Your Arbitrarily Movement.
(c) Chara by : Sorachi Hideaki
(c) Fanfic by : darktea13
Anime/manga : Gintama
Pairing : Gintoki x Hijikata
Warning ! ada sesuatu yang sesuatu di dalam cerita ini :c jangan bayangin ntar dosa /tidakberkaca
.
"Kau bisa mengambil salah satu keputusan. Yang pertama, kau tidak ikut ke kota sebelah,"
Hijikata melebarkan matanya, memelototi Gintoki.
"Yang kedua?"
Gintoki terdiam sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Yang kedua, aku ikut bersamamu,"
Angin musim panas menerpa rambut Hijikata. Tatapannya terlihat ragu. Ragu. Ragu untuk memercayai si bodoh itu atau mengabaikannya. Untuk apa ia memercayainya, sedangkan sosok perak itu bukan orang yang terpercaya baginya, malah sebaliknya.
Tapi mengapa, ada rasa sedikit percaya di antara rasa ketidakpercayanya? Si perak itu tidak memiliki bukti yang jelas dan tiba-tiba saja meminta Hijikata untuk undur diri dari tugasnya, ataupun mengikutinya. Untuk apa? Apa yang ia rencanakan? Atau... apa yang sebenarnya ia ketahui?
Hijikata menatap mata Gintoki dengan jelas. Membulatkan jawaban atas pilihan konyol yang telah terlontarkan dari mulut si penyuka manisan itu.
"Yoruzuya," Hijikata remas tangan kirinya, seakan telah memilih keputusan yang tepat. "Mau dalam keadaan apapun, aku tidak akan melewatkan tugasku,"
Terlihat dari wajah Gintoki, sepertinya ia sudah memprediksikan jawaban Hijikata.
"Berarti, kau sudah tahu aku akan bagaimana, kan?" Gintoki memasukkan tangan kanannya ke dalam kimono putihnya yang bagian kanannya ia lepas.
Hijikata mengambil langkahnya untuk berjalan melewati Gintoki, seolah tidak peduli.
"Terserah. Tapi pergilah sendiri, jangan ikut campur dengan tugasku,"
.
.
Pukul 12 siang.
Matahari bersinar begitu terik pada siang itu. Musim panas yang terlalu cerah, hingga membuat orang-orang enggan untuk melangkahkan kaki meninggalkan ruangan beratap mereka. Kecuali para Shinsengumi yang dengan biasa berjalan di bawah terkaan sinar matahari tersebut, seakan telah terbiasa dengan api neraka dan menganggap hal tersebut ringan. Mereka siap bertugas.
Shinsengumi segera menaiki mobil yang akan mengantarkan mereka ke kota sebelah, tempat di mana penyelundupan senjata illegal yang berasal dari Edo sedang bertransaksi.
Sekitar 2 jam untuk menempuh Edo ke kota sebelah karena adanya banyak faktor kendala. Tetapi mereka tidak seberapa memedulikan lama perjalanan, karena proses transaksinya pada malam hari. Mereka sengaja pergi ke kota sebelah pada siang hari, tentu karena mereka pasti akan menginstevigasi dulu hingga akar-akar kelompok penyelundup tersebut.
Kebetulan, ketika Hijikata sedang menyamar menjadi penduduk biasa dengan kimono hijaunya, ia melihat sesosok kimono putih bermotif biru di pinggirannya yang sangat ia kenali itu, memasuki sebuah pachinko.
Hijikata hanya menghela napas dengan kesal.
Sebenarnya, apa tujuannya ia ke kota sebelah hanya untuk bermain pachinko?
Samurai miskin, memang.
Yang kerjaannya hanya menghamburkan uangnya untuk kesenangan sementara, dan juga kesenangan yang tidak pasti.
.
Pukul 10 malam.
Beberapa anggota Shinsengumi telah bersembunyi di dekat pelabuhan, sedangkan yang lain berpura-pura menjadi warga biasa yang sedang memancing, mengobrol, dan lainnya.
Yamazaki mengernyitkan alisnya.
"Hei, apa benar seperti ini? Mengapa transaksi senjata ilegal di tempat seperti ini? Dan mengapa beberapa anggota berpura-pura menjadi warna biasa? Bukannya itu hanya akan membuat mereka untuk berpindah lokasi?" tanyanya panjang lebar.
Hijikata yang mendengar pertanyaan Yamazaki hanya diam, tidak mood untuk menjawab. Karena di rapat tadi sudah mereka bahas.
Kondo-san yang melihat tingkat mereka berdua, hanya dapat menggelengkan kepala lalu menjawab pertanyaan Yamazaki,"Informasi yang ku dengar, mereka sengaja di tempat yang tidak terlalu sepi seperti sekarang ini. Karena, jika terlalu sepi mereka juga akan lebih waspada bila ada polisi seperti kita yang sedang bersembunyi,"
Dari kejauhan, terlihat kapal yang berisikan oknum-oknum yang siap untuk bertransaksi senjata ilegal telah tiba. Di depan kapal tersebut terlihat beberapa orang telah menyambut kedatangan mereka dan mengeluarkan senjata.
