Chapter 2: Punnish
Sebuah mobil berhenti didepan Levi, membuat mereka bertiga berhenti melangkah. Seorang pemuda berpakaian jas keluar dari mobil sedan hitamnya, parfumnya yang wangi membuat Farlan dan Isabel tergoda.
"Anak manis, cepat pulang. Ibumu mengkhawatirkanmu." rayu Eren seraya menarik lengan pucat milik Levi. Guru Privat itu menarik Levi ke dalam mobilnya dan mendorongnya paksa untuk duduk dikursi mobil. "Oi! Kau pria aneh! Apa-apaan kau menarikku ka-Hey brengsek!"
Levi tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi gara-gara Eren langsung menutup pintu mobilnya. Pemuda itu menggeram, terlihat Eren sedang melambaikan tangannya kepada dua temannya. Eren duduk disamping Levi, ia mulai menyetir mobilnya untuk kembali ke Mansion.
"Tch, kau jawab pertanyaanku, keparat!" Levi membentak Eren, tangannya mencengkram kerah kemeja abu miliknya. Eren tersenyum menggoda, dia mendorong tangan Levi pelan agar berhenti mencengkramnya. "Bukankah Ibumu sudah bilang? Kalau sore ini akan ada guru Privat? Kau pikun?" ledek Eren meremehkan siswa SMA Survey Corps itu.
"Aku tidak butuh guru Privat! Apa gunanya menyewa guru Privat? Tch, itu hal yang sangat tidak berguna didalam kamusku. Nilaiku bahkan selalu naik setiap harinya." Levi memandang guru Privat itu dengan tajam, seperti ingin membunuh pemuda yang ada didepannya.
Eren berhenti menyetir, tangannya mendorong tubuh Levi ke bawah sehingga dirinya bisa menindihnya. "Kau yakin tidak membutuhkan guru Privat sepertiku, hm?" Eren menaikkan dagu milik Levi agar anak didiknya ini menatapnya.
"Aku kemari jauh-jauh dari Jerman hanya untuk mengajarimu, Levi Ackerman. Jadi, jangan sia-siakan usahaku." ujar Eren seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Levi. "Kau tahu? Aku tertarik padamu. Pada aroma darahmu yang menggiurkan."
Eren menjilat telinga Levi dengan lambat. Sebelah tangannya menahan tangan Levi agar dia tidak memberontak. Eren menatap wajah pemuda pendek itu.
"Mulai sekarang, kau adalah anak didikku. Jangan pernah membantahku ataupun berkata kasar padaku. Bisa saja orang yang ada dihadapanmu ini sangat berbahaya."
.
.
.
.
.
.
Singeki no Kyojin Isayama Hajime
Teacher's Vampire Lutte
[Credit to Artist for picture: ByLena/Inunekosukii]
Warning: BoysLove (BoyxBoyLove), Yaoi, ShounenAi, R18, EYD, and others
Pairing: ErenxLevi (EreRi), LevixEren (RiRen)
Rated: M
Don't like Don't read.
.
.
.
.
.
.
Mobil yang dinaiki dua orang pemuda itu diparkirkan digarasi. Laki-laki berambut raven langsung turun mendahului guru Privatnya. Kakinya melangkah cepat menuju kedalam Mansion. Pikirannya menerawang kemana-mana, memikirkan sosok Gurunya yang sepertinya sama sekali bukan orang 'baik' untuknya. Dirinya sudah tahu, bahwa Guru itu memiliki aura berbeda dari manusia.
Sang tuan muda membuka pintu kamarnya lalu menguncinya. Matanya menatap tajam ke arah buku pelajarannya. Malas untuk mengerjakan pr dari sekolahnya. Dengan setengah pasrah, Levi mengerjakan tugas sekolahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Menurutnya, jika Levi meminta pertolongan kepada teman-teman sekelasnya itu sangat tidak berguna. Bagaimana saja kalau jawaban yang ia tanyakan disalahkan oleh mereka?
