Previous Chapter

"Bodoh." Ucap Krystal dengan nada datar. Matanya menatap tepat di manic hitam milik Chanyeol. Telapak tangan kanannya memegang dada kiri Chanyeol. Merabanya dengan gerakan yang cukup menggoda. "Aku pun bisa membuatmu lebih senang lagi oppa. Jauh lebih senang dari pada kau bersama dengan Luhan." Tangan Krystal beralih keperut datar Chanyeol. Dia menggerakkan telunjuknya secara abstrak.

Chanyeol mendekatkan wajahnya lagi, hidung mereka nyaris bersentuhan. "Apa katamu?" ucap Chanyeol dengan suara low-bassnya.

"Aku tahu kau takut oppa. Kau takut jika kau akan goyah ketika senang bersamaku. Karena kau takut menyadari bahwa kau tak mencintai gadis itu." Ucap Krystal datar sambil menyeringai puas. "Kau takut mencoba oppa."

"Aku tak takut!" bentak Chanyeol "Baiklah silahkan coba."

"Benarkah?" gadis muda itu mengangkat sebelah alisnya meremehkan. "Kalau begitu, karena besok libur, kenapa kita tidak pergi bersama ke suatu tempat, oppa?"

"Oke. Aku akan membawamu ketempat yang kau mau."

.

.

.

Chanyeol menutup kedua mata bulatnya, menarik nafas dan menahannya selama beberapa detik lalu menghembuskannya dengan sangat pelan. Kegiatan yang mirip dengan teknik pernafasan yoga itu telh dilakukannya selama beberapa menit yang lalu. Setelah lelah mondar mandir didepan pintu flatnya dan pintu flat kekasihnya –Luhan- kini pemuda dengan tinggi diatas rata-rata itu menyandarkan tubuhnya kepintu flatnya sendiri.

CKLEK

Chanyeol sedikit terlonjak dan membuka cepat kedua matanya. Jantungnya semakin berpacu kencang melihat kekasihnya keluar dari pintu flatnya. Luhan tersenyum hangat, namun Chanyeol yang sedang gugup malah lupa membalas senyum manis dari wanita dihadapannya itu. Luhan berpakaian cukup santai pagi itu, hanya kaos hitam ketat serta celana yoga berwarna merah muda, rambutnya dikuncir asal sehingga membuat beberapa helai anak rambut halusnya jatuh dengan apik didahi dan pipi putihnya. Hal itu bukannya membuat dia terlihat berantakan, namun malah membuatnya terlihat cute sekaligus seksi.

"Chanyeol?" sapa Luhan riang sambil mengunci pintu flatnya. Chanyeol melangkah mendekat sambill berdehem pelan, karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa sangat kering.

"Hei, Lu. Kau akan latihan?" tanyanya basa basi, padahal tanpa bertanya pun dia sudah tahu Luhan akan pergi berolahraga dengan melihat pakaian yang dikenakan gadis itu.

"Uhuh." Luhan mengangguk kecil, setelah mengunci pintu flatnya dengan benar, dia lalu melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Chanyeol. "Tumben sekali kau bangun sepagi ini dihari libur Chan."

"Ah, itu …" Chanyeol sedikit ragu untuk mengatakan alasan dia bangun sepagi ini kepada Luhan.

"Ada apa, Chan?" Tanya Luhan bingung.

"Aku bermaksud memberitahumu sesuatu."

"Uhuh. Lalu?"

"Itu … Sebenarnya hari ini aku bermaksud untuk pergi ke Lotte World dengan Krystal." Lanjut Chanyeol pelan sambil melirik kearah lain. "Jadi, aku ingin memberitahumu, agar-"

"Maksudmu kau akan berkencan?" potong Luhan sambil berjalan kehadapan Chanyeol yang kini sedang menatap arah lain, ingin melihat mata kekasihnya.

"Bu-bukan begitu!" Chanyeol buru-buru menyangkal dan langsung menatap mata kekasihnya, berusaha meyakinkan bahwa dia melakukan ini bukan untuk berkencan. Chanyeol menghela nafasnya sebelum melanjutkan lagi ucapannya "Yah… Aku memiliki alasan khusus mengapa aku pergi dengannya." Luhan menatap Chanyeol dengan wajah bingung. "Baiklah, sepertinya kubatalkan saja."

"Kenapa kau tak pergi saja?" Luhan menunduk, lalu dia mengangkat wajahnya dengan senyum cerianya. "Kau kan sudah berjanji padanya? Tapi! Sebagai gantinya kau harus membelikanku gantungan ponsel nantinya!" lanjutnya dengan wajah berpura-pura galaknya, beberapa detik kemudian dia bersorak nyaring "Assa! Aku akan mendapatkan gantungan ponsel limited edition Lotte World! Bentuknya yang kucing memakai baju belang-belang, ya?" pintanya sambil menunjukkan mata rusanya yang berbinar. Chanyeol dibuatnya heran setengah mati.

.

.

.

Chanyeol terus saja menatap layar ponselnya –yang berlatar belakang fotonya dengan Luhan- mengecek waktu, karena sudah hampir setengah jam Krystal terlambat dari waktu yang mereka tentukan. Chanyeol bersandar didinding depan stasiun kereta bawah tanah, tempat mereka berjanji akan bertemu sebelum berangkat ke Lotte World bersama.

