Main Cast : Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun (girl)

Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort

Rated : T (dapat berubah sewaktu-waktu)

A Town Where You Live

.

.

.

Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.

Mengapa saya tidak merubahnya?

Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.

.

.

Happy Reading ~

.

.

.

Previous Chapter

"Apa yang terjadi sebenarnya.. Kris terlihat tidak berbohong, dia pasti tidak tahu apa-apa soal hubunganku. Mungkinkah Baekhyun … Tapi kenapa?" dia mengusap wajahny dengan kasar.

Tiba-tiba dia terfikir sesuatu dan segera bangun. Dia berlari terbirit-birit menuju keluar bahkan membuka pintu dengan dan kasar tak menyadari keberadaan noonanya yang baru saja akan membuka pintu.

"Yak! Kau ini apa yang terjadi. Hei! Mau kemana kamu dijam segini?" Yoora hanya bisa menghela nafas kasar melihat adiknya yang tak mempedulikannya dan memilih masuk ke apartmennya.

Sementara itu Chanyeol terus berlari dengan terengah-engah.

'Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Sama seperti dulu' batinnya sambil terus berlari.

.

.

.

Flashback On

Baekhyun dengan telaten menyusun lauk dikotak bekal makan siangnya dan Chanyeol didapur. Ibu Chanyeol yang melihat gadis itu kebingungan meletakkan brokoli karena kotaknya sudah mulai penuh pun hanya tersenyum cantik. Nyonya Park sebenarnya sangat ingin membantu Baekhyun, tapi gadis itu tak mengijinkannya, sehingga dia memutuskan untuk mencuci piring saja sambil mengawasi Baekhyun.

"Baekhyun! Ayo cepat nanti kita terlambat!" teriak Chanyeol dari ruang tamu. Sepertinya dia sudah selesai bersiap-siap. Baekhyun hanya mendengus kasar, dia masih belum memutuskan mau ditaruh dibagian mana brokoli itu.

"Iya iya sebentar!" Akhirnya dia meletakkan brokoli itu sedikit berdesakkan dengan lauk yang lain. "Ah selesai! Tapi aku belum membereskan kekacauan yang kubuat didapur, dasar Chanyeol selalu tak sabaran." Sungutnya kesal sementara Nyonya Park hanya terkekeh kecil melihat Baekhyun yang mengerucutkan bibirnya kesal.

"Sudahlah, kau berangkat saja daripada kau ditinggal Chanyeol. Biar bibi yang membereskan ini." Ujar Nyonya Park lembut.

"Benarkah? Terima kasih, bi" ucap Baekhyun berbinar lalu segera memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas yang sudah disiapkannya dan berlari kecil. "Aku berangkat bi, siang na-Hya!" Baekhyun menabrak buffet kecil dan menjatuhkan beberapa benda diatasnya.

"Kau baik-baik saja sayang?" teriak bibi Park dari arah dapur.

"Ya, bi. Hanya terjatuh" Baekhyun segera meletakkan tas dan tas bekalnya dan berlutut mulai memungut barang yang jatuh. Dia tersenyum sangat manis ketika melihat album foto Chanyeol saat masih kecil yang juga terjatuh. Dia mengelus foto itu, Chanyeol sedang bersama 2 orang teman gadisnya dan 1 teman lelakinya sedang memakai baju tradisional Korea, sepertinya ditengah-tengah festival. Gadis berpipi tembam terlihat merangkul leher Chanyeol dan teman lelakinya dengan erat, sementara gadis disamping Chanyeol hanya memegang lengan baju Chanyeol dan menatap polos ke kamera.

.

.

.

Chanyeol kecil terus berlari disepanjang jalan difestival itu. Lalu dia berbalik melihat 2 temannya, Minseok dan Jongdae kecil yang berada dibelakang.

"Ayo! Cepat! Ah kalian lambat sekali. Sepertinya banyak sekali permainan disini!" teriak Chanyeol. Jongdae dan Minseok yang mendengar teriakan Chanyeol segera berlari menyusul Chanyeol dengan senyum bocahnya. Chanyeol tertawa senang temannya yang berlari berlomba saling mendahului.

.

.

.

Chanyeol meletakkan sepatunya diloker dan menukarnya dengan sepatu khusus sekolahnya sambil terus menggerutu.

