Author's notes:
- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.
- Ditulis hanya untuk hiburan.
- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.
- Alternate Universe setting out of character.
- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.
- Didedikasikan untuk event Flore 2016.
A Story of Fond Memories
.
.
.
Chapter Seven
A Desperation
.
.
.
Ino menghabiskan hari itu dengan tangisannya. Ino tidak peduli sebanyak apapun orang mendatanginya dan menyuruhnya untuk bersabar, tetapi Ino tidak mau dengar.
Hidupnya kelabu, dan mereka yang menyuruh Ino bersabar adalah mereka yang tidak mengerti apa yang Ino rasakan meski sama-sama ditinggalkan.
Ino bangkit dari duduknya sambil terus menyeka air matanya yang tidak kunjung berhenti mengalir dengan sapu tangan putih.
Ino berjalan lurus ke depan dengan hati-hati dan tubuh yang lemas. Ino tidak bisa mendengar suara apapun selain suara tangisannya sendiri, ia tidak bisa melihat apapun selain kedua kakinya yang terus melangkah ke depan dengan perlahan, dan ia tidak bisa merasakan apapun selain pikirannya yang kalut, hatinya yang hancur, dan tubuhnya yang remuk.
Kedua kaki Ino berhenti bergerak ketika sampai di tempat kekasihnya berbaring. Ia tertidur dengan ekspresi yang datar. Ino tak kuasa memandang wajahnya sehingga tangisannya semakin kuat. Lelaki itu tampak tidak tenang.
Kepergian Sai sudah cukup membuat Ino terpukul dan melihat Sai sekarang membuatnya semakin terpukul. Memang tidak ada yang salah dengan ekspresi Sai, tetapi Ino merasa Sai tidak tenang entah kenapa. Dan itu tidak hanya membuat hati Ino sakit, namun lebih jauh dari itu: mati.
Di tengah ramainya kerabat dan teman Sai dalam suasana duka, Ino terus saja menangis di samping peti sampai kedua orang tua Sai menghampirinya.
"Nona Yamanaka," sapa seorang pria paruh baya yang berwajah oriental.
"Ino, lama tidak bertemu. Maaf aku baru sempat menemuimu sekarang," susul seorang wanita yang Ino kenali, Mrs. Shimura.
Mata wanita itu sangat bengkak, tetapi tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya. Nampaknya ia sudah terlalu banyak menghabiskan air matanya. Dan saat kedua orang ini menghampiri Ino, Ino sebisa mungkin bersikap formal dan sopan sehingga ia berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tangisannya meski hanya sementara.
"Aku sangat menyesal karena membiarkanmu menghadapi ini sendirian."
Jelas sekali, Ino mendapati wanita itu berjuang menahan tangisannya.
"Aku bahkan tidak ada di sampingnya saat ia…" Mrs. Shimura tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sementara Mr. Shimura mengusap punggung istrinya.
Ino mengangguk dan merapatkan rahangnya sebelum menjawab, "Tidak perlu sungkan, aku tulus melakukannya." Ino tersenyum meski batinnya menjerit. "Saya sangat mencintai putra Nyonya dan Tuan."
Wanita di hadapan Ino menangis dan pria di sampingnya memeluk wanita itu. "Terima kasih, Nak. You were his miracle," ucap ayah Sai. "Sai pasti sangat bahagia dicintai oleh gadis sepertimu."
Ino tersenyum dan mengangguk sopan.
.
.
.
Langit London begitu kelabu, kelam, dan menyedihkan. Tetapi bila seluruh penghuni London bisa melihat cuaca di hati Ino, mereka akan mengunci pintu, menghidupkan semua lampu, menyalakan perapian, minum coklat panas dengan marshmallow, dan mengenakan pakaian paling tebal yang mereka punya.
Hati Ino lebih gelap dibandingkan langit London, lebih dingin, dan lebih menyedihkan. Seolah dunia sedang kiamat, di mana hati, pikiran dan raga kehilangan arah.