"Dia terlambat …" gumam Chanyeol sedikit kesal lalu mematikan layar ponselnya. Dia melihat kekiri dan kanan mencoba menemukan tanda-tanda kedatangan gadis SHS itu. Tapi tatapannya terpaku kepada objek yang berdiri 6 langkah dari tempatnya berdiri, matanya membulat dengan jantung yang nyaris berdetak. Disana, tak jauh darinya Baekhyun berdiri tegak dengan mata dan tangan yang tertuju ke ponselnya.

Merasa ada yang memperhatikan, Baekhyun menolehkan kepala kekiri dan kekanan. Persis yang dilakukan dan dirasakan oleh Chanyeol, dia terkejut setengah mati dengan matanya membulat lucu ketika manangkap wajah familiar beridiri tak jauh darinya.

.

.

.

"Saat ini aku hanya mencintai Luhan." Itulah yang aku pikirkan saat itu.

.

.

.

Main Cast :

Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun (girl)

Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort

Rate : T (dapat berubah sewaktu-waktu bila dibutuhkan)

.

.

.

A Town Where You Live

.

.

.

Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.

Mengapa saya tidak merubahnya?

Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.

.

.

Happy Reading ~

.

.

.

Chanyeol, masih dengan keterkejutannya berlari kecil untuk menghampiri Baekhyun.

"Baek?"

"Eoh Chanyeol? Kupikir aku salah orang, ternyata itu kau." Sapa Baekhyun balik dengan eyesmilenya. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Eh? Aku juga ingin menanyakan itu padamu." Sejak pertemuan terakhir mereka malam itu, hubungan mereka kini jauh lebih baik. Bahkan mereka sudah berbicara santai seperti dulu. Meskipun, kadang mereka merasakan getaran aneh dihati mereka, mereka hanya berusaha mengabaikan perasaan kecil itu.

"Oh, aku hanya sedang menunggu seseorang." Jawab Baekhyun kalem.

"Benarkah? Kalau begitu kita sama. Aku juga sedang menunggu orang." Sambung Chanyeol sambil menggaruk kepalanya bingung.

Setelah itu mereka memutuskan untuk menghentikan percakapan dan berdiri diam menunggu kerabat masing-masing sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Kalau sampai Krystal datang sekarang, aku tak tahu masalah apa yang akan terjadi. Baekhyun sepertinya tidak tahu kalau aku sedang menunggu Krystal." batin Chanyeol sambil melirik gadis disebelahnya, yang mana membuat Baekhyun ikut menolehkan wajahnya kesamping.

"Huh? Ada apa Chan?" Chanyeol berdehem ringan sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun

"Itu, apakan Krystal mengatakan sesuatu padamu?"

"Soal apa?"

"Ah, tidak apa-apa." Sahut Chanyeol. Baekhyun tersenyum manis sambil menatap langit.

"Tidak apa-apa, Chan. Hubunganku dengannya sudah tak seburuk dulu."

"Begitu ya.."

BIP

Ponsel keduanya berdering bersamaan, membuat mereka saling memberi tatapan heran sekaligus takjub. Mereka langsung berdehem kecil sebelum memutuskan untuk membuka pesan masing-masing.

From : Krys :)

Maafkan aku, aku ada urusan penting mendadak dan tak bisa datang. Maafkan aku!

Tiketnya sudah terlanjur terbeli, agar tak rugi pergi saja dengan orang yang ada disebelahmu^^

Baekhyun mengerutkan alisnya bingung. Dia melirik Chanyeol yang juga kini sedang menatapnya kaget.

From : Krystal Jung

Maafkan aku, aku ada urusan penting mendadak dan tak bisa datang. Maafkan aku!

Tiketnya sudah terlanjur terbeli, agar tak rugi pergi saja dengan orang yang ada disebelahmu^^

"Jangan-jangan-" Chanyeol melirik ponsel Baekhyun yang juga bertuliskan nama kontak Krystal.

"Apa Chanyeol juga sedang menunggu Krystal?" potong Baekhyun cepat karena dia tak sanggup menyembunyikan rasa penasaran dan bingungnya.

"Eoh.." jawab Chanyeol pelan. Baekhyun menunjukkan layar ponselnya kepada Chanyeol agar isi pesan adik tirinya itu bisa dibaca oleh lelaki didepannya. Chanyeol sempat terkejut sebentar lalu dia menghela nafasnya berat, isi pesan mereka berdua sama.

"Aku juga sedang menunggunya, tapi sekaraang dia malah menyuruhku pergi duluan."

"Ah, aku juga. Hahh, sepertinya ini sudah diatur olehnya."

"Aish, padahal ini pertama kalinya dia mengajakku pergi bersama jadi aku berangkat dengan penuh semangat." Rajuk Baekhyun dengan bibir mengerucut sambil menatap 2 buah tiket ditangan mungil berjari lentiknya. Chanyeol berusaha menahan diri untuk tidak menggigit bibir mungil gadis didepannya itu jadi dia membuang arah pandangnya kedepan.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanyanya kalem.

"Lakukan? Kita?" Tanya Baekhyun polos sambil mendongak menatap Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya.

