Main Cast : Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun (girl)

Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort

Rated : T (dapat berubah sewaktu-waktu)

A Town Where You Live

.

.

.

Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.

Mengapa saya tidak merubahnya?

Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.

.

.

Happy Reading ~

.

.

.

Previous Chapter

"Chanyeol-ah.."

"Hm?" Chanyeol berhenti dan memandangi Baekhyun yang kini berjalan mendekatinya dengan wajah tertunduk.

"I-itu.. Telur gulungnya.. Enak.."

"Wah. Kau memakannya?" Tanya Chanyeol tanpa bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

"Hm.." Baekhyun menganggukan kepalanya. "Dan juga.."

"… sampai jumpa besok Chan.." Chanyeol terkejut sesaat, namun segera dia tersenyum penuh sayang.

"Hm.. Sampai jumpa besok, Baek.."

.

.

.

3 orang siswa SHS itu berkumpul disebuah kamar Rumah Sakit Seoul, dengan beragam ekspresi dan kesibukan masing-masing. Diatas nakas sebelah kirinya tempat tidur rumah sakit itu terdapat sebuah parcel buah dengan ssepucuk surat ucapan berwarna merah muda.

Semoga lekas sembuh Wu Kris. Kami merindukanmu.

'Dari teman sekelas'

P.S : kalau kau tidak kembali dalam 3 hari kami akan membakar bangkumu, bung!

Itu adalah bingkisan dari teman sekelas Kris yang dibawa oleh Chanyeol sore itu. Buahnya masih tersusun rapi sementara Kris saat ini tengah lahap menikmati makan siangnya yang dibawakan oleh Chanyeol diatas tempat tidurnya dengan meja lipat Rumah Sakit. Chanyeol sendiri hanya menopang dagunya dengan tangan kanannya sambil memandang jengah kearah Kris, jemari tangan kirinya terus saja mengetuk pelan diatas meja. Sementara itu, Baekhyun yang duduk di sebelah kanan Kris hanya duduk manis menatap kotak makan siang Chanyeol dipangkuannya dalam diam.

"Ini pasti rencanamu kan?" Tanya Chanyeol malas.

"Rencana? Maksudmu apa?" Tanya Kris batal menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Untuk membuat masakan yang mau minta ini, aku membutuhkan waktu 2 hari untuk merendam daging sapinya. Jadi pasti ini rencanamu agar aku datang kesini terus menerus." Tuduh Chanyeol sengit.

Kris menatap Chanyeol polos lalu melanjutkan makannya. "Tidak, kok." Jawabnya enteng.

"Terserah kau saja, hah.." Chanyeol semakin menyenderkan kepalanya menatap Kris yang makan dengan lahap, lalu dia mengalihkan pandangan kearah gadis manis dihadapannya diseberang tempat tidur Kris yang sedari tadi tidak menyentuh makanan yang Chanyeol bawakan. Gadis berperawakan mungil itu bahkan tidak menyentuh sumpitnya.

Sementara itu terlihat seorang gadis berambut pirang yang berjalan dengan langkah lebar, terlihat terburu-buru dan … marah?. Karena ujung lorong yang dituju gadis ini hanya ada kamar Kris, maka dapat dipastikan dia sedang menuju kamar lelaki blasteran itu. Dia menarik nafas mencoba menenangkan hatinya sebelum menyentak kasar pintu kamar inap Kris itu.

DAK

Ketiga orang dikamar itu sangat terkejut dengan sentakan pintu yang cukup keras, terutama Chanyeol yang terlihat paling shock dan bingung. Dia memandang lekat wajah dan seragam gadis itu. Dia sama sekali tidak mengenalnya dan seragamnya juga bukan dari sekolahnya maupun sekolah Baekhyun. Jadi siapa gadis ini yang beraninya menyentak kamar inap orang dengan sangat kasar dengan wajah .. eerr.. garang.

"Kris!" bentaknya yang membuat Kris menatapnya dan berhenti menikmati makan siangnya.