"Ayo Baek, cepat. Tadi kau berkata ingin menyiapkan bekalnya tapi justru mengacaukannya. Kita hampir saja terlambat"

"Aku tak pernah memasak sebelumnya, Chan." Bela Baekhyun sambil mencoba mengejar Chanyeol. Lalu tiba-tiba dia terhenti "Ya ampun!"

Chanyeol yang hampir saja menaiki tangga tiba-tiba terhenti dan berbalik kearah Baekhyun.

"Kenapa?"

"Aku lupa bawa kotak bekalnya, Chan.." ucap Baekhyun polos.

"Astaga. Kau bilang lupa? Apa itu berarti kau juga melupakan kotak bekal makan siangku?" Tanya Chanyeol sedih.

"Maaf, ya…" cicit Baekhyun tersenyum penuh dengan rasa bersalah.

"Hah, kenapa kau tidak bilang sesuatu sebelum kita berangkat tadi? Kenapa kau bisa lupa Baek.." desah Chanyeol.

"Tapi kan tadi kau menyuruhku agar cepat-cepat.. Oh!" Baekhyun terhenti berbicara dan melirik kebelakang Chanyeol, tepatnya dibagian teratas tangga. Chanyeol yang bingung pun lantas berbalik. Dia terkejut melihat siapa yang berada diatas, yang ditatap pun terlihat terkejut dan merasa bersalah. Baekhyun menatap gadis itu dengan senyum cerianya.

"Oh, maaf. Apa aku mengganggu kalian?" ucap Kyungsoo sambil menutupi mulutnya dengan buku yang dibawanya.

"T-tidak kok, aku dan Baekhyun hany-"

"Tak apa, tak usah khawatir. Aku tak dengar apapun.." Kyungsoo itu memotong perkataan Chanyeol dengan penuh rasa bersalah.

"Hei, ini tidak seperti itu. Kami tak membicarakan hal yang penting." Jawab Chanyeol cepat. Sementara Baekhyun hanya menatap mereka berdua dengan diam. "Ah iya, ada apa? Apa kau perlu sesuatu?" lanjut Chanyeol. Kyungsoo menyembunyikan buku yang dibawanya dibalik punggungnya.

"I-ini bukan hal yang penting. Aku bisa menyampaikannya lain waktu. Sampai jumpa!" Kyungsoo segera berbalik dan berjalan meninggalkan Chanyeol yang terpaku dan Baekhyun yang hanya menatap penuh arti kearah Kyungsoo.

"Kyungsoo ya.." panggil Chanyeol. Baekhyun beranjak mendekati Chanyeol ikut menatap punggung Kyungsoo.

"Kyungsoo kenapa? Aneh sekali.." gumamnya. Chanyeol menunduk dengan wajah memerah sedikit.

'Mungkin Kyungsoo salah paham' batin Chanyeol.

Jam istrahat pun tiba. Chanyeol hanya duduk dikoridor depan kelasnya menghadap Jongdae yang bersandar dekat jendela. Karena bekalnya tertinggal, jadi dia disini bersama Jongdae menghabiskan waktu istrahatnya dengan berbincang-bincang dengan sahabatnya itu.

"Mau dilihat bagaimanapu, kalian berdua itu terlihat seperti pasangan." Celetuk Jongdae. Dia menatap langit cerah diluar jendela sekolahnya.

"Benarkah?" Tanya Chanyeol santai.

"Apa itu belum cukup jelas, bung? Baekhyun bahkan sudah mulai membuatkanmu bekal makan siang." Sambung Jongdae sambil menatap Chanyeol serius. Chanyeol langsung berdiri tegak menatap Jongdae sengit.

"Itu tidak benar! Baekhyun bilang hal yang paling tidak bisa dia lakukan adalah membuat makan siang! Dia hanya membuatnya kalau dia ingin dan sempat." Bantah Chanyeol tak terima. Jongdae hanya memutar bola matanya malas.

"Hah, kau bahkan mulai mengantarnya sampai gerbang sekolah, bung."

"Menurutku kami tidak terlihat aneh, kok.." ujar Chanyeol sambil membuang wajahnya kearah lain.

"Meskipun menurutmu ataupun Baekhyun begitu, sepertinya orang lain tidak berfikir begitu.. Dan yang jelas Kyungsoo juga berfikir seperti itu" Jongdae tersenyum jahil diakhir katanya. Chanyeol hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Dia mungkin berfikir kalian berdua sudah menjadi sepasah kekasih.." Jongdae merangkul Chanyeol menuju kelas mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.

