Previous Chapter

Sesampainya didepan pintu rumahnya, Chanyeol baru merasakan efek dari bajunya yang basah.

"Ya Tuhan. Ini sangat dingin."

"Kau harus segera mandi, Chan." Chanyeol berbalik dan menjawab Baekhyun dengan gumaman pelan. Bibirnya tidak tersenyum, tapi hatinya bahagia melihat kalung yang menghiasi leher indah Baekhyun. Tanpa ragu, dia membuka pintu rumahnya.

"Kami pulang-" Chanyeol tercekat didepan pintu. Melihat seorang gadis tengah duduk bersilang kaki didepan pintu (lantai rumah Chanyeol masih tradisional, jadi lebih tinggi dibanding lantai bawah tempat membuka sepatu).

"H-huh? L-luhan. Kenapa kau-" Lidah Chanyeol kelu. Rasa bersalah menggerogoti hatinya melihat tatapan datar gadis yang sudah beberapa lama menyandang status sebagai kekasihnya itu. Apalagi setelah melihat bibir ceri itu bergerak membentuk kata yang tak bersuara, namun bisa dimengerti Chanyeol dengan baik.

PEM-BO-HONG.

.

.

.

"Pembohong." Bisikan super lirih itu terdengar jelas oleh Chanyeol. Disertai dengan tatapan datar Luhan, suasana tegang diantara mereka semakin terasa. Chanyeol tak dapat mendefinisikan arti tatapan gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

"Kenapa kau-" hanya itu kata yang dapat keluar dari bibirnya.

"Tentu saja untuk menjemputmu." Luhan berucap seraya berdiri menegakkan tubuhnya. Tak ada yang menyadari genggaman tangan mungilnya yang mengerat pada ponsel ditangannya, seolah hanya itulah satu-satunya pegangannya didunia ini. "Dasar pembohong aneh."

"Uhm, Lu-"

"Kau diam saja, Baek. Biarkan aku yang menyelesaikan ini." Ucap Chanyeol memotong kalimat Baekhyun yang sedari tadi gelisah, bagaimanapun dia juga seorang wanita yang tentunya paham yang dirasakan Luhan. Sekalipun dia adalah orang yang lebih dulu mengenal Chanyeol, Baekhyun sadar bahwa gadis didepan mereka inilah satu-satunya yang berhak atas Chanyeol untuk saat ini.

Sementara itu, Chanyeol terdiam memandangi raut wajah Luhan yang kini mulai melunak, hanya sedikit. Detik demi detik berlalu dan tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Chanyeol.

'Kenapa aku menjadi ragu-ragu begini?! Padahal aku sudah menetapkan jawabanku.' Batinnya.

Mungkin lelah menunggu, Luhan akhirnya melangkahkan kakinya keluar rumah, melewati Chanyeol begitu saja.

'Aku bahkan tidak dapat menghentikan Luhan ketika dia pergi..'

Chanyeol semakin kalut. Seluruh anggota tubuhnya tidak ada yang bisa digerakkan, bahkan ketika Luhan sudah melewatinya dan keluar. Sayup-sayup Chanyeol dapat mendengar Minseok dan teman-temannya yang baru tiba langsung menyambut Luhan dengan ceria.

Ditengah kekalutannya, dia tak melihat bahwa ada sosok lain diruangan itu yang meilhat Chanyeol dengan pandangan terluka, namun tak bisa melakukan apa-apa selain diam mengamati.

.

.

.

Main Cast :

Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun (girl)

Genre : Romance, School-life, Hurt/Comfort

Rate : T (dapat berubah sewaktu-waktu bila dibutuhkan)

.

.

.

A Town Where You Live

.

.

.

Cerita ini tidak murni karya saya. Plotnya terinspirasi dari anime Jepang berjudul Kimi no Iru Machi. Saya tidak bisa mencantumkan penciptanya karena saya tidak tahu, yang tahu bisa silahkan PM saya. Judul FF ini berasal dari judul yang sama hanya saja dalam bahasa Inggris.

Mengapa saya tidak merubahnya?

Itu untuk menghargai dan menghormati pembuat animenya. Tujuan saya membuat versi FF Chanbaeknya karena saya SANGAT MENYUKAI anime ini dan ingin berbagi. Nama tempat, sekolah, dan semuanya hanya khayalan semata yang disesuaikan dengan imajinasi saya dan juga keperluan cerita.

