Main Cast : Park Chan Yeol
Byun Baek Hyun (girl)
Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort
Rated : T (dapat berubah sewaktu-waktu)
A Town Where You Live
.
.
.
Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.
Mengapa saya tidak merubahnya?
Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.
.
.
Happy Reading ~
.
.
.
Previous Chapter
"Maafkan aku.." Baekhyun berujar dengan pelan "Aku sudah memiliki kekasih lain…" Chanyeol menunduk dan melangkah mundur.
"… aku tahu aku sangat egois, tapi kumohon lupakan aku.." mata Baekhyun berkaca-kaca namun Chanyeol tak dapat melihatnya.
"A-apa?"
"Jadi, berhentilah menemuiku.. Kumohon.." setelah itu Baekhyun berbalik dan melangkah pergi. Ingin sekali Chanyeol berlari dan mengejar Baekhyun tapi dia tak bisa. Badannya kaku, telapak kakinya seperti tertempel dengan erat dilantai tempat dia berpijak.
.
.
.
Seorang pria berbadan tinggi menjulang sedang membelah arena sirkuit motor besar di kota Seoul dengan angkuhnya bersama dengan motor besarnya. Dilihat dari postur, kecepatan, dan caranya dia melajukan kendaraan itu kita bisa menarik kesimpulan bahwa dia adalah seorang pembalap, atau setidaknya orang yang sangat mahir mengendarai motor.
Dari balik helm full-facenya terlihat sorot mata yang tajam namun ceria. Alisnya tebal menukik. Dari sorot matanya saja sudah terlihat dia sedang sangat berbahagia. Dia terus melajukan motornya di sirkuit sepi itu. Tak ada seorang pun yang berada di arena balap itu, hanya dia dan motor besarnya. Entah itu miliknya atau dia hanya menyewanya, yang pasti dia sangat kaya.
Dia berhenti tepat didepan gerbang tempat dimana biasanya motor para pembalap dipersiapkan. Dia turun dari motor dan melepas helmnya. Terpampanglah wajah tampan khas China-Kanadanya. Dia menatap puas dan bangga kearah motor kesayangannya. Dia menyisir rambutnya yang lumayan panjang itu dengan jari-jari panjangnya kebelakang lalu melepas kancing baju pembalapnya sampai terlihat dada putihnya yang lumayan kekar dan bidang.
Dia terus saja memandang dan mengelus motor kesayangannya sampai suara langkah kaki seseorang mengalihkan perhatiannya. Bukannya merasa terusik ataupun kesal dia justru tersenyum bahagia kearah orang itu. Orang –lebih tepatnya gadis cantik- itu langsung membalas dengan senyuman manisnya hingga membuat matanya menyipit bak bulan sabit.
.
.
.
(Chanyeol POV)
'Aku mendengar penyakit itu sesaat sebelum festival sekolah…'
"Ini bukan penyakit yang mematikan, Yeol.." katanya. Dia bahkan tertawa ketika mengatakan hal itu padaku. Tapi, aku tahu dia tak bisa mengejar impiannya jika kondisinya semakin memburuk.
"… lagipula, itu bukanlah hal yang keren disaat kau sangat menginginkan sesuatu tapi kau tak mencoba berbuat banyak untuk mendapatkannya.." sambungnya. Dia selalu tersenyum seolah tak ada hal buruk yang terjadi. Justru dia selalu saja mengkhawatirkanku.
Namun, pada akhirnya kami memutuskan untuk berlomba..
(Normal POV)
Chanyeol terus saja berguling kesana kemari dalam kantong tidurnya. Disampingnya tepat di atas tempat tidur Yoora sudah tertidur dengan sangat lelap. Dia mencoba tidur kembali tapi perkataan Baekhyun sore tadi terus saja terngiang-ngiang di telinganya. Chanyeol menghela nafas kasar dan mencoba menutup kembali matanya. Hell, dia tak ingin kesekolah dengan mata panda.
"Jadi begitu ya.. Jika sudah seperti ini.. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan…" dan setelah itu dia pun tertidur.
Keesokan harinya..
Sekolah itu tampak mulai ramai. Jam memang baru saja menunjukan angka tujuh pagi, tapi murid sekolah itu sangat disiplin waktu –kebanyakan- sehingga jam segitu kelas Chanyeol sudah sangat ramai. Dia menopangkan dagunya diatas meja dan mulai melamun. Tak memperdulikan sapaan teman sekelasnya dan juga tatapan heran dan aneh dari Luhan yang kini sedang berdiri didepannya.
"Apalagi yang terjadi pada anak ini?..." batin Luhan. Tak tahan akhirnya Luhan beranjak kedepan kelas dimana Ren sedang menghapus papan tulis berdiri.
"Oi, Ren, sebenarnya apa yang terjadi di acara festival sekolah XOXO kemarin?" Tanya Luhan dengan sedikit berbisik ditelinga Ren. Seketika pipi Ren merona dan segera menutupi setengah wajahnya mulai dari hidung sampai bibirnya.