Chanyeol terdiam sendirian dikelasnya karena dia tidak mengikuti ekstrakulikuler apapun disekolahnya. Dia menggoyangkan kakinya gelisah dan terus saja menggumam tentang apa yang harus dia lakukan untuk menjelaskan sesuatu kepada Kyungsoo agar gadis itu tidak salah paham.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Chanyeol maupun Kyungsoo –yang membuka pintu- sama terkejutnya.

"Oh, Chanyeol?"

"Hei, Kyung.." sapa Chanyeol canggung.

"Apa Baekhyun sudah pergi ke klub ekstrakulikulernya?" Tanya Kyungsoo melihat tak ada siapapun dikelas mereka.

"Iya, dia baru saja pergi dengan Minseok. Apa kau perlu sesuatu?"

"Begitu, ya.. Kalau begitu apa kau bisa mengembalikan buku Baekhyun ini padanya, Chanyeol?"

"Hm?"

"Aku mau mengembalikan ini pagi ini tadinya, tapi sepertinya kalian sedang bertengkar, jadi aku.. Tapi kau tak usah khawatir, aku tak mendengar apapun yang kalian bicarakan." Ujar Kyungsoo sedikit canggung. Chanyeol langsung berdiri dan mendekati Kyungsoo.

"T-tidak! Kau salah paham Kyungsoo. Kami cuma membahas kotak bekal makan siang yang dilupakannya tadi pagi." Jawab Chanyeol cepat.

"Oh, benarkah?"

"Ya, bahkan Jongdae juga sempat salah paham." Chanyeol berusaha terlihat santai dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi dengan gaya sok kerennya. "Dia bahkan berfikir aku dan Baekhyun adalah sepasang kekasih.." Chanyeol berusaha melirik Kyungsoo sekilas untuk melihat reaksi gadis itu.

"Jongdae bilang begitu?"

"Ya.. Ini bukan hal yang aneh dan serius" kata Chanyeol cepat mulai senang merasa dia sudah berhasil menghapus kesalah pahaman Kyungsoo. "Jongdae memang selalu berfikiran pendek, aku dan Baekhyun tidak ada hubungan apa-apa. Baekhyun juga bukan orang yang seperti itu. Tapi ini benar-benar merepotkanku. Ini hal yang cukup menyusahkan untukku"

"Ah! Kurasa aku sudah mengerti" ucap Kyungsoo berbinar.

"Benarkah?" Tanya Chanyeol senang. Kyungsoo hanya tersenyum manis.

"Chanyeol pasti menyukai Baekhyun, kan?" tanyanya dengan tatapan menyelidik yang sangat manis. Chanyeol hanya menatapnya bingung. Baru dia akan menjelaskan lagi Kyungsoo sudah berbalik keluar kelas. "Aku pergi dulu ya, Chan! Jangan lupakan bukunya.. Sampai jumpaa" teriak Kyungsoo sambil berlari sementara Chanyeol hanya menatapnya nanar dan menghela nafas sambil memeluk buku yang diberi Kyungsoo tadi.

"Ternyata cara tadi masih belum berhasil.." gumamnya.

Sore itu Chanyeol dan Jongdae duduk diatas motor gerobaknya (motor yang beroda 3 dengan gerobak dibelakangnya, biasa digunakan orang atau petani dipedesaan untuk mengangkut barang). Mereka sedang beristirahat usai menanam sayur mayur diladang mereka. Kini mereka sedang berbicara sambil mengamati Baekhyun yang berjingkat-jingkat diatas lumpur, membantu warga desa menanam padi. Beberapa kali gadis itu hampir terjatuh namun dia hanya tertawa dan terus melanjutkan pekerjaannya. Wajahnya sudah dipenuhi peluh bercampur lumpur.

"Jadi Kyungsoo salah paham?" Tanya Jongdae.

"Ya.." jawab Chanyeol lesu. "Saat aku menjelaskan bahwa aku dan Baekhyun bukanlah sepasang kekasih, dia malah berfikir kalau aku menyukai Baekhyun" Chanyeol memandang persawahan didepannya dengan tatapan kosong.

"Bagaimanapun kau menjelaskan, tetap akan sama saja." Jongdae mengalihkan wajahnya dari Baekhyun dan menatap Chanyeol. "Tapi, aku penasaran. Bagaimana reaksi dan ekspresi Kyungsoo saat kau menjelaskan itu padanya?"

