Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.
- Alternate Universe setting out of character.
- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.
- Didedikasikan untuk event Flore 2016.
A Story of Fond Memories
.
.
.
Chapter Six
A Promise
.
.
.
Mata yang selama lima jam tertutup, akhirnya membuka perlahan. Iris mata biru yang tampak seperti lautan yang menawan menunjukan jati dirinya. Saat titik fokus ditemukan, pemiliknya bangkit.
Ketika Ino sepenuhnya sadar, ia tidak bisa menutupi terkejutannya. Betapa bodohnya ia! Kenapa ia tidur di sini?!
Akan tetapi, bukan itu yang mengusik pikiran Ino. Sai berbaring membelakanginya dan terdengar suara batuk berkali-kali.
Ino menyentuh bahu Sai—tidak peduli bahwa ia berada di sini dalam keadaan sembunyi-sembunyi karena saat ini keadaannya darurat—dan mencondongkan tubuhnya untuk melihat ekspresinya. Kedua tangannya memegangi dadanya dan napasnya tersengal-sengal, wajahnya tampak kesakitan.
"Sai, astaga!"
Ino menekan tombol untuk memanggil perawat. Sementara perawat datang, Ino mengusap punggung Sai dan berkata, "Tenang Sai."
Mata Sai bergerak menatap Ino, bukti bahwa ia masih bisa merespon.
"Pelan-pelan saja, tarik napas lewat hidung, lalu keluarkan lewat mulut."
Sai mengikuti instruksi dari Ino.
"Ulangi lagi, perlahan."
Sai memejamkan mata untuk menenangkan diri dan kembali mengatur napas seperti perintah Ino. Kemudian tubuhnya lemas dan ia bisa kembali bernapas walaupun masih tersisa sedikit sesak.
Tak lama, perawat mendesak masuk dan Ino dimohon keluar ruangan.
.
.
.
Dengan tangan bergetar, Ino mendorong gagang pintu yang dingin saat ia sentuh dan didapatinya Sai tengah duduk bersandar di kasurnya dan menatap tajam padanya. Ino tidak peduli, ia tetap melangkah masuk dengan tegak. Sekarang, ia tak punya kesempatan lagi untuk mengunjunginya diam-diam, semuanya sudah terlanjur.
"Apa maksudmu datang kemari lagi?!" suaranya keras.
Bibir Ino bergetar. "Aku hanya—"
"Apa yang harus kukatakan agar kau mengerti?! Apa kau ingin membunuhku?! Melihatmu di sini membuatku sakit!"
Ino menunduk, pura-pura tidak mendengar kata-kata Sai dan tak peduli tentang apa pendapat Sai mengenai kalimat ini, yang penting ia menyampaikan kebenaran, "Selama ini… aku selalu mencintaimu, memperhatikanmu dari kejauhan." Ino menatap langsung ke mata Sai.
Untuk pertama kalinya, Sai diam dan mendengarkan, tidak menyela ucapan Ino. Dan Ino tidak bisa menghentikan pembicaraan ini di sini. Hatinya sudah terlanjur bicara dan apa pun konsekuensinya nanti, ia harus terima. Karena setidaknya, saat ini Sai bisa tahu apa yang selama ini Ino rasakan di balik senyumannya.
"Karena kau jauh, aku melewatkan banyak hal yang penting." Tak terasa, air mata Ino mengalir. "Maka dari itu… aku tak ingin jauh darimu lagi, aku tak ingin melewatkan apa pun lagi."
Saat ini Ino tak menemukan sedikit pun perubahan ekspresi Sai yang berarti, namun Ino terus bicara meski suaranya bergetar, "Dan karena aku mencintaimu, aku yakin kehadiranku akan berguna bagimu."
Ino berusaha mengendalikan tubuhnya yang gemetaran dan menyeka tangisannya. "Jadi, kumohon izinkan aku untuk selalu berada di sampingmu mulai sekarang!" Ino terisak dan ia tidak peduli. "Aku tidak peduli jika kau membenciku sekarang, tapi aku akan membuatmu setidaknya menyukai kehadiranku!"