.

.

Happy Reading ~

.

.

.

Malam sudah sangat larut, namun Chanyeol masih termenung dimeja belajarnya. Memutar lagi kejadian-kejadian yang membuatnya menjadi pusing saat ini. Dahinya disandarkan pada lipatan tangannya diatas meja. Tak terhitung sudah berapa kali dia menghela nafasnya.

TOK TOK.

"Chanyeol Oppa? Kau sudah tidur?" hingga suara yang sangat familiar itu menyapa gendang telinganya. Tak beberapa lama Krystal telah berdiri dengan tegak ditengah kamar Chanyeol yang hanya diterangi sinar bulan purnama. Jendelanya yang selebar pintu rumah dan kini sedang terbuka sepenuhnya membuat kamarnya menjadi sangat terang, cukup terang untuk melihat seringai aneh di bibir adik tiri mantan kekasihnya itu.

Krystal yang hanya memakai gaun tidur tipis yang sangat pendek itu berjalan dan mendekati Chanyeol tiba-tiba, sehingga membuat lelaki itu sedikit tersentak.

"Hm.. Kau terlihat seperti telah melakukan hal yang aneh, 'kan Oppa?" ucap Krystal yang lebih mirip pernyataan. Chanyeol tak menjawab. Tak lama dia mendudukan pantatnya diatas meja Chanyeol dan sedikit mencondongkan wajahnya untuk berbisik "Apakah aku bisa membantumu?"

"Dari pada berkata yang aneh-aneh lebih baik kau pergi tidur. Kita akan kembali ke Seoul besok pagi." Sungut Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Krystal.

"Oleh karena itu, kenapa kau tidak menceritakannya padaku, Oppa? Sesuatu yang menarik pasti telah terjadi, kan? Fiuhh~~" ucap Krystal disertai tiupan mesra ditelinga Chanyeol yang mana membuat si lelaki hampir terjungkal dari tempat duduknya.

"Kau!"

"Tidak baik menanggung semuanya sendirian, Oppa. Lebih baik kau menceritakannya padaku kan?" Chanyeol menghela nafasnya lagi, namun tanpa sadar dia menceritakan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu antara dia dan Baekhyun, tentu tidak seluruhnya yang dia anggapnya terlalu pribadi.

"Saat festival berlangsung Baekhyun bilang dia mencintaiku, namun setelah ini kita tak akan bertemu lagi. Saat itu sesuatu dalam diriku bangkit. Dan aku memutuskan dia tak boleh pergi lagi. Aku sangat mencintainya."

"Hmm.. Baiklah! Kalau begitu tak ada yang harus dikhawatirkan. Semua yang harus kau lakukan adalah berpisah dari Luhan, Oppa."

"Aku juga berfikir itu adalah jalan satu-satunya. Tapi entah kenapa aku tak bisa mengatakannya. Aku tahu dia sangat mencintaiku dan betapa kecewanya dia saat kejadian tadi. Saat melihat wajah kecewanya aku tak bisa melakukan hal itu. Dia sudah sangat mempercayaiku dengan apapun yang aku lakukan. Dia benar-benar kekasih terbaik yang pernah kudapatkan. Tidak ada yang bisa kubenci darinya." Ungkapnya panjang lebar. Sementara ekspresi Krystal menjadi sedikit mengeras. Dia bangkit dan berdiri tepat disamping Chanyeol.

"Chanyeol Oppa.." Chanyeol berbalik menghadap Krystal dan betapa terkejutnya dia melihat gadis itu kini telah menarik ujung gaun tidurnya sebatas perut atas sehingga Chanyeol dapat melihat dengan jelas perut langsing dan juga celana dalam tipis gadis itu. "Kau pikir kau hanya memiliki sedikit pilihan? Sebenarnya masih ada satu lagi untukmu. Pilhan ketiga yaitu.." Krystal mengangkat gaunnya lebih tinggi nyaris memperlihatkan puting payudaranya karena dia jelas tidak memakai bra didalam gaun tidurnya.

"Yak!" Krystal menurunkan gaunnya lalu tertawa sinis. "Kau benar-benar. Aku sedang sangat khawatir disini dan kau malah melakukan hal bodoh."

