Previous Chapter
Chanyeol berjalan agak cukup jauh mengingat ia tak tahu posisi Baekhyun berada, dia terus berkeliling taman hingga akhirnya memutuskan pergi ke tempat istrahat tertinggi di taman itu. Dan, Bingo! Baekhyun berdiri disana dengan pandangan kosong mengarah kepemandangan kota Seoul. Chanyeol berjalan dengan langkah yang sengaja dikeraskan dengan maksud agar Baekhyun menyadari kehadirannya, namun gadis itu tidak juga merespon.
"Maaf, apa kau sudah menunggu lama?" sapa Chanyeol yang berhasil membuat Baekhyun tersadar dan langsung menoleh kearah Chanyeol dibelakangnya.
"Eoh? Tak apa-apa, Chan.. Ah ini.." Baekhyun menunjukkan apa yang dibawanya. Tas kertas berisikan helm milik Kris.
"Ini kan-"
"Baiklah, aku hanya ingin menyerahkan ini. Kalau begitu, aku permisi.." ujar Baekhyun pelan sambil berjalan menjauhi Chanyeol tanpa menatap wajahnya.
"Tunggu, Baek." Baekhyun baru akan menuruni tangga sebelum suara berat Chanyeol mencegahnya. "Merasa sedih setiap saat tidak akan membawa manfaat apa-apa.."
"Seandainya aku berusaha lebih keras lagi untuk menentang operasi itu.."
"Itu bukan salahmu, Baek.." potong Chanyeol. Selalu saja begini, Baekhyun selalu saja terlalu memikirkan semua adalah salahnya dan tanggung jawabnya. "Operasi ini adalah pilihannya. Akhirnya dia bisa berpacaran denganmu, dan dia tidak ingin semua itu hanya berlangsung satu atau dua tahun saja. Jadi, dia memilih jalan yang penuh harapan. Oleh karena itu, tersenyumlah Baek, demi dia." Baekhyun membalikkan badannya menghadap Chanyeol yang sedang tersenyum lembut, senyum yang sangat dia rindukan, senyum yang sejak dulu berhasil menghangatkan hatinya. Baekhyun mengangguk lemah.
"Iya, aku akan mencobanya.."
"Pemandangannya sangat indah.."
"Ya, musim semi Seoul memang indah.. Aku menyukainya.. semuanya terselimuti oleh Cherry Blossom. Menakjubkan."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan dimusim semi?" Tanya Chanyeol bersemangat. Dia tak menyadari ekspresi Baekhyun yang kini telah berubah sendu.
"Channie.." Chanyeol tersentak. Panggilan ini..
"Channie, aku tak tahu.."
"Hm?"
"Aku tak tahu apa kita bisa bertemu lagi atau tidak.." ucapan ringan Baekhyun yang diiringi hembusan angin musim semi itu akhirnya sukses membuat Chanyeol terpaku. Hatinya terkejut, bukan, bukan sakit yang dia rasakan. Dia hanya terkejut, sangat terkejut.
.
.
.
Luhan berjalan santai dengan sebuket bunga tulip bermacam warna ditangan kirinya dan sebuah kantong plastik besar ditangan kanannya. Rambut hitam sebahunya semakin terlihat berkilau terkena sinar matahari pagi. Bibir merahnya terus menyenandungkan melodi lembut disepanjang langkahnya. Aura bahagia terpancar sangat jelas diwajah mungil itu.
Wajah cantik Luhan semakin berseri setelah sampai didepan pintu sebuah flat sederhana. Dia menekan belnya dengan pebuh semangat.
TING TONG
TING TONG
Bukannya marah, Luhan malah tertawa ketika pintu itu terbuka. Tanpa sungkan Luhan langsung masuk ke dalam flat itu.
"Ya ampun, apa kau baru bangun?" tanyanya gemas sambil membuka sepatunya. Dia melirik helm full-face yang tersimpan rapi diatas lemari kecil disamping pintu masuk.
"Hoaam.. Hari ini kelasku dimulai malam hari." Jawab Chanyeol malas sambil menggaruk perutnya. Luhan hanya tersenyum hangat melihat Chanyeol.
"Ah, ini aku membawa sayuran segar dari Jeju kemarin. Tolong buat masakan yang lezat ya, Chef Park." Gurau Luhan sambil menyerahkan kantong plastik yang sedari tadi dibawanya, lalu dia langsung masuk mencari benda untuk menyimpan bunga tulip bawaannya sementara Chanyeol membawa sayuran itu kedapur sederha miliknya dan segera melihat isinya untuk memutuskan akan memasak apa.
"Kelasmu mulai jam 3, kan?" Tanya Chanyeol sambil terus mengeluarkan bahan-bahan makanan didalam kantong plastik yang dibawa Luhan tadi. "Apa kau mau berangkat bersama, Lu?" Luhan yang sedari menatap Chanyeol kini berjalan pelan kearah lelaki yang sedang memegang sebuah bawang bombai.
"Yeol, tutup matamu dan berbalik sebentar." Pintanya pelan sambil terus melangkah. Chanyeol menatap Luhan bingung namun langsung menuruti perintah gadis itu tanpa bicara sedikitpun. Luhan tersenyum, dia meletakkan bunganya disalah satu counter dapur mungil Chanyeol. Lalu dia melangkahkan lagi kaki jenjangnya dan berhenti tepat didepan Chanyeol. Dia berjinjit sedikit, dan …
CHU~
DUK
Sebuah bawang bombai jatuh dengan tidak elitnya dilantai bersamaan dengan mendaratnya kecupan manis dibibir penuh milik Chanyeol. Hanya beberapa detik, tak sampai melumat. Sampai kecupan itu berakhir, Luhan memundurkan tubuhnya sedikit member jarak. Mata bulat Chanyeol semakin melebar dengan telinga yodanya yang sedikit memerah. Namun, tak separah milik Luhan, pipinya memerah seperti tomat dengan tangan menutup mulutnya. Luhan segera membuang wajahnya dan berjalan cepat mengambil bunga tulipnya tadi.
