[The Power Of Love] Api's

Api's || by Indrikyu88

B. Api | Rere (OC) || T || Fluff

Summary: 'Hujan yang penuh berkah'

A/N : Disini umur para Tokoh nya udah 17 tahun, cerita ini terispirasi dari sebuah Fanfic korea yang berjudul [12 Powers of Love]

Indrikyu88 ©2015


"Hai Api!"

"Hai!"

"Api! Hai.."

"Hai juga Ami!"

"Api!"

"Iya..."

Api –nama laki-laki yang tengah berlari ini–dengan riang dan penuh senyuman membalas semua sapaan yang ditunjukkan kepadanya, sambil terus membalas semua sapaan tersebut, Api dengan langkah ringan terus berjalan menuju Kelas X MIPA A yang letaknya 2 kelas dari kelasnya sendiri X MIPA D.

"X MIPA B..."

"X MIPA A!" dengan begitu kekanak-kanakannya Api menyanyikan papan nama tiap kelas yang ia lewati dan ketika menyebutkan papan nama X MIPA A, nadanya sedikit ditinggikan. Tersenyum dengan lebarnya, Api menyembulkan sedikit kepalanya melalui pintu kelas untuk mencari seseorang.

'Ah itu dia!' seru Api dalam hati.

"RERE!" setelah mengetahui orang yang ia cari berada di dalam kelas, Api dengan semangat menghampiri orang tersebut yang ternyata adalah seorang gadis yang tengah berada dimeja guru, Rere –gadis yang dipanggil oleh Api–saat itu tengah berkutat dengan buku-buku yang berserakan diatas meja, sepertinya itu adalah buku tugas teman-teman sekelasnya. Mendengar namanya dipanggil dengan begitu kerasnya membuat perhatian gadis itu teralihkan dari tumpukan buku tersebut menuju sisumber suara. Gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi gimsulnya saat mengetahui si pemanggil.

"Hei.. kamu mencariku?" tanya Rere dengan senyuman yang masih tepatri diwajahnya

"Eum," Api mengangguk,"Ayo kita makan, sekarangkan sudah waktunya istirahat, aku lapar.." saat mengatakan 'aku lapar' Api mengelus-elus perutnya sambil mengerucutkan bibirnya, tanda bahwa saat ini ia benar-benar tengah menderita kelaparan.

"Apa tadi pagi kamu tidak sarapan?" tanya Rere dengan lembut.

"Aku sarapan,"Api menjawab mantap.

"Lalu? Kenapa kamu begitu kelaparan saat ini Api?" tanya Rere sambil terus mengatur buku-buku –yang tadinya berserakan– menjadi setumpuk dan merapikan tata letaknya agar beraturan.

"Jam pertama dan kedua aku belajar matematika, lalu jam ketiganya belajar biologi, mereka menguras energiku," sembari mengatakan alasannya, Api ikut membantu Rere merapikan buku-buku yang berserakan diatas meja dan melakukan hal yang sama seperti yang Rere lakukan.

"Ah! Aku ingat, sekarang hari selasa berarti 'Hari Neraka' bukankah begitu?"

"Iya! Hari neraka, dari jam pertama sampai pulang sekolah, pelajarannya eksakta semua," setelah selesai dengan buku-buku yang telah ditumpuk, Api lalu membantu Rere mengangkat mereka.

"Terima kasih.."ucap Rere disertai senyuman.

"Ini mau dibawa ke ruang guru?" setelah mengangkat semua buku dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Api dan Rere-pun beriringan berjalan keluar kelas.

"Iya.."

"Rere kan nggak piket hari ini, Teman-teman yang piket hari ini mana?" tanya Api karena merasa, tidak seharusnya Rere membawa sendiri buku-buku yang totalnya 30 buah tersebut, masih mending buku isi 40, kalau isi 100 itukan keterlaluan.

