Previous Chapter
"Channie, aku..." terdengar helaan nafas pelan Baekhyun seiring remasan tangannya yang semakin kencang, lalu dia mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol dalam, penuh perasaan. "Aku.. ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Channie."
"Sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku?" ulang Chanyeol sambil menatap wajah gadis mungil itu dengan kaget bercampur heran. Terlihat kekhawatiran, sedih, dan berbagai emosi tak terbaca yang terdapat pada mata bening Baekhyun yang membuat Chanyeol terdiam.
.
.
.
Chanyeol terus menatap gadis mungil disebelahnya yang masih terus memegang erat ujung kaos yang dipakai yang lebih tinggi. Sementara Baekhyun masih betah untuk menundukan kepalanya sambil mengulum bibir bawahnya, kebiasaanya ketika sedang bimbang atau gugup. Disisi lain, Krystal sedang menyalahkan kembang api batangan yang paling panjang sambil sesekali menertawakan Jongdae yang terlihat lesu.
"Baek?"
"Ah. I-itu.. Hm..."
"…"
WOOSH.
Kembang api yang tadi dinyalahkan Krystal kini sudah terbakar habis dan terlihat menghitam seluruhnya. Hal itu seolah menunjukkan batas waktu Baekhyun untuk berbicara. Dengan lesu gadis bertubuh mungil itu melepaskan genggamannya pada baju Chanyeol dan mendongak menatap Chanyeol sambil tersenyum. Hanya saja, bukan senyum bahagia yang dulu selalu dia tunjukkan.
"Hm, bukan apa-apa. Tidak terlalu penting." Mereka terdiam setelahnya dengan masih saling menatap. Tidak ada senyum atau ekspresi apapun di wajah Chanyeol. Dia hanya menatap Baekhyun dalam diam.
.
.
.
Main Cast :
Park Chan Yeol
Byun Baek Hyun (girl)
Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort
Rate : T (dapat berubah sewaktu-waktu bila dibutuhkan)
.
.
.
A Town Where You Live
.
.
.
Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.
Mengapa saya tidak merubahnya?
Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.
.
.
Happy Reading ~
.
.
.
"Yah! Cepatlah sedikit!" Chanyeol membalikkan badannya kebelakang sambil berteriak setengah jengkel kepada gadis yang kini sedang berlari kecil, bersusah payah menenteng hanboknya yang cukup tebal.
"Iya iya sabar. Bibi memakaikan aku hanbok, Chan." Ucapnya sambil terus melangkah mendekati Chanyeol.
"Bukan itu. Tapi dandananmu itulah yang membuat kau sangat lama."
"Wae wae wae?! Aku kan hanya berusaha semaksimal mungkin.." sungutnya. Chanyeol hanya menghela nafas lelah, namun dia tersenyum kecil saat melihat benda mungil yang menggantung indah di leher sampai pertengahan tulang selangka Baekhyun. Yah, itu adalah kalung pemberian darinya. Entah kenapa, hanya dengan melihat itu, dia merasakan desiran hangat di dadanya.
Mereka berdua kini tengah berada tempat acara festival musim panas diselenggarakan. Tenpat itu berada tepat di depan kuil desa. Yap, berdua.
Beberapa jam yang lalu …
"Hm.. Ok, baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan." Chanyeol sedang menerima telpon diteras samping rumahnya. Disampingnya ada Baekhyun yang baru saja menyelesaikan es krim stroberinya. Dia nampak serius mendengarkan percakapan Chanyeol dengan teman-temannya yang kini sedang berada diperjalanan.
"Apa Jongdae dan lainnya belum kembali dari pantai?" tanyanya pelan.
"Hm. Mereka terjebak macet di kota, jadi kemungkinan mereka akan tiba nanti malam. Sepertinya mereka tak akan ikut festival mala mini," Baekhyun yang mendengarnya langsung menghela nafas dan berbaring terlentang di samping Chanyeol.
