Main Cast : Park Chan Yeol
Byun Baek Hyun (girl)
Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort
Rated : T (dapat berubah sewaktu-waktu)
A Town Where You Live
.
.
.
Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.
Mengapa saya tidak merubahnya?
Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.
.
.
Happy Reading ~
.
.
.
Previous Chapter
"Baru kali ini aku melihat orang bodoh berendam terlalu lama dan nyaris pingsan.."
"Ah mukaku terasa sangat panas dan kepalaku pusing.."
"Aku tak menyangka kau sebodoh itu.."
Baekhyun menatap Chanyeol dari belakang. "Setidaknya aku melakukan sebisaku untuk membantu kalian." Baekhyun menyandarkan kepalanya kepunggung tegap Chanyeol "Sehingga.. Kau dan Kyungsoo bisa berbincang lebih lama.." Baekhyun menutup matanya dan tersenyum. Sementara Chanyeol tersentak lalu terdiam..
Flashback End
.
.
(Chanyeol POV)
'Baekhyun memang terlihat kekanakan dan egois, tapi jauh di lubuk hatinya dia selalu mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Disitulah titik dimana dia menekan perasaannya sendiri demi orang lain.'
Chanyeol menatap sendu rumah Baekhyun yang sudah lumayan jauh dibelakangnya.
'Karena itulah.. aku kesini..'
(Chanyeol POV)
'Aku mengejarnya dari Busan ke Seoul. Aku melihat bayangan Baekhyun sekilas. Tapi, entah mengapa aku melihat dia seperti sedang menangis… Seperti hari itu'
Flashback on
(Normal POV)
Payung itu jatuh ketanah, dan hujan kini membasahi tubuh Chanyeol dan Beekhyun. Chanyeol melihat kearah Baekhyun yang sedang berjongkok dan menangis tersedu.
"Kalau Chanyeol tak ada di sisiku.. Kalau tak ada disini bersamaku.. Aku merasa tidak bisa melakukan apapun.." isak Baekhyun. Meskipun hujan turun dengan derasnya Chanyeol mendengar itu dengan jelas. Chanyeol segera menghampiri Baekhyun dengan wajah bingungnya.
.
.
.
Pagi itu hari sangat cerah, bunga sakura bermekaran dan terdengar kicau burung yang sangat merdu. Baekhyun sedang bersiap-siap menuju sekolah. Dia menggerai rambut panjangnya seperti biasa. Dia tampak sederhana namun cantik dengan seragam sekolah yang melekat pas ditubuhnya. Kemeja putih polos, dengan pita di kerahnya juga rok hitam selutut. Puas dengan penampilannya dia segera turun dan kedapur untuk memanggil Chanyeol.
"Chanyeol, ayo berangkat. Nanti kita terlambat.. Apa kau butuh bantuan?" ajaknya riang. Chanyeol yang sedang menata bekal makan siang mereka hanya melirik Baekhyun sekilas dan kembali fokus ke pekerjaannya.
"Tidak perlu" jawabnya singkat. Baekhyun melihat dengan teliti apa yang sedang disusun oleh Chanyeol. Seketika dia berlari dan berhenti tepat di depan Chanyeo.
"Tunggu! Lihat lihat lihaat! Kau melakukannya lagi. Kau memasukkan timun lagi ke kotak makan siangku.." sungutnya sambil menatap sengit kearah Chanyeol yang hanya di balas tatapan malas.
.
.
Chanyeol mengayuh sepedanya santai dengan Baekhyun yang terus mengeluh dibelakangnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan pipinya sedikit memerah.
"Kalau besok kau masih memasukan timun ke kotak makan siangku, aku lebih baik membuat sendiri milikku. Kau dengar itu?" sungutnya. Chanyeol terus fokus ke jalan didepannya. Dia terlihat agak lemas.
"Cerewet.." sahutnya lemah. Baekhyun yang mendengar jawaban singkat itu hanya tertunduk sedih memandangi ujung sepatunya.
.
.
Chanyeol membasuh wajahnya di keran taman yang ada di sekolahnya. Hari itu cukup terik.
"Aku merasa tubuhku sedikit lemah dan berat.." gumamnya sambil mengusap wajahnya. Tiba-tiba Jongdae datang.
"Yak! Park Chanyeol! Aku sudah dengar semuanya …" ujar Jongdae sedikit ketus. Chanyeol hanya menatapnya malas.
"Kau cerewet sekali Jong.."