"Hahahaha.. aku disuruh membawa ini karena guru yang tadi mengajar di kelasku menyuruh ketua kelas yang mengatar buku ini jadi, ya.. ini bukan tugas piket, ini memang tugasku sebagai ketua kelas," Rere mengangkat bahunya dan tersenyum tipis, seolah mengatakan 'ini hal yang wajar untuk ketua kelas'.

"Oh.. jadi ketua kelas berat ya.. " Api mengatakan hal tersebut dengan wajah polosnya membuat Rere tertawa kecil.

"Lalu Api, selain mengantar buku-buku ini, tugasku selanjutnya setelah sampai diruang guru adalah mengahadap walikelasku untuk melaporkan keadaan kelas selam seminggu ini dan sepertinya cukup lama karena mungkin ada hal-hal lain yang akan kami bahas jadi, maaf!" Rere menyatukan kedua telapak tangannya dan memasang wajah bersalah.

"Kita tidak bisa pergi makan bersama di kantin?" Api menebak dengan raut wajah sedih, Rere hanya bisa mengangguk dan menghela nafas, ia sendiri tidak ingin membuat Api bersedih tapi ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua kelas.

"Tidak apa-apa.. aku bisa mengajak Kak Taufan, atau mungkin Air.. sepertinya ia juga tengah kelaparan saat ini karena jam ketiga tadi dia belajar matematika."

"Aku benar benar minta maaf."

88

Istirahat kedua, Api kembali menghampiri kelas Rere berharap kali ini mereka bisa makan bersama, ketika sudah sampai di kelas Rere, Api mulai mencari-cari keberadaan gadis tersebut namun nihil, gadis itu tidak ada. Api memutuskan bertanya kepada salah seorang siswa yang ia kenal.

"Apa Rere sudah keluar?" tanya Api kepada siswa tersebut.

"Regina? Ia sudah keluar dari jam ke 6 tadi, salah seorang pengurus Osis datang ke kelas dan meminta izin kepada guru untuk mengizinkan Regina keluar, sepertinya ada rapat pengurus inti Osis karena aku tidak ikut," laki-laki yang Api tanyai itu menjawab dengan begitu detailnya sehingga tidak memberikan Api kesempatan untuk bertanya dan kalimat terakhirnya itu...entahlah, Api tidak tahu harus merespon seperti apa.

"Terima kasih farel" Api menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar kepada Farel setelah itu ia meninggalkan kelas Rere.

"Hmm... Rere-kan bendahara 2 Osis ya.. hm..hm.. kalau sekarang tidak bisa mungkin aku akan mengajaknya pergi makan sepulang sekolah, ah! Mungkin aku bisa menanyakan kepada Kak Taufan tempat makan yang bagus! Ya benar! Yipi...pergi makan," Api melompat girang dan berjalan kembali kekelasnya dengan begitu riangnya.

88

" Rere!"

Dengan cepat, Api mendatangi kelas Rere setelah pelajaran pada hari ini usai, ia begitu semangat akan rencana pergi makan yang ia buat, selama pelajaran kimia berlangsung, ia bertukar sms dengan Taufan mengenai tempat-tempat makan yang bagus.

From: Kak Taufan

Kau bisa pergi ke cafe yang baru buka dekat SMP, disana ada banyak pilihan menu, tempat nya juga bagus... cafe terbuka, jadi enak buat tempat santai, atau ke toko es buah dekat toko buku depan mesjid itu saja.. kebetulan hari ini begitu panas dan cocok untuk menghilangkan rasa gerah.. lagian Rere juga butuh sesuatu yang dingin untuk meredakan rasa panas dan gerah setelah melewati rapat 'neraka' Osis yang begitu membosankan itu..

Ah! Atau ke kedai bakmi yang baru buka dekat sekolah atau cafe "morning" yang ada ice cream gorengnya, itu menu yang enak sekali.. blablabla..

Saran yang Taufan berikan begitu banyak sekali. Sesi konsultasi itu menghabiskan jam pelajaran terakhir Api, dengan tema konsultasi mereka 'tempat-tempat makan yang bagus', yah.. walaupun tindakan mereka ini sama saja dengan tindakan yang tidak patut ditiru karena melalaikan pelajaran, tapi Api sepertinya mengabaikan hal tersebut, lagian.. ia benci kimia.

