[The Power Of Love] Gempa's

Gempa's || by Indrikyu88

Gempa| Fitri (OC) || T || Fluff

Summary:

X atau O ?

XOXO

A/N : Disini umur para Tokoh nya udah 17 tahun, cerita ini terispirasi dari sebuah Fanfic korea yang berjudul [12 Powers of Love] dan XOXO. SELAMAT buat "Fajrin" yang berhasil memenangkan kuis kemarin :D

Indrikyu88 ©2015


"Dikarenakan jam pelajaran hari ini sudah selesai, maka Bapak akhiri pertemuan kita pada hari ini. Kalian sekarang sudah bisa pulang kerumah, selamat siang."

Semua siswa-siswi kelas XI MIPA A bersorak didalam hati, penderitaan yang mereka hadapi sedari 2 jam tadi akhirnya berakhir juga. Tak terkecuali Gempa, pelajaran sejarah benar-benar menyiksa nya. Buka apa-apa, mendengarkan guru mu bercerita di depan kelas tentang sejarah-sejarah dunia benar benar membosankan, belum lagi cuaca sekarang sedang panas-panas nya.

Bisa kau bayangkan belajar Sejarah selama 2 jam penuh yang hanya diisi oleh penjelasan dari gurumu saat cuaca sedang panas-panas nya? benar-benar neraka dunia.

Gempa sedikit meregangkan otot-otot lengan nya yang sedari tadi ia jadikan sebagai bantalan untuk tidur, Sejarah benar-benar membuatnya mengantuk hingga tertidur di tengah-tengah pelajaran. Beruntung aksinya itu tidak di ketahui sehingga ia bisa tidur nyenyak. Setelah membereskan beberapa buku yang berserakan di meja, Gempa kemudian pergi meninggalkan kelas.

Tujuan nya setelah pelaran berakhir bukanlah gerbang sekolah melainkan pergi ke kelas XI MIPA C. Sepanjang perjalanan, beberapa orang yang mengenal dirinya sesekali memberikan sapaan yang di balas oleh Gempa dengan anggukan pelan. Yeah.. Katua OSIS benar-benar dikenal.

Berhenti di depan pintu masuk, Gempa menengok sedikit ke dalam kelas, apakah orang yang ia cari berada di sana atau mungkin sudah pulang, Dan itu ia disana.

"FITRI!" Gempa berteriak kecil memanggil nama gadis yang saat ini tengah serius berkutat dengan pena dan buku di mejanya.

Mendengar namanya dipanggil, gadis yang bernama Fitri itu mengangkat kepala dan mendapati Gempa berdiri di depan pintu kelas sambil melambaik-lambaikan tangan nya, gadis itupun membalas lambaian tangan Gempa.

Fitri sendiri adalah gadis berperawakan kecil, tingginya hanyalah sebahu Gempa. Rambutnya selalu dikucir kuda dan sebuah kacamata berbingkai besar melekat di hidungnya. Fitri pernah bercerita kepada Gempa sewaktu mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bahwa ia sudah memakai kacamata sejak kelas 1 SMP, Gempa berfikir mungkin gadis itu terlalu hobi membaca buku hingga matanya menjadi minus.

"Kau sudah selesai?" tanya Gempa setelah sampai di depan meja Fitri, Gempa dapat melihat gadis itu tengah mencatat sesuatu dan Gempa berfikir bahwa itu adalah catatan materi pelajaran pada hari ini.

"Tunggu sebentar, aku tadi sedikit ketinggalan mencatat dan besok akan diadakan ulangan tentang materi yang dijelaskan hari ini. Materinya sangat susah, kau harus tau itu." Jelas Fitri masih berkutat dengan catatan nya.

"Baiklah, aku akan menunggumu." Ucap Gempa sambil tersenyum.

"Tidak perlu.." jawab Fitri cepat.

"Kenapa?" Gempa mengkerutkan dahinya bingung, bukankah tadi gadis itu baru saja menyuruhnya untuk menunggu?

"Kau tidak perlu menunggu ku karena aku sudah siap, kkkkkkk." Setelah mengatakan hal itu Fitri tertawa kecil, Gempa yang melihat itu lantas mencubit hidung Fitri pelan.

