Author's notes:

- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.

- Ditulis hanya untuk hiburan.

- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.

- Alternate Universe setting out of character.

- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.

- Didedikasikan untuk event Flore 2016.


A Story of Fond Memories

.

.

.

Chapter Three

A Moment

.

.

.

Ino dan Sai duduk di bangku taman yang mereka duduki saat pertama kali bertemu. Suhu yang begitu rendah di sana seakan tidak mengganggu mereka, tak ada satu pun dari mereka yang mengeluh kedinginan. Keduanya saling diam.

Ino hanya memandangi kedua tangannya—yang tidak ditutupi sarung tangan—tanpa bergerak dan bersuara. Ia tidak mengerti mengapa saat yang ditunggu-tunggunya justru membuatnya kehabisan kata-kata. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan kepada Sai, tapi kata-kata itu tidak mau meluncur lewat mulutnya.

Suasana begitu hening sampai Sai angkat suara, "Jadi, kenapa kau mencariku?"

Saat Sai bertanya, Ino mencoba menyusun kalimat dan inilah hasilnya, "Di kamarku. Foto. Aku… menemukan foto. Foto itu… aku penasaran. Aku mencarimu ke mana-mana. Di foto itu aku bersamamu. Yah, kau tahu?"

Satu alis Sai terangkat, sungguh terlihat jelas bahwa Sai tidak mengerti. Ayolah, tidak akan ada orang yang bisa mengerti kalimat berantakan itu! Ino malu pada dirinya sendiri! Sehingga ia merutuki diri sendiri di dalam hati.

Tapi dugaan Ino salah, Sai ternyata mengerti.

"Kau menemukan fotomu bersamaku di kamarmu, jadi kau mencariku ke mana-mana karena penasaran tentang foto itu?"

Sai hebat sekali, batin Ino bicara. Ia mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, bisakah kau ceritakan padaku tentang foto itu? Dulu kita pasti saling mengenal, jadi apakah hubungan di antara kita? Dan apa maksudmu mengatakan 'aku hanya ingin mengenalmu' jika kau memang sudah mengenaliku sejak awal?" Ino menyerang Sai dengan pertanyaan penuh harap. Wajahnya tersenyum, ia harap ia akan menerima jawaban yang bagus.

Sai membalas senyuman Ino, tetapi lelaki itu tidak membalas tatapannya. "Sayangnya aku tidak bisa mengatakannya." Ino bisa melihat rasa sesal di wajahnya.

"Tidak bisa mengatakannya?!" Ino tidak terima jawaban itu. Tentu saja tidak! Ia sudah mencari Sai ke mana-mana dan itu tentu menghabiskan tenaga dan waktunya! Oh, jangan lupa uji kesabaran yang didapatnya! Dan jawaban yang diperolehnya hanya itu?! "Tapi Sai, aku sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk ini!"

Senyuman Sai memudar, ia hanya tertunduk dan memandang ke arah bawah. Lalu ketika wajahnya terangkat dan matanya menatap Ino, ia berkata, "Aku tidak punya hak untuk mengatakannya. Jika aku mengatakannya pun, ingatanmu tentang kita tidak akan pernah kembali. Ingatan itu akan kembali hanya pada waktunya dan itu bukan aku yang menentukan."

"Tapi…"

Sai kembali menunduk. "Kuharap kau mau mengerti."

Suara Sai terdengar dingin, Ino dapat merasakannya. Tidak hanya itu, Sai merasa sedih. Menyadarinya, Ino merasa tidak enak hati. Tunggu dulu, kenapa Ino mendapati dirinya begitu perhatian pada Sai?

"Baiklah, maafkan aku," ujar Ino dengan nada menyesal, mengabaikan rasa herannya akan perasaannya sendiri.

Sai mengangkat wajah dan tersenyum. "Kau tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maaf karena membuatmu kecewa, padahal kau sudah bersusah payah mencariku."

