Author's notes:

- Karakter hanya milik Masashi Kishimoto.

- Ditulis hanya untuk hiburan.

- Fanficcer tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari fanfiction ini.

- Alternate Universe setting out of character.

- Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family, Supernatural, Slice of Life, Tragedy, Mystery.

- Didedikasikan untuk event Flore 2016.


A Story of Fond Memories

.

.

.

Hidden Chapter

His Memories

.

.

.

"Mom! Mom!" Sai menjerit kesakitan seraya menekan dadanya.

"Oh my God! Sai!" Mrs. Shimura segera membawa Sai ke rumah sakit. Belakangan ini penyakit anak tunggalnya ini sering kambuh, hal ini membuatnya selalu siaga meski ia tidak bisa mencegah kepanikannya.

Ketika Sai sudah selesai diperiksa, ia terpejam dengan tenang di ranjang rumah sakit dengan bantuan alat pernapasan berupa selang yang dipasang di lubang hidungnya.

Dokter tua yang memeriksa Sai menatap Mrs. Shimura dengan sendu dan menjelaskan pada wanita itu tentang hasil pemeriksaannya dan meninggalkan Mrs. Shimura sendirian. Kala itu Mrs. Shimura tidak mampu mencegah air matanya. Lalu Mr. Shimura datang dengan tergesa-gesa.

"Bagaimana? Apa katanya?" tanya pria berwajah Asia itu.

Medeline Shimura hanya menggelengkan wajahnya sebagai jawaban. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya dan kepalanya terus saja tertunduk. Ia tidak mampu lagi mengontrol tangisannya sehingga ia terisak.

Mr. Shimura tampak sedih, ia memeluk istrinya dan mengusap punggungnya tanpa mengatakan apa pun.

Sementara itu, untuk sesaat Sai mengintip kedua orang tuanya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Sejak tadi ia memang tidak tertidur, hanya sedikit istirahat karena kelelahan. Tapi ketika mendengar suara tangis ibunya, ia segera bangkit.

Setelah beberapa saat mengamati mereka, Sai membalikan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di dinding. Sekarang umurnya sudah lima belas tahun, lalu digunakan untuk apa waktu yang ia habiskan selama lima belas tahun ini selain merepotkan orang tuanya?

Sai selalu saja begini, terkena serangan, masuk rumah sakit, kemudian orang tuanya bersedih di belakangnya dan tertawa di depannya. Kejadian seperti ini sering sekali terjadi sehingga ia berpikir bahwa ia tak ingin merepotkan dan membuat lebih banyak orang lain lagi merasa sedih. Kedua orang tuanya sudah lebih dari cukup.

Maka dari itu Sai sebisa mungkin tidak memiliki teman di sekolah terutama pacar dan ia tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler apa pun meski ia ingin. Kesehatannya jauh lebih penting dari mimpinya, ia tak ingin bertambah sakit hanya karena terlalu banyak kegiatan di sekolah. Alasannya: jika ia sakit orang tuanya akan sedih. Dan kesedihan orang tuanya lah yang paling ia takutkan di dunia ini.

.

.

.

Sai sedang duduk selonjoran di atas tempat tidurnya seraya membaca novel berjudul Hamlet karya William Shakespeare sampai ibunya mengetuk pintu lalu masuk ke kamarnya.

"Novel apa yang sedang kau baca Sai?" tanya ibu Sai seraya duduk di tepi tempat tidur Sai.

"Hamlet," jawab Sai seraya mengangkat novel dalam genggamannya.

Alis Mrs. Shimura terangkat. "Kau tidak hang out dengan teman-temanmu? Memangnya kau tidak bosan?"

Sai tersenyum. "Novel sudah cukup menghiburku, kok."

Ibunya tersenyum sendu. "Tapi bisakah aku memintamu menunda membaca itu?"

Sai mengangguk. "Ya, tentu."

"Nyalakan laptop-mu dan kunjungi situs ini." Wanita itu menjulurkan secarik kertas berisi tulisan kepada Sai.

"Apa isinya?" tanya Sai sambil membaca kertas mungil itu di tangannya.

"Kau akan tahu." Ibunya kemudian melangkah meninggalkan kamar Sai.

Tidak biasanya ibunya meminta Sai melakukan sesuatu, untuk itu Sai sangat penasaran. Ia bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju meja belajar, tempat laptop-nya tergeletak.

Sai mengunjungi situs yang ibunya minta, isinya adalah sebuah blog. Sai menopangkan dagunya di tangan. Desainnya bagus juga, pikirnya. Sai lalu mengamati daftar isi blog tersebut. Setelah ia perhatikan semua judulnya, ia menyimpulkan bahwa blog ini berisi kumpulan cerpen. Menilai dari judulnya, penulisnya tampak seperti seorang sastrawan.

Sai lalu mulai membaca cerpen yang paling pertama dipublikasikan. Cerpen berjudul Ambiguity Paradox. Saat pertama kali membaca, Sai langsung terpesona pada penulisnya sampai Sai terheran-heran kenapa nama penulisnya begitu asing? Mengapa ia belum pernah melihat penulisnya tampil di televisi?

Setelah membaca satu cerpennya, Sai semakin ketagihan membaca cerpen yang lainnya. Penulisnya benar-benar bertalenta menurut Sai. Ia menulis hampir semua genre yang ada, romance, mistery, horror, action, fantasy, angst, dan lain sebagainya. Tapi tetap saja romance yang mendominasi.

Tapi apa pun genre-nya, Sai tidak pernah berpikir cerpen-cerpen buatan cerpenis itu membosankan. Sejak membuka blog ini, Sai bahkan sama sekali lupa bahwa ia memiliki setumpuk novel yang belum dibaca.

Dari dua puluh enam cerpen yang sudah Sai baca selama beberapa hari, ia sampai pada cerpen kedua setelah terakhir yang di-post. Cerpen berjudul Trace. Sai sampai tersenyum-senyum sendiri dibuatnya saat membaca ending-nya yang begitu memukau. Lalu ia membaca cerpen terakhir yang berjudul Yellow Lantern.

Ceritanya klise sekali, satu-satunya cerita klise yang ditulis oleh pengarang. Cerita tentang seorang lelaki penyakitan yang berjuang melawan penyakitnya. Siapa pun yang mendengar temanya pasti langsung merasa mual. Tapi kita tidak menilai suatu cerita hanya dari satu aspek bukan?

Dari cara penulis menyampaikan pesannya membuat siapa pun yang membacanya akan menitikan air mata, bahkan bagi orang yang puluhan tahun tidak menangis sekalipun. Apalagi, Sai yang memiliki cerita yang sama dengan tokoh utama dalam cerpen tersebut.

Kata-kata penulis itu menyentuh hati Sai, memeluknya erat, menariknya keluar dan membawanya terbang melihat langit malam bertabur lentera kuning hingga ia menyadari kenyataan bahwa keindahan bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat paling gelap sekalipun. Bahkan ada sesuatu yang terlihat indah hanya di tempat yang gelap. Penulis itu pandai sekali mengibaratkan sesuatu.

Buka matamu lelaki lemah! Lentera kuning hanya akan terlihat indah di malam hari!

Seperti itulah penulis itu mengatakannya, berteriak tepat di telinga Sai sehingga ia menyadari bahwa hanya orang seperti dirinya lah yang mampu mengerti betapa kehidupan begitu berharga.

Sai menangis, tapi tersenyum.

Bisa dibilang, penulis itu telah menyelamatkan nyawa Sai. Mungkin bukan nyawa sebagai fisik, tapi psikis.

Sai terkejut mendapati dirinya merasakan suatu perasaan yang asing. Ia jatuh cinta pada penulisnya, ini pertama kalinya ia mencintai seseorang selain keluarganya. Dan konyolnya adalah: ia belum pernah bertemu dengannya bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya ataupun umurnya dan tidak tahu apa pun tentang dirinya.