"T-tidak ada apa-apa kok.." bisiknya lirih. Luhan menatap Ren bingung hingga suara Chanyeol mengusik mereka.
"Ren…" panggil Chanyeol. Luhan dan Ren langsung berbalik menghadap kearah chanyeol yang masih duduk di kursinya. "Maaf soal kemarin ya.. Aku sedikit memaksamu untuk membawaku ke sekolah itu.."
"T-tidak apa Chanyeol, sungguh, aku tidak marah padamu.." Chanyeol sedikit bingung dengan ucapan Ren. "… lagipula ada penampilan ulang jika kau belum puas melihatnya hehehe.." sambung Ren cepat sambil sedikit gugup. Luhan dan Chanyeol menatap aneh diarah Ren, apalagi melihat wajah memerah gadis itu.
"Hei, kalian berdua… Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Luhan dengan wajah malasnya.
"T-tidak ada Lu.. Haha.. Iya kan Chan?" Tanya Ren seolah menutupi sesuatu. Dia menatap Chanyeol seolah memberi isyarat, namun yang ditatap justru terlihat bingung. Sementara itu Kris yang sedang bersandar didekat jendela hanya terdiam bingung melihat hal itu.
Jam pulang sekolah telah tiba, Chanyeol berjalan dengan santai menuruni anak tangga sekolah barunya itu. Lalu dia mendengar seseorang memanggilnya dan dia menengok kebelakang. Kris. Kris menghampiri Chanyeol dengan senyum coolnya.
"Oh, Kris kukira siapa.."
"Yo, dude. Sepertinya kemarin adalah bencana untukmu. Dilihat dari ekspresimu, kau pasti sudah bertemu dengan gadis yang kau cari tapi kau malah diusir mentah-mentah.." ledek Kris. Chanyeol langsung memasang wajah masam dan segera melanjutkan langkahnya. Chanyeol memang merupakan tipe orang yang irit bicara.
"Hei hei.. Jangn pergi dulu. Apa aku salah bicara?" Tanya Kris berusaha mengejar Chanyel. Tapi dia berhenti di ujung anak tangga ketika melihat Chanyeol terdiam di anak tangga paling bawah.
"Kris, mau berkaraoke bersama?" Tanya Chanyeol tanpa berbalik.
"Hah?" Kris mulai bingung dengan perubahan sikap temannya ini. Chanyeol lalu membalikan badannya mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Kris.
"Ayo jalan-jalan denganku sebentar saja sebelum kita pulang." ajaknya seraya tersenyum simpul. Kris yang mendengar itu langsung tersenyum dan segera menyusul Chanyeol. Dia merangkul bahu Chanyeol dan berkata.
"Okay! Akan kutunjukkan sesuatu yang bahkan ribuan kali lebih menarik dibandingkan dengan berkaraoke." Bisiknya dengan smirk mencurigakan.
"Apa? Lebih seru?" Chanyeol memerah. Dia memikirkan sesuatu yang liar. Chanyeol tolong jangan tunjukan betapa mesumnya dirimu.
"Ada gadis yang sangat kukenal. Bagaimana kalau kita threesome?" bisik Kris tepat didepan wajah Chanyeol ditambah dengan kedipan mautnya. Mata chanyeol membulat seketika. Dia sangat syok mendengar kata-kata Kris.
"Apaaa?!" wajahnya memerah sempurna seperti tomat. "T-T THREESOME?!"
.
.
.
Disinilah Chanyeol, diatas 'gadis' yang Kris kenalkan padanya.
"Chan!" teriak Kris. "Bagaimana pacarku? Lumayan kan?" tanyanya sedikit tertawa.
"Diamlah! Jangan berbicara yang aneh-aneh. Cuma kita berdua yang ada di atas motor ini dan tidak ada gadis lain." Jawab Chanyeol sedikit berteriak.
"Oh, dude. Apa kau memikirkan hal-hal yang aneh sedari tadi?" Tanya Kris seperti meledek.
"Ap- hei! Bukan begitu!" Chanyeol hendak berbicara lagi namun Kris terlebih dahulu memotongnya.
"Baiklah, baiklah. Terserah padamu saja Chanyeol. Sekarang berpeganganlah yang erat. Pacarku akan sangat kuat kalau waktunya sudah tiba."
"Apa maksudmu?" dan Kris melajukan motornya lebih cepat untuk menjawab pertanyaan polos Chanyeol. Kalau reflek chanyeol kurang cepat mungkin dia sudah terpental kebelakang.
"Arrrrrgghhhhh Kris sialan!" umpatnya.
Setelah perjalan panjang dan mendebarkan, disinilah kedua pemuda itu. Bersantai dipinggir sungai Han menikmati suasana sore yang cerah. Chanyeol tampak seperti zombie mengerikan, terkapar direrumputan itu mencoba menetralkan debar jantungnya sementara Kris hanya menatapnya geli.
