Author's notes:

- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.

- Ditulis hanya untuk hiburan.

- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.

- Alternate Universe setting out of character.

- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.

- Didedikasikan untuk event Flore 2016.


A Story of Fond Memories

.

.

.

Chapter Two

A Photo

.

.

.

Ino menyesap cokelat panasnya lalu memakan muffin-nya dalam senyap sambil memandang ke luar jendela yang mengarah ke pemandangan kota yang putih terselimuti salju. Tempat di mana ia bisa menikmati waktu sendirian tanpa gangguan ternyata hanya di apartemenya. Saat ini ia merasa beruntung karena tidak bertemu dengan Sai selama beberapa hari.

Ia tak menyangkal bahwa ia sangat tidak menyukai pemuda itu. Tapi kemudian ia juga menyadari bahwa ia tak mencoba menyangkal saat ia memikirkan pemuda itu berkali-kali. Ada sebuah perasaan mengganjal yang membuatnya bingung. Seperti ia pernah mengenal Sai walaupun sebenarnya ia tidak mengenalnya sama sekali. Rasanya pemuda itu tidak asing.

Saat Ino memejamkan mata—seperti film yang berjalan cepat—wajah Sai yang tengah tersenyum muncul secara tiba-tiba dan kurang dari satu detik menghilang lagi.

Ino tidak mengerti, sama sekali tidak. Kenapa Sai terasa tidak asing? Kenapa ia merasa ia merindukan lelaki itu? Kenapa? Dan kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa tidak ketika ia bertemu Sai beberapa hari lalu? Kenapa ia menolak kehadiran Sai mentah-mentah? Kenapa ia tidak bertanya pada Sai apakah ia mengenali lelaki itu? Ia bodoh sekali!

Ino bingung! Di satu sisi ia membenci Sai dan tidak mengenalinya sama sekali, dan di sisi yang lain ia merasa bahwa lelaki itu tidak asing dan ia merindukan lelaki itu! Ini aneh! Apa yang terjadi dengannya? Siapa Sai sebenarnya?

Haruskah Ino menghampiri Sai? Tapi di mana?

Ino menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak-tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!

Ino menggigit bibirnya dan akal sehat mulai kembali ke dalam pikirannya. Selama ini Ino berusaha mencari tahu tentang lelaki berrambut pirang yang sesekali wajahnya mampir di memorinya dan sekarang Sai juga beberapa kali bersinggah di memorinya. Mungkinkah Sai salah satu dari hal yang Ino lupakan selain lelaki pirang itu? Mungkinkah? Bagaimana pun kemungkinan itu tidak mustahil.

Dengan gusar, Ino menggaruk-garuk kulit kepalanya. Apa yang harus ia lakukan?! Sudah terlalu terlambat bagi dirinya untuk menemui Sai! Lelaki itu pasti sudah membencinya sekarang! Oh, betapa Ino sudah bertindak sangat tidak pantas kepada Sai! Sudah terlalu terlambat bagi dirinya untuk mencari Sai dan meminta maaf.

Aku hanya ingin… mengenalmu.

Saat suara Sai terngiang di kepala Ino, Ino baru menyadari bahwa terselip rasa sendu dalam kalimat dengan suara lirih itu.

Ino mendesah resah, gadis bertubuh tinggi itu tidak ingat sudah berapa lama ia melamunkan ini.

Sai Shimura. Menyebutkan namanya membuat kepala Ino sakit.

"Baik! Aku mulai gila!" Ino bicara pada diri sendiri sambil mengacak-acak surai pirang lurusnya dengan sebal.

Mungkin musik akan sedikit menghiburnya.

Ino membuka laci meja belajarnya dan mengambil headphone merah dan iPod dari sana. Ketika sebuah headphone berhasil diangkatnya, ia bisa menemukan sebuah bingkai foto kecil tergeletak di lacinya dengan posisi terbalik. Ino meletakan headpone-nya di atas meja, mengabaikannya. Perhatiannya kini lebih tertarik pada bingkai foto dengan material kayu tersebut. Kenyataannya, Ino tidak ingat bahwa ia memiliki benda itu.

Tangan Ino meraihnya dan membaliknya. Dadanya mendadak panas ketika melihat objek foto dalam bingkai tersebut. Alis Ino mengerut dan tanpa sadar ia mulai menahan napas.

