Your Confident Decision.
(c) Chara by : Sorachi Hideaki
(c) Fanfic by : darktea13
Anime/manga : Gintama
Pairing : Gintoki x Hijikata
Note : Chapter ini lebih panjang dari chapter sebelumnya~ semoga lebih puas ;)
.
Pukul dua belas malam.
Hujan deras membasahi tanah sejak pukul sepuluh malam. Suara gemuruh petir terdengar dengan keras yang mengganggu tidur Hijikata.
Tiga hari berlalu sejak perselisihan antara Gintoki dan Hijikata. Hijikata memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit itu akibat paksaan dari Kondo-san. Mau bagaimana pun, sosok lelaki tua yang menyandang gelar pemimpin di Shinsengumi itu sangat perhatian kepada bawahannya, dengan bersikeras menyuruh Hijikata untuk tetap tinggal di sana. Dengan berat hati ia menerima perintah tersebut. Padahal, ia berniat untuk segera meninggalkan rumah sakit tersebut dan tak menemui sang perak sialan itu.
Tidak ada yang banyak berubah sejak perselisihan itu. Hijikata yang hampir menghabiskan harinya di atas ranjang rumah sakit, makanan rumah sakit yang rasanya hambar di lidah, dan angin musim panas yang biasa masuk melewati jendela kamarnya. Yang berubah, hanyalah tidak ada sosok perak itu. Mau ia meninggalkan rumah sakit itu ataupun masih menetap di sana, sang perak itu tak kunjung datang. Entah ini pertanda baik bagi Hijikata ataupun sebaliknya. Ia bahkan tidak tahu yang mana.
Ia terkejut hingga bangun dari tidurnya akibat suara petir, lalu tertidur kembali. Samar-samar ia mendengar suara ribut di luar kamarnya, tetapi rasa kantuk yang menyerangnya lebih dominan dibanding rasa penasarannya.
"kalau begitu, mau tak mau kita harus mengikuti pesannya,"
Hanya ucapan itu yang terdengar terakhir kali sebelum Hijikata memasuki alam mimpinya.
.
.
Bau embun pagi dan kicauan burung yang membuat hati merasa lebih tenang terasa pada diri Hijikata yang sedang berada di taman rumah sakit. Ia menyentuh dedaunan dengan lembut, sambil mengingat-ingat mimpi anehnya semalam yang membuat paginya kacau.
Tidak terlalu banyak yang ia ingat dari mimpinya, yang ia ingat hanyalah ia memimpikan sosok perak itu, berdiri di taman rumah sakit yang tepat ia kunjungi sekarang. Dedaunan berjatuhan. Dirinya tak dapat berkata apapun, tenggorokannya tercekat. Ia melihat si perak itu memalingkan wajahnya, lalu tersenyum manis di hadapannya. Tak ada paksaan, alasan, ataupun tekanan yang terlukis di wajahnya. Dengan lirih, sosok itu memanggil namanya, masih dengan senyum yang ia kembangkan itu.
"Hijikata-kun!"
Setelah itu, Hijikata terbangun dari mimpinya sambil meneriakkan nama sang perak itu dengan cukup keras, dengan napas yang tak beraturan. Seorang suster yang tengah membereskan obat di meja Hijikata sempat bertanya apa yang telah ia mimpikan hingga membuat dirinya begitu. Merah padam kedua pipinya setelah ia mengetahui situasi.
Hanya itu yang ia ingat tentang kejadiannya tadi pagi.
Sial... mengapa tiba-tiba aku memimpikannya? Padahal sudah kuputuskan untuk melupakannya.
Keluhan itu selalu terngiang di benak Hijikata tiap ia mengingat-ingat mimpinya itu.
Setelah menghirup udara segar dan menikmati suasana lembab yang ada pada taman rumah sakit, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan perlahan, dengan tongkat yang membantunya berjalan agar tak tertabrak. Saat menaiki lift, ia beruntung di bantu oleh suster rumah sakit untuk memencet lantai berapa yang ia tuju.
Setibanya di kamarnya, Hijikata menghempaskan dirinya di ranjang rumah sakit.
Ah.. bosan seperti biasanya.