"Y-Yak! Jangan mengejutkanku seperti itu, Lu.." ucap Chanyeol akhirnya setelah kesadarannya terkumpul. Luhan tersenyum dan melangkahkan kakinya kearah balkon flat Chanyeol, rona merah itu masih mengiasi pipi mulusnya.
"Itu bukanlah masalah besar, Chanyeol." Jawab Luhan enteng. "Cepatlah memasak, aku lapar" teriak Luhan lagi setelah meletakkan vas bunga tulipnya dibalkon Chanyeol agar mendapat sinar matahari dan berjalan masuk mendekati Chanyeol.
.
.
.
'Sudah satu setengah tahun sejak aku datang ke Seoul. Kini aku sudah menjadi seorang mahasiswa, dan saat ini aku sudah menjadi sepasang kekasih dengan Luhan.'
.
.
.
.
.
.
Main Cast :
Park Chan Yeol
Byun Baek Hyun (girl)
Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort
Rate : T (dapat berubah sewaktu-waktu bila dibutuhkan)
.
.
.
A Town Where You Live
.
.
.
Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.
Mengapa saya tidak merubahnya?
Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.
.
.
Happy Reading ~
.
.
.
Berbagai hidangan lezat sudah tersaji dimeja makan kecil milik Chanyeol. Asap makanan yang masih panas mengepul diudara. Luhan terus saja menyuapkan berbagai jenis makanan yang sudah dimasakkan Chanyeol.
"Hmmm! Sungguh lezat. Kau membuatku merasa sangat bahagia Chan.." ucap Luhan dengan mata terpejam menikmati masakan kekasihnya. Chanyeol yang melihat itu malah terkekeh pelan, membuat Luhan mengenyit bingung. "Eh? Kenapa Chan?"
"Hahaha, kau sungguh lucu, Lu.." jawab Chanyeol santai ditengah kekehannya. Luhan langsung merona dan menundukkan wajahnya. Dia melirik kesegala arah dan menemukan sebuah majalah travel disamping kanannya. Matanya membulat lucu melihat pemandangan pantai yang ada di cover majalah itu.
"Woaah, indah sekalii.." pekiknya. Dia tertawa pelan dan mengambil majalah itu. Dengan penuh semangat dia memperlihatkan sampul majalah itu kehadapan Chanyeol. "JJang! Lihatlah, Chan. Indah ya? Laut biru dan pasir putihnya membuat tenaganya serasa terisi penuh kembali." Chanyeol tersenyum melihat wajah beseri kekanakan milik Luhan.
"Laut ya.." gumam Chanyeol. Luhan menghela nafas pelan.
"Aku sangat ingin pergi. Meskipun aku tinggal di Jeju semasa kecil, aku tak pernah diijinkan pergi bermain ke Laut oleh orangtuaku tanpa mereka. Karena mereka sangat sibuk, jadinya mereka tak pernah sempat menemaniku. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir aku pergi ke pantai. Aku sudah tak pernah melakukan hal lain selain baseball belakangan ini. Aku tak pernah jalan-jalan sebelumnya." Ungkap Luhan panjang lebar, Chanyeol menopangkan dagunya sambil terus menatap Luhan sambil tersenyum.
"Mau pergi?" Tanya Chanyeol dengan masih bertopang dagu.
"Ha?"
"Kau tak ada latihan, jadi kau bebas selama musim panas kan?" Tanya Chanyeol lagi.
"Berarti… Hanya kita berdua?" Tanya Luhan pelan dengan wajah yang mulai merona tipis.
"Tentu saja. Aku akan mencari pekerjaan." Sahut Chanyeol santai namun terlihat gurat keseriusan didalamnya. Hal itu membuat hati Luhan berdesir nyaman. Dia merasa sangat bahagia saat ini.
"Um!" angguk Luhan. "Terimakasih, Chan.." ucap Luhan lirih namun sangat tulus.
.
.
.
Flashback on
Salju turun dengan sangat deras di kota Seoul. Setiap tempat nyaris tertutupi dengan salju, tak terkecuali taman air mancur yang ada di tengah kota. Airnya telah membaeku dan sebagian besar tempat disana tertutupi denga salju yang cukup tebal.
Chanyeol berbaring diatas dinginnya salju dengan mantel hangat tebal dan syal biru tua. Dia menatap langit dengan tatapan kosong. Dia tidak sendirian. Tak jauh dari tempat. Chanyeol berbaring terlihat gadis muda –Luhan- yang membawa payung sedang berlari kecil mengelilingi posisi Chanyeol berbaring. Bosan berlari, Luhan memutuskan untuk mendekati Chanyeol. Chanyeol mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, dia langsung bangun dan duduk dengan menekuk lututnya, menyandarkan dagu runcingnya diatas lutut.
"Sejujurnya aku bingung dengan apa yang akan aku lakukan setelah lulus nanti, Lu."
"Apa kau mau menjadi chef?"
"Aku memang suka memasak, tapi aku tak berniat untuk mendalami hal itu.. Aku pun tak yakin aku sepandai itu.."
Chanyeol dan Luhan berjalan beriringan sambil melanjutkan omongan mereka tadi.
"Apa kau tak berminat lanjut bersamaku ke Universitas, Chan?"
"Eoh? Universitas?"
"Um! Tak akan sulit. Kau bisa belajar ilmu gizi atau apapun yang kau sukai disana.."
"Kau benar.." Chanyeol menghentikan langkahnya. "Kurasa apapun yang kulakukan akan menjadi menyenangkan jika dilakukan bersama denganmu."
"Ya! Tentu saja akan menyenangkan."
"Tapi Lu, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kau membahas ini?" luhan yang sedari tadi masih terus berjalan didepan Chanyeol menghentikan langkahnya, tak lama kemudia dia berbalik. Luhan tersenyum sangat lembut dan matanya berbinar bahagia.
"Karena aku mencintaimu … Park Chanyeol.."
Flashbak Off.
.
.
.