Foto itu adalah foto—selfie setengah tubuh—dirinya yang tengah tersenyum sambil memegang kamera dan duduk di sisi sebuah ranjang rumah sakit. Bukan itu yang jadi masalah, tapi seseorang di samping Ino. Seorang pemuda berseragam pasien rumah sakit dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya. Pemuda yang tengah duduk di atas ranjang itu tersenyum ke arah kamera dengan selang infus tertancap di salah satu tangannya. Jarak Ino dengan pemuda itu begitu dekat.

Ino memerhatikan wajah lelaki itu lebih jeli.

"Sai…" lirihnya.

Astaga, Sai! Seorang pemuda di foto itu adalah Sai! Sai Shimura! Ya Tuhan, jadi Ino sempat mengenali Sai? Bagaimana Ino bisa melupakannya? Foto ini adalah bukti yang kuat.

Ino bergegas menarik syal di balik pintu kamar dan meraih mantel cokelatnya yang juga tergantung di sana. Dengan gesit, Ino kenakan dua benda itu lalu mengambil key card yang tergeletak di atas meja rias. Lalu ia mengambil sepatu boot-nya di rak sepatu dan berjalan cepat keluar apartemennya kemudian menutup pintu dan berjalan ke arah elevator.

Setelah sampai di lobi, Ino bergegas keluar meninggalkan gedung apartemen dan menerobos salju yang turun.

Ino mengumpat, "Sial!" Ino tidak tahu harus pergi ke mana untuk mencari Sai. Mereka baru bertemu beberapa kali dan pertemuan mereka tidak lebih dari dua puluh empat jam! Identitas Sai yang Ino ketahui hanyalah fisiknya dan namanya! Sebatas itu! Apakah itu cukup untuk memberikan Ino kesempatan bertemu dengan Sai lagi meski hanya sekali lagi? Logika berkata: jawabannya adalah satu berbanding satu triliun.

Ino menutup matanya sejenak di bawah traffic light sebelum memutuskan ke mana kakinya akan melangkah.

Sai selalu hadir di saat Ino sedang berada di tempat umum. Tempat umum… Stasiun… Apakah Sai akan ada di stasiun?

Ino membuka matanya kembali dan menampilkan iris mata birunya yang indah. Ia tak akan tahu jika belum mencoba 'kan? Ino memutuskan untuk pergi ke Paddington Station.

Selama dalam perjalanan ke sana Ino terus dijejali dengan umpatannya sendiri. Ini gila! Benar-benar gila! Orang waras mana yang mencari orang asing tanpa menggunakan petunjuk yang cukup? Dan oh! Kenapa stasiun?! Ino tidak tahu jawabannya, dan itu artinya ia bodoh.

Tetapi tetap saja Ino tidak menyerah sebelum mencoba.

Saat sesal menguasai pikiran Ino, ia mulai bingung dalam mencoba memahami dirinya sendiri. Saat Sai datang, Ino langsung mengusirnya tanpa mendengar penjelasan lengkap darinya. Dan saat Sai pergi, Ino mencarinya tanpa sedikitpun tahu alamatnya. Lengkap sudah kebodohan Ino.

Dari cara Sai bicara padanya selama ini, Ino kini bisa memahami betapa tidak nyamannya Sai dan betapa Sai berusaha menutupinya sebisa mungkin. Itu pasti karena lelaki itu memang mengenali Ino sejak awal, tetapi lelaki itu tahu bahwa Ino tidak mengenali Sai sehingga Sai bingung mau bicara apa. Karena lelaki itu selalu berusaha mendekati Ino, Ino jadi dibutakan oleh opini yang dibuatnya sendiri tanpa berusaha mencari tahu apa tujuan Sai sebenarnya.

Ya, Ino yakin pikirannya sekarang adalah benar. Karena buktinya—foto itu—memang benar ada!

Begitu sampai di Paddington Station, arsitekturnya yang indah sama sekali tidak memanjakan mata Ino karena pikirannya sedang terfokus pada Sai.

Ino diam-diam mengamati setiap orang yang lewat di tengah keramaian. Cukup lama Ino berjalan luntang-lantung menyusuri lantai stasiun yang berwarna peach itu.