"Eoh? Tao-ah.." gumamnya pelan sambil menatap lekat gadis tinggi yang kini berjalan pelan kearahnya. Sementara ini Baekhyun kembali memperhatikan makan siangnya, terlihat cuek dengan kedatangan gadis berbibir kucing itu.

"Kenapa kau menolak untuk di operasi?!" Tanya gadis itu dengan wajah memerah. "Operasi itu bisa menyelamatkan nyawamu!" tambahnya lagi, namun kini ekspresinya mulai melemah dan sekarang terkesan menahan tangis.

Chanyeol tak bisa lebih terkejut lagi. Dia langsung berdiri dengan wajah blank dan sedikit kacau. "O-op-operasi?" dia meremas ujung tempat tidur Kris "menyelamatkannya?"

.

.

.

Gadis yang bernama Tao itu berdiri diujung tempat tidur sambil meremat penyangganya. Dia menatap Kris sendu. Chanyeol sendiri kini telah berpindah duduk disamping Baekhyun.

"Kenapa kau menolak operasinya, Kris?!" dia bertanya kembali "Kau tahun sendiri operasi itu bisa saja menyelamatkanmu, bodoh!" Kris memandang gadis itu dengan tatapan kaget bercampur khawatir dan rasa bersalah.

"Tao ya.."

"Apa benar yang dikatakannya, Kris?" kali ini Chanyeol tak bisa tinggal diam, dia akhirnya memeberanikan diri untuk bertanya. Kris mengalihkan tatapannya kearah Chanyeol dan tersenyum.

"Yah, memang benar. Tapi kemungkinan berhasilnya sangatlah kecil, Yeol." Dia menjawab enteng dan menaruh kedua tangannya dibelakang kepalanya lalu bersender kekepala ranjang. "Kalau itu gagal, aku tamat."

"Begitu ya.." Chanyeol langsung menunduk sendu.

"Kemungkinan berhasilnya semakin kecil jika kau terus membuang-buang waktu, Kris!" bentak Tao lagi. Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun yang sedari tadi hanya diam sambil menunduk. Kedua tangan mungilnya terkepal erat diatas pahanya sampai buku-buku jarinya memutih.

"Kita bahas ini lain waktu saja Tao ya.."

"Aku hanya ingin menolongmu, Kris! Aku tahu kau bukanlah orang yang mau duduk-duduk santai ditempat tidur seperti ini, Kris!"

KRIET

Baekhyun menggeser tempat duduknya dan berdiri menatap Tao.

"Umm, permisi.." ujar Baekhyun pelan namun berhasil membuat tatapan tajam Tao berubah mengarah kepadanya. "Aku tahu aku tidak berhak untuk ikut campur, tapi.. Tapi menurutku soal operasi itu, itu adalah hal yang harusnya diputuskan sendiri oleh, Kris.." kata-kata pelan Baekhyun itu membuat ruangan itu sepi mendadak. Tao menutup matanya dan menegakkan badannya. Dia berjalan kearah Baekhyun dengan tatapan wajah datar namun sangat menusuk, membuat nyali Baekhyun sedikit menciut.

PLAK!

Sebuah tamparan yang sangat keras mengenai wajah putih Baekhyun. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Tao? Baekhyun membelalakkan matanya terkejut, tak ada bedanya dengan kedua lelaki diruangan itu. Sementara Tao menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Kau! Kau disini hanya demi kepentingan dirimu sendiri, kan?" wajah Tao semakin memerah, namun tatapannya tak setajam tadi, dan terlihat air mata mulai menggenang dikedua sudut mata sipitnya. "Kau selalu, selalu saja, mengacaukan kehidupan Kris! Dia sekarat karena kau!" air mata itu sukses menuruni mataya, membentuk sebuah aliran sungai kecil dipipinya. "Kau pembunuh!"

