Main Cast : Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun (girl)

Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort

Rated : T (dapat berubah sewaktu-waktu)

A Town Where You Live

.

.

.

Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.

Mengapa saya tidak merubahnya?

Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.

.

.

Happy Reading ~

.

.

.

Previous Chapter

Akhirnya dia sampai didekat perumahan Baekhyun. Terlihat dari jauh Baekhyun yang berjalan pelan sambil menunduk. Chanyeol mempercepat larinya.

"Baekhyun!" Baekhyun berbalik dan sedikit terkejut namun tak lama kemudian ekspresinya berubah datar.

"Chan …"

"Baek, kau ingat saat kita berumur 4 tahun, kita pertama kali bertemu, kau bilang 'Jika sesuatu terjadi aku akan kembali lagi kesini'?" Baekhyun menatap Chanyeol sendu dan kemudian mengangguk. Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun.

"Aku datang dari Busan ke Seoul, untuk mengejarmu.. Kau menghilang tanpa mengucapkan apa-apa pada semuanya. Itu bukanlah dirimu." Chanyeol menatap wajah Baekhyun tegas. Menatap wajah sendu yang sangat dia rindukan. Betapa ia sangat ingin merengkuh tubuh mungil itu. "Jadi .. kumohon Baek, beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi disini?"

Baekhyun melangkah mendekatkan dirinya dengan Chanyeol sambil meremat tasnya dengan kuat.

"Aku.. selalu ingin mengatakan ini padamu. Ini soal Kris .."

.

.

.

Flashback on

Baekhyun menatap hujan yang turun dengan lebat, seragam sekolah JHSnya sedikit basah terkena tampias air hujan. Hari sudah sangat sore, dia ingin segera pulang kerumahnya. Ketika bis yang menuju rumahnya mendekat, dia segera membuka payungnya.

SRAK

Baekhyun terkejut dengan kondisi payungnya yang sangat menyedihkan. Terkoyak sana sini. Sementara itu, tak jauh dari tempatnya, diseberang jalan, terlihat gadis yang lebih muda menatap benci kearahnya. Gadis kecil bermantel kuning bermotif kelinci itu terlihat memegang pisau cutter. Baekhyun tercengang melihat adiknya, Krystal, tersenyum sinis kearahnya dan menggumamkan sesuatu yang dapat dia pahami dari gerakan mulutnya.

"Aku berharap kau tak pernah ada, eonnie.."

Baekhyun duduk dengan manis di kursinya disamping jendela sambil memakan bekal makan siangnya. Hanya ada roti isi dan sekotak susu stroberi. Dia memakan makanannya ddalam diam sambil terus menatap pemandangan diluar, sesekali dia mendengar perbincangan teman sekelasnya.

"Motor yang ada di gambar di dinding kamarmu sangat keren!" sahut seorang siswa laki-laki kepada temannya yang lain. Mereka sedang berkumpul dengan menggabungkan meja mereka untuk makan siang bersama.

"Tentu saja, itu adalah Honda RVF. Bagus kan? Aku sangat ingin memilikinya. Aku sedang menabung, lalu saat aku masuk SMA aku akan meminta orangtuaku membantu membelikan motor itu.." sahut siswa yang ditanyai sebelumnya.

Baekhyun melirik siswa itu. Tak disangka siswa itu juga langsung melirik kearah Baekhyun. Mata Baekhyun membulat lucu dan langsung dia langsung memalingkan wajahnya. Siswa lelaki itu memasang wajar datar dan beranjak menuju tempat duduk Baekhyun.

"Hei Baek!" sapa siswa itu ceria. Baekhyun sangat terkejut saat menengok ke kiri orang itu sudah berada tepat disamping mejanya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya kewajah Baekhyun dengan senyum lebarnya. "Ayo makan bersama kami, Baek." Baekhyun langsung berubah sendu. Dia langsung menundukkan wajahnya menatap meja didepannya.

"Aku …"

"Tak apa. Ayo ikutlah. Makanan akan lebih enak kalau dimakan bersama." Potong lelaki itu sambil menghentak-hentak kakinya ke lantai kelas dengan ringan.

"Tidak apa-apa aku disini saja.." cicit Baekhyun. Siswa itu beranjak menuju mejanya tadi.

"Begitu ya.. Baiklah."

Baekhyun menghela nafasnya dia merasa sedikit aneh. Tanpa ia sadari siswa tadi malah mengambil bekal makan siangnya dan menyeret bangkunya kedepan Baekhyun lalu duduk dengan santai.