Ino sudah sering sekali mengalami perihnya hidup di dunia yang jahat ini, tetapi belum pernah ada kenyataan yang sekejam ini menikam hatinya dari segala penjuru. Ino tidak pernah merasa sesedih ini. Ino bahkan merasa ia menanggung segala kesedihan yang ada di dunia ini. Ino merasa tidak ada lagi lantai yang bisa ia tapaki. Ino merasa… ia tak punya alasan untuk hidup.
Impian Ino adalah hidup bahagia, tetapi bila sumber kebahagiaan di dunianya sudah direnggut habis tak bersisa, apakah ia mempunyai jiwa yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai persoalan hidup yang tak terhitung?
Jangan bercanda, selama ini Ino sudah menghadapi segala kenyataan hidup yang pahit dengan sabar, tetapi ini sudah di ujung batas kemampuannya. Wajah Ino menengadah menghadapi butiran salju yang terus turun.
London dan musim dingin! Dua kata itu sangat memuakkan! Mereka menyimpan memori yang Ino benci. Seluruh warna yang Ino punya telah mereka rebut! Ino benci! Ia benci London dan musim dingin!
Ino kemudian memandang jauh ke bawah dan mencengkeram pagar stainless yang dingin. Di bawah sana ada sungai mengalir, sungai yang dingin. Ino bertanya-tanya, apakah airnya yang dingin itu bisa membekukan hatinya yang terluka ini? Apakah airnya yang mengalir itu bisa membawa sakitnya hanyut?
Ino melompat melewati pagar dan menarik napas dengan dalam sebelum mengembuskannya perlahan.
Gadis itu tersenyum dan memejamkan matanya. Ia harap Tuhan mengerti situasi yang Ino miliki dan mempertemukannya dengan Sai juga Deidara. "Dei-nii, Sai, aku akan menyusul kalian." Ino melumpuhkan keseimbangannya sehingga ia terjatuh ke dalam sungai tersebut.
Ia tak menyadari apapun setelah itu, selain suara Sai yang samar memanggil-manggil namanya.
.
.
.
Ino memandangi Sai dengan bibir bergetar dan mata berlinang. "Sai…" Suaranya akan membuat telinga orang yang mendengarnya kesakitan.
Sekarang Ino sudah sembuh dari amnesia parsialnya, Ino sudah mengingat kembali mengenai pertengkaran kedua orang tuanya, Deidara, dan Sai. Dan ia kini sadar, amnesianya ini disebabkan karena ia yang mencoba untuk bunuh diri.
Sai memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan ekspresi dan mendesah berat sebelum bicara dengan nada yang sulit digambarkan, "Kau sudah ingat."
Ino tidak bisa melepaskan Sai dari netranya. Meski tidak masuk akal, Ino tetap mempercayai apa yang dilihatnya. "Sai…"
Sai masih belum mau menatap Ino. "Padahal aku berharap kau tidak akan pernah meningatku lagi."
Saat mendengar kata-kata Sai itulah Ino merasa kesal. Apa maksudnya dengan mengatakan hal itu?! 'Berharap tidak ingat' ia bilang?! "Baka! Kenapa kau ingin aku melupakanmu, hah?!"
Sai hanya bergeming. Ia menghempaskan pandangan jauh ke depan, menyusuri hamparan salju yang siap mencair dan sesekali menelan ludah yang terasa pahit mengaliri tenggorokannya.
Tidak peduli Sai memperhatikan Ino atau tidak, Ino terus berbicara dengan suara keras, "Akan semakin menyedihkan jika aku tetap melupakanmu!" Namun kemudian suara Ino melembut. "Kau tidak mengerti, bagiku kau adalah bagian dari diriku." Air mata Ino kembali turun, dan matanya mengarah ke bawah. "Jadi, aku bukanlah Ino jika tidak mengingat Sai."
Sai mengangkat wajahnya kemudian menyorot Ino dengan pandangannya. Suara gadis itu membuat Sai merasa sakit. Ia tidak suka melihat Ino seperti ini, dan yang membuatnya lebih tidak suka adalah: ia tidak bisa apa-apa untuk mencipatakan senyuman di wajah Ino.