Sai diam saja, ia hanya memandangi tangan kurusnya yang diinfus. Ia tampak tidak peduli tentang hal yang panjang lebar disampaikan oleh Ino, tapi itu justru membuat Ino tersenyum senang. Ketidakacuhan Sai setidaknya jauh lebih baik dibandingkan penolakan kasar.
Terdengar suara pintu diketuk, lalu datanglah suster sambil membawakan seporsi sarapan. Hal itu membuat atmosfer yang tegang seketika mencerah. Ino beruntung Tuhan memberinya kesempatan untuk mencairkan suasana dan mengalihkan pembicaraan.
"Wah, waktunya sarapan," ucap Ino dengan ceria seraya meraih sarapan itu setelah suster berlalu, ia berusaha bersikap riang dan berpura-pura melupakan kesedihannya barusan. "Ayo buka mulutmu," Ino melanjutkan sambil menyodorkan sesendok oat.
Sai membuang wajah. "Aku bisa sendiri!" Ia merebut mangkuk dan sendok dari tangan Ino, kemudian mencoba mengangarahkan sendok itu ke mulutnya, tapi nampaknya ia tidak bisa mengangkat tangannya lebih jauh dan hanya ekspresi sakit yang ia tampilkan saat ini—sakit pada tulang, bisa pada bahu, tangan, atau lengan adalah salah satu gejala hypertrophic cardiomyopathy.
"Tidak usah memaksakan diri," kata Ino, lembut. Ia kemudian meraih mangkuk dan sendok itu dari tangan Sai dan memintanya membuka mulut untuk kedua kalinya.
Kali ini Sai pasrah, ia membiarkan Ino memasukan makanan ke mulutnya. Wajah Sai yang pucat pun memerah. "Kalau bukan karena kondisi tanganku, aku tidak akan pernah mau disuapi olehmu!" katanya setelah selesai mengunyah suapan pertama.
Ino tertawa. "Sudahlah! Jangan banyak bicara saat makan!" Ino menyumpal mulut Sai dengan makanan sebalum lelaki itu sempat bicara lagi.
Sekejap, Ino memejamkan matanya penuh syukur. Ya Tuhan, kali ini Sai mau mendengarkannya, bicara padanya, dan menerima bantuannya. Ia harap, Sai tak lagi membencinya suatu saat. Ino berjanji akan menjaga Sai.
.
.
.
Sai mendengus. Setelah menatap wajah Ino untuk beberapa saat, ia memalingkan wajahnya menuju jendela dengan gorden terbuka. "Kupikir setelah kemarin kau pulang, kau tak akan kembali lagi."
Dengusan Sai dibalas tawa oleh Ino. "Tentu saja aku akan kembali! Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini? Kau pasti kesepian."
"Dan kehadiranmu itu membuatku muntah, lalu aku sama sekali tidak kesepian!" Wajah Sai masih belum mau mengarah kepada Ino.
Ino kembali tetawa. "Bercandamu lucu Sai."
Sai mengelak. "Aku tidak bercanda!" Ia melotot menuju Ino.
Ino menumpahkan sebagian isi kantung yang tadi dibawanya. "Lihat! Aku membawa beberapa novel!"
Sai mendengus pendek, mungkin kesal karena kata-katanya tidak didengarkan.
"Yah, aku tidak tahu novel apa yang kau sukai. Jadi, aku membawa sebagian kecil novel yang ada di rumahku. Tapi jika kau sudah selesai membaca semua ini, aku berjanji akan membawakannya lagi."
Kali ini Ino sudah mengerti bagaimana cara menghadapi amarah Sai, ia hanya tidak perlu ditanggapi serius dan ia akan kehabisan kata-kata untuk melanjutkan marahnya.
Ino menunjukan novel yang cukup tebal. "A Tale of Two Cities ini salah satu favoritku!" Lalu menunjukan novel lain yang ia ambil dari kantung kainnya. "Dan ini Sense and Sensibility! Astaga, novel ini menarik sekali! Emosinya benar-benar mengalir! Dan aku sungguh-sungguh menyukai gaya Austen yang memberikan dua opsi ending!" Ino merogoh kantungnya lebih dalam, kemudian menunjukan novel yang lain lagi. "Lalu ini, The Convenient Marriage adalah novel—"
"Astaga! Bisakah kau berhenti bicara?! Kau ini berisik sekali! Dan apa kau gila?! Aku tidak mungkin menghabiskan semua novel-novel itu!"