"Ayo kita pergi makan es buah!" Api dengan penuh semangat mengatakan hal tersebut, disertai dengan senyum lebarnya memperlihatkan giginya yang berjejer rApi, berharap rencanannya kali ini sukses tanpa ada gangguan dari kesibukan Rere.

"Maaf Api, sepertinya aku tidak bisa.. "

Mendengar hal itu, senyuman yang tadi Api pasang seketika turun digantikan sebuah senyuman tipis.

"kenapa?"

"Aku tiba-tiba harus ketempat bimbel karena jadwal yang dimajukan."

"Oh.. begitu, baiklah." Api masih menyertakan senyuman lebar diperkataannya tersebut, kalau ia memasang tampang sedih, nanti Rere mungkin akan merasa bersalah.

"Kau marah?" Rere bertanya dengan suara pelan.. kepalanya ia tundukkan, sadar ia telah membuat Api kecewa berkali-kali pada hari ini.

"Aku baik-baik saja, lagipula kita bisa pergi lain hari," Api berusaha tersenyum selebar mungkin meyakinkan Rere kalau ia baik-baik saja, tidak marah sedikitpun.

Ya, ia tidak marah. Untuk apa ia marah? Bukankah ini bukan kesalahan Rere? Ini tentang tanggung jawab, Rere hanya melaksanakan tanggung jawabnya. Lagi pula, ini hanyalah permintaan kekanak-kanakan darinya yang ingin menghabiskan waktu berdua dengan Rere. Tanggung jawab lebih penting, begitulah kakaknya Gempa mengajarkannya.

"Ayo kita pulang bersama, aku akan menemanimu menunggu bus," Api menggenggam tangan Rere dan mengajak gadis itu berjalan keluar kelas.

"Baiklah.." melihat Api tersenyum lebar, membuat Rere juga ikut tersenyum, merasa lega karena sepertinya Api tidak marah.

88

SRAAASSSS

Api dan Rere hanya bisa termangu melihat hujan yang turun, setelah mereka sampai di teras sekolah hujan tiba-tiba turun, padahal setahu mereka cuaca hari ini sedang panas-panasnya, dan sepertinya tadi langit tidak ada menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan.

"A-Aku akan mengambil payung sebentar di loker, kamu tunggu disini dulu ya.." tersadar dari lamunannya, Rere berinisiatif mengambil payung yang selalu tersedia didalam lokernya, 'sedia payung sebelum hujan' benar-benar diterapkan oleh gadis ini.

"Ayo Api" setelah kembali dari mengambil payung, Rerepun membuka payung lipat tersebut dan mengembangkannya, Api hanya menurut dan berjalan menghampiri Rere yang sudah terlindungi dibawah payung, namun baru saja mere inigin melangkah kaki keluar dari teras sekolah, hujan tiba-tiba menjadi begitu lebat.

SYUUUUUUUHH

Disertai angin kencang.

JDAARR JDAAARRR

Dan juga petir.

"Mungkin sekarang sedang musim pancaroba" Rere berpositive thinking begitu mereka memutuskan menutup payung dan kembali memasuki sekolah menghindari tempias hujan.

"Kita menunggu hujan reda?" Api bertanya.

"Eumm.." Rere mengangguk,"Hujannya begitu lebat, walaupun sudah menggunakan payung namun itu belum tentu melindungi kita berdua dari hujan yang begitu lebat ini. Kita tunggu saja dulu ya, kamu mau Api?" Rere memandang Api dengan raut cemas, karena ia sudah paham, Api bukanlah tipikal orang yang sabaran jadi, menunggu hujan yang tidak pasti kapan redanya mungkin menjadi salah satu yang ia benci.