"Kau pergi kepemandian umum dengan Baekhyun, kan? Apa maksudmu melakukan itu?" tanyanya penuh selidik.
"Apa maksudmu? Tentu saja tidak ada maksud apa-apa.." jawabnya malas. Minseok melihat kedua sahabatnya itu beradu mulut dan menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, Jong.. Kau ini senang sekali menggoda Chanyeol.."
Tak jauh dari sana, Baekhyun dan Kyungsoo sedang melihat kejadian itu.
"Chanyeol sepertinya sedang badmood hari ini… Apa ada hal terjadi di rumah?" tanya Kyungsoo terlihat sedikit khawatir. Baekhyun hanya mengendikkan bahunya, dia masih kesal dengan kejadian pagi ini.
"Entah. Aku tak peduli" jawabnya ketus seraya meninggalkan Kyungsoo yang hanya bisa terdiam. Sekitar 3 langkah berjalan, Baekhyun akhirnya tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dia segera membalikkan badannya kearah Kyungsoo.
"M-maaf Kyungsoo-ya, aku tak bermaksud membentakmu.."
"A-ah tidak apa Baek.." ucapnya dan segera menyusul Baekhyun berjalan kekelas mereka.
.
Jam makan siang pun dimulai. Beberapa siswa menggabungkan meja mereka agar bisa memakan bekal makan siang mereka bersama. Baekhyun mengeluarkan bekalnya dan juga sekotak susu stroberi kesukaanya.
"Ah~ lelahnyaa.. Teman-teman ayo makan bersama.." ajaknya kepada Minseok dan Kyungsoo.
"Mm, baiklah.." angguk Kyungsoo. Namun sebelumnya dia beranjak ke meja Chanyeol. Dia menatap sejenak Chanyeol yang menaruh wajahnya dilipatan tangannya diatas meja. Beberapa kali Kyungsoo mencoba membangunkan Chanyeol namun sangat sulit. Akhirnya pada panggilan kelima Chanyeol mengangkat kepalanya.
"Ah, ada apa Kyungsoo-ya? Maaf sepertinya aku sedikit tidak enak badan.." tanyanya lesu.
"Mau makan bersama?" Kyungsoo mendekatkan wajahnya kearah Chanyeol dan membuat Chanyeol mundur dengan wajar yang merona hebat "Kau terlihat sedikit pucat, Chan.."
"A-ah ya, ya aku merasa sedikit pusing sejak pagi tadi.." jawabnya lemah. Baekhyun yang melihat itu hanya bisa menggigit sumpitnya dan memicingkan matanya tak suka. Minseok hanya tertawa pelan didepannya.
Chanyeol mencoba berdiri dan berjalan dibelakang Kyungsoo menuju meja Baekhyun dan Minseok. Baru sekitar 2 langkah dan akhirnya Chanyeol terjatuh. Dia pingsan. Kyungsoo berbalik dan sangat terkejut.
"Chanyeol!"
"Chan! Astaga!" jerit Kyungsoo dan Baekhyun bersamaan.
.
.
Chanyeol terbangun dari tidurnya. Dia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari bahwa dia sudah dirumah. Pusingnya sudah sedikit mereda. Dia menengok kesamping kanannya dan mendapati nampan berisi segelas air dan obat. Dia mengernyit dan menyadari sesuatu. Dia langsung terduduk dan meraih handphonenya.
"Ah jam berapa sekarang? Baekhyun tidak akan berani pulang sendirian.." gumamnya. Namun tak sampai 5 detik kemudian dia mendengar suara Baekhyun di bawah.
"Aku pulaaanng…"
Setelah itu dia dapat mendengar suara langkah kaki Baekhyunyang tergesa nyaris berlari. Suara langkah kai itu terhenti didepan kamar Chanyeol sejenak.
"Aku masuk Chan"
Chanyeol meletakkan handphonenya kembali dan menatap Baekhyun yang sedang berjalan memasuki kamarnya.
"Yak! Apa yang kau lakukan?! Kau harusnya istirahat.." sahut Baekhyun. Dia sedang membawa keranjang yang berisi apel. Chanyeol baru akan menyahut sebelum ada suara lain yang menyahutinya.
"Chanyeol? Kau sudah baikan? Apa masih terasa pusing?" suara Kyungsoo terdengar sangat khawatir. Chanyeol segera melirik ke bawah samping kiri tempat tidurnya. Gawat! Dia segera mendorong semua majalah dewasanya ke kolong tempat tidurnya dan segera berbalik kearah Kyungsoo memasang wajah seramah mungkin.