Tawa Ino kembali mengisi ruangan dingin di sana. "Kau kuizinkan bicara seperti itu jika kau sudah membaca minimal satu bab dari semua novel ini!"
Sai mencibir. "Aku tidak suka membaca novel-novel dari zaman purba seperti itu!"
Wajah Ino memerah kesal. "Berani-beraninya kau menghina karya sastra klasik!"
Sai mengangkat bahu dengan santainya, terlihat sangat menjengkelkan. "Aku hanya mengatakan kenyataan."
"Kau pikir Les Misérables yang kau mainkan di SMA itu berasal karya sastra modern?!"
Sai tersenyum miring. "Setidaknya Les Misérables memiliki bumbu aksi yang tidak membosankan, bahkan menegangkan! Tidak seperti novel termehek-mehek yang kau sodorkan itu!"
Ino semakin sebal. "Kau tidak berhak bicara begitu karena kau belum membacatt—" lidah Ino tergigit, "ouch!"
Sebuah suara tawa keras tiba-tiba menyambar telinga Ino dan membuatnya bingung. Sat tertawa! Astaga, Sai sungguh-sungguh tertawa! Tawa lelaki itu membuat perasaan senang yang Ino rindukan terbit di hatinya, dan membuat Ino mengingat Sai enam tahun yang lalu, Sai yang menyelamatkan nyawanya, Sai yang menyenangkan. Ino tak menyangka ia bisa melihat Sai yang ia rindukan lagi sekarang. Tiba-tiba mulut Ino beku.
"Astaga! Aku sudah tidak kuat menahan tawaku lagi!" Sai memegangi perutnya dan ia masih tertawa.
Dahi Ino terangkat heran dan bicara seperti biasa seolah tidak ada keajaiban terjadi. "Tidak ada yang lucu di sini!"
"Kau seharusnya melihat ekspresimu saat lidahmu tergigit tadi!" Sai kembali tertawa. "Mungkin itu karena kau kualat sudah memarahiku."
Ino bersedekap dan berpura-pura kesal. "Memangnya siapa di sini yang lebih sering marah-marah, hah?! Intinya, kau harus baca novel ini! Bila tidak membaca semuanya, paling tidak kau baca satu! Kau tahu bahuku hampir pendek sebelah karena membawa novel-novel ini?! Kau harus menghargainya!"
"Hei! Memangnya aku memintamu membawa itu semua?!"
Ino melotot dan menggunakan tatapan paling membunuh yang ia miliki.
Sai mendengus. "Fine! Tapi berhentilah bicara!"
Ino tersenyum. Ia membawakan novel-novel ini bukan tanpa alasan. Ia hanya membayangkan jika ia mendapat posisi seperti Sai, duduk di atas kasur sepanjang hari pasti sudah membuat Ino mati karena bosan.
Sai mengambil buku yang Ino sodorkan secara acak dan kemudian membukanya. Tidak seperti yang Ino duga bahwa Sai akan membacanya dengan separuh-separuh dengan melewat sepuluh halaman sekaligus. Tapi ternyata tidak, Sai membaca semuanya dari awal.
Ino sangat memerhatikan lelaki itu. Ia memperbaiki posisi duduk sebelum mulai membaca, lalu saat membaca, mata Sai bergerak sangat cepat. Ia sepertinya sudah sangat terbiasa membaca buku. Dan ekspresinya saat membaca… ya Tuhan… melihatnya membuat Ino merasa seperti berada di Hawai di tengah musim panas bukannya di London di musim dingin.
Ekspresi Sai selalu mengikuti suasana yang dituangkan novelis ke dalam tulisan mereka, dan Sai tampak sangat menikmatinya. Ino mengangkat senyumannya. Dilihat dari cara Sai membaca sekarang, tampaknya ia adalah seorang penikmat novel dan Ino tidak perlu merasa bersalah karena memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tidak disukainya.
.
.
.