"Kau tahu Oppa? Dimataku kau lah yang tengah melakukan hal bodoh." Ucapnya datar. Namun, tak lama kemudian dia tersenyum. "Maksudmu kau tak ingin menyakiti keduanya kan, Oppa? Tapi, apa menurutmu apakah kau berada di sisi yang baik?" Chanyeol bungkam dan Krystal tertawa nyaring "Ya Tuhan, aku sangat suka ekspresi wajahmu itu, Oppa. Seperti wajah sampah. 'Aku ingin menjadi orang yang terbaik' hanyalah pikiran orang-orang yang bersifat seperti orang brengsek." Krystal melangkah mundur mendekati pintu kamar Chanyeol, dan sebelum dia menghilang dia berucap "Nah, semoga beruntung, Oppa."

.

.

.

Chanyeol mengayuh sepedanya dengan kencang, melewati jalan berbatu dan beberapa sungai kecil. Sudah hapir 1 jam dia bersepeda berkeliling desanya. Semua itu dilakukannya semata-mata hanya untuk menjernihkan dan membulatkan pikirannya yang tengah kalut. Hingga akhirnya dia berhenti dan tersenyum lega. Matanya tertutup dan dia menghirup nafas dalam-dalam lalu kembali mengayuh sepedanya.

.

.

.

Luhan POV

Aku baru saja pulang dari berolah raga pagi. Untuk sekedar meringankan hatiku. Banyak hal terjadi beberapa hari ini. Hal yang membuatku tak bisa mengungkapkan bagaimana bentuk hatiku saat ini. Semuanya terlalu tiba-tiba. Perpisahan kami, jarak, telpon, pertemuan, kebohongan, dan kekecewaan. Dan entah kenapa hari ini aku merasakan firasat yang jauh lebih buruk.

Aku mencintai Chanyeol dengan sepenuh hatiku. Tak ada satu bagianpun dalam diriku yang tidak mencintainya. Bahkan saat dia terpuruk karena kepergian Byun Baekhyun, walau hanya berpeluang sangat kecil, aku berusaha masuk ke hidupnya. Aku ingin membantunya bangkit dan menjalani hidup yang penuh kasih sayang denganku. Kulakukan banyak hal yang kubisa untuk menarik hatinya, untuk membuatnya senang. Chanyeol adalah pria yang baik. Meskipun dia tak pernah mengatakn kata cinta, tapi aku tahu dia sangat menyayangi dan menghargaiku sebagai kekasihnya.

Meskipun canggung pada awalnya akhirnya kami terbiasa, berpegangan, berpelukan, dan beberapa kali ciuman. Ah, bahkan kami hampir melewati batas. Mengingat itu membuatku malu. Dia sangat pekerja keras, suka memikirkan orang lain, lembut, dan sangat pengertian. Chanyeol tak pernah banyak menuntut, malah dia yang selalu mengalah. Dia bahkan menabung untuk liburan kami yang pada akhirnya gagal, namun dengan lapang dada dia mengatakan padaku untuk lebih mementingkan orangtuaku.

Setelah dia mengantarkanku di stasiun hari itu, kukira semuanya akan tetap berjalan lancar tanpa hambatan seperti yang sebelum-sebelumnya. Ternyata tidak. Aku tahu Chanyeol masih mencintai Baekhyun, bagaimanapun Baekhyun pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Mereka juga terpisah bukan karena hal mereka inginkan. Aku tahu seberapa besar hal Chanyeol lakukan untuk Baekhyun. Meskipun aku tak tahu yang Baekhyun alami, tapi yang pasti adalah mereka berdua malah menyakiti diri mereka sendiri.

Tapi bisakah aku bersikap egois kali ini? Baekhyun sudah meninggalkan Chanyeol dalam keterpurukkan. Lalu aku dengan segenap hatiku, menawarkan seluruh cinta dan kasih sayangku untuknya. Tak hanya setahun kulewati berdua dengannya yang tentunya banyak hal yang sudah kulakukan untuk meluluhkan hatinya. Namun, ketika Chanyeol sudah mulai membuka hatinya, gadis itu datang lagi dan dalam beberapa detik menghancurkan semua usahaku, hatiku, dan hidupku. Apakah ini akhirnya?

Tak terasa kakiku telah mebawaku kembali ke flatku. Jantungku terasa diremas, perutku mual, dan lututku melemah. Disana tepat didepan pintu flat Chanyeol sedang berdiri menungguku sepertinya. Tak ada senyum, tak ada juga rasa bersalah. Aku tertawa dalam hati 'secepat itukah?'.