"Dasar, kau mengerjaiku."

Fitri tertawa sekali lagi, kali ini lebih keras. Mengerjai Gempa adalah sesuatu yang menyenangkan buat nya. karena ekspresi laki-laki itu akan terlihat lucu ketika wajah nya sudah mulai terlihat murung bukan kesal.

"Jadi, apakah kita bisa pulang sekarang?" Tanya Gempa setelah ia melihat Fitri memasukan buku-bukunya yang berada di atas meja kedalam tas.

"Belum.." Fitri menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Gempa.

"Huh? Kenapa? Kau tidak mengerjai ku lagi kan?"

"Kali ini aku serius." Fitri sedikit membenarkan kacamata nya yang melorot,"Klub Adiwiyata baru saja membeli bibit tanaman baru, dan bibit itu baru saja sampai tadi saat jam istirahat selesai. Aku tidak bisa menahan hasratku hingga besok untu segera mulai menanam."

Fitri kemudian menarik tangan Gempa dan megajak nya keluar kelas menuju Greenhouse yang berada di halaman depan Sekolah. Gempa sendiri hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, sepertinya laki-laki itu harus menahan keinginannya meminum jus jeruk setelah sampai dirumah nanti.

88

Fitri adalah gadis yang begitui mencintai lingkungan. Kecintaan gadis itu terhadap lingkungan benar-benar besar, belum lagi jika telah menyangkut soal tanaman, dengan senang hati gadis itu akan menjelaskan kepadamu bagaimana merawat tanaman yang baik dan benar sehingga mereka tidak layu. Tidak heran saat ia ditunjuk sebagai Ketua dari Seksi bidang lingkungan hidup di kepengurusan OSIS membuat gadis itu terlonjak senang hingga memeluk Gempa ditengah-tengah keramaian. Gempa merasakan malu dan senang disaat yang bersamaan kala itu.

Greenhouse yang saat ini dituju oleh Gempa dan Fitri terletak halaman depan sekolah berdekatan dengan gerbang sekolah. Greenhouse itu tidak terlalu besar, didalamnya penuh akan segala jenis tumbuhan. Kebanyakan dari mereka adalah tumbuhan yang mudah hidup di negara-negara tropis seperti malaysia atau indonesia. Biasanya tempat itu sering digunakan untuk laboratorium alam ketika pelajar Biologi mengenai Tumbuhan atau sebagai tempa penelitian bagi anak-anak klub KIR (Karya Ilmiah Remaja).

Salah satu yang menarik bagi Gempa di Greenhouse ini adalah penataan tanaman nya yang rapi, beberapa tanaman diletakkan diatas rak-rak panjang yang bertingkat 3, lalu adapula pot-pot gantung yang diisi oleh tanaman menjalar. Langit-langitnya sudah mulai ditutupi oleh tanaman merambat yang Gempa ketahui dari Fitri adalah tanaman markisah. Sempat Taufan pernah memintanya menyuruh Fitri mengganti dari markisah menjadi semangka. Sungguh pemikiran bodoh dari orang bodoh juga.

Kesimpulan nya Greenhouse ini begitu asri dan tentunya menenangkan. Setidaknya panas yang ia rasakan ketika berada di kelas tadi sudah mulai teratasi. Memiliki sekolah berwawasan Adiwiyata memang menyenangkan.

"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Gempa kepada Fitri saat mereka sudah memasuki greenhouse.

"Kau bisa membantu ku mengangkat polybag disana yang telah berisi tanah dan pupuk itu kesini, hmmm...Bawa saja sekitar 20, biar sisanya dikerjakan oleh anggota yang lain."

Gempa menganggukan kepala dengan senyuman terpatri diwajahnya, melakukan pekerjaan yang disuruh Fitri itu dengan senang hati. Ketika Gempa datang dengan satu polybak maka Fitri dengan sigap menanamkan bibit yang telah ada kesana. Setelah bekerja sekitar 20 menit, akhirnya pekerjaan itu selesai dengan hasil yang memuaskan, tinggal menunggu apakah bibit itu akan tumbuh atau tidak. Gempa yakin jika itu Fitri maka tanamannya pasti akan tumbuh dengan subur.