Ino membuka pintu, melangkah memasuki ruangan dan membuang napas ke udara dengan tenang. Ia merasa tidak perlu bersembunyi-sembunyi lagi untuk datang ke sana dan ia tidak takut bila Sai akan mengusirnya karena Ino sudah mendapat kunci untuk menanganinya.
"Sai, kau sudah selesai membacanya?" tanya Ino saat duduk di kursi sebelah ranjang dan meletakkan tasnya di meja nakas saat melihat novel yang Ino pinjamkan tertutup dengan rapi di atas pangkuan Sai.
Alih-alih menjawab, Sai bertanya dengan malas sementara ia memindahkan channel televisi dengan remote yang dipegangnya, ia tampak sangat bosan dengan acara yang ada di televisi, "Haruskah kau datang ke mari setiap hari?"
Ino berkata dengan percaya diri meski Sai tidak menjawab pertanyaan darinya, "Sudah kubilang untuk tidak menilai buku sebelum membacanya. Kau pasti sangat menyukainya sampai menghabiskannya dalam waktu satu hari." Ino yakin sekali buku itu sudah Sai lahap habis.
Sai masih menolak untuk menatap Ino, ia menggemertakkan rahangnya sebelum menjawab, "Aku mau membacanya karena…"
Alis Ino terangkat sebelah. "Karena?"
Sai mendesah gusar. "Karena bila tidak kulakukan, kau akan merengek berisik sekali."
"Ayolah Sai, berhentilah membenciku, oke? Apa kau tidak merasa lelah setelah berdebat denganku seharian?"
Sai tidak bergeming. Namun Karena sinar matahari senja yang menyirami wajah Sai, Ino bisa dengan jelas mendapatkan jawaban dari lelaki itu meski hanya melihat ekspresinya. Dan jawaban yang Ino dapat adalah: Sai masih tidak berniat untuk mengubah sudut pandangnya mengenai Ino.
Akan tetapi Ino merasa hari ini Sai tampak berbeda. Biasanya Sai akan memarahinya dan mengusirnya dengan keras, tapi saat ini ia tampak pasif. Namun justru hal ini membuat Ino merasa cemas. Tubuhnya semakin kurus dan wajahnya bertambah pucat, lalu alat bantu pernapasan tidak bisa terlepas dari hidungnya.
Ino mengamati meja nakas di samping ranjang Sai. Makanan di sana benar-benar utuh belum tersentuh membuat Ino semakin cemas.
"Sai, kau harus makan." Ino meraih makanan itu dan membuka plastiknya. Melihat makanan ini membuat Ino sedih. Seperti apakah rasa sakit yang Sai rasakan selama Ino pergi sampai ia tidak bisa menyentuh makanannya?
"Aku tidak lapar."
"Sai, kau baik-baik saja?" Jantung Ino berdegup menunggu jawaban dari Sai, dan lebih tepatnya Ino menanyakan keadaan hati Sai.
Lelaki berwajah pucat di seberang mata Ino itu hanya diam. Matanya tampak sayu dan ia kelihatan sangat lelah, lelah pikiran.
"Aku akan panggilkan dokter." Ino bangkit dari duduknya dan mengambil inisiatif.
Ino merasa tangannya ditahan oleh tangan Sai. Hal ini sungguh mengejutkan. Ino ingat saat pertama kali Sai menyentuh tangannya dengan lembut adalah ketika lelaki itu sedang mengigau di tengah malam, tetapi saat ini Ino dapat memastikan bahwa Sai sepenuhnya menyadari apa yang sedang ia lakukan.
"Aku baik-baik saja," suara serak menyusul genggaman tangan itu yang sama-sama membuat Ino tercekat. Ino menoleh dan mendapati Sai menatapnya dengan pandangan yang tidak biasa. Bila biasanya Sai menatapanya dengan penuh kebencian, kali ini ia tampak ketakutan.
Sai yang semula duduk tegap di atas kasur, kini ia menyandarkan punggungnya ke bantal. "Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini, Ino."
Ino meneguk ludah saat mendengar Sai menyebut namanya untuk pertama kali. "Memangnya kenapa bila aku datang?" Ino kembali duduk di kursi bundar yang semula ia duduki.
