Chapter 4: New's TEacher
"Baca buku ini sampai kau hapal inti-intinya. Lalu kerjakan latihan soal dalam waktu 5 detik dalam 1 nomber. Mengerti? Jumlah soalnya ada 80 nomber." jelas Eren sambil menatap Levi dengan puas. Yang disuruh tidak mendapatkan jawaban, ia memilih untuk mengerjakan soal itu tanpa mengelurkan satu patah kata pun.
30 minutes later..
Akhirnya dengan waktu 30 menit Levi selesai mengerjakan semua soal 80 nomber itu. Wajahnya tetap datar, tidak ada ekspresi yang dikeluarkan. "Hmm.. Tidak buruk sekali. Awas saja kalau semua jawabannya salah. Akan aku hukum kau." Eren memakai kacamatanya, mulai menilai buku yang tadi dikerjakan oleh Levi.
Setelah menilainya, Eren menyimpan buku itu. Kacamatanya masih bertengger diantara hidungnya. "Kita belajar tentang sejarah dan hitungan. Kemari duduk disampingku," Eren menarik pergelangan tangan Levi agar duduk disampingnya. "Baca halaman ini." Eren tersenyum licik, tangannya meraih pinggang Levi lalu turun ke selangkangannya.
"Ngn.. Brengsek!" Levi menahan tangan guru Privat itu dengan mencengkramnya kuat. Levi mendorong Eren agar menjauh. "Jangan menyentuhku, keparat!" Eren tersenyum tipis menanggapi setiap caci makian yang terlontar dari mulut Levi. "Well, kita lanjutkan saja pelajarannya." Eren pun mulai menjelaskan materi tersebut dengan jelas.
-Skip time-
Malam harinya, Kuchel dan Eren makan bersama diruang makan mewah. Tidak memperdulikan Levi yang belum makan sejak tadi pagi, dia hanya fokus dengan ponselnya. Chatting dengan temannya Isabel dan Farlan. Jari-jemarinya bergerak lincah mengetik diatas layar ponselnya.
From: Isabel Magnolia
For: Levi
Aniki! Besok kita harus melawan siswa Survey Corps lho! Ada juga yang berani menantang kita. Mereka senior, besok siapa yang akan melawannya? Kau, aku, atau Farlan?
From: Farlan
For: Levi
Hey Levi, kau sedang apa? Perutmu sudah diisi? Aku harap kau tidak sedang kelaparan. Ah, pria tampan yang menjemputmu itu siapa? Dia pacarmu? Pppft.. Justkidding ^^
Bytheway, besok pagi kau harus melawan siswa berandalan di Survey Corps ya? Aku akan membantumu.
Levi mendecakkan lidahnya kesal perbuatan kedua temannya ini yang seenaknya memutuskan sesuatu. "Tch, dasar.." Levi menyimpan ponselnya diatas meja kecil berwarna krem yang ada disamping ranjang king sizenya. Lampu tidurnya dimatikan, ia memejamkan kedua matanya berniat akan tidur.
Pria itu bukan pacarku, brengsek!
Pagi harinya pukul 6 Levi sudah membersihkan badannya. Tubuhnya sudah dibalut oleh pakaian seragam sekolahnya. Blazer hitamnya ditempelkan pada kedua pundaknya tanpa harus memakainya. Tangannya mengambil tas untuk segera berangkat.
Baru saja dia akan masuk kedalam mobil putihnya, sebuah mobil hitam berhenti dipinggirnya. Levi menatap kesamping dengan datar.
"Morning, Levi. Pagi hari yang sangat cerah, apa kau sudah tahu? Selain menginap dirumahmu, aku juga akan mengajar disekolahmu sebagai guru profesional dan ter elite diantara yang lain. Jadi, mohon bantuannya ya." Eren menyeringai, ia menutup kembai kaca jendela mobilnya lalu melajukan mobilnya mendahului Levi.
Levi mendecakkan lidahnya lalu masuk kedalam mobil tersebut. "Dia brengek sekali! Lain kali kubuat dia tak bisa jalan lagi!" Levi mengerutkan keningnya lalu menghela nafas kasar.
Tempat Eren berada—
Eren tengah menyeringai sambil keluar dari mobil mewahnya. Semua murid langsung berteriak mengerumuninya. Eren merapihkan jas abunya lalu berjalan angkuh melewati murid-murid tersebut. Parfumnya yang sangat wangi, membuat semua orang tergoda.
"Kyaaaaaa! Siapa guru itu? Dia tampan sekali! Umurnya pasti masih muda!"