Hijikata tersenyum kecil, lalu termenung sejenak. Memikirkan perkataan Gintoki yang membuatnya makin meremehkan peringatan si keriting perak itu.
Tidak mungkin ia akan mati. Toh ini hanya kasus biasa, tidak lebih dari itu. Hijikata berharap kasus ini segera selesai dan ia dapat beristirahat, lalu segera menemui boss Yorozuya itu dan mengatakan bahwa ucapannya sangat tidak logis dan salah besar.
Ia sangat ingin membanggakan hal itu, menunjukkan bahwa Gintoki hanya beromong kosong.
Kondo-san, Hijikata, dan Sougo segera melakukan strategi mereka, yaitu mengunci pergerakan mereka lalu menangkapnya.
Cukup simpel.
Ketika mereka melangkahkan kaki mereka untuk keluar,
tiba-tiba saja terdengar ledakan dari belakang mereka.
Mereka bertiga refleks mengarahkan kepala mereka kepada sumber suara yang cukup besar itu.
Terlihat sebuah mobil terbakar dahsyat di dekat mereka, dan dari atas gedung terdapat seseorang yang telah menembak mobil itu hingga meledak. Wajah mereka bertiga terkena beberapa partikel mobil tersebut yang cukup membuat wajah mereka terlihat berdarah-darah, terutama Hijikata yang jaraknya lebih dekat dari mobil tersebut.
Mereka langsung berlari ke tempat anggota lain sambil mengumumkan kepada anggota lain bahwa ada pergantian rencana.
Dari atas gedung, banyak penembak yang menggunakan senjata ilegal tersebut untuk menghabisi para Shinsengumi.
Hijikata sedikit shock akibat ledakan yang secara tiba-tiba itu. Ia berlari berpencar dari Kondo-san dan Sougo untuk mencari seseorang yang bertanggung jawab atas memulai semua kejadian ini.
Sial. Sial. Sial.
Hanya itu yang dapat dipikirkan oleh sang wakil komandan ini. Pikirannya kacau.
Dan, entah mengapa ia juga langsung menghubungkan kejadian rumit ini dengan perkataan orang yang paling ia benci itu.
Apa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi? Ini hanya kasus transaksi penyelundupan senjata, kan?
Hijikata berlari melewati jalanan dan jembatan untuk segera ke arah kapal tersebut dan melawan sang atasan proses transaksi tersebut. Tetapi, jaraknya masih terlalu jauh.
Tiba-tiba, sebuah tangan menarik lengan Hijikata dengan kuat hingga membuatnya tertarik oleh tarikan itu, membuatnya kini berada di bawah terowongan jembatan tersebut.
Hijikata memfokuskan pandangannya dengan apa yang baru saja terjadi.
Kini di depannya terdapat si rambut keriting perak, dengan tatapannya yang serius, Gintoki yang menyadari Hijikata akan memarahinya langsung mengangkat jari telunjuknya ke depan mulut Hijikata. Yang menandakan untuk menyuruhnya diam.
"Kau targetnya,"
Kalimat pembuka yang terasa ganjil, tetapi singkat dan jelas. Tapi, maknanya masih belum dapat ditangkap oleh sang wakil komandan Shinsengumi tersebut.
Hijikata mengernyitkan alis. Mengisyaratkan bahwa ia masih tak paham.
Gintoki maju selangkah ke hadapan Hijikata.
"Mereka memanfaatkan penyelidikan kalian sebagai umpan agar kalian ke sini. Sebenarnya, tujuan mereka bukan untuk bertransaksi senjata ilegal. Tetapi membunuhmu,"
Hijikata langsung menolak ucapan Gintoki,"Kenapa harus aku? Kalau secara logika, mereka pasti harusnya membunuh Kondo-san sebagai atasan Shinsengumi, kan? Tapi mengapa aku?"
"Jika kau mati, bagi mereka kau akan berpengaruh di Shinsengumi. Kehilangan orang yang sangat tegas dan dapat diandalkan, justru dapat menghancurkan suatu perkumpulan," jelas Gintoki.
Hijikata sengaja untuk terdiam sejenak, lalu tatapan iblisnya ia tampakkan kepada Gintoki.
"Oi, dari mana kau mendapatkan informasi itu?" tanyanya dengan tegas,"Apa jangan-jangan kau... juga termasu—"
Gintoki langsung meng-kabe-don Hijikata dengan tangan kirinya. Tatapannya menatap ke bawah.
"Hei, maniak mayo," Gintoki menatap Hijikata lebih dekat, dengan senyuman setannya,"Kalau memang iya, memangnya kenapa?"
Shock.
Hijikata shock. Ia berhadapan dengan salah satu musuhnya. Dengan tangannya yang gemetaran, ia memegang sarung katananya yang berada di sebelah kiri pinggangnya.
Gintoki langsung meraih tangan Hijikata yang hendak mengeluarkan katana-nya.