"Ta-"

"Cukup." ucapan Kris yang hendak menghentikan semuanya terpotong dengan suara pelan nan datar milik Chanyeol. "Aku bilang cukup." Tao menghapus air matanya dan menatap Chanyeol sengit. "operasi memang penting, tapi kita tidak berhak memutuskannya. Baekhyun mungkin merasakan perasaan yang sama.." ucap Chanyeol pelan sembari menatap Baekhyun yang menunduk memegang pipi kanannya yang mulai memerah. "Jadi, kau jangan pernah mengganggap dirimulah yang paling benar!" suara Chanyeol meninggi di kata terakhirnya. Tao sempat terkejut mendengar suara bass Chanyeol, namun tak lama setelahnya kepalan tangan disebelah kanan dan kiri tubuhnya melemah. Tubuh Tao terduduk lemah dilantai bersamaan dengan air mata dan isakan yang keluar dari bibirnya.

"Aku tahu. Tapi aku tak tahan lagi. Aku tak mau dia mati!" ucapnya lirih disela isakannya.

"Tao yaa.." ucap Kris, tangannya mencoba menggapai kepala Tao yang menunduk. Namun belum sampai telapak tangannya mendarat dikepala gadis itu, Tao telah beranjak untuk berdiri. Dia berjalan cepat kearah pintu keluar kamar itu dengan wajah memerah dan air mata yang menggenang dikedua pipinya.

"H-hei hei hei, Tao! Tao ya!" panggil Kris.

"Tunggu! Kubilang tunggu dulu!" panggil Chanyeol keras dan segera mengejar langkah Tao yang sudah berlari keluar kamar inap Kris. Sementara baik Kris maupun Baekhyun hanya terdiam menatap pintu yang sudah tertutup kembali.

.

.

.

Chanyeol terus berlari mengejar Tao. Begitu jarak mereka cukup dekat Chanyeol segera mencekal lengan bawah Tao dengan erat.

"Kubilang tunggu!" sentak Chanyeol. Tao berusaha berontak namun dia tetap tidak bisa melepaskan genggaman tangan Chanyeol itu. Hingga ia memutuskan menyerah dan mengaihkan pandangannya keluar jendela, air matanya tidak pernah berhenti mengalir sejak tadi.

"Kris harus dioperasi, hiks, dia harus bertahan, hiks hiks, meskipun kami sudah berteman sejak kecil, tapi dia tidak pernah mau mendengarkanku. Dia hanya mau mendengar perkataan gadis itu!" Chanyeol menatap nanar Tao yang kini sudah mulai menatap balik Chanyeol. "Apa kau juga berada dipihaknya?! Lepaskan aku!" dan akhirnya dengan sentakan kuat dari Tao, cekalan Chanyeol terlepas. Dia mulai berjalan pelan meningglkan Chanyeol. 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah, 5 langk-

"Kau mencintai Kris, bukan?" Tanya Chanyeol dengan suara langtang yang berhasil menghentikan Tao. Terlihat bahunya yang sedikit menegang, namun terdengar helaan nafas berat darinya.

"Kenapa kau bisa-"

"Aku juga sama.." jawab Chanyeol sambil tersenyum salah tingkah walaupun ia yakin Tao tak bisa melihatnya, karena sampai sekarang gadis itu masih betah membelakanginya.

.

.

.

15 menit berlalu, kini Chanyeol sedang duduk santai dibangku taman atap Rumah Sakit Seoul. Keduanya duduk dengan jarak yang cukup jauh dan saling membelakangi. Tapi, ekspresi diwajah mereka sudah tak menunjukkan kekesalah ataupun kecanggungan lagi.

"Busan ya... Cukup jauh dari Seoul.." gumam Tao tapi masih bisa didengar jelas oleh Chanyeol. Chanyeol memang sudah menceritakan kisahnya yang rela datang ke Seoul untuk Baekhyun.

"Yah, sangat jauh kalau menurutku.."

"Kalau begitu, menurutku dia bodoh karena malah memilih laki-laki lain." Chanyeol hanya diam tak menanggapi perkataan pedas Tao. "Selain itu, demi Kris .. aku terkejut dia sampai seperti itu."