"Hing~ sungguh?" dia terlihat sedikit lelah. Kesehatan nenek Chanyeol memang sering melemah akhir-akhir ini.
"Hm, ya. Kau tak perlu tinggal denganku, Baek. Kau juga tak usah khawatir dengan nenek, ada aku dan ibuku."
"Ah, tapi aku khawatir. Dia juga sudah kuanggap nenekku sendiri."
"Benarkah.."
"Iya, sungguh. Tapi syukurlah hanya demam musim panas.." gumam Baekhyun pelan sambil menerawang ke langit-langit rumah Chanyeol.
"Ya.. Kurasa begitu." Sahut Chanyeol sambil menatap hamparan bunga matahari yang tengah mekar didepannya. "Ah iya. Apa benar kau tak ingin pergi ke pantai dengan yang lainnya?" Baekhyun melirik Chanyeol sebentar dan tersenyum lebar.
"Tak apa, disini juga menyenangkan." Lalu dia berguling membelakangi Chanyeol. "Sudah lama aku tak melakukan hal seperti ini." Setelah beberapa menit terdiam dengan Chanyeol yang terus menatap punggung sempit Baekhyun, akhirnya yang lebih mungil bersuara. "Channie, aku ingin melihat kembang api.."
"Huh?"
"Ayo pergi ke festival itu berdu saja.." gumamnya masih membelakangi Chanyeol.
Sementara itu, ditempat lain terlihat Krystal yang sedikit bersungut-sungut gerah dengan kemacetan yang menjebak mereka berempat.
"Oppaa. Salip saja mobil yang didepan kita." Rengeknya.
"Jangan bercanda, Krys. Itu mustahil. Kita akan sampai nanti malam." Krystal langsung duduk dan menatap kesamping kanannya di mana yang ada hanyalah mobil yang sangat banyak.
"Apa selama itu …" gumamnya.
"Padahal aku sangat ingin menunjukkan festival itu pada Krystal.." sahut Kyungsoo sambil tersenyum lembut.
"Yeah, Baekhyun juga pasti sangat ingin melihatnya.." timpal Minseok.
"Hmff, dia pasti akan pergi berdua dengan Chanyeol oppa." Kyungsoo dan Minseok menengokkan kepalanya kearah Krystal. "Mereka pernah punya kenangan bersama tentang festival itu.."
.
.
.
"Woah. Cantiknyaa.." gumam Baekhyun dengan mata berbinar ketika melihat banyak balon kecil warna warni disalah satu stan pedagang yang ada difestival itu. Hari semakin malam, namun festival itu malah semakin ramai.
"Chanyeollie, kesini. Ada permainan memancing balon. Ayo coba!"
"Ya ampun, Baek."
"Ayo ayooo, sedikit lagi." Gumam Baekhyun sambil berdoa semoga tali pancing super tipisnya tidak putus. Chanyeol yang berdiri dibelakangnya hanya melihatnya dengan gemas. Ini sudah percobaan Baekhyun yang kelima.
Klik
"Sayang sekali anda gagal, nona.." sahut si paman pemilik stan permainan itu.
"Huh, padahal sedikit lagi.." sungut Baekhyun.
"Kau mencelupnya terlalu dalam, Baek. Sini, biar kutunjukan." Ucap Chanyeol seraya berjongkok disamping Baekhyun.
"Eh? Benarkah?! Yeay!"
Namun …
Klik.
"Maaf, anda juga gagal anak muda." Baekhyun menatap datar Chanyeol yang terdiam.
"Ah, tidak bisa. Sekali lagi! Aku akan mencobanya sekali lagi paman. Aku pasti bisa."
"Chanyeollie~ sudahlah.."
"Aku bisa, Baek. Tunggu dan lihat saja.." Baekhyun hanya bisa menghela nafas melihat Chanyeol yang sangat bersemangat. Dia sangat paham dengan sifat Chanyeol yang sangat ambisius terhadap sesuatu.
