Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.
- Alternate Universe setting out of character.
- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.
- Didedikasikan untuk event Flore 2016.
- 18への誕生日おめでとうございます、2016年11月20日。
A Story of Fond Memories
.
.
.
Chapter Five
A Mistake
.
.
.
Sambil duduk di bangku taman di St. James' Park, Ino hanyut ke dalam novel yang sedang dibacanya: A Room with A View karya E. M. Froster. Ia memang sengaja datang ke sini untuk membaca buku, ia ingin menghabiskan waktu luangnya di tengah kesibukannya kuliah dengan memanjakan dirinya dengan udara segar dan buku kegemarannya.
Angin musim gugur yang berembus dingin ini pun tidak mengganggu konsentrasinya sama sekali karena imajinasinya sedang mencapai puncak. Setelah ia membaca sampai pada bagian akhir, ia menutup bukunya lalu menyesap cappuccino di gelas kertasnya sesaat lalu memandang ke depan.
Tepatnya sudah tiga tahun berlalu sejak kepergian Deidara, dan hubungan kedua orang tuanya tidak berubah sama sekali, Ino benar-benar tidak mengerti. Namun, waktu tiga tahun ini telah mengobati Ino, sedikit-banyak Ino mulai mampu menerima kenyataan. Meski kini ia tidak bisa menemukan satu pun hal di dunia ini yang bisa menjadi sumber kebahagiaan hidupnya. Dan percayalah, Ino tidak bisa menjadi Ino yang dulu lagi, Ino yang ceria.
Sesaat kemudian Ino mendapati seseorang duduk di sampingnya, seorang lelaki yang terlihat lebih tinggi dibandingkan dirinya.
Iseng, Ino sedikit tolehkan wajahnya untuk memastikan wajah seseorang di sampingnya.
Lelaki berkulit putih dan berwajah pucat. Tangannya yang tampak lemas dan kurus sedang mengetik sesuatu di layar smartphone-nya dan matanya yang sayu tertuju pada layar smartphone dalam genggaman tangan kanannya.
Kurang dari satu detik, Ino mengalihkan pandangannya kembali. Wajahnya memerah dan perasaannya tiba-tiba campur-aduk. Dia adalah Sai! Oh my goodness! Apa yang harus Ino lakukan?! Apa yang harus Ino ucapkan?! Bagiaman ini?! Ino sama sekali tidak memiliki persiapan!
Tanpa disaring rencana terlebih dahulu, Ino bicara secara spontan, "Sashiburi da ne?!"
Dengan gesit, Ino membekap mulutnya. Gawat! Aku bicara begitu saja! Dan aku bicara dengan bahasa Jepang! Astaga, memalukan!
Inilah kebiasaan Ino: bicara dengan bahasa Jepang setiap emosinya tidak terkontrol.
Keringat mengalir menuruni pipi Ino, khawatir mengenai reaksi apa yang Sai timbulkan dari kalimat gilanya barusan. Andai ia bisa menarik kembali ucapannya! Andai saja!
Tapi saat itu ekspresi Sai tampak kesakitan dan pandangan matanya mengarah pada Ino namun ia seperti tidak menggubris apa pun yang baru saja Ino katakan. Tidak, mungkin bukannya tidak menggubris, tampaknya ia bahkan tidak sadar bahwa Ino baru saja bicara. Tatapan lelaki itu kosong. Pandangannya mengarah pada Ino tetapi ia separti tidak melihat apa-apa.
Tubuh mereka berhadapan dan saling memandang sesaat, sampai Sai limbung dan wajahnya menabrak dada Ino.
Wajah Ino seketika matang dan dadanya terasa mau mendidih. "A-apa yang kau lakukan?!" Ino mengguncang-guncangkan bahu Sai tapi Sai tidak kunjung bangkit. "Ini pelecehan seksual!"
Ino mendorong tubuh Sai menjauh untuk menyelamatkan dadanya, tapi yang dilakukannya itu membuat Sai terjatuh ke tanah. Ia tak sadarkan diri dan napasnya tersengal, membuat Ino segera berjongkok di tanah di samping Sai dan menepuk lengannya. "Sai! Apa yang terjadi?! Oh dear, Sai bangunlah!"