Wajah Ino memanas dan pipinya memerah mendengar suara lembut dari Sai, sebuah reaksi yang belum pernah ia rasakannya sebelumnya. "Tidak apa-apa, sebelumnya aku pernah bertindak kasar padamu. Maafkan aku," ucap Ino setelah mendesah singkat.

"Aku tidak ambil hati kok." Lelaki itu masih tersenyum. "Anggap saja kita belum pernah mengenal, jadi mari mulai dari awal."

Senyuman Ino ikut merekah lalu membalas penuturan Sai, "Ya."

Kali ini Ino bisa memahaminya, entah apa yang terjadi di antara mereka di masa lalu, Sai pasti merasa berat untuk menceritakan semuanya. Tak apa, ingatan itu pasti akan kembali pada waktunya. Mungkin, dengan selalu berada di samping Sai membuat ingatannya sedikit demi sedikit memulih. Karena itulah, Ino menerima keputusan Sai tanpa berat hati. Sebenarnya tanpa Ino sadari, bersama dengan Sai saja sudah lebih dari cukup baginya.

Sai tertegun, ia tak menyangka Ino akan menyetujui keputusannya semudah ini. Ia pikir Ino akan marah padanya dan pergi, tapi ternyata tidak. Kenyataan itu membuat Sai tersenyum tipis dan hatinya menghangat.

"Ino?"

Ino memandang Sai lalu menyahut, "Ya?"

Saat ini Sai hanya berharap wajahnya tidak memerah. "Kau tahu, hari Jumat pekan ini akan diadakan festival Lumiere di Westminster Abbey?"

"Ya?"

Kegugupan Sai bertambah. "Jadi, maukah kau menemaniku ke sana? Ah, aku tahu ini kedengaran mendadak." Sai menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal sebelum menambahkan, "Yah, seperti yang kau dengar, ini hanya ajakan. Aku tidak memaksa. Jika kau punya jadwal lain atau kau sudah ada janji akan pergi ke sana dengan orang lain, aku tak apa."

Ino tersenyum senang. Belakangan ini, festival tersebut memang hangat diperbincangkan. Pada saat itu Ino pikir ia akan pergi bersama ayah dan ibunya. Tapi ternyata ada seorang lelaki mengajaknya pergi. Ini sungguh di luar dugaan! Belum lagi, yang mengajaknya adalah Sai! Itu memunculkan harapan baru bagi Ino, Jumat depan ia akan kembali mengingat masa lalunya walau sedikit bersama Sai! Ino tentu tidak akan menolak kesempatan ini!

"Dengan senang hati aku terima tawaranmu."

Sesaat kemudian, Ino bisa melihat binar rasa senang dalam sorot mata Sai yang teduh itu. Tanpa disadari Ino, ia tenggelam dalam tatapan itu serta ikut merasakan kesenangan yang Sai rasakan.

.

.

.

Ino membuka lemarinya, satu-persatu ia raih baju-bajunya yang menggantung lalu diletakannya di atas kasur. Ia bersedekap sejenak dan matanya bergerak dari kanan ke kiri, memerhatikan baju-baju musim dinginnya yang berderet rapi di atas kasur. Peacoat, parka, puffer, dan fur coat.

Ino kembali memandang lemarinya lalu mengeluarkan satu pakaian kesayangannya, sebuah dress. Ingin rasanya memakai short dress dengan tali bahu yang tipis itu, tubuh langsingnya akan semakin terlihat jelas dengan baju seperti itu. Tapi ia bisa mati kedinginan dengan baju itu, tentu saja.

Pandangan Ino beralih kepada baju di sebelah dress itu, sebuah peacoat. Ino menggelengkan kepalanya kuat-kuat, apakah ia akan kelihatan ketinggalan zaman dengan pakaian itu? Sebagian orang berkata 'ya', dan sebagiannya lagi 'tidak'. Oh, kedengarannya bukan pilihan yang bagus.