"Bercanda. Bodoh. Kalaupun aku musuhmu, sudah kutebas kepalamu sejak awal kita bertemu. Dan untuk apa aku menceritakan semua itu kepadamu jika aku ini musuhmu?" Gintoki tampak kesal karena Hijikata nampaknya tak memercayai dirinya.
"Lagi pula, aku mendapatkan informasinya dari salah satu klienku, ia berkata sedikit soal rencana itu karena teman lamanya adalah salah satu di antara kelompok itu. Dan aku tadi siang juga ikut mencari informasi yang lebih dalam," Jelas Gintoki.
Hijikata masih tak dapat memercayai ucapan Gintoki, dari raut wajahnya pun sudah tampak.
"Lalu mengapa kau tak mengatakannya langsung kepada Kondo-san? Kita dapat mencegah kejadian ini jika kau mengatakannya!" Hijikata berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Gintoki.
Gintoki tampak bosan dengan pertanyaan Hijikata yang tak habis-habis, sungguh keras kepala. Tetapi ia masih berusaha untuk menjelaskannya.
"Kalau aku mencegah kejadian ini, tak akan ada yang berubah. Yang ada hanyalah pengunduran waktu. Nyawamu akan selalu dalam bahaya setiap saat, kau akan selalu dikelilingi oleh kecemasan. Apa bedanya?"
Hijikata kini tak dapat melawan ucapan Gintoki. Ucapan Gintoki cukup benar baginya. Tindakan Shinsengumi saja yang mungkin terlalu terburu-buru.
Untuk terakhir kalinya menanyakan jawaban yang rumit, Hijikata pun menanyakan pertanyaan terakhir.
"Mengapa kau rela mengorbankan waktu ataupun juga nyawamu hanya untukku? Apa urusanmu di sini?"
Gintoki menghela napas. Lelah dengan pertanyaan Hijikata yang bagaikan hujan yang deras pada musim penghujan.
"Sudah terlihat jelas, kan? Aku hanya..."
Gintoki langsung memegang pipi hingga dagu Hijikata dengan tangan kanannya, mengusapnya sejenak yang membuat Hijikata kaget. Gintoki langsung mencium bibir Hijikata dengan pelan dan lembut, lalu menjilati bibirnya sejenak, berusaha untuk membuka mulut Hijikata yang bagaikan terkunci oleh jahitan benang. Yang tentu saja pada akhirnya bibir itu terbuka pelan. Sekarang ini, Hijikata bisa saja langsung mengeluarkan katananya dari sarungnya tersebut lalu menebas si pemilik kimono putih bermotif itu karena sikap mesum atau dapat dikatanya pelecehan tersebut, tetapi entah mengapa.. untuk kali ini, Hijikata ingin menikmatinya untuk sebentar saja. Lidah Gintoki yang masuk ke dalam mulut Hijikata terasa nyaman dan hangat baginya.
Pikirannya yang awalnya penuh perhitungan, logika, dan penentuan dalam taktik penangkapan sang oknum transaksi senjata ilegal pun entah mengapa hilang dalam sekejap. ia pikirkan pun juga hanya satu, yaitu kenikmatan dalam beradu lidah yang tengah berlangsung dalam mulut Hijikata. Kedua jantung pria tersebut saling berdegup dengan cepat yang disebabkan oleh ciuman tersebut.
Gintoki melepas ciuman mereka dengan pelan, setetes air liur yang saling berhubungan di antara mulut mereka masih terlihat menggantung. Hijikata mengatur pernapasannya, pipinya sangat memerah akibat apa yang telah mereka lakukan tadi.
"...ada kepentingan pribadi dengan seseorang yang ada tepat di depanku," jawab Gintoki sambil tersenyum nakal.
Hijikata sedikit tercengang dengan jawaban Gintoki, dan tentunya dengan apa yang telah mereka lakukan barusan. Jantungnya masih berdetak dengan cepat.
Gintoki yang menyadari betapa canggungnya pada saat itu, langsung memutuskan rencananya."H-Hijikata-kun.. lebih baik kita segera ke anggota Shinsengumi yang lain untuk mengganti rencana, ok?"
Gintoki langsung mengarahkan Hijikata untuk segera keluar dari balik terowongan tersebut.
...
Tiba-tiba, terdengar tembakan yang sangat keras dari atas jembatan yang mengakibatkan jembatan itu roboh. Tampaknya, seseorang telah membazooka jembatan itu untuk membunuh Hijikata.
Hijikata yang masih berada di pinggir bawah jembatan tersebut, tertimpa oleh partikel-partikel jembatan yang hancur.
Apa yang terakhir ia tangkap dengan matanya pada kejadian itu,
Adalah beberapa bagian-bagian jembatan yang jatuh menerpa Hijikata.
Setelah itu,
Semua gelap.
Semua itu, sangat terlalu cepat.
-TBC- ;))
/Vote, REVIEW, follow, dan Share akan selalu memotivasi saya untuk melanjutkan fanfic ini! :)) see you next chapter guys ! /
Comment from author : hayolo makanya jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk ciuman.. hayolo kena karma /HUS