Makannya Levi sering mengerjakannya sendiri tidak menurut pada jalan pikiran para Guru-guru. Levi selalu mencari jalan cara menyelesaikan pelajarannya dengan caranya sendiri. Yang penting isinya sama, begitulah pemikiran si anak tunggal Ackerman.
Levi mencoret-coret buku tugasnya menggunakan pulpen, spidol, pensil tergelatak diatas meja belajar. Tangannya tidak berhenti untuk bergerak menari dibukunya. Matanya fokus pada bukunya, apa yang sedang dia lakukan? Levi sedang menggambar. Pr dari sekolahnya itu membuat pemandangan indah, ia memilih untuk menggambar pemandangan di Paris. Tidak seperti teman-temannya yang selalu menggambar pemandangan gunung.
Gunung lagi gunung lagi, apa tidak ada pemandangan yang indah selain gunung? Jawabannya sederhana sekali, karena menggambar gunung lebih mudah dan lebih simple dibandingkan pemandangan yang lainnya. Mereka hanya perlu menggambar dua gunung berbentuk lonjong, diberikan matahari diatasnya, digambarkan rumah atau sawah dibawah gunung tersebut. Gampang ya? Itulah kenapa anak-anak sering menggambar gunung.
Baiklah, lanjut kedalam cerita dimana seorang Levi Ackerman tengah mewarnai gambar yang telah ia kerjakan. Ekspresinya tetap datar, meskipun hasil kerjanya sangat memuaskan. Buku itu disimpan di atas lemari kecil, ia mulai membereskan peralatan-peralatan sekolah untuk dimasukkan kedalam tasnya.
Setelah membereskannya, Levi mulai membersihkan kamar luasnya. Dimulai dari sofa, ranjang, lemari, mengelap jendela, dan menyapu lantai. 15 menit terlewatkan, akhirnya Levi menyelesaikan acara bersih-bersihnya. Blazer sekolahnya dilepaskan, kaus kakinya dibuka, Levi berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.
Tubuhnya sangat bau oleh darah, akibat ulah tadi. Ketika dirinya menutup pintu kamarnya, ia sudah dikejutkan oleh sosok guru anehnya itu.
Alisnya tertaik, memandangi Eren dengan datar. "Ada apa kau berdiri didepanku, guru brengsek? Kau tidak lihat jalan masih sangat luas?" Levi mendorong pundak milik pemuda yang lebih tinggi darinya. Si laki-laki dingin itu terburu-buru masuk kedalam kamar mandinya agar Eren tidak dapat menyusulnya.
"Dasar kekanak-kanakkan sekali, aku heran kenapa pemuda sekecil dia bisa ditakuti oleh anak SMA lain. Padahal ukuran tubuh mereka lebih besar darinya." gumam Eren seraya duduk disofa, iris emerald nya menatap ke arah poto besar yang dipajang diruang tamu. Pandangannya tidak mau teralihkan pada poto laki-laki itu. Siapa ya? Tentu saja si little shorty.
Dipoto tersebut, Levi tengah memakai kimono berwarna ungu. Berkali-kali Eren melihatnya, tidak pernah bosan untuk memandangi Anak manis itu. Tanpa sadar, bibir Eren memperlihatkan senyum seringainya, jemari lentiknya mengutak-ngatik ponsel berwarna hitamnya. Baru saja beberapa detik ia memainkan ponselnya, sebuah pesan langsung terkirim padanya sebanyak 5 pesan.
Tanpa lihat pun dia sudah tahu bahwa pesan itu dari bawahannya. Siapa lagi anak buah yang selalu memperhatikan keadaan dirinya selain kedua orang tuanya? Mikasa Ackerman namanya. Gadis itu termasuk kedalam prajurit khusus Vampire terkuat. Selain kuat, instingnya pun tajam. Marganya sama dengan Levi, yaitu Ackerman. Mikasa adalah saudara yang lebih tua dari Levi.
Mikasa digigit Vampire berdarah murni ketika kedua orang tuanya dibantai habis-habisan oleh sekerumpulan kelompok Vampire jahat. Sejak saat itu, Mikasa pun dicap bahwa dirinya sudah berubah menjadi seorang gadis Vampire ketika berumur 12 tahun.