Hampir setengah jam berlalu, disamping tempat Chanyeol berjongkok sudah sangat banyak tali pancing balon air tergeletak mengenaskan tanda pemainnya gagal untuk mengambil balon warna warni itu.
"Channie, apa tidak apa-apa menghabiskan uang sebanyak itu?" gumam Baekhyun. Dan pada Akhirnya Chanyeol menyerah.
"Kalau Minseok ada disini dia pasti akan sangat marah." Ujarnya sambil berdiri.
"Hei, nak. Ambillah permen apel ini. Anggap sebagai hadiah karena kau sudah berusaha keras." Celetuk paman tersebut.
"Wah! Kau dapat hadiah, Chan.." sorak Baekhyun gembira.
"Ini untukmu, Baek." Kata Chanyeol sambil memberikan permen apel itu kepada Baekhyun.
"Tapi kan paman memberikannya untukmu.."
"Tak apa, kau kan suka permen apel.."
"Benarkah?! Boleh untukku?" Tanya Baekhyun dengan sangat antusias sambil memegang lengan Chanyeol. "Terima kasih. Sebenarnya aku iri sekali saat paman itu memberikan permennya padamu."
"Hei semuanya! Kembang apinya akan segera dimulai!" teriak salah satu warga desa disana.
"Wah! Ayo Chan!" tanpa pikir panjang Baekhyun menarik lengan Chanyeol. "Ayo ke kolam yang penuh bunga itu dulu, Chanyeollie!"
"Yak! Jangan berlari begini! Nanti kau jatuh, Baek."
Dan disinilah mereka, ditepi kolam samping kuil. Tempat dulu Chanyeol memperlihatkan kembang api untuk yang pertama kalinya kepada Baekhyun dulu. Mereka berdiri berdampingan sambil melihat kembang api yang mulai ramai membentuk formasi indah diatas mereka. Baekhyun melihat bergantian kearah langit dan kolam. Dua pemandangan yang sama-sama indah menurutnya.
"Woah! Indah sekalii~~" pekiknya girang.
"Hm, apa sekarang kau puas Nyonya Byun?" Tanya Chanyeol sedikit mencibir melihat wajah terlampau antusias milik Baekhyun. Namun sepertinya tidak ditanggapi oleh Baekhyun.
"Ya! Sangat puas. Lihat itu Chanyeollie! Kembang apinya mekar dikolam" ucapnya seraya mendekati kolam. "Indahnya.."
Chanyeol, dia sudah melupakan semua yang terjadi disekelilingnya dan memaku perhatiannya ke wajah mungil gadis disebelahnya itu. Baginya, wajah berbinar itu adalah wajah yang paling indah, lebih dari kembang api tercantik sekalipun.
'Dia masih sama. Anak yang sangat lugu. Dia adalah anak penakut yang takut dengan pedesaan saat kami pertama kali berjumpa. Dia begitu antusias saat kami berjumpa untuk yang kedua kalinya, dia selalu berpegangan padaku. Meskipun begitu dia sangat senang. Dan pertemuan ketiga, dia memiliki kekasih lain.. yang mana membuatku sangat terkejut. Tapi aku masih sangat mencintainya dan mati-matian mengejarnya sampai ke Seoul. Lalu aku menyerah pada dirinya, tak pernah bertemu lagi, dan kami terpisah. Kini aku memiliki kekasih yang terlihat sangat mencintaiku. Jadi apa yang kulakukan? Apa yang ingin kulakukan pada pertemuanku dengan Baekhyun yang keempat ini?'
Chanyeol terus menunduk, bergelut dengan batinnya sedari tadi. Lalu dia mengangkat wajahnya.