"Kalau begitu, aku yang akan makan disini." Ucapnya dengan cengiran lebar. Baekhyun menatapnya sedikit terkejut. Siswa itu menyumpit salah satu potongan kimbapnya dan mencoba menyuapi Baekhyun. Baekhyun terus menghindari suapan itu.

"Ayolah, Baek. Makan saja. Berbagi itu sangat menyenangkan dan rasa makanan akan berkali-kali lipat lebih enak."

"T-tidak usah.."

"Ayolah.. Tidak apa-apa Baek. Satu suapan saja." Lelaki itu terus saja mencoba menyuapi Baekhyun. Sementara teman sekelas mereka menatap dua orang itu dengan wajah datar dan malas.

Flashback Off

"Aku sangat terkejut saat itu. Karena tidak ada seorang pun dikelas yang mendekatiku seperti dia.."

"… Aku sangat senang.." ucap Baekhyun pelan.

Flashback On

Sore itu semua siswa sudah bersiap meninggalkan kelas, begitupun Baekhyun. Lalu siswa laki-laki itu menghadangnya dengan senyum lebarnya.

"Baek! Kami mau mengadakan pesta kecil di kedai ramyun apa kau mau ikut?" Baekhyun langsung menunduk malu.

"T-tidak usah. Aku tak mau." Sahut Baekhyun menggeleng dan berlari menjauhinya.

Begitu seterusnya setiap hari.

"Baek! Ayo berkaraoke bersama?" Baekhyun menggeleng dan berlari pulang. Lelaki itu hanya tersenyum "Padahal aku ingin mendengar Baekhyun bernyanyi."

"Nah, Baek. Ayo ke pantai bersama yang lain. Kau bisa menemukan kerang laut seperti ini"

Baekhyun terus saja menolak ajakan siswa itu. Namun, dia tak juga menyerah. Hingga akhirnya Baekhyun mulai merasa terganggu. Baekhyun berdiri dengan cepat dan meninggalkannya dikelas. Sebelum membuka pintu kelas, dia berbalik sebentar.

"Jangan menguntitku terus menerus. Hentikan semuanya!"

"A-aku tak menguntitmu.."

"Pokoknya kubilang berhenti. Aku baik-baik saja seperti ini."

"Aku tak bohong! Aku .. Aku .. Hhh.. Karena kau cantik, aku ingin akrab denganmu." Jawabnya dengan senyum konyolnya lengkap dengan wajahnya yang memerah. Baekhyun tertegun sementara teman sekelasnya mulai heboh.

"Wah! Jadi itu sebabnya kau sangat pantang menyerah mengikuti dia ya?"

"Berisiiikk!" teriak si lelaki yang kini wajahnya tengah memerah sempurna.

"Hei, Baek. Ayo balas perasaannya." Baekhyun terkejut dengan permintaan teman-temannya. Sementara si lelaki hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.

"Tak apa Baek. Kau tak perlu membalasnya seka-"

"Maaf." Potong Baekhyun. Seketika kelas yang tadinya terdiam menjadi riuh kembali dengan tawa teman sekelas Baekhyun. Mereka tertawa mendengar jawaban polos Baekhyun.

"Bagus Baek. Jangan mau dengan lelaki macam orang ini" terdengar suara teman sekelasnya saing bersahutan. Dua gadis cantik mendekati Baekhyun.

"Ya benar Baek, jangan mau berpacaran dengannya."

"Hm, dia itu playboy."

"Yak! Jangan membicarakan yang aneh-aneh tentang diriku! Kalian semua diaaam!" teriak siswa itu dengan wajah yang memerah, entah malu atau marah. Baekhyun yang melihatnya tidak dapat menahan tawanya lebih lama. Akhirnya dia tertawa kencang sampai matanya berair.

.

.

.

Baekhyun duduk ditaman sekolahnya seorang diri. Meskipun sempat akrab sehari dengan teman-temannya, tidak membuatnya merasa nyaman berada ditengah-tengah orang banyak. Dia duduk sambil memangku bekal makan siangnya. Dia membuka perlahan kotak makan siangnya.

Deg

Jantung Baekhyun berdenyut sakit menatap bekal makan siangnya. Hatinya tersayat namun wajahnya tetap datar tanpa emosi. Tepat diatas nasi didalam kotak bekalnya terdapat lembaran tisu dengan tulisan yang dia tahu milik siapa.

Kuharap eonnie tidak pernah ada.

Wajah datar itu perlahan mulai berubah. Air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya lalu menutup matanya erat. Meloloskan air matanya, membuat air mata itu jatuh tepat diatas tisu itu.

