Chapter 2 : Learn
"Levi Ackerman, sebaiknya kita memulai saja belajarnya. Ini sudah sangat sore, Nona maaf sepertinya sampai disini perbincangan kita. Nah, untukmu Levi.. Kita belajar saja diruangan yang hanya diisi oleh kita berdua. Aku tidak mau ada yang menganggu proses pembelajaran kita." Eren tersenyum tipis menatap wajah Levi secara lembut.
Tuan muda itu mendecih melihat Eren yang sok manis didepannya. "Tch, sudah kubilang kau guru brengsek.. Aku tidak membutuhkan guru Privat!" Levi membentak guru tampan tersebut dengan murka. Tidak suka terhadap sikap Eren yang sok.
Eren menyeringai mendengar elakkan dari anak manis ini. Tubuhnya mendekati Levi dengan langkah perlahan-lahan, tangannya memegang lengan Levi untuk diletakkan dipundaknya. Setelah itu, Eren segera mengangkat Levi dengan cara bridal style.
Yang digendong meronta kasar, meminta Eren untuk diturunkan. "Ssshtt... Diamlah, atau aku hempaskan kau ke ranjang dan akan membuatmu mendesah dibawah kuasaku." Eren terkekeh melihat wajah Levi yang terkejut akan perkataannya.
"Kau guru mesum! Turunkan aku sekarang sebelum wajahmu kutusuk oleh pisauku!" Levi tidak mau kalah dari sosok guru mesum itu, dia terus membentak ataupun meronta saat Eren menggendongnya. "Oh ya? Kau akan menusuk wajahku? Kalau begitu.. Aku akan menusuk lubang hangatmu oleh milikku." Gumamnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Levi. Hidung mereka saling bersentuhan, jaraknya sudah 2 cm lagi bibir mereka akan bersentuhan jika Eren masih ingin mendekati wajah Levi.
Mereka berdua terdiam, tidak mengatakan satu kata pun. Mereka sibuk saling tatap-menatap, pandangannya tidak bosan untuk memandangi wajah mereka.
Tatapannya aneh.
Membuat perasaanku bergidik.
Kenapa ya tatapannya begitu menggoda?
Aku serasa hanyut padanya.
Hanyut pada matanya yang Indah.
Entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Mungkin karena dia special?
Beberapa detik kemudian akhirnya Levi tersadar dari lamunannya. Ia segera turun disaat Eren masih memandang wajahnya insten. Pemuda berambut hitam kelam itu melangkahkan kakinya menuju kamar kosong yang tak terpakai. Tangannya dimasukan kedalam kantung celananya.
Sampainya didalam kamar, Levi memilih duduk diatas meja. Kakinya dilipat, menatap gurunya dengan meremehkan. "Cepat jelaskan apa yang akan kau ajari sekarang, guru sialan." Levi mendecakkan lidahnya kesal melihat wajah Eren yang terus saja menyeringai.
Guru itu berdiri dihadapan Levi, kedua tangannya mendorong pundak Levi agar terbaring di atas meja. Eren tersenyum, lebih tepatnya menyeringai sinis. Lututnya ia naikkan kearah selangkangan Levi, digeseknya kasar oleh Eren. "Hmm? Apa-apaan dengan wajah menyedihkanmu itu?" Eren mengejek Levi karena sepertinya Anak dingin itu sudah hampir terangsang akan sentuhannya.
"Hnngg.. Brengsek.. Kau mau mati ya, huh?!" Levi berteriak keras. "Aku akan berhenti jika kau mau belajar serius denganku." jelas Eren masih menggesek lututnya diselangkangan milik Levi.
"Tentunya jika kau tidak belajar dengan serius, aku akan menghukumu. Setiap hukumannya akan semakin bertambah kalau kau terus membangkang perintahku. Kau penasaran dengan hukumanku, Levi?" tanya Eren sembari menjilat telinga Levi dan menggigitnya perlahan.
