Your Comfortable Attention.
(c) Chara by : Sorachi Hideaki
(c) Fanfic by : darktea13
Anime/manga : Gintama
Pairing : Gintoki x Hijikata
.
Apa yang terakhir ia tangkap dengan matanya pada kejadian itu,
Adalah beberapa bagian-bagian jembatan yang jatuh menerpa Hijikata.
Setelah itu,
Semua gelap.
Semua itu, sangat terlalu cepat.
.
.
.
Hijikata terbangun. Tetapi anehnya, sekelilingnya gelap gulita. Hijikata terduduk, benar-benar gelap di sekelilingnya, tak ada apa-apa yang membuatnya sedikit takut.
Mimpi, ya..
Tangan kirinya terasa sungguh sakit dan seperti ada yang menahan. Sedangkan tangan kanannya tidak. Dan juga, kepalanya sangat sakit tak karu-karuan. Dengan keadaannya yang seperti itu, Hijikata mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
Ah... insiden besar itu...
Hijikata bergumam.
Setelah menyadari apa yang telah terjadi, Hijikata langsung terkaget dan berusaha untuk bangkit, tetapi tak bisa.
"Kondo-san?! Bagaimana nasib Shinsengumi?! Oi! Apa ada seseorang di sini?!" teriak Hijikata dengan keras.
"Siapa pun, tolong!"
"Shinsengumi dalam bahaya!"
Tidak peduli seberapa banyak Hijikata teriak dengan begitu lantang hingga kerongkongannya sakit, tak ada balasan. Yang ada hanya sekelilingnya yang hitam.
"Ayolah jangan bercanda, mengapa ini gelap sekali? Cepat hidupkan lampu pada ruangan ini!"
"Apa ini adalah suatu kejutan, huh? Jangan bercanda! Ini bukan waktunya untuk acara yang seperti itu!"
"Siapa pun..."
Hijikata mengeluarkan air matanya hingga membuat kedua pipinya basah. Entah mengapa, matanya terasa sungguh sakit, tetapi ia tak mempedulikan hal itu.
"Hijikata-san,"
Sebuah suara asing yang memberi secarik harapan kepada Hijikata yang mentalnya sedari tadi sedang terombang-ambing bagaikan sebuah kapal kecil di tengah samudra luas yang ganas.
"Tenangkan dirimu," ucapnya.
"Ini di mana? Kau siapa? Bagaimana dengan anggota Shinsengumi yang lain? Apa yang terjadi dalam insiden itu? Mengapa di sini gelap sekali? Dimana... Yorozuya?" mulut Hijikata bak air terjun yang tak dapat berhenti menanyakan banyak pertanyaan yang tak dapat berhenti kecuali bila pertanyaannya telah habis itu.
Seseorang itu terdiam beberapa detik, mengisyaratkan Hijikata untuk tenang.
"Baik Hijikata-san. Saya akan menjawab pertanyaan Anda yang akan menjelaskan semua ini,"
Hijikata mengangguk, yang sepertinya tak dapat dilihat oleh sang lawan bicara karena gelap.
"Tolong jelaskan semuanya!" ucap Hijikata dengan tegas.
"Kau..."
Hijikata sangat antusias menunggu ucapan selanjutnya. Tangan kanannya ia kepalkan sekuat tenaga akibat rasa penasarannya yang menghantuinya sedari tadi.
"...buta permanen."
Hijikata terdiam cukup lama. Pikirannya kacau balau ketika mendengar jawaban tersebut. Mulutnya serasa tercekat sehingga ia tak dapat berkata apapun. Hanya hening dan kesunyian yang terasa. Hijikata mengatur pernafasannya sejenak. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin akibat shock yang ia alami sedari tadi.
Ini tidak masuk akal.
"Ha... haha. Tidak mungkin, kan..?" Hijikata tak mau menerima kenyataan. Ini gila. Wakil Komandan Shinsengumi yang ganas bagaikan iblis kini hanya menjadi seseorang yang tak dapat melihat apapun. Gelap. Mana bisa ia menangkap penjahat? Mana bisa ia melanjutkan aksi investigasinya? Mana bisa... ia melihat wajah orang itu lagi...
"Saya doktermu, kau sedang berada di rumah sakit. lima yang lalu kau tertimbun beberapa bagian jembatan, setelah di periksa ternyata ada partikel-partikel besi kecil yang masuk ke dalam kedua matamu yang menembus kornea yang mengakibatkan infeksi yang cukup parah pada korneamu itu. Jika kau ingin melihat dunia lagi, carilah orang yang mau mendonorkan matanya. Tapi itu cukup susah pada zaman sekarang," jelasnya dengan cukup detail.
Hijikata begitu shock mendengar tiap kata yang diucapkan oleh sang dokter.
Bohong.
Ini bohong... kan?