"Hei, meskipun begitu, dia juga orang yang penting bagiku. Aku tak mau Kris mati.." kalimat terakhir yang keluar dari bibir tebal Chanyeol berhasil membuat Tao menatap berbinar kearah Chanyeol. "Tapi, aku tak bisa berbohong padanya. Contohnya, seperti, aku mencintai pacar sahabatku yang akan mati. Aku tak bisa melakukan apa-apa untuk menolong soal hal ini.."

"Hah.. Aku juga sama.." ucap Tao sambil menggoyangkan kakinya yang tergantung bebas tak menyentuh tanah. "Entah dia mau dioperasi atau tidak itu adalah keputusannya, tapi sungguh aku tak sanggup melihat Kris mati. Aku hanya ingin dia melakukan operasi demi keinginanku.."

"Kita sama-sama jahat ya?" potong Chanyeol dengan tersenyum menyedihkan. "Kita jatuh cinta kepada orang yang sudah dimiliki, dan berfikir untuk membuat mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan dari segi pemikiran kita. Kita terlihat benar-benar bodoh." Tao mendongakkan kepalanya dan menutup matanya.

"Yah, kau benar.." hatinya tersayat sangat perih "Benar-benar bodoh.." gumamnya.

.

.

.

Hari sudah semakin sore, setelah berbicara panjang lebar dengan Tao, Chanyeol akhirnya berjalan pelan menuju kamar Kris seorang diri. Sesampainya didepan pintu itu, Chnayeol tak langsung membuka pintu. Dia bertahan disana dengan memegang erat gagang pintu kamar tersebut. Dapat dia dengar dengan jelas suara tertawa sepasang kekasih dari dalam kamar itu yang terdengar sangat lepas. Dia sudah memutar gagang pintunya namun kembali terhenti ketika mendengar pembicaraan yang tengah seru itu.

"Hahahaha! Sungguh?" suara tawa Kris menggelegar diruagan VIP itu.

"Ya! Jadi, dia mengira aku tak memakainya saat itu." Itu suara Baekhyun yang sedang bercerita. Suara bergetar karena menahan tawanya.

"Hahaha, apa?"

"Celana dalam." Ucap Baekhyun agak berbisik. Lalu Kris kembali tertawa sangat kencang diiringi ketawa manis Baekhyun.

"Hahaha, lalu? Apa benar kau memakai celana dalam?" Tanya Kris polos disela tawanya yang kemudian dilanjutkan dengan terdengarnya suara pukulan yang cukup keras.

"Tentu saja aku pakai, bodoh!"

"Iya iya, aku bercandaaa.. Hahaha"

"Sebenarnya, dia khawatir kalau Jongdae bisa saja melihatku."

"Siapa?"

"Ah, teman kecilku itu.. Kim Jongdae yang bemuka lucu.."

Chanyeol terus saja mengintip dua orang yang tengah asik bercerita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"… Lalu, karena takut Jongdae melihatnya, dia langsung mengusir Jongdae menjauh."

"Hahaha, jahat sekali.."

"Iya, kan? Padahal dia salah paham.."

Chanyeol hendak masuk tapi melihat senyum dan tawa Baekhyun yang sangat lepas membuat niatnya lenyap seketika.

"Ah dia akhirnya pasti sangat senang bisa melihat celana dalammu." Dan ..

PLAK PLAK

"Arghh sakit, Baek!"

"Salahmu sendiri berbicara sembarangan." Timpal Baekhyun dengan suara sedikit marah.

Chanyeol menutup rapat pintu itu kembali dan beranjak pergi dari sana tanpa berkata-kata, masih dengan wajah datarnya.

.

.

.

Luhan sedang berdiri didepan meja Chanyeol dengan wajah yang yang antusias setelah mendengar cerita Chanyeol saat mengunjungi Rumah Sakit tempat Kris dirawat kemarin.

"Jadi, operasi bisa menyelamatkannya?"

"Kemungkinan berhasilnya sangat kecil, Lu.."

"Tapi masih ada kemungkinan kecil yang-"

"Itu adalah keputusan final Kris.." Luhan terdiam sementara Chanyeol menatap datar kearah gadis rusa itu. "Kita tidak bisa memaksanya." Tatapan Luhan berubah sendu.