Keheningan selalu terasa pada dirinya, sejak tak ada seseorang yang biasanya mengajaknya mengobrol di sampingnya, seseorang yang cerewet, seseorang yang kadang melontarkan candaan kotor, seseorang yang kadang membuat dirinya jengkel.
Andai ada si keriting itu.
Hijikata menghela napasnya sejenak. Lalu ia sadar apa yang telah ia pikirkan sebelumnya. Ia langsung menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kesal. Apa yang telah ia pikirkan? Tiba-tiba menginginkan si keriting itu ada di sebelahnya? Apa? Menemaninya yang sedang bosan itu dengan obrolan ringannya? Tidak-tidak-tidak. Hijikata makin malu disambut kesal dengan apa yang telah ia pikirkan. Tapi, tak dapat dipungkiri bahwa wajah si bodoh itu menjadi terngiang-ngiang di pikirannya sejak ia mengharapkan sosok itu menemaninya.
Ah... ya, aku merindukannya. Aku ingin dia berada di sini lagi, menemaniku dengan senyum manisnya walau ku tak dapat melihatnya tetapi dapat ku rasakan itu.
Batinnya, Hijikata mengaku kalah. Kalah dari rasa rindunya yang terbalut sempurna dengan rasa ego yang langit bagai saingannya. Jantungnya berdegup dengan cepat. Ia ingin menemui sosok keriting itu sambil mengejeknya seperti biasanya, beradu pendapat yang berakhir dengan perselisihan yang berlangsung hanya sementara. Ya, Hijikata merindukan momen-momen itu bersamanya.
Pintu kamar di ketuk sebanyak tiga kali. Hijikata bangkit, berharap sosok yang tengah dipikirkannya itu tiba-tiba muncul sambil membawa majalah JUMP dengan mulutnya yang belepotan akan puding.
Bukan, bukan sosok itu. Hanyalah seorang dokter yang masuk dengan ucapan selamat paginya. Hijikata nampak sedikit kecewa akan hal itu, tetapi juga membalas ucapan selamat pagi.
"Hijikata-san. Saya memiliki kabar untuk Anda," ucapnya sambil mendekati Hijikata.
Hijikata memiringkan kepalanya, antusias. Sambutan yang berupa anggukan ia lontarkan kepada sang dokter agar dapat melanjutkan kalimatnya itu.
"Ada seseorang dari Kyoto yang sedang berliburan di kota ini dan semalam ia meninggal. Di surat wasiatnya ia meminta untuk mendonorkan matanya kepada orang yang membutuhkan, keluarganya pun juga sudah menyetujuinya" ucap sang dokter."Apakah anda bersedia untuk menerima donoran matanya?"
Makin cepat degupan jantung milik Hijikata akibat bahagia tiada tara yang dia rasakan setelah mendengar ucapan sang dokter. Senyuman bahagia terukir jelas di wajahnya. Tangannya gemetaran akibat kabar yang bagaikan siraman surga itu.
"Saya sangat bersedia, tolong secepatnya!"
Sang dokter mengembangkan senyum tipisnya sambil mengiyakan. "Operasi pendonoran mata akan dilaksanakan besok siang, persiapkan dirimu. Dan jangan lupa, Anda harus menandatangani surat pertanyaan bahwa Anda telah bersedia menerima mata yang telah di donor," ucapnya lalu meninggalkan ruangan, menyisakan Hijikata yang masih berada di dekat kasurnya itu.
Senyuman bahagia Hijikata tak pudar dari wajahnya, dirinya langsung membayangkan kebahagiaan yang ia selama ini nantikan.
Ah.. Kenikmatan dunia terindah apa ini lagi ini? Aku akan dapat melihat wajahnya lagi. Senyumnya lagi.. Kali ini, aku berjanji tak akan menolak kebahagiaan bila berada bersamanya lagi.
Hijikata sangat antusias, berharap hari esok segera datang. Mau bagaimana pun caranya, besok ia akan segera mencari keberadaan sang perak itu dan membagikan kabar bahagianya itu.
Hari ini, waktu berjalan sangat lambat setelah sang dokter memberikan kabar bahagia itu. Seringkali Hijikata menanyakan pukul berapa sekarang kepada beberapa suster.