Entah berapa lama waktu terbuang percuma di sini, Ino tidak mendapatkan hasil dan hari tak terasa sudah malam dan stasiun mulai sepi.

Ino pulang dengan perasaan gelisah, ia tidak mengerti kenapa ia begitu ingin cepat-cepat bertemu Sai, ingin segera menemui lelaki itu. Dan ia mendapati Sai adalah orang yang begitu penting baginya.

Di dalam taksi bercat hitam, Ino melamun memandangi salju yang turun. Namun dapat dipastikan, objek pandangan dan pikirannya tidak sejalan. Yang menjadi pusat pikirannya sekarang adalah: ia mencari satu orang di antara kurang lebih 8.174.100 jiwa yang menetap di London dengan luas 1.570 km persegi. Benar-benar masuk akal.

Oh! Bahkan mungkin lelaki itu sudah meninggalkan London. Ino yakin Sai memiliki darah Jepang, tidak menutup kemungkinan bahwa lelaki itu pergi ke Jepang 'kan? Tokyo? Osaka? Hokkaido? Oh-oh! Mungkin saja ia sedang berlibur ke Lombok? Atau siapa tahu lelaki itu menyukai lukisan dan sedang berkunjung ke Musée du Louvre? Dan juga mungkin saja Sai suka hiking dan tengah mendaki Everst Mountain? Ya, jutaan kemungkinan masuk akal memenuhi isi kepala Ino dan Ino tidak memiliki apa pun untuk mencegahnya!

Tapi, satu harapan Ino yang bertahan di tengah ganasnya kemungkinan: Ino berharap Sai belum menyerah untuk menemuinya. Karena Ino mengingat wajah serius Sai saat lelaki itu bilang, aku hanya ingin… mengenalmu.

Sai, kenapa sejak awal kau tidak terus terang bilang padaku bahwa kau mengenalku? Siapa kau ini sebenarnya? Apa sebenarnya hubungan kita? Di mana kau?

.

.

.

Setelah kemarin mencari di Paddington Station dengan tidak membawa hasil, Ino belum menyerah untuk mencari Sai lagi. Kini ia berpura-pura sibuk di British Library yang sepi. Mungkin saja 'kan Sai mengunjungi perpustakaan lagi? Jika ia seorang penggemar buku sejati, ia pasti menyediakan jadwal khusus untuk pergi ke perpustakaan, macam Ino.

Anne of Green Gables Lucy M. Mongomery adalah kata-kata yang tertera di sampul depan sebuah buku yang Ino buka. Gadis itu belum pernah membaca buku ini sebelumnya. Sebagai penikmat novel, seharusnya ia tertarik. Tapi tidak untuk saat ini.

Wajah Ino tertunduk, mengarah pada buku terbuka yang tergeletak di atas meja perpustakaan. Tetapi selama tiga jam, Ino sama sekali tidak membalik halaman buku itu.

Ino melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya berkali-kali dengan gusar. Selama duduk di sini, mata Ino berkeliaran ke mana-mana mencari Sai. Akan tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehadiran lelaki itu di sini. Ino mulai lelah menunggu meski ia belum menyerah.

Ino bangkit dari kursinya kemudian mengembalikan buku yang diambilnya ke tempat semula. Dengan lesu, kakinya melangkah menuju pintu keluar. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu dengan percuma di sini. Tapi, saat ia berjalan melewati meja perpustakawan, kaki Ino mendadak berhenti lalu menghampiri wanita di belakang meja. Ide bagus menyerbu otaknya.

"Excuse me, Madam."

Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang dibacanya menuju Ino. "Is there anything I can help?" Wanita itu mengenakan kaca matanya, barulah saat itu ia bisa melihat wajah Ino dengan jelas. "Oh, you again."

"Sorry." Ino menyadari ada rasa enggan di wajah wanita berrambut keriting itu. "Bisakah saya bertanya sesuatu?"

Wanita itu kembali membaca bukunya tanpa berminat menatap wajah Ino lebih lama. "Silakan."

"Saya ingin bertanya, apakah ada anggota perpustakaan ini yang bernama Sai Shimura?" tanya Ino dengan suara sesopan mungkin. Sejujurnya, ia masih malu di hadapan wanita ini karena telah membuat keributan di sini beberapa waktu lalu.