"Bisa!" Api menjawab dengan mantap membuat Rere sedikit terkejut "Tapi, kamu sendiri bagaimana? Kan mau bimbel," Api mengangkat sedikit alisnya ketika menanyakan hal tersebut.

Rere yang menyadari kepedulian Api kepadanya itu hanya bisa tersenyum ramah,"Aku baik-baik saja, sepertinya kelas bimbel hari ini akan dibatalkan karena teman-teman yang lain mungkin juga terjebak hujan."

"Iya.. benar," Api mengangguk paham, kemudian mengedarkan pandangannya kesetiap sudut lobi sekolah, hanya segelintir siswa yang menunggu hujan disini, mungkin kebanyakan mereka memilih menunggu di dalam kelas.

"Kita duduk aja ya, pegal berdiri terus, kamu nggak masalah duduk dilantai?" Api memberi saran dan mengajak Rere untuk duduk bersamanya di lantai, karena disini tidak ada bangku, maka pilihan mereka ya, lesehan dilantai.

Rere sendiri tidak terlalu masalah dengan duduk dilantai, namun roknya yang hanya sebatas paha membuatnya kurang nyaman, sebisa mungkin Rere mengatur duduknya agar terlihat sopan, tapi ya.. tetap saja dia risih. Namun Rere cukup terkejut dengan Api yang membentangkan jeketnya di kaki Rere menutupi kakinya yang tidak tertutupi rok sehingga dengan begitu ia tidak menjadi risih lagi.

"Terima kasih," Rere tersenyum begitu lebar, ia cukup terharu dengan perlakuan yang diberikan Api kepadanya.

"Sudah merasa nyaman?" tanya Api dan hanya dijawab Rere dengan anggukan kepala.

88

"Rere mau minum?" tanya Api, gadis disampingnya ini jelas sekali terlihat lelah, matanya sayu seperti mengantuk dan wajahnya berkeringat banyak. Mungkin kelelahan karena kegiatannya hari ini begitu banyak.

"Boleh, aku berharap bisa meminum secangkir teh hangat saai ini, tapi sepertinya itu harus ditunda dulu" jawab Rere disertai senyum simpul.

"Tunggu disini ya, biar aku yang membeli minumannya di mesin minuman," Rere hanya menganggukkan kepala dan menyandarkan kembali kepalanya di tembok, badannya lelah.

TUK

botol minuman yang berbunyi menandakan bahwa minuman yang ia pilih telah keluar, Api lalu mengambil 2 botol minuman tersebut. Lama Api menatap teh dalam kemasan botol yang ia genggam. Ia menghirup nafas lalu menghembuskannya.

'Oke, konsentrasi. Jangan terlalu kuat, cukup airnya saja jangan sampai botolnya meleleh' Api terus bergumam sambil tetap mengatur nafasnya. Releks...fuhh..

"ini" Api menyodorkan botol minuman yang telah ia beli kepada Rere yang saat itu tengah memejamkan matanya. Tidak lupa, ia juga telah membuka tutup botol minuman tersebut.

"Terima kasih" Rere mengambil minuman tersebut lalu meminumnya, matanya terbelalak kaget karena terkejut akan sensasi yang ia rasakan setelah meminum teh botol yang Api beli. Rasanya panas, bukan dingin. Ia yakin tadi Api membeli minuman itu di mesin minuman otomatis dan minuman yang berada disana semuanya dingin, tidak panas.

"Ini panas Api, bagaimana bisa?" Rere mengernyitkan alisnya bingung, tidak mempercayai yang ia rasakan.

"Aku tidak tahu, mungkin mereka mempunyai fitur yang baru, minuman yang panas." Api memasang tampang polosnya ketika memberika alasan tersebut.

"Benarkah?" Rere masih tidak yakin.

" iya,"dan tampang polos Api berhasil meyakinkan Rere. Gadis itu lalu kembali meminum tehnya dan kali ini rasa lelah yang ia rasakan terobati seketika setelah meminum teh hangat yang diberikan Api.