"Ekspresi? Yah, seperti biasanya. Dia hanya tersenyum." Chanyeol melirik Jongdae sekilas dan mengalihkan pandangannya lagi kedepan.

"Dari yang kulihat, bisa disimpulkan Kyungsoo tidak terlalu perduli denganmu."

"Hm, baiklah jika itu yang kau pikirkan…"

"Hei! Apa yang kalian lakukan malah membolos kerja?! Aku sudah menyelesaikan semuanya hoho!" teriak Baekhyun namun dengan wajah yang tersenyum cerah. Meskipun kesulitan, gadis itu terlihat sangat bersemangat dan menikmati apa yang dia lakukan. Chanyeol hanya menatapnya datar sementara Jongdae ikut tertawa pelan.

"Kau semangat sekali Baek." Sahut Jongdae.

"Ya, karena ini pertama kalinya aku menanam padi. Sungguh menyenangkan!" ucap Baekhyun berbinar.

Hari sudah hampir malam dan beberapa petak sawah sudah ditanami. Chanyeol memandang puas sawah didepannya.

"Kerja bagus teman-teman! Kita lanjutkan sisanya besok ya.." teriak Jongdae.

"Baiklah! Hei, mana Baekhyun? Kau melihatnya?" Tanya Chanyeol.

"Kalau kau mencarinya mungkin dia sudah pulang katanya dia sangat lapar. Dia juga bilang ingin melakukan sesuatu.."

Chanyeol menjalan motor gerobaknya dengan cukup pelan sambil menggumamkan Baekhyun yang mungkin saja kelelahan bekerja makanya pulang lebih awal.

"Awaass! Minggir! Minggir! Minggir!" itu suara teriakan Baekhyun. Chanyeol terkejut melihat Baekhyun yang mengendarai sepedanya dengan sangat kencang melewatinya. Chanyeol berhenti dan menatap kebelakang. Dia segera turun dan mencoba melihat Baekhyun. Matanya membulat lalu langsung menyusul Baekhyun yang sudah terduduk dengan manisnya diatas tanah dengan sepeda yang tergeletak mengenaskan disampingnya.

"Aduh, sakit sekali.." rengek Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan, sih?" Tanya Chanyeol segera setelah dia berhasil menghampiri Baekhyun.

"Oh hai Chan!" sapa Baekhyun ceria.

"Apa maksudmu malah bilang hai? Dasar. Kalau kau mau pergi kesuatu tempat harusnya kau menungguku pulang dulu" bentak Chanyeol.

"Kau salah." Potong Baekhyun. "Aku sedang belajar naik sepeda." Chanyeol terdiam.

"Belajar naik sepeda?" dia menatap memar dan lecut disekujur kaki Baekhyun. "Ckckck, lihatlah memar dan lecet dilututmu. Kau latihan dari tadi?" Baekhyun berdiri dan segera menepuk celananya yang terkena debu tanah dan tersenyum berbinar kearah Chanyeol.

"Ya.. Tapi aku selalu jatuh." Jawab Baekhyun polos.

"Tapi kenapa kau tiba-tiba ingin belajar naik sepeda?" bukannya menjawab, Baekhyun malah segera menaiki sepeda itu sekali lagi.

"Chan, bisa kau pegangi bagian belakang sepedanya untukku?"

"Tapi kau sudah memar disana sini.."

"Sudahlah. Ayo cepat!" ucap Baekhyun penuh semangat. Chanyeol menghela nafas namun segera memegang tempat boncengan sepeda itu dengan kuat.

"Ya ampun, jangan terlalu memaksakan dirimu- Yak! Yak!" belum selesai Chanyeol berbicara Baekhyun sudah terlebih dahulu mendayung sepedanya dengan sangat kencang.

"Baekhyun jangan terlalu kencang! Kau bisa jatuh!" teriaknya sambil berlari.

"Tidak bisa. Aku bisa jatuh kalau aku memelankan sepedanya!" teriak Baekhyun penuh rasa takut.

"Tarik saja remnya, aku akan memegangmu dari belakang!" bersamaan dengan itu Baekhyun melakukan apa yang diperintahkan Chanyeol. Perlahan sepeda itu mulai berjalan dengan pelan. Setelah yakin, Chanyeol melepaskan pegangannya, dia tersenyum dengan sangat lebar melihat Baekhyun sudah mengendarai sepedanya dengan pelan.