"Hei, Baek-" suara berat itu tertekan ditenggorokannya bersamaan dengan dilihatnya air mata bening yang mengalir di pipi merona Baekhyun. Jantungnya serasa diremas kencang. Masih dengan menatap kembang api di langit, Baekhyun menangis dalam diam. Matanya sarat akan kepedihan, kesepian, dan kerinduan, dan Chanyeol bisa melihat itu semua. Dia mendekati gadis itu dengan tatapan khawatir.
"Hei Baek! Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanyanya terburu-buru. Membuat Baekhyun terkejut dan menoleh kearahnya.
"Tidak apa-apa, Chan. Aku baik-baik saja."
"Bohong! Kau tak akan menangis kalau tak ada apa-apa!" cecar Chanyeol sambil melangkah mendekati Baekhyun. Sementara gadis itu masih terus menangis sambil melangkah mundur menjauhi Chanyeol. Sampai kakinya tersandung batu.
Kejadiannya begitu cepat. Permen apel malang hadiah paman tadi kini tengah tergeletak dan berdaya ditanah. Sementara Baekhyun selamat, dia tak ikut terjatuh karena reflek Chanyeol yang sangat cepat sehingga kini dia aman. Aman dalam pelukan mantan kekasihnya. Orang yang sangat dia rindukan. Perasaan pedih langsung melingkupi hatinya. Ingin di menangis keras dan memeluk erat lelaki yang didepannya ini.
"Baekhyun? Kau harus berhati-hati.." tegur Chanyeol.
Baekhyun yang tersadar dari lamunannya segera beranjak hendak melepas pelukan itu. Namun semuanya menjadi semakin rumit ketika Chanyeol dengan lengan kuatnya menarik pinggal ramping Baekhyun dan memeluk gadis itu dengan erat namun lembut. Telapak tangan sebelah kanannya memegang tengkuk Baekhyun, menariknya lebih erat agar bersandar didadanya. Baekhyun terenyuh mendengar detak jantung Chanyeol yang tak kalah cepatnya dengan miliknya.
"Sudah, cukup." Gumam lelaki itu diatas pucuk kepala Baekhyun.
"Hm?"
"Sudah cukup, Baekkie. Jangan lagi salahkan dirimu atas apa yang sudah kau lakukan sebelumnya." Bisiknya mesra.
"A-aku.."
"Saat kamu mengirimiku pesan bahwa hubungan kita harus berakhir, saat kita bertemu di Seoul, saat kau bersama Kris… Semuanya terasa sangat menyakitkan, Baek.." suara Chanyeol sedikit bergetar menahan kenangan pedih itu yang kini naik kembali kepermukaan setelah beberapa saat berusaha dia pendam. "Dan apa semua itu salahmu? Tidak, Baek. Saat kau berada disamping Kris kau telah melakukan yang terbaik sampai saat terakhirnya, kan?"
Cukup. Baekhyun tak sanggup lagi. Dia segara melepaskan rengkuhan nyaman Chanyeol dan mengusap kasar airmatanya.
"Maaf! Aku ingin selalu kau-"
"Kau membicarakan hal yang sebenarnya ingin kau sampaikan kemarin, kan?" Chanyeol tersenyum lembut. Sebenarnya hatinya pedih melihat Baekhyun yang tak henti-hentinya mengusap airmatanya sambil sesegukan. "Aku sudah melupakan semuanya. Mari kita berteman lagi." Baekhyun menggeleng lemah.
"Kau salah, Channie. Yang ingin kukatakan kemarin itu –hiks- sesuatu yang lebih istimewa dari ini."
"Lebih istimewa?" Baekhyun menghapus air matanya dan melangkah mendekat kearah kolam hingga kedua ujung kakinya nyaris menyentuh air. "Aku.." dia berbalik dan melihat Chanyeol tepat dimatanya. Tatapan Baekhyun itu, menusuk dalam hatinya. "Mencintaimu, Chanyeol.."
CTARR
Bersamaan dengan kembang api puncak, kalimat itu meluncur indah dari bibir mungil Baekhyun. Chanyeol terpaku. Matanya membulat sempurna. Telinganya menjadi tuli sesaat. Bahkan dia merasa jantungnya sempat berhenti berdetak.