Wanita itu melirik Ino sebentar lalu mulai mengetik di atas keyboard komputernya. "Ya," jawabnya setelah beberapa saat.

"Bisakah Anda memberi tahu saya alamatnya?"

Wanita itu menjawab dengan cepat dan kesal. "Kau pikir perpustakaan ini Facebook?!"

"Oh, thank you! Thank you! Thank you very much for your help!" Ino bergegas berjalan menuju tempat penyimpanan mantel untuk mengenakan mantelnya kembali lalu berlari keluar dari perpustakaan.

Sementara itu sang perpustakawan menggelengkan kepalanya. "Gadis aneh," cibirnya.

Ino berlari melewati beberapa pohon yang kering di tepi jalan dengan riang. Perpustakawan itu telah membantunya! Benar sekali! Facebook! Hanya sebuah kata sederhana! Kenapa Ino bodoh sekali dengan mencari Sai di stasiun tanpa alasan padahal di tahun 2016 ini ada yang namanya social media?! Tidak hanya Facebook, Ino akan mencari nama Sai di seluruh situs social media yang ada!

Semangat Ino telah sepenuhnya kembali pada dirinya. Ketika ia sudah berada di dalam bus, Ino merogoh smart phone di dalam tas tangannya. Saat ia menekan tombol di kanan atas gadget-nya itu, senyumannya meluntur dengan cepat. Sial! Ia lupa menge-charge-nya. Itu berarti ia harus bersabar menunggu sampai ia tiba di apartemennya sekitar beberapa menit ke depan.

Baiklah, kedengarannya hal ini sama sekali tidak penting. Tapi faktanya, tiga puluh menit saat ini adalah tiga puluh menit paling lama dalam hidup Ino. Seingatnya, ia rasa ia tidak pernah merasa setidak sabar ini sebelumnya.

Ketika penantian panjangnya usai, Ino buru-buru membuka laptop-nya dan menekan tombol power. Selagi menunggu laptop siap digunakannya, ia membuka laci meja kerjanya untuk mengambil charger dan segera menge-charge telepon genggamnya.

Ketika laptop-nya telah terhubung dengan jaringan internet. Ino membuka aplikasi search engine dan masuk ke sebuah situs lalu masuk ke akun social media-nya. Tidak mau repot-repot mengonfirmasi seseorang yang mengajak pertemanan dan membalas chat, Ino langsung mengetik nama Sai di kolom search.

Ino tersenyum lebar. "I got you!" Tapi kemudian Ino agak terkejut melihat akun mereka ternyata sudah berteman. Ino tidak ingat kapan ini terjadi, tapi satu hal yang pasti: ini semakin membuktikan mereka sempat saling kenal.

Ino meng-klik akun Sai dan memulai stalking. Tidak ada alamat rumah yang tercantum, tidak banyak foto yang ditampilkan, dan tidak ada status yang terpajang. Tapi Ino mendapat dua informasi: Sai adalah siswa SMA yang sama dengannya dan lahir pada tanggal 25 November 1992. Persis seperti yang diduganya sebelumnya, Sai berumur dua puluh tiga tahun sekarang.

Baiklah! Jelas sekali akun Facebook ini sudah berjamur. Pasti sudah beberapa tahun silam sejak Sai membuka akun Facebook ini, menurut Ino: Sai pasti telah melupakan alamat e-mail dan password-nya karena telah terlalu lama akunnya tidak dibuka.

Ino menambah halaman web lalu masuk ke dalam situs social media yang lain: Twitter. Setelah masuk dengan akunnya, Ino kembali mencari nama Sai di sana. Dan inilah hasilnya:

saishimura

tweets: 10, followers: 203, following: 19.

Oh, ya Tuhan! Akun Twitter ini sama berjamurnya dengan akun Facebook itu! Ino membaca semua tweets Sai dan semuanya adalah tweets beberapa tahun lalu. Di antara sepuluh tweets itu juga tak satupun tweets yang Sai buat sendiri. Semuanya hasil re-tweet. Semacam tweet kutipan, kata-kata bijak dan ilmu pengetahuan.

Ino menggigit bibir dengan sebal.

Kemudian ia memulai mencari di Instagram, tidak ada akun bernama Sai Shimura. Lalu bagaimana dengan Path? Sama saja.