"Aku sudah baikan.. Silahkan masuk.." Chanyeol kembali berbaring. "Bagaimana kau bisa pulang, Baek?" tanyanya kepada Baekhyun.
"Aku diantar Kyungsoo pulang dengan sepedanya.. Kenapa kau bertanya? Kau menganggap remeh diriku ya?" jawabnya sedikit ketus. Chanyeol memalingkan wajahnya kearah jendela disebelah kirinya.
"Kau tak akan bisa makan siang tanpaku, dan tak akan bisa berangkat kesekolah tanpaku, bodoh.." gumam Chanyeol pelan. Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya, Kyungsoo yang gemas pun mencubit pipi Baekhyun.
"Chanyeol hanya berusaha menunjukkan tanggung jawabnya terhadapmu, Baek.." Baekhyun semakin sebal dan melarikan pandangannya kearah apel yang dibawanya. Chanyeol berdehem lalu melirik kearah Kyungsoo.
"Aku tak menyangka kau datang untuk menjengukku, Kyungsoo-ah.. Maaf merepotkanmu ya.." ucap Chanyeol yang diakhiri oleh senyum tampannya.
"Aku sangat cemas ketika melihatmu tiba-tiba pingsan, Chanyeol.."
"Ya, tapi aku sudah tak apa.. Sepertinya aku cuma terkena flu biasa.." jawab Chanyeol lembut berusaha menenangkan Kyungsoo. Baekhyun hanya menundukkan kepalanya dan menguatkan pelukannya kekeranjang apel yang sedang dia peluk. Tiba-tiba ponsel Kyungsoo berbunyi.
"Ah, itu pasti oppaku.." ujar Kyungsoo seraya beranjak menuju tasnya "permisi sebentar ya.." Kyungsoo segera keuar kamar untuk menjawab telfon dari kakaknya.
Chanyeol dan Baekhyun hanya terdiam. Hingga Chanyeol memutuskan untuk memecah keheningan.
"Apa masih ada yang yang perlu kau sampaikan?" tanyanya cuek. Baekhyun hanya terus menunduk.
"Aku kan sudah memberitahumu kemarin kalau aku tak suka timun dan memintamu jangan meletakkannya dia kotak makan siangku, tapi kau masih saja memasukkannya.. Kau juga hanya diam ketika kau sakit.. Aku sempat mengira kau marah padaku.. Aku bahkan tidak bisa pulang kalau bukan Kyungsoo yang mengantarkanku.." lirihnya. Chanyeol segera memalingkan wajahnya menghadap Baekhyun. Dia segera duduk tegap dan menatap Baekhyun jengah.
"Sebenarnya kau mau bilang apa sih?"
Baekhyun mengangkat wajahnya. Chanyeol terkejut melihat mata Baekhyun yang berkaca-kaca. Namun yang tak ia sangka adalah Baekhyun memeluk lehernya dan mendaratkan sebuah ciuman dibibirnya. Dia terpaku dengan mata yang membulat lebar. Baekhyun meremat bagian depan piyama yang dipakai Chanyeol.
Kyungsoo sudah selesai menelfon, dia membuka kamar itu dan menemukan Baekhyun yang duduk ditempatnya semula sementara Chanyeol berbaring memunggunginya.
"Maaf, aku terlalu lama menelfon ya.." Baekhyun berbalik dan tersenyum.
"Tak apa.. Apa kau sudah selesai?" tanyanya.
"Ya.. Bagaimana Chanyeol?"
"Dia sudah tertidur, sepertinya.."
"Begitu ya.. Aku pamit pulang saja kalau begitu.."
"Baiklah, hati-hati dijalan Kyungsoo ya…"
Setelah Kyungsoo pulang, kini Baekhyun duduk berhadapan dengan Chanyeol yang sedang mempermainkan sebuah apel ditangannya. Wajanya sedikit merona mengingat kejadian tadi. Dia memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Apa maksudnya tadi?"
"Apa?" Tanya Baekhyun polos.
"Ciuman kita …" ucap Chanyeol. Baekhyun berdiri dan berjalan membelakangi Chanyeol mengahadap kepintu.
"Itu hanya sebagai penyembuh. Kata orang berciuman dapat meredakan flu seseorang denga cepat" jawabnya, lalu dia menoleh kearah Chanyeol dengan senyumannya. "Di Seoul itu sangat popular.." Chanyeol tiba-tiba merasa sangat marah.