"Kalau kau sangat penasaran dengan hukumannya, aku akan menunjukkannya padamu sekarang. Jadi mana yang kau pilih? Kau akan menuruti semua perintahku, atau membangkangnya?" Eren semakin menyeringai menatap Levi yang berada dibawahnya tengah kesal akan sikap seenak jidatnya ini.
Levi mengerang, dia sekuat tenaga untuk mendorong pria brengsek yang ada dihadapannya ini. Tapi apa daya kalau tangannya ditahan kuat-kuat olehnya. Menyebalkan sekali bukan?
"Tch.. Kau benar-benar brengsek!"
.
.
.
.
.
.
Singeki no Kyojin Isayama Hajime
Teacher's Vampire Lutte
[Credit to Artist for picture: ByLena/Inunekosukii]
Warning: Yaoi, Au, ShounenAi, BoysLove (BoyxBoyLove), EYD, and others
Rated: M R18
Pairing: ErenxLevi (EreRi), LevixEren (RiRen)
Don't like Don't Read!
.
.
.
.
.
.
Gadis berambut merah bernama Isabel Magnolia itu tengah berjalan pulang kerumahnya bersama Kakak angkatnya, Farlan. Mereka berdua sangat ahkrab, terkadang pertengkaran pun selalu mengitari mereka. Membuat Levi harus menjitak mereka agar berhenti mempermasalahkan masalah sepele.
Isabel menyimpan kedua tangannya dibelakang kepalanya. Pandangannya tertuju ke arah langit sore yang lama-kelamaan menjadi berwarna orange. Bibirnya ia gerucutkan, mengingat Levi yang dipaksa untuk masuk ke dalam mobil oleh pria asing berwajah tampan.
Dia mengerang, menghentakkan kakinya disetiap langkahnya. Tatapannya berubah kesal, disepanjang jalan gadis itu selalu mendecih ataupun merutuk kesal tentang pria yang menyeret Levi ke mobil itu. "Farlan, bagaimana kalau Aniki diculik?" tanya Isabel polos sembari menendang Batu yang ada didepan kakinya. Matanya menatap ke arah Batu itu datar, tidak ada ekspresi.
Farlan mengalihkan perhatiannya kearah adik tersayangnya itu. Diusapnya lembut kepala si Adik oleh sang Kakak diikuti dengan senyuman lembut. "Tenang saja, Levi tidak akan mudah ditangkap. Lagipula, siapa yang berani mau menangkapnya kan? Dinegara ini, Levi sudah sangat terkenal. Bahkan anak-anak geng yang lain menginginkannya. Jadi, kau tidak perlu khawatir." jelas Farlan seraya mengacak-ngacak rambut Isabel.
"Ada benarnya juga dari perkataanmu, Farlan." Isabel membuka pagar rumahnya saat mereka berdua sudah sampai. "Tapi, pria yang tadi itu tampan juga ya? Parfumnya membuatku gila." gadis itu malah memuji Eren, ia tertawa yang langsung dibalas oleh jitakkan pelan dari Farlan. "Dasar gadis plin plan. Daripada memikirkan pria asing itu, sebaiknya kau telepon saja dia." perintahnya sembari duduk di sofa.
Mata hijaunya berbinar mendengar ide cemerlang dari Farlan. Langsung saja Isabel segera mengambil ponsel mahalnya, tangannya menari diatas layar tersebut. Mencari nama kontak Levi disana. "Ok, kita panggil Aniki!" serunya seraya menelpon Levi. "Angkat angkat angkat angkat!" Isabel duduk disamping Farlan, menunggu teleponnya diangkat.
Sementara yang ditelepon...
Levi mendecakkan lidahnya tidak terima atas keputusan Eren yang harus ia pilih salah satu. Kalian tahu bukan kalau Levi itu tidak suka untuk diperintah? Dihelakannnya nafasnya dengan kasar. Levi berusaha meronta agar sosok pria yang ada didepannya ini menyingkir dari atas. Dia sudah sangat kesal oleh perlakuan dari guru Privat ini. Baru saja beberapa jam dia bertemu dengannya sudah sebrengsek ini, apalagi kedepannya?
