Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.
- Alternate Universe setting out of character.
- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.
- Didedikasikan untuk event Flore 2016.
A Story of Fond Memories
.
.
.
Chapter Four
Her Memories
.
.
.
Seorang gadis berseragam SMP—Yamanaka Ino—melangkahkan kakinya menuju seberang jalan di atas zebra cross saat semua kendaraan berhenti karena traffic light yang menyala merah.
Langit kota London tampak mendung dan udara terasa semakin dingin namun si gadis tetap tak acuh. Cuaca saat ini sedang buruk, seburuk suasana hatinya.
Langkah kaki gadis itu begitu lambat dan lamunannya membuatnya tidak menyadari bahwa lampu merah telah padam, digantikan lampu kuning, kemudian hijau. Semua mobil yang dihalanginya membunyikan klakson amarah padanya.
Ia tidak berniat mempercepat langkahnya karena ia memang tidak mendengar semua suara-suara bising itu. Ino bahkan tidak menyadari ada sebuah sepeda motor dari arah yang berlawanan menerobos lampu merah dan melaju dengan ugal-ugalan ke arahnya.
Ino tetap melangkah dan pandangannya kosong karena pikirannya yang amat kacau. Sementara itu motor tersebut tetap melaju kencang seolah tidak melihat ada seorang gadis sedang menyeberangi jalan di sana.
Lalu Ino terkesiap dan tersadar dari lamunanya saat seseorang menabrak tubuhnya dan mendorong tubuhnya sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh terseret di atas trotoar. Itulah yang Ino sadari saat syok, tapi saat ia membuka mata ternyata kenyataan berkata lain. Bukanlah dirinya yang terseret di atas trotoar, melainkah orang yang menabrak dan mendorongnya itu.
"Kau ini mencari mati ya?!" Suara keras dari pengendara motor itu tak digubris Ino sama sekali dan tak lama suara motornya yang berisik itupun menghilang disusul suara sirine mobil polisi.
Di tengah musim dingin di kota London, di pagi hari yang beku, Ino pertama kalinya berjumpa dengannya. Seorang lelaki berwajah Asia dan Eropa yang menyelamatkan hidupnya.
Lelaki itu menggertakkan giginya dan meringis kesakitan, terlihat sesak. "Bisakah… kau… bangun dari tubuhku?" tanya lelaki itu dengan suara serak dan tertekan disertai ekspresi memohon.
Ino mengangkat tangannya yang menindih dada lelaki itu. "Oh… I'm sorry." Ino berusaha berdiri dan ia tampak kikuk. Ia merasa berdosa sekali, lelaki itu telah menyelamatkannya dan justru ia malah menindih dada lelaki itu! Oh dear.
Lelaki itu menggerakan tangannya untuk menopang tubuhnya duduk dengan susah payah lalu kembali meringis dengan ekspresi kesakitan disusul batuk-batuk kering.
"You've saved my life! Maafkan aku karena melamun saat menyebrang jalan." Gadis SMP kelas tiga itu tampak merasa bersalah. "Karena aku kau jadi begini."
Lelaki itu berusaha berdiri meskipun postur tubuhnya agak bungkuk dan sebelah tangan memegangi dadanya yang sudah ditindih Ino. Tangannya yang sebelah lagi mengambil tas ranselnya dan menyampirkannya di sebelah bahunya.
Ia tetap tersenyum ramah ke arah Ino meskipun sedang kesakitan. "Tidak apa-apa, tubuhku bergerak sendiri. Yang tadi itu hampir saja, apakah kau baik-baik saja?"
"Ya," jawab Ino, singkat.
"Syukurlah. Kalau begitu sampai jumpa," ucap lelaki itu kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Ino.
Senyuman lelaki itu membuat Ino terpana. "Sebaiknya kuantar kau ke rumah sakit!" ujar Ino, mengabaikan perasaannya.
Lelaki itu menoleh ke arah Ino. "Ah, itu tidak perlu," ucap lelaki berumur tidak jauh dari Ino itu sambil berusaha menegakan tubuhnya meski sia-sia.
"Tapi—"
Lelaki itu menyela, "Sebentar lagi masuk sekolah, aku tidak ingin Mrs. Salt merebusku! Bye!" Lelaki itu kemudian bergegas lari dengan cepat menjauhi Ino.
Aku bahkan belum sempatberterima kasih dan menanyakan namamu, batin Ino menyesal.