Ia sengaja untuk tidak mengabarkan kepada Shinsengumi bahwa ia akan dapat melihat lagi, menyimpan rasa paling bahagianya itu dalam bayang-bayang sang Komandan Iblis, yang biasa menyembunyikan perasaan senangnya, yang di wajahnya hanya ada keseriusan. Beda lagi halnya bila di hadapan orang itu.
Malamnya, Hijikata baru tertidur pada pukul satu pagi akibat rasa bahagianya yang menyebabkan dirinya tak dapat tertidur. Tak ada hujan lebat pada malam ini, hanya langit cerah dengan bulan yang bersinar cukup terang, seterang hati Hijikata pada malam ini.
.
.
Akhirnya, hari dan waktu yang paling dinanti-nantikan oleh Hijikata pun datang. Ia dimasukkan ke dalam ruang operasi dan diberi obat bius hingga ia tak sadarkan diri. Ia percaya, bahwa kebahagiaan dan kesehariannya sebagai polisi seperti sebelum kala akan segera datang menghampiri hari-harinya.
Beberapa jam terlewati untuk operasi pendonoran mata. Dan sekarang, Hijikata telah duduk di kursi roda yang mengantarkannya pada kamar rawat inapnya, masih dengan perban yang membungkus kedua matanya. Ya, operasi telah berjalan dengan lancar. Sebuah mata baru telah terpasang pada mata Hijikata yang masih dibungkus oleh perban. Tinggal menunggu waktu hingga saatnya perban tersebut dilepas oleh suster, dan ia dapat melihat dunia lagi.
Perban dilepas dengan perlahan oleh kedua suster di kamar Hijikata. Perlahan, ia membuka kedua matanya. awalnya, masih sedikit buram yang tergambar pada kelopak matanya, tetapi lama-kelamaan fokus pun muncul. Ia mengkedipkan matanya beberapa kali, melirik ke segala arah.
Kedua suster itu tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Hijikata.
Senyum bahagia kembali ia pancarkan, air matanya langsung menetes membasahi kedua permukaan pipinya. Ucapan syukur dan terima kasih langsung keluar dari mulutnya yang berbau tembakau itu dengan lirih.
Tanpa sadar, ia langsung beranjak dari kursi roda dan berlari keluar dari kamar, menuruni lift dan berlari untuk segera mencari sosok yang selama ini ia rindukan.
Ingin rasanya dirinya untuk menemukan sosok itu lalu memeluknya. Rasa ego langsung pudar pada dirinya. Persetan dengan harga dirinya yang seorang Wakil Komandan Iblis, yang ia inginkan adalah ingin bertemu dirinya dan membagi kebahagiaannya.
Hei bodoh, kau tahu? Untuk kali ini saja.. aku ingin menuturkan padamu, perasaanku padamu selama ini.
Tolong buat rasa rinduku ini benar-benar terbayarkan ketika ku telah menemukan keberadaanmu.
Tolong untuk tidak membenciku ketika ku telah mengucapkannya.
Tolong untuk tidak menertawakanku ketika ku telah mengucapkannya.
Tolong untuk tidak menganggap perkataanku ini hanyalah omong kosong ketika ku telah mengucapkannya.
Tolong sambutlah aku dengan senyum manismu itu, aku tidak memintamu untuk memasang raut wajah bencimu yang menyebalkan itu.
Tolong untuk melupakan karakter pembohongku yang penuh akan rahasia bila mana diriku sedang malu ini untuk sementara.
Tolong terimalah perasaanku yang membuat diriku sendiri kerepotan akibat detak jantungku yang tidak stabil karenamu.
Aku membencimu, bodoh.
Air mata masih berlinang di kedua pipinya, kakinya masih berlari menuju pintu keluar.
Tanpa sengaja, Hijikata menabrak tubuh seorang dokter. Ucapan maaf langsung ia lontarkan ketika melihat kertas-kertas milik dokter itu berserakan sambil ia pungut lalu ia serahkan kepada dokter itu.
"Ah, tidak apa-apa, Hijikata-san. Selamat atas operasimu, mata yang indah," ucap sang dokter sambil menerima dokumen-dokumennya. "Apa yang membuatmu berlari seperti ini?"