"Aku sudah muak.." lirih Baekhyun dengan suara yang gemetar. Dengan air mata yang terus mengalir, Baekhyun mengambil sumpitnya. Dia mengaduk nasi itu dengan tisu yang sudah basah dengan air matanya. Baekhyun hendak menyuapkan nasi itu ke mulutnya hingga suara lelaki yang sangat dikenalnya mencegahnya melakukan itu.

"Hentikan Baek." Baekhyun menoleh. "Kau akan sakit perut jika memakannya."

"… Ada begitu banyak hal yang tidak bisa otak kecil kita pahami. Jadi, abaikan saja. Lagipula, aku akan memberikan makanan milikku jika kau lapar." Lelaki itu menatap Baekhyun dengan senyumannya. "Jangan lagi mengucilkan dirimu, Baek. Asal kau tahu, makan siangku enak, kok."

Baekhyun mengernyitkan wajahnya menahan haru, dia menjatuhkan bekal makan siangnya dan berlari memeluk tubuh tinggi lelaki didepannya. Baekhyun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan lelaki yang beberapa hari lalu dengan terang-terangan mengatakan menyukainya. Kris. Wu Kris.

Flashback Off.

"Aku sangat takut untuk bersosialisasi dengan orang lain.."

"… dan saat itu terasa hangat…"

"… Ketika Kris memelukku erat …" Baekhyun menutup matanya. "Karena ada dia disisiku, aku mampu bertahan selama ini." Baekhyun menggenggam erat kaleng sodanya "Kehangatannya memberikanku kekuatan untuk melangkah. Jadi, kupikir inilah saatnya aku ganti menyemangatinya. Aku bertemu dengannya saat aku kembali ke Seoul. Saat itu pula aku mendengar bahwa umurnya hanya tinggal setahun lagi." Baekhyun menunduk menatap roknya.

"Apa yang kau bicarakan?" sela Chanyeol sedikit tak percaya dengan apa yang Baekhyun katakan. "Dia tak mengidap penyakit semacam itu."

"Dia tak mau membuat orang lain khawatir dengannya, jadi dia tidak menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Tapi …"

Flashback On

Hari sudah gelap. Baekhyun yang masih menggunakan seragam SHSnya menatap horror Kris yang berada sekitar 10 langkah dari tempatnya berdiri.

"Tidak mungkin.." lirihnya. Baekhyun meremat rok sekolah SHSnya. "Kau bohong, kan? K-kau akan mati?" Kris hanya tersenyum sendu menatap Baekhyun.

"AKu ingin kau berasa disisiku." Kris menghela nafasnya. "Aku sebenarnya tak ingin memberitahumu soal ini, dan aku tahu aku egois. Meski demikian, aku ingin kau berada disisiku, aku janji akan berusaha keras. Aku tak memiliki siapapun selain kau, Baek. Jadi, kumohon .. "

Flashback Off

"Saat itu, aku membuat keputusan, bahwa akulah satu-satunya yang bisa mendukungnya. Seperti yang sudah dilakukannya padaku sebelumnya." Baekhyun mengangkat wajahnya menatap lurus kearah Chanyeol. Chanyeol terkejut dan mendadak lidahnya kelu untuk sekedar berkata-kata.

Baekhyun berdiri dari duduknya dan menatap lurus mata Chanyeol yang tingginya jauh diatasnya.

"Aku tahu apapun yang aku katakan itu egois." Baekhyun mengalihkan wajahnya kesamping "Tapi, kuingin kau merahasiakan kisah kita dari Kris." Baekhyun berjalan pelan melewati Chanyeol. "Kumohon.." lalu Baekhyun berlari sekencang mungkin menuju rumahnya.

"B-Baek.." Chanyeol hanya bisa menatap punggung Baekhyun yang semakin menjauh. Dia memandang sendu kearah Baekhyun yang mulai tak terlihat. "Baiklah, aku mengerti."

.

.

.

Flashback On

Chanyeol kecil sedang berbaring tengkurap, berencana menulis buku harian untuk liburan musim panas sekolahnya. Dia menuliskan tentang Baekhyun, teman yang dia temui saat di festival musim panas semalam. Ingatan Chanyeol dalam mengingat orang dan moment sangatlah buruk, dia bahkan lupa bahwa dia sudah pernah bertemu dengan Baekhyun kecil musim panas 2 tahun lalu.

Dahi sempit Chanyeol mengkerut lucu dan pensilnya juga digigiti olehnya, dia sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk buku diary sekolahnya. Dia menutup matanya sebentar lalu berusaha mengingat pertemuannya dengan Baekhyun semalam.