"Itu benar, tapi …" omongan Luhan terhenti ketika pintu kelas kembali terbuka. Senyum Luhan mengembang ketika melihat siapa yang datang. Kelas pun menjadi sangat ricuh.

"Yo!" Chanyeol menatap siswa itu heran sedikit khawatir.

"Kriisss!" Luhan berlari dan menghambur kepelukan lelaki jangkung itu. Kris membalas pelukan Luhan dengan tak kalah erat. Setelah pelukan teletubies itu terlepas, Kris segera menghampiri meja Chanyeol.

"Kau melupakan sesuatu, Park." Ucapnya ceria sambil menyodorkan kotak bekal makan siang Chanyeol kemarin.

"Ah, maaf maaf.."

"Karena aku sudah membawanya, kenapa kau tidak membawakanku sesuatu untuk merayakan keluarnya aku dari Rumah Sakit, Park?" tanyanya dengan cengiranya lebarnya.

.

.

.

Chanyeol meletakkan dua kaleng minuman bersoda ditengah antara dia dan Kris.

"Apa ini saja cukup?"

"Ya, lebih dari cukup. Rasanya enak. Kita sudah lama tak meminum ini." Kekeh Kris.

"Lalu, apa kau tidak apa-apa sudah masuk sekolah hari ini?"

"Aku hanya perlu check up secara rutin. Dan juga dengan begini kau tak akan bisa berjumpa dengan Baekhhyun ketika mengunjungiku di Rumah Sakit. Hahaha. Eh? Ada apa?" tawa Chanyeol terhenti ketika melihat ekspresi lemas Chanyeol.

"Sudah lama aku tak melihatnya tersenyum, dia sangat berbahagia ketika bersamamu. Aku sudah memikirkannya. Mungkin Baekhyun tak tersenyum karena memang murni kesalahanku."

"Tentu saja tidak. Dia tertawa dengan senangnya ketika membicarakan hal tentangmu." Ujar Kris yakin seraya bangkit lalu menatap langit yang kini sedang mendung. "Kurasa dia melakukannya tanpa sadar. Mungkin Baekhyun mau berpacaran denganku hanya karena dia kasihan padaku."

"Jangan berkata begitu!"

"Tapi itu membuatku sedikit frustasi. Aku hanya ingin membuat semuanya jelas." Kris menyampingkan tubuhnya dan menatap Chanyeol penuh percaya diri. "Karena itulah … aku akan me;lakukannya … operasi." Putusnya telak. "Jadi ketika aku sudah sehat, dan memiliki umur yang panjang. Aku ingin melihat siapa yang akan dipilih oleh Baekhyun nantinya. Aku merasa kau adalah orang pertama yang harus mengetahui keputusanku ini." Sejenak Chanyeol terkejut, namun ia segera berdiri dan menatap Chanyeol serius.

"Keadaan ini juga sangat penting untukku.."

"Ha?"

"Aku masih punya kesempatan untuk mengambil Baekhyun kembali jika ini semua sudah selesai. Jadi, lakukan saja operasi itu. Namun sebelum itu, aku tidak akan sedikitpun mendekati Baekhyun."

Hening.

Lalu …

"Hahaha, itu tidak mungkin, Park! Menyerahlah dan pulang kembali ke Busan sana."

"Y-Yak! Siapa yang mau pulang? Dasar bule China-Kanada!" mereka terus berdebat sampai akhirnya mengguyur mereka karena saat ini mereka memang berada diatap sekolah. Mereka tak menyadari sedari tadi, Luhan mendengar semua percakapan mereka berdua. Luhan menunduk membuat poninya menutupi nyaris seluruh wajahnya.

.

.

.

Chanyeol membuka pintu flat kakaknya hendak keluar. Pakaiannya sudah sangat rapi.

"Pagi Chan." Sapa Luhan ramah.

"Eoh? Lu? Kau menungguku sejak tadi?" Tanya Chanyeol sambil menutup pintu flat itu.