"Iya, kita. Maksudku, kita tidak bisa pergi bersama.." gumam Chanyeol masih dengan menatap lurus kedepan. Kata-kata Chanyeol membuat Baekhyun paham dan gadis itu segera menundukkan kepalanya lalu tersenyum.

"Kau benar. Sekarang Chanyeol sudah punya pacar." Ucapnya lirih.

Lalu suasana diantara mereka menjadi hening selama beberapa detik. Chanyeol menoleh kesamping, menatap wajah mungil Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Baekhyun yang merasa ditatap akhirnya mengangkat wajahnya dan seketika tatapan mereka bertemu. 2 pasang mata hitam itu berpandangan selama beberapa detik, tak ada satupun kata yang terlontar dari bibir mereka berdua tapi tatapan mata mereka seolah berusaha menjelaskan apa yang mereka rasakan jauh didalam hati dua insan ini. Baekhyun tersenyum lembut akhirnya yang mana membuat Chanyeol tak tahan untuk membalas senyum itu tak kalah hangat.

"Ayo pulang" sahut Baekhyun kemudian.

"Heum.."

Baekhyun berjalan duluan sambil melambai kearah Chanyeol yang masih berada diujung garis penyeberangan jalan depan stasiun 3 langkah dibelakangnya.

"Setelah ini aku akan memarahi Krystal agar dia tak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi." Seru Baekhyun nyeris berteriak dengan suara yang berapi-api.

"Ya! Aku serahkankan padamu!" sahut Chanyeol tak kalah berapi-api namun terselip nada geli didalam suaranya. Baekhyun tersenyum lagi lalu melanjutkan langkahnya. Chanyeol menatap punggung sempit milik Baekhyun yang kini sudah berada 5 langkah didepannya. Ada sesuatu dari lubuk hatinya yang paling dalam yang menyuruhkan untuk menghentikan Baekhyun saat itu juga.

"Ah aku lupa, aku harus pergi ke Lotte World untuk membeli gantungan ponsel limited edition.." ucap Chanyeol entah pada siapa dengan suara yang sedikit keras. Baekhyun yang mendengar kata-kata Chanyeol dengan sangat jelas akhirnya membalikkan tubuhnya dan mendapati laki-laki itu tengah menatap kearah lain.

Chanyeol berdehem kecil lalu menatap Baekhyun dengan senyum 'harap maklum' "Ah, sepertinya kita harus tetap pergi.." Baekhyun tak bisa menyembunyikan raut bingungnya "Setelah membelinya kita akan langsung pulang." Tambah Chanyeol lagi setelah melihat wajah bingung Baekhyun yang sangat menggemaskan.

Mata puppy Baekhyun berbinar sesaat, namun kembali meredup ketika memikirkan status Chanyeol saat ini "Tapi.." melihat itu Chanyeol jadi merasa bersalah.

"B-baek, tapi, jika kau keberatan kit-"

"Tidak apa-apa, aku juga ingin melihat sesuatu disana" potong Baekhyun reflek. Sadar dia terlihat terlalu bersemangat, dia langsung menundukkan wajahnya yang kini merona lembut. Hal yang tak jauh berbeda juga tergambar jelas diwajah Chanyeol.

"Baiklah, klau begitu ayo kita pergi."

Sementara itu, tanpa mereka sadari ada sesosok gadis remaja yang sedari tadi menatap mereka dari lantai 2 sebuah restoran. Dia melirik ponselnya yang kini sedang menampilkan aplikasi pesan lalu dia tersenyum puas. Dia mengambil ice coffeenya dan menyesapnya minuman itu dengan nikmat.

"Yah, berjalan dengan sangat lancar. Silahkan nikmati kencan kalian berdua yang telah lama kalian nantikan.." gumamnya lirih sambil terus menatap dua orang yang kini mulai menjauh dari pandangannya. Senyum puas terukir jelas dibibirnya.

.

.

.

Chanyeol dan Baekhyun berjalan berdampingan cukup dekat. Sesekali Chanyeol akan melirik gadis disebelahnya dengan tatapan lembutnya.

Dia kembali teringat sewaktu masih di Busan, pernah mereka berjalan berdampingan seperti ini pada sore hari sepulang sekolah. Diperjalanan, tangan kiri Chanyeol kerap kali bersentuhan dengan lengan kanan Baekhyun. Jantung keduanya berdebar dengan sangat kencang, hingga puncaknya Chanyeol berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menggenggam telapak tangan gadis disebelahnya. Baekhyun tersentak kaget dengan skinship tiba-tiba itu namun dia tak dapat memungkiri ada perasaan hangat dan nyaman yang menyelimuti hatinya, dengan wajah yang tertunduk malu Baekhyun memberanikan diri membalas genggaman itu tak kalah erat.

Mereka berjalan dalam diam dan tak saling menatap, hari yang sudah sore membuat suasana semakin hangat dan manis. Anehnya, mereka menikmati kediaman itu yang terasa sangat nyaman. Tanpa kata, hanya deru nafas dan suara langkah kaki yang seirama itulah yang terdengar. Genggaman itu terasa sangat pas dan tak akan terpisahkan. Setidaknya, tulah yang mereka pikirkan dulu sebelum semuanya berubah.

.

.

.