Perasaan Ino yang abstrak berubah menjadi cemas seketika. Tanpa pikir panjang, Ino menghubungi ambulans dan memperbaiki posisi Sai, menelentangkan tubuhnya.
Dengan penuh rasa cemas, Ino menunggu ambulans datang. Sai tidak tampak baik, ia kesulitan bernapas, tidak ada tanda-tanda darah mengalir di bibirnya, di kedua matanya terdapat lingkaran hitam, dan tubuhnya terlihat sangat lemas. Selama menunggu, apa yang harus ia lakukan?
Ino menggigit bibir, kecemasan membuat kedua tangannya gemetaran dan jantungnya berdebar keras. Beribu kemungkinan terburuk tidak berhenti menyerang pikirannya.
Bola mata Ino bergerak-gerak kebingungan, baru berhenti saat menemukan smartphone yang tergeletak di tanah. Benar sekali! Hubungi keluarganya!
Ketika Ino menekan tombol lock screen, beruntung sekali smartphone ini tidak dilindungi oleh kata sandi. Layar smartphone langsung menampilkan sebuah obrolan dengan seseorang dengan kontak bernama 'Mom'.
Mom: Sai, jangan lupa minum obat selama aku pergi ;)
Me: Oh come on Mom, tidak perlu mencemaskan aku, aku tidak akan lupa :)
Mom: Baiklah :)
Mom: Bagaimana keadaanmu?
Me: I'm fine ({})
Dan percakapan ini adalah percakapan beberapa menit lalu. Dasar Sai! Dalam kondisi begini bisa-bisanya ia bilang 'aku baik-baik saja'.
Sebelum Ino sempat menghubungi kontak bernama 'Mom' itu, para perawat berbaju putih datang dengan membawa tandu. Ino memutuskan untuk menunda rencananya. Sebaiknya ia menghubungi keluarga Sai saat ia sudah diperiksa saja.
.
.
.
Ino merasakan hal yang paling ditakutkannya untuk kedua kalinya dan selama itu ia merasakan detakkan yang kuat di dadanya. Sejak kepergian Deidara, entah kenapa ia selalu merasa takut setiap kali mendengarkan penjelasan dari seorang dokter.
"Maaf, kalau boleh tahu… apa hubungan Anda dengan pasien?"
Ino menjawab cepat, berusaha tidak terlihat kebingungan menjawab pertanyaan sederhana yang sulit dijawab itu, "Saya temannya."
"Dia pasien tetap di rumah sakit ini. Saya sarankan ia untuk dirawat inap."
"Rawat inap? Dia sakit apa, Dok?"
Dokter tersebut memasang ekspresi menyesal. "Saya tidak berhak mengatakannya sebelum mendapat izin dari keluarga pasien."
.
.
.
Ino mengatur napas dan mengelap pipinya dengan tisu untuk kesekian kalinya, lalu perlahan ia mendorong gagang pintu yang terasa dingin saat ia sentuh.
Ketika pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada tubuh Sai yang terbaring di atas ranjang. Ino melangkah ke depan, mendekati ranjang dan memandang wajah Sai yang tertidur itu dengan nanar.
Napas Sai mulai teratur dan ekspresi wajahnya tampak tenang.
Sekeras apapun Ino memaksa dokter itu bicara, pria itu menggelengkan wajah alih-alih angkat suara. Tetapi, perasaan Ino yang tidak enak membuat air matanya berlinang.
Saat Ino menemukan smartphone Sai tergeletak di maja nakas dalam pandangannya, ia jadi teringat bahwa ia belum menghubungi keluarga Sai.
Ino meraih benda pipih itu lalu menelepon seseorang. Ketika suara sambungan telepon berbunyi beberapa kali, terdengar suara seorang wanita dari smartphone dalam genggamannya, "Ada apa Sai? Tepat waktu sekali kau menelepon, mumpung aku masih di bandara."
