Your Fake Treatment.
(c) Chara by : Sorachi Hideaki
(c) Fanfic by : weirdppl13
Anime/manga : Gintama
Pairing : Gintoki x Hijikata
.
Malam yang dingin. Tetapi cukup hangat di dalam kamar pasien yang di tempati oleh Hijikata selama seminggu lebih. Terlihat suasana kebersamaan di dalamnya. Ramai.
Tetapi masih terasa dingin di dalam hatinya.
Jam yang bertengger di dinding kamar pasien tersebut menunjukkan pukul sebelas malam, di mana waktu malam sedari tadi sudah dimulai. Beberapa anggota Shinsengumi nampak sedang menjenguk Hijikata Toshirou yang tengah dirawat di rumah sakit. Terkadang suara tawa dan obrolan terdengar samar-samar dari luar ruangan. Hijikata cukup menikmati suasana itu bersama rekan-rekan Shinsengumi yang tentu saja terdapat Kondo Isao dan Okita Sougo. Tetapi tidak seheboh biasanya. Ia menikmatinya dalam diam.
"Jadi? Kapan kau akan pulang, fukuchou?" tanya salah satu anggota sambil meminum sake manis yang telah dibawa oleh komandan mereka.
Hijikata masih diam sambil menarik nafas.
"Entahlah. Sepertinya besok," jawab Hijikata dengan nada datar.
Kondo-san yang sedari tadi melihat Hijikata langsung menepuknya. "Toshi, kau tidak perlu memaksakan diri. Beristirahatlah, kau pasti masih shock, bukan? Biarkan kami yang menumpas para penjahat dulu," senyumnya ia yang kembangkan seakan menghibur Hijikata.
Gelap.
Sougo yang sedari tadi cukup lama diam dan hanya mendengarkan omongan mereka, tiba-tiba mengangkat suara. "Hijikata-san, itu.. selimut dan bantal yang berantakan di sofa, apa ada orang yang selama ini tidur di sana untuk menemanimu?" sebuah telunjuk ia arahkan pada sofa yang ada di sebelah kasur milik Hijikata.
Semua mata mengarah pada sofa yang ditunjuk oleh Sougo. Suasana riuh memenuhi kamar yang cukup kecil itu. Hampir seisi ruangan saling menggoda sang wakil komandan iblis yang menjadi sasaran. Hijikata teringat akan Gintoki yang selalu menemaninya dan tidur di sofa tersebut.
"Apa sebenarnya ada seseorang yang menemanimu di sini, fukuchou?"
"Wah, jadi fukuchou nyaman ya tinggal di sini karena ada seseorang?"
"Kenalkan kami dengannya, fukuchou! Apa ia cantik?"
Ah, si keriting sialan itu...!
"Oi, tentu saja tidak. Kadang aku hanya tertidur di sofa saja," Hijikata menutupi fakta yang ada. Ia terlalu malas untuk membahas si keriting perak itu.
Terdengar suara-suara yang menandakan seisi ruangan nampak kecewa dari telinga Hijikata. Tetapi, Hijikata tak memedulikan hal tersebut.
Salah satu anggota Shinsengumi yang makin tidak nyaman dengan suasana tersebut berusaha mengganti topik,"Hei! Lihat! Langitnya sangat cerah dengan bulan purnama yang bersinar di atas sana!" teriaknya sambil menunjuk keluar jendela. Semua mata langsung mengarah pada jendela ruangan tersebut dan berkomentar kecil. Suasana yang mendadak suram kini berganti dengan suasana takjub, seakan lupa bahwa masih ada keindahan kecil di kota ini.
Kecuali Hijikata, tentunya.
"Aah, indah sekali! Fukuchou, kau lihat—" salah satu anggota yang lain berusaha menghibur sang wakil komandan iblis tersebut, "Ah... maaf." sambungnya.
Terdengar suara pukulan ke arah sumber suara yang baru saja bicara.
"Bodoh! Fukuchoukan buta, mana bisa ia melihat!" bisik salah satunya.
Suasana canggung kembali menyelimuti seluruh penjuru ruangan tersebut. Menyisakan rasa tak nyaman dan bersalah di hati mereka. Hijikata mencengkram kedua tangannya. Tak ada lagi suatu kata pun yang keluar dari mulutnya yang sedari tadi ia bungkamkan.
.
.
Angin musim panas masuk dari jendela ruang rawat inap tersebut dengan perlahan. Dua pemuda yang sedari tadi saling diam. Satunya asyik membaca majalah JUMPdan satunya lagi menatap jendela.
Gelap.
Ingin memecahkan suasana, sang pemilik kimono putih berusaha.
"Bagaimana? Semalam pesta dengan rekan-rekanmu cukup meriah, kan? Aku sampai tak dapat tidur di sofa itu karena suasana di sini cukup ramai."
Suara yang sangat familiar terdengar jelas di sebelah kanan Hijikata. Hijikata menghela nafas sejenak sambil membetulkan posisi duduknya yang kurang nyaman di atas ranjang rumah sakit. Pemuda berambut perak masih terduduk di kursi merah di sebelah ranjang tersebut.