"Bagaimana oppa? Kurasa kau sangat senang dan pasti melupakan Luhanmu kan?" suara Krystal mendayu menggoda pria diseberang sana yang sedang berbicara dengannya lewat ponsel. Dia berbaring terlentang sambil menopang dagunya serta kakinya yang bergerak memukul pelan sofa empuknya. "Apa tidak apa kalau aku menganggap ini sebuah kemenangan?"

Disisi lain, Chanyeol yang tengah berjalan menuju flatnya hanya memutar matanya kesal mendengar celoteh adik tiri gadis yang baru saja 'berkencan' dengannya.

"Sebenarnya aku kecewa."

"Hah? Kecewa kenapa?" Tanya Krystal tak terima.

"Aku berfikir kita akn berkencan dan melewati waktu yang menyenangkan bersama, jadi tadi aku sangat senang menantikannya." Ucapnya setengah bercanda.

"Oppa bicara apa sih? Dasar pembohong. Ini tidak lucu oppa." Ucapnya ketus, namun tak dapat dipungkiri dia sedikit merasa tersipu dengan perkataan Chanyeol terbukti dengan munculnya rona samar di pipi mulusnya.

"Yah, sepertinya tantangan ini tidak sah." Sahut Chanyeol lagi.

"Heum, tapi bagaimana kencannya dengan eonnie oppa? Apa kalian berpegangan tangan?" godanya. Krystal tetaplah Krystal. Gadis dengan sejuta pemikiran dan tingkah yang tak terduga. Membuat Chanyeol menghentikan langkahnya sebentar.

"K-kau pikir aku akan melakukan hal itu dengannya?" tanyanya sedikit ketus. "Sudahlah, aku harus pergi bekerja. Sampai jumpa."

PIP

"Eh, tungg- oppa! Hah dasar."

.

.

.

"Terimakasih atas kunjungannya. Silahkan datang kembali." Itulah yang selalu Chanyeol ucapkan sambil membungkuk setiap kali pembeli selesai membayar dkasir.

KRING

Bel minimarket itu berbunyi tanda baru saja ada orang masuk. Chanyeol segera berbalik hendak menyapa si pembeli sebelum melihat siapa yang yang datang.

"Krystal?"

"Hai oppa! Selamat malam." sapa Krystal riang sambil menunjukkan senyum 'polosnya'. Chanyeol ingin membalas sapaan gadis tapi urung mengingat apa yang gadis itu sudah lakukan padanya hari ini. Wajahnya berubah datar mengingat hal itu.

"Yak. Lain kali jangan bertindak semaumu begitu. Hal bodoh apa itu membuat kami berada disituasi yang canggung dan tidak mengenakkan." Semprot Chanyeol begitu Krystal sampai didepannya dengan cengiran liciknya.

"Ah~ maafkan aku oppa. Baiklah baiklah aku takkan mengulanginya lagi. Tapi kau juga menyukainya kan oppa?" suara Krystal ia buat sepolos dan seimut mungkin, berbeda dengan kalimat per kalimat yang dia ucapkan yang sangat mencerminkan betapa dia menikmati apa yang sudah dia lakukan. "Apa itu? Membelikan gantungan limited edition? Aku tak percaya eonnie percaya begitu saja. Tinggal bilang yang sejujurnya kalian masih ingin bersama kan lebih mudah."

"Apa maksudmu itu, hah?" Tanya Chanyeol ketus, membuat Krystal memasang wajah ketakutan palsunya sambil mempoutkan bibirnya cerrynya.

"Oppa ini tidak bisa dipercaya. Aku tahu, kalau saja kita pergi bersama pasti oppa akan selalu memandang kearah dada dan bokongku ini kan?" tuduh Krystal dengan wajah cemberutnya –ingat itu hanya acting-

"Bicara apa kau ini?! Ya ampun gadis macam apa kau ini.." ucap Chanyeol sambil memijit pelipisnya.

"Oppa oppa" panggil Krystal menyuruh Chanyeol mendekat. "Ini hanya antara kita berdua, oke?" tambahnya lagi sambil berbisik, kini wajah Chanyeol sudah sangat dekat dengannya.

"Ada apa?" balas Chanyeol tak kalah lirih.

"Sebenarnya aku tak memaki bra." Ujar Krystal datar. Sontak Chanyeol menjauhkan wajahnya dengan nafas tercekat dan tanpa sadar tatapannya berjalan menuju dada gadis didepannya membuat si gadis menyeringai "Tapi kalau itu oppa aku tak keberatan menunjukkannya." Ucapnya sampil menarik turun perlahan kerah bulat kaosnya.

"Y-y yak! Gadis bo-" ucapan Chanyeol terhenti ketika Krystal tertawa dengan sangat keras.

"Hahaha. Ya ampun oppa, aku tak mungkin aku melakukannya, menjijikkan. Hahaha. Matamu Ya Tuhan, mereka bergerak dengan cepat. Tubuhmu sangat jujur, oppa."

"Aku tidak bermaksud begitu!" lenyap sudah perasaan terkejut Chanyeol berganti dengan kesal. "Pulang sana! Kau mengganggu pekerjaanku." Bentakkan Chanyeol itu membuat Krystal berhenti tertawa dan mendesis kesal.

"Baiklah baiklah aku mengerti, astaga. Semua responmu sangat membosankan. Dah oppa! Aku akan pulang." Tapi sesampainya didepan pintu Krystal kembali berbalik dan menatap Chanyeol yang juga menatap kearahnya. "Tapi, oppa memang benar-benar tidak bisa dipecaya."