Hijikata sebenarnya sangat terburu-buru, tetapi sejenak saja untuk berbasa-basi dengan sang dokter, bukan masalah besar juga baginya.
"Aku sedang ingin bertemu dengan seseorang," jawab Hijikata dengan datar.
Dokter tersebut terdiam beberapa saat. Hijikata yang melihat respon tersebut langsung mengizinkan diri untuk kembali mencari orang tersebut.
"Sakata Gintoki—"
Hijikata yang sudah bersiap untuk berlari langsung mematung ketika mendengar nama orang itu. Ia kembali menatap sang dokter.
"—telah meninggal dunia kemarin malam, gantung diri di ruang kebersihan rumah sakit," ucapnya dengan suara rendah.
Terbelalak mata Hijikata ketika mendengarnya. Senyumnya langsung memudar dengan pesat. Jantungnya bagaikan mati sesaat.
"Ha..haha? J-jangan bercanda, dokter," Bibirnya gemetaran ketika mengucapkannya.
Tak ada respon yang menandakan bahwa ucapan sang dokter hanyalah candaan musim panas biasa. Raut wajahnya sangat serius.
"Mengapa..?" dengan berat hati, ia menerima ucapan dokter. Air matanya yang sejak awal berlinang akibat bahagia kini berhenti, karena sangat terkejut.
Sang dokter menghela napas dengan berat sejenak,"Ia bunuh diri karena ia sangat ingin mendonorkan matanya padamu. Karena seseorang yang donor diri itu harus sudah meninggal. Dan juga, dalam surat wasiatnya, ia meminta untuk mendonorkan matanya kepada Hijikata-san tanpa memberitahukan bahwa dirinya lah yang mendonorkan mata sebelum matanya menjadi milikmu. Ia memintanya untuk mengarang identitas sang pendonor mata," jelasnya dengan detail.
Hijikata yang mendengar jawaban tersebut kebetulan melihat cermin terpasang di dinding yang tidak jauh dari tempatnya ia berdiri. Ia langsung bercermin dan mendapati matanya berwarna merah yang sangat mirip dengan mata si keriting bodoh itu. Pucat pasi langsung terpasang pada wajah Hijikata Toshirou.
Si bodoh itu... mengapa ia berkorban sejauh ini?
Pundak Hijikata ditepuk oleh sang dokter.
"Tadi sebenarnya saya sedang berniat untuk pergi ke kamar Anda untuk menyerahkan ini." Sang dokter menyerahkan sebuah surat kepada Hijikata. Ucapan duka juga ia ucapkan sebelum ia meninggalkan Hijikata untuk bekerja kembali.
Hijikata masih mematung di depan cermin selama beberapa menit. Semua kenangan indah maupun buruk bersama sang ketua Yorozuya itu langsung menghampiri pikiran Hijikata lalu mengelilinginya.
Tuhan.. Apa lagi rencanaMu kali ini? Pantaskah aku untuk mendapatkan cobaan seberat ini, untuk ditinggalkan oleh sang keriting itu? Mengapa harus diriku? Aku hanyalah laki-laki lemah, tidak sekuat yang Kau bayangkan. Aku hanya menyandang gelar wakil komandan Shinsengumi, yang hanya nampak kuat di luar, tetapi menjadi lemah bila kehilangan sosok yang aku benci itu.
Hijikata berjalan kaku ke taman rumah sakit. Setelah ia mendudukkan dirinya pada salah satu kursi taman, ia memutuskan untuk memberanikan dirinya untuk membuka surat tersebut. Sedikit terkejut, ia mendapati bahwa isi surat tersebut terdapat sebuah kaset suara yang harus dipasang pada radio atau mp3 player untuk dapat mendengarnya. Sejenak ia mengabaikan kaset tersebut dan memfokuskan dirinya untuk membaca surat tersebut:
Untuk Hijikata Toshirou,
Dengarkan sajavoice note-ku jika kau ingin mengetahui segalanya, wakil komandan tai!
-Sakata Gintoki.
Tak ada paragraf pembuka yang mestinya berisikan kata-kata pembuka yang manis, isi surat yang jelas, dan paragraf penutup yang seharusnya menjadi akhir semua ini.