Puffer? Sejujurnya, itu bukan jaket terbaik yang Ino miliki. Parka? Sayangnya Sai pernah melihat ia mengenakan pakaian ini sebelumnya. Fur coat? Memangnya ia mau ke mana?! Fur coat rasanya terlalu berlebihan hanya untuk sekedar mengunjungi festival, ia hanya akan terlihat salah kostum nanti.

Ino membuka lemarinya lagi dan mengeluarkan beberapa pakaian. Sebuah bright jeans dan knitted sweater. Lalu ia keluarkan lagi pakaiannya yang lain, trench coat.

Ino menggigit bibirnya seraya menatap sweater berwarna pink itu dan trench coat cokelat mudanya bergantian. Ino sudah jatuh hati pada kedua pakaian itu.

Ia akan terlihat elegan dengan trench coat, lalu terlihat kawaii dengan sweater. Antara kawaii dan elegan, manakah yang menjadi selera Sai?

Tunggu-tunggu! Kenapa ia merasa bingung memilih baju?! Kenapa ia begitu memikirkan selera Sai tentang wanita?! Ini bukan kencan! Baju apapun yang ia kenakan itu tidak penting, yang penting membuat tubuhnya hangat di musim dingin ini!

Baiklah, Ino akan memilih secara acak. Sambil menyanyi, jari telunjuk Ino menunjuk sweater dan trench coat sesuai dengan ketukan nada dan akan memilih baju yang ditunjuk Ino saat lagunya berhenti.

"Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are. Up above the world so high, like a diamond in the sky. Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are."

Jari Ino berhenti bergerak di trench coat sehingga ia meraih baju itu dan mencocokannya dengan tubuhnya. Saat ia menatap bayangannya di cermin, Ino sedikit memanyunkan bibirnya. Sepertinya tidak cocok. Ino lalu mengambil sweater-nya kemudian mencocokannya pula di depan cermin. Ino tersenyum lalu bergumama pelan, "Aku pilih yang ini."

Sudah ia putuskan, ia akan mengenakan knitted sweater dengan kaus lengan panjang berwarna putih lalu bright jeans dan sepatu boot cokelat ber-heels lima sentimeter, serta membawa handbag berwarna tosca dengan pita coral miliknya. Sekarang, ia tinggal memikirkan tatanan rambut yang akan menghiasi kepalanya nanti.

Nanti.

Benar.

Berkunjung ke festival dilaksanakan empat hari lagi, dan Ino mempersiapkan semuanya dari sekarang.

.

.

.

Ino melirik arloji mungil berwarna merah yang melingkari tangan kirinya. Waktu janjian mereka sebenarnya berlangsung lima belas menit lagi. Namun Ino sama sekali tidak keberatan menunggu, karena ia memang sengaja datang cepat saking menantikannya momen ini.

Sambil tersenyum, Ino mengelus rambutnya yang ia tata rapi. Rambut pirangnya diikat tunggal di samping kiri dengan kepangan melingkar di kepalanya dan poninya dijepit ke samping kiri dengan jepitan mungil berwarna peach. Ia benar-benar siap untuk ini.

Cahaya-cahaya yang yang terlihat melayang-layang di udara mengisi kegelapan malam, bangunan tua yang disulap indah dengan warna-warni cahaya indah, keunikan bentuk dan gambar cahaya, keramaian festival, dan mahakarya seniman cahaya yang menakjubkan memenuhi sekeliling Ino sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Ya, tidak sama sekali, Ino sudah mengunjungi festival ini setiap tahun dan tak ada yang istimewa baginya. Saat ini Ino tengah sibuk memikirkan Sai dan segala sesuatu yang dilihatnya tidak diproses otaknya lebih lanjut. Kecuali setelah Sai tiba.

"Ino!"

Suara yang tiba-tiba muncul di belakang Ino membuat gadis itu menoleh ke arah sumber suara. "Sai!" sapanya.