"Karena sudah selesai, ayo kita pulang." Gempa menepuk-nepuk kedua tangan nya menghilangkan sisa-sisa tanah yang menempel, ternyata mengkat polybag-polybag itu juga susah, Gempa tidak bisa membawanya dua sekaligus. Jadilaki-laki itu harus bolak-balik untuk mengambil kemudian meletakkan polybag itu.

"Kita masih belum boleh pulang." Gempa berhenti menyandang tas nya ketika Fitri mengatakan kalimat itu dengan santainya.

"Apa? Bukankah kita kesini hanya untuk menanam bibit-bibit itu?" tanya Gempa seraya menunjuk polybag-polybag yang telah diisi Fitri dengan bibit tanaman.

Fitri melipat tangan nya di depan dada lalu menggeleng pelan,"Masih ada yang harus kita kerjakan, Kau mau membantuku kan Gempa?"

Disisi lain, Gempa mencoba memaksakan sebuah senyuman manis untuk Fitri ketika gadis itu menatapnya dengan tatapan memohon, tangan gadis itu terkatup didepan dada dan badan nya sedikit dicondongkan kearah Gempa.

Gempa kalah...

"Eumm..Tentu aku akan membantu mu. Tidak mungkin aku membiarkan mu mengerjakan ini semua sendiri."Gempa mengakhiri kalimatnya dengan satu senyuman manis, tapi kali ini sedikit dipaksakan.

"OK! Bisakah kau membantuku mencabut daun-daun yang telah kering? Setelah itu tumpukkan mereka di luar dekat...kau bisa melihat tanah gambur yang ada disana? Rencananya kami anggota klup adiwiyata akan membuat pupuk kompos, nah kau bisa manaruh daun-daun kering itu disana bersamaan dengan buah-buah busuk juga sisa makanan yang telah kami kumpulkan."

Setelah memberikan penjelasan yang begitu panjang kepada Gempa, Fitri kemudian melenggang pergi menuju gudang perlengkapan yang terletak dibelakang greenhouse, gadis itu sendiri akan menyiram tanaman dan menyapu halaman depan greenhouse yang penuh akan dedaunan kering.

Sudut pipi Gempa sedikit berkedut ketika mendengar penjelasan panjang Fitri, ia tidak membayangkan jika hari ini akan ia habiskan untuk membantu sang kekasih mengurus tanaman.

"Hahhh...Lakukan saja Gempa..Ini tidak akan lama." Menghembuskan nafas panjang penuh akan beban hidup, Gempa mencoba menyemangati diri sendiri. Kemudian dengan langkah diseret menuju tanaman-tanaman yang telah menanti dirinya.

88

Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan semua pekerjaan yang dilakukan Gempa sudah selesai ia kerjakan. Daun-daun kering sudah dicabut –Gempa bahkan juga mencabut daun kering yang berada dilangi-langit –Ia juga sudah mengumpulkan mereka semua dan menumpukkan nya menjadi satu dengan buah-buah busuk dan sisa makanan yang ditunjuk oleh Fitri tadi, tapi sepertinya Gempa juga menemukan kotoran sapi diantara tumpukan-tumpukan sampah organik itu.

'Bau nya benar-benar busuk' Gempa menutup hidung ketika berada didekat tumpukan-tumpukan sampah itu.

"Apakah sudah selesai?" Gempa mendengar suara Fitri dibelakangnya, Gadis itu berjalan mendekati Gempa dengan sekeranjang dau kering yang telah ia sapu tadi, kemudian menuangkannya diantara tumpukan-tumpukan sampah organik yang lain.

"Sudah semua, aku berani jamin tidak ada dau kering tersisa satupun diantara tanaman-tanaman yang ada di dalam greenhouse mu itu Fitri." Ucap Gempa mantap, tubuh nya sudah lelah dan ia berharap mereka cepat-cepat pulang kerumah.

"Oke, sekarang tinggal kita gali sebuah lubang yang cukup dalam untuk menimbun semua ini."

JDERR...

Gempa baru saja seperti mendengar suara petir Kakaknya –Halilintar – ketika Fitri megatakan hal itu.