"Sensei~! Ahhh dia menatapku!"
"Semoga saja dia wali kelasku!"
Guru-guru yang lain menyambut kedatangan guru baru. Memberikan sebuket bunga pada Eren. "Selamat datang tuan Eren." Mereka semua mengucapkan selamat padanya.
Sementara Levi yang baru sampai didepan gerbang, dia berdiri paling belakang diantara kerumunan muridnya.
Eren yang merasakan kehadiran Levi, dia langsung memandang pemuda dingin itu dengan seringai sinisnya. Membuat para murid semakin tergila-gila padanya.
"Dia senyum padaku!"
"Tidak! Dia padaku!"
Eren dan Levi saling tatap menatap. Levi memasang wajah tajam pada guru Privatnya. Tidak menerima kalau Eren menjadi guru disekolahnya.
Bagaimana kehidupan Levi disekolah semenjak Eren datang?
Apa Eren akan bertingkah seenak jidat pada Levi? Ataukah Eren akan menyentuh Levi didepan semua murid?
.
.
.
.
.
.
Singeki no Kyojin Isama Hajime
Teacher's Vampire Lutte
[Credit to Artist for Picture: Tell me if you know.
Warning: Au!, Yaoi, ShounenAi, BoysLove (BoyxBoyLove), EYD, and others
Rated: M R18
Pairing: ErenxLevi (EreRi), LevixEren (RiRen)
Don't like Don't Read!
.
.
.
.
.
.
Kaki jenjangnya melangkah angkuh melewati kerumunan murid-murid. Langkahnya yang terhalang, langsung diberikan jalan oleh mereka. Pemuda berambut hitam, beriris gelap itu tengah berjalan menuju loker sepatu untuk mengganti sepatunya. Tatapannya yang tajam berhasil membuat semua orang ketakutan padanya. Dia melewati kerumunan murid-murid dengan sangat mudah. Tidak perlu harus bertubrukan seperti yang lain.
Siapa juga yang berani mau mencari urusan pada seorang laki-laki bernama Levi Ackerman itu? Semua orang tunduk padanya. Bahkan guru-guru takut kepada anak bertubuh mungil seperti Levi. Mungkin karena sikap Levi sangat menyeramkan. Meskipun dirinya arogan, ia dapat mendapatkan rangking pertama disekolah Elite ini.
Jumlah murid di SMA Survey Corps itu berjumlah kurang lebih 2,5 ribu orang. Dari semua murid Levi mendapatkan rangking ke 1, nilainya sangat berbeda jauh oleh rangking 2. Bintangnya pun sudah penuh dipapan namanya sehingga tidak muat. Wajahnya manis, pintar, sedikit imut lagi. Sempurna kan?
Tapi sayangnya, selain otaknya pintar dia juga murid paling berandalan. Levi sering berkelahi bersama teman-temannya. Mereka yang menantang selalu kalah, tidak ada murid yang menang untuk mengalahkan pertarungan fisik dari Levi. Ia masuk kedalam organisasi Black Kid, anggota organisasi itu hanya diisi oleh tiga orang.
Anggotanya adalah Isabel Magnolia, Farlan, dan Levi. Meskipun hanya 3 anggota, mereka bertiga memiliki kerja sama yang sangat kompak sehingga musuh-musuhnya sulit mengalahkan mereka. Keahlian mereka sangat unik, Isabel ahli dalam mencuri, kabur, menipu atau bertarung. Farlan ahli dalam menggoda, menipu, bertarung atau licik. Sedangkan Levi, dia ahli dalam membunuh, bertarung, menindas, menyiksa, atau menjadikannya budak suruhan.
Diantara keahlian-keahlian dari tiga orang tersebut, Levi lah yang paling ditakuti. Levi dikenal tidak akan belas kasihan pada siapa saja, sekalipun kepada perempuan. Pernah ada kasus, salah satu murid dari kelas D bernama Petra Ral. Dia gadis cantik berambut cokelat. Petra menyukai Levi, dia menyatakan perasaannya pada Levi dihadapan publik.
Petra menyentuh tangan lentik milik Levi dan menciumnya. Hal itu membuat emosi Levi naik pitam, dirinya langsung menampar pipi Petra hingga sangat memerah. Levi memandang gadis cantik itu dengan tajam, seperti menatap kepada musuhnya ketika ia sedang bertarung melawan anak-anak geng lain. Pada saat itu, Petra marah akibat dipermalukan oleh Levi.