"Apakah kau sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat." Ekspresi menyesal memenuhi wajah Sai.

Ino menyadari, Sai berlari dengan sangat cepat untuk sampai ke sini sehingga Ino tersenyum riang dan menggeleng pelan. "Aku juga belum lama sampai. Lagi pula waktu janjian kita 'kan lima belas menit lagi? Aku yang datang terlalu cepat, tidak perlu minta maaf."

Sai tersenyum. "Baiklah, kalau begitu ayo kita berkeliling, festivalnya telah dimulai."

Ketika Sai melangkah, Ino menjajarkan langkahnya di samping Sai. Ino tersenyum lebar, tidak sabar menunggu pendapat Sai mengenai outfits yang dikenakannya saat ini.

Setelah beberapa menit berjalan menikmati festival, yang Sai bahas sejauh ini adalah betapa indahnya cahaya-cahaya yang menghiasi malam. Selama itu, Ino hanya menyahut seperlunya. Apakah penampilannya ini kurang mencuri perhatian Sai? Apakah cahaya-cahaya itu lebih indah dibandingkan Ino?

Ino memalingkan wajah dari Sai seraya memasang wajah cemberut karena kesal, dan sementara itu Sai memerhatikan wajah Ino begitu lekat. Ino menyadarinya dan lama-kelamaan ia mulai merasa terganggu. "Apa lihat-lihat?!" Ino melotot.

Sai tampak gugup lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Ino dan memalingkan pandangan ke sudut lain sambil berkata, "Maafkan aku, aku hanya berpikir bahwa tampaknya kau lebih cantik dari biasanya." Alis Sai mulai mengerut dan tampak khawatir. "Ah! Maksudku bukan selama ini kau tidak cantik, kau cantik setiap saat, tapi sekarang ini rasanya kau…" Sai memaksakan tawa sehingga ia terdengar hambar. "Aduh, apa yang sebenarnya kubicarakan? Tidak usah kau gubris ya?" Sai tertawa lagi.

Sai merasa bodoh sekali. Apa yang merasukinya sampai melihat Ino dengan jarak yang terlalu dekat?! Baik, seluruh lelaki normal di dunia ini pasti terpesona melihat Ino. Tapi setidaknya ia harus bisa mengontrol dirinya! Lihat? Kalau sudah begini apa yang bisa Sai ucapkan? Ia pasti disangka sebagai lelaki mesum oleh Ino meski sebenarnya kata 'mesum' sama sekali tidak cocok ditempatkan pada pribadi dirinya.

Ino merasa puas pada dirinya saat mendengar kata-kata yang Sai rapalkan, menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdandan ternyata tidak sia-sia.

Ia menyadari wajahnya memerah dan ia mendapati dirinya mengembangkan senyum tanpa otaknya perintahkan. Wajahnya tertunduk, tak ingin Sai melihat pipi merahnya ini.

Ino senang sekali! Rasanya seperti cahaya-cahaya di langit melam ini menariknya dan membawanya ke angkasa untuk melihat jutaan bintang yang bersinar terang! Dan sementara itu seluruh dunia takjub oleh kebahagiaan sejati yang dipancarkan Ino!

Sesaat kemudian otak Ino merasa heran dengan hatinya sendiri, heran kenapa yang Sai lakukan sangat berpengaruh terhadap suasana hatinya.

"Sai?" ucap Ino saat ia sudah mampu mengontrol batinnya yang berisik.

Sai menoleh, barulah saat itu ia berheti tertawa. "Ya?" Wajah serius Ino yang tengah tersenyum itu membuat ia bisa bernapas lega dan ia menaruh harapan bahwa gadis itu tidak membahas apa yang barusan Sai ucapakan.

"Kenapa kita berhenti berjalan? Ayo kita lihat cahaya-cahaya yang lain!" Uap putih keluar dari mulut Ino saat gadis itu berkata.