"Kau bajingan, menyingkir dari atasku. Kesabaranku sudah hampir sampai batasnya." Levi mencoba menenangkan dirinya agar emosinya tidak meluap kemana-mana. Tangannya sudah terkepal sempurna hingga kuku-kukunya memutih, sudah siap untuk memukul wajah Eren jika saja tangannya tidak tahan.
Tring tring tring...
Sebuah suara nyaring berasal dari saku celana Levi terdengar jelas oleh mereka berdua. "Hpmu berdering, kau tidak mau mengangkatnya, hm?" goda Eren sembari mengambil ponsel itu dari dalam kantung celananya. Satu tangan Levi dibiarkan untuk dilepas, Eren memberikan ponselnya pada anak manis itu.
Tanpa ragu Levi mengangkatnya, ia mulai mendengar suara teriakkan dari seberang teleponnya. "Tch, jangan pernah mengga.." kalimat Levi tidak dilanjutkan karena Eren melakukan hal-hal yang aneh lagi disaat menelpon. Lutut Eren kembali menggesek diselangkangan Levi, kancingnya dibuka, membuat tubuhnya terekspor.
Eren menyeringai penuh kemenangan. Mulutnya langsung menggigit benda bulat kecil berwarna kemerahan milik Levi. Menjilatnya, lalu memilinnya menggunakan sebelah tangannya yang bebas. Levi langsung tersentak, ia ingin mengeluarkan suara-suara aneh.
"Aniki?"
Levi tersadar dari lamunannya, dia sedang menelpon. Mana mungkin dirinya harus mengeluarkan suara-suara aneh itu. Apalagi didengar oleh temannya. "Nhn.. Gadis bodoh.. Aku tutup teleponnya.." Levi mati-matian untuk tidak mengerang atau pun mendesah ketika Eren memainkan tubuhnya dengan seenaknya.
Sambungan telepon pun diputus, kini Levi bebas membentak kepada manusia bajingan ini. "Hhh, kau brengsek! Sudah hentikan kegiatan sialanmu itu! Ini sama sekali tidak.. A-ah.. tidak berguna!" Levi menggigit bibirnya keras agar berhenti untuk mendesah. Tubuhnya tanpa sadar membusur kedepan, dan merasakan panas disekitar badannya. Berarti dia terangsang?
Terangsang oleh sentuhan Eren Jaeger. Bagaimana tidak akan terangsang? Kalau saja sekitar tubuhnya selalu disentuh di yang paling sensitif kepada manusia? Bukan hanya disentuh juga, tapi memainkan badan yang lain. Seperti menjilat, mengulum, dan menggigitnya. Vampir. Ya Vampir. Vampir bisa mencari titik kelemahan dari manusia. Titik sensitif juga mudah ditemukan, bahkan jika Vampir berdarah murni bisa membaca isi pikiran manusia.
Vampir berdarah murni sekarang hampir punah, jumlahnya hanya sedikit. Kebanyakan Vampir itu adalah Vampir yang diubah oleh Vampir berdarah murni. Contohnya seperti Eren, dia adalah Vampir berdarah murni. Kedua orang tuanya dipilih sebagai Raja dan Ratu untuk memimpinnya. Sayangnya, Grisha Jaeger dan Carla Jaeger harus berhenti untuk memimpin umat Vampir.
Itu karena gara-gara mereka berdua dibunuh setelah melahirkan anaknya mereka ditemukan tewas mengenaskan. Anak mereka ditemukan di tempat bawah tanah istana agar Vampir lain tidak mengetahui keberadaannya. Anak mereka pun diberikan nama Eren. Eren Jaeger, dia sudah hidup hingga berabad abad tahun, tapi dirinya mengaku masih berumur 21 tahun.
Eren tidak akan pernah mati, ia tahan oleh segala macam pertahanan apapun. Dirinya hanya akan mati oleh kontrak darahnya. Kontrak darah yang akan dipilih oleh Eren adalah orang yang mampu menarik perhatian sang Majesty, memiliki darah manis, unik, bisa membuat Eren peduli kepada manusia.
