*7 Years Later

*on the phone ( pukul 02.00 KST )

'hallo?'

'Yugyeom, tolong aku.'

'kenapa?'

'ada banyak serangga di apartementku!'

'apa?'

'aku tak tau kenapa ada banyak serangga di apartement ini'

'trus kenapa? Kau ingin apa?'

'tolong kau bunuh mereka!'

'wae?! Kenapa harus aku?'

'kau kan yang ahli dengan hal seperti ini'

'jadi aku harus ke apartementmu?'

'Yugyeom serangga ini menggangguku setiap hari'

'aaaaah hyung ini sudah tengah malam'

'jadi kau tak mau datang?'

'tidak!'

'tapi serangganya bagaimana?'

'molla …'

'lalu aku bagai…'

Setelah memutuskan telephonenya dengan Jinyoung, Yugyeom akhirnya kembali tidur.

"aish hyung yang satu ini. Kan sudah aku bilang untuk tetap tinggal di Incheon, kalau ingin pindah setidaknya di Bucheon saja. Jika seperti ini aku yang tersiksa jadinya. Memangnya dari Incheon ke Gwangju itu dekat. Aaahh hyung ini!" Yugyeom mengeluh tapi tetap merapikan pakaiannya dengan mata tertutup. Selama di perjalanan Yugyeom terus mengeluh bagaimana Jinyoung menelphone nya tengah malam hanya karena serangga di apartementnya. Saat Yugyeom memasuki komplek apartement Jinyoung, dia melihat ada seseorang yang berdiri di dekat taman.

"oh hyung, apa yang kau lakukan di sini? Serangganya bagaimana?" tanya Yugyeom begitu melihat Jinyoung berdiri di taman.

"ya kau lihat sendiri kan, lihat apartement nya sudah selesai, cantik dan juga terang." Jawab Jinyoung sambil menunjuk taman di belakangnya.

"oh ya benar, baguskan, setidaknya apartementmu selesai tepat waktu, jadi kau tidak perlu bolak balik dari kantormu ke apartement ku lagi." Jawab Yugyeom malas.

"oh iya aku juga sempat mendengar dari para tukang dan juga satpam di sini jika waktu itu ada orang gila yang marah marah kepada mereka dan mengancam akan meng PHK mereka jika pekerja …"

"aniii, aku tidak mengancam akan memecat mereka, aku hanya akan mencatat siapa saja yang tidak bekerja dengan becus yang menghambat pembangunan proyek …"

"benarkan itu kau?" tanya Jinyoung menunjuk Yugyeom. Yugyeom yang sadar sudah terjebak akan pertanyaan Jinyoung hanya menghela nafas.

"iya iya itu aku. Aku bilang pada mereka jika aku adalah Pimpinan Proyek. Puas kau sekarang." Jawab Yugyeom kesal. Tapi Jinyoung hanya tersenyum pada Yugyeom. "jadi kau tengah malam menelphoneku hanya untuk menanyakan ini. Kau tau aku datang darimana? lalu kau berbohong juga soal serangga?" Yugyeom kesal.

"memangnya itu penting sekarang? Lihat kau, kau itu judes, galak, omonganmu ketus di tambah lagi kau seorang Pimpinan Proyek, tapi kau akan datang jika aku yang memanggilmu, bagaimanapun kondisinya. Lalu kenapa kau di sini?" Jinyoung tersenyum pada Yugyeom. "jadi tak ada yang ingin kau bicarakan padaku? Ya sudahlah aku pergi saja." Jinyoung berbalik dan berjalan kembali ke apartementnya, sekilas Jinyoung terlihat tersenyum.

"aish hyung jamkkanman." Yugyeom mengejar Jinyoung dan berdiri agak jauh darinya.

"Park Jinyoung. Dengar yah aku akan mengatakannya sekali saja. Aku melihatmu pertama kali saat kau membagikan brosur seminar dari kampusmu. Lalu aku mencoba mencari tau tentang kau. Dan saat aku tau kau memasuki jurusan itu, itu sangat menyusahkanku, meskipun itu susah dan sangat menyebalkan tapi aku tetap mengikutimu. Selama kuliahpun aku mencoba untuk mendekatimu karena aku tau waktuku hanya satu tahun agar kau bisa menyukaiku. Saat kau luluspun aku selalu mengawasimu dan mengetahui kau ada dimana. Tapi aku bukan stalker atau sasaeng atau apalah itu. Aku mengikutimu karena itu sudah menjadi kebiasaanku. Dan kebiasaanku itu adalah mencintaimu. Tapi aku sungguh tidak yakin, jika kau tidak bersikap canggung padaku nantinya seandainya kau tau aku sudah lama menyukaimu mengingat situasimu waktu itu. Makanya akan lebih baik jika aku tidak mengatakannya sama sekali." Yugeyom menjelaskan semuanya dengan tetap beradu pandang dengan Jinyoung. Dia ingin agar Jinyoung tau bahwa dia benar benar sungguh mencintainya. Jinyoung hanya tersenyum dan berjalan mendekati Yugyeom lalu memeluknya sangat erat, dan di balas dengan erat oleh Yugyeom.