Sai membuang muka, wajahnya ia hadapkan menuju jendela yang mengarah ke taman rumah sakit yang dibanjiri sinar surya senja.
Tangan Sai yang kurus dengan lembut Ino genggam dengan kedua tangannya. "Sai, ceritakan padaku."
"Jangan membuat semuanya lebih sulit, Ino!"
Ino bisa merasakan ada kesedihan di balik bentakan itu. Namun semuanya tiba-tiba terlupakan saat Ino melihat mata Sai berkaca-kaca sebelum akhirnya air matanya turun dan terjatuh perlahan. Ino menyeka tangisan Sai dan mengigit bibir, mendadak ia tidak bisa mengontrol dirinya dan ia ikut menangis.
Tangisan Ino terdengar lebih keras dibandingkan dengan Sai. Ino tidak mengerti, ia tidak tahu apa alasan ia menangis tetapi ia sangat sedih dan rasanya paru-parunya menderita karena kekurangan asupan oksigen.
"Jangan menangis." Suara Sai terdengar sangat lembut, tetapi perintah Sai yang lembut itu justru tidak Ino patuhi.
Ino tiba-tiba memeluk Sai dan menangis di dada lelaki itu. "Sai…" suara Ino bergetar. "Menangislah, Sai! Aku tahu selama ini kau tidak menangis, jadi menangislah! Aku berjanji tidak akan melepaskan pelukanku sebelum kau berhenti menangis."
Saat itulah Ino merasakan Sai membalas pelukannya dan lelaki itu menangis di bahunya. Suara tangisan lelaki itu tidak keras dan isakannya hanya terdengar samar. Tetapi… kesedihan yang selama ini Sai tanggung, Ino bisa merasakan bahwa semuanya terlepas dari bahu Sai meski hanya dengan menangis pelan sesaat.
Sai melepaskan pelukannya dan tersenyum.
Ino sempat menyesali dirinya karena terpesona di saat yang tidak tepat seperti sekarang. Tapi ya Tuhan, meski Sai pucat karena sedang sakit, ia tetap tampak seperti pangeran yang menyelinap dari dunia dongeng. Senyuman Sai begitu menawan.
"Terima kasih." Suara Sai terdengar hangat menyapa telinga Ino.
Ino membalas senyuman Sai. "Sama-sama."
Setelah beberapa saat membiarkan keheningan mengisi sore itu, Ino baru teringat bahwa Sai belum makan sama sekali dan berusaha melupakan kejadian belasan menit lalu serta mencairkan suasana.
"Sai, ini sudah lewat dari jam makan siang. Kau tidak mau melukai lambungmu, 'kan?"
Sai menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berselera."
Ino menyendok makanan itu dan mengangkatnya. "Hanya sedikit saja." Wajah Ino memelas.
"Rasanya tidak enak."
"Kau tetap harus mengisi perutmu agar cepat sembuh."
"Aku tidak bisa sembuh."
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!" Ino hampir kesulitan menahan emosinya saat mendengar alasan dari Sai. Apa sih maksudnya dengan 'tidak bisa sembuh', lelaki itu menyebalkan sekali! Ino memutuskan langsung menyuapi Sai dengan keputusan secara sepihak.
"Tidak enak," keluhnya walaupun ia tetap mengunyah.
"Bersabarlah, makanan itu baik untukmu."
Setelah suapan yang kelima, Sai membekap mulutnya mengisyaratkan bahwa ia mau muntah. Sementara Ino dengan cekatan berlari ke kamar mandi dan mengambil baskom dari sana. Setelah Sai menerima baskomnya, ia memuntahkan makanannya dan batuk-batuk sementara Ino mengusap dan menepuk tengkuk Sai dengan lembut.
Ino mengambil segelas air hangat dan menyodorkannya pada Sai dan Sai meneguknya dengan tenang. Ino membantu Sai berbaring lalu mencuci baskom itu.
Sekembalinya Ino dari kamar mandi, dilihatnya Sai sedang berbaring lemah lalu Ino melangkah perlahan dan duduk di dekat Sai.
"Maaf merepotkanmu."
Ino menggenggam tangan Sai dan tak ada kata yang bisa diucapkannya sekarang sehingga Ino hanya diam.