Banyak sekali orang-orang (manusia) mencintai Eren. Diberikan banyak surat oleh murid-murid saat ia masih sekolah di Jerman. Bahkan pihak dari grup modeling ingin menjadikan Eren sebagai model dimajalah Internasional. Namun Eren menolak permintaan tersebut, menolak murid-murid yang menyatakan cinta padanya, sekalipun murid-murid itu sempurna.
Alright, lanjut ke dalam cerita. Dimana Eren sedang menyeringai penuh nafsu menatap sang siswa SMA dari Survey Corps. Tangannya terus menyentuh dua benda kemerahan yang ada disekitar dadanya. Eren mencubit benda tersebut dengan gemas, menggigitnya perlahan-lahan. Sesekali menjilat leher putih Levi membuat kesadarannya hampir tidak stabil.
Bau darah Levi terlalu manis, sangat wangi dihidung Vampir.
Eren mencium telinga kanan Levi secara lembut. Menjilatnya sebelum dirinya berbisik ditelinga manis ini. "Baru saja foreplay sudah setegang ini. Kau ternyata sangat menyukai sentuhanku, hm?" Eren mendekatkan wajahnya ke wajah Levi, menempelkan bibirnya ke bibir ranum Levi.
Mata hitam kelam sang tuan muda Ackerman sukses membulat. Bibirnya sekarang sedang dicium oleh pria brengsek ini. "Mmmhp.." Matilah dirinya karena mendesah saat Eren melumat bibirnya dengan lembut. Lidahnya mengetuk-ngetuk bibir Levi sebagai tanda bahwa Eren ingin masuk kedalam rongga mulut yang manis milik Levi.
Tapi sepertinya Levi tidak mengijinkan Eren untuk menjelajahi rongga mulutnya. Kepalanya menggeleng kekanan dan kekiri bertujuan agar ciuman itu terlepas. "Nnn.. Be-berhenti.." pintanya sembari berusaha melepaskan ciuman itu. Levi merapatkan bibirnya, tidak mau kalau lidah Eren masuk kedalam mulutnya. Dia mati-matian agar tidak terangsang. Tapi, apa daya karena Eren selalu menggodanya. Hal itu membuat Levi mendesah menyukai sentuhan yang diberikan oleh pria ini.
Karena nafsu Eren sudah tidak bisa ditahan lagi, Eren menahan kedua tangan Levi diatas kepalanya menggunakan satu tangan. Sebelah tangannya turun ke selangkangan Levi, meremas benda bawahan miliknya dengan kasar. "A-ah..!" Levi mendesah, membuka mulutnya dengan sempurna. Eren pun menyeringai sinis melihatnya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas itu, lidah Eren langsung dimasukkan kedalam rongga mulut Levi.
Laki-laki tampan ini menjelajahi mulut Levi, menjilati dinding-dinding mulutnya dan mengajak bermain lidah Levi. Sehingga sebuah air salifa turun disudut bibir Levi, ciumannya menjadi semakin dalam. "Ngg.. Ah.." Akhirnya Levi memilih mendesah karena tidak bisa menahan kenikmatan yang menumpuk. Ia memejamkan kedua matanya, merasakan setiap sentuhan Eren.
Merasa bahwa anak dibawahnya ini sudah sangat menikmati sentuhannya, Eren langsung melepaskan ciumannya. Berhenti untuk menyentuh tubuh Levi, guru Privat itu menyeringai, melihat wajah erotis Levi yang sepertinya tidak bisa ia tahan untuk tetap berekspresi datar. Eren berjalan menuju sofa, duduk disana seraya mengambil buku-buku yang ada disampingnya
"Baiklah anak nakal, cepat kemari belajar. Sampai dimana kau belajar disekolah?" Eren membaca buku tersebut dengan serius. Mendalami setiap tulisan yang tertera disana.
Levi merapihkan pakaiannya, mengancing kembali bajunya. Tatapannya tajam ke arah guru brengsek itu. Pemuda berambut raven itu melangkahkan kakinya cepat menuju Eren. Levi menarik dasi hitam panjang milik Eren, ditariknya kasar membuat wajah Eren menatapnya dengan jarak dekat.