Ino telah mencari nama Sai di semua akun social media yang ada, tapi hasilnya mengatakan Sai hanya memiliki akun Facebook dan Twitter.

Layar laptop tertutup dengan kasar tanpa di-shut down.

Ino kembali berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa bertemu Sai dengan hanya bermodalkan nama lelaki itu? Tapi tunggu dulu… Ino memiliki dua informasi baru.

Sai sempat menjadi siswa di SMA-nya dan ia memiliki umur dua tahun lebih tua darinya, itu berarti Sai adalah seniornya di SMA. Ah, ia bisa menanyakan alamat Sai kepada senior yang dikenalnya!

Senior…

Ino mengerang, menyesal karena tidak pernah mengenal satu pun senior di sekolahnya.

Tapi ia masih punya harapan! Ino bisa mengunjungi staf tata usaha di sekolah dan menanyakan alamat Sai! Ah! Benar sekali! Tentu saja itu akan berhasil!

.

.

.

Keesokan harinya Ino memutuskan untuk langsung berkunjung ke SMA-nya di London Senior High School. Dengan canggung Ino mengetuk pintu bertuliskan 'staf only'. Ia berharap staf tata usaha di sokolah ini masih Mr. Wickham.

Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah dan pintu pun terbuka. Seorang pria separuh baya tersenyum lebar ke arahnya dan menyapanya dengan ramah, "Oh, Ino! Sudah lama sekali sejak kau lulus kita tidak pernah berjumpa!"

"Nice to meet you again, Mr. Wickham," balas Ino dengan senyuman ramah yang sama. Lega melihat wajah pria itu. Karena saat masih sekolah dulu hubungannya dengan Mr. Wickham bisa dibilang dekat, Ino harap pria itu mau membantunya.

Mr. Wickham memberikan jalan. "Ayo silakan masuk!"

Ino melangkah memasuki ruangan. "Terima kasih." Kelegaan Ino bertambah saat mendapati hanya Mr. Wickham seorang yang bekerja sekarang.

Sambil duduk di kursi kerjanya, Mr. Wickham mempersilakan Ino duduk dan Ino duduk di kursi yang tersedia.

"Apa tujuanmu datang ke mari, Ino?" tanya Mr. Wickham seraya menuang chamomile tea dari teko ke dalam cangkir mungil lalu disuguhkan kepada Ino.

Ino menerima tehnya dan memegangnya dengan kedua tangan, mencoba menghangatkan dua telapak tangannya yang kedinginan. "Begini, Mr. Wickham. Saya perlu menemui Sai Shimura, dia salah satu alumni dari sekolah ini. Tapi sayangnya saya tidak tahu alamatnya." Meski gugup, Ino bisa menjawab tanpa gagap.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak menguhubunginya langsung?"

Ino menelan ludah. Ia gugup menjawab pertanyaan yang ingin dihidarinya itu dan otaknya sibuk mengarang alasan yang masuk akal. "Itu dia masalahnya, saya kehilangan kontaknya. Jadi, saya berharap Anda mau membantu."

Mr. Wickham terlihat ragu. "Entahlah… karena itu bertentangan dengan kode etik kami, kau tahu?"

Ino meneguk tehnya lalu memasang wajah memelas. "Oh, Mr. Wickham yang baik. Saya tidak tahu harus mencari alamat Sai ke mana lagi selain kepada Anda."

"Tapi—"

"Please," sela Ino, wajahnya semakin memelas.

Mr. Wickham mendesah, ia menyerah. Sebaiknya ia berikan saja alamat itu. Kalau tidak, Ino pasti tidak akan mau keluar dari ruangannya dan itu berarti ia harus terima bila gadis itu menjejalinya dengan kalimat-kalimat rayuan tanpa jeda. "Baiklah, tapi ini hanya berlaku untukmu. Jangan katakan pada siapapun jika kau mendapatkannya dariku."

Ino tersenyum lebar dan puas. "Aku mengerti, terima kasih Mr. Wickham."

Setelah Mr. Wickham membuka beberapa folder di komputernya, ia mempersilakan Ino mencatat alamat Sai. Tapi sebenarnya, Ino mencatat semua informasi Sai yang tercantum di layar.