.

.

.

Chanyeol kecil sedang berjalan dengan riang seorang diri dengan membentangkan kedua tangannya seperti sayap pesawat. Tiba-tiba seorang gadis kecil bertopeng dan mengenakan hanbok merah muda menghampirinya. Chanyeol mengelilingi gadis itu sambil bertanya-tanya 'siapa dia?'. Chanyeol terhenti ketika melihat bahu gadis mungil itu bergetar, dan akhirnya memutuskan untuk berjongkok didepan gadis itu.

Tak lama kemudian, gadis itu membuka topengnya. Mata Chanyeol membulat lucu.

"Hei, kau siapa? Kenapa kau menangis?" Tanya Chanyeol sepelan mungkin. Dia takut orang-orang mengira dia anak nakal yang suka membuat teman perempuannya menangis. Tapi malangnya, gadis kecil itu malah menangis semakin tersedu-sedu dan menghambur memeluk Chanyeol erat.

Akhirnya Chanyeol pun memutuskan menggendong gadis itu menuju kuil di ujung jalan festival. Diperjalanan itulah Chanyeol mengetahui bahwa gadis yang berada dipunggungnya saat ini adalah Baekhyun, teman yang dia temui dan dia ajak melihat kembang api bersama di festival musim panas 2 tahun lalu. Baekhyun juga bercerita apa penyebab dia datang dari Seoul ke desa Chanyeol dengan perasaan sedih.

.

.

.

Chanyeol kecil membuka matanya dan menatap bukunya serius. Dia menggambar Baekhyun yang sedang menangis dengan memegang topeng kelinci. Setelah puas dengan hasil karyanya yang cukup bagus menurutnya (?), dia lalu mengambil pensilnya dan mulai menulis.

Kurasa aku pernah bertemu Baekhyun sebelumnya.

Waktu itu dia datang dengan raut sedih lalu menangis padaku.

Dia menangis karena sedih ibunya telah tiada, dan dia masih belum biasa menerimanya.

Jadi, kubilang padanya kalau dia boleh singgah kapanpun dia merasa sedih.

Lalu, dia datang kembali kemarin.

Ayahnya menikah lagi dengan wanita yang mempunyai dua orang anak.

Dia mendapatkan seorang kakak dan seorang adik perempuan.

Adiknya tirinya membenci Baekhyun,

Dan berharap Baekhyun menghilang.

Flashback Off

.

.

.

Chanyeol berjalan lesu sambil menunduk menuju apartemen kakaknya. Dia bahkan sengaja tidak menggunakan lift dan memutuskan naik tangga. Matahari sudah terbenam seluruhnya dan menyisakan cahaya remang. Dia terus berjalan sambil melamun sampai suara yang cukup keras menyadarkannya.

"Oi Chanyeol!" Chanyeol mengangkat kepalanya dan melihat Luhan bersandar di pagar depan kamar apartemennya. Dia hanya menatap Luhan singkat tanpa mengeluarkan suara. Luhan yang paham dengan pribadi Chanyeol pun langsung melanjutkan omongannya.

"Ehem, ini soal Kris.." Chanyeol mengangkat wajahnya menatap Luhan lekat. "Dia akan check-up ke Rumah sakit. Katanya tak ada yang perlu dikhawatirkan." Chanyeol kembali menunduk dengan wajah datarnya. Sebelah tangannya dia masukkan ke kantong celananya.

Luhan mengernyit, "Apa ada masalah?" tanyanya.

"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Chanyeol masih dengan menunduk.

"Hum.." angguk Luhan.

"Jika, misalnya orang yang kau sukai, berpacaran dengan sahabatmu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Chanyeol pelan. "Selain itu, temanmu itu sakit, dan sedang dirawat di Rumah Sakit."

"Hah?"

"Apa kau masih akan bertahan dan berjuang demi orang yang kau sukai?"

"Permisi Tuan Park yang terhormat, apa sebenarnya yang kau bicarakan?" Tanya Luhan memiringkan kepalanya. Dia menyandarkan tubuhnya kembali ke pagar itu, berfikir sejenak. "A-apa kau sedang membicarakan gadis itu, gadis yang kau kejar sampai disini?" Chanyeol, dia tak bergeming tak juga berekspresi, jadi Luhan melanjutkan bicaranya.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku.. Aku tak ingin melakukan apapun yang menghancurkan tali persahabatan. Dan-" Luhan memotong ucapan Chanyeol.