Emosi Levi meluap, dia menampar pipi Eren keras hingga meninggalkan bekas. "Apa maksudmu.. APA MAKSUDMU KAU MENYENTUHKU?!" Levi berteriak didepan wajah Eren, tidak peduli kalau Levi membuat Eren terkejut dengan teriakannya. Levi mendorong dada Eren kasar. Ia mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan. "Guru bajingan.. Guru brengsek!" Pemuda itu meninggalkan Eren yang masih menatapnya dengan raut wajah datar tapi tajam.
"Bukankah aku sudah bilang? Kau harus belajar serius denganku atau kau kuhukum dengan cara lebih kasar dari yang tadi. Ibumu sudah menyewaku dengan mahal, kau tahu? Guru privat sepertiku sangat langka untuk disewa. Ibumu menyewaku hanya untuk anaknya mendapatkan pembelajaran khusus, Levi. Ibumu menginginkanmu agar kau bisa tersenyum dan bersikap tidak dingin seperti ini." Eren membalikkan halaman buku yang ia baca. Tapi tatapannya masih memandang punggung Levi.
"Berhenti omong kosong! Mana mungkin wanita jalang itu mau membuang uangnya hanya untuk merubah anaknya!" Levi mengepalkan kedua tangannya, ia kesal dengan perilaku Eren yang sok. Dirinya terpaksa harus belajar agar usaha Ibunya bermanfaat. Tubuhnya dia balikkan sehingga menghadap guru itu, Levi duduk didepan Eren. "Cepat jelaskan! Aku tidak mau uang wanita itu terbuang sia-sia!" teriaknya sambil menyambar buku itu dan membacanya.
Eren hanya bisa menampilkan senyum lembutnya. Ia menatap buku yang ada dipangkuannya, membacanya insten. "Hari ini kita akan belajar tentang materi. Besok kau akan belajar tentang sikap. Aku akan mengajarimu bagaimana cara tersenyum, tertawa ataupun berkata lembut. Tidak sepertimu yang sekarang, kau tidak jauhnya seperti anak yang membutuhkan perhatian dari orang tuanya." Ledek Eren sambil menyerahkan buku itu kepada Levi.
"Baca buku ini sampai kau hapal inti-intinya. Lalu kerjakan latihan soal dalam waktu 5 detik dalam 1 nomber. Mengerti? Jumlah soalnya ada 80 nomber." jelas Eren sambil menatap Levi dengan puas. Yang disuruh tidak mendapatkan jawaban, ia memilih untuk mengerjakan soal itu tanpa mengelurkan satu patah kata pun.
30 minutes later..
Akhirnya dengan waktu 30 menit Levi selesai mengerjakan semua soal 80 nomber itu. Wajahnya tetap datar, tidak ada ekspresi yang dikeluarkan. "Hmm.. Tidak buruk sekali. Awas saja kalau semua jawabannya salah. Akan aku hukum kau." Eren memakai kacamatanya, mulai menilai buku yang tadi dikerjakan oleh Levi.
Setelah menilainya, Eren menyimpan buku itu. Kacamatanya masih bertengger diantara hidungnya. "Kita belajar tentang sejarah dan hitungan. Kemari duduk disampingku," Eren menarik pergelangan tangan Levi agar duduk disampingnya. "Baca halaman ini." Eren tersenyum licik, tangannya meraih pinggang Levi lalu turun ke selangkangannya.
"Ngn.. Brengsek!" Levi menahan tangan guru Privat itu dengan mencengkramnya kuat. Levi mendorong Eren agar menjauh. "Jangan menyentuhku, keparat!" Eren tersenyum tipis menanggapi setiap caci makian yang terlontar dari mulut Levi. "Well, kita lanjutkan saja pelajarannya." Eren pun mulai menjelaskan materi tersebut dengan jelas.
-Skip time-
Malam harinya, Kuchel dan Eren makan bersama diruang makan mewah. Tidak memperdulikan Levi yang belum makan sejak tadi pagi, dia hanya fokus dengan ponselnya. Chatting dengan temannya Isabel dan Farlan. Jari-jemarinya bergerak lincah mengetik diatas layar ponselnya.