Tanpa Ino sadari, orang-orang telah berkerumun mengelilinginya dan mencegahnya berlari mengejar lelaki itu.
"Apakah Anda baik-baik saja, Nona?"
"Haruskah saya menelepon ambulans?"
"Apakah ada yang terluka?"
Pertanyaan-pertanyaan tumpang-tindih itu dijawab dengan ekspresi datar oleh Ino yang pandangannya hanya tertuju pada lelaki yang berjalan cepat menjauh, "Tidak perlu, saya baik-baik saja. Terima kasih."
Yang Ino tahu, dia adalah lelaki blasteran Asia-Eropa berseragam London Senior High School. Sejauh ini, informasi itu sudah lebih dari cukup.
.
.
.
Bagi Ino, untuk bisa diterima di London Senior High School bukanlah perkara mudah. Ia perlu membawa materi pelajaran ke mana pun termasuk ke kamar mandi. Tentu saja dalam format PDF di handpone-nya sehingga praktis dibawa ke mana pun. Dan ternyata hasil usahanya membuatnya terkejut, ia bisa diterima di SMA itu!
Dan jangan membuat Ino menjelaskan alasan kenapa ia belajar begitu keras, tentu saja ingin bisa satu sekolah dengan lelaki penyelamatnya!
Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah, ia tersenyum bangga mengenakan seragam yang tampak keren ini.
Ketika upacara penerimaan peserta didik baru selesai, para siswa baru diizinkan mengelilingi sekolah untuk melihat-lihat dan bergabung dengan ekstrakulikuler yang tersedia.
Tapi saat kedua kaki Ino melangkah ke depan, mencari ekskul sesuai minatnya bukanlah tujuannya. Oh, kau pasti tahu maksudku.
Ino tidak lelah meski mengelilingi sekolah yang sangat luas ini bekali-kali, ia tidak akan berhenti sebelum matanya menemukan lelaki itu. Namun ternyata sekolah ini begitu luas dan siswanya banyak sekali, sulit menemukannya di tempat seluas dan seramai ini.
Ketika Ino mulai kehabisan napas karena terlalau lelah, Ino memilih untuk menyudahi pencarian dan mulai mendaftarkan diri dalam ekstrakulikuler. Dan ia memutuskan untuk bergabung dalam ekskul majalah dinding karena ia suka sekali menulis.
.
.
.
Kedua tangan Ino bergerak menempelkan selembar kertas di majalah dinding sekolah.
Untuk pertama kalinya Ino menulis sesuatu untuk dipajang di majalah dinding sekolah ini, padahal sekarang masih masa orientasi. Ini adalah hari keduanya Ino menginjakkan kaki di sini.
Ino dipilih sebagai perwakilan kelas satu untuk menulis kesan-kesan pertama yang didapat siswa saat pertama berkunjung ke sekolah ini.
"Ino!"
Ino menolehkan kepalanya ke arah sumber suara saat suara memanggil namanya mencapai telinganya. "Dennis? Ada apa?"
"Para anggota ekskul teater sedang pentas di auditorium, sebentar lagi pertunjukkannya akan dimulai," jawab Dennis.
"Okay, ayo!"
Kemudian mereka berdua segera menuju auditorium sekolah. Ino adalah penikmat pertunjukan teater dan pergi ke West End adalah hal yang digemarinya, tentu saja Ino antusias jika akan diadakan pertunjukan teater di sini.
Sesampainya mereka di sana, mereka memilih kursi yang kosong. Tepat pada waktunya. Begitu mereka duduk, narator baru akan memulai membacakan narasi.
Bagaimana ceritanya, Ino tidak begitu menangkap. Yah, tanpa memerhatikan ceritanya pun, sebenarnya Ino sudah mengerti alurnya karena ia pernah membaca novelnya. Sudah sepuluh menit Ino duduk menonton, tapi yang menjadi perhatiannya bukanlah ceritanya. Pikirannya terfokus pada satu orang. Seorang lelaki yang berperan sebagai Javert, tokoh antagonis di Les Misérables.
Mata Ino tidak melewatkan pergerakan lelaki itu barang satu inci pun. Tidak salah lagi! Lelaki itu memang dia! Dia yang Ino cari! Dia yang sudah membuat Ino belajar dengan giat demi diterima di sekolah ini! Dia yang sudah menolong Ino!
Ya! Dia! Dan dia adalah—Oh Tuhan—seorang bintang teater musikal!