Gadis itu pun membuat isu bahwa Levi ditiduri oleh wanita tua. Levi pun langsung menghajar Petra habis-habisan. Dia hampir membunuhnya, meskipun sudah kehilangan kesadaran Levi tetap memukul dan menendangnya. Jika saja Farlan tidak menghentikannya mungkin Petra sudah mati sekarang. Oh, berterima kasihlah kepada Dewa kebaikan sang Farlan.
Alright, mungkin alangkah baiknya kita melanjutkan kembali ceritanya—
Dimana Levi tengah berjalan tanpa memperdulikan teriakan-teriakan tidak berguna dikedua telinganya. Pandangan Levi lurus kedepan, tak melirik sedikitpun kepada guru baru itu. Dia hanya fokus melangkah dan melangkah. Tangannya mengambil ponsel untuk menghubungi kedua temannya. "Katakan pada mereka kalau bertarungnya sekarang di atap sekolah. Jangan terlambat atau aku menendangmu." serunya kalem seraya mengakhiri panggilan grupnya.
Eren Jaeger. Guru baru disekolah elite Survey Corps itu tidak hentinya untuk tersenyum, Eren menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia membalas sapaan dari mereka semua. Guru-guru dikalangan gadis-gadis terpesona akan ketampanan Eren. Bukan guru saja tapi murid pun sepertinya jatuh hati pada pandangan pertama.
Baru saja beberapa menit datang, Eren sudah terkenal. Apalagi dia mengajar dalam 1 Bulan? Hebat juga pria mesum ini. "Baiklah, saya harus pergi ke kelas untuk mengajar anak-anak. Permisi," Eren menerima buket bunga tersebut lalu berjalan ke dalam sekolah. Saat guru itu akan masuk ke gerbang dalam sekolah Survey Corps, mata hijaunya menemukan anak didiknya yang sedang mengganti sepatunya.
Eren menyeringai, irisnya berubah menjadi merah mengkilat dengan sekejap kembali lagi seperti semula berwarna emerald. Pria berumur 21 tahun tersebut memilih untuk pergi ke kelas A. Kelas yang akan dijadikan Wali Kelas oleh dirinya. "Levi Ackerman.. Kehidupanmu tidak akan bebas lagi seperti hari-hari sebelumnya. Lihat saja.." gumam Eren pelan.
"Selamat pagi murid-murid Survey Corps. Bel akan berbunyi 3 menit lagi. Sebaiknya kalian semua harus sudah ada didalam kelas. Terima kasih perhatiannya."
Isabel dan Farlan menunggu Levi untuk datang ke atap sekolah. Mereka berdua menatap jam arlojinya dengan perasaan gelisah, sesekali gadis merah itu mendesah tertahan akibat kaptennya ini terlambat datang. "Arghh! Si Aniki kemana?! Mereka sudah datang tapi dia belum kemari juga?!" Farlan melipatkan kedua tangannya didepan dadanya. Menatap pintu luar atap sekolah dengan tatapan datar.
Tidak menunggu lama, pintu didobrak. Membuat perhatian orang-orang disana tertuju pada pintu itu. Memandang lekat-lekat sosok laki-laki berwajah menyeramkan. Air keringat turun disudut pelipis anak-anak geng. Isabel dan Farlan menghampiri Levi, berdiri disamping kanan kirinya.
"Jadi, bisa kita bertarung sekarang? Kebetulan mood ku sekarang sedang buruk." ujarnya seraya meregangkan otot-otot tangannya. Bibirnya memperlihatkan seringai mautnya, ia mengeluarkan tongkat besi berbentuk silinder lalu mulai untuk memukul mereka semua, diikuti oleh Isabel dan Farlan.
-Skip Time-
"Hari ini kita menang ya! Kau hebat Aniki! Gaya bertarungmu semakin keren! Aku menyukainya. Apalagi saat gaya memutar itu. Howaaa aku sampai mau pingsan melihatnya!" Isabel tertawa disepanjang koridor sekolah. Yang dipuji hanya bisa menghela nafas panjang. Matanya dipejamkan sembari memasukkan kedua tangannya disaku celananya.
Farlan tersenyum, dia menatap Levi lembut. "Bel sudah berbunyi sejak 2 menit yang lalu. Kau terlambat, little boy." ledek Farlan sambil membuka pintu kelasnya ketika dirinya sudah sampai. "Aku duluan, Levi. Hati-hati dikelasku ya. Ayo Isabel," gadis itu melambaikan tangannya pada Levi. Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.