"Maaf, Nyonya…" Ino menjawab dengan ragu.
Suara wanita itu terdengar kebingungan, namun tetap tenang, "Maaf? Ini siapa ya?"
"Nama saya Ino, Ino Yamanaka. Saya temannya Sai." Ino bicara pada smartphone dalam genggamannya.
Wanita di ujung sana terkejut saat mendengar nama Ino, tetapi ia pandai menutupi keterkejutannya. "Begitu… lalu, ada apa ya?" tanya wanita di ujung sana dengan nada santun.
Ino berusaha agar suaranya terdengar setenang mungkin. "Siang ini saya menemukan Sai pingsan dan sekarang ia sedang tidur di rumah sakit."
Wanita di ujung sana terkejut dan terdengar sangat cemas, kali ini ekspresinya tidak bisa dibungkus. "Astaga! Terima kasih sudah menolongnya, di rumah sakit mana ia sekarang?"
"Royal National Orthopedic Hospital ruang platinum 207."
Ino bisa mendengar wanita itu menjawabnya dengan cepat, "Saya akan segera ke sana."
Setelah kurang lebih satu jam Ino duduk termagu di kursi samping ranjang, terdengar suara permisi yang disusul terbukanya pintu. Seorang wanita—dengan pakaian formal yang terdiri dari kemeja serta blazer dan celana panjang—datang menghampirinya, wajahnya tampak sangat ketakutan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya wanita itu dengan suara sangat pelan, sepertinya berusaha untuk tidak membangunkan Sai.
Wanita itu datang dengan tergesa dan kecemasan mliputi wajahnya. Wajahnya tampak muda, dan ia mirip sekali dengan Sai. Yang membedakan hanyalah warna rambutnya yang pirang dan iris mtanya yang biru kelabu. Dilihat dari mana pun, ia tidak terlihat seperti orang Jepang.
"Dokter bilang ia kelelahan, dan harus banyak istirahat. Tapi kondisinya stabil," jawab Ino dengan volume suara yang sama.
"Syukurlah. Entah apa yang harus kuberikan untuk berterima kasih padamu, aku sangat-sangat berterima kasih."
Ino memaksakan senyum, dan Ino sadar ternyata tersenyum saat sedih bukan hal yang mudah untuk dilakukan. "Saya hanya membantunya, sudah tugas saya membantunya sebagai teman."
"Terima kasih." Wanita itu mengambil posisi duduk di sebelah Ino dan menatap langsung ke mata Ino. "Kumohon jangan katakan padanya bahwa aku datang ke mari. Ia paling tidak suka dikhawatirkan."
Ia mengambil handphone Sai lalu menghapus catatan panggilan terakhir di sana dan meletakkannya kembali di tempat semula.
Wanita itu kemudian menunduk memandang kedua tangannya yang saling menggenggam. "Padahal sebagai ibunya, aku berhak untuk cemas," tambahnya dengan nada sendu.
Hati Ino tersentuh kala itu. Sai dan ibunya saling mencintai. Sai tak ingin ibunya mencemaskannya, dan ibunya tidak ingin Sai tahu bahwa ia mencemaskannya.
"Ino, itu kah namamu?" Suara wanita itu sedikit bergetar saat mengucapkan kata 'Ino'.
"Yes, Ma'am."
"Nama yang cantik."
Ino tersenyum "Terima kasih." Satu hal yang masih mengganggu hati Ino: Sai sakit apa sebenarnya? Wajahnya bisa tersenyum, tapi sayangnya hatinya tidak. Perasaan Ino benar-benar kacau. "Maaf, boleh kah aku bertanya padamu?"
Wanita itu mengangkat senyumnya. "Silakan."
Ino tertunduk, tidak mampu mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah wanita itu. "Sai sakit apa?"
Mrs. Shimura menganggukan kepalanya. "Hypertrophic cardiomiopathy. Apa kau pernah mendengarnya?" Wanita itu masih tersenyum.