"Aku selalu mekikirkanmu, dan saat kita berjumpa aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi aku ingin datang kesini sekali lagi …" Baekhyun melepas kalung pemberian Chanyeol dari lehernya hingga terlepas dan menggenggamnya erat. "ke kota dimana aku bertemu denganmu. Aku ingin mematenkan semuanya dalam ingatanku untuk terakhir kali karena tempat ini sangat berharga bagiku." Baekhyun menggantung kalung itu dihadapannya dan menatapnya pedih. "karena… aku tak akan bertemu lagi denganmu saam aku kembali ke Seoul." Digenggamnya erat bandul kalung itu seolah hanya itulah satu-satunya penguatnya "aku tak ingin menghalangi kebahagiaanmu lagi."
Chanyeol mendekat dan berdiri tepat dibelakang Baekhyun. Tiba-tiba dia gelisah melihat gelagat aneh Baekhyun.
"Hei, apa yang mau kau laku-"
Omongan Chanyeol terpotong karena dia terlalu terkejut melihat Baekhyun yang mengayunkan tangan kanannya dengan kencang. Melempar kalung pemberian Chanyeol ke kolam didepannya.
"Sial!" Chanyeol segera berlari dan meloncat ke kolam dangkal itu. Membuat Baekhyun terkejut setengah mati.
"Chanyeol!" Baekhyun berlari menyusuri kolam untuk mendekati arah berenang Chanyeol. Yang semakin ke sudut lain kolam. Baekhyun terus berlari sampai akhirnya Chanyeol berdiri ditengah kolam dengan wajah datarnya. Dia memperlihatkan kalung Baekhyun dengan alis menukik tajam.
"C-chan.."
"Kau! Berhenti mengatakan bahwa kita tak akan bertemu lagi atau kau sendirilah yang mengahalangi kebahgiaanku! Jangan mengatakan hal bodoh!" ucapnya tegas sambil mendekati Baekhyun yang kini mulai menangis lagi.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?!" balas Baekhyun hampir menjerit karena merasa sangat frustasi. Chanyeol telah berdiri didepannay dengan tubuh basah. Lalu tanpa ragu dia membelai pipi kanan Baekhyun penuh kasih sambil tersenyum lembut.
"Kumohon, aku ingin kau memiliki ini tak peduli apapun yang terjadi.." lirihnya lalu mengambil telapak tangan kiri Baekhyun dan menempelkan telapak tangannya sendiri. Perbedaan ukuran telapak tangan itu entah kenapa membuat hatinya menghangat, membuatnya merasa ia harus melindungi gadis ini dengan sekuat tenaga.
"Jangan pernah pergi kemanapun.." Baekhyun melipat jari-jari lentiknya sehingga kini jarinya sudah mengisi seluruh kekosongan ruas jari Chanyeol. Tak perlu waktu lama, Chanyeol balas menggenggam telapak tangan mungil Baekhyun tak kalah erat sambil terus menatap wajah sendu gadis itu.
Baekhyun menarik tautan tangan itu ke antara dirinya dan Chanyeol. Tepat didada. Lalu dengan gerakan ringan dia menyandarkan kepalanya dan seluruh tubuhnya kepada Chanyeol dengan senyuman manis terpatri dibibirnya.
Menit berlalu dalam ketenangan yang menyenangkan itu. Baekhyun adalah orang pertama yang mengurai pelukan hangat keduanya lalu mundur 2 langkah untuk melihat kalung yang beberapa saat lalu dibuangnya dengan tatapan lembut. Chanyeol melihatnya dalam diam. Tak ada yang berbicara hingga dering ponsel Chanyeol terdengar dan mengejutkan mereka berdua.
Chanyeol merogoh saku celananya dan sedikit tersentak melihat siapa yang menelpon.