"Ya. Aku ingin berangkat bersama. Ayo cepat! Kris sudah menunggu." Ajak Luhan.

"Baiklah." Chanyeol tersenyum menatap Luhan lama lalu mulai berjalan.

.

.

Jalanan kota Seoul menjadi basah, genangan air dimana-mana setelah hujan lebat kemarin. Chanyeol dan Luhan berjalan dengan cukup tenang dan hanya terlibat beberapa percakapan saja.

"Operasi Kris memakan waktu yang cukup lama."

"Hm.." angguk Chanyeol.

"Operasinya memakan waktu yang cukup lama, sekitar 10 jam.." imbuh Luhan berusaha terdengar ceria.

"Yah.. Aku sampai lelah menunggunya." gumam Chanyeol lagi.

"Aku juga.." Luhan berhenti berjalan ketika melihat sebuah payung merah tergeletak ditengah himpitan 2 bangunan. Dia menatap lama paying merah itu lalu memutuskan mengambilnya. Dia bermain-main dengan payung itu disepanjang jalan. Dia melempar payung itu keatas dengan sangat tinggi dan tertawa puas, dia merasa payung itu bisa saja menggapai pelangi diatasnya.

Luhan kembali berhenti untuk kedua kalinya didepan sebuah kucing hitam dipinggir jalan, dia juga juga berhenti untuk ketiga kalinya untuk mengagumi indahnya butiran air hujan yang terperangkap di jarin laba-laba hingga suara Chanyeol membuyarkan kekagumannya.

"Ayo Lu, atau kutinggal!" teriak Chanyeol yang ternyata sudah lumayan jauh didepannya. Luhan berlari kencang lalu mengapit lengan Chanyeol, selanjutnya mereka berjalan dengan kembali tenang.

Sebelum mencapai tempat tujuan mereka, sekali lagi Luhan berhenti dan berjongkok disalah satu celah 2 gedung yang nyaris berdempetan. Di menutup payungnya dan meletakkannya diatas matras yang entah milik siapa. Dia memandang lama matras itu dengan wajah tanpa ekspresi, lebih tepatnya 2 benda yang ada diatas matras itu.

2 buah batang semanggi berdaun 4.

"Lu!" Panggil Chanyeol lagi.

"Iya iya aku datang!" teriak Luhan lalu kembali berlari menyusul Chanyeol.

.

.

.

Park Chanyeol

Chanyeol sudah selesai mencatat namanya dibuku tebal itu. Dia menatap lama buku itu, namanya berada dipaling atas dihalaman baru buku tamu itu. Disamping meja tempat dia menulis terdapat berbagai macam bunga yang sudah dirangkai indah dan berukuran besar terjejer rapi. Tepat disamping kirinya terdapat spanduk hitam yang bertuliskan

'Mendiang Wu Kris'.

Lagu-lagu rohani dan doa umat Buddha teralun tanpa henti disekitar tempat Chanyeol berdiri. Menenangkan namun juga mencekam.

"Park Chanyeol?" sebuah suara lirih yang sangat dia kenal terdengar, membuatnya langsung membalikkan badannya kearah suara itu.

"Hwang Zitao.." guman Chanyeol. Ya, gadis yang memanggilnya adalah Tao. Gadis itu mendekat dengan senyum manis terpatri di wajahnya.

Disinilah Chanyeol dan Tao, dihalaman parker keluarga Wu berdiri berhadap-hadapan.

"Kata Kris dia sangat beruntung bisa mencicipi masakanmu yang dia yakin akan menjadi seorang chef terkenal.."

"Ya.."

"Ah, Chanyeol.. Kris berkata dia ingin menunjukkan sesuatu padamu."

"Untukku?" Tanya Chanyeol. Tao mengangguk samar dan langsung memalingkan wajahnya. Chanyeol dapat melihatnya, melihat cairan bening sebening Kristal yang sudah terbentung disudut mata gadis cantik itu.