88

Cukup lama mereka menunggu huja reda, kira-kira lima belas menit tapi, belum ada tanda-tanda hujan tersebut akan reda. Api menguap bosan, ia benar-benar benci menunggu. Tapi rasa bencinya itu terkalahkan oleh rasa ingin bersama Rere. Biarlah ia menunggu selama berjam-jam asalkan ia bersama Rerenya. Mungkin kalimat lebainya bisa dibuat seperti itu.

"Rere kamu kedinginan?" Api menanyakan perihal tersebut karena melihat gadis disampingnya ini tengah memeluk dirinya sendiri.

Rere yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya karena percuma saja berbohong, Api lebih mengetahui tentang dirinya.

"Ayo sini.." Api merangkul Rere dan membawa tubuh gadis itu lebih dekat dengannya.

Rere hanya bisa menurut dan memilih menyandarkan kepalanya dibahu Api, rasanya lebih baik. Hangat dan nyaman. Rasa lelahnya benar-benar menguap.

"Aneh, kamu begitu hangat Api, apa kamu tidak kedinginan sedikitpun, tubuhmu benar benar hangat. Apa karena namamu Api itulah kenapa tubuhmu hangat?" Rere menanyakan perihal tersebut sambil memejamkan matanya, mencoba rileks dan merasakan kehangatan yang Api berikan.

"Err.. iya.. hahahaha.." Api hanya bisa tertawa grogi, Rere tidak menyadari kalau tebakannya itu benar.

Setelah itu, tidak ada yang memulai kembali percakapan, mereka berdua sama-sama terdiam dan lebih menikmati moment saat ini.

"Rere, apa kamu lelah?" lama, sunyi yang menghampiri mereka sebelum Api melontarkan sebuah pertanyaan.

"Hmm.." hanya sebuah gumaman yang keluar dari mulut Rere sebagai jawaban, ia begitu nyaman akan posisinya saat ini –menyandarkan kepalanya di bahu Api- dan rasa hangat yang Api berikan.

"Kamu tau Rere? Aku pikir terkadang kamu terlihat seperti Kak Gempa, begitu sibuk akan tugas kalian sebagai ketua kelas atau pengurus Osis, ah.. kamu juga dewasa, sama seperti kak Gempa yang begitu dewasa, padahal aku lebih tua setahun darimu tapi aku malah yang kekanak kanakan"

Rere yang mendengar penuturan Api, mengangkat kepalanya dan memandang Api dengan senyuman ramah, ah.. laki-laki disampingnya itu tidak sadar bahwa tindakan-tindakan kecil yang ia lakukan tadi menunjukkan bahwa ia telah menjadi laki-laki yang dewasa.

"Maaf ya, aku terlalu sibuk sampai mengabaikanmu" Rere menggenggam erat tangan Api mencoba meminta maaf dengan tulus, Api sendiri hanya membalas genggaman tersebut dan menganguk sedikit.

"Dengar Api, sini lihat aku," Api menghadapkan wajahnya kearah Rere,bersiap mendengarkan perihal yang akan disampaikan oleh gadis yang berada sampingnya ini.

"Aku tidak tahu kalau aku sebegitu dewasa dan 'sibuknya' hingga mirip seperti kak Gempa dimatamu, jujur aku merasa tersanjung bisa disamakan dengan ketua Osis kita itu. Mungkin, aku dewasa karena aku anak tengah.." Rere meletakkan jari telunjuknya di dagu dan pandangan mata keatas seolah berfikir.

"Anak tengah?" Api merasa begitu tertarik akan obrolan mereka ini dan tidak sabar mendengarkan penjelasan yang akan diberikan Rere selanjutnya.

"Iya, anak tengah. Aku memiliki seorang kakak perempuan dan seorang adik perempuan, itu membuatku berada ditengah-tengah mereka. Apa ya..hmm.. 'The Power of Anak Tengah', kau bisa menyebutnya seperti itu," Rere tertawa kecil diakhir kalimatnya.

"The Power of Anak Tengah?" Api bertanya polos.