"Kalau kau mulai berfikir seperti itu, kau tak bisa bersahabat." Luhan berbicara tanpa menatap Chanyeol. "Meskipun kau menyembunyikan perasaanmu dan membiarkan semuanya demi kepentingan itu, aku hanya tak bisa memikirkan dampaknya nanti.." Luhan beranjak dari pose bersandarnya dan menatap Chanyeol tepat dimatanya. "Hal itu hanya akan semakin menyakitkan.." Luhan menghela nafasnya dan menatap langit malam. "Karena keduanya penting bagiku.."

Chanyeol ikut memandang langit gelap dihadapannya. "Begitu ya.. Kurasa aku menemukan jawabanku.."

.

.

.

Pintu kamar Rumah Sakit Kris terbuka pelan dan Chanyeol melangkah pelan memasuki kamar itu. Disana terlihat Kris yang sedang berbicara dengan Baekhyun. Kris yang pertama menyadari kehadiran temannya langsung tersenyum lebar.

"Eoh? Chanyeol-ah! Kau kesini untuk menjengukku?" Baekhyun berdiri dari duduknya mulai gelisah melihat gelagat Chanyeol.

Chanyeol terus melangkah sampai di pinggir tempat tidur Kris, melirik sahabatnya sejenak lalu menatap Baekhyun tepat dimatanya.

"Aku kesini, lebih tepatnya untuk menyatakan perang." Jawabnya datar sambil terus menatap Baekhyun. Baekhyun hanya menatapnya kebingungan. Lalu Chanyeol menatap Kris dan mendekati sahabatnya itu. Dia menarik nafasnya lalu berkata dengan lantang.

"Alasanku datang sejauh ini dari Busan, adalah demi Byun Baekhyun." Katanya tegas. "Aku memang kasihan padamu, tapi aku tetap menginginkan Baekhyun kembali padaku." Baekhyun membulatkan matanya, dia sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Chanyeol. Kris menegakkan tubuhnya diranjang dan membalas tatapan Chanyeol tak kalah serius.

"Jadi, Baekhyun itu gadis yang kau kejar?"

"Ya!"

"Benarkah itu?" tanyanya pelan. Bukan. Pertanyaan itu bukan untuk Chanyeol melainkan Baekhyun. Gadis itu paham meskipun Kris tak melihat kearahnya. Dia menunduk dan menganggukan kepalanya pelan.

"Ya.." lirihnya. Kris langsung memandang kearah Baekhyun dengan sangat cepat. Dia sangat terkejut, merasa sangat sedih sekaligus kecewa. Kris terdiam beberapa saat dan membuat Baekhyun sedikit panik. Dia menatap Chanyeol dengan marah.

"Kenapa kau melakukan hal ini Chan? Aku kan sudah putus denganmu!"

"Aku tak bisa menerima keputusan sepihakmu itu." Jawab Chanyeol dengan sangat tenang.

"Aku tak berniat untuk kembali bersamamu lagi.."

"Aku tahu.." Chanyeol membalikkan badannya memunggungi Baekhyun. "Aku kesini hanya untuk berbicara dengan Kris tentangmu." Dia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar itu.

"Park Chanyeol." Panggilan datar itu menghentikan langkah Chanyeol.

"Aku beritahu padamu, Kris. Aku tak berniat sedikitpun untuk menahan diri, tak peduli penyakit apapun yang kau derita." Ucapnya tanpa menatap Kris.

"Chanyeol! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu hah?!" Baekhyun berucap emosi dan sedikit berteriak.

"Aku mengerti…" gumaman pelan Kris itu menghentikan ucapan Baekhyun. "Akulah yang merebutnya sejak awal." Dia menghela nafas pelan "Baiklah. Kuterima tantanganmu. Baekhyun… ambillah dia jika kau bisa. Sebagai gantinya, aku takkan memberimu banyak waktu." Tegasnya dengan sedikit tersenyum.

"Aku mengerti."

"Apa sih yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Baekhyun mulai sedikit frustasi. Baik Chanyeol maupun Kris tak ada yang menyahut. Chanyeol meneruskan langkahnya hingga dia menghilang dibalik pintu itu. Baekhyun menatap kosong kearah pintu kamar Kris hingga panggilan Kris menyadarkannya.

"Baekhyun.." Baekhyun membalikkan badannya menghadap Kris tanpa mendekati kekasihnya itu. "Berkat dia, sekarang semuanya akan menjadi menarik."

.

.

.

Luhan sedang berada diatap sekolah bersama Chanyeol, ditangannya terdapat tongkat baseball. Luhan menatap nyalang kearah Chanyeol. Lelaki itu tak menampakkan sedikitpun emosi dan ekspresi diwajahnya.