Tapi, satu hal yang membuat Sai senang yaitu: penulisnya adalah orang Jepang ditambah lagi ia adalah seorang perempuan. Namanya Ino Yamanaka.

Saat ini Sai sadar bahwa inilah tujuan ibunya menyuruhnya membuka blog ini, agar Sai 'hidup' kembali. Setelahnya, Sai berlari menghampiri ibunya dan berterima kasih.

.

.

.

Sai tidak sabar menunggu hari ini, hari ini adalah hari pertamanya berlatih sebagai pemeran di ekskul teater. Sejak ia mengidap penyakit ini, ia tidak menyangka bahwa impiannya untuk berakting bisa terwujud. Sai menghela napas dengan tenang dan ia bisa melihat uap putih mengepul di depan hidung mancungnya.

Sai melangkah dengan santai di trotoar sampai netranya menangkap seorang gadis SMP yang menyeberang jalan seraya melamun. Gadis pirang itu belum sampai di ujung jalan saat traffic light berubah warna hingga para pengendara merasa kesal. Tapi gadis itu tampaknya tidak menggubrisnya. Sai berubah panik saat mengetahui ada sepeda motor yang tetap melajut tanpa peduli ada penyeberang jalan di sana.

Sai secara reflek berlari menghampiri gadis itu, meraih bahunya lalu mendorong tubuhnya sampai ke pematang jalan.

Setelah itu kesadaran Sai hampir hilang tetapi ia berusaha mengendalikan kesadarannya dan menahan sakitnya sebisa mungkin.

Sai menggertakkan giginya dan meringis akibat rasa sakit yang sangat luar biasa menyerang dadanya akibat ditindih oleh gadis itu. Ia bahkan nyaris tidak bisa bernapas.

"Bisakah… kau… bangun dari tubuhku?" tanya Sai dengan suara serak dan tertekan disertai ekspresi memohon. Sai sungguh tidak kuat menahan beban ini lebih lama lagi.

"Oh… I'm sorry."

Pandangan Sai tampak sedikit kabur jadi ia tidak bisa melihat ekspresi gadis itu dengan jelas. Sai berusaha bangkit dengan susah payah dan harus menahan sakit yang lebih hebat.

"You've saved my life! Maafkan aku karena melamun saat menyebrang jalan." Gadis SMP itu tampak merasa bersalah. "Karena aku kau jadi begini."

Sai mengatur napas dan berupaya berdiri meskipun postur tubuhnya agak bungkuk dan sebelah tangan memegangi dadanya yang malang. Tangannya yang sebelah lagi mengambil tas ranselnya yang terjatuh dan menyampirkannya di sebelah bahunya.

Sai memaksakan senyum dan mengabaikan sakitnya sejenak. "Tidak apa-apa, tubuhku bergerak sendiri. Yang tadi itu hampir saja, syukurlah kau selamat."

"Ayo kuantar ke rumah sakit!" Gadis di hadapannya tampak panik.

"Ah, itu tidak perlu," ujar Sai sambil berusaha menegakan tubuhnya meski sia-sia.

"Tapi…"

Sai menyela, berusaha menghindari perbincangan ini, "Sebentar lagi masuk sekolah, aku tidak ingin Mrs. Salt merebusku! Bye!" Sai kemudian bergegas lari dengan cepat menjauhi gadis itu meski ia tahu risiko yang akan ditimbulkannya. Dan bahkan ia mulai sesak sekarang.

Sai yakin, jika hal yang dilakukannya tadi akan dianggap sebagai tindakan heroik oleh para gadis. Tapi tidak untuknya, yang tadi itu nekat namanya. Namun, ia tidak menyesali refleknya ini sama sekali karena setidaknya sakitnya ini bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

Ino Yamanaka, kau bisa lihat? Sekarang aku sudah berubah, bukan? Kau bisa memastikan tulisanmu berhasil bukan? Kau harus bangga pada dirimu. Batin Sai.

.

.

.

"Hey, Sai! Aku yang mendapat peran menjadi Marius di sini! Tapi mengapa kau yang menyita perhatian penonton dariku?" kata, Nicholas dengan sedikit sebal.

Sai tertawa. "Bertanyalah pada penonton, jangan padaku."

"Nick! Kau sudah memiliki Charlotte! Atau kau mau kurebut dia darimu?!" ujar Christopher.

"Chris! Memangnya salah bila aku ingin populer juga?!"

Sai terkekeh. "Sudahlah, kalian berdua."

"Actually, Sai. Sebenarnya aku juga penasaran," Christopher menggaruk kepalanya, "apa yang membuatmu mampu menyedot perhatian sebanyak itu di panggung?"

"Yeah! Padahal kau tidak pernah bersikap manis di hadapan perempuan tapi mereka sungguh tergila-gila padamu!"

Sai mengangkat bahu. "I don't know."

"Woah! Wait! Apa kau gay?!" mata Nicholas terbuka lebar.

"Tentu saja tidak! Aku normal!" Sai berdecak. "Come on guys, kita tidak perlu membahas ini." Sai melirik arlojinya. "I have to go home now."

"Now?! Really?!" Christopher heran.

"No way! You're so bored, seriously!"

Sai terkekeh. "I'll see you guys later!" Sai meninggalkan kafeteria dan berjalan ke arah gerbang depan. Langkahnya terhenti ketika ia sampai di mading. Sai selalu menyempatkan waktu untuk membaca mading setiap lewat. Saat ini Sai tidak punya banyak waktu, jadi ia tidak bisa membaca semuanya.

Tapi, sebuah nama yang tertera di mading telah menyedot habis perhatian Sai. 'Ino Yamanaka', nama itu tercetak di selembar kertas yang berisi kesan dan pesan perwakilan peserta didik baru. Dan ada fotonya juga!

Ino Yamanaka bersekolah di sekolah yang sama dengannya! Apa Sai sedang bermimpi?!

Sai yakin bahwa tulisan ini adalah karya sang penulis yang telah menyelamatkannya itu. Walaupun mungkin saja di dunia ini ada orang lain yang memiliki nama yang sama, tapi tak mungkin ada seseorang yang memiliki gaya penulisan yang persis. Walaupun jika ia tidak mencantumkan namanya di sana sekalipun, Sai tetap akan langsung tahu bahwa penulisnya adalah Ino Yamanaka.

Dan saat Sai memandang foto itu lebih jeli, hati Sai merasa bahwa gadis ini tidak asing. Rambut pirang dikuncir ekor kuda dan mata biru langit itu… Sai memijat pelipisnya sejenak. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis itu!

You've saved my life!

Jantung Sai berpacu lebih cepat. Seruan itu tiba-tiba terngiang di kepala Sai. Benar juga! Gadis itu! Gadis yang pernah Sai tolong tahun lalu. Dada Sai mendadak panas. Jadi selama ini Sai sudah pernah bertemu dengan idolanya?

Sai menunduk dan menghela napas. Ia harusnya merasa senang bertemu dangan penulis itu bukan? Seharusnya Sai menghampiri gadis itu dan mengajaknya bicara bukan? Seharusnya Sai bertanya padanya kapan akan mempublikasikan cerpen selanjunya bukan?

Wajah Sai murung dan ia menggeleng pelan. Walaupun Ino sudah membuat Sai lebih menikmati hidupnya, berani bergabung dalam ekstrakulikuler dan mendapat banyak teman. Tetapi tetap saja Ino tidak akan bisa membuatnya bicara dengan para gadis, terutama dirinya.

Sai tidak ingin dicintai oleh terlalu banyak orang, keluarga dan teman lelakinya sudah sangat lebih dari cukup, bila ditambah dengan perempuan atau pacar. Sai sudah bisa membayangkan berapa banyak air mata yang akan mereka keluarkan jika ia mati nanti.