"Hahahaha.. itu hanyalah istilah konyol yang aku buat, ehemm" Rere memperbaiki sedikit posisi duduknya, "Menurut pengamatanku biasanya anak tengah memang terlihat lebih dewasa, itu karena mereka harus menghadapi kakak mereka dan adik mereka, biasanya anak tengah itu menjadi pihak yang netral akan perselisihan antara si sulung dan si bungsu, si sulung sebagai kepala yang mengatur dan si bungsu yang tidak mau diatur. Keadaan ini membuat anak tengah menjadi dewasa karena mereka terbiasa melihat persoalan dari dua sisi yang berbeda, anak sulung yang berfikir terlalu jauh dan anak bungsu yang kekanak kanakan" Rere begitu semangat menjelaskan teori 'The Power of Anak Tengah' yang ia ciptakan sehingga tidak sadar kalau penjelasan yang ia berikan begitu panjang dan aneh.

Di sisi lain, penjelasan yang diberikan oleh Rere membuat Api terdiam cukup lama, dengan tampang polosnya Api berusaha mencerna setiap penjelasan yang diberikan oleh Rere dan setelah berfikir keras akhirnya ia bisa menarik sebuah kesimpulan.

"Kak Gempa anak tengah makanya ia dewasa ya?"

Dan kesimpulan itu sukses membuat Rere tergelak, rasanya ia ingin mencubit pipi Api karena tampangnya begitu imut saat mengatakan hal itu.

"Iya juga ya.. Kak Gempa harus menghadapi Kak Halilintar, Kak Taufan lalu, harus mengurusmu dan Air, hmm ternyata aku dan Kak Gempa benar-benar mirip. Mungkin ini pertanda," Rere lalu tersenyum jahil dan kembali tertawa karena Api memasang tampang kesal saai ia mengucapkan kalimat terakhirnya.

"Kalian nggak jadi mirip" Api merajuk.

"Hahahahahaha" Rere kembali tertawa lepas, kali ini ia memutuskan mencubit pipi Api karena tidak tahan lagi. Gemas.

"Sakit!" Api mengusap pipinya yang habis dicubit lalu memutuskan membalas dengan mencubit pipi Rere juga.

"Hahahaha.. sakit Api"

"Rasain, hahahahaha.."

Mereka berdua tertawa bahagia, sisa sore itu mereka habiskan dengan saling bercanda satu sama lain dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Api sangat senang hari itu, walaupun mereka gagal 3 kali pergi makan, tapi setidaknya moment saat ini berhasil mengobati rasa kecewa '3 kali gagal pergi makan bersama' yang Api rasakan.

Api benar-benar berterima kasih akan hujan yang turun pada sore ini.

'Hujan yang penuh berkah'

Begitulah Api menyebutnya.

Next [The Power Of Love] Air's


HUWAAAA PLISS JANGAN BUNUH AUTHOR

hu..hu..hu..

Author sadar bahwa author telah menelantarkan ff ini dan ff yang 'itu'

author akan memberikan alasannya:

1. Author sibuk *basi

2. kena Writer's block, nggak tau mau nulis apaan lagi *basi

3. fokus belajar *ini bohong*

4. Malas

5. Malas

6. Malas

IYA AMPUNNNNN..

MAAFKANLAH SIFAT PEMALAS SAYA INI TT_TT

iya jujur, author benar-benar kambuh sifat malasnya dan nggak mood lanjutin cerita. malah udah lupa cerita yang chapter-chapter terdahulu.

dan lagian, kayaknya author udah lupa cara ngerangkai kata-kata yang bagus, kalian para pembaca pasti sadar, kalau chapter ini hancur banget, parah, gila. nggak bermutu, buang aja!

fyuhh...

doain ya, biar sifat malas author hilang dan bisa menyelasaikan Ff ini dan juga FF ' Ice Prince Love Story'

*Bow*

Thank yang udah setia nungguin Author dan Ff yang author hasilkan

sekali lagi terima kasih banyak