"Kau menulis surat ini hanya untuk mengejekku, kan?!" Hijikata mengomentari surat Gintoki dengan pertigaan imajiner di raut mukanya yang kesal. Hijikata menyumpah-serapahi surat yang telah ditulis oleh Gintoki yang hanya berisikan kalimat perintah dengan ejekan di akhir surat dalam hati.
Raut wajahnya yang kesal itu berubah menjadi wajah yang sedang tersenyum miris. Tawa kecil keluar dari mulutnya itu.
Ah.. seperti biasanya, mau bagaimana pun keadaannya, otak bodohmu itu masih saja selalu mengeluarkan candaan yang tidak tepat seperti ini.
Hijikata berjalan perlahan ke arah meja resepsionis, menikmati setiap langkah kakinya. Suara yang terakhir kali ia dengar dari mulut si penyuka manisan itu sempat membuat dirinya menyesal.
"Ya. Ejekan yang sempurna, bukan?"
Hijikata menyesal telah mengambil kesimpulan seenaknya yang melukai hati sosok perak itu. Pastinya pun, si perak itu sebenarnya tidak bermaksud untuk mengejeknya, bahkan sebaliknya.
Tibalah Hijikata di meja resepsionis. Ia menanyakan pada penjaga meja tersebut bahwa adakah pemutar suara di rumah sakit ini karena ia harus mendengar isi surat tersebut. Dan jawabannya ada, di lantai dua di ruang milik staff dekat tangga.
Hijikata segera berjalan ke lantai dua dengan tangga, ia terlalu terburu-buru untuk menunggu lift yang masih berada di lantai lima.
Setibanya di sana, ia langsung meminta izin kepada salah satu pegawai yang ada di sana dengan menjelaskan situasi. Ia diizinkan untuk mendengarnya dengan radio di pojok ruangan dengan sebuah earphone untuk menjaga privasi. Si pegawai itu segera meninggalkan ruangan untuk melanjutkan tugasnya, meninggalkan Hijikata sendirian di ruangan itu.
Hijikata langsung memasangkan earphone dan mulai memutar rekaman tersebut. Ia mendengarkan dengan seksama kata hingga kata yang terucap dari rekaman tersebut.
"Yo, penggila mayones!"
Lalu hening beberapa detik.
Hijikata mengira bahwa radio tersebut rusak, ia hendak menekan tombol replay untuk memutar ulang rekaman tersebut. Tetapi tiba-tiba, suara Gintoki kembali muncul.
"Emm.. sedikit canggung untuk mengatakannya. Aku tak biasa untuk berbicara formal di depanmu. Jadi tolong jangan tebas kepalaku bila mana ucapanku terdengar tak formal di telingamu,"
Hijikata mengernyitkan kedua alisnya ketika mendengar kalimat tersebut, bingung.
Untuk apa aku menebasmu, bodoh? Kau yang sudah menjadi arwah jangan berbicara sesuatu yang konyol, kembalilah ke kediamanmu.
"Pokoknya, ketika kau sedang mendengar rekaman ini, aku sudah mati tercekak oleh tali gantung itu. Hahaha..!"
Suara tawa murni terdengar di kedua telinga Hijikata. Makin bingung ia dibuatnya, bagaimana bisa seseorang menertawakan kematiannya dengan begitu mudah. Kecuali bahwa ia benar-benar orang bodoh.
"Hijikata-kun... aku minta maaf mungkin selama aku menemanimu aku melakukan kesalahan yang menimbulkan rasa sakit di hatimu. Tapi aku tidak pernah berniat untuk melakukannya. Dan aku pun berpikir bahwa kau akan jauh lebih bahagia bila kau dapat melihat dunia ini lagi. Ya, singkatnya aku bunuh diri karena ingin mendonorkan mataku saja, sih.. tidak ada maksud diriku meninggalkan dunia karena alasan lain, kok. Jadi, bahagialah dengan mata merahku yang telah menjadi milikmu itu. Nanti aku pasti akan melihat wajah jelekmu dengan mata merahku yang akan membuat wajahmu jauh lebih baik, wakil komandan tai!"