"Ya, kau bisa melihatnya di sana, aku meninggalkannya di altar." Suara Tao mulai bergetar. "Kau pasti akan tertawa sangat keras seperti bocah." Kekeh Tao, tapi Chanyeol tentu bisa menangkap adanya getaran sarat dengan kesedihan disuara gadis China itu. Tapi Chanyeol memutuskan untuk tidak mempedulikannya, bukan karena dia sungguhan tak peduli. Dia hanya ingin menghargai orang yang sekarang sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri.

"Ya, baiklah.."

"Kalau begitu, sampai nanti Chan.." Tao berjalan menjauhi Chanyeol dan Chanyeol hanya bisa memandang sendu punggung gadis itu sampai suara Luhan yang memanggilnya membuatnya mengalihkan pandangannya dari Tao.

"Chan! Disana kau rupanya. Aku mencarimu sejak tadi."

"Lu?"

"Kau sudah berapa kali menyalahkan dupa?" Tanya Luhan tiba-tiba.

"Eh?"

"Aku tak pernah melakukannya, kalau salahkan bisa malu. Makanya ajari aku.." jawab Luhan polos. Hal itu sedikit membuat Chanyeol geram. Dia menunduk dalam.

"Kau, kenapa kau bisa-bisanya bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa?"

"Eh?"

"Waktu di Rumah Sakit, bukankah kau yang menangis paling keras? Lalu kenapa kau bisa setenang ini? Aku tak bisa sepertimu.."

"Lalu aku harus bagaimana lagi?" Chanyeol dengan cepat menatap Luhan ketika suara bergetar sahabatnya itu terdengar lagi. Chanyeol terkejut melihat 2 tetes airmata itu terjatuh lagi dari mata rusa milik Luhan. "Kris akan marah jika melihatku seperti ini.." Luhan memaksakan senyumnya ditengah airmata yang yang mulai berlomba membuat aliran sungai dipipinya.

"Maaf …" Chanyeol meminta maaf dengan sangat tulus karena membuat sahabatnya kembali menangis.

"Dia akan senang jika melihatku tertawa.."

"Ya, aku tahu.."

Chanyeol berjalan pelan diantara kerumunan orang yang berdiri rapi didepan altar dengan wajah tertunduk mereka. Dapat ia lihat Tao yang menutup wajahnya dengan telapak tangannya yang basah seolah-olah tangannya yang mengeluarkan air. Dilihatnya pula Baekhyun yang berdiri tegap disamping altar menghadap kedepan sehingga Chanyeol tak dapat melihat wajahnya, Chanyeol tak dapat menerka apa kiranya yang dirasakan oleh gadis itu. Sebelum masuk ruang altar ini Chanyeol juga sempat melihat motor kesayangan Kris yang terparkir dengan rapi, bersih, mengkilat, dan mengagumkan seperti biasanya..

Chanyeol terus berjalan hingga dia sampai tepat didepan altar. Dia menatap foto Kris yang sedang tersenyum dengan baju balapnya. Dadanya sesak, membuatnya tak sanggup menatap wajah sahabatnya itu lagi sehingga dia memutuskan untuk menunduk dan tanpa sengaja melihat helm full-face milik Kris tepat didepannya. Matanya membulat dan saat itu juga dia merasa lututnya lemas. Dia menggigit bibirnya kuat dan meremas lengannya sendiri. Disana, tepat dibagian dahi helm itu terdapat kertas yang tertempel dan bertuliskan :

"Ruang untuk iklan restoran Park Chanyeol. Sudah dipesan!"

Seperti yang dijanjikannya, Kris akan menjadikan restoran masa depan Chanyeol sebagai sponsor utamanya. Namun, hingga akhir hayatnya dia bahkan belum bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang pembalap dan akhirnya hanya bisa membuat tulisan sederhana itu.

Air mata Chanyeol akhirnya tak terbendung lagi. Dan disana, tepat didepan altar peristirahatan terakhir sahabatnya, Chanyeol menangis.

.

.

.Flat Yoora terlihat sangat berantakan, persis sama seperti pertama kali Chanyeol datang ketempat ini. Bedanya kali ini bukan Yoora pelakunya, melainkan Chanyeol sendiri. Dia masih bergelung dikantung tidurnya dengn nyaman hingga getaran ponsel mengusiknya. Tak jauh dari ponselnya terdapat kertas formulir, formulir untuk penetapan karirnya kedepannya.