Sai tersenyum tipis. "Kau benar, ayo!"

Mereka berdua kembali melanjutkan langkah.

Seluruh penjuru Westminster Abbey dipenuhi cahaya yang menakjubkan dan musik pengiring yang lembut terdengar dari kejauhan. Lampu di setiap sudut jalan berdiri dengan berbagai bentuk yang indah dan abstrak. Di atas mereka berjalan, cahaya yang juga beragam warna melayang-layang indah. Pohon-pohon kering di musim dingin tidak lagi terlihat membosankan, warna pelangi mengisi kekosongan pohon-pohon tegak itu. Seluruh bangunan kuno di sini diselimuti cahaya bergambar yang cantik. Bahkan jalan yang mereka tapaki pun dipenuhi cahaya.

Tapi bukan itu semua yang membuat Ino merasa begitu spesial malam ini, tapi kehadiran Sai di sisinya. Ino diam-diam mencuri pandang wajah Sai yang tengah menatap cahaya-cahaya itu dengan terpesona. Ino tidak menyangka ternyata senyuman Sai lebih menghibur dibanding apa pun.

Malam ini begitu terang, seperti hati Ino.

Ino membenci musim dingin dan Ino membenci kota London, apa lagi kombinasi dari keduanya. Tapi saat Sai ada di sini, Ino tidak menyangka musim dingin bisa sehangat ini, dan kota London bisa seindah ini. Rasanya, seluruh kebencian dalam diri Ino runtuh dan meninggalkannya jauh-jauh. Ino tersenyum tanpa alasan.

Sementara itu—tanpa disadari Ino—Sai juga tengah sibuk di dalam hati kecilnya. Ia begitu menikmati malam ini dan ia tak menyangka Tuhan memberikan kesempatan baginya untuk menghabiskan waktu bersama Ino sekali lagi.

Saat ini Sai tidak peduli Ino mengingat dirinya atau tidak, kenyataan Sai bahagia bersama Ino tidak akan pernah berubah apa pun yang terjadi. Dan yang terpenting, Ino ikut bahagia. Bahkan Sai berharap, Ino tidak pernah sembuh dari amnesianya. Jika harapannya terkabul, Sai bersumpah bahwa ia tidak akan pernah mengharapkan apa pun lagi selain kebahagiaan Ino.

Ketika melangkah, punggung tangan kiri Ino bersentuhan dengan punggung tangan kanan Sai. Hal itu membuat wajah Ino memerah. Tentu saja hal itu sudah sangat biasa, tapi bagi Ino ini adalah sesuatu yang sulit dijelaskan.

Setelah beberapa saat, beberapa jari Sai meraih jari Ino dan wajah gadis itu semakin memerah. Lama-kelamaan jari-jari tangan Sai yang lain menggapai seluruh bagian tangan Ino kemudian menggenggamnya erat.

Selama beberapa saat, Ino dan Sai bumkam mulut karena terlalu hanyut di dalam suara hati masing-masing dan tak ada satu pun dari mereka yang terganggu akan hal itu. Hanya suara musik pengiring yang samar dan suara para pengunjung festival—yang sangat ramai—yang mengisi telinga mereka.

Ketika kaki mereka sampai di sebuah kedai yang ramai dengan antrean pajang, barulah Ino bersuara dengan semangat, "Wah fish and chips!" Mata Ino berbinar saat mengucapkannya. "Kebetulan sekali perutku sudah lapar!" Hal lain yang menjadi tujuan Ino sebenarnya adalah mencoba menghilangkan kegugupannya yang meresahkan ini.

"Kau mau beli?"

"Ya!" jawab Ino masih dengan semangat yang sama.

"Oh iya, benar juga! Kau memang sangat menyukai fish and chips!" Lelaki itu mengangkat senyuman.

Apa maksudnya dengan 'memang'? Ino membatin. Benar juga, Sai mengenaliku tidak seperti diriku mengenalinya.