"Aku tidak peduli apapun yang terjadi padaku jika aku tetap mengingatmu! Aku akan tetap memilih untuk selalu meningatmu!"
Ino memang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Sai pergi begitu cepat sampai ia merasa tak ada lagi tempat yang bisa ia tuju, sampai ia merasa tak ada lagi semangat yang mampu menopang tubuhnya, sampai ia memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Tapi, setelah Sai ada di sini sekarang. Tidak bisa dipungkiri bahwa Ino bahagia, walaupun hanya Ino satu-satunya orang di dunia ini yang bisa melihatnya, menyentuhnya, dan mendengar suaranya. Ino tetap bahagia hingga ia tidak peduli pada dunia.
Ino menutup wajahnya, ia terus menangis dan bicara dengan suara tersendat, "Dan aku… aku ingin kau tetap di sini. Aku tidak peduli jika orang akan berpikir aku tidak waras, selama kau ada di sini… aku akan baik-baik saja."
Sai menunduk dan meremas dahinya, bagaimana bisa ia pergi sementara keadaan Ino seperti ini? "Tidak bisa…" Ino, jangan membuat segalanya lebih sulit bagiku.
Sungguh, Sai menginginkan hidup lebih lama. Sai ingin tetap berada di sini, ia ingin menemani Ino sepanjang umur Ino. Ia ingin melindunginya, ingin bersamanya dan tertawa bersama. Tapi selama ini Sai hanya bisa merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Sai tetap harus pergi.
Tapi, karena ia memiliki janji pada Ino, Sai bersyukur ia diberi kesempatan untuk kembali. Meski sebentar, tetapi jika waktunya ia gunakan untuk melihat Ino lagi dalam keadaan baik-baik saja, Sai sangat bahagia melebihi apapun.
Dan Sai… tidak mau waktunya yang berharga ini digunakan untuk melihat tangis Ino.
"Kenapa? Kau tidak bisa selamanya di sini?" Ino ketakutan menunggu jawaban dari Sai. Selama ini, Tuhan tidak pernah mengabulkan doa Ino. Jadi untuk kali ini saja Ino berharap Tuhan mengabulkan doanya dengan mengizinkan Sai tetap bersamanya, selamanya.
Sai tersenyum dan menyentuh pipi Ino, tidak menjawab pertanyaan dari gadis itu. Sesungguhnya Sai ingin menangis karena setelah ini ia tidak bisa menyentuh Ino lagi, tidak bisa hadir di sisi Ino lagi. Tetapi, di saat-saat terakhirnya, ia tidak ingin air mata menampakkan diri di wajahnya. Sai ingin pergi dengan senyuman mengiringinya.
"Jangan pergi, Sai." Ino menggenggam tangan Sai yang tengah menyentuh pipinya.
"Kau ingat? Ada sesuatu yang kusembunyikan darimu yang ingin kau ketahui, dan aku berjanji padamu untuk mengatakannya saat kau sudah bahagia bersamaku."
Segelintir kalimat yang Sai lontarkan dengan suara lembut itu mengagetkan Ino. Ino tidak ingin Sai memenuhi janjinya! Jika janji Sai terpenuhi, maka…
"Ino, karena sekarang kau sudah merasa bahagia di sisiku, aku ingin memenuhi janjiku padamu saat itu."
"Jangan katakan Sai!" Ino memekik.
"Ino…"
Ino menutup telinga dan berteriak keras. "Aku tidak mau dengar!"
"Selama ini…"
"Kumohon berhenti bicara!" Sekeras apapun Ino berusaha menutupi telinganya dan berteriak, suara Sai tetap tertangkap telinga Ino.
"Jauh sebelum kau mengenalku…"
"Sai, please! Shut up!"
"Aku sangat dan selalu mencintaimu." Sai tersenyum lega dan mendesah. Akhirnya… ia mengatakannya juga. Meski batinnya menangis, tidak ingin meninggalkan Ino, tapi Sai merasa lega janjinya pada Ino terpenuhi. Dengan ini, urusan Sai dengan dunia telah selesai. Sai bisa pergi.