"Terimakasih. Silahkan datang kembali." Ucap Chanyeol smabil membungkuk. Setelah memastikan tak ada lagi pelanggan yang hendak membayar, Chanyeol segera berjalan kearah rak-rak minimarket tempatnya bekerja untuk mengecek barangnya. Saat dia sedang asyiknya menyusun barang-barang, tiba-tiba saja dia teringat Baekhyun.
'Kalau dipikir-pikir, saat aku masih di Busan aku juga pernah berfikir untuk bekerja untuk membelikan Baekhyun hadiah … ' batinnya.
"Hah.. dan sampai sekarang aku tak ernah memberikannya."
"Permisi, apa snack ini tak ada yang rasa stroberi?" suara cempreng yang familiar membuyarkan lamunan Chanyeol.
"Y-ya? Eoh? Krystal?" gadis yang tak lain adalah adik tiri Baekhyun membungkukan badannya kearah Chanyeol.
"Aku sejak tadi disini, dan kau bahkan tak menyadarinya oppa.. Aku mengawasimu." ucapnya lengkap dengan senyuman jahilnya. "Kenapa kau bekerja disini, oppa?"
"Karena disini dekat dari kampus." Jawab Chanyeol datar.
"Berarti oppa kuliah di SM University? Kebetulan sekali, tahun depan akupun akan masuk universitas itu."
"Oh ya? Kalau begitu kau harus belajar dengan giat. Masuk disana tidaklah mudah. Standarnya cukup tinggi." Krystal hanya menggeleng polos.
"Tenang saja, oppa. Itu urusan ayahku.." bisiknya. 'dasar anak orang kaya' batin Chanyeol. Tiba-tiba Krystal memeluk lengan Chanyeol cukup erat sampai membuat Chanyeol dapat merasakan dengan jelas betapa besarnya ukuran payudara gadis yang lebih muda setahun darinya itu.
"Oppa, kau tak pernah bertemu eonnieku akhir-akhir ini kan?"
"Y-yah, begitulah.." awalnya Chanyeol gagap karena sedikit risih dengan skinship mereka, namun dia sudah mulai terbiasa dengan sikap centil Krystal.
"Eoh? Kau seperti orang yang tak punya semangat." Cibir Krystal.
"Ha?"
"Tapi oppa datang dari Busan ke Seoul untuk mengejar eonnieku kan? Kehilangan semangat hanya karena rivalmu sudah tak ada-"
"Jangan berbicara sembarangan kalau kau tak tahu dan paham perasaan orang lain." Ujar Chanyeol memotong kalimat Krystal dengan sedikit meninggi. Krystal mundur beberapa langkah namun senyum yang tak biasa itu masih terpatri diwajahnya.
"Apa oppa ingin tahu keadaan eonnie?" Tanya centil.
"Hm, apa dia baik-baik saja? Apa dia sehat?" Tanya Chanyeol cepat dan membuat seringaian Krystal makin lebar.
"Ah, sudah kuduga kau masih sangat ingin tahu tentang eonnieku."
"B-bodoh. Aku khawatir dan bertanya sebagai temannya." Sanggah Chanyeol cepat. Lidahnya bisa berkata tidak, tapi wajah dan telinganya yang memerah lebih jauh bisa dipercaya.
"Khawatir? Apa kau khawatir dengan eonnie karena dia tinggal bersamaku?" Chanyeol sedikit tersentak mendengar pertanyaan Krystal. Dia mengingat lagi perkataan Krystal beberapa minggu yang lalu didepan stasiun kereta.
'Aku tak pernah menganggapnya sebagai kakak. Semua orang melihatnya, ekspresinya seperti orang yang lemah tak berdaya kan? Aku tak tahan, maka dari itu aku mengusirnya.'
"Apa oppa masih mencintai eonnie?" Krystal bertanya lagi smabil berjalan menjauhi Chanyeol.
"Bukan begitu, Krys.. Lagipula aku sudah memiliki kekasih saat ini." Ujar Chanyeol dengan senyum tampannya. Krystal mematung mendengar pernyataan Chanyeol barusan.
.
.
.
Krystal memainkan ponselnya sambil menunggu Chanyeol pulang kerja. Wajahnya berubah berbinar ketika mendengan suara dan langkah kaki Chanyeol yang keluar dari minimarket itu. Krystal segera berdiri hendak menyapa Chanyeol.
"Terimakasih paman." Ujar Chanyeol ceria. Dia menatap kedepan lalu tersenyum. "Terimakasih sudah menungguku.." Krystal hendak mengatakan sesuatu sampai dia menyadari sesuatu. Sapaan Chanyeol bukanlah untuknya. Melainkan untuk gadis bermata rusa yang berdiri tepat didepan minimarket itu.
"Apa kau lelah?" samar-samar Krystal dapat mendengar percakapan hangat sepasang muda-mudi itu. Krystal tidaklah seorang gadis polos yang tak bisa mengamati situasi. Dia tah bahwa itulah kekasih Chanyeol. Dia hanya terdiam ditempatnya melihat interaksi hangat dua orang yang berjalan bergandengan di depannya dan kini mulai menjauh darinya.
"Aku belum terbiasa karena ini hari pertamaku, tapi aku rasa cukup baik." Itu Chanyeol. "Aku akan membawamu ketempat yang indah saat kita pergi nanti, jadi tunggulah sedikit lagi dengan sabar." Chanyeol berkata sambil memandang sayang Luhan. Krystal hanya menatap datar sepasah kekasih itu.
.
.
.
Chanyeol baru saja selesai memasak. Kini dia sedang mencicipi masakannya.
"Hm, ini enak. Dia pasti akan sangat senang." Gumam Chanyeol sambil tersenyum membayangkan wajah berbinar Luhan ketika dia membawakan makanan itu.
Chanyeol membawa sepanci sup kesukaan Luhan. Sekarang dia berdiri tepat didepan flat Luhan, dia tak bisa memencet bel, oleh karena itu dia hanya berteriak memanggil Luhan.
"Lu? Kau didalam?"
Chanyeol hendak mengetuk pintu itu dengan sikunya. Namun, pintunya malah terbuka lebar.