"Ya! Jadi, apakah kau mau beli juga?"

Saat itu Sai bingung bagaimana menjawab pertanyaan sederhana yang Ino lontarkan itu. "Tidak usah." Sai tersenyum palsu.

"Di sebelah sana ada toko pie, bagaimana kalau pie? Sekarang sudah benar-benar larut, kau pasti kelaparan."

"Aku sedang diet," jawab Sai.

Mulut Ino menganga lebar, dan matanya terbuka lebar selebar mulutnya. "Diet?! Dengan tubuh sekurus itu kau melakukan diet?!"

Suara keras Ino membuat beberapa orang menoleh heran ke arahnya, akan tetapi Ino sama sekali tidak peduli.

Sudah Sai duga jawabannya akan membuat Ino terkejut dan Sai merasa bersalah akan keributan yang ditimbulkan Ino sehingga orang-orang memandanginya. "Bukan diet untuk mengurangi berat badan, tapi diet untuk kesehatan, kau tahu? Aku hanya boleh makan di jam-jam tertentu dan makan makanan tertentu."

Ino menganggukan wajahnya lalu bergumama, "I see." Ino berjalan menjauhi Sai menuju garis antrean sambil menambahkan, "Kalau begitu aku mengantre dulu, kau tunggu di sini ya."

Sai mengangguk dan Ino memusatkan pandangan pada kedai di depannya. Selama mengantre, Ino menunduk dan tersenyum kecil. Entah kenapa rasanya kejadian ini seperti mimpi dan ia ingin bisa seperti ini selamanya, bersama Sai. Ino mengangkat wajahnya, entah kenapa pula ia merasa bahwa ia begitu merindukan saat-saat seperti ini, padahal ia yakin bahwa ini pertama kalinya ia merasakan hal semacam ini.

Setelah cukup lama mengantre, Ino membayar fish and chips yang diterimanya. Saat memutar tubuh ke belakang. Orang-orang di sekelilingnya menghalangi Ino untuk menemukan Sai. Astaga, ia yakin barusan tidak seramai ini. Ino berusaha menyelip, tapi tidak semudah yang ia bayangkan. Ia berhenti berupaya sampai matanya melihat sosok Sai yang berjalan membelakanginya ke arah toko pie.

Ino mengejarnya dan berseru, "Sai!" Ino menepuk pundak lelaki itu seraya berkata, "Kau berubah pikiran rupanya! Kenapa kau tidak menga…" kalimat Ino menggantung saat lelaki tinggi yang ditepuknya menoleh ke arahnya, "jakku…"

Lelaki itu tersenyum ke arah Ino, berusaha bersikap santai agar gadis itu tidak terlalu merasa malu.

Ino berusaha tidak mengacuhkan rasa malunya saat ini. "Ah, I'm sorry. Sepertinya aku salah orang."

"Ya, tidak masalah," jawab lelaki itu yang memiliki bentuk rambut dan tinggi badan yang mirip seperti milik Sai.

"Excuse me." Sesudah mengucap permisi, Ino memutar tubuh dan kembali mencari Sai. Wajar saja ia kesulitan mencari Sai, sepanjang jalan ini ditutupi cahaya terang dari atas dan jalan ini dipenuhi oleh pengunjung festival sehingga warna tubuh semua orang di sini tampak sama—hijau, merah dan ungu.

Ino memutuskan untuk kembali ke tempat terakhir Sai berdiri, di sebuah pagar seberang kedai fish and chips. Ketika Ino sampai di sana, ia tidak mendapati Sai berdiri di sana, saat itulah ia menggit bibir dan mulai merasa cemas. Juga merutuki kebodohan diri sendiri karena belum meminta nomor telepon lelaki itu.

Kaki Ino melangkah mengelilingi Westminster Abbey.