"Ap-"

"Karena, kau berencana memberikan gantungan kunci yang kau beli dengan mantan kekasihmu untuk kekasihmu yang sekarang seolah-olah tidak ada yang terjadi, 'kan?" Krystal berhenti sejenak lalu memperlihatkan smirknya sebelum melanjutkan kalimat yang berhasil menohok hati Chanyeol dengan sangat dalam "Kau sungguh jahat, oppa." Krystal kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Chanyeol dengan matanya yang membulat besar "Yah, kau tak perlu khawatir. Aku bukanlah orang yang mengadukan hal konyol semacam itu kepada Luhan."

Kalimat terakhir Krystal tidak membuat hati Chanyeol menjadi lega. Justru ia merasa semakin menjadi orang terjahat didunia. Dia memandang sendu kearah gantungan ponsel kecil yang telah ia belikan untuk Luhan.

.

.

.

"Woah! Kucing belang! Terimakasih, Chan!" Luhan bersorak gembira didepan pintu flatnya ketika menemukan sang kekasih datang dengan membawa barang pesanannya. "Terimakasih karena sudah ingat untuk membelikanku ini."

"Ya, bukan masalah." Chanyeol tersenyum.

"Oh iya, bagaimana Krystal-ssi?" pertanyaan spontan Luhan membuat Chanyeol gugup seketika.

"O-oh dia sangat aktif, dia terus saja berceloteh dan memintaku berkeliling menemaninya mencoba berbagai macam wahana." Sahut Chanyeol seadanya. "Aku sangat lelah dibuatnya" bohong Chanyeol.

"Begitu ya, pasti sangat sulit untukmu." Sahut Luhan prihatin.

"Yah, begitulah.."

"Oh iya Chan, masuklah. Aku ingin membahas soal liburan kita nanti. Ayo."

"Ok, baiklah." Chanyeol masuk dan menutup pintunya. Dia menatap sendu punggung Luhan yang sedang berjalan penuh semangat kedalah flatnya. Senyuman diwajah Chanyeol luntur seketika.

'Andaikan saja aku pergi sendiri saja siang tadi..' batinnya.

"Ya ya, coba kau lihat. Bagaimana dengan ini? Bagus tidak?" Tanya Luhan sambil menunjukkan gambar majalah yang dipegangnya. Kini mereka berdua sedang duduk berdampingan di lantai tengan flat Luhan mereka bersandar ke tempat tidur single milik si gadis. "Penginapan ini sangat murah, mereka menawarkan beberapa paket perjalanan yang mengasyikkan. Tempatnya juga bersih dan lumayan bagus. Jika kita pergi diminggu kedua agustus nan-, hei? Ada apa, Chan?" Luhan yang sedari tadi berceloteh banyak hal tiba-tiba terhenti ketika melihat tak ada tanggapan dari kekasihnya. Ya, Chanyeol memang sedari tadi hanya menjawab seadanya bahkan kadang tak menimpali apapun yang Luhan bicarakan. Luhan memutar tubuhnya menghadap Chanyeol dengan kaki bersila, gadis itu kemudian mendorong bahu kanan Chanyeol dengan cukup keras. Anehnya, Chanyeol malah terjatuh kekanan. Kepalanya mendarat tepat diselangkangan Luhan.

"Y-yak! P-park Chanyeol! Ap- apa yang kau lakukan?!" Luhan berteriak dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus. Dia dapat merasakan dengan jelas hidung mancung sang kekasih menggesek bibir vaginannya yang masih terbungkus hot pantsnya. Luhan berdehem kecil, sadar kalau dia terlalu over acting. "K-kalau k kau memang mau melakukannya setidaknya lakukan dengan sesuai urutannya.." cicit Luhan sangat lirih.

Luhan mencoba meluruskan kedua kakinya, tapi yang terjadi Chanyeol malah memeluk pahanya dan menggesekan wajahnya dengan halus di paha dalam Luhan. Gadis itu sadar ada yang tidak beres, dia lalu mencubit pelan pipi sang kekasih, dan dia sadar.

"Ah, dia tertidur.." astaga Luhan malu sekali dengan pemikiran kotor yang sempat merajainya. "Hah, seharusnya kau bilang kalau kau sangat lelah.." gumamnya sambil membenarkan posisi kepala Chanyeol agar lelaki itu lebih nyaman dan dia mulai mengelus rambut hitam legam itu.

Drrt Drrt Drrt

Dering panjang ponsel yang tergeletak di meja menjadi penanda ada telepon yang masuk. Luhan menatap datar ponsel itu sejenak sebelum meraih dan menjawab panggilan itu.

"Halo?"

.

.

.

Chanyeol dan Luhan sedang menikmati makan siang mereka di cafeteria kampus mereka. Chanyeol terus memperlihatkan wajah sumringahnya, lain hanya dengan Luhan. Gadis itu terlihat banyak diam sambil terus mengaduk minumannya. Chanyeol pikir gadis itu sedang marah dengannya karena dia terlelap tiba-tiba ditengah pembicaraan serius mereka berdua semalam.