Tanpa banyak kata kubuka flatku dan mempersilahkan dia masuk. Aku tahu, setelah aku duduk dan berhadapan dengannya aku harus melapangkan hatiku, aku harus berpegangan dengan kuat, aku harus bertahan, aku harus merelakan semua usahaku beberapa tahun belakangan hancur tak bersisa, dan aku harus menjadi satu-satunya orang yang terluka pada akhirnya.

'Aku akan menjadi satu-satunya yang menangis terluka untuk kebahagiaan mereka. Hanya aku Tuhan.'

Luhan POV End.

.

.

.

Sudah 1 minggu Chanyeol tak bertemu Baekhyun. Jadi hari ini dia memutuskan untuk pergi menemui gadis mungil itu apartemennya. Ya, Baekhyun kini telah tinggal sendiri disebuah kompleks apartemen mewah di Seoul. Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun yang entah kebetulan dari mana kini sedang duduk sendirian ditaman dengan wajah tertunduk. Dengan langkah mantap Chanyeol mendekati si mungil.

"Hei.."

"Chanyeollie?"

"Disini dingin."

"Uhm.. Aku tadi menerima telpon dari Minseok." Cicitnya sambil menunduk. "Mengenai hal yang kau katakan pada Luhan. Dia juga bilang kau mungkin kini tengah berbahagia dari dalam lubuk hatimu sampai kau mungkin mengambil alih semua kebahagiaan Luhan bersamamu."

"Lalu, apa yang kau katakan?" Tanya Chanyeol dan Baekhyun tersenyum tipis.

"Kukatakan padanya tidak mungkin Chanyeol akan setenang itu. Sangat sulit untuk kupercaya bahwa kau melakukan itu semua dengan seluruh hatimu."

"Itu mungkin benar-"

"Tidak! Itu tidak benar. Kau bukan orang seperti itu. Channie, meskipun aku mungkin hanya bisa menjadi orang lain, asal disisimu ku tak apa-apa. Tak peduli tentang apa yang orang lain katakan. Tak peduli seberapa orang yang membenciku. Asalkan aku bersama orang yang kucintai aku tak apa-apa. Maka dari itu.." Baekhyun tak sanggup melanjutkan kata-katanya, jadi dia memutuskan untuk pergi sebelum Chanyeol menarik pergelangan tangannya.

"Kau salah! Itu semua adalah yang 'kita' berdua inginkan." Baekhyun tercengang. Matanya membulat cerah. Dia sangat bahagia sampai hatinya terasa sesak. Itu berarti Chanyeol juga menginginkan mereka berdua untuk bersama tak peduli apapun. "Ayo kita lewati semua bersama." Kalimat mantap Chanyeol itu akhirnya membungkam Baekhyun dalam kebahagiaan. Chanyeol, memilih untuk bersamanya.

"Eung!" dan kedua tangan itu akhirnya kembali terpaut setelah beberapa kali terpisah.

.

.

.

Chanyeol baru saja akan meninggalkan flatnya dan melihat sang kakak duduk dengan angkuhnya diatas tempat tidurnya.

"Hei, Chan. Apa sesuatu terjadi antara kau dan Luhan?" Tanya Yoora datar.

"E-eh?" pertanyaan itu tak ayal membuat Chanyeol gelagapan.

"Sudah kuduga, kulihat gurat rasa bersalah cukup besar diwajahmu. Tak apa. Kau patut mendapatkannya untuk menanggung dosamu."

"A-aku harus berangkat bekerja, Noona. Sampai jumpa lagi."

Ditengah perjalanannya, Chanyeol bertemu denga Krystal yang melambaikan tangan padanya.

"Bagaimana dengan masalahmu, Oppa? Kulihat dari wajahmu sepertinya kalian bertengkar cukup hebat."

"Aku membuatnya menangis." Krystal berjalan memutari Chanyeol yang masih terus menunduk.

"Kurasa kau sudah mendapatkan yang layak, Oppa. Tapi, itu adalah keputusanmu sendiri. Tak ada gunanya untuk bersedih sekarang." Perkataan kecil itu nyatanya mampu membuat Chanyeol mengangkat wajahnya.

"Kau benar.."