Ino memukul dada Sai dengan tangan terkepal. "Kau jahat, Sai!" Ino menjerit.
"Aku mencintaimu, maaf sudah bersikap jahat padamu selama ini, baik saat prom night maupun di rumah sakit."
Sudah sejak lama Ino memimpikan Sai mengatakan kalimat itu padanya, Ino sangat mengidam-idamkan kisahnya dengan Sai yang bercerita tentang kisah cinta yang saling mencintai. Dan saat ini Sai sudah mewujudkan mimpi Ino. Tapi bila mengatakannya berarti Sai akan pergi selamanya, Ino lebih memilih untuk tidak pernah mendengar kalimat itu seumur hidupnya. Bahkan bila itu artinya Sai tidak mencintainya, melihat Sai bahagia dengan gadis lain akan terasa jauh baik dibandingkan merasakan perasaan yang sama namun ditinggalkan.
Ino terus memukuli Sai namun setelah pukulan yang kesekian kalinya, Sai meraih kedua tangan Ino dan menghentikannya. "Maaf, Ino. Kehadiranku hanya selalu membuatmu sedih."
"Itu tidak benar, bodoh!"
Ya Tuhan, Sai tidak ingin meninggalkan Ino, Sai ingin berada di sampinnya. Tapi, setidaknya bila hal itu tidak bisa diwujudkan, Sai menginginkan sedikit waktu lagi baginya untuk bicara pada Ino. Terlalu banyak hal yang ingin Sai sampaikan pada Ino, tapi bila waktunya tak cukup untuk memberikannya kesempatan mengatakan semuanya pun, Sai sudah sangat bersyukur.
"Jaga dirimu baik-baik, ya? Jangan terlalu sering begadang dan minum kopi. Berjanjilah padaku untuk hidup bahagia dan tidak pernah mencoba untuk bunuh diri lagi. Suatu saat kau pasti akan menemukan pria yang kuat, pria yang mampu menemanimu dan menjagamu seumur hidupnya," Sai terkekeh dan pandangannya menyayu, "tidak sepertiku."
Ino menyusup kedalam pelukan Sai. "Tidak! Tidak ada pria semacam itu untukku karena hatiku hanya untukmu! I just wanna grow old with you!"
Perlahan Sai merasakan beberapa bagian tubuhnya mulai terasa hampa, tetapi ia tidak pusingkan. Sai terus mendekap Ino dan mengusap rambutnya. Kemudian ia menyentuh kedua bagian pipi Ino dengan kedua tangannya dan tersenyum menatap lurus ke matanya setelah melepaskan pelukannya. "Sorry, but I can't."
Senyuman Sai untuknya, sentuhan Sai untuknya, tatapan mata Sai untuknya… apakah ini akan jadi yang terakhir untuk Ino? Sebanyak apapun Ino mencegah Sai pergi, lelaki itu pasti akan pergi. Jadi, Ino akan mulai menikmati kembali malam ini. Ia putuskan untuk menikamti saat-saat terakhirnya.
Wajah Sai mendekati Ino, dan secara perlahan bibirnya menyentuh bibir Ino. Mata Ino terpejam dan kedua lengannya melingkari leher Sai di atas kedua bahu lelaki itu. Air mata Ino sudah kering dihapus jemari Sai. Ciuman yang lembut ini mempersiapkan Ino untuk menghadapi kenyataan bahwa Sai akan pergi meninggalkannya sebentar lagi.
Bibir mereka beradu dan wajah mereka bergerak-gerak menikmati kasih sayang yang masing-masing mereka terima. Pembuktian kisah cinta mereka ini terus berlangsung hangat meski di tengah musim salju serta langit malam. Mereka semua—semesta langit dan hamparan salju yang siap meleleh—takjub menyaksikan cinta sejati yang menikmati waktunya tanpa peduli pada dunia.
Ino tersenyum. Kemudian saat matanya terbuka perlahan, Ino tidak menemukan Sai di sana. Ia mendapati dirinya sendirian di taman gelap tengah malam yang semula cerah gemerlapan karena kehadiran Sai.