Untuk itu, Sai menjadi satu-satunya lelaki yang tampaknya membenci gadis di sekolah. Sai adalah orang yang pandai bersandiwara dan menyampul perasaan dan ekspresinya dengan sangat sempurna sehingga ia bisa dengan mudah membuat para gadis membenci perangainya. Tapi anehnya, tetap saja ada segelintir perempuan yang tetap mengaguminya namun Sai tidak peduli selama gadis tidak benar-benar dekat dengannya.

.

.

.

Sai merapikan dasi yang melingkari kemejanya dan mengancingkan jasnya. Ia menghela napas berat. Saat ini Sai tak tahu harus bersedih atau gembira. Prom night akan berlangsung malam ini dan artinya malam ini akan jadi cerita terakhir masa SMA yang ia miliki. Dan artinya ia tak akan bertemu Ino lagi.

Sai tersenyum miris meratapi hidupnya yang pilu. Bahkan sampai saat terakhir pun Sai masih tidak mengajak Ino bicara, ia hanya menghabiskan waktunya dengan memandangi Ino dari kejauhan. Gadis itu berkilauan, enerjik, ceria, populer, dan indah. Ia seperti permata di musim panas. Sedangkan Sai hanya sebuah batu di malam hari.

Tetapi tak apa, hanya dengan bisa bersekolah dengannya dan tidak mengalami serangan di sekolah sudah membuat Sai sangat bersyukur.

Sai mengemudi Scirocco-nya dengan santai dan menjemput Jamie. Ya, mau tidak mau Sai harus tetap memiliki pasangan prom night, bila tidak, Sai yakin ia akan dikerubungi para gadis dan tak bisa menikmati malam terakhirnya.

Jamie adalah gadis populer dan gadis itu sudah tiga kali mengajak Sai kencan, namun selalu Sai tolak, kau sudah tahu alasannya. Selama prom night berlangsung, Sai sama sekali tidak menikmatinya. Ia berdansa, makan malam dan mengobrol. Tepatnya, Sai melakukan itu hanya dengan Jamie, gadis itu menguasainya sehingga Sai tidak bisa berbicara dengan teman sekelasnya maupun temannya dari klub teater.

Saat berdansa, Sai sama sekali tidak memandang lawan dansanya, matanya sibuk menatap sekitar karena bosan. Ketika itu lah Sai mendapati Ino berdiri sendirian di luar lantai dansa. Sai hanya berani menatapnya sekilas, takut Ino menyadari Sai menatapnya.

Karena itu, Sai menghabiskan prom night-nya dengan perasaan cemas sekaligus penasaran. Kenapa Ino hanya berdiri di sana sendirian? Untuk apa ia melakukan itu?

Pertanyaan Sai terjawab saat prom night selesai. Jawaban yang tak pernah Sai duga, sekaligus jawaban atas mimpi buruknya selama ini.

"Excuse me!" Gadis itu memanggilnya dari belakang! Seorang Ino Yamanaka memanggil seorang Sai Shimura!

Sai mengontrol ekpresinya lalu menoleh dan menyahut dengan suara ketus, "Apa?" Dalam drama dunia nyata ini, Sai bersandiwara untuk menjadi tokoh antagonis, hal ini ia lakukan untuk kebaikan orang-orang di sekelilingnya, tidak terkecuali Ino Yamanaka.

"A-ano…"

Gadis itu bicara dengan Bahasa Jepang, entah kenapa Sai sedikit terkesan, tetapi tetap saja hal itu tak memengaruhi ekspresinya. "Cepatlah bicara." Meskipun Sai tampak kesal, sesungguhnya Sai menahan diri agar jantungnya yang malang ini tidak meledak. Penyakitnya sudah sangat cukup membuat jantung Sai sering berdetak lebih kencang dibanding jantung normal, dan Sai tak ingin faktor eksternal memperparahnya. Sehingga Sai sangat tidak bisa menunggu gadis itu bicara.

"Kau pasti tidak mengingatku, ya? Kau dulu pernah menolongku di"

Tentu saja aku mengingatmu, Ino! Tetapi Sai tidak pernah melupakan perannya, ia tetap bertingkah seolah tidak pernah mengenal Ino. "Aku sama sekali tidak mengingat bahwa aku pernah menolongmu," sela Sai masih dengan nada yang sama.

"Berkencanlah denganku!"

Ino menatap Sai langsung ke matanya sehingga Sai kesulitan bernapas. Dan jawaban dari gadis itu telah sukses membuat dada Sai semakin sakit. Penuturan dari Ino adalah kalimat paling mengejutkan di dunia. Tidak pernah muncul sedetik pun di benak Sai bahwa Ino akan mengajaknya kencan seperti ini, dan dengan keadaan Sai yang seperti ini, ia tak pernah bermimpi atau bahkan sekedar berharap Ino akan mengajaknya kencan.

Tidak! Ini mimpi buruk! Bila Sai menghindari seluruh gadis di sekolah agar gadis itu tidak merasa sedih karena kepergian Sai, maka Ino akan menjadi gadis pertama yang harus Sai hindari, karena… Ino lah satu-satunya gadis yang Sai cintai. Jadi, ia masih terlalu waras untuk menerima ajakan kencan gila itu.

Namun Sai bersyukur karena di saat sulit seperti ini pun, Sai masih bisa bersandiwara dengan sangat baik. "Apa?!"

Suara Ino melunak, "Mungkin dengan pergi bersamaku, kau akan mengingatnya lagi. Kau bebas memilih tempatnya, aku akan membuatkan canelé untukmu karena saat itu aku belum sempat mengatakan terima kasih. Kuharap kau mau menerimaku."

Wajah sedih Ino membuat perasaan Sai semakin sakit, tetapi ia tetap yakin dengan keputusannya sehingga kini ia lebih sibuk memikirkan kata yang cocok untuk membuat Ino membenci sosok dirinya.

"Kau cantik, cerdas, populer, semua orang mengangumimu. But you know what? Aku bukan bagian dari mereka. See? Sama sekali tidak ada kekaguman dariku untukmu, kau adalah gadis terakhir di muka bumi ini yang ingin kukencani. Kau mungkin berpikir kau sempurna, tapi jangan harap hal itu membuatmu berpikir untuk bisa mendapatkanku!"

Ino tampak terkejut.

Bagus, Ino! Tetaplah begitu, bencilah aku dengan sepenuh hatimu!

Ino menunduk. "Kau…" kemudian wajahnya terangkat dan kembali menatap Sai dengan amarah, "Kau tidak pantas mengatakan itu karena kau tidak tahu apa-apa tentang diriku! Aku menyesal telah menjadi orang bodoh dengan selama ini menyimpan perasaan untukmu!" Ino melangkahkan kakinya meninggalkan Sai. "Mulai saat ini aku akan selalu merasa muak setiap kali mengingat namamu!"

Ino kemudian pergi meninggalkan Sai dan Sai sangat bersyukur karenanya. Sekarang ia tidak perlu bersandiwara lagi, ia merogoh sakunya dan bersyukur karena obatnya tidak ia tinggalkan di rumah. Ia kemudian bergegas ke mobil, mengambil sebotol air putih dan menelan beberapa pil.

Napasnnya sedikit sesak sehingga ia menurunkan jok mobilnya, melonggarkan kerah kemeja serta membuka beberapa kancingnya dan menurunkan kaca jendela. Dan ia sangat beruntung karena Jamie diantar oleh Theo sehingga ia memiliki waktu untuk memperbaiki kondisi tubuhnya sebelum menyetir pulang.

.

.

.

Di penghujung musim gugur, suhu di London lebih rendah dibanding tahun lalu. Nampaknya musim dingin kali ini akan jauh lebih dingin. Kebanyakan orang mengeluh menghadapi berita yang disampaikan acara ramalan cuaca nasional di televisi pagi ini.

Tetapi bagi orang-orang berkepribadian yang aneh seperti Sai malah menyukai kenyataan ini. Sai suka musim dingin dan ia senang mendapati salju akan turun tahun ini. Sai suka memandangi bunga salju putih yang tampak suci itu secara perlahan mencium tanah. Dan ia tak punya alasan untuk menyukai itu. Baginya, London tampak indah bila diselimuti salju.