"Lalu, saat ini siapakah yang terpenting untukmu, Oppa?"

"I-itu.."

"Belajarlah setia dan menghargai siapapun itu. Kalau kau tak dapat menghargai orang yang paling berharga untukmu, lalu jatuh cinta pada orang lain… Itu tak akan berguna kan?"

"Kurasa begitu." Ucap chanyeol menatap gadis muda disampingnya yang tengah berdiri mengahadap kolam air mancur. "Terima kasih, Krys.."

"Eh?"

"Kalau dipikir-pikir selama ini aku selalu bisa membuat keputusan berkat kau."

"Oh, hehe. Kupikir karena aku sudah memisahkanmu dengan Eonnieku di awalnya." Cengirnya jenaka.

"Hm, aku sangat berterima kasih." Chanyeol tersenyum sampai matanya sedikit menyipit. Krystal mengalihkan pandangannya kearah lain. Ada air mata terselip diujung mata cantiknya dan itu tak luput dari perhatian Chanyeol.

"Eh? Ada apa Krys?"

"Tak ada apa-apa." Krystal berdehem dan kembali menatap Chanyeol dengan senyumannya, senyum yang sangat tulus. "Aku akan pulang dan memberitahu pada Eonnie kalau ada lelaki brengsek yang ingin bertemu dengannya. Sampai jumpa, Oppa!"

Krystal melangkah menjauh, dan ditengah perjalannya hujan turun perlahan, dia terdiam dan mengadah. "Hujan.."

Ditempat lain, diaman hujan sudah mengguyur dengan derasnya, Luhan duduk termenung sendirian di tengah kamarnya memandangi turunnya hujan dengan tatapan sendu. Tak akan ada yang tahu bagaimana terlukanya hatinya saat ini. Tidak juga hujan.

.

.

.

Seorang gadis bertubuh mungil menadahkan tangannya keluar atap halte bus tempatnya berdiri. Setelah memastikan tak ada air yang turun lagi, dia melompat keluar dan tertawa bahagia menatap lelaki tinggi yang balas menatapnya dengan tatapan cinta yang tak bisa disembunyikan.

"Hujannya sudah berhenti. Tapi masih mendung."

"Hm.."

"Oh iya. Channie, aku minta maaf untuk Krystal kalau dia sudah mengatakan hal yang tidak-tidak padamu."

"Tidak. Itu malah membuatku lega dan akhirnya bisa membuat keputusan." Sahut Chanyeol sambil mendekati Baekhyun.

Mereka kembali berjalan beriringan sampai puncak taman kota yang letaknya agak tinggi dari perkotaan. Lalu Chanyeol berjalan lebih cepat ketika melihat pemandangan indah kota sehabis hujan. Tak lama dia tersenyum sendiri yang mana membuat Baekhyun bingung. Baekhyun mendekati kekaishnya dan mengikuti arah pandang lelaki itu. Ah, kompleks apartemenya.

"Kau tahu, Baek. Harga sewa cukup tinggi disana." Gumamnya pelan lalu menatap Baekhyun penuh kasih.

"Bagaimana kau tahu?" Chanyeol hanya tersenyum dan kembali memandangi tempat tinggal Baekhyun.

"Aku akan pindah kesana."

"Hm? 'Pindah Kesana'?" Baekhyun membeo lalu mendekati Chanyeol dan memandang lelaki itu penuh raut ingin tahu. Chanyeol yang tak tahan melihat tingkah kekasihnya kemudian menyentil hidung bangir itu, membuat sang empu merenggut lucu.

"Aku bosan tinggal bersama Noona terus. Jadi kupikir aku harus pindah ketempat yang berbeda." Pernyataan itu membuat Baekhyun tersentak. Dia menunduk namun tak dapat menahan senyumannya. Tak lama dia membawa dirinya untuk menerjang tubuh tegap sang kekasih.

"Tapi, itu sangat mahal Channie." Baekhyun memeluk Chanyeol dengan mata yang berlinang airmata, namun ia tak bisa menghilangkan senyum bahagianya. "Ya ampun, air hujannya mengalir lagi." Entah hujan yang mana yang dimaksudnya, air mata ataukah air hujan sebenarnya yang kini mulai mengguyur mereka sedikit demi sedikit. "Tapi payungku sudah kulempar, dan kotor.." dan mereka pun tertawa bersama. Alasan klasik si manja.