"Eh? Tidak terkunci?" tanyanya pada diri sendiri. "Sepi.. apa dia tak ada dirumah?" gumam Chanyeol sambil berjalan memasuki flat mungil Luhan.
KRIETT
TAP TAP TAP
Chanyeol langsung membalikkan badannya ketika mendengar suara langkah kaki dari kamar mandi dibelakangnya.
"Kan sudah kubilang jangan membiark-" hening. Baik Chanyeol maupun Luhan tak ada yang bersuara selama beberapa detik. Keduanya sama-sama dalam keadaan syok luar biasa. Bagaimana tidak? Luhan saat ini sedak telanjang bulat dengan handuk yang ada dikepalanya dengan rambut basah. Sekali lagi 'telanjang bulat'.
"A-a apa yang kau lihat?!" Luhanlah yang sadar terlebih dahulu. Dia menarik kasar handuk yang ada di kepalanya untuk dililitkan ditubuh langsingnya. Setelah mendengar bentakan Luhan yang cukup nyaring, Chanyeol akhirnya langsung tersadar. Dia menutup erat matanya dengan wajah yang sama merahnya dengan Luhan.
"T-tidak! Aku tidak lihat apa-apa!" sahut Chanyeol tak kalah kencang dengan suara yang gemetar. Luhan langsung mengambil tongkat baseball yang terletak cukup dekat dengannya kemudian sedikit berlari kearah Chanyeol, dia hendak memukul lelaki itu ditengah rasa panik dan malunya.
"Lu- Luhan! Biar aku jelask-" Chanyeol gelagapan melihat Luhan berlari kearahnya dengan sebuah tongkat baseball siap tempur. Reflek dia melempar panic sup yang ada ditangannya untuk bersiap menghindari Luhan. Namun-
SRET
Karena tubuh yang masih basah, Luhan malah terpeleset tepat didepan Chanyeol dan Chanyeol dengan sigap menangkap tubuh Luhan. Namun, karena kuda-kudanya kurang kuat akhirnya mereka terjatuh bersamaan.
BRUK
PRANG
Luhan terjatuh dengan tidak elitnya diatas tubuh Chanyeol, ia mengangkat sedikit wajahnya dari dada Chanyeol namun tak sedikitpun beranjak dari tubuh lelakinya itu. Pelukan dari kedua tangan Chanyeol yang melingkar manis pinggang Luhan pun semakin mengerat. Mereka bertatapan selama beberapa detik dengan rona pipi yang kentara, hingga Luhan mulai menutup matanya, mencoba mempersempit jarak wajahnya dengan wajah Chanyeol dengan bertopang pada tangannya yang berada disisi kiri dan kanan keala Chanyeol.
Melihat wajah kekasih cantiknya yang mulai mendekat, Chanyeol akhirnya menutup matanya, menantikan benda merah jambu nan lembut milik kekasihnya menyentuh bibir penuh miliknya. Wajah mereka semakin dekat, Chanyeol dapat merasakan sapuan nafas hangat dan lembut milik Luhan dibibirnya. Hal itu membuat libidonya sedikit naik, jantungnya sudah bereaksi brutal sejak tadi, yang bisa dia lakukan hanyalah meremat pelan pinggang ramping kekasihnya itu. Sedikit lagi …
Drrt drrt drrt
Mata mereka terbuka lebar dengan wajah yang sudah sangat dekat. Getar ponsel milik Chanyeol disaku celananya akhirnya membatalkan ciuman yang sedikit lagi terjadi. Beberapa detik kemudian mereka tertawa bersama.
Luhan keluar dengan pakaian santai lengkap. Kaos santai berwarna hitam dan celana jeans ketat menjadi pilhannya kali ini. Dari depan pintu kamar mandi dia dapat mendengar dengan jelas percakapan Chanyeol dengan seseorang diseberang sana. Chanyeol sedang duduk beberapa langkah didepan tempat tidurnya (Flat Luhan sejenis sama flat kakaknya Chanyeol yang hanya ada satu ruangan serba guna, 1 dapur kecil dan kamar mandi). Luhan baru selesai membersihkan sup yang berceceran dilantai akibat keributan yang mereka perbuat beberapa saat yang lalu.
"Ya, ya. Apa? Benarkah?" Chanyeol menghetikan bicaranya, dia menutup ponselnya dengan tangannya dan menatap Luhan yang kini sudah berdiri didepan pintu tengah. "Ini dari Sunbae kenalanku. Katanya dia kekurangan orang dipestanya." Jelas Chanyeol kepada Luhan yang hanya dijawab anggukan dari si gadis rusa.
"Maaf sunbae, aku tidak bisa. Aku sudah punya kekasih." Lanjut Chanyeol lagi di telponnya.
"Kenapa kau tak pergi?" Tanya Luhan langsung membuat Chanyeol menatapnya bingung.
"Sebentar, sunbae." Chanyeol menatap Luhan bingung.
"Sunbaemu butuh bantuan kan?"
"Tapi, kau tahu ini pesta seperti apa kan? Apa kau tak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, asal kau pulang cepat.." sahut Luhan disertai senyum manisnya.
"Baiklah." Chanyeol kembali berbicara diponselnya "Baiklah Sunbae, aku akan datang kesana sebentar lagi.
.
.
.
Chanyeol menatap bosan kearah beberapa orang sunbaenya. Sedari tadi dia hanya memperhatikan bagaimana ketiga sunbaenya itu menggoda wanita disekitar mereka sambil menunggu yang lain.
"Hei, Park Chanyeol. Bersenang-senanglah sedikit. Kau kan sudah dapat izin dari kekasihmu."
"Ya benar. Yang akan bergabung dengan kita itu adalah gadis dari Universitas Seoul lho."
"Ya ya, Jay sunbae. Aku akan melakukannya kalau mereka sudah datang." Sahut Chanyeol sembari menyandarkan tubuhnya ditiang jalan dengan kedua lengannya yang dilipat didepan dadanya. Bersamaan dengan itu terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearah mereka.
