura menganggukan kepalanya.
"Aku tidak mau membuat Haru terganggu suasana hatinya. Tujuan kita mengajak Haru agar dia bisa melupakan semua ini, agar dia bisa melupakan masalahnya dengan Rin. Jika dia bertemu dengan Rin, aku tidak tahu bagaimana akhirnya."
"Baiklah." Makoto tersenyum dan memandang Sakura. "Kita buat Haru bahagia malam ini."
.
.
Rei mengikuti Rin agar tidak ketahuan. Sebagai mata-mata, dia tidak boleh lengah. Baginya, dia seperti seorang mata-mata. Tetapi, setiap orang yang melihat tingkahnya, dia terlihat seperti orang bodoh.
Pemuda berkacamata itu terlihat heran ketika Rin malah berjalan menjauhi keramaian. Dia keluar dari festival dan berjalan menyusuri pinggir laut. Rei sepertinya tahu, kemana Rin akan pergi.
Dugaannya benar. Rin berdiri di depan sekolah dasar Iwatobi. Pemuda itu terlihat memandang sekolah di hadapannya.
Pengecut, pecundang, sialan! Rin merasa kesal pada dirinya sendiri.
Rei buru-buru mengetikkan sesuatu di ponselnya. Dia melihat Rin terlihat kesal dan berlari ke arahnya. Dengan panik, Rei berjongkok dan memegangi kepalanya.
Ternyata, Rin tidak melihatnya dan berlari begitu saja. Rei bersyukur dan mengetikan kembali pesan kepada Nagisa.
.
.
Rin-san pergi ke sekolah dasar Iwatobi.
"Sudah kuduga." Nagisa menjongkokan dirinya.
Sakura dan Makoto sedang menarik perhatian Haru agar tidak memikirkan masalahnya sekaligus memberikan kesempatan bagi Nagisa agar terus menghubungi Rei, guna menanyakan keberadaan Rin.
Bagi Sakura sendiri, dia bukannya tidak ingin bertemu dengan Rin. Dengan suasana seperti ini, bertemu dengan Rin akan memperkeruh suasana saja.
Tapi, Rin-san sudah pergi.
"Rin?"
Nagisa menolehkan kepalanya. Terkejut melihat Haru ada di belakangnya. Sakura dan Makoto terlalu bersemangat bermain memancing cumi, hingga tidak menyadari jika Haru mulai mendekati Nagisa.
"Etto.. aku bisa menjelaskannya." Sakura menengahi. "Jangan salahkan Nagisa-kun, aku yang bertanggung jawab."
"Biar aku yang jelaskan, Sakura." Makoto mengambil alih.
Makoto dengan lancar menceritakan semuanya. Mulai dari keinginan mereka membuat Haru tersenyum kembali, melupakan masalahnya, mendetail.
"Kalau begitu, panggil Rei kembali." Haru berkata sembari memandang Nagisa.
Nagisa tersenyum dan memandang Sakura juga Makoto. Mereka mengira jika Haru akan marah karena mereka menyembunyikannya. Tetapi, Haru tidak terlihat marah.
"Baiklah, aku akan memanggil Rei." Nagisa segera berlari menjauh.
"Haru, kamu tidak marah?" tanya Sakura. "Maksudku, kami-"
"Tidak apa, Sakura. Aku mengerti." Haru memandang keduanya. "Aku akan tetap berenang estafet bersama kalian. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya."
Sakura tidak bisa menahan senyumannya dan memeluk Haru dengan erat. Dia sungguh bahagia karena Haru ternyata baik-baik saja.
"Aku menyayangimu, Haru-kyun."
.
.
.
.
Di sisi lain, Rin berlari menuju stasiun membuat kaptennya dan Nitori memandangnya dengan keheranan. Rin membungkukan badannya dengan napas terengah-engah.
"Matsuoka, apa yang kau lakukan?"
"Kapten." Rin memandang kaptennya. "Aku punya permintaan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
Kayaknya semakin jauh dari aslinya.. Saku agak bingung masukin Sakura dimana.. jadinya banyak yang harus diloncati.. agak gak sesuai sama animenya sih..
Waktu itu ada yang bilang, kok gaada adegan ciumannya. Ada kok, nanti antara Rin sama Sakura wkwkkwkwkwk..
Silahkan tinggalkan cuap-cuap di kotak review yaa..
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