Ino mengangkat wajah dan menggelengkan kepalnya, dan entah kenapa dua kata yang dilontarkan wanita itu terdengar menyeramkan hingga ia ketakutan. Kata-kata yang kemudian diucapkan wanita itu mengacaukan otak Ino.
"Ia menderita penyakit jantung genetik, Ino."
Kala itu Ino berharap wanita itu salah bicara, Ino harap ia salah dengar, Ino harap kenyataan bisa diubah. Dan kemudian, Ino mendapati tubuhnya kaku dan tangannya bergetar sementara wanita itu terus berkata.
"Sepertinya tidak perlu dijelaskan bagaimana penyakitnya."
Ino menyadari bahwa wanita itu sebisa mungkin tidak meneteskan air mata dengan terus tersenyum.
"Tapi kami yakin ia akan baik-baik saja, jadi kau juga tidak perlu cemas."
Wanita itu mengatakan kata 'yakin', tapi rasanya Ino merasa wanita itu mengatakan kata 'takut'.
"Ino, kau tahu aku baru saja dari bandara? Aku tidak bisa membatalkan keberangkatanku ke Australia, aku hanya bisa menundanya. Jadi, bisakah aku meminta bantuanmu?"
"Selama aku bisa melakukannya, pasti akan kulakukan," jawab Ino, serius.
"Selama kau tidak sibuk, bisakah aku menitipkan Sai padamu?"
Kala itu Ino hanya mampu menutupi keterkejutannya.
"Dia sendirian di London. Aku dan suamiku sedang dalam urusan pekerjaan, jadi kami hanya bisa menghubunginya lewat telepon." Wanita itu terlihat menyesal, namun ia beranikan menatap wajah Ino. "Aku tahu aku tak pantas mengatakan ini, tapi aku tak punya siapa pun untuk dimintai tolong."
Ino tersenyum tulus kepada wanita cantik di depannya. "Tanpa kau minta pun, aku pasti akan melakukannya, Mrs. Shimura."
Wanita itu tersenyum haru. "Thank you very much." Hening sejenak, ibu Sai menyerahkan sebuah kotak kepada Ino. "Ini banoffee cheesecake yang kubeli di toko kue dekat bandara." Wanita itu tersenyum. "Semoga kau suka."
"Ah, aku sudah merepotkanmu." Ino menerimanya dengan segan hati.
"Tidak sama sekali, malah aku yang merepotkanmu." Wanita itu bangkit dari duduknya lalu kembali bicara pada Ino, "Maafkan aku meninggalkanmu dalam situasi seperti ini, tapi aku tidak bisa menunda keberangkatanku lebih lama."
Ino ikut berdiri. "Jangan khawatir, saya baik-baik saja dan saya berjanji akan menjaga Sai."
Mrs. Shimura tersenyum dan bergumam, "Ini pertama kalinya Sai memiliki seorang teman perempuan, dan aku senang Sai berteman dengan gadis yang menyenangkan seperti dirimu."
Apa? Pertama kalinya katanya? Dan apa? Di mata ibu Sai, Ino menyenangkan? Tanpa disadari, kata-kata lembut dari wanita itu menghangatkan hati Ino yang beku.
Wanita itu menyampirkan tasnya di sebelah bahu lalu melanjutkan, "Saya permisi, terima kasih banyak sekali lagi." Ia lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat berisi tebal. "Oh ya, ini uang untuk menggantikan uang yang kau bayar untuk biaya rumah sakit."
"Tidak perl—"
Wanita yang mirip dengan Sai itu pergi sebelum Ino sempat mengembalikan amplopnya.
Seperginya wanita itu, Ino tidak mampu melepaskan sebaris kalimat yang ada di pikirannya.
Hypertrophic cardiomyopathy.