Sai berjalan menyusuri jalan yang ditutupi daun kering di St. James' Park. Tempat ini adalah tempat favorit Sai untuk menenangkan diri. Dan bagi Sai, waktu paling tepat untuk mengunjungi tempat ini adalah di penghujung musim gugur sampai musim dingin.

Karena saat itu lah St. Jame's Park memamerkan sisi seninya yang unik dengan pohon berdaun kering yang indah di musim gugur dan salju yang menyelip di sela ranting pohon saat musim dingin.

Dan ditambah lagi, Sai bisa menguasai taman ini sendirian. St. Jame's Park ramai dikunjungi hanya pada musim semi dan musim panas.

Sambil terus melangkah, Sai membalas chat dari ibunya yang baru mau pergi ke Australia untuk urusan kantor. Melalui pesan ini ibunya mengingatkan Sai untuk tidak lupa minum obat dan Sai mengiyakan. Tetapi kenyataannya ia meninggalkan obatnya di kamarnya.

Pandangan Sai mengabur sehingga ia memutuskan untuk duduk di bangku taman meski ia mendapati seseorang duduk di sana, tidak biasanya ada orang yang mengunjungi taman ini di cuaca seperti ini, namun Sai tidak repot-repot memikirkannya. Sai semakin pusing dan pandangannya semakin tidak jelas namun ia tetap memaksakan diri untuk membalas pesan singkat dari ibunya.

Setelah pesan dari Sai terkirim, dengan samar ia bisa mendengar suara seorang gadis bicara, namun bukan dengan bahasa yang umum digunakan di Landon, Jepang? Sai tak tahu, kelima panca indranya perlahan mulai lumpuh.

Sai memandangi seorang gadis di sampingnya, tetapi Sai tidak dapat melihatnya dengan jelas. Ia hampir kehabisan napas dan dadanya terasa sakit sampai pandangan Sai gelap dan keseimbangan tubuhnya lenyap beserta kesadarannya.

.

.

.

Walaupun terasa begitu berat, Sai memaksakan dirinya untuk mengangkat kelopak matanya dengan kepala yang sangat pusing. Butuh beberapa waktu bagi Sai untuk memperbaiki kualitas pengelihatannya. Suasana ini… Sai merasa sangat familiar, bau obat, cat dinding putih, dan tirai kelabu. Suasana rumah sakit, yang sangat Sai benci.

Tapi rasanya kali ini berbeda… ruangan mencekam ini terasa lebih hangat. Ketika Sai menggerakkaan tangannya yang diinfus, ia menyentuh kulit seseorang yang halus dan lembut. Demi Tuhan, Sai terkejut.

Untuk mengobati rasa penasarannya, Sai memaksa tubuhnya bangkit dari posisi berbaring. Walaupun membuat tangannya sakit, Sai memaksakan dirinya dan yang didapatinya kemudian membuat keterkejutan Sai bertambah.

Ino Yamanaka tertidur di ranjang yang Sai duduki! Sai mengatur napas dan mengelus dada dan menyebut nama Tuhan seraya memejamkan mata, kemudian membuka mata dan menatap Ino lagi.

Ya Tuhan! Bahkan setelah Sai mengatur napas dan menyebut nama Tuhan saja wajah Ino masih bisa Sai lihat! Astaga, apa ini berarti Ino sungguh-sungguh bersamanya?!

Di satu sisi, Sai senang karena bisa bertemu dengan Ino lagi, Sai sangat merindukan Ino ditambah lagi gadis itu sudah berhenti mempublikasikan cerpennya sehingga Sai semakin merindukannya. Tapi di sisi yang lain, Sai tak bisa menjalin hubungan apapun dengan Ino sehingga saat ini Sai tengah memikirkan bagaimana seharusnya ia bersikap saat Ino bangun nanti.

Beberapa menit berselang, Ino bangun dari tidurnya seraya mengucek matanya dan mengerang. Saat itu Sai sudah bersiap dengan perannya.

"Bisa kau jelaskan kenapa aku bisa bersamamu di tempat ini?" Sai memasang ekspresi yang ketus.

"Kau kutemukan pingsan di St. James' Park, jadi kubawa kau ke mari."

"Okay, interesting. Terima kasih sudah menolongku, sekarang kau bisa pergi," ucap Sai dengan suara menusuk dan ekspresi tak acuh. Padahal dalam hati ia merasa sangat menyesali kejadian itu, betapa bodohnya ia membiarkan dirinya pingsan dan merepotkan Ino!

"Sai, I can't—"

Sai menyela, "Kau bilang kau akan selalu muak setiap kali mengingat namaku, bukan? Dan aku, aku muak setiap kali mengingat wajahmu! Jadi bisakah kau lekas pergi?"

"Please forgive me."

"Jangan salah paham! Aku membencimu bukan karena kata-katamu saat itu! Tapi aku membencimu karena kau memang pantas dibenci!"

Sai mendapati Ino melirik semangkuk oat di meja nakas dan hatinya mulai panik. Whoa! Jangan! Jangan!

"Nampaknya sarapan datang saat aku terlelap, ya?" Ino meraih mangkuk itu lalu kembali bicara, "Apakah kau lapar? Kau butuh sarapa"

Sai menangkis mangkuk yang dipegang Ino. Lalu disusul suara keras, "Aku tidak butuh perhatian darimu!" Dalam hati Sai berharap Ino pergi dan tak pernah kembali karena kelakuannya yang menurutnya sangat berengsek ini.

Namun reaksi Ino selanjutnya membuat Sai terkejut. Ia hanya diam di tempat dan tampak shock tetapi tidak menangis ataupun berlari. Sai tahu Ino sangat sakit hati, tetapi gadis itu cukup kuat untuk menyimpan tangisannya.

Sai tidak tahan melihat Ino seperti ini, jadi ia kembali berkata, "Hei kau! Bisakah kau pergi?! Tinggalkan aku sendirian!"

Apa selanjutnya? Ino membersihkan beling di lantai! Astaga! Sai sampai tak habis pikir terbuat dari apa sebenarnya hati Ino itu?! Sai pikir yang ia lakukan tadi sudah keterlaluan, tetapi ternyata Ino masih kuat, Sai dibuat bingung karenanya.

"Apakah kau tuli?! Aku sudah katakan untuk pergi! Kenapa masih diam di situ?!"

Ino lalu berdiri. "Baiklah, aku akan pergi jika itu bisa membuatmu senang." Ketika ia bicara, barulah air matanya tumpah. Ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan dan lari meninggalkan ruangan itu.

Seperginya Ino, Sai bersyukur karena ia bisa kembali menjadi dirinya dan tak perlu menahan nyeri di jantungnya yang lemah ini. Sai mengalami sesak napas luar biasa pagi itu hingga ia dengan susah payah menekan tombol agar perawat segera datang.

.

.

.

Sai duduk bersedekap di ruang kosong berwarna putih dan dingin, tetapi terasa gelap. Dan Sai merasa sedih, sangat sedih entah kenapa. Ia ingin pergi dari tempat mengerikan ini. Ia sudah berlari sangat jauh namun ia tidak menemukan ujungnya sampai kelelahan dan menyerah.

Di tengah keputusasaannya yang menyiksa, Sai mendapati Ino tiba-tiba datang. Gadis itu tersenyum padanya dan melangkah lurus ke arahnya. Sai tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya saat itu. Sai bangun dari duduknya untuk menyambut kedatangan Ino.

Ino menyentuh pipi Sai dan tersenyum sementara Sai dengan senang hati membalas senyuman Ino, kemudian tanpa diduga-duga, Ino mencium bibir Sai. Dan tak bisa dipungkiri Sai begitu menikmatinya.