"Aku sudah dengar semunya dari Kris.." desis Luhan. Dia mengangkat tongkat baseballnya dan memukul pagar pembatas didepannya dengan sangat keras. Chanyeol mengangkat wajahnya dan kini menatap Luhan dengan ekspresi super datarnya.

Luhan membuang tongkatnya. Airmata telah menggenang dikedua matanya. Dengan secepat kilat dia berlari kearah Chanyeol hendak melayangkan pukulannya. Tapi dia tak sanggup, dia malah mendorong Chanyeol hingga punggung pemuda itu menghantam pagar pembatas.

"Dia akan meninggal setahun lagi! Dan sekarang kau malah mau merebut kekasihnya?!" teriak Luhan dengan emosi dan air matanya yang mulai membasahi pipinya merah mudanya. Dia menarik dasi Chanyeol dengan sangat kuat membuat Chanyeol sedikit tersentak, namun Chanyeol tidak juga menunjukkan ekspresinya.

"Itulah yang aku inginkan, Luhan." Luhan memalingkan wajahnya kearah lain, sementara Chanyeol mendongakkan kepalanya keatas. "Itu tak bisa kuhindari."

"Apa maksudmu tak bisa?! Kau sudah bersamanya sebulan, tapi bagiku-" ucapan Luhan terhenti ketika Chanyeol meraih tangannya dan menghempaskannya dari dasinya. Chanyeol memperbaikki dasinya lalu berjalan melewati Luhan sambil memasukkan kedua tangannya kekantong celananya.

"Aku tak bisa memikirkan hal itu." Chanyeol membuang pandangannya kesamping. "Bukankah kau yang mengatakannya padaku? Aku tidak akan bisa bersahabat dengan situasi seperti ini. Pada akhirnya aku hanya akan membenci Kris kalau terus seperti ini." Chanyeol kini menatap Luhan tegas. "Berkata jujur padanya… mungkin akan membuka jalan untuk kami. Meskipun aku hanya bersamanya baru sekitar sebulan, tapi dia juga adalah temanku, sahabatku."

Luhan beranjak mendekati Chanyeol. "Hei Chan.." Chanyeol hendak bertanya sebelum sebuah tangan ramping melingkar erat dan sangat kuat dilehernya. Mebuat nafasnya tercekat dan sakit dileher sampai kepalanya. Luhanlah pelakunya.

"Bodoh! Harusnya katakan sejak awal! Bukannya menantangnya!" bentak Luhan sambil terus mengeratkan tangannya yang mengunci leher Chanyeol.

"S-s sakit Luhan! Akkkh! Dia akan mengkhawatirkanku jika sejak awal aku katakan semuanya pada-Akkh nya!" lingkar tangan Luhan melonggar. Kini mereka malah terlihat sangat mesra, seperti Chanyeol yang menyandarkan tubuhnya pada Luhan dan Luhan memelukknya dari belakang.

"Eoh? Begitukah?"

"Iya. Lalu kau! Kau sulit memahami Kris, meskipun kau telah bersamanya lebih dari setahun." Sambung Chanyeol.

"Berisik! Kalau memang begitu kau bisa katakan padaku apa yang kau pikirkan. Aku kan juga temanmu" suara Luhan mengecil diujung kalimatnya. Dia mempoutkan bibirnya tanda merajuk.

"Lu, aku tak keberatan dengan itu. Tapi, bisa kau lepaskan aku dulu? Dadamu sangat terasa dipunggungku."

"Apa katamu?!" Luhan mengencangkan tangannya di leher Chanyeol hingga lelaki itu terbatuk.

"Akkh! Lu Lu maaf aakh kan aku aaakkh"

.

.

.

Setelah perdebatan yang cukup menguras tenaga diatap sekolah tadi, kini Luhan dan Chanyeol sudah berbaikkan malah mereka sedang berjalan ke Rumah Sakit dengan santai bersama. Tongkat baseball Luhan dia letakkan dibahunya.

"Aku tak bisa sepertimu, berusaha untuk mendapatkan cinda dan persahabatan sekaligus." Ucap Luhan santai.

"Diamlah." Cibir Chanyeol. Dia masih cukup marah dengan perlakuan kasar Luhan padanya siang tadi. "Kalau aku tak melakukan apapun, maka akhirnya aku akan kalah."

"Iya juga sih.." guman Luhan.

"Apa kau tak apa tak menghadiri klub baseballmu?" Tanya Chanyeol cuek.

"Aku sih tak apa, tapi aku khawatir." Luhan berlari kecil berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Chanyeol.