Meraih handphone-nya lalu membuka internet dan mencari pengertian dari dua kata asing itu. Ino membaca di beberapa situs dengan hati-hati dan dahi berkeringat serta dada yang terasa sakit. Dari beberapa sumber yang Ino baca, ia mendapat kesimpulan:
Hypertrophic cardiomyopathy adalah penyakit kelainan jantung genetik yang ditandai dengan adanya penebalan dinding ventrikel kiri sehingga sulit bagi darah untuk meninggalkan jantung, dengan kata lain bahwa jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah keluar dari jantung. Jantung menebal dan lebih kaku dari pada jantung normal, sebagai akibatnya terjadi tekanan balik ke dalam vena-vena paru-paru, sehingga penderita mengalami sesak napas yang sifatnya menahun.
Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepala Ino sehingga ia tidak bisa berhenti menangis. Wajahnya terangkat, menuntut Tuhan untuk memberikan keadilan. Kenapa Sai harus mengidap penyakit itu? Dan sampai saat ini, Ino belum bisa menerima kenyataan.
Setelah masa-masa sulit yang harus Ino lewati sejak menerima penolakan keras dari Sai dan kehilangan Deidara, perasaan Ino pada Sai tidak berubah semili pun. Ia masih sama, masih tetap menjadi Ino Yamanaka yang mencintai Sai sepenuh hati.
Dan setelah apa yang dokter katakan pun, perasaan Ino masih tetap sama, tetap sederhana, sesederhana 'Ino mencintai Sai'. Terlepas dari apa yang Sai lakukan padanya, terlepas dari rasa sakit yang harus ditanggungnya akibat perlakuan Sai, dan terlepas dari penyakit yang Sai derita.
Ino menangis sampai tengah malam, sampai matanya merah, sampai kelopak matanya bengkak, sampai matanya perih, sampai kepalanya pusing, sampai air matanya kering, sampai dehidrasi, sampai ia lelah, sampai ia mengantuk, dan sampai ia tertidur.
.
.
.
Ino mengerang karena posisi tidurnya yang buruk, lalu bangun sambil mengucek kelopak matanya dan sedikit meregangkan ototnya yang pegal. Dari tempatnya duduk, ia mendapati langit telah cerah.
"Bisa kau jelaskan kenapa aku bisa bersamamu di tempat ini?"
Suara dingin yang tajam menyadarkan Ino dan membuatnya sedikit tersentak. Sedikit gugup, ia menjelaskan pada lelaki yang duduk di kasur—yang bagian kepala kasurnya ditegakan, "Kau kutemukan pingsan di St. James' Park, jadi kubawa kau ke mari."
"Okay, interesting. Terima kasih sudah menolongku, sekarang kau bisa pergi," ucap Sai dengan suara menusuk dan ekspresi tak acuh.
"Sai, I can't—"
Sai menyela, "Kau bilang kau akan selalu muak setiap kali mengingat namaku, bukan?" lalu menambahkan, "dan aku, aku muak setiap kali mengingat wajahmu! Jadi bisakah kau lekas pergi?"
Ino tidak pernah lupa akan kebohongan yang diucapkannya kemarin kepada dokter dan ibu Sai bahwa Ino adalah teman Sai. Kenyataannya, siapa pun yang melihat adegan ini pasti tidak akan berpendapat demikian.
Dan hal yang membuat Ino semakin merasa perih adalah: kelihatannya Sai masih mengingat dengan baik tentang kata-kata pedas yang Ino ucapkan padanya beberapa tahun lalu. Ino bersumpah akan memperbaiki perkataannya saat itu.
"Please forgive me." Hanya itu yang bisa Ino katakan saat ini.
"Jangan salah paham! Aku membencimu bukan karena kata-katamu saat itu! Tapi aku membencimu karena kau memang pantas dibenci!"
Penuturan keras itu menyayat hati Ino, tapi ia tidak menyerah. Tidak! Ia tidak akan termakan omongan itu dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Kali ini, hati Ino jauh lebih kuat dibanding penuturan tajam Sai.
Ino tidak memiliki alasan untuk menyangi Sai sehingga ia juga tidak memiliki alasan untuk berhenti mencintainya. Dan ketika Tuhan memberikan kesempatan baginya untuk bertemu Sai, Ino tidak akan menyia-nyiakannya seperti orang bodoh.