Mengalir dengan pelan air mata Hijikata ketika mendengar pengakuan dari Gintoki. Bodoh... orang bodoh memang lebih baik mati saja. Tapi, tolong sisakan orang bodoh yang satu itu untuk dirinya. Untuk mengisi hari-harinya yang nampak monoton itu. Si perak itu terlalu bodoh untuk mati, apalagi dengan alasan terbodoh di dunia itu. Mata merah ini tak pantas untuk dirinya. Lebih baik masih terpampang di wajah si bodoh itu dan menemani hari-harinya.
"Dan maaf untuk menyuruh para dokter untuk memalsukan identitasku sebelum mataku didonorkan kepadamu. Aku tahu kau pasti tak akan mau menggunakan mataku bila mana kau mengetahui diriku yang mendonorkan mata. Lihat? Wajahmu pasti nampak bodoh sekarang! Haha.. hiks.. ha.. Eh? Ah- aku sedang tidak menangis, oke? Jangan salah paham, aku akhir-akhir ini sedikit pilek,"
Air mata Hijikata mengalir lebih deras mendengarnya.
"Hiks.. hiks... Aah! Baiklah, baiklah, aku memang menangis! Tapi, hiks.. tolong jangan tertawakan aku, oke? Akan ku bayar 300 yen, deh! Sial.. aku tidak punya tisu. Emm, pokoknya, semoga kau lebih bahagia. Oh iya, Hijikata-kun, ada yang sebenarnya ingin kuungkapkan. Tapi tolong untuk tidak tertawa ya?"
Senyum pasrah terukir di mulut Hijikata ketika mendengar ucapan bodoh dari sosok tersebut yang tak pernah berubah. Ia membuka mulutnya perlahan, menunggu kalimat selanjutnya.
"Aku mencintaimu, polisi penggila hukum!" | "Aku mencintaimu, pengangguran miskin!" Teriak kedua lelaki itu dengan suara serak mereka akibat tangisan dan perasaan yang memilukan hati.
Perasaan kedua laki-laki itu saling terbalas, walaupun sedikit terlambat diterima oleh yang masih hidup di dunia.
Rekaman tersebut kini mati, menandakan bahwa rekaman tersebut telah usai. Hijikata masih mengenakan earphonenya sambil terduduk cukup lama, menyisakan dirinya sendiri di ruangan tersebut dengan perasaan yang abstrak itu.
.
.
.
Hijikata berdiri tegap di depan para pencuri-pencuri yang telah mencuri berlian mahal pada salah satu toko. Seragam Shinsenguminya ia kenakan dengan rapi, dengan rekan-rekan kerjanya di belakang yang telah siap dengan pedangnya.
"Kalian telah terkepung! Menyerahlah!"
Para pencuri itu ketakutan dibuatnya, salah satunya menanyakan,"S-Siapa kau?!"
"Siapa aku?" senyum liciknya ia kembangkan dengan bangga. Mata merah darahnya nampak berkilau akibat terkena cahaya."Wakil Komandan Shinsengumi, Hijikata Toshirou!" teriakannya yang mantap dan berani ia kobarkan hingga membuat para pencuri itu takut dan menyerah. Para Shinsengumi langsung menangkap mereka satu persatu.
Yorozu— Gintoki, terima kasih telah memberikan matamu yang berharga bagiku ini. Aku akan selalu melangkah ke depan. Dan juga, suatu hari pun yang entah kapan itu, aku akan menemuimu, dengan senyum yang merekah seperti yang telah kau berikan kepadaku dulu ketika aku memimpikanmu di rumah sakit itu. Yang tanpa paksaan, alasan, ataupun tekanan. Senyum tulusmu yang indah itu.
-END-
Omg akhirnya author dapat menyelesaikan cerita yang telah berchapter-chapter ini! :") sempat berpikiran untuk berhenti di tengah-tengah, tapi berkat dukungan kalian cerita ini selesai hingga akhir! Maafkan kalo tulisan author tidak nyaman atau ending yang... begitulah HEHEHEHE /ketawa jahat. Nantikan fanfic lainnya dari author selanjutnya~ jangan lupa Follow, Favorit, REVIEW, dan Share jika kalian menyukai fanfic buatan saya!:)
-darktea13