"Kupikir aku akan mati.." gumam Chanyeol. Kris yang duduk disebelahnya hanya tertawa nyaring.
"Ini hanya soal nyali saja Park. Jangan berlebihan, kau itu seorang lelaki. Kau takkan bisa jadi pembalap kalau seperti itu"
"Memangnya aku peduli.." cibir Chanyeol datar.
"Ah.. Itu karena kau tak merasakan dan menikmati sensasinya.."
"Tidak perlu, terimakasih." Ujar Chanyeol seraya memejamkan matanya.
Kris tertawa kecil. Chanyeol membuka matanya melihat Kris yang sedang memandangi langit senja.
"Hidup itu penuh dengan rintangan, Park. Bergembiralah." Chanyeol membuang mukanya.
"Kris, mau mendengar sesuatu yang sepele dan tak berguna?" Tanya Chanyeol tanpa menatap Kris.
"Hah?" Kris menatap Chanyeol bingung.
"Aku dibuang oleh kekasih jarak jauhku.. Dia bilang dia punya kekasih baru dan ingin putus denganku.."
"Gadis itu, gadis yang ingin kau temui di sekolah khusus wanita kemarin itu, kan?"
"Ya.." ada sedikit jeda diantara kalimatnya. "… Tapi, aku tak percaya begitu saja. Entah kenapa aku merasa ada alasan lain mengapa dia melakukan itu.." lirih Chanyeol. Kris langsung berbalik mengahadap Chanyeol sepenuhnya.
"Yak! Jangan bilang kau dari Busan kesini demi hal ini?!" balas Kris yang lebih ke pernyataan disbanding pertanyaan. Chanyeol hanya tertawa pelan.
"Yah, begitulah.. Aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Semua temanku mengatakan aku bodoh dan penghayal. Akupun pernah berfikir begitu. Tapi, bagiku tak masalah. Seandainya aku diberi pilihan, memilikinya namun dia menderita, aku lebih senang kalau dia bertemu dan memiliki pacar yang lebih baik dariku yang bisa membuatnya bahagia.." setelah mengucapkan itu Chanyeol langsung duduk dan menatap sungai Han yang terbentang luas didepannya.
"…. Tapi, Ah! Entah kenapa aku masih merasa tak bisa menerimanya. Ketika dia bicara padaku tentang hal itu aku merasa sangat putus asa dan ingin mati saja.. Huh, pada akhirnya kalau begini terus aku akan menjadi lelaki terlihat mengerikan yang berharap gadis yang kusayangi menderita. Wajar saja kalau dia ingin membuang bajingan sepertiku.." ucap Chanyeol frustasi.
Kris tersenyum dan mencabut rumput disebelahnya asal dan membiarkan rumput itu terbang terbawa angin. Chanyeol mencoba menghindari rumput yang terbang itu. Dia hendak mengumpat namun urung, karena Kris langsung bicara.
"Bukankah lebih bagus? Dengan begitu kau bisa lebih cepat mencari gadis lain.." Chanyeol langsung berdecak kesal.
"Kau pikir melakukan itu sama mudahnya dengan mengganti komponen motormu?"
"Kalau begitu jangan menyerah!"
"Apa maksudmu?!"
"Rebut saja dia dari pacar barunya.." ujar Kris santai.
"Kau ini apa-apaan sih?" Tanya Chanyeol mulai frustasi.
"Kau yang apa-apaan." Balas Kris lagi.
"Ha?"
"Jangan merajuk disini didepanku dan segera lakukan apapun yang kau pikir benar. Tak peduli apapun jalan yang kau pilih, aku pasti akan mendukungmu" jawab Kris sambil tersenyum bodoh. Chanyeol terpaku melihat wajah teman barunya itu. Entah kenapa, dia merasa lebih baik hanya dengan mendengarkan kata-kata Kris yang terlihat santai itu.
"Yah, walaupun kau akan gagal sekalipun aku akan membantumu. Jadi jangan khawatir." Tambah Kris lagi. "Hoi, ngomong-ngomong kau suka payudara besar atau kecil?" hancur sudah suasana damai dan menenangkan yang sedang tercipta. Chanyeol langsung memutar bola matanya kesal. Meski begitu dia menjawab.
"Yah.. Menurutku yang besar tidak pernah buruk.." cicitnya.
"Baiklah, jadi kau suka yang besar? Tunggu dulu, aku akan mencoba mengingat. Ada tidak ya, yang besar?" gumam Kris terlihat berfikir keras.
"T-tunggu dulu, aku tidak bilang aku lebih suka yang besar!" ucap Chanyeol dengan wajah memerah.
"Berhentilah jadi banci Park. Jadi yang mana yang kau suka?"
"Yang penting mereka memilikinya –read : payudara- kurasa tak masalah.."
"Baiklah.. akan kucarikan untukmu satu."
"Mengapa ini terlihat seolah aku setuju kau mencarikanku gadis lain?" sungut Chanyeol. Dan pembicaraan tentang hal konyol itupun terus berlanjut.