Setelah sekian lama, Ino mulai lelah berjalan, kakinya terasa sakit. Sejak awal ia membiasakan berjalan di atas sepatu ber-heels, Ino tidak pernah merasa nyaman meski hanya setinggi lima senti meter. Tapi meskipun ia mengeluh, di satu sisi ia juga tidak bisa berhenti mencari Sai. Ke mana Sai kira-kira?

Ino memejamkan matanya dan berpikir. Ke mana Sai pergi? Ino sudah memiliki pengalaman mencari Sai, dan pengalamannya ini membuatnya terbiasa. Saat ia mencari Sai dengan berbagai petunjuk, tak satupun petunjuk itu membawanya kepada Sai.

Sejauh ini, tempat tersering yang membuatnya berjumpa dengan Sai adalah… St. James' Park. Ino tahu ini kedengarannya gila! Tapi entah mengapa hatinya berteriak padanya bahwa Sai akan ada di sana!

Ino mencari taksi, setelah ia temukannya ia segera menyuruh sopir taksi membawanya ke St. James' Park.

Selama di dalam taksi Ino tidak henti-hentinya berharap Sai ada di sana, namun ia juga merasa tenang karena ia merasa yakin Sai ada di sana.

.

.

.

Satu cahaya lagi melayang di udara, melintasi jalan yang Sai tapaki. Jalanan di sana semakin ramai karenanya. Dari tempat Sai berdiri, ia tidak dapat melihat Ino karena orang-orang semakin berkerumun di antara mereka. Sai berusaha menembus lautan manusia yang penuh sesak. Setelah sampai di depan kedai, Sai tidak menemukan ada Ino di sana dan ia mulai sedikit panik.

Cahaya terang yang menyirami jalan ini membuat Sai sulit membedakan Ino dan orang lain, semuanya tampak sama. Tapi tentu saja Sai tidak menyerah hanya karena hal itu, ia tidak akan membiarkan dirinya menghancurkan setiap detik momen penting ini. Momen yang tepat untuk membuat kenangan baru yang indah!

Sai berlari kencang dan memerhatikan setiap orang di sekelilingnya. Meski di sini ramai, hatinya yakin ia pasti bisa menemukan Ino. Sai berlari melintasi setiap ruas jalan di Westminster Abbey dan matanya berkeliaran ke mana-mana.

Tapi tidak ada, tidak ada Ino di dekatnya. Sai tidak tahu ke mana arah perginya gadis itu. Tapi satu hal yang Sai yakini, Ino pasti tengah mencarinya juga. Mata Sai terpejam, ia menenangkan diri dan berpikir. Ino pasti mencarinya ke tempat dirinya berada. Kira-kira, ke mana Ino akan mencarinya?

Mata Sai terbuka lebar dengan cepat kemudian ia segera melanjutkan larinya kala ia menemukan sebuah jawaban di kepalanya. Selama berlari ke sana Sai terus berharap dugaannya salah, semoga Ino tidak ada di sana. Kalo Ino berada di sana, ia tidak bisa memaafkan dirinya.

Setelah ia sampai di tempat yang ditujunya, ia mendapati tebakannya tepat. Ino berada di St. James' Park. Gadis itu duduk di bangku taman yang biasa didudukinya, wajahnya tertunduk dan ekspresinya datar. Ia seperti sedang menunggu Sai, dan dilihat dari apa yang dilakukannya sekarang, tampaknya ia yakin Sai akan datang.

Entah Sai harusnya merasa senang atau sedih menemukan Ino di sini, yang jelas ia tidak suka melihat Ino melakukan ini. Sai tidak suka melihat Ino menunggunya, apa lagi di tempat sepi di tengah malam seperti ini.

Sai menghampiri Ino lalu duduk di sisinya, Sai bertanya dengan nada tegas, "Apa yang kau lakukan?"

Saat mendengar suara Sai, Ino tersadar dari lamunanya dan mengangkat wajah kemudian tersenyum memandang Sai. "Menunggumu."