"Halo, maaf terlambat.." ucap seorang gadis kepada mereka. Chanyeol pun menolehkan wajahnya dengan malas. Dia menatap keempat gadis yang masih berada ditengah jalan penyebrangan. Mereka berjalan terus sambil tersenyum lebar. Ada satu yang paling menarik dimata Chanyeol. Gadis mungil yang berada dibelakang yang tengah menunduk menatap ponselnya. Chanyeol melihat seorang pria yang terburu-buru mendekat dan menabrak gadis itu. Ponsel gadis itu terpental keudara membuat gasid itu mendongakkan wajahnya.
"Baek.." lirih Chanyeol sambil berjalan cepat mencoba menangkap ponsel gadis itu sebelum jatuh jalan aspal.
HAP
Berhasil. Chanyeol berhasil menangkap ponsel itu. Dia pun berdiri dari posisinya dan menghadap gadis itu yang kini telah berdiri mematung dihadapannya.
"Chanyeol.." lirih gadis itu.
.
.
.
Delapan orang mahasiswa beda kampus itu kini telah berkumpul disebuah tempat makan. Jay Park, si pengundang duduk di ujung meja panjang itu. Sementara Chanyeol disebelah kanannya dan Baekhyun duduk disebelah kirinya. Chanyeol sesekali melirik Baekhyun yang tersenyum sambil melihat sekeliling ruangan yang sudah dibooking oleh sunbae Chanyeol. Kalau kalian bertanya ini pesta apa? Ya. Ini adalah semacam kencang buta. Oleh karena itu, tadi Chanyeol sempat menolaknya.
"Jadi kalian saling mengenal?" Tanya Jay.
"Well, ya. Kami sempat sekolah SMA bersama." Jawab Chanyeol.
"Benar. Dan dia adalah sahabat mantan kekasihku." Sambung Baekhyun dengan nada ceria. Tidak terlihat sedikitpun hal yang bisa membuat mereka canggung. Baekhyun terlihat sangat ceria dan luwes.
"Oh ya?" pekik salah satu teman wanita Baekhyun. "Daebak! Kebetulan sekali."
"Yah, aku sedikit kaget. Sudah sekitar satu setengah tahun aku tak berjumpa dengannya."
"Benarkah?" sahut teman Chanyeol yang lain.
"Ya. Chanyeol adalah sahabat mantan kekasihku dulu. Kami bertemu sekitar dua atau tiga kali saat itu." Ucap Baekhyun enteng sambil menatap kearah Chanyeol, tepat dimatanya yang mana membuat Chanyeol tersentak. Jadi Baekhyun juga ingin merahasiakan ini semua dari teman barunya.
"Ah, ya begitulah.." imbuh Chanyeol.
"Chanyeol ini pria yang sangat menarik Baekhyun-ssi." Ungkap Jay.
"Benarkah? Wah aku ingin mendengar cerita- bla bla bla.." selanjutnya Chanyeol tak mendengarkan satupun obrolan dari orang disekelilingnya. Dia fokus memperhatikan Baekhyun. Rambut panjangnya yang kini sudah berganti warna menjadi warna cokelat madu digerai dan sedikit berombak diujungnya, dress selutut warna pastel membauatnya terlihat sangat feminim, serta sapuan make up tipis diwajahnya.
'Ia sudah tumbuh menjadi wanita dewasa' batin Chanyeol.
Baekhyun melihat keluar jendela dan matanya membulat berbinar melihat lampion yang berbentuk balon udara didekat jendela ruangan itu. Dia terlihat sangat mengagumi benda itu. Hal itu tak luput dari tatapan Chanyeol, bagaimana mata sipit itu membulat lucu dengan binar bahagia hanya dengan melihat hal –hal sederhana.
'Tapi hatinya masih polos seperti Baekhyun yang kukenal' batin Chanyeol lagi ditambah dengan senyum sendu yang terpasang diwajahnya.
.
.
.
Mereka baru saja keluar dari rumah makan itu, kini mereka sedang berunding kemana lagi mereka akan pergi. Chanyeol melirik jam tangannya.
"Maaf semuanya, aku pamit duluan."
"Eh? Ini kan masih jam 9, Chanyeol-ssi." Sahut salah satu gadis berambut pendek teman Baekhyun.
"Chanyeol sudah punya kekasih, Minah-sii."
"Oh ya? Kalau begitu kita harus membiarkannya pulang.."
"Aku juga harus pulang, teman-teman." Baekhyun ikut pamit dengan senyum bersalahnya.
"Eh? Kenapa? Apa Baekhyun-ssi juga sudah memiliki pacar?" Tanya Woobin, salah satu sunbae Chanyeol.
"Ah, tidak-tidak. Aku hanya tidak diizinkan pulat larut malam." Jawab Baekhyun sambil tertawa pelan.
.
.
.
Luhan mematikan TVnya dan medudukan dirinya. Dia mengambil majalah travel yang kemarin dia dan Chanyeol lihat, sesekali dia akan melirik kearah ponselnya.
"Huh, aku penasaran. Apa mungkin pestanya belum selesai, ya?" gumam Luhan sambil membuka lockscreen ponselnya.
.
.
.
"Aku baru kali ini datang ke acara seperti ini. Aku datang karena ketiga temanku sudah pernah mengajakku berulang kali namun selalu kutolak. Akhirnya, dua hari yang lalu mereka berhasil mebujukku. Ini adalah pertama kalinya bagiku." Ungkap Baekhyun sambil terus memandang lurus kedepan. Chanyeol hanya terus mendengarkan Baekhyun bercerita.
"Hm, aku pun begitu." Sahut Chanyeol sambil terkekeh pelan. "Aku tak bisa mengelak permintaan Jay sunbae.
Baekhyun membuka sepatunya begitu mereka sampai ditaman air tengah kota. Chanyeol berdiri tak jauh darinya sambil terus memperhatikan gerakan gadis mungil itu sambil tersenyum.
"Oh iya, aku bertemu dengan Krystal beberapa hari yang lalu. Dia sudah tumbuh dewasa, aku sedikit terkejut."