(Chanyeol POV)
Aku terus saja memperhatikan wajah Kris yang tertawa. Dia selalu mengatakan hal konyol.
'Wu Kris.. Dia sedikit aneh menurutku. Kami baru saling mengenal sekitar sebulan namun aku merasa kami sudah bersama dalam waktu yang lama. Aku merasa dia seperti sahabatku, Minseok dan Jongdae. Entah ini klasik atau tidak, aku berharap kami dapat berteman selamanya.' Batinku.
"Baiklah. Hari sudah mulai dingin. Ayo pulang!" ucap Kris sambil mulai berdiri.
"Okay. Tapi nanti pelan-pelan. Aku tak ingin mati muda." Jawabku terkekeh.
"Hei jangan khawatir. Itu hanya awalnya saja. Kau tahu aku sangat ingin jadi pembalap professional." Ucap Kris bangga. Kami sedang berjalan dengan dia didepanku menuju tempat motornya diparkir. Dia memegang helm yang kupakai tadi dan tersenyum kearahku.
"Dan kau, Park! Cepatlah jadi koki" sambungnya lagi.
Aku hanya terdiam. "Koki?" ulangku.
"Ya. Kalau aku sudah jadi pembalap aku akan membutuhkan sponsor. Aku akan memajang tulisan 'Park Resto' dia bagian motorku yang paling mencolok." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku hanya tersenyum lebar.
"Koki ya? Kedengarannya menarik." Ucapku.
"Ya! Ah aku tak sabar menunggunya Chef Park!" aku menunduk membayangkan bagaimana jadinya jika aku benar seorang Chef. Aku masih berada didunia khayalanku kalau saja tidak ada suara benda terjatuh mengusikku.
TRING
BRUK
(Normal POV)
Kris merogoh kunci motor disaku celananya. Saat dia akan memasukkan kuncinya pandangannya menjadi sedikit kabur, dia terdiam sejenak lalu kunci yang dipegangnya terjatuh ketanah dan …
BRUK
Chanyeol mengangkat wajahnya dan melihat kedepan. Dia melihat Kris yang terjatuh menimpa motornya.
"Hoi, apa yang kau lakukan?" Tanya Chanyeol. Dia pikir Kris terpeleset atau apa.
Helm Kris menggelinding kearahnya. Chanyeol segera mengambil helm itu dan berjalan mendekati Kris. Dia menyenggol kaki Kris namun tak ada pergerakan, matanya melebar dan dia mulai panik. Dia langsung berlutut disamping Kris.
"Yak! Kris! Bangun. Ada apa?! Hei! Kris bangun!"
Dirumah sakit.
Chanyeol memandang tajam orang didepannya yang sedang memakan pisang dengan serius.
"Ah, pisang ini terlalu keras" keluh orang itu. Chanyeol memandang malas kearah Kris yang asik dengan dunianya sendiri.
"Kau! Berhenti lakukan itu!" bentaknya. Kris menatap kearah Chanyeol dengan wajah sok polosnya.
"Memangnya apa yang kulakukan?" Tanya Kris bingung sambil memasukan pisang itu kemulutnya.
"Apa maksudmu apa yang kau lakukan? Aku khawatir setengah mati tadi dan apa? Anemia?! Apa maksudnya itu? Argh!"
"Mana kutahu. Kau yang memanggil ambulance dan membawaku kesini.." sahut Kris acuh tak acuh. Seorang wanita peruh baya disampingnya langsung menjitak kepala Kris.
"Bodoh! Temanmu menungguimu disini sejak tadi karena dia khawatir padamu! Teganya kau berbicara seperti itu! Maaf ya Chan.." ucap ibu Kris. Chanyeol yang merasa sungkan pun hanya bisa tersenyum.
"Tidak apa bibi, sungguh.."
Sementara itu, dilorong rumah sakit itu terlihat seorang gadis yang masih menggunakan seragam sekolah berlari dengan sangat kencang. Nampak kekhwatiran yang yang sangat besar di wajahnya. Peluh yang membasahi tubuhnya pun tak dihiraukannya.
"Hah, sudahlah Kris. Asalkan tidak ada hal yang serius." Ucap Chanyeol menghela nafas.
"Ya! Tentu saja! Aku sudah sehat." Jawab Kris ceria sambil menepuk dadanya.
"Kalau aku tahu kau hanya sakit begini, aku tidak perlu menelfonnya disaat begini.." gumam Chanyeol.
"Siapa?" Tanya Kris. Bertepatan dengan itu pintu kamar Kris terbuka dengan lebar. Menampilkan seorang gadis manis yang sedang terengah-engah.
"Kris!" teriak gadis itu. Chanyeol dan Kris menoleh berbarengan kearah pintu kamar itu.
"Oh, hei Lulu. Kenapa kau terlihat habis berlari? Ada apa?" sapa Kris santai. Luhan membulatkan mata rusanya bingung. Dia menarik nafasnya panjang dan berusaha berbicara normal.