Kemudian dengan ekspresi terkejut, Ino melepaskan ciumannya. "Ya Tuhan! Apa yang sudah kulakukan?!" Dan berlari menjauhinya. Sai tanpa berpikir berlari mengejar Ino dan menahan tangannya, "Jangan pergi, Ino!"

Ino membalikkan tubuhnya sehingga Sai bisa melihat ekspresi gadis itu.

"Kumohon, izinkan aku menjagamu," bisik Ino.

Sai memeluk Ino kemudian menjawab, "Biarkan aku yang akan menjagamu."

Mereka menghabiskan waktu yang panjang di dunia kosong itu bersama dan menciptakan warna mereka sendiri.

.

.

.

Sai membuka matanya dan sedikit terkejut. Lalu dengan perasaan konyol menepuk dahinya dengan telapak tangan. Ia bodoh sekali bermimpi Ino mencium bibirnya, astaga…

Kemudian Sai baru tersadar bahwa satu tangannya yang lain menyentuh rambut yang lurus dan lembut. Sai mengangkat kepalanya dan memastikan bahwa dugaannya benar.

Ino kembali lagi… sekarang semakin sulit bagi Sai untuk mencari cara agar Ino bisa pergi meninggalkannya tanpa pernah kembali.

Jika doa Sai kepada Tuhan agar penyakitnya sembuh ini tidak bisa dikabulkan, bolehkah Sai berharap Tuhan mengabulkan doanya sekali saja, doanya untuk Ino agar Ino bahagia dengan lelaki lain dengan tidak ada Sai di dalamnya? Apakah doa itu terlalu sulit untuk dikabulkan?

Secara perlahan Sai mendapati oksigen semakin sulit memasuki tubuhnya dan ia terlalu lelah untuk menarik napas lebih keras. Kemudian, seperti yang biasa ia alami, dadanya terasa sangat sakit sampai ia tidak bisa menahannya.

Kumohon, jangan sekarang… jantungku… bertahanlah, jangan sampai membuat Ino bangun.

Usaha Sai sia-sia, ia tetap tidak bisa menahan rasa sakitnya dan terus terbatuk. Setelahnya, hal yang Sai takutkan terjadi, Ino terbangun dan Sai bisa merasakan tangan gadis itu menyentuh bahunya.

"Sai, astaga!"

Ino menekan tombol untuk memanggil perawat. Ino mengusap punggung Sai dan berkata, "Tenang Sai."

Mata Sai bergerak menatap Ino, Sai sungguh menyesal bahwa di saat-saat seperti ini Sai harus pasrah untuk menjadi dirinya.

"Pelan-pelan saja, tarik napas lewat hidung, lalu keluarkan lewat mulut."

Penyakit ini menyiksa Sai sehingga mau tidak mau ia harus mengikuti instruksi Ino meski seharusnya tidak ia lakukan.

"Ulangi lagi, perlahan."

Sai memejamkan mata untuk menenangkan diri dan kembali mengatur napas seperti perintah Ino. Kemudian tubuhnya lemas dan ia bisa kembali bernapas walaupun masih tersisa sedikit sesak.

Tak lama, perawat mendesak masuk dan Ino dimohon keluar ruangan.

.

.

.

Sai memandangi langit-langit rumah sakit dengan sendu. Ia sibuk dengan batinnya sendiri sampai Ino membuka pintu dan melangkah ke arahnya.

"Apa maksudmu datang kemari lagi?!" suaranya keras.

"Aku hanya"

Sai menyadari bibir Ino bergetar, tetapi walaupun tak tega, Sai tetap harus melakukan ini. "Apa yang harus kukatakan agar kau mengerti?! Apa kau ingin membunuhku?! Melihatmu di sini membuatku sakit!"

Ino menunduk, "Selama ini… aku selalu mencintaimu, memperhatikanmu dari kejauhan." Ino menatap langsung ke mata Sai.

Hati Sai terkejut mendengar kata-kata Ino yang menghantam hati Sai. Ino mencintainya? Jadi, sejak kejadian di prom night, perasaan Ino masih sama? Astaga… Apa yang sebenarnya Ino lihat dari Sai? Di luar sana masih banyak sekali lelaki luar biasa yang bisa dengan mudah Ino tarik hatinya, kenapa harus Sai? Sai yang jelas-jelas hanya akan membuat Ino sedih dengan keadaan Sai yang seperti ini

Perkataan Ino itu membuat kepala Sai tidak mampu menemukan kalimat untuk menyela.

"Karena kau jauh, aku melewatkan banyak hal yang penting." Air mata Ino mengalir. "Maka dari itu… aku tak ingin jauh darimu lagi, aku tak ingin melewatkan apa pun lagi. Dan karena aku mencintaimu, aku yakin kehadiranku akan berguna bagimu."

Kau tidak mengerti Ino! Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu! Justru karena aku mencintaimu, kau harus pergi dariku! Aku tak ingin diriku membiarkanmu sedih!

Ingin sekali Sai mengatakan pada Ino langsung dari hatinya, tetapi karena alasan cinta lah Sai tak mengatakannya.

"Jadi, kumohon izinkan aku untuk selalu berada di sampingmu mulai sekarang!" Ino terisak. "Aku tidak peduli jika kau membenciku sekarang, tapi aku akan membuatmu setidaknya menyukai kehadiranku!"

Sai diam saja, ia hanya memandangi tangan kurusnya yang diinfus. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dengan sihirnya, Ino membekukan otak Sai.

Terdengar suara pintu diketuk, lalu datanglah suster sambil membawakan seporsi sarapan. Bagi Sai, itu membuatnya semakin canggung

"Wah, waktunya sarapan," ucap Ino dengan ceria seraya meraih sarapan itu setelah suster berlalu. "Ayo buka mulutmu," Ino melanjutkan sambil menyodorkan sesendok oat.

Disuapi Ino?! Tidak tidak! Itu mimpi buruk! Sai membuang wajah. "Aku bisa sendiri!" Ia merebut mangkuk dan sendok dari tangan Ino, kemudian mencoba mengangarahkan sendok itu ke mulutnya, tapi penyakitnya ini bereaksi di saat yang tidak tepat. Tangan Sai sakit sekali seperti habis digunakan untuk memecahkan batu. Ia tidak bisa mengangkat tangannya lebih tinggi sehingga sendok di genggamannya tidak bisa menyentuh mulutnya. Sai sibuk merutuki dirinya di dalam hati.

"Tidak usah memaksakan diri," kata Ino, lembut. Ia kemudian meraih mangkuk dan sendok itu dari tangan Sai dan memintanya membuka mulut untuk kedua kalinya.

Kali ini Sai pasrah, ia membiarkan Ino memasukkan makanan ke mulutnya. Wajah Sai yang pucat pun memerah. Dalam situasi sememalukan apapun, Sai tetap mengingat posisinya. "Kalau bukan karena kondisi tanganku, aku tidak akan pernah mau disuapi olehmu!" katanya setelah selesai mengunyah suapan pertama.

Ino tertawa. "Sudahlah! Jangan banyak bicara saat makan!" Ino menyumpal mulut Sai dengan makanan sebalum lelaki itu sempat bicara lagi.

Meski ekspresi Sai mengisyaratkan bahwa ia membenci Ino, hatinya sungguh takjub menatap wajah Ino. Namun seperti yang kita tahu, Sai pandai memalsukan emosi dalam wajahnya.

.

.

.

Sai mendengus. Setelah menatap wajah Ino untuk beberapa saat, ia memalingkan wajahnya menuju jendela dengan gorden terbuka. "Kupikir setelah kemarin kau pulang, kau tak akan kembali lagi."

Aku tahu kau akan datang lagi, karena kau sangat keras kepala!

Dengusan Sai dibalas tawa oleh Ino. "Tentu saja aku akan kembali! Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini? Kau pasti kesepian."

"Dan kehadiranmu itu membuatku muntah, lalu aku sama sekali tidak kesepian!" Kenyataannya, Sai tengah membenci dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia mulai merasa senang akan kehadiran Ino, perasaan yang semestinya tidak mampir di hati Sai.