.

.

.

Mereka berdua berjalan bersama dengan Chanyeol yang memegang payung, sementara Baekhyun berjalan disisinya dengan senyum merekah dan sebelah tangannya memegang payungnya yang terlipat rapi. Yah, mereka berada dalam satu payung, milik Chanyeol, karena alasan konyol Baekhyun yang entah kenapa masuk akal bagi Chanyeol.

Tiba-tiba Baekhyun mengalungkan tangannya pada lengan Chanyeol lalu menghilangkan jarak tubuh mereka. Chanyeol yang terkejut dengan kontak fisik tiba-tiba itu langsung menatap baekhyun yang kini sedang tersipu malu.

"Terimakasih.." gumam Baekhyun tnpa membalas tatapn Chanyeol. "Eh, maaf aku tak sadar. Pasti memalukan bagimu untuk bergandengan tangan seperti ini denganku ditengah kota."

"Tidak. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mempedulikan orang lain? Tetaplah berpegangan padaku sampai kapanpun. Okay?"

"Hm!"

Dan untuk pertama kalinya, mereka berjalan berdua sebagai sepasang kekasih sambil bergandengan tangan. Raut bahagia dan lega tergambar jelas diwajah mereka berdua. Tak peduli tatapan orang lain, Chanyeol mengecup pelipis kanan Baekhyun.

.

.

.

Hujan sudah reda ketika Chanyeol sampai di persimpangan jalan menuju flatnya. Chanyeol berjalan dengan tenang sampai dia melihat sesosok gadis familiar yang sedang berdiri menatapnya.

"Luhan.."

Tanpa sapaan atau basa-basi, Luhan berbalik berjalan pelan. Dia berjalan didepan Chanyeol yang kini sedang berjalan dibelakangnya. Lelaki tahu, gadis ini pada akhirnya ingin membicarakan sesuatu setelah hatinya menjadi sedikit tenang.

"Aku akan pindah.." ucap Chanyeo mantap. Tak melihat adanya senyum pahit tercipta dibibir Luhan.

"Kau berniat melupakanku?"

Mereka kini sedang berada di taman bermain anak-anak dekat flat mereka. Chanyeol duduh diayunan sementara Luhan duduk di wahana besi untuk anak-anak yang suka memanjat.

"Aku tak bisa melupakanmu.." ungkap Luhan sarat akan luka. "Aku berusaha untuk membencimu. Tapi semua kenangan yang teringat adalah kenangan bahagia." Luhan mengadahkan kepalanya, berusaha mencegah air matanya mengalir. "Mulai sekarang kau bisa mulai membangun kehidupan barumu dengan Baekhyun, kan?"

Chanyeol tak menjawab, dia hanya mendekati wahana yang disandari Luhan dan ikut bersandar disisi lainnya.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku disini sendirian. Aku tak memiliki siapapun, Chan. Tidak ada Kris." Suara Luhan mulai bergetar. "Jika aku tahu akan seperti ini rasanya, aku lebih baik tak jatuh cinta padamu, sungguh." Luhan sedikit berbisik diujung kalimatnya.

"Aku tak tahu, berapa kali, berapa lama, aku sudah bergantung padamu. Kau adalah gadis yang baik, ceria, penuh gairah hidup. Kau selalu menempatkan orang lain diatasmu.." Chanyeol memegang kuat besi wahana, seolah mencari kekuatan untuk menyatakan hal yang pasti sekali lagi mengoyak hati gadis didekatnya ini. "Kau selalu bertekad melakukan apapun meskipun kau lemah. Jika aku bisa mencintaimu sampai akhir… Aku.."

Luhan berbalik dan menatap punggung Chanyeol sendu "Aku mencintaimu." Lalu dia berlari mendekati Chanyeol yang terkejut dengan gerakan tiba-tibanya. Luhan mendekati lelaki itu dengan pelan lalu menyandarkan kepalanya didada bidangnya. Seluruh tubuhnya gemetar menahan perih didadanya.

"Luhannie, sangat mencintai Chanyeol lebih dari siapapun didunia ini."

Suara itu, tak ada satupun didunia ini yang bisa mendefinisikan betapa tulus dan murninya perkataan Luhan itu. Tak juga Chanyeol yang hanya bisa merasa hidupnya terberkati dengan cinta yang berlimpah dari sosok didepannya.