Sai Shimura lahir di Tokyo pada tanggal 25 November 1992. Ia adalah anak tunggal dengan seluruh anggota keluarga beragama Protestan. Ayahnya bernama Yamato Shimura, bekerja sebagai wiraswasta. Ibunya bernama Medeleine Shimura yang juga bekerja sebagai wiraswasta. Tinggi badannya 171 cm, dan berat badannya 52 kg. Dan yang paling penting, mereka tinggal di Fitzrovia.

Setelah berbincang-bincang dan sedikit basa-basi, Ino memutuskan untuk langsung mengunjungi rumah Sai. Ino benar-benar tidak sabar untuk menanyakan pada Sai tentang masa lalu mereka.

Ino menjabat tangan kanan Mr. Wickham dengan senyuman lebar penuh terima kasih. "Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda. Apakah hari Rabu depan Anda ada waktu?"

Mr. Wickham membalas senyuman Ino dengan senang hati. "Aku senang bisa membantu. Ya, silakan datang saja kemari. Saya ada di sini dari Senin sampai Jumat."

"Aku akan datang dan membawakan eccles cake buatanku untuk Anda."

Mr. Wickham terlihat sangat senang. "Wah, terima kasih. Aku akan menunggu."

Setelah pamit dengan Mr. Wickham, dengan menumpangi taksi dari London Senior High School, Ino sampai di Fitzrovia. Taksi berhenti tepat di persimpangan distrik Fitzrovia.

Setelah taksi pergi, Ino memandangi rumah-rumah yang berderet padat dan rapi di sana. Angin dingin yang bertiup melayangkan rambut dan syalnya sama sekali tidak menggangu Ino. Ia terus melangkah dan wajahnya menoleh sana-sini mencari pintu dengan angka 14.

Wajah Ino bertambah cerah saat menemukan rumah yang dicarinya. Ino melangkah cepat dan menaiki beberapa anak tangga lalu menekan bel pintu.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Seorang wanita dengan celemek membukakan pintu untuknya. "Halo? Ada yang bisa saya bantu?"

"Maaf menganggu waktu Anda. Apakah betul ini kediaman keluarga Shimura?"

"Shimura? Itu adalah pemilik lama rumah ini. Mereka pindah empat tahun yang lalu," jawab si tuan rumah.

"Apakah Anda tahu di mana kediaman baru mereka?"

"Aku tidak tahu soal it…"

Terdengar suara piring pecah dari dalam rumah, disusul suara pekikan seorang anak lelaki, "Mom! Judy menginjak adonannya!"

Wanita itu teriak membalas suara anak itu, "Jonathan! Sudah kubilang untuk tidak melepaskan adikmu!"

"Aku kebelet pipis tadi!" jawab anak itu lagi dari dalam rumah di antara suara tangisan seorang bayi perempuan.

"Oh, maafkan aku. Kami sedang sibuk." Wanita itu tersenyum menyesal ke arah Ino.

Ino menguatkan hati. "Tidak apa-apa, maaf menganggu. Saya permisi."

Wanita itu mengangguk dan menutup pintu, lalu ia bersuara lagi dan Ino dapat menangkapnya meski pintu sudah tertutup, "Aaah! Kurasa kita tidak bisa memberikan ayah kalian kue ulang tahun buatan sendiri tahun ini! Dan ngomong-ngomong di manakah Lady Byrd?! Kita membutuhkan bantuannya untuk membeli kue jadi!"

Benar juga, data yang Ino dapatkan dari sekolah adalah data yang Sai berikan kepada sekolah saat pertama kali diterima di sekolah itu. Itu artinya, ia mendapatkan data yang kurang lebih sekitar delapan tahun yang lalu. Tentu saja tinggi Sai sekarang lebih dari 171 cm dan berat badannya lebih dari 52 kg! Tentu saja! Bodohkah Ino?!

Ino melangkah meninggalkan rumah itu dengan perasaan lelah. Harus ke mana lagi ia mencari Sai? Dan sepertinya wanita tadi tidak tahu di mana rumah baru keluarga Shimura. Haruskah Ino menyerah? Ino tidak menemukan adanya alasan kenapa ia tidak menyerah.

Suara dering telepon terdengar. Ino meraih telepon genggam di tasnya lalu mengangkat telepon yang masuk. "Moshi moshi, Kaa-san… Makan malam? Baiklah, aku akan segera ke sana."