"Apa ini? Kupikir kau pingsan." Sahut Luhan dengan wajah bingungnya yang sangat lucu.
"Hehe, maaf Lu. Dia ternyata hanya mengalami anemia." Jawab Chanyeol terlihat agak merasa bersalah.
"Apa?! Apa-apaan ini?! Dasar! Aku meningglakan pertandingan untuk datang kesini!" kesal Luhan. Ibu Kris yang ada disana pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Maafkan bibi, Lu.. Ah, ini semua karena anak lelaki bibi ini yang sangat merepotkan." Ucap ibu Kris. Luhan yang baru sadar dengan adanya ibu Kris langsung membungkuk hormat dan tiba-tiba dia merasa canggung.
"T-tidak apa bi, maafkan aku karena sudah membuat keributan.." Kris yang melihat tingkah sahabat imutnya itu hanya tersenyum teduh.
"Ibu akan keluar untuk melefon ayahmu dulu ya sayang.." ucap ibu Kris seraya berjalan menuju pintu kamar itu. Kris hanya tersenyum dan mengangguk kearah ibunya. Setelah pintu tertutup Luhan beranjak kesamping Chanyeol.
"Jadi ini situasi daruratnya?" sindirnya.
"Hya! Jangan memojokkanku. Anak ini pingsan jadi kupikir ada hal serius yang terjadi dan aku sangat panik tak tahu mau berbuat apa sementara aku baru di Seoul." Belanya. Kris hanya menatap jendela kamar inapnya dengan sendu.
"Kan sudah kubilang, ini bukan penyakit serius teman-teman. Jadi jangan terlalu khawatir.." Chanyeol menatap Kris lama, Kris menatapnya balik dan langsung tersenyum bodoh "Tapi syukurlah aku tak pingsan ketika berada diatas motor. Jika tidak kita akan mati bersama hahahaha" ucap Kris sambil tertawa nyaring, sementara Chanyeol hanya menatapnya datar. Dipikirnya hidup dan mati itu lelucon apa.
"Motor? Kalian pergi kesuatu tempat bersama?" Tanya Luhan.
"Yo! Benar sekali. Orang ini sedang patah hati. Jadi aku mengajaknya berkeliling sebentar." Jawab Kris enteng.
"Jadi, ternyata benar terjadi sesuatu diantara kau dan Ren difestival itu kemarin?"
"Apa maksudmu? Kenapa kamu malah membawa si Ren?" Tanya Chanyeol bingung.
"Orang yang patah hati memang bodoh dan tak berguna kan. Hahaha. Orang ini dibuang oleh kekasih jarak jauhnya." Jawab Kris santai dan berhasil membuat Chanyeol gelagapan.
"Yak! Jangan membeberkan rahasia orang!"
"Dan kau tahu, Lu? Dia pindah dari Busan ke Seoul untuk mencari gadis itu." Sambung Kris lagi. Luhan hanya memandang iba Chanyeol. Namun, tersebit rasa sedih mendengar hal itu.
"Dasar! Berhenti bercanda dan tutup mulutmu dasar alis tebal!" umpat Chanyeol berusaha menjitak Kris. Namun, Kris tidak menyerah begitu saja. Dia terus berusaha berbicara dengan Luhan sambil menghindari pukulan maut dari Chanyeol yang kini sudah menaikkan sebelah kakinya keranjang Kris.
"Saat festival itu, dia tertampar telak saat si gadis bilang dia sudah punya kekasih lain." Ujar Kris yang kini sudah berhasil memelintir tangan kiri Chanyeol. Luhan hanya menatap kosong kearah mereka berdua.
"Apa itu benar Chan?"
"Arrgh sakit sakit bodoh! Kumohon Lu jangan bertanya soal itu lagi. Arrgh! Kris!" Chanyeol berusaha menjawab ditengah rasa sakitnya. Luhan menggenggam jari tangannya sendiri.
"Begitu ya, jadi itu sebabnya kau terlihat sedih dan sangat putus asa.." guman Luhan sedih. Bukan, dia bersedih bukan karen hal lain melainkan karena dia sangat merasa iba dengan Chanyeol.
"Jadi, apa rencanamu Tuan Busan?" Tanya Kris tanpa melepaskan cengkramannya dari Chanyeol yang tengah mengaduh kesakitan.
"Sial. Sudah kubilang kan kalau kau bertanya itu sekarang aku tak tahu harus menjawab apa dan melakukan apa." Jawab Chanyeol. Kris menatap Chanyeol tegas.
"Apa maksudmu kau tak tahu? Padahal kau kan hanya memiliki satu pilihan." Chanyeol menatap Kris bingung.
"Tapi, tidakkah menurutmu gadis itu sedikit jahat?" Tanya Luhan pelan. Chanyeol menatapnya heran. ".. Maksudnya, hubungan jarak jauh itu sama beratnya diantara kedua belah pihak. Namun, dia malah memiliki kekasihr baru dan ingin putus denganmu."