"Kau pikr mentang-mentang aku berasal dari desa kau bisa menganggapku bodoh?!"
"Aku tak bermaksud jahat, itu juga sebagai ucapan terimakasihku padamu karena kau selalu ada untukku.." jawabnya tenang masih dengan senyuman melekat dibibirnya. Chanyeol malah semakin tersulut emosinya, merasa dipermainkan.
"Kau pikir kau siapa?!" bentaknya. "Apa kau pikir semua laki-laki di muka bumi ini akan senang mendapatkan ciuman darimu, hah?!" Baekhyun tersenyum pahit dan menunduk.
"Bukan begitu.. Aku hanya-" ucapannya terpotong karena tiba-tiba saja Chanyeol sudah berdiri didepannya.
"Aku tahu kalau kau mungkin menganggapnya hal biasa dan hiburan semata.. Tapi aku juga punya batas kesabaran.. Kau selalu saja merepotkanku dan mempermainkanku.."
"Cukup!" potong Baekhyun. "Mulai besok kau tak usah mempedulikanku atau mengusikku lagi. Kau tak akan mengerti. Kau juga pasti senang dengan hal ini."
"Bahkan tanpa kau suruhpun aku akan melakukannya!"
"Chanyeol bodoh!" Baekhyun segera berlari keluar dari kamar itu. Chanyeol terdiam.
"Kenapa jadi dia yang marah? Dasar aneh.."
Keesokan harinya..
Nyonya Park sedang mengecek suhu tubuh anaknya.
"Suhu tubuhmu masih tinggi, sayang.. Sepertinya kau belum bisa masuk sekolah hari ini.." Chanyeol mengunyah potongan apelnya santai dan menatap ibunya.
"B-bagaimana dengan Baekhyun, bu?"
"Oh, Baekkie akan diantar oleh ayahmu.. Dan pulangnya dia bilang akan meminta Jongdae mengantarkannya.." entah kenapa dia merasa bersalah.
Jam sudah menunjukkan angka 5 sore dan diluar hujan turun dengan derasnya. Chanyeol terbangun karena mendengar suara dering ponselnya.
"Jongdae ah…"
" Hey Chan! Bagaimana keadaanmu?"
"Ah sudah lebih baik hanya masih sedikit demam.. Ada apa kau menelpon?"
"Mm.. Sebenarnya aku hanya mau memberitahumu.. Hari ini Baekhyun terlihat sedih dan itu membuatku sedikit khawatir. Jadi aku menawarkannya tumpangan untuk pulang tapi dia menolaknya. Dia bilang kau akan menjemputnya.."
"Hah?" Chanyeol sedikit tersentak mendengarnya. Dia segera menutup telfon dan memakai jaket. Dia mengayuh sepedanya dengan tergesa-gesa dan dia terus saja mengeluh sepanjang jalan betapa bodohnya Baekhyun, kenapa dia tidak pulang, apa yang dia lakukan, dan masih banyak lagi.
Baru setengah perjalanan dia melihat Baekhyun yang berjalan pelan sambil tertunduk memegang payungnya. Dia segera turun tanpa mempedulikan sepedanya yang jatuh dan berlari menuju Baekhyun. Baekhyun mengangkat kepalanya dan terkejut.
"Chanyeol? Tapi ken-"
"Tentu saja menjemputmu, bodoh!" Baekhyun menunduk.
"Kalau memang mau menjemputku, kau harusnya datang lebih cepat!" Chanyeol terhenti sedikit bingung dengan sikap Baekhyun.
"Kau ini kenapa sih? Aku mengkhawatirkanmu.." Baekhyun terduduk dan mulai terisak.
"Kalau Chanyeol tak ada di sisiku.. Kalau tak ada disini bersamaku.. Aku merasa tidak bisa melakukan apapun.." isak Baekhyun. Meskipun hujan turun dengan derasnya Chanyeol mendengar itu dengan jelas. Chanyeol segera menghampiri Baekhyun dengan wajah bingungnya.
"Hei hei, maafkan aku ya.. Aku yang salah.. Aku minta maaf.." bujuk Chanyeol sambil mengusap bahu Baekhyun. Entah kenapa dia sangat merasa bersalah melihat Baekhyun yang biasanya ceria menangis seperti ini.
Diperjalanan pulang …
"Kakiku sakit…" lirih Baekhyun sambil mengeratkan pegangannya dibaju Chanyeol.
"Apa?"
"Kakiku sakit, dan ini sudah gelap.. Aku ketakutan disepanjang jalan.." Chanyeol hanya tersenyum simpul mendengarnya.