"Ino, kau pulanglah sebelum aku semakin merepotkanmu."
Ino mengangkat senyumannya walaupun sulit demi membangun semangat Sai. "Aku akan pulang jika keadaanmu sudah membaik."
Hati Ino perih memandang Sai. Lelaki itu terpejam sekarang.
Hypertrophic Chadiomiopathy adalah penyakit genetik yang langka dan belum ditemukan obat untuk menyebuhkannya. Setahu Ino, sejauh ini baru ditemukan obat untuk menawar rasa sakit dan membantu kerja jantung. Itulah yang dikatakan dokter pada Ino. Tapi apapun yang dokter utarakan, Ino selalu percaya bahwa Tuhan akan memberikan mukjizatnya pada Sai, Ino yakini itu.
Dan mari garis bawahi kata 'genetik'.
Ino menangis.
Genetik artinya Sai menderita penyakit ini bukan karena kesalahan gaya hidup atau apapun, tetapi karena ia mengalami cacat lahir. Artinya ia mengidap penyakit ini sejak lahir, dan artinya ia sudah merasa sakit sejak ia lahir. Kemudian artinya Sai mengorbankan nyawanya sendiri saat menyelamatkan nyawa Ino beberapa tahun silam.
Ya, kata Hypertrophic Cardiomiopathy selalu membawa Ino pada kenangan itu. Sehingga kini, Ino menemani Sai tidak hanya karena mencintainya, tetapi juga karena membalas budi yang tidak pernah bisa ia lunasi dengan apapun.
Ino menggenggam tangan Sai dengan kedua tangannya begitu erat. Sedangkan ia menghabiskan waktunya untuk memandangi Sai dalam tangis.
.
.
.
"Ino, sudah kubilang untuk tidak perlu datang ke mari setiap hari. Kau memangnya tidak kuliah?" tanya Sai begitu Ino datang di pagi hari.
"Tenang saja, Sai. Aku sedang libur kuliah dan tugas-tugas sudah kuselesaikan. Bagaimana keadaanmu?"
Sai batuk lalu menjawab dengan lemah, "Seperti biasa."
"Kau sudah makan sarapanmu?"
"Mereka tidak mau masuk ke tubuhku."
Ino menyodorkan sekotak makanan. "Aku membuatkan ini untukmu, kuharap ini tidak membuatmu mual."
Sai menerimanya lalu membuka kotak itu, isinya setumpuk sandwitch.
"Sini biar aku suapkan."
"Maaf merepotkan."
Ino dengan senang hati menyuapi Sai. Sesungguhnya Ino merasa heran dengan sikap Sai yang berubah seratus delapan puluh derajat. Sekarang ia begitu lembut, sopan, dan ramah. Sosok Sai yang sangat ia rindukan, sosok Sai yang menyelamatkannya dari kecelakaan maut. Sai-nya sudah kembali.
"Enak tidak?" Ino bertanya dalam keraguan.
Senyuman Sai terangkat di bibirnya. "Enak kok."
Ino bersyukur.
"Makanan apa yang kau suka, Ino?" ujar Sai di sela sarapannya.
"Fish and chips, kalau kau?"
"Sandwich."
Ino tertawa. "Jangan bercanda."
"Aku serius." Sai masih tersenyum sambil mengunyah sandwich dari Ino.
Setelah sampai pada suapan terakhir, Ino sangat bersyukur karena Sai menghabiskan makananya tanpa keluhan. Meski hanya makanan ringan, Ino senang karena perut Sai sudah terisi.
Ino mengeluarkan handphone dari tasnya. "Sai, ayo kita selfie."
"Kau tidak lihat penampilanku?" Sai memandangi pakaian yang dikenakannya, tangannya yang diinfus, dan menyentuh selang yang terpasang di hidungnya. "Aku tidak mau."
Ino mulai merajuk. "Ayolah Sai, sekali saja."
"Tidak mau."
"Kau tampan, Sai!"
"Tidak, aku jelek."
Ino mengangkat kameranya dan tersenyum ke arah kamera di atas layar. "Mau tidak mau kau harus tersenyum ke kamera, Sai."