"Ya, meskipun kau bilang seperti itu.."
PLAK
Belum sempat Chanyeol melanjutkan omongannya Luhan sudah terlebih dahulu memukul punggunya dengan sangat keras.
"Ak! Sakit!" jerit Chanyeol.
"Sadarlah bodoh! Kau itu dipermainkan olehnya!" bentak Luhan. Chanyeol menatap Luhan ngeri sementara Kris hanya tersenyum.
"Baiklah, dari apa yang kulihat, sudah ada kesimpulannya. Kau pun sudah bilang, kau berharap dia tidak bahagia kan, dengan kata lain kau ingin memilikinya.." Chanyeol mengalihkan pandangan kearah Kris.
"Tapi it-"
"Itulah jawabanmu.." Kris memandang serius Chanyeol. "Kau pindah kesini bukan hanya untuk memastikan dia memiliki kekasih baru atau tidak.."
Chanyeol menunduk sendu, dia memikirkan kata-kata Minseok sewaktu dia bilang akan ke Seoul.
"Apa? Kau bilang mau pergi ke Seoul mengejar Baekhyun hanya demi memastikan dia memiliki kekasih lain atau tidak? Bukan untuk memperbaiki hubunganmu dengannya? Benar-benar lelaki yang plin plan!"
"Berhentilah bersikap dingin Park." Ucap Kris. Chanyeol berdiri tegap namun tetap menundukan kepalanya.
"Kau benar, aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan ini."
'aku datang sejauh ini karena aku mencintai Baekhyun' batin Chanyeol.
Kris yang melihat wajah serius Chanyeol hanya tersenyum simpul sementara Luhan memandang kearah lain dan mencibir betapa menjijikannya sikap patah hati Chanyeol.
"Kau menganggapnya menjijikan tapi kau turut bersedih dan khawatir juga kan Lulu?" ledek Kris.
"Diam bodoh! Aku tak peduli! Dia hanya orang bodoh, asal kau tahu!" elak Luhan. Kris tak memperdulikan omongan Luhan dan kembali menatap lagit sore yang membuat Seoul terlihat berwarna oranye.
"Berjuanglah, bung. Kami akan membantu semampu kami. Jadi, rebut dia kembali Park!" ucap Kris berapi-api.
"Apa maksudmu 'kami'? untuk apa aku membantu hal konyol semacam itu?!" elah Luhan.
"Tapi, berbicara mengenai berusaha.. Aku akan berusaha semampuku. Namun, pada akhirnya nanti keputusannya ada padanya, entah dia akan memilih siapa, semuanya ada ditangannya dan berdasarkan kemauannya sendiri." Putus Chanyeol sambil tersenyum sendu.
"Nah, itu baru benar Chan!" sahut Luhan "menyerahlah seperti lelaki yang rendah hati.."
"Atau, kau bisa melakukan segalanya untuk merubah pikirannya kan hihi" sahut Kris santai.
"Sebenarnya, aku juga dulu tak punya harapan untuk bisa menjalin hubungan dengan kekasihku ini awalnya. Aku tetap bertahan dan berusaha hingg akhirnya dia setuju." Lanjutnya.
"Siapa yang peduli?" sungut Chanyeol malas.
"Yak! Dasar bodoh. Apa yang kau katakan itu Chan!" bentak Luhan. Ditengah perdebatan itu mereka bertiga mendengar suara nyaring langkah kaki yang seperti sedang berlari hingga akhirnya pintu itu terbuka lebar dengan keras. Ketika orang didalam ruangan itu sontak menoleh bersamaan kearah pintu itu.
"Kris!" teriak orang –gadis- itu dengan terengah-engah, bahkan lebih parah dari Luhan tadi. Wajahnya memerah seperti hendak menangis.
Chanyeol menatapnya selama beberapa detik barulah dia tersadar dan membulatkan matanya. Dia sangat terkejut dengan kedatangan gadis mungil berambut panjang itu. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Hal itu juga sepertinya dialami gadis itu. Waktu terasa berhenti berjalan bagi mereka berdua. Chanyeol berusaha sadar dari keterkejutannya.
"Ba-"
"Kau sudah datang! Kesini, Baek.." panggil Kris riang.
"Aku.. Tapi.." Baekhyun tergagap masih berusaha mengalihkan perhatiannya dari Chanyeol. Kris yang melihat itu hanya tersenyum maklum.
"Mereka teman sekolahku, Baek" lalu Kris beralih menatap sahabat-sahabatnya. "Maaf ya, aku hampir tak punya kesempatan seperti ini. Aku ingin dia khawatir dengan mengatakan aku sakit dan menyuruhnya datang kesini" ucap Kris sambil terkekeh pelan.
"Woaah! Dia manis sekali, Kris! Apa kau yakin dia pacarmu!?" sahut Luhan heboh.