"Begitu ya.."
Flashback End
.
.
.
(Chanyeol POV)
'Dia selalu bersikap sok kuat padahal sebenarnya dia sangat cengeng.. Takut sendirian tapi berpura-pura berani.. Karena aku tahu dia seperti itu makanya aku datang ke Seoul'
(Normal POV)
Chanyeol terus memandangi jendela itu hingga bayngan Baekhyun menghilang. Tak lama kemudian pintu pagar itu terbuka dan Krystal berjalan mendekati Chanyeol.
"A-anu.. Eonnie belum pulang.." cicitnya sambil tertunduk. Chanyeol hanya tersenyum pahit.
"Baiklah.. Tolong sampaikan padanya aku ada di Seoul.." ujar Chanyeol berusaha tersenyum. Krystal memandang Chanyeol cukup lama dengan wajah bingungnya.
"Oppa akan kembali lagi kesini? Jika ya, maka kau harus menghubungiku dulu.. Kalau eonnie tidak sibuk, aku akan memberitahu oppa" ucapnya sambil memandang kearah lain. Chanyeol hanya tertunduk dan berjalan melewati Krystal.
"Baiklah. Aku mohon bantuannya.." Krystal memandang punggung tegap Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan.
.
.
Chanyeol duduk dikasur kakaknya, dia sedang menelfon Minseok.
"Apa?! Jadi kau belum bertemu dengannya?"
"Yak! Kau pikir situasinya semudah yang kau bayangkan?!"
"Ah alasan. Jangan bilang kau malah terjerat oleh gadis-gadis Seoul.." sinis Minseok. Chanyeol baru akan menjawab tapi suara kakaknya sudah duluan memotong perkataannya.
"Chan ah.. Tolong ambilkan handuk dan pakaian dalamku.." teriak kakaknya dari dalam kamar mandi. Minseok terkejut dan langsung meikirkan hal yang aneh-aneh.
"Yak! Suara siapa itu Chanyeol?!"
"Huft. Itu Yoora noona. Noonaku.."
"Yah, semoga saja begitu.." sinis Minseok lagi. "Kau yakin kau tidak sedang di hotel dengan seorang gadis?"
"Apa?! Yak! Kim Minseok!"
Keesokan harinya..
Chanyeol sedang asyik menghapus papan tulis sampai seseorang memukul pelan kepalanya dengan tongkat.
"Lagi. Kau murung lagi.." sungut Luhan.
"Ah, Luhan.. ku kira siapa.." ucapnya sambil menggosok kepalanya yang sebenarnya tidak sakit.
"Kalau kau murung seperti ini terus, tidak ada yang akan mau bicara dan berteman denganmu bodoh.."
"Bukan begitu, a-" ucapannya terpotong oleh salah satu teman kelasnya. Wanita itu menghampiri Luhan.
"Luhan-ah, aku punya teman disekolah khusus wanita XOXO high school dan aku punya 2 tiket festival mereka kali ini.." Chanyeol tersentak mendengar nama sekolah itu. Sementara tak jauh dari sana Kris hanya memandangi mereka dengan wajah datar.
"Maaf, sebenarnya aku ingin pergi.. Tapi club kami sudah memiliki acara sore ini.." Ujar Luhan. Chanyeol langsung menggenggam tangan gadis itu.
"Kumohon, ajak aku kesana.." pintanya dengan sedikit mendesak. Ketiga orang itu mendang Chanyeol dengan wajah terkejut. Gadis itu, Ren, merona hebat sementara Kris terdiam mematung melihat reaksi Chanyeol.
"B-baiklah Chanyeol.." cicitnya memerah.
Luhan berjalan menghampiri Kris. "Anak itu kenapa sih? Dia memang mau pergi ke festival itu atau hanya sekedar ingin pergi bersama Ren ya.." Kris hanya tersenyum simpul.
"Sepertinya bukan karena kedua alasan itu.." Jawabnya lalu melenggang pergi meninggalkan Luhan di depan pintu kelas.
.
.
Kris terlihat sedang mengotak-atik motor kesayangannya. Dia sedang menunggu kedatangan Chanyeol.
"Hei Kris.."
"Oh Chanyeol kau sudah sampai?" sapanya ramah. Memutar beberapa baut lalu dia segera berdiri dengan wajah puas menatap motornya "Perkenalkan ini soulmateku.. Baguskan.."