Ino kembali tetawa. "Bercandamu lucu Sai."

Sai mengelak. "Aku tidak bercanda!" Ia melotot menuju Ino.

Ino menumpahkan sebagian isi kantung yang tadi dibawanya. "Lihat! Aku membawa beberapa novel!"

Sai mendengus pendek. Ino, rupanya kau sudah tahu cara menghadapiku. Dan berkatmu, aku kehabisan kata-kata.

"Yah, aku tidak tahu novel apa yang kau sukai. Jadi, aku membawa sebagian kecil novel yang ada di rumahku. Tapi jika kau sudah selesai membaca semua ini, aku berjanji akan membawakannya lagi."

Ino menunjukan novel yang cukup tebal. "A Tale of Two Cities ini salah satu favoritku!" Lalu menunjukan novel lain yang ia ambil dari kantung kainnya. "Dan ini Sense and Sensibility! Astaga, novel ini menarik sekali! Emosinya benar-benar mengalir! Dan aku sungguh-sungguh menyukai gaya Austen yang memberikan dua opsi ending!" Ino merogoh kantungnya lebih dalam, kemudian menunjukan novel yang lain lagi. "Lalu ini, The Convenient Marriage adalah novel"

Namun, sesenang apapun Sai akan kehadiran Ino, ia masih berikukuh dengan keputusan lamanya yang lebih mementingkan perasaan orang lain di atas perasaannya sendiri. "Astaga! Bisakah kau berhenti bicara?! Kau ini berisik sekali! Dan apa kau gila?! Aku tidak mungkin menghabiskan semua novel-novel itu!"

Tawa ranyah Ino tertangkap telinga Sai. "Kau kuizinkan bicara seperti itu jika kau sudah membaca minimal satu bab dari semua novel ini!"

Sai mencibir. "Aku tidak suka membaca novel-novel dari zaman purba seperti itu!" dalam hati, Sai sangat antusias dengan novel-novel itu.

Wajah Ino memerah kesal. "Berani-beraninya kau menghina karya sastra klasik!"

Sai mengangkat bahu dengan santainya, mencoba untuk terlihat sangat menjengkelkan. "Aku hanya mengatakan kenyataan."

"Kau pikir Les Misérables yang kau mainkan di SMA itu berasal karya sastra modern?!"

Sai tersenyum miring. "Setidaknya Les Misérables memiliki bumbu aksi yang tidak membosankan, bahkan menegangkan! Tidak seperti novel termehek-mehek yang kau sodorkan itu!"

Ino semakin sebal. "Kau tidak berhak bicara begitu karena kau belum membacatt—" lidah Ino tergigit, "ouch!"

"Astaga! Aku sudah tidak kuat menahan tawaku lagi!" Sai memegangi perutnya dan ia masih tertawa.

Sai tidak bisa menahan emosinya kali ini! Ia tertawa! Astaga! Bisa-bisanya ia tertawa! Dengan begini, image dirinya pada Ino pasti telah membaik! Tetapi memang ia berhak tertawa, ekspresi Ino lucu sekali sampai Sai ingin mencubitnya!

Dahi Ino terangkat heran dan memandang Sai dengan tatapan bertanya. "Tidak ada yang lucu di sini!"

"Kau seharusnya melihat ekspresimu saat lidahmu tergigit tadi!" Sai kembali tertawa. "Mungkin itu karena kau kualat sudah memarahiku."

Ino bersedekap kesal, namun Sai tahu gadis itu tidak serius. "Memangnya siapa di sini yang lebih sering marah-marah, hah?! Intinya, kau harus baca novel ini! Bila tidak membaca semuanya, paling tidak kau baca satu! Kau tahu bahuku hampir pendek sebelah karena membawa novel-novel ini?! Kau harus menghargainya!"

"Hei! Memangnya aku memintamu membawa itu semua?!"

Ino melotot dan berhasil membuat Sai menyerah lalu mendengus sebal. "Fine! Tapi berhentilah bicara!"

Ino tersenyum puas sementara Sai mengambil buku yang Ino sodorkan secara acak dan kemudian membukanya.

Padahal, jika Ino tahu bagaimana sifat Sai sebenarnya, Ino sama sekali tidak perlu memaksa. Sai akan membaca novel itu bahkan tanpa Ino minta. Sai adalah tipe orang yang tidak bisa membiarkan buku tergolek tidak dibaca dan ia sanggup membaca buku tebal di perpustakaan berjam-jam tanpa henti.

.

.

.

"Sai, kau sudah selesai membacanya?" tanya Ino saat duduk di kursi sebelah ranjang dan meletakkan tasnya di meja nakas saat melihat novel yang Ino pinjamkan tertutup dengan rapi di atas pangkuan Sai.

"Haruskah kau datang ke mari setiap hari?" Sai berbalik tanya seraya memindahkan channel televisi dengan remote yang ia pegang.

Semestinya Sai menanyakn hal itu dengan nada benci, namun kali ini ia bertanya dengan nada lemas yang terkesan malas. Ia sudah lelah, lelah bersandiwara menjadi seseorang yang bukan dirinya karena sekeras apapun Sai membentak Ino, Ino tetap akan bertahan pada pendiriannya.

Sai merasa tubuhnya semakin lemah beberapa hari ini, obat yang mengaliri tubuhnya tidak lagi terasa bekerja. Sai merasa percuma melakukan segala hal. Jadi, ia merasa sebaiknya ia menikmati waktunya yang tinggal sedikit ini. Walaupun hanya menghabiskan waktu di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang lemah, Sai tetap bahagia karena ia bersama Ino. Namun di sisi lain, ia tetap tak ingin Ino di sini karena Sai hanya akan membuat Ino sedih.

Saat ini adalah situasi terberat dalam hidup Sai, ia tak punya lagi tenaga untuk melindungi kebahagiaan Ino dengan mengusir gadis itu dari hidupnya. Dan di saat yang sama, penyakit ini semakin menyiksa Sai.

"Sudah kubilang untuk tidak menilai buku sebelum membacanya. Kau pasti sangat menyukainya sampai menghabiskannya dalam waktu satu hari."

Kalimat Ino membuat Sai kembali dari renungannya. Sai masih menolak untuk menatap Ino karena ia berusaha menyebunyikan ekspresinya yang kesakitan. "Aku mau membacanya karena…"

Alis Ino terangkat sebelah. "Karena?"

Sai mendesah gusar. "Karena bila tidak kulakukan, kau akan merengek berisik sekali." Karena aku suka membaca novel, terutama novel rekomendasi dari cerpenis sehebat dirimu. Tapi kuakui, cerpen buatanmu jauh berkualitas dari novel rekomendasimu itu.

"Ayolah Sai, berhentilah membenciku, oke? Apa kau tidak merasa lelah setelah berdebat denganku seharian?"

Aku tidak membencimu, Ino.

"Sai, kau harus makan." Ino meraih makanan itu dan membuka plastiknya.

"Aku tidak lapar."

"Sai, kau baik-baik saja?"

Aku tidak baik-baik saja, rasanya aku mau mati karena penyakit ini.

"Aku akan panggilkan dokter." Ino bangkit dari duduknya.

"Aku baik-baik saja," ucap Sai dengan suara serak. Ia hanya tak ingin dokter mengganggu waktunya dengan Ino. Sai yang semula duduk tegap di atas kasur, kini menyandarkan punggungnya ke bantal. "Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini, Ino." Begitu banyak hal yang ingin diucapkan Sai, tetapi hanya itu yang bisa ia katakan. Selain otaknya tidak mengizinkan, fisiknya juga terlalu lelah untuk bicara.

"Memangnya kenapa bila aku datang?" Ino kembali duduk di kursi bundar yang semula ia duduki.

Sai membuang muka, wajahnya ia hadapkan menuju jendela, tak sanggup memandang wajah Ino.