Pemuda berdarah dingin itu memandang jalanan sekolah datar tanpa ekspresi. Berjalan melewati jendela-jendela sekolah yang terbuka, membuat angin masuk kedalam, menyapu rambut raven milik Levi.
Sesampainya didepan kelas A. Tangan pucatnya menggeser pintu kelas tersebut. Semua murid disana melihat Levi dengan tatapan ketakutan, tidak berani untuk kontak mata bersamanya. Levi duduk dibangku paling terakhir diujung kiri dekat jendela.
Karena saking tidak pedulinya pada orang-orang dikelas. Levi tidak sadar kalau didepannya sudah ada guru. Punggungnya disandarkan kebelakang, kaki kanannya dilipat sehingga bertumpu diatas kaki kirinya.
"Jadi begini cara menyapa gurumu dikelas? Kau terlambat masuk bukannya harus meminta maaf?" tanya guru itu yang diketahui bernama Eren Jaeger. Levi menaikkan alisnya, tidak menjawab pertanyaan dari gurunya. Dia memilih untuk memandang ke arah jendela. Menatap murid-murid sedang berolahraga.
Terdengar helaan nafas dihembuskan melalui mulutnya pelan. Eren melepaskan kacamatanya, kemudian duduk dibangku gurunya. "Levi Ackerman, kemari duduk disamping saya. Hukumanmu adalah mengerjakan soal ini disini. Duduklah," Eren menepuk kursi disebelahnya, bibirnya sudah menampilkan senyum seringainya.
Levi menatap gurunya tajam, menendang meja sebagai jawaban tidak. "Aku tak butuh hukuman tidak bergunamu, guru brengsek. Kau buta atau tidak? Lihat dipapan rangking. Aku tidak perlu mengerjakan soal-soal, itu tidak ada gunanya." jawab Levi kasar, ia mengambil pulpennya dan mulai mencoret-coret buku tulisnya.
Eren bangkit dari tempat duduknya, "benarkah? Kau cukup nakal, Levi. Datang terlambat, mengelak guru." Eren menghampiri tempat bangku Levi, "cepat kerjakan soal ini dimeja guru." tanpa ba-bi-bu Eren menarik pergelangan tangan muridnya agar Levi duduk dibangku guru.
Mereka semua iri pada Levi, bisa dekat langsung dengan guru baru. Mereka mulai mengerjakan soal yang diberikan oleh Eren. Sesekali menatap pria tampan itu.
Eren duduk disamping Levi yang sedang mengerjakan soalnya. Tubuh Eren merapat pada Levi agar jarak duduknya lebih dekat. Eren mendekatkan bibirnya dibelakang telinga pemuda itu. Dengan nakal, Eren meniup telinga Levi secara lembut. Sebelah tangannya menyentuh paha milik Levi. Bergerak kedepan menuju selangkangannya.
"Bagaimana jika aku menyentuhmu disini, Levi?" Eren berbisik sembari menekan bawahan milik si raven. Karena saking gemasnya, guru mesum itu pun mulai meremas kepemilikan Levi. Remasan itu semakin lama semakin kasar dan cepat. Membuat yang disentuh hanya bisa memejamkan kedua matanya, bibirnya digigit keras agar tidak terangsang atau mengeluarkan suara-suara aneh.
"Guru brengsek... Ah.. Ber..henti.." Levi menahan satu tangan Eren menggunakan 2 tangannya sekaligus. Wajahnya sudah berubah menjadi merah, dirinya kesal karena tidak bisa melawan guru yang ada didepannya. Mulutnya dia tutup, memejamkan kedua matanya kuat-kuat.
Levi ingin Eren untuk berhenti melakukan hal-hal yang aneh pada dirinya. Apalagi didepan publik seperti ini. Bagaimana saja jika murid-murid mengetahui apa yang Eren lakukan? Kan memalukan jadinya.
"Sensei, saya tidak paham nomber 5. Bisakah anda menjelaskannya untuk saya?" tanya salah satu murid itu sambil menatap wajah Eren dengan malu-malu.
"Saya juga tidak mengerti."
"Eren-sensei ~ saya jugaa~"
Tangannya berhenti untuk meremas bawahan Levi, dengan pasrah ia berdiri didepan kelas lalu mulai menjelaskan apa yang murid-murid tidak mengerti.
Sikapnya sangat menyebalkan.
Membuatku ingin membunuhnya. Tapi, tatapannya yang menggoda membuatku sulit untuk membunuhnya.
Setiap mendengar suaranya, hatiku senang. Setiap dia melemparkan senyumnya padaku didepan semua murid, aku ingin terbang. Dia menghadapi sikapku seperti kepada orang Special.