Rasanya lelaki itu mulai membuat mata Ino mabuk!
Dengan perannya sebagai Javert, tentu saja wajah tampannya tertutup. Ia memakai kumis palsu yang tebal, megenakan topi dan baju yang ketinggalan zaman. Ia tampak sangat berbeda dengan ia yang di luar panggung. Tetapi meski ditutup kumis setebal apapun, Ino akan tetap mengenali lelaki itu dari auranya yang karismatik.
Dan ketika ia bernyanyi, Ino mendapati bulu kuduknya merinding dan dadanya memanas. Ia tidak tahu lagi ekspresi apa yang harus ia pasang untuk menggambarkan perasannya ketika mendengar pemuda itu menyanyi.
Saat pertunjukan berakhir, semua penonton bertepuk tangan puas, tentu saja karena pertunjukan yang sangat hebat. Tapi Ino menujukan tepukan tangannya hanya kepada satu orang, karena hanya satu orang itulah yang Ino perhatikan.
Lelaki itu, si tokoh antagonis yang sebenarnya adalah tokoh protagonis di dunia nyata. Oh, betapa lelaki sebaik dia, lelaki dengan senyuman hangat yang mampu melelehkan salju, lelaki yang memiliki tatapan teduh musim semi, lelaki yang menyelamatkan nyawanya! Lelaki itu!
Lelaki itu berubah menjadi makhluk paling keji dan hina saat berdiri di atas panggung! Tatapan tajam, kata-kata menusuk, dan tindakan yang nista! Sungguh karakter antagonis yang sempurna menjijikan! Hal ini terlihat kentara sekali saat ia sampai di adegan kematian Fantine.
Meskipun tampaknya ia menguasai segala peran, namun di mata Ino, ketimbang berperan sebagai Inspektur Javert, ia akan lebih cocok mendapatkan peran sebagai Marius Pontmercy. Seorang pemuda protagonis yang tampan dan romantis, kekasih Cosette. Ino yakin, ia akan semakin meleleh jika ia menonton peran lelaki itu sebagai Marius. Kecuali ketika ada adegan Marius bermesraan dengan Cosette, tentu saja.
Ino sangat mengaguminya, ia adalah aktor yang sangat hebat, baginya ia bahkan layak tampil di West End ataupun Broadway. Sedikit berlebihan memang, tetapi itulah penilaian dari Ino saat menonton pertunjukannya.
Ketika pertunjukan berakhir, Ino rela bertepuk tangan dengan keras sampai telapak tangannya sakit karena hal itu tidak akan cukup untuk membayar apa yang dilakukan lelaki itu di atas panggung.
Lihat saja, napas lelaki itu sudah tersengal-sengal dan keringatnya bercucuran. Wajar sekali, ia menghabiskan waktunya di sana dengan membakar emosinya, memuntahkan caci dan maki ke wajah si tokoh protagonis. Tapi, senyuman lebar yang ia sunggingkan di akhir pertunjukan membuktikan bahwa ia begitu menikmati kelelahan yang dirasakannya.
Kepala Ino masih dipenuhi tanda tanya, siapakah namanya?
.
.
.
Ino membuka pintu dengan keras sehingga mengagetkan seseorang yang tengah duduk di dalam ruangan.
"Dei-nii!"
"Astaga, Ino! Bisa tidak berhenti mengagetkanku?! Aku butuh konsentrasi untuk menyusun laporanku!" Wajah ceria Ino mengubah ekspresi Deidara dari kesal menjadi ceria.
"Bisa tebak apa yang terjadi menimpaku siang ini?"
Deidara tersenyum lebar melihat adiknya ceria tidak seperti biasanya. "Wah wah! Coba biar kutebak lelaki mana yang bisa membuat adikku yang manis ini tersenyum." Lelaki berrambut pirang itu bukan antusias dengan tebakannya sama sekali, melainkan keceriaan Ino.
"Ayolah tebak!" jawab Ino, tidak sabaran.
Deidara berpura-pura tengah berpikir keras dengan mengerutkan alisnya dan tangan terkepal menepuk-nepuk dahi. "Lelaki yang menyelamatkanmu, ya?!" serunya semangat dengan jari telunjuk mengacung setelah beberapa saat pura-pura berpikir.
Ino memekik senang, "Exactly! Kau pintar sekali! Aku yakin besok kau bisa langsung sarjana! And you know what?! Dia adalah bintang teater!"