Belum sempat Chanyeol memeluk gadis rapuh itu, gadis itu sudah lebih dulu berjalan mundur dengan senyumannya. "Jika suatu saat kau bermasalah dengan Baekhyun itu, datanglah padaku." Luhan mengalihkan pandangannya. "Kupastikan jika saat itu ada, aku akan menjadi orang yang sangat penting untukmu." Chanyeol tak bisa berkata apa-apa untuk membalas perkataan Luhan. Tak ada satupun kata yang tepat baginya untuk menjawab perkataan tulus gadis itu. Jadi yang dia lakukan hanyalah tersenyum.

Jauh dilubuk hatinya, dia berdoa, semoga Luhan akan dipertemukan dengan lelaki yang benar menyanyanginya lebih dari Luhan menyanyangi Chanyeol dan atak akan tersakiti lagi. Tidak akan, bahkan sampai diujung nafasnya. Chanyeol tahu, gadis itu sudah melewati ujian yang terlampau berat untuk kini siap mendapatkan balasannya.

.

.

.

6 bulan berlalu dan semua sudahmenjadi normal. Luhan sudah kembali menjadi seperti semula meskipun masih sering teringat kenangannya bersama Chanyeol. Yoora sering memperkenalkan Luhan dengan berbagai pria kenalannya meskipun Luhan lebih sering menolaknya. Namun Yoora tahu, Luhan mulai membuka hatinya untuk dokter anak di klinik depan flat mereka. Dokter muda yang bernama Oh Sehun.

Dokter pendiam yang sangat tampan dengan rahang tegas yang jarang tersenyum. Meskipun begitu, dia sangat disayangi anak-anak. Wajah memang tak bisa menipu anak-anak yang masih suci, mereka akan tahu secepat mungkin mana yang baik dan mana yang buruk.

Chanyeol sendiri sudah 2 hari pindah ke apartemen didepan milik Baekhyun. Mereka sangat sering menghabiskan waktu bersama, bahkan saat libur mereka bisa bersama sampai 24 jam karena tak jarang salah satu dari mereka akan menginap di flat kekasihnya.

Seperti saat ini, Chanyeol sedang duduk disofa ruang tengahnya sambil mengamati pemandangan malam kota Seoul. Dengan Baekhyun yang bergelung nyaman dipangkuan dan pelukannya, hidupnya terasa lengkap. Tak ada cahaya lampu diruangan itu, hanya ada cahaya bulan yang masuk dengan leluasa menerangi hampir setengah dari apartemen itu.

"Kita.. Akhirnya bisa melihat pemandangan yang sama lagi.." gumam Baekhyun.

"Hm.." hanya itu balasan Chanyeol, namun gerakan bibirnya dibibir Baekhyun dan pelukannya yang mengerat sudah menyampaikan segalanya.

.

.

.

END

.

.

.

Ahahahahaha, aku ingin tertawa sebentar. Akhirnya FF remake ini selesai. Ff ini selesai diketik pada tanggal 6 Desember 2016 pukul 1:11 am WIB. Aku cuman mau ngasih tau, ada beberapa adegan di chapter ini yang aku tambah dan modifikasi. Berhubung ada bagian yang terlupakan. Sebenarnya ada OVA dari anime ini tapi aku sudah bener-bener lupa. Lagipula seingetku gak begitu mempengaruhi cerita kok.

Aku mau ngucapin terimakasih buat semuanya, yang sudah follow, favorite, dan bahkan menyempatkan jemarinya buat mereview FF ini. Aku gak bisa melanjutkan ini tanpa dukungan kalian semua. Aku padamu Guys! Aku udah terharu dan bener-bener gak tau mau bilang apa lagi.

Special thanks buat para reviewer : rina byun272, firdha arafah, parkwillsy, parkyeolliecy61, xxxxx, yousee, byunbaekhill, Park Eun Yeong, Vera, kumaberry, guest.

.

.

.

Untuk yang pengen tahu apa yang terjadi pas Chan sama Luhan ngomong-ngomongan ntar bisa baca epilog gak penting dibawah ya..

Jangan lupa setelah baca, tolong reviewnya ya? Anggep aja sebagai penghargaan terakhir buat upayaku mengetik ditengah tugas kuliahku yang sangat banyak. Please?

.

.

.