"Yak! Apa maksudmu rusa liar?! Kau menghinaku?" bentak Kris tak terima. Sementara Chanyeol masih terus memandang Baekhyun. Mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Luhan tampak tak memperdulikan bentakan Kris dan langsung menyapa Baekhyun.
"Hai, aku Xi Luhan. Senang berjumpa denganmu."
"Ya" angguk Baekhyun "senang bertemu denganmu juga Luhan"
"Dan ini Park Chanyeol, baek" sahut Kris. "Ini yang aku katakan murid pindahan yang sangat menarik dan jago memasak"
Chanyeol melirik Baekhyun seolah menanyakan apa yang terjadi. Baekhyun meremas tangannya dan mengangkat wajahnya.
'Tidak, Baek..' batin Chanyeol.
"Senang bertemu denganmu.. Aku Byun Baekhyun. Terimakasih.. Karena.. sudah menolong dan menjaga kekasihku" ucap Baekhyun lirih lalu menundukkan kepalanya lagi. Chanyeol sangat terpukul dengan hal itu. Dia mencoba mengatur raut wajahnya menjadi datar.
'Begitu ya, ternyata Kris tidak tahu tentang kita berdua. Kau tak ingin aku mengatakan hal yang tak perlu' batinnya.
"Ya, senang bertemu dengamu. Aku… Park Chanyeol." Mereka memperkenalkan diri tanpa saling menatap. Tak ada yang bisa menetahui dan memahami apa yang ada di pikiran serta hati mereka berdua. Lagi, sinar matahari langit sore itu mengantarkan duka yang dalam bagi Chanyeol.
Baekhyun segera beralih menatap Kris. "Oh iya, bagaimana keadaanmu Kris?"
"Aku hanya pingsan karena anemia, tak usah khawatir. Maaf sudah membuatmu repot." Jawab Kris sambil nyengir. Sementara Baekhyun malah terlihat sangat sedih.
"Apa tidak ada apa-apa lagi?"
"Tidak ada sayang.. Aku sungguh sudah sehat.. Oh iya Baek, kau harus tahu. Mantan kekasih lelaki ini ada disatu sekolah dengan sekolahmu" ujar Kris sontak membuat Chanyeol dan Baekhyun terkejut bukan main.
"Aku dan Luhan berencana mencari mant-" sebelum Kris selesai berbicara Chanyeol sudah memotongnya.
"Ah, kurasa sudah waktunya aku pulang." Potong Chanyeol sambil mengambil tas sekolahnya. Kris menatapnya aneh "Yoora noona akan segera pulang, aku harus menyiapkan makan malam untuknya.." lanjut Chanyeol sambil melirik Kris sebentar.
"Oh.. Begitu.. Baiklah, hati-hati dijalan.."
"Baiklah aku pamit, istrahatlah yang cukup.. Sampai jumpa" sahut Chanyeol sambil berjalan menuju pintu. Baekhyun yang masih terpaku didepan pintu segera menyingkir dari jalan untuk membiarkan Chanyeol lewat.
"Oke! Mari kita bicarakan soal rencana merebut mantanmu dari kekasih barunya nanti!" kata Kris dengan semangat. Chanyeol terhenti sebentar tepat didepan Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol sekilas namun segera membuang muka seolah benci dengan Chanyeol. Chanyeol hanya bisa tersenyum pahit melihat Baekhyun yang seperti itu.
"Ada apa?" Kris yang bingung melihat Chanyeol terhentipun bertanya. Chanyeol segera meneruskan langkahnya keluar pintu kamar.
"Sampai jumpa"
"Eh?!" Luhan tersadar dari situasi itu lalu berlari mengejar Chanyeol "Kris, aku juga pulang ya. Sampai jumpaaaa, dah Baekhyun" ujar Luhan penuh semangat.
"Ya, hati-hati Luhan.." jawab Baekhyun kalem. Dia segera mengalihkan pandangannya kearah Kris begitu Luhan keluar. Mereka saling melemparkan senyum hangat.
.
.
.
Luhan berjalan 3 langkah dibelakang Chanyeol. Mereka berdua baru saja mampir ke supermarket dan sekarang mereka sedang menuju apartemen Yoora –read : apartemen Luhan disebelah milik Yoora-.
"Ah, kekasih Kris sangat manis. Apa mungkin Tuhan memberinya hadiah karena kasihan dia memiliki cinta yang tak kesampaian selama bertahun-tahun. Mereka sekolah di SMP yang sama. Kris mengungkapkan perasaannya berkali-kali tapi selalu ditolak. Anak itu punya banyak teman perempuan yang dekat, terlihat seperti playboy. Padahal ternyata dia sangat setia."
Chanyeol berjalan sambil menunduk mendengarkan cerita Luhan. Pikirannya kosong saat ini. Luhan yang merasa tak ada tanggapan dari Chanyeol menatap punggung lelalki tinggi itu.
"Hei Chan. Apa kau serius?" Tanya Luhan.
"Tentang apa?"