Deidara ikut senang. "Oh my goodness! Kalian cocok sekali!" komentarnya.
"See?"
"So, what is his name?"
Ino mengusap-usap pipinya dengan jari telunjuknya dan bicara dalam bahasa Jepang, "Oh, kau tidak akan menyangka! Dia adalah orang Jepang!"
Mata Deidara melebar. "Hontou?! Cepat beri tahu aku siapa namanya!"
Ino tidak sanggup menyebutnya, ia rasa ia akan mencair. "Sai Shimura!"
Deidara tersenyum, "Yamanaka-san, suatu saat orang-orang akan memanggilmu Shimura-san," ia mendengus, "Shimura Ino, nama yang bagus."
Wajah Ino mulai masak dan memukul kakaknya, "Onii-chan! Kau berlebihan!"
Gelak tawa mengisi senja itu.
.
.
.
Ino selalu tersenyum-senyum sendiri setiap kali mengingat reaksinya saat pertama kali mengetahui siapa nama Sai. Ia ingat betapa ia hampir melompat saat membaca nama pemeran pertunjukan teater saat itu. Menyenangkan sekali saat mendapati seseorang yang disukainya memiliki kesamaan dengannya! Mereka berdua sama-sama berdarah Jepang!
Kau bisa menebak bagaimana rasanya bertemu dengan seseorang yang memiliki latar kenegaraan yang sama denganmu di negara lain, terutama dia adalah orang yang kau sukai.
Sejak saat itu, sampai sekarang, Ino hanya berani memandangi Sai dari kejauhan. Ia yakin Sai adalah lelaki yang baik, tetapi Ino masih belum yakin mengenai reaksi lelaki itu terhadap dirinya.
Kepercayaan diri menjadi masalahnya.
Lihat saja, Sai selalu dikelilingi gadis-gadis cantik. Dan jutaan pujian dari para gadis yang sampai di telinganya sudah menjadi hal yang biasa. Namun, hal yang membuat Ino sedikit lega adalah sikap Sai yang sangat-sangat tidak acuh terhadap gadis-gadis itu. Setidaknya hal itu bisa memberikan Ino sedikit kesempatan.
Di sisi lain Ino tidak menyangka bahwa lelaki yang terlihat sangat baik seperti Sai mampu bersikap sangat dingin dan ketus di hadapan gadis-gadis itu, di saat yang bersamaan Ino mengkhawatirkan keadaan dirinya.
Gadis-gadis populer saja sudah ia tolak mentah-mentah, bagaimana dengan Ino? Okay, sebenarnya Ino tahu bahwa ia memang cukup populer di sekolah, tapi itu sama sekali bukan alasan yang cukup membuatnya yakin bahwa Sai akan bersikap baik padanya. Kenyataannya gadis yang jauh lebih populer dan cantik dari pada Ino sudah Sai campakkan!
Ino tak ingin mundur untuk meraih Sai, namun ia juga tak berani maju. Yang bisa dilakukannya hanyalah memandangi Sai diam-diam, mendoakan Sai diam-diam, dan mencintai Sai diam-diam.
Prestasi Sai di sekolah dalam bidang akademis maupun non akademis menjadi motivasi terbesar bagi Ino. Kehadiran lelaki itu membuat Ino tersenyum sendiri tanpa sadar. Apapun yang dilakukan Ino selalu mengingatkannya pada Sai. Ia sangat hati-hati dalam memendam perasaannya. Dan lambat laun, Sai menjadi salah satu sosok terpenting dalam hidup Ino.
Tanpa disadari Ino, Sai selalu menjadi sosok ambigu paradoks di kepala Ino.
Ino tidak punya teman dekat di sekolah, hal itu dikarenakan Ino sangat introvert, sehingga tak ada satu pun orang yang tahu perasaan Ino ditujukan kepada siapa. Ino juga berpendapat bahwa teman adalah hal yang tidak berguna dalam hidupnya, Ino merasa tidak membutuhkan teman. Jadi tanpa disadari, hal itu menyulitkan Ino untuk berteman dengan Sai lewat orang lain.
Mungkin kalian berpendapat bahwa impian Ino adalah menjadi kekasih Sai, tapi kutegaskan bahwa kalian mengalami kekeliruan besar jika berpikir begitu.