EPILOG

Chanyeol dan Luhan duduk bersimpuh berhadap-hadapan. Selama beberapa menit mereka terdiam, hanya terdengar suara Luhan yang membolak balik majalan disampingnya dengan sendu. Majalah itu sudah kusam dan kusut mungkin karena terlalu sering dibolak-balik oleh pemiliknya. Majalah itu adalah majalah travelling yang kemarin sempat menjadi sesuatu yang mebahagiakan untuk dua orang yang kini sedang diliputi kecanggungan luar biasa.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" akhirnya Luhan mengeluarkan suara seraknya tanpa menatap Chanyeol. Hening.

"Kita sedang membicarakanmu, Chanyeol. Kau mungkin akan mengatakan 'Baekhyun akan terluka, kalau aku meninggalkannya sendiri'. Atau mungkin 'Baekhyun telah datang berkunjung setelah sekian lama, jadi kupikir harus menemaninya ke Festival itu'. Ah! Atau seperti 'Sekarang dia datang kesini. Aku harus menunjukkannya kembang api dan petasan'.." suara Luhan terdengar bersemangat. Seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu yang akan dikatakan lelaki didepannya itu. Dia tak peduli lagi dengan tanggapan Chanyeol bahwa dia akan terlihat menyedihkan. Yang dia inginkn adalah secepatnya mengurangi sakit dan sesak di dadanya. Namun tatapan rasa bersalah dan keterdiaman orang didepannya menghancurkan segala pertahanannya.

"…"

"Semua itu, benar kan Chan?" Luhan bertanya sambil tersenyum perih dengan air mata yang mengalir sedikit-demi sedikit di pipi berisinya.

"…" Tak ada jawaban.

"Hei, kenapa diam saja?" Luhan akhirnya menunduk. Menggenggam erat telapak tangannya sendiri dengan air mata yang menetes. "Jelaskan …" lirihnya. Akhirnya Chanyeol mendongak dan seketika hatinya serasa diremas. Melihat gadis yang berstatus kekasihnya itu, yang selalu ceria dan kuat, menangis tak berdaya didepannya. "Berikan aku penjelasan, Chan. Kumohon.. Lalu aku bisa memukulmu sekali dan memaafkan semuanya."

"Luhan ah.."

"Ayolah, cepat!" isaknya sambil menatap chanyeol terluka. "Aku percaya apapun yang kau katakan." Tatapan itu, Chanyeol mulai goyah. Dia terdiam cukup lama, dan menatap kepalan tangannya sendiri. Hingga akhirnya dia memantapkan hatinya dan menatap Luhan dengan sisa keegoisan yang dimilikinya.

"Maaf.." Dunia Luhan berhenti. "Ada seseorang yang aku sukai. Sebaiknya kita berakhir sampai disini, Lu.." Dan semuanya runtuh seketika.

Dengan sisa kekuatannya, Luhan bangkit dengan air mata yang mengalir deras, dia melayangkan 1 tindakan kecil yang bahkan tak bisa menggambarkan se-per seratus luka hatinya.

PLAK.

Tamparan itu tentu saja mengejutkan Chanyeol. Namun, dia hanya diam dan membiarkan Luhan menamparnya dan meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apa-apa. Dia juga tak berupaya mencegahnya karena keputusannya sudah bulat. Dia sudah memilih.

Luhan berlari, yang bisa dia pikirkan saat ini adalah taman. Tidak menyadari sosok tinggi berkacamata yang sedang kebingungan menatap coretan kecil dikertas yang dibawanya. Luhan terus berlari hingga dia merasa kepala dan seluruh tubuhnya menabrak tubuh hangat seseorang. Luhan hendak meminta maaf secepatnya, namun rengkuhan hangat itu seolah menariknya semakin dalam dan dalam. Tak punya kekuatan lagi untuk menolak, Luhan hanya menganggap ini rengkuhan yang diberikan Tuhan untuk segala sakitnya. Dengan itu, dia menumpahkan semuanya. Tangannya terangkat, membalas pelukan itu lebih erat.

Tanpa Luhan ketahui, ada rasa nyeri di dada pria itu melihat gadis mungil didepannya menangis tersedu dalam diam didadanya. Dan tanpa mereka berdua ketahui, sudah ada benang merah tak kasat mata yang sudah menghubungkan mereka dengan erat, tak tepisahkan.