"Yah, mungkin.. Aku tak begitu paham soal motor." Jawab Chanyeol seadanya. Kris kembali berjongkok didepan motornya.
"Kau ingin menemui seseorang di XOXO high school kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku hanya asal menebak. Tapi bagaimana mungkin kau bisa menemui orang itu kalau kan pergi bersama wanita lain?" Chanyeol sedikit tersentak dengan pernyataan Kris. Dia baru menyadarinya. Kris berjalan kearahnya dan merangkul bahunya "Kalau kau bilang ingin pergi padaku aku pasti bisa membantumu. Aku juga punya tiketnya.."
"Yak1 Kenapa kau tak bilang padaku sedari tadi?!"
Ah, sepertinya aku harus datang dan membantumu.."
"Terima kasih Kris, dan maaf merepotkan.." Jawab Chanyeol sedikit merasa bersalah.
.
.
At XOXO girl's high school.
Terlihat Ren menunggu didepan gerbang sekolah itu dengan wajah yang sedikit kesal. Beberapa belas menit setelahnya, Chanyeol datang dan melambai kea rah Ren.
"Hai Ren.." sapanya santai. Ren langsung memandang tajam kearah Chanyeol.
"Kau terlambat!" tunjuknya kearah Chanyeol. Chanyeol kebingungan dan langsung mengecek ponselnya.
"Kupikir aku tepat waktu.." Chanyeol yang yakin dengan jam ponselnya kembali menatap Ren dengan tatapan bertanya.
"Dimana-mana, laki-laki harusnya datang terlebih dahulu dan kemudian menunggu si gadis datang.. berkurang satu!" sungutnya membuat Chanyeol bingung luar biasa. Ren berdehem sejenak dan mengibas rambutnya.
"Baiklah.. Mari kita masuk.." ucapnya riang memasuki sekolah khusus wanita itu duluan sementara Chanyeol mengekor dibelakanganya.
Banyak stan stan sederhana disepanjang jalan masuk maupun halaman sekolah itu. Ada yang menjual makanan tradisional, kafe, pertunjukan sulap sederhana, stan games, dll. Chanyeol mengecek brosur yang dibawanya. Dia mengecek seluruh tempat dengan teliti dan berniat mengunjungi semua stan satu per satu untuk bertemu dengan Baekhyun.
"Ah apa harus bertanya pada Minseok club yang dimasuki oleh Baekhyun ya.." baru saja dia akan mengetik sms, Ren berbalik.
"Selanjutnya kita mau kemana? Hei! Ckckck berkurang dua!" Chanyeol makin dibuat bingung. "Lelaki harusnya menentukan kemana arah dan tujuan yang selanjutnya.." Chanyeol hendak bertanya namun ponselnya terlanjur bordering.
"Tunggu sebentar ya Ren.."
"Ah, berkurang 3! Mengecek ponsel disaat kencan itu apa maksudnya.." sungut Ren. Dia berjalan menghampiri Chanyeol dan menarik lengannya.
"Tapi kan kita tidak sedang berkencan.."
"Sudahlah, ayo pergi.. Aku sudah tahu kita akan kemana" Chanyeol ingin menolak ditarik dan dengan susah payah akhirnya dia berhasil mengirim pesan ke Minseok, tapi matanya kini terpaku pada pesan yang masuk.
From : Baekhyun
Kurasa sudah saatnya kita bertemu.. Kau ada dimana?
Disisi lain di kafetaria sekolah khusus wanita XOXO Kris tengah duduk bersama temannya sambil mencari keberadaan Chanyeol.
"Anak itu dimana sih.." gumamnya.
.
.
Disinilah Chanyeol dan Ren, berjalan ditengah ruangan menakutkan untuk orang-orang yang ingin menguji nyali mereka. Rumah Hantu. Ren menggigil ketakutan sementara Chanyeol mencoba terus menjauhkan Ren darinya.
"Aaaaakkk! Chanyeol!" jeritnya.
"Ya ya ya, lepaskan lenganku dna jangan terlalu dekat.." sungut Chanyeol.
"Biarkan saja! Lagipula laki-laki kan menyukai yang seperti ini. Kyaaa!" Ren berteriak ketika terlihat hantu wanita menyeramkan dibelakangnya. Dia panic dan hampir saja terjatuh kalau Chanyeol tidak memeluk pinggangnya.
"Hati-hatilah Ren, disini cukup gelap dan berbahaya kalau jatuh.." ucapnya dengan masih memeluk pinggang Ren. Ren cukup terpesona dengan wajah Chanyeol dari jarak yang bisa dibilang cukup dekat itu.