Sai terkekeh. "Beginilah caramu memaksaku." Sai melepaskan selang yang terpasang di hidungnya. Dan akhirnya ia tersenyum menuju kamera dan setelah sekali Ino menyentuh layar, hasilnya segera mereka lihat.
"Penampilanmu sama sekali tidak buruk," ucap Ino seraya menunjukkan foto mereka barusan.
Sebelum Sai menjawab, ia membekap mulutnya dengan satu tangan dan membungkuk kemudian batuk sementara tangannya yang lain menekan dadanya.
Ino seketika panik. "Sai! Biar kupanggilkan dokter!"
Suara batuk Sai mengisi ruangan di sana. "Tidak perlu, aku hanya kelelahan," jawab Sai setelah mengatur napas dan berbaring.
"Kau yakin tidak apa-apa?" Ino membantu Sai memasang alat bantu pernapasannya.
Sai tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Kau jangan membuatku takut."
"Takut aku mati?" Sai tertawa.
"Sai! Itu tidak lucu!" Ino mengerutkan dagunya dan melipat dahinya.
"Itu pasti akan terjadi." Lelaki itu tersenyum namun pandangannya tidak mengarah pada Ino. "Karena itu, sudah kubilang kau jangan datang menemaniku."
Kali ini Ino benar-benar marah. Penuturan lelaki itu sungguh tidak bisa diterima. "Kau! Apa maksudmu mengatakan itu?!"
Ekspresi Sai terkejut, tetapi ia tetap diam membiarkan Ino berkata lebih lanjut.
"Apa kau tidak mengerti?! Kau pikir kenapa aku datang ke sini setiap hari?!"
Sai masih diam dan masih bertahan di tempat seraya menatap Ino dengan lekat.
Ino menangis, dan tetap berkata dengan suara keras, "Aku mencintaimu! Aku masih mencintaimu!" Ino menggigit bibirnya yang gemetaran. "Perasaanku tidak pernah berubah sejak hari di mana kau menyelamatkanku di jalan raya!" Tangan di kedua sisi tubuhnya mengepal kuat. "Perasaanku tidak pernah berubah sejak saat itu, kau tahu itu! Dan kau pikir aku mempermasalahkan penyakitmu?!"
Gadis berkuncir ekor kuda itu tak sanggup lagi memandang Sai yang tengah memandangnya. Ino lari. Ia harus mengontrol emosinya dengan berhenti menemui Sai untuk sementara waktu sebelum kembali lagi ke sana dalam beberapa jam ke depan. Ino pasti sudah mendapat dosa yang besar dengan memarahi seorang pasien di rumah sakit.
Ino berlari menuju taman rumah sakit dan membiarkan dirinya dihujani kepingan bunga es yang indah dan beku serta membiarkan air matanya kering oleh angin dingin yang berembus menyapu wajahnya. Padahal kemarin matahari menampakkan sinarnya, tapi kini cuaca kembali beku. Sepertinya cuaca sangat memahami perasaan Ino.
Di sana Ino duduk sendirian dan menunduk, merenungkan kalimat yang tepat untuk meminta maaf pada Sai nanti.
Ino mendesah dan mendapati uap putih melayang dari mulutnya. Ia menyesal karena kurang mampu mengontrol emosinya barusan dan malah mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan.
Ino bertanya-tanya, seperti apakah perasaan Sai setelah mendengar perkataan Ino tadi? Desahan napas Ino bisa ia dengar sendiri. Sai pasti akan berpikir Ino adalah gadis paling aneh sedunia dan gadis paling memalukan sedunia.
Ino membungkuk dan menopangkan dahinya ke tangannya dan memejamkan mata. Bagaimana ini? Lagi-lagi Ino mengacaukan semuanya. Padahal sekarang Sai sudah bersikap lebih baik padanya. Jika Ino kembali ke sana, Ino tak yakin Sai mau menerimanya kembali.
Setelah cukup lama membuang waktu di taman itu sendirian, suara langkah yang diseret-seret di atas tumpukan salju membuat seketika tubuh Ino menegak dan wajahnya terangkat serta matanya membulat.
Sai dengan postur tubuh yang bungkuk berjalan menghampirinya sambil tersenyum.