Ino menarik napas dengan dalam untuk sedikit mengobati dadanya dan mencoba tersenyum. Lalu ia mendapat ide saat melihat mangkuk berisi oat yang disimpan di atas meja nakas.
"Nampaknya sarapan datang saat aku terlelap, ya?" Ino meraih mangkuk itu lalu kembali bicara, "Apakah kau lapar? Kau butuh sarapa—"
Sai menangkis mangkuk yang dipegang Ino. Lalu disusul suara keras yang membuat Ino terluka, "Aku tidak butuh perhatian darimu!"
Mangkuk yang terlempar dan suara Sai serta kaca pecah di lantai membuat tubuh Ino mematung dan napasnya berhenti berembus sesaat sehingga dadanya terasa perih.
Ino baru sepenuhnya tersadar saat beberapa detik telah berlalu, dan yang didapatinya adalah makanan yang tumpah di lantai dan beling yang berserakan.
Ino mencoba mengatur napas dan menahan diri untuk tidak menangis. Ia berjongkok dan memunguti beling itu dengan tangan bergetar.
Rasanya sakit sekali sampai Ino tak mampu merasakan denyut jantungnya. Tapi ia tetap mencoba agar air matanya tidak menetes dengan menahan diri untuk tidak berkedip dan mengangkat kelopak matanya tinggi-tinggi serta menggigit bibir dengan kuat.
"Hei kau! Bisakah kau pergi?! Tinggalkan aku sendirian!"
Kepala Ino terasa berat saat itu dan pikiran yang berkecamuk di kepalanya membuatnya tidak menyadari segala hal kecuali kepedihan hatinya. Sehingga tangannya bergerak lambat saat mencoba membersihkan lantai.
"Apakah kau tuli?! Aku sudah katakan untuk pergi! Kenapa masih diam di situ?!" Sai tampak sangat membenci Ino, gesturnya, rahangnya, tatapannya, semuanya berkata 'aku sangat membencimu'.
Ino berusaha berdiri meski dengan kaki yang lemah. "Baiklah, aku akan pergi jika itu bisa membuatmu senang." Ketika ia bicara, barulah air matanya tumpah. Ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan dan lari meninggalkan ruangan itu.
Ia membuang beling di tangannya ke tempat sampah lalu masuk ke dalam toilet dan menangis terisak di sana.
Meskipun Ino tampak menyerah dan terluka, hatinya tidak demikian. Ino tidak akan menyerah soal Sai. Mulai saat ini, Ino akan selalu memperhatikan Sai diam-diam seperti yang dulu selalu ia lakukan. Yang terpenting Ino bisa bersamanya.
Ino mengelus dadanya dan memejamkan matanya.
"Because I love you… more than anything in the world."
.
.
.
Satu hal yang tidak Ino mengerti, kenapa Sai membencinya? Kenapa Sai mengatakan bahwa Ino pantas dibenci? Apa yang sudah Ino perbuat?
Ino memejamkan matanya dan mendesah. Kalau dipikir-pikir lagi, Sai kasar pada semua perempuan. Dan ibunya berkata bahwa Ino adalah teman pertama Sai. Ino rasa, Sai tidak membencinya, melainkan membenci semua perempuan. Lantas, apa yang membuat Sai membenci sosok perempuan selain ibunya?
Kenyataannya sedalam apa pun perasaan Ino pada Sai, Ino tidak mengenali sosok Sai dan tidak memahaminya. Sulit baginya untuk memahami Sai dalam keadaan seperti ini. Untuk sementara ini, Ino cukup memperhatikan Sai saja.
Ino melirik arloji di tangan kirinya dan mengintip waspada sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang diterangi cahaya lampu yang menyala remang-remang. Kakinya sedikit dijinjitkan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Dan ia sengaja memilih flatshoes dengan alas berbahan karet sebagai alas kakinya malam ini agar tidak menimbulkan banyak suara saat melangkah.
Dangan perlahan ia menarik kursi beroda yang tersedia di sana lalu mendudukinya dan mendekatkannya pada ranjang.