"Begitulah," dengan nada yang terdengar cukup rendah, Hijikata menjawab dengan tidak antusias. Ia kembali teringat akan sikap rekan-rekannya yang tak lagi takut dengannya, tetapi yang ada malah rasa kasihan, atau bahkan merendahkannya, hanya karena ia kini tak dapat melihat. Bisikan-bisikan mereka yang menyayat hati, perlakuan khusus pada dirinya, ia mengingatnya dengan jelas, yang membuat dirinya makin marah tetapi tak dapat ia ungkapkan.
Tapi kini? Masih ada orang bodoh di sebelahnya yang masih mengajaknya berbicara dengan normal di dekatnya, tak ada kata ataupun tindakan yang menyinggung ketidaksempurnaan fisiknya ini, menganggap semuanya masih berjalan dengan normal.
Ah.. Hijikata mengerti keadaannnya sekarang,
Dan maksud dari seseorang yang tengah terduduk di sebelahnya itu.
Gintoki yang menyadari bahwa Hijikata sedang memikirkan banyak hal hanya diam sambil memandangi jendela dari tempat duduknya. 'Pesta' tersebut pastinya sangat tidak menarik, bahkan malah membuat Hijikata makin muak. Ia mengerti.
"Kau tahu—" Gintoki yang berusaha untuk memecah suasana suram tersebut terpotong.
"Cukup." Hijikata menoleh ke arah kanannya.
Gintoki cukup bingung dengan ucapan Hijikata. Merasa tersinggung bila mana ucapannya tadi mengganggu pemikiran rumit Hijikata.
"Selama ini, mengapa kau selalu ada di sini? Mengapa kau selalu menemaniku? Mengapa kau selalu bersamaku padahal kau juga terluka? Mengapa—"
"O-Oi, tenangkanlah dirimu, Hijikata-kun... aku hanya—"Gintoki mengisyaratkan untuk berhenti dengan cara membuka kedua tangannya dengan tegak di hadapan Hijikata, yang tentu saja tak dapat dilihat oleh lawan bicaranya.
"Kau masih dapat mengobrol denganku seperti biasa? Mengapa kau tidak meninggalkanku pada saat insiden itu? Mengapa kau tidak membiarkanku mati? Mengapa kau peduli? Mengapa kau.. mengapa kau selalu membuatku nyaman? Kau sedang mengejekku, hah?!"
Gintoki mendadak kaget sekaligus bingung dengan perkataan Hijikata.
"Kau yang sudah sembuh dapat melihat dengan jelas yang berjalan sesuka hati, sedangkan aku yang hanya dapat duduk di kursi roda ini terlihat rendah bagimu, kan? Itu sebabnya kau menemaniku yang rendah ini agar keadaanmu nampak lebih baik, kan?!" bertubi-tubi pertanyaan dan kesimpulan ia lontarkan dengan emosi yang tak dapat ia kontrol, nadanya naik turun pada setiap pertanyaan yang ia tanya.
Gintoki tak merespon, tak ada kesempatan dirinya untuk menyela dan untuk menjawab pertanyaan mendadak dan lawan bicaranya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
4 detik.
Gintoki menampar wajah Hijikata dengan cukup keras. Tatapannya berubah menjadi wajah jijik bercampur marah.
"Ya. Ejekan yang sempurna, bukan?"
Gintoki berjalan keluar kamar rawat inap yang dihuni oleh Hijikata dengan langkah kaki yang cukup berat akibat rasa kesalnya itu setelah menjawab pertanyaan dan kesimpulan dari Hijikata dalam satu kalimat. Hijikata mengatur napasnya ketika mendapati respon dari Gintoki, merasa dirinya telah dimanfaatkan hanya untuk rasa ego di dalam hati lawan bicaranya.
Ya.. pasti selama ini kau hanya ingin menghinaku. Semua obrolan penuh basa-basimu, perlakuan manismu, bahkan ciuman yang membuat diriku nyaman ini..
Semuanya palsu.
Palsu.
Itu semua ternyata hanya hawa nafsumu.
Dasar bajingan.
.
.
Angin musim panas yang terasa cukup hangat menerpa sang pemilik surai perak. Ia berdiri seorang diri di hamparan rumput yang terletak di halaman belakang rumah sakit. Suasana nyaman yang biasa ia rasakan bila bersama orang yang membuat jantungnya berdegup dengan cepat yang seenaknya sendiri, kini hanya sebatas angin lewat, tidak lebih.
Hei, Hijikata. Kau tahu? Kau akan menyesal jika mengetahui ini. Tapi tak apa, jika memang ini yang kau inginkan.
Sejak detik itu, ia memutuskan tekad bulatnya.
Dengan hatinya yang sedang teriris-iris menjadi berbagai macam kepingan yang terasa amat memilukan bagi dirinya.
-TBC ;)))-
/ Vote, Bookmark, COMMENT, Follow, dan Share sangat membantu saya untuk melanjutkan chapter berikutnya! :c maafkan telat update, dan chapter kali ini lebih sedikit. THE NEXT ONE IS THE LAST CHAPTER ! !
See you!:) –darktea13