BRUK

Namun itu tak berlangsung lama, 10 langkah dari tempatnya Baekhyun kembali terjatuh dengan tidak elitnya. Chanyeol hanya mendesah ringan sementara Baekhyun hanya menunjukkan cengiran imutnya.

Chanyeol duduk dipinggir sawah untuk beristirahat.

"Chan, ayo sekali lagi. Aku yakin bisa lebih baik kali ini." Ajak Baekhyun menenteng sepedanya mendekati Chanyeol.

"Jangan memaksakan diri, Baek. Sudahlah.."

"Tidak! Aku ingin bisa bersepeda sesegera mungkin. Selama ini aku sudah menyusahkan Chanyeol, kan?"

"Menyusahkanku? Yak, Kau-" suara Chanyeol meninggi diakhirnya "Kau mendengar apa yang kubicarakan dengan Jongdae ya?" Baekhyun hanya mengangguk polos.

"Ya ampun.." Chanyeol bangkit dari duduknya "Baekhyun, kau salah paham.. Meskipun kau khawatir karena tidak bisa bersepeda, itu takkan menghilangkan kesalahpahaman Kyungsoo. Dia bahkan tidak memikirkanku.." Chanyeol tersenyum sendu ".. Yah, seperti itulah.. Jadi tidak usah khawatir soal hal sepele seperti itu. Kau bisa duduk dibelakangku dan biarkan aku yang membawa sepedanya" ujar Chanyeol penuh semangat. Baekhyun terdiam sejenak kemudian terkekeh.

"Kupikir kau yang salah paham, Chan. Aku tidak melakukan ini untuk hal itu." Baekhyun menyandarkan sepedanya dan menatap Chanyeol dengan senyum manisnya. Dia melangkah perlahan mendekati Chanyeol "Latihan bersepeda dan membuat makan siang, semua itu agar Chanyeol mau menerima keberadaanku.."

"Aku? Kenapa begitu?"

"Kau tak tahu?" Chanyeol menautkan alisnya bingung, Baekhyun menutup matanya sejenak tak lama kemudian dia menatap Chanyeol penuh kasih "Aku menyukai Chanyeol.. Sejak saat itu.." Chanyeol langsung cengo, wajahnya perlahan memerah. Dia membayangkan ketika Baekhyun pertama kali menciumnya ketika dia sakit.

"Apa sih kau bicarakan?"

"Suatu hari nanti, aku juga akan membuat Chanyeol jatuh cinta padaku!" ujar Baekhyun penuh semangat masih dengan eyesmilenya.

"Hah?! Apa itu? Kau mengungkapkan perasaan atau menyatakan perang?"

"Yap! Kurasa kau boleh menyebut keduanya. Jadi bersiaplah!" dia menunjuk Chanyeol dengan penuh semangat.

"Y-yak! Kau pikir aku mau jatuh cinta padamu? Jangan sok tahu." balas Chanyeol tak terima.

"Tapi kalau memang terjadi bagaimana? Berarti kau kalah Chan!"

.

.

.

Mereka berempat, Chanyeol, Baekhyun, Minseok, dan Jongdae sedang duduk bersama diruang tengah Chanyeol. Mereka berbincang dan sesekali tertawa keras, membicarakan isi album foto semasa kecil mereka.

"Baek Baek, coba lihat ini. Chanyeol terjatuh saat dikalahkan bermain sumo oleh Minseok." Kata Jongdae menunjuk satu foto.

"Hei! Waktu itu festival sekolah dan Minseok yang paling tinggi diantara semuanya. Dia bahkan memenangkan lomba itu." Sungut Chanyeol.

"Ahahaha kau memang lemah Chanyeol" tambah Minseok terbahak.

"Wah, Chanyeol lucu sekali" girang Baekhyun.

"Berisik. Saat itu tidak ada yang bisa mengalahkan Minseok."

"Chanyeol bahkan menangis, Baek" sahut Jongdae dan membuat Minseok tertawa lepas. Minseok membuka lembar lainnya dan matanya seketika berbinar cantik.

"Wah, ini saat festival musim panas kita kan? Jongdae tak bisa menangkan seekor ikan emas pun saat itu. Jadi aku dan Chanyeol memberikan milik kami. Hahaha."