"Ya, Krystal sudah mengatakannya padaku." Sahut Baekhyun yang kini sedang berjalan dengan kaki telanjangnya di kolam air yang tinggi airnya hanya semata kaki mungilnya. "Kekasihmu sungguh manis."
"Eh? Kapan Krystal melihat Luhan?" gumam Chanyeol. Dia mendekati Baekhyun dan ikut berdiri disebelah Baekhyun tapi dari luar kolam. Baekhyun sudah berhenti berjalan dan kini menatap air mancur warna-warni didepannya.
"Aku senang Chanyeol terlihat bahagia.."
"Eoh?" Chanyeol hanya mendengar samar perkataan Baekhyun itu. "Ah, terimakasih.. Lalu bagaimana denganmu?"
"Ne? Ah, sudah kukatakan aku tak memiliki kekasih." Jawab Baekhyun polos.
"Bukan itu maksudku. Bagaimana hubungamu dengan Krystal? Dulu kau pernah bilang tak ingin bertemu dengannya saat kau kembali ke Seoul, kan?"
"Jadi, kau masih mengingatnya ya.." lirih Baekhyun sambil berjalan semakin mendekati air mancur itu.
"Tentu saja." Jawab Chanyeol tanpa ragu.
"Kami semakin akrab." Imbuh Baekhyun sambil menjulurkan tangannya, menyentuh air mancur itu.
"Benarkah?"
"Ya. Dia sangat menyenangkan ketika diajak berbicara dan juga dia adalah gadis yang baik."
"Begitu ya.. Berarti semuanya baik-baik saja.." ada perasaan lega dan juga sesak dalah hati Chanyeol ketika mendengarkan perkataan Baekhyun.
"Busan.." Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menatap langit. Dia mengangkat tangannya seolah bisa menggapai langit malam itu. "Mengingatkanku dengan banyak hal.. Bintang disana begitu indah.. Kau tak bisa melihatnya sedikitpun di Seoul."
'Dia tak menyembunyikan sesuatu yang pahit lagi seorang diri, kan?' Batin Chanyeol sambil terus memperhatikan gerak-gerik Baekhyun.
.
.
.
Baekhyun sudah sampai diperempatan jalan dimana mereka harus berpisah karena berbeda arah. Baekhyun berdiri membelakangin Chanyeol yang hanya menatap punggung Baekhyun.
"Baiklah, sampai disini dulu, Chan. Aku akan lewat sini."
"Okay. Kalau begitu sampai jumpa." Chanyeol langsung mulai berjalan menuju flatnya.
"Tunggu sebentar, Chanyeol.." ucap Baekhyun cepat sambil berusaha mencapai Chanyeol. Chanyeol langsung berbalik dan menatap Baekhyun.
"Aku merubah alamat emailku yang lama. Jadi ini!" ucap Baekhyun sambil memperlihatkan ponselnya.
"Eoh?" Tanya Chanyeol yang masih sedikit terkejut Baekhyun bersikap seperti biasa dengannya.
"Jangan hanya 'Eoh' cepat keluarkan ponselmu."
"A-ah iya. Ini.." ucap chanyeol sambil menyerahkan ponselnya. Mereka bertukar alamat email dengan Chanyeol yang sedikit bingung sekaligus berdebar. Dia masih bingung dengan sikap Baekhyun yang ramah, beda dengan sejak terakhir mereka bertemu. Tapi tak dapat dia pungkiri bahwa dia senang dengan sikap Baekhyun.
Setelah bertukar alamat email. Baekhyun berjalan menjauh dan melambaikan tangannya kearah Chanyeol.
"Baiklah, sampai ketemu lagi Chanyeol!" senyuman itu. Senyuman yang sangat dirindukan Chanyeol. Bukannya membalas cepat, dia hanya menatap Baekhyun dalam diam. Mata bulan sabit itu berhasil membuat hatinya menghangat.
"Sampai bertemu … lagi, ya?" gumam Chanyeol. Tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat Chanyeol tersentak dan langsung membuka pesan itu. Dari Luhan ternyata.
From : Lulu
Apa kau masih dipesta?
Biar kutebak kau sedang tersenyum mesum dengan dikelilingi gadis-gadis.
Apa aku benar?
Chanyeol langsung tersadar dari lamunannya dan mengecek jamnya. Seketika matanya membulat dan akhirnya dia memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnay menuju flatnya.
.
.
.
"Jay sunbae sangat bersemangat. Aku sampai sangat lelah karena terus saja pergi kesana sini." Chanyeol bercerita diatas karpet berbulu milik Luhan.
"Jadi bagaimana? Apa gadis cantik?" Tanya Luhan ceria.
"Ah, iya ada.." ucap Chanyeol sambil membuang muka.
"Tapi, aku senang." Ucap Luha lirih.
"Eh? Kenapa?" Tanya Chanyeol bingung.
"Kau selalu bersikap cuek dan acuh tak acuh saat pertama kali kau pindah kemari. Sekarang kau sudah diundang seperti ini menandakan kau sudah mulai memiliki teman." Jawab Luhan dengan senyum lembutnya, tak ayal itu membuat Chanyeol ikut tersenyum sayang.
.
.
.
Chanyeol sedang mengatur beberapa bungkus rokok disalah satu rak dibelakang meja kasir dengan serius sampai suara gadis yang cukup melengking menginterupsinya.
"Sedang sibuk ya?" Chanyeol membalikan badannya dan dia cukup terkejut melihat siapa gadis yang berbicara dengannya.
"Lu? Apa yang kau lakukan di waktu seperti ini?" Tanya Chanyeol kepada gadis dihadapannya yang tak lain adalah kekasihnya.
"Ah, ini. Aku menemukan hal yang bagus dan cocok untuk perjalanan kita nanti. Aku jadi tak sabar ingin menunjukkannya padamu." Jawab Luhan sambil berjalan mendekati Chanyeol.
"Oh, begitu. Tapi aku belum selesai bekerja, Lu.."
"Tidak apa-apa aku akan akan membaca majalah sambil menunggu." Jawab Luhan pemuh semangat, dan itu membuat senyum tampan dibibir Chanyeol merekah.