Bertemu dengan Sai sudah menjadi anugerah bagi Ino, walaupun bertemu dengannya menimbulkan perasaan berat yang harus Ino tanggung, Ino tetap bersyukur sepenuh hati. Dan menjadi kekasih Sai adalah hal yang mustahil baginya, hal itu terlalu tinggi untuk dicapai. Ino bukanlah tipe orang yang suka mengharapkan sesuatu yang ia ketahui tidak mungkin menjadi kenyataan.
Entah sampai kapan perasaan ini Ino jaga. Tapi yang pasti bagi Ino, perasaannya terhadap seorang lelaki hanya tertuju pada Sai. Sedingin apa pun sikap Sai terhadap seorang gadis.
Kemudian tanpa terasa, waktu melangkah dengan cepat. Sudah setahun berlalu sejak kali pertama Ino mendapati Sai di sekolah. Dan belum ada kemajuan mengenai kisah cintanya.
"Wajahmu kusut sekali, dibawa ke mana senyuman manismu?"
Ino tidak mengindahkan pertanyaan dari kakaknya. Ia membantingkan punggungnya di atas kasur Deidara yang empuk dan berantakan oleh buku-buku tebal di tepinya. "Dei-nii, apa yang harus kulakukan? Besok hari terakhir Sai-kun di sekolah." Ino menutup kedua matanya dengan lengan. "Prom night akan digelar besok."
"Astaga, sampai detik ini pun dia belum mengenalmu?"
Ino menggelengkan kepalanya.
Lelaki berrambut pirang dan beriris mata biru itu masih sibuk mengetik skripsinya. "Ajak dia kencan."
Ino bangkit dari posisi berbaringnya dengan wajah merah. "W-what?! Are you crazy?! Demi Tuhan, itu tidak akan pernah terjadi!"
Deidara tersenyum dan membalikan tubuhnya yang sedang menduduki kursi belajar beroda sehingga tubuhnya menghadap Ino. "Oh, itu artinya kau akan merelakan ia datang dengan wanita lain saat menghadiri reuni akbar yang akan diadakan beberapa tahun ke depan."
Ino menggigit bibir dan mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya memerah kesal. "Itu wajar saja terjadi! Sai-kun pasti akan mendapatkan perempuan yang sederajat dengannya! Dan aku… aku hanya akan selalu memerhatikannya dari belakang."
"How stupid! Itu tidak akan terjadi jika kau berani bertindak sekarang Ino! Atau jika Tuhan memang tidak menakdirkan kau bersamanya, setidaknya ia menyadari keberadaanmu!"
Deidara berhasil membakar semangat Ino. Ino menunduk dan meneguk ludah, membasahi kerokongannya yang kering. "Baiklah… akan kucoba," ucapnya, ragu.
Memang benar, akan sangat menyedihkan jika perasaan Ino berakhir seperti ini, tidak dikenal sama sekali. Sampai kapan nama Ino Yamanaka akan terdengar asing di telinga Sai Shimura? Perasaan Ino sudah jatuh terlalu dalam kepada Sai, jadi… Ino memutuskan untuk tidak mengakhirinya begitu saja.
.
.
.
Prom night berlangsung di gedung sekolah yang disulap menjadi gedung bintang lima. Acara diiringi musik yang berganti-ganti jenisnya, panggung yang tersedia tidak pernah kosong karena selalu diisi oleh siswa-siswi bertalenta, ratusan cup cake, muffin, red velvet, dan cheese cake, disusun membentuk piramida di atas meja bundar besar, di samping meja bundar tersebut terdapat meja besar dengan red wine, orang juice, dan minuman-minuman lain di atasnya.
Sebelum makan malam, alumni-alumni SMA tersebut bebas berdansa di atas lantai dansa. Bisa dibayangkan betapa menyenangkannya acara ini bukan? Semua orang terlihat sangat menikmati dan berkesan akan pesta ini. Tentu saja Ino adalah pengecualian.
Selama prom night berlangsung, Ino sibuk memandangi Sai yang berdansa dengan sorang gadis cantik tinggi semampai dengan kulit mulus. Gadis itu tampak seperti gadis kalangan atas dengan segala perawatan kecantikan yang mahal.
Ia terlihat senang sekali bisa berdansa dengan Sai. Tapi jika diperhatikan, Sai tidak merasa begitu. Ia terlihat ingin sekali lagu berhenti mengalun dan segera meninggalkan lantai dansa. Namun nampaknya gadis itu tidak peduli, yang penting ia bisa memiliki Sai malam ini.