"Khawatir?"

"Hum! Mungkin saja kau mengamuk dan melakukan hal aneh pada mantan kekasihmu. Aku akan menghentikanmu."

"Jadi itu sebabnya kau bawa tongkatmu ini?" Tanya Chanyeol sambil menunjuk tongkat baseball ditangan Luhan. Luhan hendak membalas sebelum melihat tas kertas yang dibawa Chanyeol.

"Chan? Kau membelikannya hadiah?" Tanya Luhan.

"Bodoh. Ini salah satu senjataku. Aku bukanlah orang bodoh yang berperang tanpa senjata."

.

.

.

Chanyeol membuka pintu kamar Kris dan masuk kedalam diikuti Luhan.

"Hei." Sapanya riang. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol bingung sementara Kris tersenyum lebar.

"Kau masih berani datang setelah kejadian kemarin ternyata."

"Aku malah berfikir kau sudah pergi karena menyerah." Balas Chanyeol sambil melangkah ke tempat tidur Kris.

"Kenapa harus aku yang pergi. Hei Baek kemarilah." Panggil Kris pada Baekhyun yang malah beranjak menuju jendela kamar dan menatap kosong keluar. Seketika ruangan itu menjadi hening.

"O-oh ya, Chanyeol membawa sesuatu." Ucap Luhan mencoba mencairkan suasana. "Ayo Chan tunjukkan" sambungnya sambil menoyor kepala Chanyeol dengan tongkat baseballnya.

"Baik baik." Chanyeol mengeluarkan kotak plastik dari tas kertasnya dan membuka kotak itu. Ternyata itu adalah kotak makan siang yang isinya telur gulung buatannya. Mata Kris langsung berbinar melihatnya.

"Yah! Telur gulung! Pasti enak." Dia segera mengambil telur itu dan memakannya.

"Yak! Kris jangan memakannya sendirian. Aku membuatnya untuk Baekhyun." Pekik Chanyeol.

"Pelit. Lagipula ini terlalu banyak untuk satu orang Park." Balas Kris tak peduli. "Yeah ini enak sekarang. No wonder, kau memang Chef terbaik! Lu, cobalah.." Luhan yang tergiur pun ikut bergabung dengan Kris.

"Baek, kau tak mau makan masakkanku?" Tanya Chanyeol ceria.

"Aku tak butuh itu." Jawab Baekhyun pelan tapi terdengar nada ketus yang sangat kentara. Chanyeol masih tersenyum menatap punggung Baekhyun.

"Begitu ya.." Kris memandang Chanyeol dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Luhan yang mulai merasa tak nyaman pun tak tahan lagi.

"Nah, ayo pulang Chan. Hari sudah semakin sore."

"Tidak mau, aku tak ak-"

"Bagaimana kalau kau meninggalkan mereka berdua sebentar Chan.." potong Luhan.

"Itu bukan masalahnya, Lu. Kalau aku pergi, aku tak akan tahu apa yang akan dilakukannya pada Baekhyun." Jawab Chanyeol sengit sambil menatap kris yang juga menatapnya diam.

"Mereka kan sepasang kekasih. Jadi mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau." Ucap Luhan mulai jengkel dengan sikap Chanyeol. Chanyeol mendengus dan tersenyum kearah lain.

"Jangan khawatir, aku tak akan melakukan apapun padanya. Lebih tepatnya, aku tak bisa melakukan sesuat pada gadis yang begitu aku sukai." Chanyeol memandang Kris sengit namun beberapa saat kemudian dia menghela nafasnya.

"Ayo, Lu. Kita pulang."

"Yeah. Itulah yang terbaik."

"Oy, Park. Aku mau kimbap besok ya." Teriak Kris.

"Hah? Kau pikir aku tukang antar makanan. Bye." Balas Chanyeol sambil menatap Kris dari pintu kamar Kris lalu beranjak pergi. Kris hanya menatap sendu kearah pintu. Tinggalah dia dan Baekhyun yang masih setia menatap keluar jendela.

"Ya ampun, merepotkan sekali.." kekeh Kris.

"Hm.. Sepertiya sudah saatnya pula aku pulang." Ucap Baekhyun lembut sambil mengambil tasnya.

"Kalau begitu makanlah ini sebelum kau pulang." Kris menyodorkan sepotong telur gulung Chanyeol kepada Baekhyun.

"T-Tapi…"

"Maaf hanya menyisakanmu sepotong." Ucap Kris sambil tersenyum.

"Baiklah.." Baekhyun mengambil potongan telur itu dan memakannya.