"Luhan…" gumamnya namun masih terdengar oleh Baekhyun. Didering kelima akhirnya Chanyeol mengangkat telponnya.
"Halo, Chan?"
"Eoh, ada apa menelpon selarut ini? Apa kau ada perlu?" Chanyeol menatap Baekhyun yang kini berdiri beberapa langkah dibelakangnya dalam diam.
"Apa?! Apa aku tak boleh menelponmu kalau aku tak perlu sesuatu?" Chanyeol mendengar semuanya, namun dia masih lebih terfokus pada Baekhyun yang terus mentapnya dalam diam. "Chan? Ada apa?"
"Eoh, maaf maaf. Aku melamun."
"Apa kau baik-baik saja? Hm, aku hanya ingin tahu apa sedang kau lakukan."
"Apa yang kulakukan…" ulang Chanyeol. Wajahnya datar saat dia terdiam beberapa detik. "Aku hanya sedang diam dirumah." Jawabnya tanpa ragu.
"Oh, begitu.." ada nada yang janggal pada suara Luhan diseberang sana. Namun Chanyeol sepertinya tak menyadarinya dan masih terus menatap Baekhyun. "Ya.."
"Umm, Luhan? Maaf. Aku sedikit sibuk. Nanti akan kuhubungi lagi."
"Uhm, ya.. Kau sibuk, ya?"
"Ya, maafkan aku."
"Baiklah. Sampai nanti, ya."
"Ya, sampai nanti." Dan telpon itu diputus Chanyeol. Sementara, tanpa Chanyeol ketahui Luhan tengah menatap pedih ponselnya.
"Kekasihmu?" Tanya Baekhyun pelan.
"Hm? Yah.. Dia Xi Luhan. Sepertinya kau pernah bertemu dengannya."
"Ya, aku ingat. Dia gadis yang sangat ceria dan manis."
"Hm, begitulah.."
"Chanyeollie, maaf membuatmu harus berbohong padanya.."
"Hei, tak usah khawatir, akulah-" ucapan itu tak selesai. Chanyeol lebih memilih diam dan menarik lengan Baekhyun.
"Pulang?"
"Ya.."
.
.
.
Jalanan sudah sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik juga serangga lainnya serta suara gemericik air di sawah sepanjang jalan itu. Mereka berdua berjalan beriringan ditemani dengan sinar bulan yang sangat terang.
"Suara serangga disini indah sekali ya, Chan? Membuat kina benar-benar merasa di desa?"
"Yah, sebenarnya itu bukan suara mereka, tapi suara sayapnya yang dikepakan." Ucap Chanyeol cuek yang mana membuat Baekhyun mempoutkan bibirnya lucu.
"Yak! Aku juga tahu itu! Kalau kita menyebutnya 'suara' akan terdengar lebih romantis."
"Hahaha. Benarkah?" sahut Chanyeol sambil melirik Baekhyun yang tengah cemberut.
"Tentu saja. Akan terdengar aneh, kan kalau ku bilang suara kepakan sayap serangga itu bagus?"
"Hm.. Benar jugaa.." balas Chanyeol sambil menatap aliran sungai kecil dan dangkat dibawah mereka. Saat ini mereka berada diatas jembatan kecil diatas sungai yang bisa disebut parit karena lebarnya yang mungkinhanya sekitar lima langkah.
'Kupikir, aku tak akan melakukan apa-apa lagi dengan Baekhyun. Seharusnya tidak.'
"Chan? Apa menurutmu Jongdae dan yang lainnya sudah tiba?" Chanyeol terhenti dan menatap Baekhyun yang berjalan santai. Itulah yang membuat si mungil tertinggal agak jauh dibelakang. Saat Chanyeol sudah dipertengahan jembatan, Baekhyun baru saja melangkah diatas jembatan itu.
"Mungkin saja iya.."