Ino merasa pedih, tentu saja. Tidak ada celah baginya untuk menghampiri Sai dan mengajaknya bicara. Apakah sebaiknya Ino menyerah dan pulang?
Ya, ada benarnya juga rasa putus asanya ini. Untuk apa ia mengajak Sai kencan jika artinya ia hanya sedang menghadapi sebuh penolakan?
Ino memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu keluar.
Jika Tuhan memang tidak menakdirkan kau bersamanya, setidaknya ia menyadari keberadaanmu.
Kata-kata Deidara yang lantang tiba-tiba saja menggema pendengaran Ino, membuatnya memutar langkahnya menuju meja minuman. Ia meraih segelas air mineral lalu meneguknya perlahan dan sabar menunggu prom night selesai, Ino tidak akan membuat malam ini menjadi sia-sia.
Ini adalah kesempatan terakhir Ino sebelum Sai lulus dari sekolah dan tidak akan pernah bertemu dengan Ino lagi. Tidak sepantasnya Ino melewatkan malam berharga ini. Ia sungguh berterima kasih kepada Deidara yang membuatnya tidak jadi pergi.
Lama-kelamaan Ino menyadari bahwa ia tak pernah menyangka ternyata menunggu bisa selama ini, belum lagi harus menelan pahit memandangi Sai berbincang dengan seorang gadis di antara meja makan, sedangkan ia berdiri sendirian sambil meminum air mineral yang entah sudah berapa gelas.
Entah sudah berapa jam Ino berdiri di samping meja bundar ini di atas sepatu high heels-nya, tapi ia tidak merasa pegal. Rasa sakit di dadanya sudah menutupi rasa pegalnya. Satu jam saat ini rasanya sudah seperti setahun dan Ino tidak peduli, ia akan tetap menunggu. Ia juga mengabaikan tatapan-tatapan kasihan dari orang-orang yang tertuju padanya.
Sampai akhirnya acara selesai, pintu keluar dibuka lebar-lebar, suara sepatu beradu dengan lantai memenuhi telinga, volume suara musik dipelankan sampai berhenti dimainkan, dan lampu diredupkan. Saat itulah Ino mengejar Sai dari belakang.
"Excuse me!" seruan Ino membuat Sai menoleh.
"Apa?" tanya Sai. Tak ada lagi senyuman ramah nan hangat di wajahnya dan tak ada lagi tatapan teduh nan sejuk di matanya, yang ada hanya tatapan menusuk dan suara sedingin es. Ino merasa, Sai yang tiga tahun lalu telah lenyap seperti debu ditelan badai.
"A-ano…" Ino menggunakan Bahasa Jepang tanpa sadar.
"Cepatlah bicara," desak Sai, tampak kesal menunggu.
Dada Ino panas dan ia menyadari bahwa ini bukanlah awal perbincangan yang baik. Ino menelan ludah, sedikit banyak ia bisa memprediksi apa yang akan dikatakan Sai tentang tawarannya untuk berkencan sehingga ia merasa ragu.
"Kau pasti tidak mengingatku, ya? Kau dulu pernah menolongku di—"
"Aku sama sekali tidak mengingat bahwa aku pernah menolongmu," sela Sai masih dengan nada yang sama.
Selama ini, Ino tidak berharap bisa menjadi kekasih Sai. Tapi satu hal yang ia harapkan, Sai mengingatnya. Namun ternyata… harapannya pupus malam ini dan ia harus berusaha mengobati diri dan di saat yang bersamaan ia harus terus bicara.
Ino tidak memiliki kata-kata meski ia mencoba mengeruk otaknya lebih dalam, penuturan Sai membuat pikirannya kacau dan dadanya terasa sakit. Jadi, ia memutuskan untuk bicara langsung ke intinya dengan suara lantang dan jelas meski kakinya bergetar setengah mati, "Berkencanlah denganku!" Ino menatap Sai langsung ke matanya.
"Apa?!" Sai terkejut. Dan matanya seolah membentak Ino, 'apa kau sudah gila?!'
Suara Ino melunak, "Mungkin dengan pergi bersamaku, kau akan mengingatnya lagi. Kau bebas memilih tempatnya, aku akan membuatkan canelé untukmu karena saat itu aku belum sempat mengatakan terima kasih. Kuharap kau mau menerimaku."