Apa aku termasuk orang special dihatinya? Tentu saja tidak, bodoh. Mana ada orang yang menginginkan diriku. Dia hanya bersikap seperti itu karena kewajibannya sebagai guru.
Jadi, jangan salah paham.
Beberapa jam terlewat, bel pertanda istirahat pun berbunyi nyaring dihalaman sekolah. Murid-murid mulai berhamburan keluar, menyerbu kantin sekolah dengan membawa uang mereka masing-masing. Halaman sekolah menjadi ramai, dan berisik.
Siapapun yang tidur dikelas, pasti akan terbangunkan oleh suara bising dari luar. Terkecuali—
"Dia tidur?" tanya seorang Guru tampan itu sambil menggebrak meja berkali-kali agar dia terbangun. Eren menghela nafas panjang, Guru itu mengambil tas jinjing mahalnya sembari memberikan senyuman kepada murid-murid. Pandangannya menatap satu-persatu siswa-siswi yang sepertinya menyukai padanya.
Tapi, anak itu sama sekali tidak tertarik pada sosok Eren Jaeger. Siapa yang tidak tergoda oleh ketampanannya? Laki-laki juga terkagum-kagum padanya. Namun, murid Levi Ackerman itu tidak memperdulikan pada dirinya. Hal itu membuat Eren menyeringai dan semakin ingin menyentuhnya.
"Besok kita ketemu lagi ya sensei~Aku sangat menantikannya. Ah, Levi memang suka tidur saat sudah mengerjakan hukuman atau tugas. Ia tidak terlihat tidur karena gayanya.. Hanya duduk menyandar lalu melipatkan kakinya. Guru-guru selalu tertipu padanya." jelas salah satu murid itu.
Eren menatap Levi yang sedang tertidur damai. Dia mengacak-ngacak rambut hitamnya, acakan itu berubah menjadi elusan. Eren mencium kening Levi dengan lama. Butuh 1 menit Eren mau melepaskannya. Eren melepaskan jas abunya lalu menyelimuti badan Levi agar tidak kedinginan. Kebetulan hari ini musim dingin, jadi sebentar lagi akan turun salju.
Guru itu meninggalkan kelasnya, melewati murid-murid yang terkejut akan perlakuannya. Para gadis berteriak, memukul pundak temannya kesal. "Dia milikkuuu..." mereka semua jatuh lemas layaknya bidadari yang kehilangan pangerannya.
Saking berisiknya, Levi pun membukakan kedua matanya dengan terpaksa. Kakinya menendang mejanya lalu memandang teman-temannya tajam seperti ingin menghajarnya. Levi bangkit dari tempat duduknya, otomatis jas yang menyelimutinya terjatuh. Kepalanya menunduk, mencium aroma parfum menggoda milik Eren. "Tch," Levi mengambil jas itu lalu pergi keluar kelas.
"Tidak! Pokoknya sensei milik kita semua! Si pendek itu ternyata berani juga ya!" murid perempuan itu menghapus papan tulis dengan hati yang sebal.
"Eh! Nanti dia dengar!" tegur temannya seraya membereskan taplak meja guru.
"Habisnya, sensei mencium kening Levi.. Terus menyelimutinya. Ahh brengsek.. Dia terlalu kereenn.." semua murid akhirnya malah membicarakan guru baru itu dengan berteriak fangirl.
Sementara Levi berada..
Pemuda itu berjalan sambil memeluk jas abunya yang sudah tertata rapih.
Dia melangkah menuju ruangan pribadi Eren.
Langkahannya terhenti ketika irisnya menemukan sosok yang ia cari tengah dipeluk oleh gadis berambut hitam.
Levi terpaku ditempat. Ekpresinya tidak berubah, tetap datar seperti biasanya. Ia mendecakkan lidahnya, tangannya menyimpan jas itu dikursi kayu. Levi pergi dengan perasaan yang buruk.
"Lama tak berjumpa, Eren."
To be continue
Author's note:
Akhirnya chap 4 selesai ^^
Bagaimana ceritanya ya?
Jelek yah?
Awwwh o' hontouni gomennasai kalo ceritanya benar-benar jelek yah. Boku masih amatir :3
Maa, yang penting.. Terima Kasih buat Readers-san yang sudah membaca, me'vote, atau mengomentari cerita yang kubuat w
Hontouni arigatou gozaimasu~ dan.. Sampai ketemu chapter depan 3
Salam manis,
-Leenalytte-