Eren menemukannya dalam keadaan kekurangan darah. Ia pun memberikan stok darahnya kepada gadis tersebut, tentunya bukan stok darah dari tubuhnya. Tapi stok darah dari manusia yang telah meninggal.
Mata hijau terangnya membaca satu persatu pesan dikotak masuknya. "Dasar, aku sudah berkali-kali padanya bahwa aku bukan anaknya." rutuk Eren sambil membalas pesan tersebut.
From: Eren Jaeger
For: Mikasa Ackerman
Sudah kukatakan beberapa kali bahwa aku sudah besar, dan bukan adikmu ataupun anakmu. Aku sudah bisa menjaga diriku dengan baik, kau tidak lihat kalau aku sekarang adalah Majesty dari seluruh umat Vampire? Jadi, jangan khawatirkan diriku.
Khawatirkan saja dirimu sendiri, apa kau sudah meminum darah secara teratur? Aku harap kau telah meminumnya. Ah, satu lagi.
Sampaikan kepada seluruh prajurit Vampire. Datanglah kemari ke Jepang, aku tahu 'dia' akan merebut tahtaku.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Eren langsung memasukkan ponselnya di atas meja kaca bertaplak krem emas. "Sepertinya mulai hari ini akan semakin menarik." Eren menghela nafas panjang, pandangannya menatap ke arah pigura bergambar Levi. Dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada gambar itu, seakan-akan tatapannya terkunci.
"Maid tidak berguna! Apa-apaan kamu menumpahkan isi kopi ke pakaian mahalku?! Kau tahu ini harganya berapa?!"
Lamunannya teralihkan gegara mendengar suara bentakkan diarah luar. 'Buruk sekali Ibunya itu, pantas saja anaknya bersikap seperti ini..' tanpa basa-basi lagi Eren segera menghampiri kepada mereka berdua. Si guru Privat itu menampilkan senyum menggodanya kepada Kuchel agar hatinya luluh.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" Eren berdiri dihadapan mereka berdua. Tubuhnya yang dilapis jas hitam serta parfum wangi membuat semua orang tergoda akan kesempurnaannya.
Kuchel membulatkan kedua matanya, wanita berumur 38 tahun itu tertawa, menepuk pundak Eren secara lembut. Tepukkannya turun kebawah hingga paha lalu menarik tangannya sehingga tergesek kearah bawahan milik Eren.
Kuchel tengah menggoda guru privat tersebut. Mantel bulunya sengaja dilepas, membiarkan tubuh putihnya terekspor didepan mata Eren. Wanita itu mengibaskan rambut hitamnya, bibirnya dibuat seerotis mungkin agar pria didepannya tertarik. Namun sayangnya, Eren sungguh tidak tertarik pada wanita jalang seperti Kuchel.
Ibu Levi menggandeng tangan Eren untuk masuk kedalam. Mempersilahkannya duduk kembali di sofa, Kuchel memanggil pelayan agar membawakan minuman yang akan disuguhkan kepada Eren. "Sudah datang ya? Aku baru pulang spa tadi, maaf menunggumu lama ya, Eren sayang." Kuchel tertawa kecil, ia tersenyum kepada lelaki berwajah tampan tersebut.
"Tidak, saya baru sampai beberapa menit yang lalu." jawabnya sembari melipat kakinya dengan elegan. Kuchel semakin senang karena bisa berbincang bersama orang yang tampan ini. Mereka berdua pun saling bercakap-cakap.
Didalam kamar mandi, Levi tengah menyalakan showernya, ia sibuk menggosok badannya menggunakan sabun batang dan sabun cair. Semua peralatan mandi ataupun shampoo sangat kumplit. Maklum, dia memang clean freak baginya kebersihan itu sangatlah penting daripada harus mengerjakan pr.
Setelah memastikan bahwa tubuhnya sudah sangat bersih, dirinya berhenti untuk membersihkan badannya menggunakan dua sabun itu. Showernya dinyalakan kembali, air-air mulai turun menusuk kulit pucat sang tuan muda.