Mata Sai tampak sangat meremehkan kala itu. "Kau cantik, cerdas, populer, semua orang mengangumimu. But you know what? Aku bukan bagian dari mereka. See? Sama sekali tidak ada kekaguman dariku untukmu, kau adalah gadis terakhir di muka bumi ini yang ingin kukencani. Kau mungkin berpikir kau sempurna, tapi jangan harap hal itu membuatmu berpikir untuk bisa mendapatkanku!"
Mata Ino membelalak, setiap baris kalimat yang Sai lontarkan menutupi perasaan hatinya yang sesungguhnya, membuat emosi Ino meledak-ledak dan kedua tangannya terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya.
Ino menunduk. "Kau…" kemudian wajahnya terangkat dan kembali menatap Sai, dengan rasa amarah yang belum pernah ia tumpahkan sebelumnya, "Kau tidak pantas mengatakan itu karena kau tidak tahu apa-apa tentang diriku! Aku menyesal telah menjadi orang bodoh dengan selama ini menyimpan perasaan untukmu!" Ino melangkahkan kakinya meninggalkan Sai. "Mulai saat ini aku akan selalu merasa muak setiap kali mengingat namamu!"
Ino terus melangkah, tak sedikit pun wajahnya tertoleh untuk Sai. Punggungnya bergetar dan kedua tangannya membekap mulutnya, air matanya tidak berhenti berjatuhan. Sementara itu hatinya berbisik, apa yang baru saja kukatakan? Kenapa aku mengatakan hal sekejam itu pada Sai? Apakah ada orang lain di dunia ini yang lebih bodoh dari diriku? Aku masih mencintainya…
Tepatnya, air mata Ino mengalir karena penyesalan atas semua kata-kata yang ia ucapkan. Sungguh, Ino tidak pernah menduga hal ini akan datang menimpanya. Ino tidak memiliki persiapan apa pun untuk hal ini. Dan saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain menyesal.
.
.
.
Pintu terbanting, setelahnya Ino bisa melihat Daidara yang duduk di atas tempat tidurnya dengan bersandari di headbord tempat tidur sambil membaca buku.
Deidara bangkit dan berlari ke ambang pintu dan menyentuh punggung Ino, terlihat sangat khawatir. "Ino, apa yang terjadi?"
Rambut Ino berantakan kala itu dan daerah sekitar matanya tampak hitam karena mascara yang luntur oleh air mata yang sampai sekarang masih mengalir. Ino menyusup ke dalam dekapan kakaknya. "Aku mengacaukannya… aku mengacaukan semuanya…" tutur Ino dengan suara bergetar.
Deidara memeluk Ino dengan erat seraya mengusap-usap punggung Ino dan berbisik menengangkan, "Tidak apa-apa… semuanya akan baik-baik saja…"
Sejak beberapa tahun belakangan, Deidara dan Ino sedang dalam tekanan mental. Kedua orangtua mereka tidak pernah akur, Akame Yamanaka sering meninggalkan rumah dan beradu suara dengan suaminya.
Namun, karena kehadiran Deidara, Ino selalu bangkit dari keterpurukannya seberat apapun beban masalahnya. Bahkan saat ini pun—saat Ino kehilangan Sai—Deidara selalu menjadi penyembuhnya padahal Deidara tidak melakukan sesuatu yang luar biasa.
Tidak seperti adik-kakak biasanya yang sering bertengkar. Seumur hidupnya, Ino nyaris tidak pernah bertengkar dengan Deidara. Sebaliknya, mereka tidak ragu untuk menunjukan kasih sayang mereka satu sama lain.
Setiap kali Ino menangis, Deidara hanya memeluk Ino erat, mengusap punggung Ino, mendengar semua yang Ino katakan, lalu memberikan kata-kata menengangkan. Terdengar sederhana—sangat sederhana—tapi hal sederhana itulah yang Ino butuhkan, dan Deidara selalu tahu yang Ino butuhkan.
.
.
.
Ino merasa baikan saat semalam tidur di tempat tidur Deidara, sedangkan kakaknya itu tidur di atas karpet. Bisa curhat dengannya semalaman dan mendengarkan nasihat-nasihat darinya selalu membuat Ino merasa lebih baik. Untuk itu, Ino membuatkan sarapan untuknya, yah meski hanya setumpuk sandwich sederhana.
Saat ini Kaa-san tengah pergi ke rumah Baa-san di Osaka dan Tou-san belum pulang sejak malam entah ke mana, ke kelab mungkin.