Saat ini waktu menunjukan pukul 11.00 PM, peduli amat dengan jam besuk. Lagi pula keberadaan Ino di sini bukan untuk menjenguk, tetapi Ino adalah perwakilan keluarga yang berperan menjaga Sai di rumah sakit. Hanya saja, ia harus melakukannya diam-diam dari Sai sehingga ia sengaja datang malam hari.
Ini sudah kelima kalinya Ino mengunjungi Sai di malam hari atau dini hari, ia merasa sangat beruntung karena Sai belum pernah terganggu dan bangun.
Ino hanya mengamati Sai, memandanginya dalam diam tanpa merasa bosan. Ino tidak berani menyentuhnya kendati ia ingin, lelaki itu terlihat rapuh. Dan jika sampai Sai bangun, urusannya akan repot.
Tetapi, tangan Ino tiba-tiba terangkat, seketika ia melupakan segalanya. Jari-jemarinya yang lentik menyisir rambut hitam Sai dengan lembut. Senyuman Ino merekah. Seluruh pikiran yang menggelayutinya melayang pergi dan kini ia hanya mampu merasakan perasannya yang paling kuat: kasih sayang. Atmosfer yang kelam seketika berwarna. Ino memejamkan kedua matanya seraya mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu perlahan—dengan menutup segala kenyataan—bibir mereka bertemu.
Ino begitu kalut dalam cinta.
Saat kembali sadar, netra Ino melebar, ia cepat-cepat mengangkat wajahnya dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Oh God, what have I done?!" Ino mendesah lalu beranjak dari posisi duduknya sambil menggigit bibir dan wajah berkeringat serta suara jantung yang mampu mencapai gendang telinganya. Ino sangat takut, Sai pasti akan membunuhnya!
Genggaman tangan dari Sai mencegahnya melanjutkan langkahnya, disusul suara Sai yang lirih dan parau yang tiba-tiba terdengar membuat Ino tersentak, "Don't leave me."
Astaga, astaga, astaga! Sai bangun! Apa yang harus ia lakukan?
Tunggu dulu, tapi kenapa Sai mencegah Ino pergi? Ketika Ino menoleh untuk memastikan, ia mendapati Sai masih berbaring dengan mata tertutup. Ino mendesah lega, Sai hanya mengigau.
Ino menunduk memandangi tangannya yang dipegang Sai. Wajah Ino mendadak menghangat kala ia menyadari bahwa ini pertama kalinya Sai menyentuhnya selembut ini. Tidak mungkin ia melepaskannya, tidak mungkin ia menyia-nyiakannya, jadi Ino kembali duduk lalu menggengam tangan Sai yang menggengam tangannya.
Jari-jari Sai yang ramping dan pucat ini begitu erat mengggengam tangan Ino. Dan rasanya sangat dingin, tapi entah kenapa Ino merasakan kehangatan di sela-selanya.
Mata Ino bergerak perlahan menyusuri setiap inci tubuh Sai, salah satu tangannya diinfus, di hidungnya dipasang alat bantu pernapasan, dadanya bergerak perlahan dan teratur, matanya terpejam dengan tenang dan wajahnya pucat.
Melihat keadaannya membuat dada Ino perih. Ingin sekali rasanya ia menarik Sai dari sana dan pergi, mengajaknya berlari di padang rumput.
"Please, izinkan aku menjagamu," bisik Ino.
Genggaman tangan Sai membuat Ino lupa segalanya, termasuk hal yang sangat penting bahwa ia seharusnya melepaskan genggaman ini dan meninggalkan ruangan ini, ia harus pergi sebelum fajar. Jarum jam yang pendek bergerak melewati tiga angka, dan setelahnya Ino mulai terlelap.
.
.
.
To Be Continued
Next Chapter
A Promise
.
.
.
Author's note:
Malu banget sama chapter ini soalnya lebay banget. Dan maafkan aku yang bikin tokohnya terlalu OOC. :'D
18へのおたんじょうびおめでとうございます、2016年11月20日。