"Selamat malam!" sapa seorang gadis berseragam SHS dari depan pintu masuk minimarket tempat Chanyeol bekerja.
"Eoh? Krystal.." gumam Chanyeol. Luhan mendekatkan wajahnya ketelinga Chanyeol dengan susah payah, Chanyeol yang mengerti pun sedikit menunduk, dia tahu gadisnya ingin membisikkan sesuatu.
"Itu siapa, Chan?" bisik Luhan.
"Ah, dia adik Baekhyun, Lu.."
"Halo, aku Krystal Jung. Senang bertemu denganmu." Sapa Krystal.
"Senang bertemu denganmu juga. Jadi Baekhyunie punya adik, ya?" sahut Luhan tak kalah semangat.
"Luhan eonnie sudah bertemu dengan Baekhyun eonnie, ya?" Tanya Krystal sambil mendekati Luhan.
"Eh? Dari mana kau tahu namaku?" Tanya Luhan bingung arena dia merasa baru pertama kalinya bertemu dengan Krystal.
"Chanyeol oppa yang memberitahukannya kepadaku soal kekasihnya." Jawab Krystal sambil sedikit menyeringai kearah Chanyeol. Chanyeol sedikit salah tingkah, karena dia merasa tak pernah memberitahuna nama Luhan kepadanya. Luhan juga ikut menatap Chanyeol tapi dengan pandangan bahagia.
"Ah begitu ya.." pipi Luhan merona. Dia merasa bahagia karena Chanyeol membiarkan orang lain tahu bahwa dia sudah memiliki kekasih yaitu dirinya. Dia merasa banyak kupu-kupu beerterbangan diperutnya.
"A-ah iya, Lu.." jawab Chanyeol sedikit terbata.
"Oh iya, oppa." Panggilan Krystal itu membuat Chanyeol dan Luhan menatap gadis SHS itu. "Kau juga sudah bertemu dengan eonnieku kan, oppa?" Tanya Krystal sambil tersenyum kearah Chanyeol yang kini sedang gelagapan. "Di pesta waktu itu kan, oppa? Kebetulan sekali ya, oppa?" Tanya Krystal dengan wajah polosnya sementara Chanyeol mulai merasa bersalah terhadap Luhan.
"Benarkah?" Tanya Luhan pelan. "Kalau kau bertemu dengannya, harusnya kau memberitahuku." Dia menatap tepat ke mata Chanyeol, membuat Chanyeol merasa bersalah setengah mati.
"Maaf, Lu. Aku rasa aku lupa memberitahumu." Sahut Chanyeol cepat.
"Apa Baekhyun sehat?" Tanya Luhan lagi dengan suara yang lebih lirik sambil menunduk.
"Y-ya.."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di luar kalau begitu." Ucap Luhan sambil berlalu keluar minimarket itu tanpa menatap chanyeol maupun Krystal. "Ah, Krystal-ssi tolong sampaikan salamku untuk Baekhyun." Tambahnya lagi tanpa memandang Krystal, dia hanya menatap kearah lain sambil meres lengan kiri atasnya sendiri, lalu berlalu begitu saja.
"Baiklah eonnie!" sahut Krystal penuh semangat tak peduli dengan reaksi Luhan. Lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol yang kini sedang memandnag sendu kearah punggung kekasihnya tanpa berkata apapun. "Apa aku mengatakan hal yang tak pantas kukatakan, oppa?" Tanya Krystal sambil menyeringai.
"Sunbae, tolong gantikan aku untuk sementara ya!" teriak Luhan kepada pegawai yang lain sambil berlalu meninggalkan meja kasir.
"Oh baiklah." Sahut pegawai itu. Chanyeol melepaskan seragamnya.
"Krystal-ah, tolong pegang ini sebentar." Chanyeol menyerahkan seragam kerjanya kepada Krystal dan belari keluar minimarket.
Chanyeol mendapati Luhan yang sedang menatap langit, dia berdiri membelakangi minimarket.
"Lu, aku minta maaf. Aku memang bertemu dengan Baekhyun tanpa sengaja dan aku tak memberitahukannya padamu karena takut kau akan khawatir. Aku tak bermaksud membohongimu." Ucap Chanyeol sedikit keras. Luhan berbalik dan berjalan mendekati Chanyeol.
"Aku mengerti, Chan." Ucap Luhan datar. "Kau tidak harus memberitahuku segalanya. Tapi …" Luhan berhenti tepat didepan Chanyeol dan menatapnya tajam. Luhan mengepalkan tangannya dan bersiap seperti hendak meninju wajah Chanyeol. Chanyeol hanya menutup wajahnya pasrah jika harus menerima pukulan. Meskipun mereka adalah sepasang kekasih, tetap saja Luhan adalah Luhan si gadis atlet tomboy.
PLAK
Chanyeol membuka matanya ketika dia tidak merasakan apa-apa menyentuh tubuhnya. Matanya membulat ketika melihat telapak tangan Luhan menempel dengan gemetar di dinding samping kiri kepalanya. Chanyeol berfikir betapa sakitnya itu hingga membuat Luhan gemetar. Dia pasti sudah sangat marah terhadap Chanyeol.
"Tapi … Hiks" Salah. Luhan gemetar bukan karena sakit ditangannya, sebagai seorang atlet pukulan seperti itu bukanlah apa-apa, Luhan menangis. "Ini tetap saja membuatku marah hiks" tangan kiri Luhan meremat kaos Chanyeol dibagian dadanya dengan tangan yang lebih gemetar menahan isakannya. "Ini hanya kecemburuan, jadi tinggalkan aku sendiri." Ucap Luhan lirih hampir seperti bisikan.
"Begitu ya.. Aku lega." Chanyeol tersenyum hangat menatap wajah Luhan yang meunduk. Dia membawa tangannya untuk mengusap kepala kekasihnya penuh sayang.
"Eh?" Luhan bertanya bingung, masih dengan air mata dipipinya dengan wajah memerah. Dia heran melihat Chanyeol yang tersenyum hangat kearahnya.
"Aku lega, Lu. Karena aku bisa membuatmu cemburu."