Sambungan telepon terputus. Ino mengerang dan pergi ke rumah orang tuanya di Windsor Gardens dengan enggan.

.

.

.

Tanpa nafsu, Ino memakan lancashire hotpot—yang sudah dihidangkan ibunya—dengan pandangan kosong.

"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya ayahnya.

"Ayo, ceritakan keluhanmu pada kami," tambah ibunya.

Ino mengaduk-aduk makanan di atas piringnya. "Tidak ada apa-apa," jawabnya tanpa semangat lalu menghela napas panjang.

Inoichi dan Akame saling memandang, mereka memutuskan untuk tidak mendesak anaknya bicara lebih lanjut. Jika sudah tiba saatnya, putri mereka pasti akan bicara dengan sendirinya.

Mata Ino tidak bisa terfokus pada makanan di hadapannya. Iris matanya itu terus berkeliaran menyisir setiap penjuru ruangan untuk menghibur diri. Saat Ino menemukan rak buku di seberang ruangan, padangannya menajam. Sembilan buku berjudul London People Dictionary berhasil menyita seluruh perhatiannya.

Tanpa sadar Ino memekik riang, "Of course!"

"Doushita no?" Ibunya bertanya.

Ino kembali menyantap makanannya, kali ini disertai sepotong semangat. "Tidak ada apa-apa," jawabnya dengan senyuman lalu menghabiskan makanannya dengan cepat.

Setelahnya, gadis itu mengambil sembilan buku—yang sudah dinanti-natikannya untuk dibuka itu—di rak buku. "Tou-san, bolehkah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?"

Ayahnya yang masih duduk di meja makan menjawab, "Ya, tapi untuk apa?"

Ino tidak menjawab, ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah itu. Begitu sampai di kamar, Ino membuka satu-persatu buku itu dengan semangat. Dengan teliti ia membaca setiap nama yang berawalan huruf 'Y' di semua buku itu.

Oh, Tuhan sedang berada di pihaknya kali ini. Di London, tidak ada nama Yamato selain Yamato Shimura. Dan setelah Ino membaca alamatnya, ia tidak tinggal di Fitzrovia, melainkan tinggal di Princes Street, Oxford OX4 1DD.

.

.

.

Perasaan Ino tidak karuan saat ia menekan tombol interkom sebuah rumah. Batin Ino berbicara, kuharap kali ini Sai yang membukakan pintu untukku.

"Siapa di sana?" terdengar suara seorang wanita melalui speaker.

"Selamat siang, apakah ini betul kediaman keluarga Shimura?"

"Maaf, ini kediaman keluarga Wilson. Keluarga Shimura sudah pindah sejak musim semi lalu."

Kata-kata itu berhasil membuat jantung Ino bekerja lebih cepat dari biasanya. Ino mendesah dan mengigit bibir, kedua tangannya terkepal kuat tanpa khawatir telapak tangannya akan terluka. "Apakah Anda tahu ke mana mereka pindah?"

"Mereka pindah ke Jepang, tetapi saya tidak tahu di mana tepatnya."

Mendadak tubuh Ino membeku. Sebaris kalimat yang didengarnya itu sukses meruntuhkan segala harapan yang selama ini berdiri kokoh di hati Ino. Jika ia tidak menahan diri, mungkin ia akan terjatuh sekarang. Bayangkan saja!

Jepang?! Mereka pindah ke Jepang musim semi lalu?! Sekitar setahun yang lalu! Itu artinya, selama ia bertemu dengan Sai di London, Sai menginap di hotel atau di rumah saudaranya dan Ino sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai itu! Tidak ada lagi harapan baginya! Selesai sudah! Keletihannya selama ini terbuang percuma!

"Terima kasih atas waktunya, maaf menganggu," tutur Ino dengan suara terguncang, masih belum sanggup menerima kenyataan.

Ino kembali dengan wajah tertunduk lalu menaiki taksi.

"Anda hendak pergi ke mana, Nona?" tanya sopir taksi.

Sambil memandang ke luar jendela, Ino menjawab dengan suara lirih, "Bawa aku mengelilingi London dan berhenti saat aku bilang berhenti."

Taksi kemudian melaju meski sopirnya tampak bingung.