"J-jangan bercanda.. tapi tadi aku sempat me-menangis, tahu?" Hijikata menyela.
Sang dokter hanya menatapinya sejenak, lalu menjawabnya.
"Tentu kau masih dapat mengeluarkan air mata, karena kelenjar air matamu masih berfungsi dan baik-baik saja,"
Hijikata tak dapat bertanya lagi. Fakta yang menjadi tekanan batin bagi Hijikata tengah menggerogoti mentalnya yang bagaikan perisai baja kini hanya seperti secarik kertas yang basah.
Terdengar suara langkah kaki yang sedang memasuki ruangan dan sebuah pintu yang terbuka bersamaan.
Sakata Gintoki memasuki ruangan dengan kedua tangannya yang penuh akan kresek minimarket yang berisikan puding yang hendak ia makan nanti. Matanya yang berwarna merah membelalak melihat keajaiban yang ia saksikan ketika memasuki kamar yang dihuni oleh Hijikata selama lima hari itu.
"Hijikata...-kun?"
Hijikata yang mendengar suara yang sangat ia kenali itu langsung menoleh ke sumber suara. Yang tampak di pengelihatan Hijikata tentunya hanyalah warna hitam tanpa ujung. Tetapi entah mengapa, terdapat rasa cukup lega di dalam hatinya.
Sang dokter membisikkan sebuah kalimat di telinga kanan Hijikata.
"Dia menunggumu di sini setiap hari, 2 hari pertama ia menunggumu tanpa tidur walau kaki kanannya terluka dan butuh istirahat,"
Lalu, sang dokter pun berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Yorozuya.." Hijikata berkata lirih.
Gintoki mendekati kasur Hijikata, terdiam sejenak.
"Kenyataan ini.. cukup—" ucapan Hijikata terputus karena tiba-tiba Gintoki mengusap dahi Hijikata dengan lembut.
"Tidak apa-apa.. semua akan baik-baik saja," Gintoki mengembangkan senyum tipisnya sambil berkata dengan pelan, berusaha menghibur Hijikata.
Hijikata tak melanjutkan kalimatnya barusan. Ia tampak kelelahan akibat kejutan yang terlalu mendadak hari ini.
Ah... biasanya pada waktu seperti ini, setelah ia mengatakan sesuatu yang sedikit menenangkan diriku, ia pasti akan tersenyum.
Senyuman yang manis seperti madu bunga heather..
.
.
Enam hari sejak Hijikata bangun berlalu dengan cepat. Bulan sedang bersinar dengan terang di langit sana. Tampak Hijikata menggunakan kursi roda yang didorong oleh Gintoki karena ia kurang tahu lokasi rumah sakit ini, daripada ia berjalan yang membuatnya tertabrak-tabrak. Tangan kiri Hijikata yang terluka kini sudah dapat ia gerakkan. Area matanya masih tertutupi oleh perban putih. Pengelihatannya pun tidak berubah. Gelap. Yang akhir-akhir ini Hijikata telah terbiasa dibuatnya.
Sedangkan kaki kanan Gintoki, sudah sembuh beberapa hari yang lalu dan dapat digunakan untuk berjalan dengan normal.
Shinsengumi masih selamat, sehari setelah Hijikata terbangun, para anggota Shinsengumi menjenguk Hijikata untuk sesaat dan kembali bertugas untuk melanjutkan penyelidikan organisasi yang telah menipu mereka yang mengakibatkan insiden besar tersebut terjadi.
"Yorozuya," Hijikata memecah keheningan.
"Hm?"
"...toilet,"
Gintoki tampak mengiyakan ucapan Hijikata, lalu membawanya ke toilet laki-laki yang berada di ujung ruangan yang tidak ada siapapun di sana.
"Oi, kau sudah berhari-hari di sini dan tahu caranya, kan? Aku akan menunggumu di dekat wastafel," ucap Gintoki malas.
Hijikata memukul lengan Gintoki dengan cukup keras. "Tentu saja, bodoh!" lalu berjalan dengan memegangi tembok dan masuk ke dalam salah satu toilet.
Setelah ia menyelesaikan urusannya di toilet, ia keluar kamar mandi lalu mencuci kedua tangannya di wastafel. Gintoki yang ada di sampingnya tampak memerhatikan Hijikata.
"Apa lihat-lihat?" tanya Hijikata dengan ketus.
"Eh? Tidak, kok. Tunggu, tahu dari mana aku sedang menatapmu?" Gintoki salah tingkah.
Hijikata mengangkat kedua bahunya. "Hanya firasat yang kebetulan benar,"
"Ohh, begitu."
Hijikata menghela nafas. "Hei, mau sampai kapan kita ada di rumah sakit ini terus? Kau sudah sembuh, kan?"