"B –Bisakah besok saja kita mengerjakannya Fitri?" Tanya Gempa hati-hati.

"Tidak.."

Mendengar jawaban singkat itu membuat kaki Gempa tiba-tiba saja lemas, untunglah ia bisa menguatkan diri agar tidak jatuh pingsan disana. Lebay memang, tapi itulah yang tengah dirasakan Gempa sekarang. Harapannya pupus sudah...

"Selagi ada waktu, kita bisa mengerjakan nya sekarang, tidak baik menunda-nunda pekerjaan. Kau harus membiasakan nya dari sekarang Gempa." Gadis itu berkata sambil memperbaiki kacamata nya yang melorot kemudian melipat kedua tangan nya didepan dada. Seorang Fitri benar-benar berhasil membuat Gempa tersiksa sekarang.

Gempa hanya bisa menganggukan kepalanya lemah, tenaganya benar-benar sudah terkuras habis, namun sebisa mungkin Gempa tetap memberikan sebuah senyuman kepada Fitri.

"Tunggu disini sebentar, aku akan mengambilkan sekop nya agar kau bisa menggali lubang." Fitri berbalik meninggalkan Gempa yang saat ini tengah terdiam, tiba-tiba saja terlintas sebuah ide cemerlang diotaknya.

'kenapa aku bisa lupa?' Gempa mentertawakan dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan satu fakta..

Tiba-tiba Gempa menghentakkan kakinya dengan keras ketanah, menimbulkan getaran yang cukup hebat hingga menyebabkan daerah disekitarnya sedikit berguncang.

"KYAAAA ADA GEMPA! GEMPA!"

Suara teriakan Fitri dari arah gudang terdengar oleh telinga Gempa mebuat laki-laki itu tertawa kecil, sepertinya dia terlalu keras tadi.

"GEMPA! GEMPA." Fitri berlari cepat kelaur dari gudang mengabikan sekop yang baru saja ia ambil.

"Ya Fitri, kau memanggilku?" tanya Gempa mengatur suaranya agar terdengar normal.

"Tidak, aku tidak memanggil mu maksud ku tadi baru saja Ter –ja..di." Omongan Fitri menjadi terputus-putus karena melihat sesuatu yang membuat matanya terbelalak kaget. Gadis itu tiba-tiba mempercepat langkahnya menuju ketempat Gempa berdiri sekarang.

Fitri dapat melihat di belakang Gempa, tepatnya lokasi dimana mereka akan membuat lubang untuki pupuk kompos tiba-tiba telah terbentuk sebuah lubang yang cukup besar dan dalam disana. Fitri perlahan mendekati lubang tersebut dan mendapati jika semua sampah organik juga sudah berada didalam sana.

Fitri baru ingat satu hal.

"Aku baru ingat jika kau bisa membuat lubang tanpa perlu menggalinya menggunakan sekop Gempa." Fitri facepalm lalu tertawa kecil.

"Sekarang kita hanya tinggal menutup nya saja." Setelah mengatakan hal itu Gempa kembali menghentakkan kakinya ke tanah dan dalam beberapa saat lubang tadi telah tertutupi kembali oleh tanah.

"Ahhh..Akhirnya selesai juga." Fitri menghela nafas legalalu menyeka peluh yang berada di wajahnya menyebabkan jejak tanah juga ikutan menempel di keningnya. Belum menyadari keteledorannya, Fitri menyeka lagi pipinya karena ada serangga yang hinggap disana. Gempa menatap Fitri, Dilihatnya wajah gadis itu semakin memerah karena panas. Lagi-lagi ada serangga kecil yang menempel di pipi Fitri, namun ketika dia hendak menyekanya seperti sebelumnya, Gempa menahan tangannya.

Gempa mengelap tangan kanannya, setelah sedikit bersih, laki-laki itu menyingkirkan serangga dari pipi Fitri.

"It's better." Ujar nya, kemudian laki-laki itu mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya dan mengelap keringat dan tanah yang menempel di wajah Fitri dengan lembut.

Fitri tersenyum lalu juga mengeluarkan sapu tangan dari kantong roknya kemudian juga menghusap keringat yang mengucur deras di wajah Gempa. Keduanya saling melempar senyum.