"Lu? Apa kau marah soal semalam? Maafkan aku. Aku sangat lelah jadi tak bisa menahan kantuk. Apa kau sudah memutuskan kita akan kemana? Dan menginap dimana? Kita harus sesegera mungkin memesan tempatnya. Karena di musim liburan begini akan banyak reservasi dari orang-orang yang ingin berlibur." Ujar Chanyeol sedikit bersemangat berusaha menghibur Luhan yang masih tampak enggan berkomentar.

"Hey, Chan. Apa aku boleh bertanya?" ucap Luhan tanpa memalingkan wajahnya dari gelas minumannya.

"Hm?"

"Apa kau bersungguh-sungguh ingin berliur denganku? Apa kau juga senang pergi denganku? Kalau kau hanya ingin melakukannya untukku dan untuk menyenangkan aku. Sebaiknya kita tidak usah pergi.." pernyataan lirih Luhan barusan itu nyatanya membuat Chanyeol sedikit emosi.

BRAK

Chanyeol menggebrak sedikit keras meja mereka berdua, mengabaikan tatapan heran seisi cafeteria. Tak berbeda dengan Luhan, gadis itu juga terlihat santai saja.

"Apa maksudmu?! Tentu saja aku bersungguh-sungguh. Kau tidak lihat aku dengan semangat melakukan kerja part-time sampai kelelahan demi liburan kita! Kenapa kau malah berbicara seperti itu?!"

.

.

.

Chanyeol sedang menyusun sedikit demi sedikit susu kotak dilemari pendingin. Kalau diperhatikan sedari tadi pandangannya tidak fokus dan terlihat kosong. Yah, dia memang masih terpikir oleh sikap aneh Luhan hari ini. Gadis itu lebih irit bicara hari ini. Bahkan Chanyeol masih ingat dengan jelas wajah murung gadis itu di cafeteria tadi.

'Hah.. Ada apa dengan Luhan? Ah! Jangan-jangan Krystal memberitahukan kejadian siang kemarin kepada Luhan? Pasti. Tidak salah lagi.' Baatinnya.

"Permisi.." suara indah itu akhinya menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Dia segera berbalik dan matanya membulat lucu melihat sosok yang didepannya saat ini. Seorang gadis berambut panjang yang tengah tersenyum lebar kearahnya.

"Aku pikir tidak baik jika melamun sambil bekerja.."

"Baekhyun?" Chanyeol segera berdehem dan mealingkan wajahnya. "Bersisik" omelnya pelan membuat Baekhyun tertawa. Hubungan mereka nyaris kembali seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Baekhyun mendekat dan berjongkok disamping pemuda tinggi itu.

"Hei, Yeol. Maaf ya kemarin aku malah membawamu berputar sana sini, bukannya mengajakmu pulang. Hanya saja aku terlalu bersemangat, hihi." Ucapan polos beserta senyum bulan sabit itu, orang manapun pasti akan langsung luluh melihatnya. Termasuk Chanyeol. "Oh iya, bagaimana gantungan ponselnya? Apa kekasihmu menyukainya?"

"A-ah, ya.. dia bahkan melompat kesana kemari saking bahagianya."

"Begitu ya, syukurlah." Baekhyun bangkit dan kini dia berdiri disamping Chanyeol "Yeol, coba tebak. Liburan musim panas nanti Krystal mengatakan ingin ke Busan."

"Benarkah? Apa kalian akan berlibur di tempat wisata disana?" Tanya Chanyeol santai sambil terus bekerja.

"Tidak, kami akan pergi ke rumah Chanyeol." Jawab Baekhyun enteng. Namun tidak dengan Chanyeol. Lelaki itu langsung berdiri menghadap Baekhyun, membuat si gadis harus mendongakkan kepalanya.

"Jangan bercanda."

"Tidak, aku bersungguh-sungguh. Krystal ingin tahu rumahmu dan juga aku ingin sekalian mengunjungi paman dan bibi. Aku sudah lama tak bertemu mereka, aku ingin menemui mereka walau hanya sekededar mengucap salam."

"Ah, begitu.." Chanyeol tersenyum hangat. "Ayah dan ibu pasti akan sangat senang melihat kau dan Krystal akur. Tanggal berapa kau akan pergi?"

"Hm, tanggal 9 sepertinya."

"Tanggal 9 agustus nanti?"

"Ya, saat itu juga Universitas akan libur. Apa Chanyeol juga akan pulang?" Tnya Baekhyun berbinar. Chanyeol terdiam dan beru menjawab didetik ketiga.

"Tidak." Chanyeol tersenyum. "Aku akan pergi liburaan dengan kekasihku ditanggal yang sama."

"A-ah begitu ya.."

"Aku akan pergi ke pantai. Oleh karena itu aku melakukan kerja part-time ini. Untuk menambahi uang tabunganku agar bisa pergi berlibur sepuasnya."

"Begitu. Kalau begitu aku akan mengunjungi orangtua Chanyeol sendirian saja."

"Yah, nikmati waktumu.." ucap Chanyeol ceria.

"Hei, harusnya aku yang bilang begitu padamu. Kalau begitu sampai nanti." Baekhyun berbalik dan beranjak dari minimarket itu.

"Hm, sampai jumpa." Baekhyun tak membalas ucapan Chanyeol. Setelah punggung Baekhyun tak terlihat lagi, senyuman Chanyeol menghilang, entah kenapa dia sedikit merasa bersalah.

.

.