"Y-ya baiklah.. Hmm, kalau dilihat baik-baik kau ini lumayan juga.."
"Hah?! Apa maksudmu?" belum sempat Ren menjawab hantu berjubah putih itu datang lagi mendekat. Ren langsung memeluk Chanyeol erat. Chanyeol berteriak dan berusaha melepaskan pelukan itu.
"Cukup! Ayo pergi dari sini Chanyeol.." teriak Ren kemudian menarik pergelangan tangan Chanyeol dengan cukup keras. Alhasil, mereka terjatuh dengan Chanyeol menindih Ren. Yang lebih mengejutkan ada posisi tangan Chanyeol telah mendarat manis diatas dada Ren yang dressnya telah tersingkap jauh ke atas dadanya. Chanyeol membulatkan matanya sementara Ren terdiam dan merona.
"Mesum! Kau didiskualifikasi!" ucap Ren dan langsung menampar Chanyeol dengan keras. Seorang hantu wanita lain bergabung melihat kejaian itu. Yang baru datang terlihat bingung sementara yang tadi menakut-nakuti tak tampak wajahnya karena tertutup kain putih.
"Sudahlah! Aku sekarang sudah tahu maksudmu Chanyeol. Dasar mesum!" teriak Ren lalu dia berlari meninggalkan Chanyeol yang masih terduduk memegang pipinya.
"Yak! Ren. Tunggu.. Kau salah paham.."
"Wah, pacarnya kasar sekali. Prianya pasti sangat kewalahan mengurusnya.." sahut hantu yang baru datang. Hantu yang berjubah putih itu menarik kain yang menutupi wajahnya. Dia hanya menatap dalam diam Chanyeol yang mengejar Ren dan terlihat menjelaskan masalah itu.
Setelah kejadian itu Chanyeol akhirnya mengajak Ren untuk pergi ke kafetaria bertemu Kris.
"Ah, kalian lama sekali. Apa yang kalian lakukan dari tadi?" Tanya Kris malas.
"Itu ada sedikit masalah tadi.. Ban-" belum selesai Chanyeol menjelaskan ponselnya berdering nyaring. Sebuah pesan dari Minseok yang berhasil membuat Chanyeol panik dan berlari dengan kencang menuju rumah hantu itu lagi.
From : Minseok
Seharusnya dia sedang berada di Rumah Hantu sekarang. Kelasnya mendapat bagian itu.
Disepanjang jalan dia terus saja merutuki kebodohan dan kesialan yang tadi. Dia berharap kalau Baekhyun tidak melihat apapun yang terjadi dengannya di dalam Rumah Hantu tadi. Dia berlari dan beberapa kali terjatuh, namun dia tak peduli. Yang dia inginkan sekarang adalah dia segera bertemu dan berbicara dengan Baekhyun.
.
.
Disisi lain sekolah, Baekhyun berjalan dengan hati-hati berharap dia tak bertemu Chanyeol lagi. Ya, dia melihat semuanya. Dia adalah hantu yang menakuti Ren hingga Ren ketakutan. Itu bukanlah niatnya, dia hanya menjalankan tugasnya. Dia membeli satu balon merah dan berjalan pelan.
.
.
Chanyeol sampai dirumah hantu dan segera bertanya pada seluruh wanita disana tentang keberadaan Baekhyun. Namun, semuanya berkata bahwa Baekhyun sudah pergi keluar. Chanyeol mendengus kasar. Dia bingung, sangat bingung. Dimana lagi dia harus mencari Baekhyun. Chanyeol tak putus asa, dia berlari dan berkeliling kesetiap sudut sekolah sampai matahari nyaris tenggelam dan tidak juga menemukan Baekhyun. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kelas yang dia tahu kelas Baek
"Chanyeol.." suara lirih itu, suara yang sangat Chanyeol rindukan. Secepat kilat dia menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati Baekhyun yang berjalan kearahnya sambil menunduk.
"B-baekhyun.. Baekhyun-ah.." Baekhyun tersenyum.. Namun matanya sarat akan kesedihan.
"Lama tak berjumpa.. Senang bertemu denganmu" lirihan Baekhyun terdengar sangat jelas. Tak ada siapapun dikelas sore itu. Mereka berdua hanya bertemankan matahari sore dan angin yang masuk ke ruangan kelas yang nyaris gelap itu.