"Ah, kuharap bisa membelikan mereka jajanan di pasar malam walaupun hanya ddeokbokki atau sundae.." gumam Baekhyun sambil terus berjalan sampai dia melewati Chanyeol begitu saja.
'Sial. Sebenarnya apa yang kulakukan'
"Maaf.." ucap chanyeol lantang membuat Baekhyun yang mendengarnya terdiam dan berbalik. Menatap Chanyeol dengan heran.
"Kenapa, Channie?"
"Aku… aku sangat ingin memerikan jawaban yang tepat atas pernyataanmu tadi. Tapi, bisakah kau menunggunya?" Chanyeol mendekati Baekhyun yang masih terlihat terkejut. Tanpa ragu, lelaki itu menjulurkan tangannya. Bukan seperti ingin menjabat tangan, malah seperti pangeran yang meminta kesediaan sang puteri untuk berdansa. Perlahan, Baekhyun menunduk lalu senyum manis terpasang diwajahnya. Tanpa ragu, dia menggapai tangan hangat Chanyeol dan menggenggamnya dengan erat.
"Ya.." jawabnya pelan namun sarat akan keyakinan. "Aku mengerti, aku akan menunggumu."
Sisa perjalanan malam itu dilewati mereka dalam keterdiaman yang menenangkan.
.
.
.
Sesampainya didepan pintu rumahnya, chanyeol baru merasakan efek dari bajunya yang basah.
"Ya Tuhan. Ini sangat dingin."
"Kau harus segera mandi, Chan." Chanyeol berbalik dan menjawab Baekhyun dengan gumaman pelan. Bibirnya tidak tersenyum, tapi hatinya bahagia melihat kalung yang menghiasi leher indah Baekhyun. Tanpa ragu, dia membuka pintu rumahnya.
"Kami pulang-" Chanyeol tercekat didepan pintu. Melihat seorang gadis tengah duduk bersilah kaki didepan pintu (lantai rumah Chanyeol masih tradisional, jadi lebih tinggi dibanding lantai bawah tempat membuka sepatu).
"H-huh? L-luhan. Kenapa kau-" Lidah Chanyeol kelu. Rasa bersalah menggerogoti hatinya melihat tatapan datar gadis yang sudah beberapa lama menyandang status sebagai kekasihnya itu. Apalagi setelah melihat bibir ceri itu bergerak membentuk kata yang tak bersuara, namun bisa dimengerti Chanyeol dengan baik.
PEM-BO-HONG.
.
.
.
'Aku merasakan sakit dihatiku atas tetesan air matanya,
Bahkan lebih dari kata-kata yang menyakitkan.
Tapi, selama kau semakin dekat denganku..'
.
.
.
TBC
.
.
.
Yeahh! Selesai juga chapter 11 nya yang berarti chapter depan udah chapter terakhir yaa.. gimana? Udah ketebak apa yang bakalan Chanyeol lakuin selanjutnya?
Luhan gimana ya?
Apa kalian tetap mendukung Chanbaek?
Kalau kalian ngelihat Luhan chapter depan, kalian bener-bener bakalan greget banget, hahaha.
Okelah, karna ini chapter menjelang terakhir aku harap reviewnya bertambah. 10 aja cukup kok meskipun ini remake, aku gak sepenuhnya ngambil dialognya ada yang aku ubah dan aku ngetik sambil nginget animenya. Jadi bukan hanya copas di pdf atau apa. Jadi aku harap kalian bisa sedikit saja mereview untuk menyemangati saya.
Review ya?
.
.
.
Big Thanks to :
[parkyeolliecy61]
Udah itu udah ngomong kok, meski hrus nangis-nangis dulu haha
[yousee]
Penting. Pentiiinngggg banget hahaha. Ini udah.
Meskipun hanya kalian berdua yang setia banget review sampek sekarang, aku seneng banget. Seenggaknya aku merasa ada yang nunggu ff ini hehe. Makasih ya.. Review lagi ya? Saranghae~