"Sai, ceritakan padaku."

Sai merasakan Ino menggenggam tangannya dan hal itu membuat hati Sai terasa perih. "Jangan membuat semuanya lebih sulit, Ino!" Dan untuk pertama kalinya setelah sejak lama, Sai menangis. Ino menyeka tangisan Sai dan ia ikut menangis.

Sai merasa tak ada harapan lagi baginya untuk bertahan hidup. Namun sesedih apapun Sai, tangisan Ino adalah hal terakhir yang ingin Sai lihat. "Jangan menangis."

Ino tiba-tiba memeluk Sai dan menangis di dada lelaki itu. "Sai…" suara Ino bergetar. "Menangislah, Sai! Aku tahu selama ini kau tidak menangis, jadi menangislah! Aku berjanji tidak akan melepaskan pelukanku sebelum kau berhenti menangis."

Ya Tuhan, apa yang harus Sai lakukan? Gadis ini sangat tulus mencintainya, dan gadis itu bahkan sabar menghadapi sifatnya yang jahat. Apakah Sai telah berdosa dengan menjahatinya meski untuk kebahagiannya? Lalu, bagaimana Sai menghadapi gadis ini selanjutnya mengingat ia begitu sabar mencintainya? Keputusan apa yang harus Sai ambil?

Kemudian, dengan cahaya Tuhan, tangan Sai yang lemah bergerak memeluk Ino tanpa pemiliknya sadari. Tuhan, katakan padaku bahwa aku tak salah ambil keputusan, bahwa aku ingin membiarkannya berada di sisiku, menemani saat-saat terakhirku. Dan tolong pastikan ia tetap bahagia meski aku akan pergi sebentar lagi.

Sai melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Terima kasih."

Ino membalas senyuman Sai. "Sama-sama."

Setelah beberapa saat, Ino berkata, "Sai, ini sudah lewat dari jam makan siang. Kau tidak mau melukai lambungmu, 'kan?"

Sai menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berselera." Kenyataannya, Sai merasa terlalu lemah untuk mengunyah makanan.

Ino menyendok makanan itu dan mengangkatnya. "Hanya sedikit saja." Wajah Ino memelas.

"Rasanya tidak enak."

"Kau tetap harus mengisi perutmu agar cepat sembuh."

"Aku tidak bisa sembuh."

"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!" Ino menyuapi Sai meski Sai belum mengiyakan.

"Tidak enak," keluhnya walaupun ia tetap mengunyah.

"Bersabarlah, makanan itu baik untukmu."

Setelah suapan yang kelima, Sai membekap mulutnya mengisyaratkan bahwa ia mau muntah. Sementara Ino dengan cekatan berlari ke kamar mandi dan mengambil baskom dari sana. Setelah Sai menerima baskomnya, ia memuntahkan makanannya dan batuk-batuk sementara Ino mengusap dan menepuk tengkuk Sai dengan lembut.

Ino mengambil segelas air hangat dan menyodorkannya pada Sai dan Sai meneguknya dengan tenang. Ino membantu Sai berbaring lalu mencuci baskom itu.

"Maaf merepotkanmu," kata Sai setelah Ino kembali dari kamar mandi. Sai semakin merasa hidupnya tak berguna, bahkan untuk orang yang ia cintai.

Ino menggenggam tangan Sai dan tak menjawab.

"Ino, kau pulanglah sebelum aku semakin merepotkanmu."

Ino mengangkat senyumannya. "Aku akan pulang jika keadaanmu sudah membaik."

Saat ini Sai benar-benar tak punya tenaga lagi sehingga ia membiarkan dirinya terlelap.

.

.

.

"Ino, sudah kubilang untuk tidak perlu datang ke mari setiap hari. Kau memangnya tidak kuliah?" tanya Sai begitu Ino datang di pagi hari.

"Tenang saja, Sai. Aku sedang libur kuliah dan tugas-tugas sudah kuselesaikan. Bagaimana keadaanmu?"

Sai batuk lalu menjawab dengan lemah, "Seperti biasa."

"Kau sudah makan sarapanmu?"

"Mereka tidak mau masuk ke tubuhku."

Ino menyodorkan sekotak makanan. "Aku membuatkan ini untukmu, kuharap ini tidak membuatmu mual."

Sai menerimanya lalu membuka kotak itu. Isinya adalah setumpuk sandwich. Meski Sai tidak tahu apa isi sandwich itu, tapi itu tampak lezat.

"Sini biar aku suapkan."

"Maaf merepotkan."

Ino menyuapi Sai. "Enak tidak?" Ino bertanya dalam keraguan.

Senyuman Sai terangkat di bibirnya. "Enak kok." Sejujurnya, sandwich ini jauh lebih enak dari sekedar 'enak kok'. Sandwich ini membuat Sai yang sudah lama lupa bagaimana rasanya makanan, kambali bisa merasakan makanan. Bukan makanan biasa, tetapi komposisi rasanya enak sekali seperti makanan bintang lima.

"Makanan apa yang kau suka, Ino?" ujar Sai di sela sarapannya.

"Fish and chips, kalau kau?"

"Sandwich."

Ino tertawa. "Jangan bercanda."

"Aku serius." Sai masih tersenyum sambil mengunyah sandwich dari Ino. Sebenarnya, ini pertama kalinya Sai memasukkan sandwich ke daftar makanan favoritnya. Dan mulai sekarang, sandwich berada di posisi pertama, khusus untuk sandwich buatan Ino, tentu saja.

Setelah sampai pada suapan terakhir, Ino mengeluarkan handphone dari tasnya. "Sai, ayo kita selfie."

"Kau tidak lihat penampilanku?" Sai memandangi pakaian yang dikenakannya, tangannya yang diinfus, dan menyentuh selang yang terpasang di hidungnya. "Aku tidak mau."

Ino mulai merajuk. "Ayolah Sai, sekali saja."

"Tidak mau." Sai tahu, jika mereka mengambil gambar sekarang, ia hanya akan terlihat sebagai sosok buruk rupa yang penyakitan.

"Kau tampan, Sai!"

Apakah Ino buta? Bagi Sai, tidak ada sedikitpun unsur tampan di wajahnya. "Tidak, aku jelek."

Ino mengangkat kameranya dan tersenyum ke arah kamera di atas layar. "Mau tidak mau kau harus tersenyum ke kamera, Sai."

Sai terkekeh, Ino benar-benar mengerti cara membuatnya mengikuti apa yang Ino mau. "Beginilah caramu memaksaku." Sai melepaskan selang yang terpasang di hidungnya. Dan akhirnya ia tersenyum menuju kamera dan setelah sekali Ino menyentuh layar, hasilnya segera mereka lihat.

"Penampilanmu sama sekali tidak buruk," ucap Ino seraya menunjukkan foto mereka barusan.

Sebelum Sai menjawab, ia membekap mulutnya dengan satu tangan dan membungkuk kemudian batuk sementara tangannya yang lain menekan dadanya. Ya Tuhan, Engkau boleh menyiksanya seberat dan kapanpun engkau mau, tetapi Sai mohon untuk tidak di hadapan Ino.

Ino seketika panik. "Sai! Biar kupanggilkan dokter!"

Suara batuk Sai mengisi ruangan di sana. "Tidak perlu, aku hanya kelelahan," jawab Sai setelah mengatur napas dan berbaring.

"Kau yakin tidak apa-apa?" Ino membantu Sai memasang alat bantu pernapasannya.

Sai tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

"Kau jangan membuatku takut."

"Takut aku mati?" Sai tertawa.

"Sai! Itu tidak lucu!" Ino mengerutkan dagunya dan melipat dahinya.

"Itu pasti akan terjadi." Lelaki itu tersenyum namun pandangannya tidak mengarah pada Ino. "Karena itu, sudah kubilang kau jangan datang menemaniku."