"A-aku sangat mengkhawatirkanmu Baek.." ucap Chanyeol terbata. Hatinya ingin meledak saking rindunya dan banyaknya pertanyaan yang ingin dia tujukan kepada Baekhyun tapi dia tak mampu. Semuanya lenyap. Chanyeol menunduk tak tahu harus melakukan apa. Dia hanya ingin merengkuh dan memeluk Baekhyun erat tapi dia tak bisa mengingat status mereka yang sudah diubah secara sepihak oleh Baekhyun.
"Kau menghilang begitu saja tanpa berkata apapun padaku.." Baekhyun hanya mengangguk kecil menanggapi itu dan mengucapkan kata 'maaf' dengan suara yang sangat halus nyaris tak terdengar. Chanyeol mengangkat wajahnya berusaha terlihat biasa saja.
"Ah iya, aku tadi masuk kerumah hantu.."
"Ya. Aku tahu, aku melihatmu tadi.." Chanyeol terkejut setengah mati.
"Jangan salah paham, gadis itu hanyalah teman sekelasku-"
"Chanyeol, mengapa kau datang kesini?" pertanyaan Baekhyun itu sontak menyulut emosi Chanyeol.
"Sudah jelas kan? Aku-"
"Aku hanya berfikir, kalau kita berhenti saling berkomunikasi seperti sekarang ini akan membuatmu melupakanku.. Tapi sepertinya aku salah.." Chanyeol membulatkan matanya. Perasaannya sungguh tak enak saat ini ".. aku seharusnya berbicara secara langsung denganmu untuk memperjelas semuanya.." Baekhyun melepaskan balon merahnya bersamaan dengan balon pengunjung lainnya yang ada dibawah, memang pada jam itu sudah direncanakan semuanya akan melepaskan balon serempak. Baekhyun menatap balon itu sejenak dan kembali menatap Chanyeol, dia membungkuk..
"Maafkan aku.." Baekhyun berujar dengan pelan "Aku sudah memiliki kekasih lain…" Chanyeol menunduk dan melangkah mundur.
"… aku tahu aku sangat egois, tapi kumohon lupakan aku.." mata Baekhyun berkaca-kaca namun Chanyeol tak dapat melihatnya.
"A-apa?"
"Jadi, berhentilah menemuiku.. Kumohon.." setelah itu Baekhyun berbalik dan melangkah pergi. Ingin sekali Chanyeol berlari dan mengejar Baekhyun tapi dia tak bisa. Badannya kaku, telapak kakinya seperti tertempel dengan erat dilantai tempat dia berpijak.
.
.
(Chanyeol POV)
'Gadis yang tak ku kenal, berkata dia senang bertemu denganku untuk yang kedua kalinya. Dulu aku tak tahu siapa dia, dan sekarang dia kembali menjadi orang tak kukenal..
..Cahaya matahari yang menyinari tubuhku terasa menyesakkan..'
.
.
.
TBC
.
.
Hai semuanya, maafkeun diriku yang tak bertanggung jawab ini. Maaf ya buat para reader yang menunggu FF ini (emang ada? Hahaha) saya sibuk dengan tugas kuliah dan mood untuk menulis sempat hilang. Saya juga belum menemukan ide untuk melanjutkan, dari pada saya memaksakan diri dan berakhir dengan membuat kalian kecewa, maka saya memutuskan untuk mempending ini.
Tapi saya sudah kembali kok. Hihi.
Hayolohh, Baekhyun sudah datang dan mengaku tuh. Kasian Chanyeol dong udah jauh-jauh datang malah diginiin.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Siapa pacar Baekhyun?
Apa yang akan Chanyeol lakukan? Ngerebut? Atau relakan saja?
Apa Chanyeol pulang saja?
.
.
Big Thanks to : [ ],[lightsaberyeol],[Guest1],[leeminoznurhayati],[whey.K],[anaktiri],[kimkaiX],[Nur Syafitri Shiners Exo-l],[yousee],[kumaberry]
Karena sudah mau repot-repot review. Terutama yang udah review disetiap chapter sampe sekarang.
Makasih juga buat yang udah follow dan favouritin FF ini semoga kalian puas ya sama chapter ini.
P.S : Maaf buat reader yang minta sequel untuk TKP dan BCFS saya masih stuck. Saya tidak berjanji, tapi kalau sudah mendapat ide akan saya coba untuk membuatkan sequelnya.
.
.
Lastly, tolong reviewnya yaa.. Sedikit jejak kalian bisa menyemangati saya untuk fast update.. Saranghae. Bunny.