"Ya ya ya, Jongdae sungguh tidak bisa melakukannya" tawa Chanyeol menggelegar keseluruh ruangan.

"Yak! Jangan buat aku malu!" bentak Jongdae. Mereka semua tertawa bersama sampai suara Nyonya Park menghentikan mereka.

"Baekkie, ayahmu menelfon dari Seoul, sayang.." Baekhyun tersenyum dan segera beranjak menuju ruang tamu.

"Iya, bi.. Terimakasih.."

Setelah Baekhyun meninggalkan ruangan itu Minseok melanjutkan membuka lembaran foto itu kemudian dia terhenti di foto yang dilihat Baekhyun pagi tadi.

"Oh? Gadis ini mirip Baekhyun tidak?"

"Ha?"

"Ini gadis kecil yang disampingmu Chan."

"Tidak mungkin. Selain itu, Baekhyun juga mengatakan saat itu kita pertama kali bertemu saat mau masuk SMA."

"Lalu siapa gadis ini?"

"Mana aku tahu.." Chanyeol menjawab santai, namun dalam hati dia juga penasaran. Apa benar itu Baekhyun?

Dan, disinilah Chanyeol keesokan paginya. Digudang belakang rumahnya sedang mencoba mencari buku semasa TKnya dulu.

"Itu ketika aku berumur 4 tahun.. Kalau memang aku bertemu dengan orang baru berarti aku akan menuliskannya di buku diary sekolahku.." gumamnya sambil terus mencari.

"Dapat." Chanyeol mulai membaca halaman demi halaman "A-ah?" Chanyeol tercengang. Disana, dibukunya terdapat gambar sepasang anak kecil berpakaian tradisional saling bergandengan tangan. Dan benar saja, itu menceritakan Chanyeol yang baru saja bertemu teman perempuan baru di festival musim panas itu.

"Jadi aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanyanya kepada diri sendiri dengan alis yang saling bertaut.

.

.

.

Chanyeol kecil berjalan pelan dengan sebuah permen apel ditangannya. Dia nampak kebingungan.

"Ya ampun. Kemana perginya Jongdae dan Minseok ya.. Padahal aku yang mengajak mereka kesini.." dia baru saja akan memakan permennya, tapi tak jauh didepannya dia melihat seorang anak perempuan kecil yang sepertinya seumuran dengannya sedang menoleh kesana-kemari seperti mencari sesuatu. Chanyeol melangkah dengan kaki kecilnya dengan sedikit tergesa menuju gadis itu.

"Hei" sapanya yang membuat anak perempuan itu sedikit tersentak kaget dan segera menolehkan kepalanya kebelakang melihat Chanyeol dengan mata puppynya "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Chanyeol. Anak itu terdiam melihat Chanyeol, tak lama kemudian matanya mulai berkaca-kaca dan dia bersiap menangis. Chanyeol kecil membulatkan matanya.

"Hei, jangan menangis. Ini, aku beri permen apelku." Anak kecil itu mulai terisak kecil namun tetap menerima permen dari Chanyeol. "Apa kau tersesat? Ayo kita cari orangtuamu. Mamamu siapa?"

"Aku tak mau mengatakannya." Jawab anak itu dengan wajah yang memerah karena menangis. "Aku tak ingin pulang. Aku sudah bilang tidak mau pergi ketempat ini."

"Ha?"

"Aku datang kesini karena ayahku mengatakan disini akan sangat menyenangkan. Tapi disini hanya ada gunung dan sawah. Desa ini membosankan"

"Yak! Kau belum tahu desa ini! Jangan berfikir buruk tentang pedesaan!" bentak Chanyeol. Anak itu menangis semakin kencang.

"T-tidak hei, jangan menangis lagi. Hm, baiklah kalau begitu aku akan membawamu ketempat yang bagus.."

"Tempat yang bagus?" gumam anak itu dengan bingung. Chanyeol kecil segera menarik tangan anak perempuan itu. Membawanya jauh dari keramaian festival, memasuki semak belukar. Anak itu tampak ketakutan, namun dia tidak melepaskan genggaman tangan itu. Hingga sampailah mereka di tepi kolam. Chanyel membantu anak itu menuruni tanah yang cukup tinggi.

"Ini tempat apa?"

"Ini kolam yang berbentuk labu, kataku, disini ada bunga yang hanya mekar sekali dalam setahun."

"Bunga?"