Chanyeol meraih ponselnya, ternyata ada sebuah pesan suara.

"Chanyeol-ah, ini aku, Baekhyun. Bisa kita bertemu? Aku akan menunggumu sekarang ditaman kota."

Chanyeol menatap lama ponselnya..

'aku harus pergi' batinnya.

.

.

Chanyeol berjalan agak cukup jauh mengingat ia tak tahu posisi Baekhyun berada, dia terus berkeliling taman hingga akhirnya memutuskan pergi ke tempat istrahat tertinggi di taman itu. Dan, Bingo! Baekhyun berdiri disana dengan pandangan kosong mengarah kepemandangan kota Seoul. Chanyeol berjalan dengan langkah yang sengaja dikeraskan dengan maksud agar Baekhyun menyadari kehadirannya, namun gadis itu tidak juga merespon.

"Maaf, apa kau sudah menunggu lama?" sapa Chanyeol yang berhasil membuat Baekhyun tersadar dan langsung menoleh kearah Chanyeol dibelakangnya.

"Eoh? Tak apa-apa, Chan.. Ah ini.." Baekhyun menunjukkan apa yang dibawanya. Tas kertas berisikan helm milik Kris.

"Ini kan-"

"Baiklah, aku hanya ingin menyerahkan ini. Kalau begitu, aku permisi.." ujar Baekhyun pelan sambil berjalan menjauhi Chanyeol tanpa menatap wajahnya.

"Tunggu, Baek." Baekhyun baru akan menuruni tangga sebelum suara berat Chanyeol mencegahnya. "Merasa sedih setiap saat tidak akan membawa manfaat apa-apa.."

"Seandainya aku berusaha lebih keras lagi untuk menentang operasi itu.."

"Itu bukan salahmu, Baek.." potong Chanyeol. Selalu saja begini, Baekhyun selalu saja terlalu memikirkan semua adalah salahnya dan tanggung jawabnya. "Operasi ini adalah pilihannya. Akhirnya dia bisa berpacaran denganmu, dan dia tidak ingin semua itu hanya berlangsung satu atau dua tahun saja. Jadi, dia memilih jalan yang penuh harapan. Oleh karena itu, tersenyumlah Baek, demi dia." Baekhyun membalikkan badannya menghadap Chanyeol yang sedang tersenyum lembut, senyum yang sangat dia rindukan, senyum yang sejak dulu berhasil menghangatkan hatinya. Baekhyun mengangguk lemah.

"Iya, aku akan mencobanya.."

"Pemandangannya sangat indah.."

"Ya, musim semi Seoul memang indah.. Aku menyukainya.. semuanya terselimuti oleh Cherry Blossom. Menakjubkan."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan dimusim semi?" Tanya Chanyeol bersemangat. Dia tak menyadari ekspresi Baekhyun yang kini telah berubah sendu.

"Channie.." Chanyeol tersentak. Panggilan ini..

"Channie, aku tak tahu.."

"Hm?"

"Aku tak tahu apa kita bisa bertemu lagi atau tidak.." ucapan ringan Baekhyun yang diiringi hembusan angin musim semi itu akhirnya sukses membuat Chanyeol terpaku. Hatinya terkejut, bukan, bukan sakit yang dia rasakan. Dia hanya terkejut, sangat terkejut.

.

.

.

(Chanyeol POV)

Aku tak bisa menghianati otang yang tersenyum untukku dan memberiku kekuatan.

Dari semua cahaya kota ini, dialah yang paling indah dan lebih terang dari pada bintang-bintang.

Aku bersumpah.

.

.

.

TBC

.

.

.

Ada yang lagi galau sama kiss scenenya Chanyeol sama tante?

SAYA!

.

.

Big Thanks to :

[Rosasedarpcyyy], [rina byun272]

.

.

.

Sorry for typos.

Mind to review?