"Besok malam, Shinsengumi akan datang menjengukmu lagi," Gintoki tak menghiraukan pertanyaan Hijikata, tetapi langsung memberitahu tentang besok.
Hijikata hanya menggumam sejenak, lalu terdiam.
"Sudah, kan? Ayo kembali ke kamarmu, sudah cukup malam," Gintoki menarik tangan Hijikata untuk keluar dari toilet laki-laki, lalu mendudukkannya di kursi rodanya.
Setelah itu, Gintoki mendorong kursi roda tersebut hingga masuk ke kamar Hijikata yang berada di lantai empat.
Gintoki berusaha mengangkat tubuh Hijikata ke atas tempat tidur, tetapi Hijikata menolak.
"Bodoh. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku hanya buta, bukan lumpuh," Hijikata melangkah ke depan tempat tidurnya lalu naik ke atasnya dengan sendiri.
Dengan nadanya yang terdengar sedang menggoda, Gintoki berkata,"Ya, aku tahu itu. Aku hanya ingin saja mengangkat tubuhmu yang seksi itu,"
Hijikata memasang wajah jijik ke arah Gintoki yang walaupun hanya tampak hidung dan mulutnya itu.
"Dasar mesum," ucapnya.
Gintoki tersenyum dengan tetapi sambil menggoda sang iblis Shinsengumi itu. "Hmm? Mesum? Kau lebih, tahu,"
Hijikata kesal dibuatnya. "Haah? Apa maksudmu?"
"Hmm~? Lalu siapa yang menerima ciumanku dengan penuh gairah pada saat itu, hah?"
Kedua pipi Hijikata memerah hingga telinganya. Dan seperti biasa, ketika Hijikata malu, ia akan menutup mulut dengan salah satu tangannya. "A-aku hanya terbawa suasana. Hanya itu. Dan, kenapa tiba-tiba membahasnya, bodoh!"
Gintoki tertawa kecil, lalu melanjutkan godaannya yang membuat pipi Hijikata makin memerah. "Terbawa suasana berarti kau juga menikmatinya, kaan?" nadanya yang dibuat-buat makin membuat Hijikata tersipu malu.
"Ya.. terserah lah," Hijikata tak dapat menyangkalnya. Untuk saat inilah ia berkata jujur. Ia langsung teringat akan kejadian pada malam itu yang sungguh membuat jantung Hijikata nyaris berhenti akibatnya.
"Jadi?" Gintoki memegang dagu Hijikata dengan pelan,"Mau lagi?"
Hijikata makin kesal, ia menepis tangan Gintoki dengan cepat. Terlihat tak nyaman dengan kondisi seperti itu.
"Baiklah, maaf. Aku—" Gintoki refleks sedikit memundurkan kepalanya,
Tetapi tiba-tiba, kedua tangan Hijikata langsung menarik pipi Gintoki ke depan wajahnya, lalu mengecup bibir Gintoki dengan lembut dan cepat.
Ciuman yang cukup simpel, tidak sepanas dibanding dengan apa yang telah mereka lakukan pada malam insiden tersebut. Tetapi cukup membuat pipi kedua laki-laki itu memerah.
"Hanya itu yang dapat ku lakukan... untuk sekarang," ucap Hijikata sambil kembali menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Gintoki sedikit salah tingkah dibuatnya. Baru pertama kali inilah Hijikata yang mencium Gintoki. Gintoki mengambil selimut lalu tidur di sofa yang tersedia di sebelah kasur Hijikata.
"S-Selamat malam, Oogushi-kun," ucap Gintoki lalu terlelap.
Hijikata berbaring di kasurnya, lalu menghadap ke arah kirinya.
Ah.. aku ingin melihat wajah bodohnya lagi.
Terutama wajahnya yang sedang salah tingkah tadi..
Batinnya dengan rasa kecewa... bercampur rasa rindu yang susah untuk diartikan.
Orang yang ia rindui tepat berada seruangan dengannya. Selalu bersamanya. Orang yang tubuhnya masih sama. Orang yang mungkin perasaannya juga sama. Orang yang setia menemaninya walaupun sebenarnya mereka sebelumnya saling membenci. Orang yang masuk ke kehidupannya secara tiba-tiba. Orang yang telah memberi ciuman yang sangat tidak sehat bagi jantungnya. Orang yang selalu membuatnya kesal, tetapi bukan dalam artian kesal sesungguhnya.
Tetapi, status mereka sekarang hanyalah sepasang rival yang sedang beristirahat sejenak saja dari pertempuran satu sama lain...
...kan?
.
-TBC ;)))-
/ Vote, REVIEW, Follow, dan Share sangat membantu saya untuk melanjutkan chapter berikutnya! :D Salam UAS! Doakan UAS author lancar agar dapat melanjutkan ff ini dengan hati tenang (?) *tebar bibit soal matematika* /