"Kupikir aku akan melihatnya bersama temanku, Jongdae dan Minseok. Tapi sepertinya aku akan membuat pengecualian, aku akan melihatnya bersamamu." Ucap Chanyeol kecil memandangi kolam itu.

"Tapi disini tidak ada bunga. Disini gelap, dan ini sudah malam. Aku takut."

"Tunggu sebentar lagi. Bunganya akan segera kelihatan" anak kecil itu bergerak mendekati Chanyeol, tapi dia terhenti karena serangga datang mengganggunya.

"Ah! Serangga! Aku benci serangga!" dia berlari kecil menghindari serangga itu dan akhirnya terjatuh ketanah. "Aku benci disini. Aku mau pulang saja-"

"Sudah mulai! Lihat!" girang Chanyeol. Saat itu juga banyak sekali petasan meledak di langit. Bayangannya terlihat jelas dikolam itu. Sangat indah. Apalagi saat itu suasana gelap sehingga semuanya terlihat amat sangat jelas. Kedua anak itu menatap berbinar kearah petasan dan bayangannya dikolam itu.

"Semua bunganya sudah mekar.." gumam Chanyeol.

Petasannya sudah selesai, Chanyeol kecil dan teman barunya kembali ke festival.

"Ah, aku ingin melihat petasan itu lagi.." ucap Chanyeol. Sementara anak perempuan itu hanya menganggukan kepalanya polos.

"Chan! Kau dari mana saja?" akhirnya dia bertemu Jongdae dan Minseok. Anak perempuan itu langsung bersembunyi dibelakan tubuh Chanyeol.

"Maaf maaf, aku ada urusan sedikit." Jawab Chanyeol nyengir.

"Oh? Itu siapa?" Tanya Jongdae menunjuk gadis kecil dibelakang Chanyeol.

"Ha?" Ah, iya aku belum menanyakan namanya, batin Chanyeol.

"Sudahlah, appa akan mengambil foto kita bersama. Ayo! Kau juga yaa" ajak Minseok kepada teman baru Chanyeol. Keempat anak itu langsung berjejer rapi, dengan urutan Jongdae, Minseok, Chanyeol, dan si gadis kecil. Pada hitungan ketiga Minseok menarik leher Jongdae, dan tersenyum lebar, Chanyel menatap malas temannya, dan anak perempuan kecil itu hanya menatap polos kearah kamera dengan memegang lengan baju Chanyeol.

Jongdae dan Minseok kecil berlari penuh semangat kearah kuil. Chanyeol baru akan menyusul mereka, namun anak perempuan kecil itu menarik bajunya.

"Aku harus segera pulang. Ayahku akan sangat khawatir" ucapnya pelan.

"Begitu ya.. Baiklah! Kalau begitu ayo bermain bersama lagi besok."

"Maaf, tapi aku sudah harus pulang besok.."

"Begitu ya, sayang sekali … " anak itu mendekati Chanyeol dan tersenyum sangat manis hingga kedua matanya membentuk bulan sabit.

"Terimakasih ya, telah menujukkan bunga yang indah dan juga memberikanku permen apel.." Chanyeol terdiam awalnya, lalu dia pun ikut tersenyum.

"Akhirnya .."

"Eh?"

"Akhirnya kau tersenyum. Bahkan saat melihat petasan kau tak tersenyum sama sekali.. Kupikir kau masih membenci tempat ini"

"T- tidak, banyak hal yang aku benci, tapi sekarang tidak apa-apa.."

"Baiklah! Kalau begitu suatu hari nanti datanglah bermain kesini lagi.." gadis itu menunduk dan tersenyum.

"Ya.." gadis itu berbalik dan segera berlari kecil "Kalau begitu, sampai jumpa!"

"H-hei tunggu dulu! Namamu siapa?" teriak Chanyeol.

"Baekhyun, Byun Baekhyun.." gadis itu berhenti dan membalikan badannya melihat Chanyeol sampil tersenyum.

"Aku Chanyeol! Park Chanyeol.."

.

.

.

Baekhyun menatap berbinar kearah buku diary TK Chanyeol. Dia menyusul Chanyeol ke gudang untuk mengajaknya sarapan.

"Woah, lucunya. Chanyeol menulisnya di buku diary.."

"Jadi kau tahu? Kenapa tidak mengatakannya padaku?"