Namun sungguh jelas Ino mendengar suara Sai dalam hatinya, "Good bye Ino-chan, I can't describe how much I love you."
.
.
.
Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku
Bersamanya
Semakinku menyayangimu
Semakinku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin terus bersama
Suatu saat nanti kau akan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu
Maafkan aku yang biarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin
Semakin terasa cintamu
Semakinku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin terus bersama
I will let you go
Lagu yang diam-diam disenandungkan hati Sai saat ia mengusir Ino di rumah sakit. Dan saat ini, lagu itu bisa mencapai hati Ino. Sebuah lagu yang menembus ruang dan waktu.
Ino memejamkan matanya dan tersenyum. "Sai, aku sudah memenuhi permintaanmu. Lihat? Sekarang aku sudah menemukan pria itu, apa kau senang?" Ino mengusap batu nisan di hadapannya dengan lembut.
Pria tampan di samping Ino tersenyum, ia adalah seorang pria yang bijak. Dennis tidak pernah cemburu mengenai Sai. 'Setiap orang memiliki masa lalu', begitulah yang dipikirkannya. Selama saat ini pandangan Ino selalu mengarah padanya, Dennis cukup senang dan tidak peduli ke mana hati istrinya berlabuh di masa lampau.
.
.
.
The End
.
.
.
Author's note:
Kya! Maafin aku ceritanya berakhir kaya gini! Tapi jangan bunuh aku ya?! :') Dari awal sejak bikin cerita ini, alur dari awal sampe akhir—kecuali festival—udah ada di kepala aku! Maafkan aku! :'O
Oh iya, sekedar pengen bagi-bagi cerita. Sebenernya cerita di fanfiction ini ada di kepala aku sejak beberapa tahun lalu, tapi baru aku tulis sekarang. Awalnya terinspirasi dari anime Ano Hana, itu pun kalau kalian penasaran. :D
Setelah baca chapter ini, kalian jadi sadar kalo kata 'menembus' di kalimat 'Sai berusaha menembus lautan manusia yang penuh sesak' dari chapter tiga itu bukan metafora ya? ;)
Takut ada yang penasaran, lagu di atas itu judulnya Melepasmu dari Drive. Tadinya mau aku translate ke bahasa Inggris, tapi takut feel-nya gak dapet. Jadi aku masukin apa adanya aja. :'D
Aku juga minta maaf buat segudang kesalahan dan kekurangan di fanfiction ini, mulai dari typo, bahasa, deskripsi, sama setting. Ngomong-ngomong soal setting, aku belum pernah nyentuh yang namanya salju dan aku belum pernah nginjekin kaki di London sekali pun. Jadi, maaf banget kalo deskripsi tentang setting tempatnya kurang! :'(
Lalu, makasih buat semua pembaca, baik yang udah review dan yang belum review, baik yang udah nge-follow dan yang belum nge-follow, juga baik yang udah nge-fav dan yang belum nge-fav. Pokoknya makasih buat kalian semua karena udah bersedia baca cerita aku sampai sejauh ini. Dan buat reviewers, kata-kata dari kalian bikin aku semangat, makasih banget! I love you guys! Maaf gak bisa bales satu-satu. :)
Especially, makasih buat panitia event Flore 2016 yang bersedia meluangkan waktu buat event ini, panitianya sampai ngebom review pula! Semoga, waktu yang kalian abisin buat bikin event ini bikin SaiIno makin eksis! :D
Satu hal lagi, nanti aku bakalan update lagi fic ini. Tapi aku gak nyebut itu 'chapter', melainkan 'hidden chapter'. Dan menurut aku, adegan di hidden chapter itu termasuk adegan penting. So, don't miss it! ;)
Oh! And the last, buat Dennis temenku! Maaf aku pinjem nama kamu, haha! XD Soalnya waktu aku nonton film Dennis The Menace, aku jadi engeuh kalau nama kamu itu kaya nama ala-ala barat gitu, jadi aku pake aja ya? :D