"Bagaimana? Enak?" Tanya Kris penuh semangat.

"Hm.." Baekhyun tak sanggup berkata apapun. Dia menatap sendu potongan telur gulung itu dengan tatapan sendu. Betapa dia merindukannya, betapa dia merindukan Chanyeol.

.

.

.

Baekhyun baru saja akan membuka pagar rumahnya sampai teriakan kencang dari suara berat yang dia kenal menggelitik telinganya.

"Aku kesini untuk mengatakan sesuatu padamu." Baekhyun terkejut, tapi dia berusaha terlihat sesantai mungkin.

"Apa?"

"Jangan pernah berwajah seperti itu didepan Kris. Kau selalu terlihat khawatir didekatnya. Dan itu sangat tidak cocok dengan dirimu. Apa kau sebegitu bencinya berada didekatku?"

"Bukan begitu." Balas Baekhyun cepat dan membuat senyuman terukir dibibir penuh Chanyeol.

"Aku senang. Senyumanmu, memberiku kekuatan.."

"Chan.."

"Berikan senyumanmu juga pada Kris. Aku yakin dia akan sangat senang jika kau memberikan senyumanmu padanya." Baekhyun dibuat bingung dengan sikap Chanyeol.

"… Aku rela membagi senyumanmu kepadanya." Chanyeol hendak melangkah pergi, namun dia kembali berbalik dan tersenyum "Meskipun aku sangat menyukaimu."

Deg

Wajah Baekhyu merona sesaat sebelum dia menyadari Chanyeol yang sudah mulai berjalan menjauhinya. Dia segera berlari dan menyusul Chanyeol.

"Chanyeol-ah.."

"Hm?" Chanyeol berhenti dan memandangi Baekhyun yang kini berjalan mendekatinya dengan wajah tertunduk.

"I-itu.. Telur gulungnya.. Enak.."

"Wah. Kau memakannya?" Tanya Chanyeol tanpa bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

"Hm.." Baekhyun menganggukan kepalanya. "Dan juga.."

"… sampai jumpa besok Chan.." Chanyeol terkejut sesaat, namun segera dia tersenyum penuh sayang.

"Hm.. Sampai jumpa besok, Baek.."

.

.

.

(Chanyeol POV)

Kupikir aku bisa melangkah kedepan tanpa menghancurkan hal-hal seperti ini.

Tapi, meskipun kami tinggal di Kota yang sama, dan kami bisa bertemu kapan saja.

Entah kenapa, jarak antara aku dan Baekhyun semakin bertambah.

Kris, hatiku tertusuk oleh kebaikannya.

Kini, kami berdiri dibawah pohon sakura yang sama.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai, apa kabar semuanya? Sebelumnya saya mau ngucapin Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan.

Woah maaf sudha menjadi author yang lalai dan membiarkan FF ini terbengkalai cukup lama.

Saya baru saja selesai ujian akhir semester jadi benar-benar fokus ke ujian.

.

Ini sudah saya lanjut hihi meskipun tidak yakin ada yang menunggu XD

Maafkeun typo yang bertebaran karena saya menulis ini ditengah keadaan mengantuk, jika sempat akan saya edit kembali.

.

.

Big Thanks to :

[ ]

Gimana kejawab kan dari flashbacknya si Baek tadi? Iya, Chanbaek udah saling kenal mulai dari masih kecil, dan Kris baru ada ketika Baekhyun udah SMP ^^

[manyeolbaek]

Hehe iyaa.. Aku yang pernah maksa kakak update secepat mungkin hehe. Makasih udah nyempetin review kak. Aku seneng banget dapet review panjang gitu. Emang gaada yang paling ngerti author selain author juga. Review itu bagaikan asupan nutrisi biar kita semangat lagi.

Iya, Baekhyun lugu banget. Itu yg bkin Chan klepekklepek (?)

Udah kejawab kan, Kris siapa, Kris kenapa di chapter ini? Hihi.

Dan jreng jrengggg Chanyeol udah ngaku loh haha.

Maaf kalau ngaretku bikin author manyeolbaek kecewa. Aku berharap kakak masih bersedia review yaa. Aku tunggu karya kakak yang lain.

[Gianty581]

Engga kokk, kamu ga sok tau. Tebakanmu bener hehe.

[ ]

Heii, hahaha maaf yaa buat nunggu lama aku baru selesai UAS, dan ini udah aku lanjut.

.

.

.

Terimakasih sudah bersedia mereview FF ini. Jika berkenan, bisa minta review lagi kan? Hihi.

Salam Sayang, Bunny.