"Itu, rencana tentang merebut kembali mantan kekasihmu"
Luhan heran saat Chanyeol terdiam cukup lama. Sampai akhirnya..
"Tidak, aku menyerah." Jawab chanyeol singkat. "Aku hanya akan menyusahkannya jika aku melakukan itu"
"Begitu ya.." tanpa sadar Luhan tersenyum ceria "Baiklah.."
.
.
.
'Aku tak bisa mengatakannya pada Kris. Mantan yang kucari selama ini ternyata adalah kekasihmu. Merebut kembali Baekhyun dan yang lainnya… Tak mungkin bisa aku lakukan. Mengejar impian bahkan ketika dia sakit, tak mungkin aku bisa menang melawan orang yang begitu menakjubkan. Akulah yang selalu mengusik Baekhyun. Bersikap sok pahlawan dengan pergi kesini, betapa bodohnya aku.. Jika aku benar peduli padanya, satu-satunya yang bisa kulakukan untuknya adalah menyerah untuknya'
.
.
Hari sudah semakin gelap, Yoora belum juga pulang ke apartemen. Chanyeol duduk dilantai bersandar ketempat tidur kakaknya sambil berulang kali membaca pesan yang terpampang jelas dilayar ponselnya dengan wajah datar namun pandangannya terlihat sendu.
Dia baru saja akan menghapus pesan itu, namun dia tak sanggup melakukannya. Dia menghela nafasnya dan merebahkan kepalanya. Membaca sekali lagi pesan itu.
From : Baekhyun
Dia adalah orang selalu aku abaikan dan kutolak selama SMP. Di mengungkapkan perasaannya lagi akhir-akhir ini. Makanya, aku ingin mencoba. Akku ingin mencoba berpacaran dengannya. Jadi mulai sekarang, aku tak bisa kembali bersama Chanyeol lagi.
Chanyeol merasa ada yang aneh disini. Dia mengingat lagi perkataan Kris tentang kisahnya dengan sang kekasih, lalu perkataan Luhan sore tadi.
"Apa yang terjadi sebenarnya.. Kris terlihat tidak berbohong, dia pasti tidak tahu apa-apa soal hubunganku. Mungkinkah Baekhyun … Tapi kenapa?" dia mengusap wajahny dengan kasar.
Tiba-tiba dia terfikir sesuatu dan segera bangun. Dia berlari terbirit-birit menuju keluar bahkan membuka pintu dengan dan kasar tak menyadari keberadaan noonanya yang baru saja akan membuka pintu.
"Yak! Kau ini apa yang terjadi. Hei! Mau kemana kamu dijam segini?" Yoora hanya bisa menghela nafas kasar melihat adiknya yang tak mempedulikannya dan memilih masuk ke apartmennya.
Sementara itu Chanyeol terus berlari dengan terengah-engah.
'Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Sama seperti dulu' batinnya sambil terus berlari.
.
.
.
(Chanyeol POV)
'Matahari yang tenggelam begitu menyilaukan. Aku tak bisa melihat senyumannya langsung. Hasilnya mungkin telah diputuskan'
.
.
.
TBC
.
.
.
Ya ya saya tahu ini memang FF ga jelas. Hahaha. Silahkan protes di kotak review ya #modus
Bingung sama Chanyeol POV yang selalu ada diakhir cerita? Itu hanyalah perasaan Chanyeol ketika mengingat masa lalunya dan sebagai kata kiasan untuk menggambarkan bagaimana Baekhyun itu.
.
.
Hai! Maaf ya FF nya saya anggurin lama. Ini saya ngetiknya agak buru-buru jadi mungkin banyak typo, mohon dimaklumi. Tadi di sidoarjo lagi ujan lebat, bikin rasa ingin ngetik meningkat karena suasana melo gitu :D
Btw siapa yang lagi menjalani SBMPTN? Semoga berhasil ya, saya sudah pernah nyoba dan gagal. Semoga kegagalan yang saya alami tidak kalian rasakan ya.
Hayoloh, Krisbaek sudah muncul. Kira-kira Baekhyun kenapa nerima Kris? Karena dia ganteng? #ditimpuk Chanyeol
Chan ini ya, anu banget, anu itu, keras kepala banget #Iyalah Baekhyun punya gue! *itu chanyeol
Pokoknya nantikan cerita selanjutnya.
.
.
Jujur saya agak kecewa karena yang baca meningkat tapi yang review ga sampe 10 orang. Ceritanya jelek banget ya sampe kalian ga mau ngasih pendapat? Saya hanya berharap kalian bisa menyemangati saya dengan review kalian untuk melanjutkan FF ini.
Sekian cuap paparampa dari saya.
.
.
.
Big Thanks to :
[whey.K],[kumaberry],[Nur Safitri Shiners Exo-l],[guest],[ ]
Dan semua yang udah follow dan favorit FF ini.
.
.
.
Jangan lupa yaa. Ditunggu reviewnya biar saya semangat untuk update.
Salam sayang, Bunny,