"Nah, apakah sekarang kita sudah bisa pulang?" Tanya Gempa ke Fitri sambil tersenyum penuh arti setelah ia selesai membersihkan keringat yang ada di wajah gadis itu.

"Hahahahha.. Baiklah baiklah, kita pulang sekarang tapi sebelum itu kita harus mencuci tangan terlebih dahulu."

Fitri menuntun Gempa menuju sebuah kran air yang biasa digunakan untuk cuci tangan, disana juga sudah terdapat sabun dan handuk kecil. Setelah semuanya selesai. Pasangan kekasih itu lalu berjalan meninggalkan greenhouse menuju gerbang sekolah.

88

"Terima kasih atas bantuan mu Gempa."

Fitri mengatakan itu setelah ia dan Gempa sampai didepan gerbang rumahnya, Gempa bersikeras mengantar Fitri hingga kedepan rumahnya untuk memastikan agar gadis itu sampai dirumah dengan selamat. Karena menuruit Gempa ini sudah terlalu sore membiarkan seorang gadis menaiki bus sendiri.

"Tidak perlu berterima kasih, aku senang bisa membantu mu." Ucap Gempa tulus sambil tersenyum manis.

"Kau sudah bekerja keras hari ini, aku akan memberikan mu imbalan atas kerja keras mu itu."

Omongan Fitri membuat dahi Gempa berkerut bingung, laki-laki itu bertambah bingung ketika Fitri mengeluarkan sesuatu dari saku blazer nya.

"Kau tidak bermaksud memberiku imbalan berupa uang kan?" Tanya Gempa bingung.

Fitri hanya tertawa lalu menggeleng, gadis itu lalu memberika Gempa secarik kertas kecil yang dilipat. Gempa mengambil itu lalu membuka lipatannya, laki-laki itu tersenyum ketika mebaca isi di dalam kertas itu.

X atau O ?

XOXO

Gempa menatap Fitri yang saat ini tengah tersenyum manis kepadanya.

"Apa yang kau pilih? Cepatlah sebelum aku berubah pikiran."

Fitri membuang mukanya, tidak membiarkan Gempa untuk melihat wajah nya yang tengah merona saat ini.

"Aku sangat lelah setelah bekerja membantu mu tadi, boleh kah aku meminta O?"

Fitri menarik nafas sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya maju ke depan. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di punggung Gempa. Memeluk laki-laki itu. Gempa memang tidak membalas pelukan itu karena sudah persyaratannya. Hanya pemilik kertas yang boleh memeluk atau mencium. Tidak boleh ada balasan.

Gempa merasakan kehangatan pada tubuhnya. Pelukan gadis itu membuat Gempa seperti baru saja mengisi energinya lagi. Beban di kepalanya terasa ringan. Ia ingin waktu berhenti sesaat agar ia bisa bersama gadisnya lebih lama lagi.

Fitri melepaskan pelukannya membuat Gempa mendesah kecewa. Merasa lebih dingin dari sebelum dipeluk tadi.

"Pulanglah sebelum hari bertambah malam."

Gempa hanya menganggukan kepalanya sedikit, Fitri tersenyum lembut kemudian kembali mendekati Gempa.

Chuu

"Itu sebagai bonus dariku."

Gempa memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Fitri, laki-laki itu lalu tersenyum lebar, kali ini matanya tampak bercahaya, entah itu karena cahaya matahari sore.

"Aku mencintaimu Fitri."

"All my love is for you, Gempa."

TBC

Next [The Power Of Love] Api's


Chapter Gempa udah selesai, ini adalah Chapter terakhir yang bisa aku update kilat, soalnya sebentar lagi aku mau UAS jadi yaaa dari sekarang harus fokus belajar, Tenang saja. IPLS bakalan aku update juga sebelum aku Fokus untuk belajar.

Chapter kali ini gimana? kurang romantis kah?

oke, kita langsung aja kuis nya.

Kuis Apa maksud dari kertas yang di berikan Fitri? dan apa arti dari XOXO itu sendiri?

DON'T BE SILENT READER AND LEAVE YOUR REVIEW