Rambutnya yang basah membuat matanya terhalang. Irisnya memandang kosong ke arah keramik putih bercampur biru muda tersebut, kedua tangannya terkepal. Terdengar bunyian air yang menghantam ke lantai, menggantikan suasana keheningan dikamar mandi.
Si anak tunggal itu mematikan showernya, ia mengambil handuk besar berwarna putih. Melilitnya disekitar badannya agar menutupinya. Levi keluar dari kamar mandi, kakinya berjalan menuju kamarnya untuk memilih baju yang akan dia kenakan.
Ketika dirinya melewati ruang tamu, pintu luar terbuka. Suara Kuchel terdengar jelas ditelinga Levi, membuatnya menoleh ke arah Sumber suara itu. "Dasar wanita jalang," Levi membuka pintu kamarnya kasar. Membantingkannya keras hingga poto-poto yang dipajang bergerak hampir jatuh.
"Teruslah kencani pria lain! Lupakan Ayah. Orang yang membuatmu kaya seperti ini karena Ayahku. Kau tidak pernah mengetahuinya seberapa kerasnya untuk membuatmu bahagia, wanita brengsek! Dan kau menyia-nyiakannya! Wanita sepertimu tidak pantas untuk menjadi seorang istri! Arghh keparat..."
Levi berteriak kesal, bukunya dilemparkan ke sembarang arah. Kamarnya sudah seperti kapal pecah, tubuhnya terjatuh ke lantai. Meringkuk disana tanpa ada belaian hangat dikepalanya. Air mata tak akan jatuh lolos, Levi kuat. Dia bisa menahan segala kepedihannya seorang diri tanpa ada orang yang menghiburnya.
Ia memiliki keinginan kecil. Walaupun keinginannya sangat menjijikkan, menurutnya itu sangat berarti baginya. Keinginannya itu bahwa dirinya ingin hidup bahagia. Selalu diperhatikan oleh orang tuanya, diberikan senyuman tulus tanpa ada kepalsuan dibaliknya, jujur terhadap anaknya, dan merasakan pelukan.
Semua hal itu tidak pernah Levi rasakan. Dia berusaha untuk tenang menghadapi sikap Ibunya yang sudah labil. Setiap malam, Kuchel sering keluar rumah mengenakan baju sangat terbuka. Terkadang dirumahnya didatangkan tamu pria berjumlah 8 orang sekaligus langsung menarik Kuchel kekamarnya.
Sejak itu, Levi tidak pernah mengijinkan Kuchel untuk membawa tamu.
"Aku bukan anak manja, keparat! Sialan.. Gara-gara wanita jalang itu!"
Levi mendekati lemari pakaian, memilih baju santai untuk ia pakai. Sesudah menemukannya, Levi segera memakainya. "Guru Privat itu biasanya mengajar anak didinya kan? Tch, lihat saja dia malah asyik berbincang bersama wanita tua itu."
Berat hati Levi keluar dari kamarnya menuju ruang tamu karena dia ingin menonton televisi. TV memang banyak, tapi Levi lebih menyukai melihatnya diruang tamu. Mungkin karena ada Eren? Okay, lupakan.
"Levi Ackerman, sebaiknya kita memulai saja belajarnya. Ini sudah sangat sore, Nona maaf sepertinya sampai disini perbincangan kita. Nah, untukmu Levi.. Kita belajar saja diruangan yang hanya diisi oleh kita berdua. Aku tidak mau ada yang menganggu proses pembelajaran kita." Eren tersenyum tipis menatap wajah Levi secara lembut.
Tuan muda itu mendecih melihat Eren yang sok manis didepannya. "Tch, sudah kubilang kau guru brengsek.. Aku tidak membutuhkan guru Privat!" Levi membentak guru tampan tersebut dengan murka. Tidak suka terhadap sikap Eren yang sok.
Eren menyeringai mendengar elakkan dari anak manis ini. Tubuhnya mendekati Levi dengan langkah perlahan-lahan, tangannya memegang lengan Levi untuk diletakkan dipundaknya. Setelah itu, Eren segera mengangkat Levi dengan cara bridal style.