"Bagaimana kalau aku tidak datang?" tanya Sai, heran.

Gadis itu masih tersenyum dan berkata dengan santai, "Tapi kau datang, aku tahu kau akan datang."

"Kenapa kau begitu yakin?"

Ino mengangkat bahu. "Entahlah." Gadis itu masih tersenyum. Jujur saja, ia senang sakali. Menghabiskan waktu bersama Sai, mendengar pujian dari Sai, kehilangan Sai, mencari Sai, menuggu Sai, dan ditemukan oleh Sai. Ino tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi padanya sekarang, tapi ia merasa saat ini ia menjadi dirinya yang sebenarnya. Ino merasa, sepertinya ia menjadi gadis yang begitu lembut saat ini, dan ini lah jati dirinya yang sebenarnya. Dan saat Sai berada di sampingnya seperti ini, Ino berharap waktu berhenti berjalan.

Saat menunggu Sai tadi, Ino tidak merasa ketakutan, bosan, cemas, ataupun kedinginan. Sebaliknya, ia merasa tenang, senang, damai, dan hangat. Dan semua perasaan itu bertambah kala ia merasakan kehadiran Sai. Entah kenapa.

"Sai, apakah kau marah melihatku menunggu di sini?" Ino tampak cemas, karena dari nada bicara lelaki itu, ia kedengaran kesal.

"Ya, aku marah." Sai melemparkan tatapan tajamnya pada Ino.

Ino mulai merasa tidak enak. "I'm sorry, I don't"

Sai menyela, "Aku marah pada diriku sendiri karena lengah sampai kita terpisah. Dan aku merasa cemas, bagaimana jika ada orang jahat datang dan menculikmu?"

Ino menyandarkan kepalanya di lengan Sai dan memekarkan senyuman. "Tapi kita sekarang sudah bertemu dan aku baik-baik saja."

Sai lalu ikut tersenyum dan mengusap kepala Ino. Benar juga, sudah lupakan saja apa yang telah terjadi. Yang penting sekarang, Sai harus memastikan Ino bahagia di sisinya. "Please forgive me, Ino."

Ino menggelengkan kepala. "Tidak ada yang salah di sini Sai. Dan kau tahu? Aku bahagia sekali hari ini. Terima kasih sudah mengajakku menonton festival Lumiere, memuji penampilanku, menggengam tanganku, mencariku, menemukanku, dan terima kasih untuk segalanya yang kau berikan padaku."

Dalam hati Sai berkata, aku tidak memberikanmu apa pun selain kesedihan.

"Aku benar-benar bahagia. Jangan pernah tinggalkan aku lagi, ya? Tetaplah di sisiku."

Saat mendengar Ino berkata begitu, Sai merasa hatinya ditusuk. Tentu saja hal ini adalah tujuannya—membuat Ino merasa bahagia, tetapi hal yang menyakitkan sedang menunggunya. Dan Sai tidak pernah mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan dari ini. Wajah Sai tertunduk dan ia hanya tersenyum getir.

Sesaat setelahnya, air mata Ino tiba-tiba meluncur, kedua matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka, alisnya mengerut dan terangkat, lalu mendadak tubuhnya terpaku.

Saat Sai menyadarinya, ia memegang kedua tangan Ino dan berkata dengan suara keras di depan wajahnya, "What's wrong, Ino?!" Sai mengguncang-guncangkan tubuh Ino untuk menyadarkannya. Namun, bagaimana pun bentuk usaha Sai, ekspresi di wajah Ino tidak kunjung berubah.

.

.

.

To Be Continued

Next Chapter

Her Memories

.

.

.


Author's note:

Tentang festival, itu terinspirasi dari lagu ending Naruto yang keempat belas: Utakata Hanabi dari kalo aku gak ngedengerin lagu itu waktu nulis chapter ini, aku bakalan nge-stuck. Jadi, gimana komentar kalian? :)