.

"Aku sungguh-sungguh minta maaf!"

Kini Chanyeol sedang duduk bersila didalam flat Chanyeol dengan Luhan yang membungkuk dalam dihadapannya.

"Punggung ibuku sudah lama sakit. Dan awal agustus nanti aku akan merawatnya karena beliau akan segera dioperasi, aku akan merawatnya di awal liburan sebelum kakak ku datang menggantikanku untuk merawat ibu.." suaranya makin kecil diakhir kalimatnya, ditambah lagi jidatnya yang sudah menyentuh lantai membuat suaranya makin teredam.

"A-ah, jadi ini penyebab kau murung seharian ini …" sahut Chanyeol sambil berusaha tersenyum maklum.

"Maaf!" Luhan langsung menegakkan tubuhnya, duduk dengan sangat manis seperti anak yang sedang diceramahi oleh ayahnya. "Aku tahu kau sangat menginginkan liburan ini. Bahkan kau sudah bekerja keras untuk mengumpulkan uangnya-"

"Tak perlu khawatir padaku, Lu. Keluarga memang yang harus diutamakan. Kita kan bisa pergi dilain waktu setelah keadaan mulai membaik." Ucapan tenang Chanyeol membuat Luhan semakin merasa bersalah, dia memilin lembut jari-jari mungilnya.

"Tapi, saat itu musim panas akan segera berakhir dan kita tidak akan bisa pergi kelaut.." ucapnya lirih. Air mata sudah mulai menggenak disudut mata rusanya. Membuat Chanyeol reflek mendekat dan membelai kepala gadisnya.

"Tak harus kepantai kan, Lu?" tanyanya lembut. Membuat Luhan mendongak, menanti terusan kalimat sang kekasih "Dimanapun, asal bersamamu, aku tak masalah.." ujarnya lembut disertai senyum tampannya yang bisa membuat siapapun meleleh. Luhan mengangguk patuh, menggeser duduknya dan menghapus air matanya.

"Hah, seperti yang kukira. Chanyeol memang orang yang sangat baik." Ungkapnya polos, membuat Chanyeol terkekeh pelan.

"Tak usah khawatirkan aku, berhati-hatilah dijalan."

"Hm, bukannya kau juga akan mengunjungi orang tuamu?"

"Eoh? Yah, aku memang ingin pulang.. Tapi-"

"Hei, bagaimana kalau kita pulang ke daerah kita di hari yang sama? Lalu kembali ke Seoul di hari yang sama?"

"Eh? Mengapa tiba-tiba?"

"I-itu.. Hanya saja, berangkat seorang diri lalu terpisah lama dengan Chanyeol, aku merasa tak sanggup.." ucapan Luhan sontak membuat Chanyeol tersipu sekaligus senang, gadis periang ini sedang dalam mode manjanya.

"Kau ini ada ada saja, Lu.."

"Eh? Apa aku mengatakan hal yang salah?" Tanya Luhan polos. Chanyeol hanya tersenyum lalu membawa tubuhnya mendekat kearah Luhan dan ikut bersandar di ranjang Yoora. Dengan gerakan halus dan wajah yang merona, si rusa kecil malah mendekati Chanyeol, dan ..

CUP

Kecupan malu-malu mendarat manis disudut kiri bibir tebal Chanyeol. Membuat Chanyeol menolehkan wajahnya kearah si pelaku yang kini sedang memandangnya dengan wajah yang memerah cantik.

"Sampai disini dulu, kita butuh proses dan kesabaran untuk melakukan hal yang lebih jauh.." ucapnya frontal, membuat Chanyeol gemas setengah mati. "Ah, aku maluu. Ini memalukan bukan? Mengatakan hal semacam ini? Hahaha."

"Ck, dasar. Kemari kau rusa nakal!" geram Chanyeol sambil mencekal tangan Luhan yang kini sudah bangkit nyaris berlari. Luhan baru akan berlari saat Chanyeol sudah berdiri siap menahan tangannya, lalu tanpa sengaja dia tersandung kakinya sendiri.

BRUK

"Akh/Eunghh"

Dua suara berbeda itu terdengar bersamaan dengan jatuhnya mereka berdua plus segelas teh yang terjatuh disamping mereka. Kini Luhan terbaring pasrah dibawah kungkungan lengan kokoh Chanyeol dengan wajah yang memerah. Untung saja reflek Chanyeol lumayan cepat sehingga dia tidak berakhir dengan menindih gadis di bawahnya tapi tetap saja posisi mereka yang bisa dibilang sangat intim itu sedikit membuat hawa menjadi panas.

Pandangan intens Chanyeol pada mata rusa Luhan membuat si gadis gelagapan, dia membuang tatapannya kekiri dan mendapati gelas kosong yang isinya sudah membasahi karpet.

"Kau harusnya lebih berhati-hati.." gumamnya lirih.

"Yeah, maaf.." bisik Chanyeol dengansuara low bassnya yang seksi.

"Ki-kita harus membersihkannya sebelum meresap lebih banyak, Chan.." suara Luhan pun semakin melemah nyaris mendesah. Tatapan intens Chanyeol terasa melemahkan syaraf tubuhnya. Dia berusaha menutupi belahan dadanya yang sedikit terlihat. Luhan memang hanya mengenakan hot pants dan tanktop tebal karena dia berencana akan segera tidur setelah berbincang dengan Chanyeol malam ini.