Dada Ino mendadak panas. Ia segera berdiri dan berlari menghampiri Sai. "Apa yang kau lakukan di sini?! Ayo biarkan aku mengantarmu kembali ke kamar!" Ino menahan punggung Sai yang hampir ambruk dengan lengannya.
Ino menerima jawaban dari suara Sai yang serak, "Aku mencarimu ke mana-mana."
Jawaban polos dari Sai membuat Ino merasa semakin berdosa. "Sai, sepertinya kau sudah tidak kuat berjalan, ya?" Ino memapah Sai menuju bangku taman yang sedari tadi Ino duduki. "Aku akan memanggilkan dokter untukmu, kau tunggu di sini ya? Aku akan kembali secepat yang aku bisa," tutur Ino setelah memastikan Sai duduk dengan posisi yang benar.
Lagi-lagi tangan Sai menahan Ino pergi. "Kau akan meninggalkanku setelah aku bersusah payah mencarimu? Kau menyebalkan."
"Astaga, Sai! Ini bukan waktu bagi kita untuk bercanda."
Sai batuk-batuk dengan satu tangan menutup mulutnya sehingga ia tidak bisa menjawab.
Melihat keadaan Sai yang seperti ini, Ino semakin bingung apa yang harus ia lakukan. Udara di sini sangat dingin dan Sai hanya mengenakan piama pasien yang tipis sementara Ino hanya mengenakan kaus lengan panjang yang juga tipis. Ia tidak bisa memberikan penghangat apapun untuk Sai.
Napas Sai tersengal-sengal dan ia tampak mengigil. Ino tidak punya pilihan lain. Ino kembali duduk dan memeluk Sai.
"Bolehkah aku memintamu untuk bersamaku di sini sebentar lagi?" Suara Sai yang kecil dan serak terdengar telinga Ino sementara ia terus memeluk Sai dan mengusap punggungnya.
Suara Sai yang terdengar memohon membuat Ino tak tega meninggalkan Sai walaupun demi mencari dokter. "Iya, tapi sebentar saja, ya?"
Ino bisa merasakan anggukan Sai di bahunya kemudian Sai melepakan pelukan dari Ino dan menyandarkan punggungnya ke punggung bangku. Lelaki itu kemudian menyandarkan kepalanya ke lengan Ino.
Ino tidak bisa melihat wajah Sai dari posisinya sekarang, tetapi ia merasa Sai sedang tersenyum. Dan Ino tiba-tiba berkata di luar kesadarannya sendiri setelah meneguk ludahnya yang pahit dengan susah payah, "Sai… kurasa kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan dariku."
Beberapa waktu berselang sebelum Sai menjawab dengan pelan dan sedikit terbata beserta napas yang tidak teratur, "Suatu saat… jika kau bahagia bersamaku… barulah saat itu aku akan mengungkap rahasiaku padamu."
Bibir Ino bergetar dan pipinya kembali basah. "Berjanjilah!"
Sai tidak merespon perintah Ino sama sekali dan Ino membenci posisinya yang tidak memungkinkan untuk melihat ekspresi Sai. "Berjanjilah!"
Masih tidak ada jawaban.
Suara Ino semakin keras, "Berjanjilah, Sai!"
Barulah saat itu Ino bisa mendengar jawaban Sai meski begitu pelan dan samar, seperti Sai berjarak begitu jauh darinya, "Yes, I promise."
Kemudian Ino tidak mempu menahan tangisannya lebih lama lagi. Ia menangis begitu keras di tengah kesendirian dan masih belum bergerak dari posisinya semula. Perasaan bertubi-tubi dengan kuat menyerangnya sehingga air matanya tidak bisa ia bendung lagi.
.
.
.
To Be Continued
Next Chapter
A Desperation
.
.
.
Author's note:
Tadinya aku gak mau bikin chapter ini bersambung, tapi ternyata jadinya lebih panjang dari yang aku duga. Jadi chapter ini aku pecah jadi dua. Tapi berhubung November sebentar lagi selesai, chapter depan bakal di-update cepet soalnya masih ada dua chapter lagi yang belum di-update. Terima kasih untuk kesabaran kalian! :D