From: Isabel Magnolia
For: Levi
Aniki! Besok kita harus melawan siswa Survey Corps lho! Ada juga yang berani menantang kita. Mereka senior, besok siapa yang akan melawannya? Kau, aku, atau Farlan?
From: Farlan
For: Levi
Hey Levi, kau sedang apa? Perutmu sudah diisi? Aku harap kau tidak sedang kelaparan. Ah, pria tampan yang menjemputmu itu siapa? Dia pacarmu? Pppft.. Justkidding ^^
Bytheway, besok pagi kau harus melawan siswa berandalan di Survey Corps ya? Aku akan membantumu.
Levi mendecakkan lidahnya kesal perbuatan kedua temannya ini yang seenaknya memutuskan sesuatu. "Tch, dasar.." Levi menyimpan ponselnya diatas meja kecil berwarna krem yang ada disamping ranjang king sizenya. Lampu tidurnya dimatikan, ia memejamkan kedua matanya berniat akan tidur.
Pria itu bukan pacarku, brengsek!
Pagi harinya pukul 6 Levi sudah membersihkan badannya. Tubuhnya sudah dibalut oleh pakaian seragam sekolahnya. Blazer hitamnya ditempelkan pada kedua pundaknya tanpa harus memakainya. Tangannya mengambil tas untuk segera berangkat.
Baru saja dia akan masuk kedalam mobil putihnya, sebuah mobil hitam berhenti dipinggirnya. Levi menatap kesamping dengan datar.
"Morning, Levi. Pagi hari yang sangat cerah, apa kau sudah tahu? Selain menginap dirumahmu, aku juga akan mengajar disekolahmu sebagai guru profesional dan ter elite diantara yang lain. Jadi, mohon bantuannya ya." Eren menyeringai, ia menutup kembai kaca jendela mobilnya lalu melajukan mobilnya mendahului Levi.
Levi mendecakkan lidahnya lalu masuk kedalam mobil tersebut. "Dia brengek sekali! Lain kali kubuat dia tak bisa jalan lagi!" Levi mengerutkan keningnya lalu menghela nafas kasar.
Tempat Eren berada—
Eren tengah menyeringai sambil keluar dari mobil mewahnya. Semua murid langsung berteriak mengerumuninya. Eren merapihkan jas abunya lalu berjalan angkuh melewati murid-murid tersebut. Parfumnya yang sangat wangi, membuat semua orang tergoda.
"Kyaaaaaa! Siapa guru itu? Dia tampan sekali! Umurnya pasti masih muda!"
"Sensei~! Ahhh dia menatapku!"
"Semoga saja dia wali kelasku!"
Guru-guru yang lain menyambut kedatangan guru baru. Memberikan sebuket bunga pada Eren. "Selamat datang tuan Eren." Mereka semua mengucapkan selamat padanya.
Sementara Levi yang baru sampai didepan gerbang, dia berdiri paling belakang diantara kerumunan muridnya.
Eren yang merasakan kehadiran Levi, dia langsung memandang pemuda dingin itu dengan seringai sinisnya. Membuat para murid semakin tergila-gila padanya.
"Dia senyum padaku!"
"Tidak! Dia padaku!"
Eren dan Levi saling tatap menatap. Levi memasang wajah tajam pada guru Privatnya. Tidak menerima kalau Eren menjadi guru disekolahnya.
Bagaimana kehidupan Levi disekolah semenjak Eren datang?
Apa Eren akan bertingkah seenak jidat pada Levi? Ataukah Eren akan menyentuh Levi didepan semua murid?
To be Continue
Author's Note:
Hii! Chap 3 sudah keluar~Bagaimana ceritanya? Jelek yah? Gomennasaaii T_T
Ah aku masih amatir sih :3 Tonikaku, kepada Readers-san.. Terima Kasih ya sudah mau menyempatkan waktu kalian hanya untuk membaca cerita ini.
Sampai jumpa lagi di chap depan ^^
Salam manis,
-Leenalytte-