"Ya, karena aku sangat mencintaimu.." lirih Luhan. Chanyeol tersenyum lembut sambil terus mengusap kepala Luhan.
"Hm, aku tahu, Lu. Maafkan aku."
.
.
.
Sudah hampir 2 jam Krystal menunggu Chanyeol sambil terus melirik Chanyeol didalam minimarket yang sedang bekerja dengan sangat serius. Ketika dia melihat Chanyeol keluar dia pun segera menghampiri lelaki tinggi itu.
"Oppa! Chanyeol oppa."
"Krys? Sedang apa kau disini? Apa kau menungguku?" Tanya Chanyeol ketika melihat Krystal yang berjalan mendekat.
"Tidak oppa, aku hanya kebetulan lewat sini" jawab Krystal dengan wajah polos.
"Hm, ini tidak baik. Cepatlah! Aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Chanyeol sambil berjalan melewati gadis SHS itu. Dia tahu tak mungkin gadis itu hanya kebetulan lewat, pasalnya ini sudah pukul 10 malam. Sangat tidak mungkin ada kegiatan siswa hingga larut seperti ini.
Krystal tersenyum senang dan tiba-tiba merangkul lengan Chanyeol membuat Chanyeol berjengit kaget.
"Y-yak! Jangan terlalu dekat." Dia hendak melepaskan rangkulan Krystal
"Jangan dilepaskan, oppa. Akan lebih aman kalau seperti ini, orang-orang akan mengira kau kekasihku sehingga tak berani mendekatiku." Chanyeol hanya menghela hafas lelah dan mulai berjalan, membiarkan adik tiri Baekhyun itu merapatkan dirinya dilengan kirinya.
"Oppa, apa Luhan baik-baik saja?"
"Dia sedikit marah. Semua gadis pasti seperti itu jika mengetahui kekasihnya menemui mantan kekasihnya." Jawab Chanyeol santai.
"Tapi oppa, apa kau benar-benar mencintainya? Maksudku si Luhan eonnie." Tanya Krystal sambil terus memandang kedepan. Mereka kini sedang melewati jalan gang sempit, karena jalan utama sedang ada perbaikan.
"Hm?"
"Karena yang kutahu kau sangat mencintai eonnieku." Kata Krystal sambil melepaskan rangkulan pada lengan Chanyeol. Dia berlari agak jauh kemudian bersandar di dinding pagar salah satu rumah yang ada di gang itu.
"Dia menolakku!" sahut Chanyeol sedikit keras dan menyusul Krystal. "Akan aneh dan menakutkan jika aku terus saja memaksa dia untuk kembali bersamaku."
"Begitu ya.. Lalu? Kenapa harus Luhan eonnie? Menurutku dia sama sekali bukan tipemu."
"Itu .. Hm, yah. Dia ceria … dan juga manis." Entah kenapa suara Chanyeol sedikit menjadi pelan ketika menjawab pertanyaan Krystal ini.
"Dia hanyalah gadis yang selalu berada didekatmu. Apa mungkin oppa hanya memanfaatkannya?" Tanya Krystal dengan seringaiannya.
"Memanfaatkan?"
"Ne." Krystal kini sudah mulai berjalan lagi. "Luhan eonnie terlihat terlalu ceria, dan sembrono." Dia melirik Chanyeol sejenak lalu melanjutkan "Dia sangat tidak cocok denganmu, oppa." Terdengar kekehan meremehkan diakhir kalimatnya. Chanyeol yang tak terima Luhan direndahkan langsung menarik bahu Krystal dan mendesak punggung gadis itu ditembok. Dia menunduk dan menatap tajam gadis didepannya.
"Cukup nona Jung! Kau sudah keterlaluan." Geram Chanyeol, dia mendekatkan wajahnya, mencoba mengintimidasi gadis belia dideppannya yang hanya balas menatapnya datar dan sesekali menyeringai. "Kau tak tahu dan tak mengenal Luhan. Luhan adalah kekasihku. Kami benar-benar bahagia ketika kami bersama."
"Bodoh." Ucap Krystal dengan nada datar. Matanya menatap tepat di manic hitam milik Chanyeol. Telapak tangan kanannya memegang dada kiri Chanyeol. Merabanya dengan gerakan yang cukup menggoda. "Aku pun bisa membuatmu lebih senang lagi oppa. Jauh lebih senang dari pada kau bersama dengan Luhan." Tangan Krystal beralih keperut datar Chanyeol. Dia menggerakkan telunjuknya secara abstrak.
Chanyeol mendekatkan wajahnya lagi, hidung mereka nyaris bersentuhan. "Apa katamu?" ucap Chanyeol dengan suara low-bassnya.
"Aku tahu kau takut oppa. Kau takut jika kau akan goyah ketika senang bersamaku. Karena kau takut menyadari bahwa kau tak mencintai gadis itu." Ucap Krystal datar sambil menyeringai puas. "Kau takut mencoba oppa."
"Aku tak takut!" bentak Chanyeol "Baiklah silahkan coba."
"Benarkah?" gadis muda itu mengangkat sebelah alisnya meremehkan. "Kalau begitu, karena besok libur, kenapa kita tidak pergi bersama ke suatu tempat, oppa?"
"Oke. Aku akan membawamu ketempat yang kau mau."
.
.
.
Luhan terus tersenyum menatap majalah travel disebelahnya. Kini dia sedang menatap buku agendanya. Dia telah meng-list barang bawaan yang harus disiapkan serta rencana perjalanan untuknya dan Chanyeol.
Tak jauh dari tempatnya, salah satu dari 3 tangkai bunga tulipnya telah layu.
.
.
.
'Meski aku disisinya, dia merasa jauh.
Siluet diwajahnya itu …
Aku benci diriku …
Karena tak bisa mencampakkan,
Semua kenangan berhargaku.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks to :
[Whey.K]
[Parkyeolliecy61]
[Yousee]
Makasih ya sudah berkenan mereview di chapter ini, aku merasa semangat dan dihargai.
Sorry for typos.
Review please?
Bunny^^