Sejujurnya Ino sudah tidak peduli lagi dengan mereka, entah mereka ingin bercerai, atau melanjutkan konflik tak berujung ini, terserah saja. Yang terpenting, Ino bisa tinggal dengan Deidara, itu cukup untuknya. Tapi, kadang Ino bertanya-tanya kenapa mereka mau menghabiskan waktu untuk bertengkar jika mereka bisa bercerai? Ino pikir jawabannya hanya satu: karena mereka saling mencintai, mereka tidak ingin berpisah, itu saja.
Ino menyusuri anak tangga yang menghubungkan lantai bawah dan atas lalu berjalan ke kamar kakaknya dan mengetuk pintu sambil membawa sarapan yang sudah dibuatnya. Tidak ada sahutan.
"Onii-chan!" seru Ino dengan suara dicemprengkan. Masih tidak ada sahutan, Ino menambahkan, "Ini sudah pagi! Kau tidak ingin terlambat ke kampus, bukan? Aku sudah membuatkan sarapan untukmu!"
Masih tidak ada sahutan. Ino menyerah, sebaiknya ia langsung saja membuka pintunya, seperti yang sehari-hari ia lakukan.
Ketika pintu dibuka, satu direksi menyedot perhatian Ino dan mengguncang emosinya. Ketika itu ia tidak peduli dengan piring yang dipecahkannya. Ia langsung berlari menghampiri kakaknya yang berbaring di lantai dengan mata terpejam dan wajah pucat pasi.
.
.
.
"Maafkan kami, Nona."
Ketika kalimat itu diucapkan dengan kepala tertenduk dan wajah menyesal, Ino tidak dapat mengisi apa pun di kepalanya selain kesedihannya. Ia tidak pernah mendapati dirinya sesedih ini. Deidara adalah seseorang yang paling Ino sayangi, orang yang paling berharga dalam hidup Ino, dialah satu-satunya sosok yang selalu ada untuknya ketika tidak ada satu pun orang yang peduli padanya. Hanya Deidara… lalu apa jadinya ia jika Deidara pergi?
Ketika pagi ini ia temukan Deidara tak sadarkan diri, ia langsung menelepon ambulans lalu menghubungi Ayah. Setelah pemeriksaan dilakukan di rumah sakit, tak lama kemudian dokter keluar ruangan dan menjelaskan bahwa pasien sudah tak bernyawa, penyebabnya adalah kanker yang dideritanya.
Ino mendapatkan pukulan terberat dalam hidupnya kala itu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Deidara yang sehat dan ceria menderita penyakit separah itu? Dan bagaimana bisa ia tidak menyadarinya?! Satu-satunya orang yang dekat dengan Deidara!
Tidak bisa! Ino tidak bisa menanggung kenyataan seberat ini! Ia masih tidak bisa percaya! Di matanya Deidara sehat-sehat saja…
Tapi jika itu benar, Ino benar-benar tidak bisa membayangkan penderitaan yang harus Deidara tanggung selama ini. Deidara selalu saja sibuk mengejar gelar sarjananya, ia ingin sekali menjadi guru. Deidara selalu saja bersedia meluangkan waktunya yang berharga untuk karirnya itu hanya untuk mendengar ocehan Ino yang tidak penting. Dan Deidara… lebih mementingkan cita-citanya dan Ino ketimbang kesehatannya sendiri.
Kenapa? Kenapa harus Deidara yang mengalami itu semua? Kenapa bukan Ino saja?
Tangisan Ino saat ini adalah tangisannya yang paling kencang seumur hidupnya. Biasanya, setiap kali ia menangis, Deidara selalu memeluknya. Tapi saat ini, tak ada satu pun dada yang bisa digunakannya untuk menjadi sandarannya. Meski Ayah duduk di sisinya dan ia sama sekali tidak menangis barang setetes pun.
Sedangkan Ibu? Ia baru akan sampai di London lusa nanti. Dan saat ini… Ino hanya bisa tenggelam dalam kesedihannya seorang diri.
.
.
.
To Be Continued
Next Chapter
A Mistake
.
.
.
Author's note:
Apa ada yang gak ngerti sama alurnya? :'D Sederhananya, ini flashback ya? Waktu di akhir chapter kemaren, Ino tiba-tiba kaya kaget gitu, nah di situ Ino baru dapetin lagi ingatannya dan chapter ini lah ingatannya dan masih bersambung sampai chapter depan! :D