"Chanyeol orangnya sangat pelupa. Aku pikir akan aneh kalau aku langsung mengatakan yang sebenarnya.. Aku malu.." Baekhyun segera beranjak membuka pintu gudang itu. "Ayo sarapan, nanti kita terlambat sekolah"

"Baekhyun!"

"Ya?"

"Apa kau kembali … untuk bertemu denganku?"

.

.

Chanyeol mengayuh sepedanya pelan. Dia masih terfikirkan masalah kedatangan Baekhyun. Dia melirik Baekhyun sejenak.

"Eh? Ada apa Chan?"

"O-oh tak ada apa-apa"

Flashback End

.

.

.

Baekhyun membuka pintu dengan sangat pelan lalu duduk dipinggir tempat tidur Kris. Dia menarik selimut Kris sampai menutupi seluruh dadanya lalu tersenyum lembut melihat wajah damai yang tertidur itu.

.

.

.

Chanyeol terus berlari dengan sangat cepat sambil terus menelisik kembali masa kecilnya dulu.

'Kami pertama kali bertemu saat musim panas itu di Busan. Lalu kami bertemu kembali tapi dia tak mau memberitahukan padaku karena merasa malu dan aneh katanya. Itu bukanlah kepribadiannya. Sejak saat itu, beberapa musim berlalu. Dia tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Mungkin masih ada yang belum dikatakannya padaku.' Batinnya.

Akhirnya dia sampai didekat perumahan Baekhyun. Terlihat dari jauh Baekhyun yang berjalan pelan sambil menunduk. Chanyeol mempercepat larinya.

"Baekhyun!" Baekhyun berbalik dan sedikit terkejut namun tak lama kemudian ekspresinya berubah datar.

"Chan …"

"Baek, kau ingat saat kita berumur 4 tahun, kita pertama kali bertemu, kau bilang 'Jika sesuatu terjadi aku akan kembali lagi kesini'?" Baekhyun menatap Chanyeol sendu dan kemudian mengangguk. Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun.

"Aku datang dari Busan ke Seoul, untuk mengejarmu.. Kau menghilang tanpa mengucapkan apa-apa pada semuanya. Itu bukanlah dirimu." Chanyeol menatap wajah Baekhyun tegas. Menatap wajah sendu yang sangat dia rindukan. Betapa ia sangat ingin merengkuh tubuh mungil itu. "Jadi .. kumohon Baek, beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi disini?"

Baekhyun melangkah mendekatkan dirinya dengan Chanyeol sambil meremat tasnya dengan kuat.

"Aku.. selalu ingin mengatakan ini padamu. Ini soal Kris .."

.

.

.

(Chanyeol POV)

Akhirnya aku tahu kebenaran dibalik semua yang terjadi dengannya.

Setiap kali seseorang ingin memahami hal-hal penting bagi mereka, ia harus mencari jawabannya sendiri.

.

.

.

TBC

.

.

.

Halo Bunny is here! Pada ngerasa aneh ya? Saya kok rajin banget updatenya haha. Ini karena saya punya cukup waktu dan semangat. Ada salah author yang saya sukai menuliskan reviewnya disetiap chapter FF saya sekaligus dan itu bikin saya sangat semangat.

Makasih buat author

[manyeolbaek]

Saya termasuk salah satu penggemar author, saya selalu maksa author fast update dicerita Gadis Hari Ketujuh dengan pen name pucuk :D

Makasih juga buat

[Nur Safitri Shiners Exo-l]

Karena sudah menyemangati saya, dan saya juga mau minta maaf kalau cerita ini ribet menurut kamu, hihi. Namun apa daya memang plotnya. Mungkin di FF selanjutnya saya akan mencoba membuat yang lebih ringan.

[whey.K]

Karena Chan mau ngejar abang tukang bakso (?) sudah terjawab di Chapter ini yaa..

[yousee]

Buat kamu saya mau minta maaf karena lupa mencantumkan pennamemu di special thanks di chapter kemarin hihi. Maaf soalnya ngetiknya itu sudah diambang batas mengantuk.

.

.

.

Selamat datang buat reader, follower, dan favorite baru ya! Saya harap kalian berkenan juga untuk menuliskan review kalian! Saya mengetik ini sampai jam 4 subuh demi kalian, tapi saya senang. Asal kalian menyemangati saya akan melanjutkan FF ini sampai end as fast as possible.

Mind to leave some reviews? Salam sayang, Bunny ,