Kali ini Ino benar-benar marah. "Kau! Apa maksudmu mengatakan itu?!"

Ekspresi Sai terkejut, tetapi ia tetap diam membiarkan Ino berkata lebih lanjut.

"Apa kau tidak mengerti?! Kau pikir kenapa aku datang ke sini setiap hari?!"

Sai masih diam dan masih bertahan di tempat seraya menatap Ino dengan lekat.

Ino menangis, dan tetap berkata dengan suara keras, "Aku mencintaimu! Aku masih mencintaimu!" Ino menggigit bibirnya yang gemetaran. "Perasaanku tidak pernah berubah sejak hari di mana kau menyelamatkanku di jalan raya!" Tangan di kedua sisi tubuhnya mengepal kuat. "Perasaanku tidak pernah berubah sejak saat itu, kau tahu itu! Dan kau pikir aku mempermasalahkan penyakitmu?!"

Gadis berkuncir ekor kuda itu lari sementara si pemuda pucat hanya bergeming dan merenung. Ternyata benar dugaan Sai, Ino tidak mundur dari perasaannya. Gadis itu luar bisa dengan perasaan cintanya yang dahsyat.

Dan setelah apa yang Ino katakan dan lakukan untuk Sai selama ini, apakah Sai akan diam saja? Tentu saja tidak, meski Sai tampak seperti pengecut, kali ini Sai lebih mendengarkan apa yang hatinya katakan dibanding otaknya katakan. Sai memilih untuk memperjuangkan Ino untuk pertama kali dan sekaligus yang terakhir kali.

Sai menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi sebagian tubuhnya. Ia menurunkan kedua kakinya dari kasur, kemudian melepas infusnya dan alat bantu pernapasannya, membuatnya semakin sulit bernapas, tetapi tetap harus ia lakukan.

Katika ia memaksa tubuhnya berdiri kakinya yang harus menopang tubuhnya sedikit gemetar tak bertenaga, melihat kondisinya sekarang membuat Sai merindukan masa-masanya berlari dengan bebas dia atas panggung teater. Namun karena saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bersedih-sedih ria, Sai memaksakan langkahnya meski ia kelelahan setengah mati.

Sai keluar dari kamarnya dan menyusuri lorong rumah sakit, selama melangkah, ia harus menopangkan tubuhnya ke dinding untuk mendapat sedikit bantuan. Tak ia pedulikan paru-parunya yang kehabisan napas dan jantungnya yang berdetak sangat cepat, Sai meringis, ia bahkan tak pernah merasa jantungnya berpacu lebih cepat disbanding sekarang. Yang penting sekarang, ia harus sampai pada Ino sebelum jantungnya ini berhenti bekerja.

Sai melangkah mengelilingi rumah sakit dan semakin lama tubuhnya semakin lemah, tetapi itu ia jadikan sebagai peringatan agar bergerak lebih cepat sampai ia berpapasan dengan Dr. Mitchell.

"Shimura! Kanapa kau ada di sini?!" Pria itu terkejut dan cemas.

Sai mengerang, menekan dada kirinya dan sedikit menyeringai. "Apa dokter melihat Ino?" tanya Sai dengan suara parau.

"Yang lebih penting, aku harus mengambil kursi roda dan segera menanganimu."

"Aku tidak punya waktu lagi, aku harus menemukan Ino."

"Tapi"

Sai meringis kesakitan. "Kumohon, dokter. Ini permintaanku yang terakhir, waktuku tak banyak."

"Baiklah, tapi kau tunggu di sini dulu sementara aku mengambilkan kursi roda untukmu."

Sai menggelengkan kepalanya dan mencoba tersenyum walaupun ia masih tampak menahan nyeri. "Aku ingin berjuang dengan tenagaku sendiri, seperti yang selama ini Ino lakukan." Suaranya semakin serak.

"Okay, sepertinya aku melihat Miss Yamanaka di taman belakang."

Sai masih tersenyum. "Terima kasih, Dok." Ia kemudian kembali melangkah dengan tergesa meninggalkan sang dokter yang masih tampak cemas.

Dengan perjuangan menahan penyakitnya, pada akhirnya Sai sampai di taman rumah sakit itu dan Ino banar ada di sana. Sai tersenyum puas karena akhirnya ia bisa menemukan Ino.

Gadis itu panik. Ia segera berdiri dan berlari menghampiri Sai. "Apa yang kau lakukan di sini?! Ayo biarkan aku mengantarmu kembali ke kamar!" Ino menahan punggung Sai yang hampir ambruk dengan lengannya.

Sai menjawab lemah, "Aku mencarimu ke mana-mana."

"Sai, sepertinya kau sudah tidak kuat berjalan, ya?" Ino memapah Sai menuju bangku taman yang sedari tadi Ino duduki. "Aku akan memanggilkan dokter untukmu, kau tunggu di sini ya? Aku akan kembali secepat yang aku bisa," tutur Ino setelah memastikan Sai duduk dengan posisi yang benar.

Sai menahan Ino pergi, meski sebenarnya sulit baginya untuk sekedar mengangkat tangannya. "Kau akan meninggalkanku setelah aku bersusah payah mencarimu? Kau menyebalkan."

"Astaga, Sai! Ini bukan waktu bagi kita untuk bercanda."

Sai batuk-batuk dengan satu tangan menutup mulutnya sehingga ia tidak bisa menjawab. Ia tersengal-sengal, napasnya hampir habis. Dan dengan segenap semangat, ia masih bertahan.

"Bolehkah aku memintamu untuk bersamaku di sini sebentar lagi?"

"Iya, tapi sebentar saja, ya?"

Sai bersyukur Ino mengabulkan permintaannya, Sai mengangguk lemah lalu melepaskan pelukan dari Ino dan menyandarkan punggungnya ke punggung bangku. Lelaki itu kemudian menyandarkan kepalanya ke lengan Ino.

"Sai… kurasa kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan dariku."

Sai terkejut Ino menyadarinya. Ia mengembuskan napasnya yang tidak teratur dan dadanya semakin sakit seiring berjalannya waktu, ia tak berdaya, tenaga pada otot jantungnya hanya tersedia sedikit, tapi ia berusaha keras untuk berbicara dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Suatu saat… jika kau bahagia bersamaku… barulah saat itu aku akan mengungkap rahasiaku padamu," jawabnya pelan dengan sedikit terbata.

"Berjanjilah!"

Sai tahu, Ino tidak akan pernah merasa bahagia di sampingnya, jadi tidak ada gunanya Sai berjanji.

"Berjanjilah!"

Suara Ino semakin keras namun Sai tetap bergeming. "Berjanjilah, Sai!"

Sai terpaksa menjawab, "Ya, aku berjanji." Terkandung doa dalam ucapannya walupun Sai tahu tak ada harapan bagi doanya untuk menjadi nyata. Beberapa saat kemudian, seluruh tubuh Sai tak dapat ia gerakan dan rasa sakit menguasai dada hingga kepalanya. Namun di saat-saat terakhirnya ini, Sai bersyukur ia masih bisa menawarkan senyum yang natural sampai di penghujung napasnya.

.

.

.

The End

.

.

.


Author's note:

Sebenernya sih cerita di hidden chapter ini masih sama dengan cerita di chapter empat sampai enam, tapi ini pake sudut pandang Sai. Tujuannya sih cuma pengen memperjelas cerita aja, semoga gak ada yang kecewa. :D


Special thanks to:

Allah SWT,

Masashi Kishimoto, Flore 2016,

Ano hi Mita no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai, Dennis Hermawan, Utakata Hanabi,

fakesmileSai, Alfiannamaru, FloweRara, Blonde8-new, Arp Ji, Hoshi Riri, hijikatahan, Azzura yamanaka, Alwi arki, SaiIno Yamanaka Family, oyoy30, SasuKendy, Shigure Tsurugi, , talithauchiha, zielavienaz96, SHyouth, arisaarishima27narutouzumaki10,

and you.