Yang digendong meronta kasar, meminta Eren untuk diturunkan. "Ssshtt... Diamlah, atau aku hempaskan kau ke ranjang dan akan membuatmu mendesah dibawah kuasaku." Eren terkekeh melihat wajah Levi yang terkejut akan perkataannya.
"Kau guru mesum! Turunkan aku sekarang sebelum wajahmu kutusuk oleh pisauku!" Levi tidak mau kalah dari sosok guru mesum itu, dia terus membentak ataupun meronta saat Eren menggendongnya. "Oh ya? Kau akan menusuk wajahku? Kalau begitu.. Aku akan menusuk lubang hangatmu oleh milikku." Gumamnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Levi. Hidung mereka saling bersentuhan, jaraknya sudah 2 cm lagi bibir mereka akan bersentuhan jika Eren masih ingin mendekati wajah Levi.
Mereka berdua terdiam, tidak mengatakan satu kata pun. Mereka sibuk saling tatap-menatap, pandangannya tidak bosan untuk memandangi wajah mereka.
Tatapannya aneh.
Membuat perasaanku bergidik.
Kenapa ya tatapannya begitu menggoda?
Aku serasa hanyut padanya.
Hanyut pada matanya yang Indah.
Entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Mungkin karena dia special?
Beberapa detik kemudian akhirnya Levi tersadar dari lamunannya. Ia segera turun disaat Eren masih memandang wajahnya insten. Pemuda berambut hitam kelam itu melangkahkan kakinya menuju kamar kosong yang tak terpakai. Tangannya dimasukan kedalam kantung celananya.
Sampainya didalam kamar, Levi memilih duduk diatas meja. Kakinya dilipat, menatap gurunya dengan meremehkan. "Cepat jelaskan apa yang akan kau ajari sekarang, guru sialan." Levi mendecakkan lidahnya kesal melihat wajah Eren yang terus saja menyeringai.
Guru itu berdiri dihadapan Levi, kedua tangannya mendorong pundak Levi agar terbaring di atas meja. Eren tersenyum, lebih tepatnya menyeringai sinis. Lututnya ia naikkan kearah selangkangan Levi, digeseknya kasar oleh Eren. "Hmm? Apa-apaan dengan wajah menyedihkanmu itu?" Eren mengejek Levi karena sepertinya Anak dingin itu sudah hampir terangsang akan sentuhannya.
"Hnngg.. Brengsek.. Kau mau mati ya, huh?!" Levi berteriak keras. "Aku akan berhenti jika kau mau belajar serius denganku." jelas Eren masih menggesek lututnya diselangkangan milik Levi.
"Tentunya jika kau tidak belajar dengan serius, aku akan menghukumu. Setiap hukumannya akan semakin bertambah kalau kau terus membangkang perintahku. Kau penasaran dengan hukumanku, Levi?" tanya Eren sembari menjilat telinga Levi dan menggigitnya perlahan.
"Kalau kau sangat penasaran dengan hukumannya, aku akan menunjukkannya padamu sekarang. Jadi mana yang kau pilih? Kau akan menuruti semua perintahku, atau membangkangnya?" Eren semakin menyeringai menatap Levi yang berada dibawahnya tengah kesal akan sikap seenak jidatnya ini.
Levi mengerang, dia sekuat tenaga untuk mendorong pria brengsek yang ada dihadapannya ini. Tapi apa daya kalau tangannya ditahan kuat-kuat olehnya. Menyebalkan sekali bukan?
"Tch.. Kau benar-benar brengsek!"
To be Continue
Author's note:
Heyy, kita ketemu lagi? Terus vote dan baca ceritaku ya? Hontouni gomennasai kalau saja ceritaku tidak membuat para readers puas T_T
Boku akan berusaha untuk membuat kalian puas~
Jaa, kalau begitu.. Sampai jumpa di chap selanjutnya ya? Arigatou gozaimasu sudah mau menyempatkan waktu kalian untuk membaca cerita GaJe ini w
Salam manis,
-Letta-