Ino hanya berpangku tangan dan mengamati suasana kota yang ramai. Big Ben, Tower Bridge, Tower of London, London Eye, dan Victoria and Albert Museum. Tak ada satu pun dari bangunan-bangunan itu yang membuat hati Ino puas. Tak ada penghiburan bagi dirinya meski disuguhkan oleh pemandangan London yang gemerlapan. Satu-satunya yang dibutuhkannya saat ini adalah Sai, hanyalah Sai.

Ino menghabiskan waktu dengan mematung selama duduk di jok mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Saat taksi tiba di daerah St. James' Park, Ino baru bersuara setelah berjam-jam bungkam mulut, "Stop!"

Setelah membayar dan turun dari taksi, Ino merapatkan jaketnya dan berjalan gontai menyusuri taman bersalju. Ia sendirian di sini dan itulah yang ia inginkan.

Entah kenapa air mata tiba-tiba mentes dan wajahnya terasa hangat di tengah suhu udara yang dingin. Langkah Ino melambat saat ia berkata, "Suasana hatiku sedang buruk saat kau datang pertama kali, jadi aku langsung bertindak buruk padamu. Karena itulah, kesanku tentangmu sangatlah buruk." Ino bicara pada dirinya sendiri. "Ini memang salahku."

Air mata Ino mengalir semakin banyak dan punggungnya gemetar. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hal ini terjadi. Sai hanya orang asing! Dan jika ada fotonya bersama Ino, itu hanya membuktikan mereka pernah mengenal, belum tentu mereka dekat. Tapi entah kenapa Ino merasa Sai begitu penting baginya sampai memicu air matanya untuk jatuh. Ini aneh! Juga gila! Tidak masuk akal!

Ino menutup wajahnya untuk menutupi tangisannya. "Sai…" lirihnya di tengah tangisannya.

"Ino?"

Suara itu membuat mata Ino terbelalak dan wajahnya terangkat. Tubuhnya mendadak memanas dan sarafnya bergetar. Ia tak salah dengar kan? Suara yang telah dicarinya selama ini, suara yang selama ini hanya terngiang di kepalanya, suara yang membuatnya tidak bisa tidur, suara yang mengganggu dirinya di setiap detik. Suara itu…

Ino tolehkan wajahnya ke belakang dan ia mendapati Sai berdiri di belakangnya dengan ekspresi cemas.

"Kenapa kau menangis?" Lelaki itu bertanya.

Ino tak lagi mendengarkan perkataan Sai, kelegaannya membuat ia tidak bisa mendengar suara apa pun. Ia berlari dan menyusup ke dalam dada lelaki itu. Ino memeluk Sai erat. Lega sekali, ia tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Sai masih berada di London, Sai ada di sini, bersamanya.

'Aku mencarimu ke mana-mana. Aku sangat ingin berjumpa denganmu.' Itulah kata-kata yang selama ini menghantui Ino setiap kali terpikirkan tentang Sai, tapi yang dikatakannya adalah, "Kumohon jangan tinggalkan aku, aku tak mau sendirian lagi. Tolong, jangan pergi lagi. Aku sangat merindukanmu!"

Air mata Ino mengalir, namun kali ini kata-kata haru yang ikut turun bersama air mata itu.

Sai tersenyum dan membalas pelukan Ino.

Barulah saat itu Ino sadar akan apa yang telah ia lakukan. Ino melepaskan pelukannya dengan gelagapan lalu menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal dan melangkah mundur menjauhi Sai.

Ino tertunduk malu dan menenggelamkan separuh wajahnya dibalik syal tebal yang melilit lehernya. Sesaat kemudian ia tersadar, apa yang baru saja dikatakannya? Lalu ia semakin bingung dan tidak mengerti dirinya sendiri.

Bodoh sekali! Apa yang merasuki dirimu Ino?! Kenapa aku memeluk Sai?! Kenapa aku berkata soalah ia adalah orang terpenting dalam hidupku?! Ada apa sebenarnya denganku?!

Sai tersenyum sangat manis padanya. "Senang bertemu denganmu lagi, Ino."

.

.

.

To Be Continued

Next Chapter

A Moment

.

.

.


Author's note:

Alurnya kecepetan gak sih? Aku jadi malu. ;') Silakan, ungkapin kekurangan fic ini lewat review. ;)