Gerakan halus Luhan yang berusaha menutupi belahan dadanya itu tak lepas dari pengamatan Chanyeol. Dia mengamati dengan intens tubuh gadis dibawahnya ini. Tanktop itu hanya menutupi sampai daerah pusarnya. Perut langsing nan kencang milik kekasihnya ini membuatnya hilang akal.

"Baiklah.." gumamnya menjawab perkataan Luhan. Matanya terus menatap manik rusa si gadis sementara tangan kirinya kini mulai mengelus pinggang sang gadis. Yang mana langsung membuat nafas Luhan tercekat serta tubuhnya menegang. Reaksi yang membuat Chanyeol semakin ingin melanjutkan kegiatannya. Tangannya sudah menyisip ke bawah tanktop Luhan, membelai naik, dan meloloskan desahan lirih dari gadis itu.

"Eunghh.. Jangan hanya berkata baiklahh.. Yoora eonnie akan mar-ahh… Mmh.." desahan diakhir kalimat Luhan itu adalah akibat dari elusan tangan Chanyeol yang mulai mengusap dada padatnya dari balik bra tipis Luhan. Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya.

"Katakan saja padanya aku akan membelikannya yang baru…" bisiknya tepat ditelinga Luhan yang kini mulai memerah Luhan dapat merasakan deru nafas Chanyeol yang mulai tersengal mengenai bulu matanya. "Karpet…"

"Akh.." desahan super feminim mengalun indah di telinga Chanyeol ketika dia mulai meremas pelan dada sang kekasih. "B-baiklah kalau begitu hh.." Luhan menutup matanya. Alisnya mengkerut merasakan sensasi asing ini, belum lagi bibir atasnya yang sudah bersentuhan sedikit dengan bibir tebal Chanyeol. Gerakan pelan yang dibuat Chanyeol malah menciptakan sensasi tersendiri buatnya, jantungnya berpacu semakin kencang, ada rasa gugup dan memabukkan diwaktu yang sama.

CKLEK

"Aku pulang! Apa kalian sudah makan? Chanyeollo ayo kita mak-"

Hening. Chanyeol –dengan tangan yang masih berada didada Luhan- terpaku, begitu pula dengan Luhan. Berbeda dengan Yoora yang menyeringai.

"Eh?!"

Yoora melangkah kembali kearah pintu lalu keluar dengan gerakan pelan saat akan menutup pintu.

"Maaf~ Maafkan aku anak-anak. Maaf sudah menggangu~"

CKLEK

"Noona/Eonnie!"

"Tunggu dulu noona!"

"Eonnieee! Kami tak berbuat yang aneh-aneh!"

.

.

.

Chanyeol sedang mencatat uang tabungannya, sementara Yoora sudah tertidur dengan sangat nyenyak disampingnya.

'Aku akan membawa seluruh uang tabunganku, dan sekarang kita tidak bisa pergi berlibur, jadi aku seridaknya harus membelikan sesuatu untuk Luhan. Sesuatu yang lebih bagus.'

Chanyeol tersentak, dia teringat sesuatu. Segera dia bangkit dan membuka nakas disamping meja belajarnya. Dia mengambil sebuah kotak beludru putih kecil dan membukanya. Sebuah kalung perak dengan bandul daun semanggi yang sekilas terlihat berdaun tiga, namun jika diperhatikan dengan teliti daun ketiga yang ada disebelah kanan merupakan dua helai daun yang saling bertindihan, sehingga sebenarnya itu adalah daun semanggi berdaun empat, dan ada sebuah permata hijau kecil ditengahnya penghubung antara daun dan batang kecil daun semanggi. Chanyeol memandang kalung itu dengan senyum miris.

'Benar, aku tak pernah memberikan ini pada Baekhyun. Saat dia kembali ke Seoul, dan kami berpisah. Aku membeli ini, dengan maksud untuk kuberikan padanya.'

Chanyeol berjalan mendekati tong sampah yang ada di dapur, hendak membuat kalung itu. Namun tak jadi.

'Entah kenapa aku tak bisa melakukannya. Membuang sesuatu dengan maksud untuk diberikan. Dengan ini, jika kuberikan padanya, apa yang kan terjadi?'

.

.

.

'Menjangkau dalam ragu dengan tangannya,

Saat itulah, angin bertiup, dan rumput bergoyang.'

.

.

.TBC.

.

.

Big Thanks To:

[Yousee]

Hei, btw makasih ya udah jadi yang paling rajin review mulai dari awal chapter, aku sangat menghargai itu. Krystal itu punya tujuannya sendiri, dia itu antagonis yang protagonist (?) hahaha

mungkin aja sih? Silahkan temukan sendiri jawabannya tak lama lagi kok^^

[parkyeolliecy61]

Maaf harus bikin kamu kecewa yaa *sigh*

[Realpcy614]

Iyaa ini udah lanjut, meskipun ngaret. Dan hai, selamat datang di ff ini. Semoga suka yaa^^

Review lagi?

.

.

.

Sorry for typos, no edit.

Cuma sekedar pemberitahuan ff ini bakalan tamat sekitar 3 chapter lagi, so review ya biar saya semangat untuk update, thanks.

Salam sayang, bunny.