.

.

.

"jadi setelah acara kelulusanku kau tidak menghubungiku sama sekali dan hanya mengawasiku? Kau tau seberapa gilanya aku tak mengetahui kabarmu?" Jinyoung masuk lebih dalam ke dalam pelukan Yugyeom.

"hehehe mian hyung. Ternyata di Dubai itu di luar ekspetasiku. Aku takut jika aku selalu mengabarimu nanti suatu saat aku akan melupakanmu dan fokus pada pekerjaan. Jadi lebih baik aku benar benar tak menghubungimu sama sekali dan meminta pada suruhanku untuk mengawasimu. Jadi aku selalu tau dimana kau selama 24 jam." Yugyeom memeluk Jinyoung, dan sesekali mengecup puncak kepala Jinyoung.

"5 tahun kau melakukan itu? apa kau tak kasihan pada suruhanmu?"

"aku juga minta bantuan Bambam dan Jungkook, oh dan juga Khun hyung. Aku dengar kau sempat mengalami kecelakaan dan koma selama 3 hari? Kau tau, aku sempat gila dan menghancurkan semua pekerjaan yang aku buat 2 tahun terakhir." Yugyeom membalik tubuh Jinyoung dan menatap garang padanya. Jinyoung meringis karena Yugyeom mencengkran lengannya terlalu kuat.

"oh mian kau juga tau yah. Jika bukan karena pekerjaan aku tak akan buru buru seperti itu. Aw sakit Yugyeom, aku sudah sembuh lihatlah."

"mmm hyung lusa nanti ketemu umma yah. Dia sangat merindukanmu. Semenjak tiba di Korea dia selalu menanyakanmu terus." Yugyeom kembali memeluk Jinyoung.

"boleh saja. Mau aku buatkan apa untuk makan malamnya nanti?"

"ah tak usahlah hyung. Kau tak usah ke rumahku. Lusa kau di rumahmu saja yah."

"kenapa?"

"lusa nanti aku akan mengajak orang tua ku bertemu dengan orang tuamu." Yugyeom tersenyum misterius.

"oh kau ingin melamarku?" Jawab Jinyoung sekenanya.

"ish hyung aku sedang ingin romantis nih."

"tapi kau memulainya dengan cara yang tidak romantis."

"jadi bukan kejutan dong namanya?"

"bukan."

"trus bagaimana selanjutnya?"

"ya sudah kau ke rumahku saja, kan katanya kau mau melamarku."

"hyung aku tau aku tidak romantis. Tapi aku serius."

"aku tau, lebih baik kita tidur saja."

"Park Jinyoung saranghae~" Yugyeom mengecup pipi Jinyoung sekilas dan merapatkan pelukan mereka.

"hmmm nado saranghae Kim Yugyeom." Jinyoung meremas tangan Yugyeom dan tersenyum bahagia. Dia tidak tau jika akan berakhir seperti ini.

Walau pada akhirnya cinta selalu membutuhkan pembuktian dan pengorbanan. Seperti Werewolf yang tidak bisa berpisah dengan Imprint nya, seperti Kahlil yang tergila gila pada Selma atau seperti Santiago yang meninggalkan Fatima dengan janji Kebersamaan. Atau kisah sederhana lainnya, Bandung Bondowoso membuktikan cintanya kepada Roro Jonggrang dengan membuat seribu candi, Sangkuriang membuktikan cinta kepada Dayang Sumbi dengan membuat danau, Rahwana membuktikan cintanya dengan menculik Sita, Sita membuktikan kesetiaannya kepada Rama dengan cara membakar diri, Romeo dan Juliet membuktikan cinta mereka dengan mati bersama. Begitulah, di akhir cerita cinta bisa tak terbalas, bertepuk sebelah tangan, di khianati atau berakhir bahagia. Tapi yang pasti, cinta itu telah di buktikan dengan sepenuh hati.

.

.

.

.

.

END!

.

.

.

Tamat ya udah tamat

Makasih yang udah mau ngeriview ceritai ini

Cerita ini berdasarkan kisah nyata. Udah sih percaya aja. Kisah nyata berdasarkan baca dari novel, komik, film, drama, blog, dan ff lainnya aku jadiin satu. Dan beberapa adegan yang emang aku ambil dari kehidupan nyata. Dan sosok Kim Yugyeom yang kayak gitu beneran real hahahaha

Terima kasih untuk segala galanya yang mau meluangkan waktu buat baca dan nunggu tiap chapternya hahahah muach muach deh~

Peace out! Jjai~